A Blessing in Disguise

Cast : Kim Namjoon; Kim Seokjin; Kim Hayoung, and any others

Length : Parts

Rate : T

Genre : Romance, FamilyLife.

A Blessing in Diguise

Seokjin sama sekali tak mengambil pusing tentang orientasi seksual Namjoon. Lagipula selisih umur mereka cukup jauh, 15 tahun. Namjoon juga telah memiliki anak, dan wow sekalipun Seokjin sangat menyukai anak kecil dan menyukai hubungan orang tua-anak, Ia sama sekali belum berpikir sejauh itu hingga memiliki anak yang menjadi tanggung jawabnya.

Alasan lain? Karena hidup mereka jauh berbeda. Sebenarnya Seokjin tak suka membicarakan ini, namun sungguh taste mereka jauh berbeda. Namjoon dengan segala kekayaannya dan Seokjin dengan segala usahanya untuk bertahan hidup.

Tapi tahukan kalian? Bahwa Seokjin melakukan ini–mendaftar 'kenapa aku tak perlu ambil pusing tentang orientasi seksual Kim Namjoon'–adalah semata karena Ia memiliki rasa sedih dan kecewa dalam hatinya. Ya, Seokjin bisa mengelak dan berbohong hingga jungkir balik. Namun lelaki itu demikian. Mungkin ini hanya cinta monyet, cinta sesaat, atau mungkin malah hanya rasa kagum biasa.

Dan Seokjin berharap demikian, bahwa Ia tak akan ambil pusing tentang Namjoon.

Oh, Seokjin ingat alasan lain; bahwa hubungan mereka yang demikian akan sangat canggung jika berubah. Kalian tahu, Hayoung menenal Seokjin sebagai gurunya dan kesan itu tak akan mudah diubah oleh anak umur sepuluh. Begitu pula hubungan yang mereka bangun sejak awal adalah Papa dari murid dan seorang guru. Sudah, cukup, ini akhir pembahasan.

Karena di hari Selasa malam Seokjin datang, semua berjalan lancar. Hayoung belajar dengan baik, bertanya tentang pengetahuan yang tak diajarkan di sekolahnya–itu yang Seokjin suka dari Hayoung, pengetahuannya sungguh luas–dan Seokjin tak perlu bertemu Namjoon. Sepertinya Ia kembali seperti dulu lagi, pekerja-sangat-keras yang sering pulang larut malam.

Di hari Kamis, Seokjin bertemu dengan Namjoon ketika Ia sudah selesai berpamitan akan pulang. Mereka benar-benar bertemu di pintu gerbang ketika Namjoon masih berada di dalam mobilnya.

"Seokjin, bisa kita bicara sebentar?"

Maka Seokjin mengangguk dan menurut, masuk ke dalam rumah lagi, yang belum sepuluh menit Ia pamiti, lalu duduk di kursi ruang tamu bersama Namjoon. Wajahnya terlihat lelah, kantung matanya cukup ketara.

"Pekerjaan anda baik-baik saja?"

Namjoon tersenyum, mengangkat cangkir berisi teh hangat yang dibuatkan oleh Bibi Lee dengan senyuman kecil. "Bagus di sini dan buruk di sana, Seokjin."

Jelas saja Seokjin tak paham. "Eh? Maksudnya?"

Namjoon terkekeh kecil, menyesap tehnya yang mengepulkan asap lamat-lamat. "Investor kami dari Cina memiliki sedikit masalah, yang jelas menghambat."

Seokjin mengangguk, mungkin itu alasan di balik kantung mata Namjoon.

"Dan aku harus turun langsung untuk mengatasi masalah ini. Pergi ke Cina, bertemu langsung dengan investornya dan membujuk mereka."

"Apakah seburuk itu?"

Namjoon tersenyum tipis, menatap Seokjin kemudian. "Tidak, tidak seburuk itu, Seokjin."

"Baguslah kalau begitu, kuharap ini segera selesai dan anda mendapat istirahat yang baik."

Namjoon mengangguk lalu tersenyum. "Terimakasih. Tapi aku meminta satu hal darimu, bisa?"

Meminta? Satu hal? Dari Seokjin?

Seokjin melebarkan mata dan mengangkat alisnya. "Apa itu?"

"Aku meminta tolong padamu, untuk menginap di rumah ini."

"Eh?"

Namjoon menangkap suara lirih Seokjin yang penuh keterkejutan. Lelaki itu dengan cepat menoleh menatap Seokjin lalu menambahi ucapannya dengan cepat pula. "Kau keberatan?"

Seokjin kikuk bukan main. "Tidak."

"Kau ada urusan lain?"

Ia buru-buru menggeleng. "Aku libur di akhir minggu."

Namjoon tersenyum lebar sambil menghembuskan nafas. "Apakah aku bisa memintamu menginap di sini? Hayoung terlalu sering kutinggal pergi, aku merasa buruk meninggalkannya sendiri atau menitipkannya pada sepupuku."

Seokjin mengangguk lemah. Ia ada janji dengan Hoseok untuk bekerja borongan di bazaar di pusat pembelanjaan besok Minggu, gajinya besar pula.

"Aku akan meminta Taehyung untuk menginap juga, sehingga kalian bisa pergi kemanapun atau setidaknya kau tak merasa sepi di rumah ini."

"Taehyung?"

"Ya, sepupuku. Dia sangat dekat dengan Hayoung dan Hayoung menyukainya. Seingatku kalian seumuran, kalian bisa berteman. Tak apa?"

Sekali lagi Seokjin mengangguk seraya tersenyum. Ia tak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya sekarang. Ia tak enak dengan Hoseok karena sudah berjanji untuk mengambil pekerjaan itu bersama, dan sekarang Ia menyetujui permintaan aneh ini.

Ngomong-ngomong soal nama Taehyung, Seokjin tak tahu nama itu ternyata sangat umum dan banyak dipakai–namanya juga, sih. Namun sungguh, Ia juga punya teman bernama demikian, marganya pun sama. Ya tuhan–

Jangan-jangan–

Ya, benar. Itu Taehyung teman Seokjin. Kekasih dari teman Seokjin, sih, namun jadi temannya juga karena mereka sering makan di kantin bersama atau sekedar duduk menunggu kelas.

Taehyung adalah kekasih Jongkook, dan Jongkook adalah teman sejurusan Seokjin dan Hoseok. Lelaki cengengesan yang kekanakan itu sekarang berdiri di depannya, tersenyum lebar menampilkan deretan giginya.

"Hai, Seokjin!"

Waduh, Seokjin tak tahu dan tak menyangka jika Taehyung yang di depannya ini benar-benar Taehyung yang dikenalnya, yang suka sekali menggoda Seokjin.

"Kalian saling mengenal?"

Taehyung mengangguk dengan cepat, memakan kue kering dari toples yang dipeluknya. "Ya, hyung, dia teman dekatku. Ya, kan, Jin?"

Seokjin tersenyum kesal, lebar namun datar. "Ya, sangat dekat hingga setiap kita bertemu Taehyung yang baik ini selalu menggodaku."

Dahi Namjoon berkerut, terkejut melihat sisi Seokjin yang demikian. "Menggoda?"

Seokjin meringis, terlihat kesal, lalu mengadu pada Namjoon. "Ya, dia bandelnya tak terkalahkan. Aku tak yakin kenapa Jongkook mau jadi kekasihnya."

"Sialan, Jin!" Taehyung berakting ingin menjotosnya main-main.

"Kau itu yang sialan, Tae."

Namjoon tertawa. "Baguslah kalau kalian sudah kenal. Aku percaya pada kalian untuk menjaga Hayoung."

Taehyung langsung menegapkan badan dan hormat seperti tentara sedangkan Seokjin mengangguk sambil tersenyum. "Serahkan padaku, jangan pada Taehyung."

Yang dijawab dengan seloroh cepat oleh Taehyung. "Apa-apaan, Jin, kau yang tak bisa dipercaya menjaga Hayoung."


.

.

.


Seokjin benar-benar tinggal di rumah besar itu. Hoseok jelas saja keberatan ketika Seokjin bilang tak bisa datang bekerja bersamanya, lelaki itu menunjukkan rasa kecewanya dengan baik. Namun Ia tersenyum cerah dengan baik pula setelahnya, melupakan kekesalannya karena harus mencari pengganti Seokjin dan memberi tahu Seokjin jika ini baik-baik saja

Mereka mengantar Namjoon hari Jumat malam, di mana Seokjin harus memeluk Hayoung saat gadis itu cemberut setelah dicium Papanya dan melihat Papanya berjalan pergi.

"Hayoungie tahu jika Papa akan kembali hari Minggu, tapi Hayoungie benar-benar sedih."

Gadis itu... bukan main dewasanya! Ia cemberut dan sedih benar-benar setelah Papanya berbalik dan meninggalkannya, tak mau membuat Papanya berat meninggalkannya.

Seokjin berjongkok menyejajarkan posisinya lalu memeluk Hayoung. "Seonsaengnim berjanji, kita akan telepon Papa Hayoung setiap malam. Bagaimana?"

Taehyung yang melihat interaksi Seokjin dan Hayoung mengangkat alisnya tak percaya. Ia tak menyangka hubungan Seokjin dan Hayoung sedekat ini.

Hayoung terdiam beberapa saat, lalu mengangguk di pelukan Seokjin. Giliran Taehyung yang membelai kepala gadis itu.

"Hayoung kan sudah besar, sudah biasa ditinggal Papa bekerja–"

Seokjin melotot menatap Taehyung.

Dengan cepat Taehyung meralat. "Maksud paman, Hayoung sudah besar, tak boleh menangis, ya?"

Taehyung memang benar-benar kekanakan, dan mungkin Ia dan Hayoung seumuran!

Malam itu Hayoung tertidur di pelukan Seokjin selama di perjalanan dari bandara. Membuat Taehyung melirik lalu terkekeh.

"Kalian sangat dekat?"

"Apanya? Aku dan Hayoung?" Seokjin melirik anak gadis yang tidur di pangkuannya, "ya, Ia muridku, dan aku menyayanginya seperti adikku."

Taehyung terkekeh lebih keras. "Bukan, kau dan Namjoon hyung."

"Eh?"

Taehyung melirik Seokjin sekilas, lalu pandangannya lurus ke depan untuk menyetir. "Namjoon hyung tak pernah mau dekat dengan pegawainya, Jin. Ia sangat ketat akan hal itu."

Seokjin melotot cukup lebar, kebingungan dengan ucapan Taehyung. "Apanya? Namjoon hyung yang mengatakan padaku jika Ia tak suka punya jarak dengan orang yang bekerja dengannya. Aku juga melihat bagaimana Namjoon hyung sangat dekat dengan Bibi Lee, Tae."

Taehyung mengangguk, lalu tersenyum. "Bibi Lee bukan orang yang bekerja dengannya, Ia yang merawat Namjoon hyung sejak kecil, mengabdi pada keluarganya, lalu tinggal bersamanya sejak Ia memiliki rumah sendiri. Bibi Lee juga yang merawat Hayoung sejak kecil. Bibi Lee sangat dekat dengannya."

Seokjin terdiam.

"Berbeda dengan yang lain, Namjoon hyung terbiasa memisahkan pekerjaan dengan kehidupan, tak mau mencampur adukkannya. Ia sangat tegas, Jin, Ia pernah menurunkan jabatan pamannya, paman kami, karena Ia menyalahi kode etik perusahaan." Taehyung menoleh menatap Seokjin sekilas. "Itu rahasia umum, yang menjadikannya bisa berada di posisi sekarang, adalah ketegasan dan keengganannya mencampur urusan."

"Hubungannya denganku?"

Taehyung tertawa sekali lagi. "Kau pekerjanya, kau bekerja dengannya untuk menjadi tutor Hayoung. Dan sekarang? Kau diminta tinggal untuk menemani Hayoung selama Ia pergi. Kau tak menangkapnya?"

Seokjin cemberut. Apa-apaan Taehyung ini?

"Berhenti membual, Tae. Kau makin menyebalkan."

Taehyung terkekeh, lalu mengangguk mengerti. "Ya, mungkin karena Hayoung sudah sangat nyaman padamu jadi Ia memintamu melakukan ini."

"Ya." Seokjin berujar cepat dan datar.

Tapi Taehyung tetap tak percaya. Sepupunya sangat ketat urusan ini, benar-benar tegas dan tak terbantahkan, seolah ini sudah menjadi prinsipnya.

"Ngomong-ngomong aku akan pergi setelah mengantar kalian, aku akan kembali besok sore, kau setuju?"

"Ya, tak masalah."


.

.

.


Di hari Sabtu malam, Seokjin menepati janjinya. Mereka sudah lelah bermain seharian, melakukan banyak kegiatan bersama. Ketika Hayoung sudah masuk di kamarnya, Seokjin menyusul dan membawa ponselnya, yang terhubung dengan Namjoon.

"Hayoung-ah, Papa." bisik Seokjin menunjukkan ponselnya saat gadis itu menaikkan selimutnya. Terlihat dengan jelas gadis itu memekik senang lalu menerima ponsel Seokjin dengan senyuman lebar.

"Ya, Pa?!"

Seokjin memilih duduk di pinggir kasur Hayoung sambil membaca buku materi. Ia sempat mengamati bagaimana Hayoung bercerita dengan semangat kegiatan mereka hari ini. Ia bercerita tanpa lelah bagaimana Jumat malamnya tertidur setelah mengantar Papanya, lalu Sabtu pagi diajak Seokjin olahraga di taman di dekat kompleks rumahnya. Hayoung bercerita dengan jelas bagaimana siangnya dihabiskan dengan melihat Seokjin mengisi Sodoku atau dirinya yang bermain slime, dilanjutkan tidur siang yang katanya sangat pulas.

"Tadi paman Tae mengajak kami makan cheesecake."

Hayoung anak yang ekpresif, dan pintar bercerita pula. Gadis itu mengubah posisi tidurnya, miring membelakangi Seokjin. Sedangkan si mahasiswa membaca buku materi pelajaran untuk minggu depan, Hayoung bercerita tentang janji Seokjin untuk mengajaknya ke museum di Gwacheon.

Entah berapa lama, Seokjin sudah tenggelam membaca bukunya, hingga suara Hayoung yang sejak tadi tak didengar Seokjin sekarang telah hilang.

"Hayoung-ah? Kau tidur?" Seokjin memanjangkan tubuhnya, memeriksa gadis kecil itu. Ia tertidur, dengan ponsel masih digenggamnya. Tanpa sadar Seokjin tertawa, "Hayoung tertidur sambil menelpon Papa, ya? Semoga mimpimu indah, ya?"

Seokjin mengambil ponselnya dengan pelan, mengelus rambut gadis itu ketika Ia bergerak risih.

"Seokjin?"

Teleponnya masih tersambung!

Dengan cepat Seokjin menempelkan ponselnya di telinga. "Masih tersambung?"

Namjoon tertawa, "ya, aku menyanyikan lagu untuk Hayoung tadi. Belum selesai aku bernyanyi, aku mendengar suaramu bicara dengan Hayoung. Apakah Ia sudah tidur?"

Seokin mengangguk, berjalan keluar kamar gadis itu lalu mematikan lampu kamar. "Ya, Hayoung sudah tidur."

Seokjin masuk ke kamarnya yang berada tak jauh dari kamar Hayoung, duduk bersandar di kepala kasur sambil tetap terhubung dengan Namjoon. Mereka sama-sama diam, mungkinkah Namjoon tertidur?

Seokjin ragu, menjauhkan ponselnya dan memastikan panggilan ini masih tersambung, namun tak yakin karena Namjoon tak bersuara.

"Apakah berat menjaga Hayoung?"

Namjoon belum tidur!

"Ya? Maksudku, tidak, sama sekali tidak." Seokjin sungguh bodoh dengan bersikap gelagapan demikian. "Hayoung sangat pintar, sungguh dewasa. Dan menyenangkan menghabiskan waktu bersamanya."

Namjoon terkekeh. "Syukurlah kalau kalian semakin akrab."

"Ya, aku juga senang bisa menjadi guru yang dekat dengan muridnya."

Namjoon terdiam, Seokjin juga. Ada beberapa detik keheningan diantara mereka. "Hayoung tak pernah salah memilih."

"Eh?"

"Lupakan, sepertinya aku terlalu lelah."

Seokjin tersenyum lalu mengangguk, entah untuk apa. "Apakah pekerjaan anda lancar, Tuan Kim?"

"Bukankah sudah kubilang untuk tak memanggilku demikian?" Namjoon tertawa kemudian.

Tapi Seokjin tidak. Ia mengingat ucapan Taehyung kemarin malam, kebingungan karena informasi dua sepupu ini bersebrangan. "Aku masih tak nyaman jika harus memanggilmu seperti itu,"

Namjoon tertawa, "ya sudah, take your time. Aku tak akan memaksamu melakukan hal yang tak kau mau. Aku akan mencoba nyaman dengan panggilan itu."

"Anda tak nyaman?"

"Eh? Bukan seperti itu." Namjoon terdengar berdeham, lalu terdiam sepersekian detik. "Aku hanya tak ingin ada jarak antara kita. Kau tahu, Hayoung sangat menyukaimu,"

Seokjin mengangguk, meskipun tak menemukan hubungan keduanya.

"Kau mau oleh-oleh?"

"Apa?"

"Oleh-oleh, kau mau?"

Seokjin mendengung, "kurasa tidak perlu."

"Benarkah?"

"Ya." Jawab Seokjin mantab. Mereka berdua terdiam beberapa saat, hingga Seokjin ingat sesuatu. "Pulanglah dengan selamat, itu saja sudah cukup."

"Ya?"

Seokjin menggigit bibirnya, namun buru-buru menjelaskan. "Hayoung pasti senang jika tahu Papanya pulang dengan selamat."

"Ya, benar."


.

.

.


Tiga hari tinggal di rumah Namjoon sangat cepat. Hayoung mengajak mereka bermain bersama, memaksa Taehyung untuk mengantar mereka ke cafe kesukaannya, dan Seokjin meminta Taehyung mengantar mereka ke Museum Nasional Gwacheon di hari minggu. Dengan syarat Jongkook ikut, maka Seokjin mengijinkan. Lagipula tak masalah dengan Jongkook, lelaki itu tak terlalu takut dan anti pada anak kecil, Ia memiliki sifat dasar penyayang luar biasa.

Dan Seokjin senang mengizinkan Taehyung mengajak Jongkook, karena lelaki manis bermarga Jeon itu hafal sikap Taehyung yang suka menjahili Hayoung dan Seokjin. Ia mengajak Taehyung berpisah dengan Seokjin dan Hayoung selama di planetarium.

"Manfaatkan waktumu dekat dengan anak Kim Namjoon, setelahnya baru Papanya." Bisik Jongkook pada telinga Seokjin, yang dibalas dengan pukulan di pahanya. "Aw, itu cukup keras, Jin!"

"Seonsaengnim kenapa memukul?"

Seokjin melotot. Ya benar, ada Hayoung! Gadis kecil tak boleh melihat sikap kasar demikian!

Seokjin tersenyum dengan cepat, menarik Jongkook ke pelukannya lalu memaksa Jongkook ikut tersenyum. "Itu hanya main-main, Hayoung-ah. Iya kan, Jongkook-ie?"

Jongkook tersenyum lebar, mengelus kepala Hayoung. "Benar, kami main-main. Tapi Hayoung tidak perlu memukul saat bermain, ya? Hanya orang nakal yang main-main dengan cara memukul."

Seokjin mencubit Jongkook.

Taehyung membalas memukul bahu Seokjin. "Jangan sakiti kookieku!"

"Baiklah, pergi sana kalian." Seokjin masih tersenyum lebar dan datar, menahan kesalnya pada pasangan sialan ini. "Kita bertemu di cafetaria pukul lima, oke?"

Mereka mengangguk lalu Taehyung mengedipkan mata pada Hayoung, "sampai jumpa bocah kecil!"

Setelahnya Seokjin mengajak Hayoung bermain-sekaligus-belajar sepuasnya, berlari menyusul Hayoung ketika gadis itu melongo takjub melihat ini-itu, menjelaskan kepada Hayoung apa itu planetraium dan observatorium, lalu berjalan berkeliling. Hayoung sama sekali tak menunjukkan raut lelah, sekalipun keringat membahasi dahinya, Ia tersenyum lebar. Hanya Seokjin yang kelelahan.

Mereka makan siang di cafetaria, belum bertemu Taehyung dan Jongkook sama sekali. Karena memang mereka berjanji bertemu pukul lima. Setelah makan Hayoung dengan semangat memaksa Seokjin untuk melanjutkan perjalanan mereka, namun Seokjin meminta Hayoung untuk lebih pelan.

Seharian ini Seokjin benar-benar lelah menghadapi aktivitas Hayoung yang demikian. Fyuh. Pukul enam Hayoung baru mau keluar dan menuju cafetaria, disambut Taehyung yang cemberut dan Jongkook yang menyapa mereka dengan senyuman lebar.

"Kenapa lama sekali, sih?"

Seokjin duduk setelah memesan minuman untuknya dan Hayoung. "Maaf, Tae, kau harus tahu bagaimana semangatnya keponakanmu ini!"

Jongkook tertawa, membelai bahu Taehyung dengan lembut. "Biarkan saja, Tae. Apa kataku tentang bonding?"

"Kau sedang mencoba dekat pada Hayoung?"

"Eh?"

Jongkook tertawa, menaikkan alisnya naik turun menggoda Seokjin. "Benar 'kan kataku? Kau sudah semakin dekat padanya?"

"Apanya?"

"Jangan bohong, Jin." Jongkook kemudian berbisik, cukup lirih agar tak terdengar Hayoung yang sedang melahap es krim. "Kita semua tahu Kim Namjoon tidak memiliki pasangan, dan kau dekat dengan anaknya. Apalagi yang kurang?"

"Ya tuhan!"

Taehyung memutar bola matanya, menarik Jongkook dari telinga Seokjin. "Ya, ya tuhan, Kook! Kau sangat aneh dengan imajinasimu."

Jongkook merengut, berpaling pada Hayoung lalu meminta suapan es krim.

"Apa rencanamu sekarang, Jin?"

Seokjin melirik jam dinding, pukul setengah tujuh. "Makan malam? Hayoung tidak mendapat makan siang yang baik tadi."

Jongkook tertawa tertahan, lalu diam ketika Seokjin melotot.

"Ya sudah, ayo." Taehyung bangkit lalu menggandeng tangan Jongkook dengan kasual.

"Paman Tae kenapa menggandeng tangan paman Jongkook?"

"Eh?" Pasangan itu menoleh terkejut pada reaksi Hayoung. Dengan cepat Jongkook menarik tangannya, takut Hayoung menerima konsep kekasih dengan salah. Namun dengan cepat Taehyung menangkap keinginan Jongkook untuk melepaskan gandengan tangan mereka, menggenggam tangan Jongkook leboh erat untuk mengingatkan pada kekasihnya bahwa hubungan ini tak salah, lalu berjongkok di samping Hayoung lalu tersenyum.

"Hayoung-ah, kami kekasih. Paman Tae dan Paman Jongkook adalah kekasih, dan kami saling mencintai."

Hayoung memiringkan kepalanya, lalu menoleh menatap Seokjin. "Bukankah yang menjadi kekasih adalah perempuan dan laki-laki?"

Seokjin melotot ditanyai begitu oleh anak kecil. Sungguh, Ia sama takutnya dengan Jongkook, takut jika Hayoung belum sepantasnya mendapat pelajaran demikian. Ia melirik Taehyung, lalu laki-laki itu mengangguk meyakinkan Seokjin untuk bersikap.

Maka Seokjin tersenyum lembut, membelai kepala Hayoung dengan pelan. "Tidak, Hayoung-ah. Hubungan kekasih tidak harus perempuan dan laki-laki. Semuanya berhak mencintai. Jika Papa dan Mama Hayoung saling mencintai, bukan sesuatu yang salah jika Paman Tae dan Paman Jongkook juga saling mencintai."

Hayoung menatap polos pada Seokjin, berbalik menatap Taehyung kembali. Pamannya mengangkat alis dan bahunya sekaligus.

"Tapi Hayoung tak punya Mama."

-TBC-

Fyuh (ikut-ikutan Seokjin)

WOW sayangku crazyalpaca! YOU MADE MY DAY! ahah should i tell you that i love you A LOT? (shy)

Hai sayangku!

RnR?

ILY!