"Sometimes home is not four walls. Sometimes it is two eyes and a heartbeat."


Lima hari menjelang keberangkatan Sehun ke Paris, baik Sehun maupun Lu Han belum saling bertemu. Mereka hanya bertukar pesan atau saling menelepon. Di kampus, Lu Han selalu disibukkan dengan persiapan acara musik di jurusannya yang akan berkolaborasi dengan jurusan seni lukis tepat di satu hari sebelum keberangkatan Sehun ke Paris. Mengenai acara musik itu, baik Kyungsoo dan Chanyeol juga Baekhyun ikut andil dalam menyumbangkan karya mereka. Kyungsoo, Chanyeol dan Lu Han di gadang-gadang akan menampilkan penampilan kolaborasi mereka membawakan dua buah lagu—dengan Chanyeol yang akan bermain piano. Baekhyun akan menyumbangkan dua buah lukisan, sementara Lu Han akan menampilkan satu lukisan terbaiknya. Semua keuntungan acara akan disumbangkan ke yayasan anak difabel terkait, yang mana dikelola oleh Lu Han dan Wu Yifan—mahasiswa musik satu tingkat di atas Lu Han.

"Jadi, kalian belum bertemu sejak terakhir kali kau menemuinya di studio lukisnya?"

Sehun mengangguk lesu, mencoba memakan wortel dan paprika di atas nampan makannya, yang mana pada akhirnya hanya ia permainkan menjadi tak berbentuk.

Jongin menghela napas, mengacak rambutnya sendiri frustrasi. Ia heran mengapa sahabatnya yang satu itu sungguh tolol dan tak peka.

"Bukankah Lu Han sedang sibuk mempersiapkan konser minggu ini?" tanya Baekhyun menginterupsi.

Sehun di ujung meja kantin meliriknya sekilas, kemudian mengangguk tanpa semangat. "Dia juga sedang mempersiapkan lukisan yang akan ia pamerkan di acara itu."

"Seharusnya," kata Chanyeol hati-hati sembari menatap Sehun tajam, "kau pergi ke studio-nya. Mungkin—yah, mungkin ada hal yang perlu kalian bicarakan?"

Sehun membuang napas lelah untuk kesekiannya hari ini, namun tak menanggapi.

Dua hari setelah ia pergi ke studio Lu Han, ia merasa bahwa Lu Han memang sengaja menghindar darinya. Memang, mereka masih berhubungan lewat pesan singkat dan telepon yang tak sampai duapuluh menit, namun Sehun merasa ada yang salah.

Sebenarnya, jika ia lebih mau jujur, ia tahu apa yang salah.

Namun Sehun terlanjur membulatkan tekadnya.

Dan ia takkan mundur lagi. Tidak bisa. Tidak mau.

Sesaat setelah Sehun mencoba untuk mengusir pikiran yang mengganggunya dengan memikirkan masa-masa indahnya bersama Lu Han, ia merasa kursi di sampingnya dan di depannya bergeser pelan.

Mengangkat kepalanya, Sehun menangkap bayangan Lu Han dan Kyungsoo yang datang dengan nampan makan siang mereka.

Lu Han duduk di sampingnya, melemparkan satu senyum kecil namun senyumnya tak bertahan lebih lama dari lima detik.

Kyungsoo duduk di depannya, bersandingan dengan Jongin yang langsung memeluknya dan menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan. Lu Han melihat interaksi keduanya sekilas, menampilkan sebuah senyum pahit lalu kemudian, ia kembali pada makanan di depannya.

"Apakah sudah hampir selesai?" tanya Jongin sambil melingkarkan tangannya di pundak Kyungsoo.

Pemuda Do itu tersenyum, kemudian memandang Jongin lebih lama dari biasanya. "Masih ada yang kurang, namun akan selesai sebelum jadwal yang ditentukan. Kurasa tanpa bantuan Lu Han, semua ini takkan bisa terlaksana," katanya sambil melirik Lu Han, kemudian memberi kedipan padanya.

Lu Han yang melihatnya tertawa, dan hal itu membuat Sehun tersentak.

Keduanya bertatapan, namun Lu Han tak ingin repot-repot tersenyum padanya. Pemuda China itu kembali memakan makan siangnya setelah menjawab Kyungsoo dengan kata terimakasih kembali untuknya.

Sehun merasa ada yang salah, namun ia terlanjur merasa abai.

Meja di pojok kantin kampus itu penuh dengan celoteh keenam mahasiswanya seperti biasa, namun mereka tak bisa mengesampingkan suasana yang off yang terpancar dari Sehun maupun Lu Han. Berkali kali Kyungsoo dan yang lainnya mencoba menggeret keduanya dalam percakapan, tapi entah baik Sehun maupun Lu Han seolah sedang tak ingin menanggapi.

Atau mungkin—hanya Sehun.

Sesekali Lu Han akan melirik kearah Kyungsoo dan Jongin yang selalu mesra, selalu baik-baik saja, dan arah pandang matanya akan bergeser ke arah Sehun di sampingnya, namun matanya akan berakhir ke potongan wortel dan kentang di nampannya yang sekarang sudah berubah tak berbentuk.

Menyadarinya, Baekhyun menyiasati satu hal. Dengan satu dehaman kecil, ia mendapatkan perhatian semua orang.

Mungkin—lagi-lagi—kecuali Sehun.

"Bagaimana kalau kita pergi bersama? Besok kebetulan kuliah sedang libur, Rektor bilang akan ada penilaian dari departemen pendidikan tinggi di Korea Selatan ke kampus ini, mereka bilang akan meninjau bangunan. Jadi, kupikir kita bisa berlibur bersama?" tanyanya penuh harap, melemparkan pandangan ke semua temannya, lima detik lebih lama kearah Sehun dan Lu Han.

Sehun masih asyik dengan pikirannya sendiri, sehingga ia tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

Kyungsoo, di seberang meja, bersuara paling awal. Matanya bersinar ceria memandang Baekhyun di ujung meja. "Bagaimana kalau kita pergi ke Mokpo?"

Chanyeol memutar matanya lelah. "Kita sudah pernah kesana tahun lalu, Kyungsoo."

"Tapi Lu Han belum ikut!" kata Kyungsoo sambil memajukan bibirnya, yang mana membuat Jongin tertawa dan mencubit pipinya.

Lu Han ikut tertawa, namun tak menanggapi. Sedetik sebelum ia ingin buka suara, ia melihat kearah Baekhyun yang sedang memandang Sehun dengan tatapan yang mengeras. Hal it membuat Lu Han mengalihkan pandangannya kearah Sehun, melupakan rengekan Kyungsoo dan tolakan Chanyeol.

Di sampingnya, Sehun sedang memainkan makanannya sambil melamun. Lu Han bahkan yakin jika Sehun tak mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.

Pemuda China itu berpikir sejenak, tentang apakah ia perlu bertanya—yang mana ia sebenarnya tak ingin mendengar jawabannya—ataukah ia tetap tutup mulut. Tak berselang lama setelah ia bergelut dengan pikirannya sendiri, ia mendengar suara getar ponsel Sehun.

Masih dengan pandangan mata yang mengarah pada Sehun, Lu Han melihat bagaimana konsentrasi Sehun langsung kembali dan dengan senyum kecil—Lu Han merasa hatinya sakit melihatnya, entah kenapa—ia segera merogoh saku celananya, menampilkan sebuah ponsel berwarna putih yang sama dengan milik Lu Han.

Senyum di bibir Sehun masih ada ketika ia melihat di layar ponselnya ada sebuah email masuk, dan Lu Han segera mengalihkan pandangannya.

Matanya bersirobok dengan mata Baekhyun, dan ia merasa Baekhyun sedang mencoba berkata jangan berpura-pura baik-baik saja, seolah Baekhyun mengerti jika ia sakit hati.

"Lu Han?"

Sang pemuda China tersentak dan langsung menatap Kyungsoo. Ia menjawab dengan nada yang sangat parau sampai dirinya sendiri malu. "Ya?"

"Bagaimana?"

Apa?

"Kau dan Sehun akan ikut ke Ilsan bersama kami, kan?" tanya Kyungsoo kembali, melihat ketidaktahuan jelas yang terpancar dari ekspresi Lu Han.

Lu Han menatap Kyungsoo seolah-olah Kyungsoo adalah alien yang menyamar menjadi Sehun, bergelut dengan pikirannya, sebelum akhirnya ia kembali menatap Baekhyun di ujung meja.

Baekhyun menghela napas, namun ekspresinya mengisyaratkan bahwa ia ingin Lu Han segera berhenti berpura-pura baik-baik saja, atau bahkan jika perlu, meninju Sehun sekarang juga.

Namun hal itu tak mungkin Lu Han lakukan.

Dengan sekali tarikan napas, ia menjawab.

(Dengan ekor matanya ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Sehun mengetikkan balasan email dengan cepat dan bersemangat di bawah meja.)

"Aku tidak bisa ikut, Kyungsoo. Maaf."

Mata Kyungsoo membola dan keningnya berkerut. Sehun berhenti mengetik balasannya, dan Baekhyun mengiriminya pandangan yang tak bisa ia artikan.

"Aku—Yifan membutuhkanku untuk melatih anak baru yang akan tampil dan—"

Baekhyun bangkit dari duduknya, dan semua mata teralih padanya.

Ia berjalan, menghiraukan tanya heran Chanyeol, matanya memicing tajam kearah Lu Han dan setibanya ia di depan sang pemuda China, ia menggeret tangan Lu Han sampai semuanya terpekik kaget.

Sehun hendak bicara, menegur Baekhyun—dan matanya sungguh menyiratkan ketidaksukaan akan sikap Baekhyun barusan—namun sang pemuda Byun buru-buru buka suara.

"Aku lupa," katanya, menatap Sehun seakan mereka adalah rival penuh kebencian. "Aku lupa jika Lu Han harus menyelesaikan lukisannya hari ini. Permisi."

Dan dengan kalimat itu, mereka berdua pergi meninggalkan kantin kampus.

Sehun mengamati bagaimana Baekhyun menarik Lu Han dan kekasihnya yang bahkan tak bersuara. Kakinya ingin pergi mengejar dan bertanya pada Lu Han beberapa pertanyaan seperti apa kau baik-baik saja atau yang lainnya, namun ia tahu ia tak bisa. Atau mungkin yang paling benar adalah ia tak mau.

Matanya masih mengamati pintu kantin, berharap Lu Han kembali seperti biasanya dan tersenyum seperti biasanya dan memeluknya seperti biasanya dan merutuk kesal pada Baekhyun namun tidak, semua itu tidak terjadi.

"Apa kau puas?"

Sehun menoleh.

"Apa kau puas?" ulang Kyungsoo. Nadanya penuh kebencian hingga Sehun rasanya sangat takut. Kedengarannya begitu dingin dan menusuk.

"Kyung—"

Mengabaikan Jongin, Kyungsoo terus menatap Sehun seakan Sehun adalah orang paling berengsek sedunia.

"Apa kau puas—melihat Lu Han seperti itu? Asal kau tahu, Oh Sehun, selagi kau memainkan ponselmu untuk menghubungi Soojung, Lu Han memerhatikanmu."

Hati Sehun serasa meluncur dari tempatnya ketika mendengar hal ini. Matanya menatap Kyungsoo tak puguh. Ia merasa keringatnya mengalir di sekujur tubuhnya dan detak jantungnya melemah—namun ia tak punya kata-kata untuk dikeluarkan.

"Dan asal kau tahu saja, Baekhyun dan aku takkan segan-segan membunuhmu jika ternyata, dugaan kami benar."

Dan dengan kalimat itu, Kyungsoo beranjak pergi dengan nampan makannya.

Sehun tetap menatap tempat di mana Kyungsoo tadi duduk. Hatinya seperti sedang turun ke perut dan ia tak bisa berbicara maupun berpikir lagi.

Yang ia tahu, adalah suara Chanyeol yang berdengung di ujung telinganya. Begitu menyakitkan dan menjadi pamungkas semua yang ada saat ini.

"Jika hatimu masih berada di masa lalu, harusnya dari awal jangan bersama dengan Lu Han."

Hari itu Sehun merasa hidupnya seperti hancur berantakan.

Namun, ia terlalu takut untuk memperbaiki semuanya.


"Berhenti bersikap seolah kau baik-baik saja, Lu Han."

Lu Han menghela napas selagi membasuh tangannya dan mukanya hingga ketika ia mendongak, bayangan Baekhyun yang menatapnya dengan tatapan kasihan terpantul dari cermin di depan mereka.

"Berhenti bersikap seolah-olah kau bisa menerima perlakuan Sehun."

"Baekhyun."

"Lu Han, kali ini kau harus melakukan sesuatu!"

Menggeleng, Lu Han mematikan keran air, kemudian berbalik hingga mereka berdua berhadap-hadapan. "Aku tidak bisa."

Baekhyun menatap Lu Han seolah banyak yang ia katakan, ada yang ingin ia ucapkan, Baekhyun menatapnya seolah ia ingin membenturkan kepala Lu Han ke dinding hingga ia akhirnya bisa sadar, ia ingin berteriak memaki Lu Han—namun ia tak bisa.

Lalu dengan lembut ia meraih tangan Lu Han, menggenggamnya dengan begitu lembut hingga rasanya Lu Han ingin menangis. Ia menggenggamnya dan membelainya, mencoba menenangkan Lu Han sekaligus menyadarkannya hingga akhirnya Lu Han mendekat dan berakhir di pelukan Byun Baekhyun.

Mereka berpelukan hingga Baekhyun merasakan kaos di pundaknya basah, dan ia baru sadar jika Lu Han sedang menangis tanpa suara.

Mengeratkan pelukannya, Baekhyun menatap punggung Lu Han lewat cermin besar di depannya. Ia sakit melihat bagaimana pemuda itu terlihat sungguh lelah namun tak ingin bicara. Ia sakit melihat bagaimana akhir-akhir ini Lu Han hanya bisa menggambar dengan warna hitam dan gelap. Ia sakit bagaimana bahu Lu Han selalu merosot dan sinar matanya seolah tak tersisa sedikitpun.

Dan dengan kalimat terakhir, ia berbicara.

"Jangan pura-pura baik-baik saja."

Lu Han membisu, namun anggukannya menjadi sebuah jawaban.


Lu Han yang tak ingin terlalu larut dalam kegelisahan dan kesedihannya sendiri memilih untuk pergi ke ruang yang digunakan untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk konser yang akan diadakan empat hari lagi. Setelah percakapan singkatnya dengan Baekhyun di toilet, Lu Han merasa bahwa ia harus mengumpulkan keberanian dan semangatnya lagi.

Ia melangkah dan berlatih untuk tersenyum sebelum membasuh mukanya hingga nanti, takkan ada yang sadar jika ia habis menangis.

Di dalam ruangan itu, telah banyak para panitia yang sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang kurang.

Ia bisa melihat Jongdae—teman sekelasnya—yang sedang memeriksa beberapa alat musik, juga Joonmyun yang sedang menelepon seseorang yang bertanggung jawab untuk dekorasi, Yifan yang sedang berbicara dengan mahasiswa junior—mungkin mendiskusikan latihan—dan juga Amber, adik tingkatnya yang sedang berbicara dengan seorang lelaki yang baru kali ini Lu Han lihat.

Amber rupanya menyadari jika Lu Han sedang berjalan kearahnya, dan kemudian wanita yang berpenammpilan tomboy itu melambai kearah Lu Han sambil menyebut namanya.

Dengan satu senyum ramah Lu Han menyapa Amber dan membungkuk kearah seorang pemuda asing di sampingnya.

"Lu Han oppa, kenalkan, ini adalah Myungsoo," katanya sambil menepuk punggung Myungsoo pelan. Lelaki bernama Myungsoo itu menjulurkan tangannya dan Lu Han menerimanya dengan sebuah senyum manis.

"Ia adalah temanku SMP, dan ia juga yang akan duet dengan Jongdae di lagu kedua." Amber menerangkan, memandang Myungsoo dengan satu senyum cerah.

Lu Han tertawa. "Semoga kau cukup sabar untuk berlatih dengan Jongdae," katanya, kemudian mendekat, mencoba berbisik hingga Jongdae takkan mendengarnya. "Jongdae adalah perfeksionis paling merepotkan."

"Aku mendengarmu, Bambi China!"

"Oops."

Myungsoo dan Amber tertawa, kemudian mereka berbicara tentang Myungsoo dan kemampuannya. Menenggelamkan diri kedalam aktivitas rupanya membuat Lu Han sedikit lupa dengan masalah pribadinya.

Tepat pada pukul dua siang, Amber undur diri, mengatakan bahwa ia harus menemui temannya di sebuah restoran, yang mana Lu Han dan Myungsoo langsung mengangguk paham.

Keduanya memutuskan untuk berkeliling kampus sebelum Myungsoo membelikan dua kopi—Lu Han awalnya ingin meminta macchiato, namun segera ia urungkan—sebelum mereka berkeliling.

Mereka mulai berjalan menuju ke ruang piano, di mana sekiranya ada lima piano besar di dalamnya. Untungnya, hari itu sedang kosong dan tak ada yang sedang berlatih. Lu Han memersilakan Myungsoo masuk, mengetahui bahwa tadi Myungsoo bilang bahwa ia ahli dalam piano, sama seperti Chanyeol.

Mereka duduk di salah satu bangku panjang di depan sebuah piano yang kerap digunakan Chanyeol ketika Myungsoo bercerita mengenai Amber dan masa lalunya.

Dari ceritanya Lu Han dapat menyimpulkan bahwa keduanya tak begitu dekat, namun seorang perempuan bermarga Jung yang kebetulan adalah sepupu Myungsoo, ternyata teman baik Amber dan saat itulah ia juga berteman dengan Amber. Menurutnya, Amber adalah wanita yang menarik, namun ketika Lu Han bertanya apa mereka ada hubungan khusus, Myungsoo menyangkalnya. Ia berkata bahwa Amber sudah seperti saudaranya, dan mereka dekat karena mereka sama-sama dari jurusan musik, namun berbeda universitas.

"Temanku juga banyak yang memilih untuk kuliah di sini," katanya. "Ada Yongguk dan Yoonji."

Lu Han tersenyum lebih lebar. "Mereka adik tingkatku juga, namun berbeda kelas dengan Amber."

Myungsoo tertawa, kemudian mengangguk. "Namun aku tak begitu dekat dengan mereka. Teman dekatku malah pergi ke Literature di kampus ini."

"Ah ya, siapa?"

"Sehun. Oh Sehun."

Jantung Lu Han melewatkan satu detakan ketika mendengar nama yang tak asing baginya itu.

"Se—Sehun?"

Myungsoo mengangguk, kemudian memainkan jemarinya di atas tuts. Beberapa nada terdengar menggema, namun yang ada di pikiran Lu Han adalah Sehun.

"Aku kenal Sehun juga dari Soojung. Apakah kau mengenalnya, sunbae?"

Lu Han menoleh kearah Myungsoo yang juga sedang menatapnya. Ia mengerutkan keningnya, kemudian membuka suara. "Soojung?"

Pemuda di samping kanannya itu mengangguk. "Soojung. Jung Soojung yang tadi kuceritakan. Sepupuku yang memperkenalkanku dengan Amber dan Sehun. Ah—Soojung juga mantan kekasih Sehun, yang mana aku jadi akrab dengan Sehun. Tapi sayang, hubungan mereka kandas di tengah jalan."

Lu Han merasa kepalanya berkunang. Ia merasa pernah mendengar nama itu—atau pernah tahu, namun ia yakin bukan dari mulut Sehun kekasihnya. Ia tak pernah mendengar Sehun mengucapkan nama itu, tidak, tidak pernah.

Lagi-lagi, ia merasa hatinya sesak.

"Kandas?" tanyanya dengan suara yang serak dan terdengar begitu dipaksakan.

Namun Myungsoo sepertinya tak menyadarinya. Senyum kecewa di wajah lelaki itu begitu mudah Lu Han tangkap ketika ia berbicara—"Soojung memutuskan Sehun ketika ia akhirnya pindah ke Paris."

Lu Han merasa kepalanya begitu berat.

Sehun. Soojung. Paris.

Paris.

Paris.

"Dan sejak saat itu, Sehun tak pernah terlihat berkencan."

Sehun. Soojung. Paris.

"Semua orang bilang karena Sehun begitu mencintai Soojung."

Lu Han mengalihkan pandangannya kearah Myungsoo yang masih menatap tuts piano di depannya dengan sebuah senyum kecil.

Apakah—

Myungsoo mendongak, menatap Lu Han.

"Namun aku mendengar kabar bahwa Sehun akhirnya mendapat beasiswa yang ia inginkan. Ia akhirnya bisa menyusul Soojung. Ah, begitu in—"

Lu Han tak tahu apa yang ia lakukan dan ia tak tahu apa lanjutan kalimat Myungsoo. Yang ia tahu adalah saraf di otaknya yang menyuruhnya untuk pergi, pergi, pergi.

Jadi, ia pergi.

Berlari.

Bahkan Lu Han tak memedulikan beberapa junior yang menyapanya dan Yifan yang mencoba mencegatnya.

Bahkan, ia tak mau repot-repot menyembunyikan tangisnya.

Bahkan, ia tak repot-repot menjawab panggilan Baekhyun yang berpapasan dengannya.

Bahkan, ia tak memedulikan hatinya yang merengek kesakitan.

Ia tak tahu kemana kakinya membawanya pergi, namun ketika ia sampai di halte bis di depan kampusnya, dan ketika sebuah bus sedang berhenti menjemput penumpang, ia tahu bahwa yang ia inginkan saat ini adalah pergi jauh.

Ia tak tahu kemana bus ini akan membawanya, namun ketika ia menempati tempat duduk di barisan paling belakang, ia tak peduli lagi.


Analisis film adalah mata kuliahnya terakhir hari itu, dan Sehun sudah begitu lelah dengan semua kejadian hari ini. Terutama dengan sikap Lu Han.

Profesor Kim di depan kelas sedang menerangkan tentang esensi film Barat terkenal berjudul The Great Gatsby yang diadaptasi dari novel yang sama. Telinganya sayup-sayup mendengar suara tegas Profesor Kim berkata tentang bait-bait yang dikatakan Nick Carwat—Carway—Carraway?—oh sudahlah.

"Dia datang dari tempat yang begitu jauh. Dan impiannya pasti terlihat begitu dekat, sehingga dia selalu berusaha menggapainya. Tapi dia tidak tahu, impiannya telah meninggalkan dia..."

Sehun menyerap kalimat demi kalimat indah itu, mencoba memahaminya. Dengan suara yang lirih ia mengulang kalimat-kalimat itu di dalam hati. Lu Han, dalam beberapa hal, nampak sama seperti Gatsby. Dia datang dari tempat yang begitu jauh, yang mana sebelumnya, tak pernah terlintas dalam benak Sehun jika ada, di luar sana, seseorang bernama Lu Han dengan mata yang berkilau seperti mata rusa dan senyum hangat yang menyihir kesedihannya. Jika bukan karena lukisannya yang selalu dipuji oleh teman-teman dekatnya, mungkin Sehun takkan tertarik untuk mengikuti berita tentangnya.

Merasa bosan sekaligus tak enak karena terus terbebani oleh perasannya dan sikap Lu Han, Sehun memilih untuk bermain dengan ponsel pintarnya di bawah meja.

Tanpa ia sadari, tangannya bergerak lincah untuk membuka galeri fotonya. Selama ia menjadi kekasi Lu Han, Sehun selalu ingin mengabadikan momen mereka, dan karena Lu Han adalah orang yang gila foto, maka tak heran jika foto mereka berdua sangat banyak di ponsel Sehun. Ia menggeser jemarinya ke kiri, melihat-lihat foto kemesraan mereka berdua.

Dalam hati Sehun bingung, kenapa Tuhan terlalu baik padanya hingga Lu Han mau berada di sisinya.

Namun rasa itu kembali muncul. Rasa di mana Sehun semakin terlihat bersalah dan denyut di hatinya tak kunjung hilang ketika memorinya kembali mengulang kejadian di kantin tadi siang.

Menutup galeri foto, jemari Sehun tanpa sadar membuka fitur email.

Sebuah senyum tercipta di bibirnya ketika ia membuka email di deretan paling atas, sebuah pesan elektronik yang ia terima sebelum kejadian di kantin tadi terjadi

Membukanya kembali, Sehun tersenyum ketika matanya menjelajahi kata perkata yang ada di sana.

Hai, Sehun. Bagaimana kabarmu?

Aku senang sekali ketika melihat emailmu dan aku sangat bahagia mendengar bahwa akhirnya kau akan kesini! Oh Tuhan, aku sangat berbahagia untukmu. Tentu saja, aku akan menjadi guide-mu jika kau tiba di sini. Dan tentang penginapan dan lain-lain, aku akan membantumu! Temanku punya sebuah apartemen sederhana dan cukup murah, dan kurasa aku bisa membantumu dalam beberapa hal.

Beritahu aku rencanamu selanjutnya, oke?

Lalu jemarinya kembali menggeser layar ponselnya kebawah

Aku baik-baik saja. Semoga kau juga begitu, Soojung.

Terimakasih, pastinya aku akan menghubungimu. Bagaimana kalau kita bertukar nomor telepon setelah aku sampai di sana? Aku akan sampai di bandara hari Senin sore.

Sebuah senyum masih terlintas di bibirnya, dan ia kembali membuka percakapan demi percakapan yang ia kirimkan.

Sesaat sebelum ia hendak menggeser layar ponselnya kebawah lagi, getar ponselnya melarangnya. Ia kembali ke menu awal, dan melihat bahwa Baekhyun mengiriminya sebuah pesan singkat.

Sedetik setelah ia membaca pesan itu, yang pertama kali terlintas di benaknya adalah berlari. Pergi dan berlari menghiraukan teriakan dosen dan pekik kaget teman-temannya.

from Baek

Oh Sehun, aku tadi melihat Lu Han berlari sambil menangis dan kini ia menghilang. Semua temannya sedang mencarinya, bahkan dosennya juga ikut bingung dan aku tahu jika ini ada kaitannya dengan hubungan kalian. Kalau kau tak menemukannya dalam dua jam, jangan harap aku mau berbicara denganmu lagi.


tbc


a/n : ok i'm back. Maaf jika ini telat, tapi jeongmal, sachi udah berusaha mengetik secepat mungkin. Mungkin chapter ini agak melo dan pendek, tapi ini udah mentok... huhu mian /play lagu iKON-apology/

anw, fanfic ini akan selesai mungkin kurang dua chapter lagi, dan satu chapternya adalah epilog.

Untuk yang benci Sehun, tenang aja, benci kalian belum seberapanya. Dua chapter lagi dan kalian pasti bakal lebih benci sama dia. Oh iya, L di sini cuman jadi pelengkap cerita aja ya, nggak bakal ada LuHan sama L hehehe. Tapi bakal ada LuHan sama seseorang di sini selain HunHan.

Dan yang tetep bakal masih menjadi misteri adalah endingnya... paipai~~