"Sebenarnya ada apa denganmu?" Minseok melirik Chanyeol heran.
Lelaki itu belum berhenti tersenyum semenjak pulang dari parlour. Minseok memintanya mampir sebentar untuk makan malam bersama ke apartemennya.
"Apel." Kata Chanyeol tiba-tiba. Lelaki itu mengambil mangkuk nasi sambil terkikik seperti orang kerasukan.
Minseok mengerutkan alis. "Apel?"
"Yeah, apple is cute, Hyung." Lanjutnya pelan dan Minseok tidak mengerti mengapa Chanyeol tersipu karena kalimat sederhana itu. "Apple is love, apple is life."
"Kau benar-benar aneh." Gerutu Minseok kemudian, walaupun Chanyeol tetap tidak mendengarkannya.
Jiwa lelaki itu seakan melayang entah kemana hingga Minseok menggeleng-geleng bingung.
"Apa kau pikir aku bisa mendapatkan apel?" tanya lelaki itu semakin aneh.
Minseok memutuskan untuk masa bodoh dengan membalas, "Ya, ya, ya. Kau bisa mendapatkan apel manapun yang kau mau, Channie."
Mendengar itu, senyum Chanyeol melebar, membuat Minseok bertanya-tanya apa sudut bibir lelaki itu bisa menyentuh telinga.
"You're the best Hyung ever."
Minseok berdecak penasaran.
KALEIDOSCOPE
CHAPTER III
.
BEAT THE CLOCK
.
"Love vanquishes time. To lovers, a moment can be eternity, eternity can be the tick of a clock."
— Mary Parrish
Prenote : Ready for some domestic!ChenMin AU? Here we go, hope you enjoy it!
.
Suara langkah kaki seorang gadis kecil yang sedang berlari dapat terdengar dalam sebuah ruang apartemen di pagi hari yang cerah itu. Pandangan anak itu menyisir ruangan dengan terburu-buru, sebelum seseorang mengejarnya dari belakang.
Panik, ia akhirnya bersembunyi di samping kabinet kayu ruang tengah. Gadis kecil itu menutup mulutnya dengan tangan agar ia tidak tergelak dan ditemukan. Matanya mengintip pelan-pelan dari balik kabinet, mencari sosok seorang lelaki di ruangan itu. Merasa keadaan sedang kosong, ia akhirnya memberanikan diri berjinjit keluar dari persembunyiannya untuk berlari ke arah lemari kecil di bawah meja televisi. Lemari itu cukup besar untuk tubuhnya agar bisa masuk. Namun belum setengah perjalanan, sepasang tangan tiba-tiba menangkapnya dari belakang lalu mengangkatnya ke udara.
"Gotcha!" seru Jongdae riang. "Kau seburuk Appa-mu dalam urusan permainan, Mindae."
Gadis kecil itu—Mindae, meronta dengan tawa menggaung membelah pagi saat Jongdae mulai menggelitik perutnya.
"Captain! Captain! Mindae geli!" pekiknya sambil berusaha melepaskan diri.
Keduanya terjatuh ke lantai kemudian berguling di atasnya. Mindae berbalik memunggungi Jongdae lalu kembali berlari untuk menghindar. Jongdae terbahak melihat gadis kecilnya kini bersembunyi di balik lengan sofa.
"Oh, come on, little love." Keluhnya masih sambil tertawa. "Kita punya misi yang lebih penting."
Mendengar itu, Mindae mengeluarkan sebagian tubuhnya. "Captain tidak sedang menjebak Mindae?" tanya gadis kecil itu ragu-ragu.
"Tentu saja tidak." Jongdae berjalan menghampiri Mindae. "Kemarilah."
Dengan senyum yang mengembang serta mata berbinar penuh minat, Mindae segera naik ke pangkuan Jongdae. "Apa misi kita kali ini, Captain?"
"Kita harus membangunkan naga yang sedang tertidur."
Mulut Mindae menganga lebar sambil melirik ke ruangan sekitar mereka. "Dimana naga itu tinggal?"
"Di pulau sebelah sana." Jongdae menunjuk kamar utama. "Sekarang naiklah, kita akan menempuh perjalanan panjang untuk kesana."
Mindae mengangguk riang.
Jongdae kemudian menggendong anaknya di punggung, membuat dirinya sendiri seperti sebuah kapal dengan meliuk-liukkan badannya.
Sesampainya di pintu kamar, ia menurunkan Mindae lalu meminta gadis itu untuk bertiarap. Jongdae menempelkan telunjuknya ke bibir, mengisyaratkan Mindae untuk diam. Gadis kecil itu menggangguk paham. Mereka mulai merayap ke tepi tempat tidur, lalu bersandar dengan punggung melawan rangka ranjang.
"Dalam hitungan ketiga, kita harus melompat agar naga itu segera terbangun. Kau mengerti?"
"Aye, aye, Capt!" Jawab gadis itu sambil memberikan tanda salute ke arahnya.
"Oke, kau siap?" Mindae mengacungkan ibu jarinya. "Satu... dua... tiga!"
Secara serentak, keduanya melompat ke atas tempat tidur dengan teriakan sekeras mungkin, memancing geraman kesal dari lelaki yang masih terperjam. Jongdae menyentak selimut yang membungkus tubuh lelaki itu sementara Mindae menindihnya sambil masih terus berteriak.
Lelaki itu perlahan membuka matanya. Apa yang ada di hadapannya saat ini adalah sepasang troll paling menyebalkan sepanjang sejarah sedang berusaha membangunkannya.
Dengan gerakan cepat, lelaki itu menarik Mindae ke dalam dekapannya, menawannya agar tidak banyak bergerak.
"Captain, Captain, tolong! Mindae terperangkap!" jerit Mindae ketika lelaki itu menggigit-gigit bahunya kecil.
"Lepaskan dia naga Baozi!" Jongdae ikut larut dalam perannya, kemudian mengambil salah satu guling dan mulai menyerang lelaki itu.
Mindae berhasil lolos pada pukulan ketiga, ia kini bergabung dengan Jongdae untuk memukul-mukul lelaki yang tengah meringkuk sambil menutupi wajahnya.
"Okay! Okay! Aku menyerah!" Lelaki itu bangkit kemudian duduk bersila dengan kedua tangan terangkat ke udara.
Mindae yang terkikik langsung melingkarkan lengannya di leher lelaki itu.
"Beri Appa-mu ciuman selamat pagi." Tutur Jongdae seraya meredam tawanya.
Mindae menoleh ke arah Appa-nya, lalu mengecup pipi lelaki itu. "Morning, Appa!"
"Good morning too, little love. Siap untuk berpindah rumah hari ini?"
Mindae mengangguk cepat. Gadis itu sudah tidak sabar untuk berpindah dari apartemen kecil yang kini mereka tempati, ke sebuah rumah yang berada di pinggiran kota. Mereka bahkan telah menyiapkan ayunan serta kotak pasir untuk Mindae agar gadis itu bisa bermain lebih leluasa nantinya.
"Jadi anak yang baik dan mandilah sekarang. Appa akan menyiapkan bajumu."
Tanpa menunggu lama, Mindae beranjak dari pangkuan Appa-nya, kemudian melepas piyamanya sambil berlari dan bernyanyi ceria menuju ke kamar mandi.
Kedua lelaki di dalam kamar itu tergelak pelan, sebelum matanya saling bertemu.
"And where is my morning kiss, Captain?" Lelaki itu berkata, tangannya menyelinap ke pinggang Jongdae dengan gerakan menggoda.
Jongdae tersenyum tipis. Ia merangkul pundak lelaki itu, lalu menanamkan satu ciuman singkat namun hangat ke bibirnya. "Good morning, baby."
"Good morning too, baby."
.
—oOo—
.
Pemindahan barang dari apartemen ke rumah baru mereka memakan waktu lima jam. Memilih tidak ambil pusing, mereka memanfaatkan jasa pemindahan barang untuk mengurus semua itu. Sementara, tugas mereka selama lima jam ke depan adalah membuat Mindae tidak mengeluh untuk pulang, karena anak itu sudah tidak bisa menunggu untuk menempati rumah barunya.
Minseok memutuskan mengisi agenda pertama hari itu dengan berbelanja. Mereka membutuhkan banyak barang yang mungkin diperlukan untuk tempat tinggal baru mereka. Mindae duduk manis di atas troli dengan boneka dinosaurus di dekapannya. Gadis kecil itu bernyanyi sepanjang perjalanan sampai ke hypermart ini. Rambut sebahu gadis itu diikat menjadi dua—kali ini dengan bagian sama rata (Minseok harus menonton video tutorial bagiamana cara mengikat rambut dengan benar selama delapan kali sebelum puas dengan hasil kerjanya).
Jongdae mendorong trolinya pelan sambil melihat daftar belanjaan yang telah dibuat Minseok kemarin malam. Ia sangat bersyukur karena Minseok selalu menjadi sisi yang lebih teroganisir di antara mereka. Berbeda dengan dirinya, lelaki itu memiliki keteraturan yang baik dalam mengatur segala sesuatu pada tempatnya.
Dasi, kaus kaki, ikat pinggang diurutkan dalam warna yang bertingkat. Begitu juga dengan baju serta celana. Refrigrator mereka selalu rapi karena Minseok menempatkan tiap jenis makanan dalam kotak-kotak tupperware yang bertumpuk dengan label di depannya. Apartemen mereka juga jauh dari kata berantakan, karena Minseok menerapkan jadwal membersihkan rumah mulai dari menyapu sampai mencuci baju secara teratur.
Sebaliknya, Jongdae justru berada di sisi yang berlawanan. Ia sengaja tidak meletakkan sepatu di rak, atau menukar isi makanan di tupperware minseok, atau berpura-pura tidur saat datang jadwal untuk membersihkan rumah (Minseok akan berteriak 'Yah, Kim Jongdae kau begitu menyebalkan' yang hanya akan ia balas dengan tertawa)
Jongdae kembali memfokuskan diri ke kertas di genggamannya. Ia mengambil satu botol saus barbeque yang ada di kanannya, kemudian saus tiram, serta merica bubuk.
Gadis kecil di dalam trolinya tiba-tiba berhenti menyanyi. Raut wajahnya terlihat masam dan cemberut. "Appa, Mindae is boring." Keluhnya sambil mengerucutkan bibir.
Minseok membelalak ke arah Jongdae, seakan meneriakkan 'code red!' karena Mindae bisa jadi luar biasa cengeng ketika ia sedang bosan.
"Tapi kita punya misi penting lain, sayang." Sambar Jongdae cepat sebelum gadis itu menangis.
Minseok dapat bernafas lega saat gadis itu kembali tersenyum cerah. "Kita akan membangunkan naga lagi?"
"Oh, bukan." Jongdae melirik Minseok sejenak, memastikan lelaki itu sedang dalam mood baik. "Kita akan memberi makan naga sebelum naga itu marah dan membakar hypermart ini."
Kali ini, Minseok yang mengerucutkan bibir. Ia menatap Jongdae tajam seraya menggerutu pelan 'Kenapa aku selalu menjadi korban?'
Mindae terkikik melihat Appa-nya yang memberengut. "Appa is mad!" pekiknya sambil menunjuk Minseok.
Jongdae yang tadinya tertawa langsung memasang mimik serius. "Oh, gawat kita harus cepat-cepat sebelum naga itu semakin marah."
Ia segera berlari sambil mendorong troli sementara Minseok—setelah berbagai umpatan dalam hati akhirnya pasrah menerima perannya dan mulai mengejar mereka.
Jongdae menukik, memasuki lorong makanan dan meminta Mindae untuk menyambar sereal sesuai yang ada di daftar belanja. Minseok di belakang mereka memasang raut wajah seram sambil membentuk tangannya seperti cakar.
Mindae tertawa geli kemudian berteriak, "Cepat, Captain! Naga itu mulai mendekat!"
Jongdae berlari lebih cepat sementara Minseok ikut tergelak saat ia tidak sengaja tersandung. Mindae mengambil dengan cepat barang apa saja yang Jongdae sebutkan. Ia bahkan mengambil tiga batang coklat yang ia sembunyikan di bawah bajunya (Jongdae berkata, "Hanya agar Appa-mu tidak merebutnya, sesampainya di kasir kau harus mengeluarkannya dengan cepat.") sebelum meraih SunnyD yang berada di dekatnya.
Jongdae menoleh ke belakang lalu mengernyit karena tidak mendapati Minseok di sana. Ia berjalan pelan, melongok menyusuri tiap lorong tetapi tidak juga menemukan lelaki itu.
Namun tidak lama kemudian, Mindae memekik karena seseorang mengangkatnya dari troli. Minseok segera berlari selagi Jongdae masih terkejut dengan serangan tiba-tiba itu. Mindae memeluk leher Minseok kuat sambil terus tergelak melihat Jongdae yang kini mengejar mereka. Minseok masuk ke lorong perlatan rumah tangga, kemudian bersembunyi di ujung rak gondola lorong itu.
"Kau menjadi sanderaku sekarang, jika kau berteriak aku akan menggelitikimu sampai menangis." Ujar Minseok sambil berusaha mengeluarkan ekspresi mengancam.
Mindae melipat bibirnya ke dalam, berusaha tidak mengeluarkan suara apapun saat ia menagkap Jongdae mendekat ke arah mereka. Ketika Minseok menatap ke arah yang sebaliknya, Mindae menjulurkan tangan agar Jongdae bisa menemukan tempat persembunyiannya.
Melihat sinyal itu, Jongdae bergegas menghampiri mereka. Minseok tidak sempat berlari karena Jongdae mendekapnya dari belakang dengan kuat. Mereka bertiga meledak dalam tawa yang menggaung, memancing kerut keheranan di dahi siapa saja yang melintas.
Minseok kembali menurunkan Mindae ke dalam troli. Ia bergeser ke sebelah Jongdae, untuk melihat apa semua barang yang berada di daftar sudah terbeli. Mindae dengan ceria mengacungkan barang itu selagi Jongdae menyebutkan satu persatu.
"Roti tawar?"
"Check!"
"Kacang kalengan?"
"Check!"
"Pasta gigi?"
"Check!"
"Deterjen?"
"Check!"
"Kond-"
Minseok dengan sigap mencubit lengan Jongdae hingga lelaki itu mendelik saat menyadari kesalahannya.
Mindae yang menyaksikan itu mengerjap polos. "Kon?" Alis gadis itu bertautan heran. "Apa itu kon?"
Kedua ayahnya berpandangan dalam diam, saling menyalahkan dan mengumpat lewat tatapan.
Tidak ingin membuat Mindae semakin penasaran, Minseok akhirnya tersenyum lalu berujar, "Bukan hal yang penting, sayang. Sekarang," Ia mendesis ke arah Jongdae, "biarkan Captain menyelesaikan misinya dan aku akan mengantarkanmu untuk mengembalikan coklat yang kau sembunyikan sedari tadi."
Jongdae dan Mindae memberengut bersamaan.
.
—oOo—
.
Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam di hypermart itu (mungkin bisa lebih jika pegawai di sana tidak menegur mereka karena berlarian di sepanjang lorong setelah Jongdae memutuskan untuk melanjutkan permainan tadi). Kini, ketiganya bersandar lelah di dalam mobil sambil menarik nafas yang masih memburu. Minseok mencuri pandang ke anaknya yang sedang memandang keluar kaca jendela, kemudian menoleh ke Jongdae dan mendesah pelan.
"Dia tidak tidur." Bisiknya dalam suara sangat pelan.
Jongdae tertawa karena kalimat itu memiliki arti yang sama dengan 'kita harus siap mengalihkan pikirannya lagi'.
"Ok, semua siap untuk berlayar?" Jongdae menyalakan mesin mobilnya diiringi teriakan 'aye, aye, Captain!' dari Minseok dan Mindae.
Ia masih tidak bisa menahan senyumnya karena Minseok mulai terbiasa dengan panggilan 'Captain' yang dulu ia benci ("Itu adalah sebutan paling konyol untuk seorang ayah, Jongdae.").
"Appa, kita akan pulang setelah ini?" tanya Mindae tiba-tiba sambil melompat di atas jok mobil belakang.
Jongdae menyelamatkan keadaan sebelum Minseok berubah panik dengan menjawab, "Tidak. Kita akan mampir ke parlour sebentar. Apa kau ingin Rainbow Paradise?"
"Rainbow Paradise!" Mindae memekik riang lalu mulai menari kecil.
Minseok memberi isyarat untuk sedikit melambatkan laju mobil mereka agar perjalanan ke parlour menjadi sedikit lebih lama.
"How about a little game?" Jongdae menyarankan melihat Mindae yang mulai usil di belakang.
"Mindae loves game!"
"Oke, jadi dengarkan baik-baik, permainan ini bernama 'i'm going to picnic'." Jongdae membelokkan kemudinya perlahan. "Misal, aku punya satu kata kunci rahasia. Umm, anggap aku memikirkan kata kunci itu adalah; benda yang berwarna merah. Lalu aku akan memberikan petunjuknya saat memulai permainan dengan mengatakan 'aku ingin pergi berpiknik dan aku akan membawa apel'. Kemudian, kalian harus meneruskan dengan bertanya 'apa aku boleh membawa lemon?' yang akan aku jawab dengan tidak, karena lemon bukan berwarna merah dan seterusnya sampai kalian bisa menebak pola yang aku maksud. Got it?"
Mindae mengangguk paham. Gadis kecil itu tiba-tiba berpindah ke depan, memilih duduk di pangkuan Minseok. "Ayo mulai, Captain!"
Jongdae mengacak rambut anaknya lembut. "Baik." Ia berdehem sejenak. "Aku ingin pergi berpiknik dan aku ingin membawa pork belly."
Entah kenapa Jongdae tergelak ketika mengucapkan itu. Minseok berkedip, memikirkan pola apa yang kira-kira berhubungan dengan 'pork belly'.
"Apa aku boleh membawa kopi?" tanya Minseok untuk memulai.
"Oh, tidak. kau tidak boleh membawa kopi." Jawab Jongdae.
"Apa Mindae boleh membawa susu?"
Jongdae memberikan jawaban serupa ke gadis kecilnya. Ia mengatur volume radionya sedikit lebih kecil agar suara mereka tidak teredam. Minseok memainkan bibir, alisnya naik setengah selagi ia berpikir.
"Bagaimana dengan air mineral?" tanya lelaki itu kemudian.
Jongdae tersenyum tipis. "Kau boleh membawa air mineral."
Mindae menjadi sedikit tertantang karena Minseok mendapatkan jawaban 'boleh' dari Jongdae. Gadis kecil itu melongok ke jalan, mencari petunjuk yang mungkin saja bisa ia dapatkan dari sana.
"Shiitake?"
"Tentu kau boleh membawa Shiitake."
Mindae memekik riang di pangkuan Minseok, hingga lelaki itu menahan bahunya karena ia yakin gadis itu pasti akan melompat. Mereka melewati perempatan pertama yang cukup sepi pada pertengahan hari seperti ini.
Sembari Jongdae fokus pada kemudinya, Minseok dan Mindae bergantian melemparkan pertanyaan yang menuai banyak jawaban 'tidak'. Gadis kecilnya mulai kesal karena tidak bisa menebak dengan benar. Jongdae mencubit pipi anaknya yang mengerutkan dahi sambil bersedekap dan memutuskan untuk menambah petunjuk.
"Kata kuncinya berhubungan dengan resep makanan." Papar lelaki itu.
Wajah Mindae berubah cerah. Ia menggeser posisi duduknya hingga menghadap ke Jongdae.
"Oh, apa Mindae boleh membawa tepung?"
"Yup." Balas Jongdae singkat sambil menggigit bibir karena ia mulai kesulitan menahan tawa.
"Bagaimana dengan telur?" kali ini Minseok yang bersuara.
Jongdae mengangguk pelan. Mengalihkan pandangan ke kaca spion ketika mereka berbelok ke kanan. Permainan menjadi lebih mudah, Mindae menebak dengan benar saat menyebutkan gula, saus tiram, bahkan bawang.
Alis Minseok bertautan ketika ia mulai mengurutkan bahan apa saja yang telah disebutkan.
"Tunggu… pork belly, tepung, telur, baking powder—" Tiba-tiba lelaki itu mendesis. "Oh, astaga aku sangat membencimu, Kim Jongdae."
Jongde terbahak hingga mengeluarkan air mata saat suaminya mulai memukuli lengannya. Mindae yang belum mengerti menatap mereka bergantian dengan mata besarnya, sedikit mengerjap bingung mengapa Appa-nya begitu marah.
"Captain, Mindae belum menemukan jawabannya."
Masih ingin menggoda Minseok, Jongdae-pun berkata, "Coba tanya ke Appa."
Gadis kecil itu mendongak memandang Appa-nya. Ikatan rambutnya mulai berantakan karena ia terlalu banya bergerak. Minseok mendesah sambil melemparkan tatapan jengkelnya ke Jongdae.
"Itu adalah resep membuat Baozi." Bisiknya sambil menahan malu.
Jongdae kembali meledak dalam tawa.
.
—oOo—
.
Mindae berlari ke Chanyeol ketika mereka sampai di SwirlSation. Lelaki itu langsung menyambutnya dengan menggendong Mindae ke atas bahunya. Jongdae segera memlilih salah satu kursi yang berdekatan dengan pintu keluar setelah meminta satu Swirl Special Parfait dan Rainbow Paradise ke salah satu pegawai. Minseok memperhatikan anaknya yang masih terkikik karena Chanyeol tidak berhenti memutar tubuhnya.
Seorang lelaki dengan senyum yang tidak berhenti terpulas sedari tadi mengamati Chanyeol dan Mindae dari bangku sebelah kasir. Minseok ingat, itu adalah lelaki yang sama dengan yang membuat Minseok marah tempo hari karena Chanyeol tidak kembali ke parlour. Walaupun sesaat kemudian, setelah menyadari bahwa Chanyeol sudah menawarkan bantuan cuma-cuma di parlour-nya, ia merasa tidak enak dan kemudian meminta maaf.
Ketika es krim mereka sudah siap, Mindae buru-buru berlari ke kursinya sambil menarik Chanyeol untuk bergabung. Gadis kecil itu tanpa pikir panjang menyuap whipped cream ke dalam mulutnya dengan tawa yang riang.
"Hey, Hyung. Semua berjalan lancar?" sapa Chanyeol ramah.
Minseok mengangguk seraya menyeka noda es krim yang mulai belepotan di pipi Mindae. "Ya, dalam dua jam lagi rumah itu akan siap ditempati. Kau yakin ingin tetap ingin tinggal di apartemen?"
Chanyeol melirik lelaki yang duduk di sebelah meja kasir sekilas sebelum membalas, "Aku sudah nyaman tinggal di sekitar sini."
"Ah, kau dan lelaki itu memiliki hubungan?" celetuk Jongdae dengan nada menggoda.
Chanyeol tersenyum lebar. Ia menggaruk bagian belakang lehernya sambil mengangguk pelan.
"Ajak dia bergabung kesini." Timpal Minseok.
"Dia sedang mengerjakan tugas." Sahut Chanyeol cepat. "Hanya kesini untuk melihatku sebentar."
Jongdae tergelak hingga sudut bibirnya melengkung tipis. "Hm, sweet, sweet love."
Mereka berdua menggoda Chanyeol (walaupun sebenarnya sebagian besar itu dilakukan oleh Jongdae) hingga lelaki itu memerah sampai ke ujung telinga. Seperti tahu bahwa topik itu tidak akan mendekati akhir, Chanyeol-pun mencari alasan agar ia bisa kembali bekerja di balik counter yang dibalas dengan lebih banyak kalimat menggoda lain sebelum mereka berdua mengizinkan Chanyeol beranjak.
Chanyeol menyempatkan diri untuk menghampiri lelaki yang sedang sibuk dengan tugasnya itu, mengecup keningnya singkat kemudian mengepalkan tangan ke udara sembari berteriak 'fighting!'. Minseok bisa melihat bagaimana mata lelaki itu berbinar dengan kekaguman saat Chanyeol tersenyum sembari berjalan mundur untuk masuk ke dalam counter.
Mendadak, ia menoleh ke arah Jongdae yang telah menghabiskan setengah es krimnya, lalu ke Mindae yang sedang mengunyah cherry dengan begitu menggemaskan. Menjadi pasangan Jongdae membuatnya menemukan alasan mengapa mereka bisa saling menyempurnakan.
Karena mereka punya dua kutub sifat yang berbeda.
Perkenalan awal mereka dimulai dengan kejadian yang unik; salah sambung.
Jongdae menelpon ke nomor ponselnya pada jam sebelas malam di saat ia sudah bersiap tidur. Lelaki itu mengoceh panjang tentang pertandingan baseball yang sedang berlangsung tanpa memberi Minseok jeda untuk bicara. Ia bisa saja menutup sambungan itu, tetapi Minseok bukan seseorang yang tidak punya sopan santun.
Maka, ia menunggu sampai Jongdae selesai bicara.
Ketika lelaki itu akhirnya berhenti meracau. Minseok segera menjelaskan bahwa ia telah menghubungi nomor yang salah. Ada kecanggungan yang mengisi saluran itu sejenak, sebelum akhirnya Jongdae meminta maaf. Kemudian entah bagaimana permulaannya, karena mereka berdua sama-sama tidak bisa tidur, dan keduanya sama-sama penggemar baseball, mereka berakhir dengan percakapan sampai menjelang subuh.
Atau Minseok pikir ceritanya berlangsung seperti itu.
Karena beberapa bulan setelah mereka bersama, Jongdae mengaku bahwa itu bukan salah sambung. Ternyata, lelaki itu memang sengaja menghubungi Minseok setelah mendapatkan nomor ponselnya dari salah satu teman kuliahnya. Namun pada saat Minseok mengangkat teleponnya, Jongdae berubah gugup dan tanpa sadar segera mengeluarkan topik apa saja yang ada di kepalanya.
Minseok memutuskan untuk meresmikan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius saat Jongdae melamarnya dalam tiga kata yang membuat ia kesulitan menenangkan detak jantungnya;
"Let's start a family."
Dan dengan menjawab 'Ok, let's start a family' Minseok tidak menyadari bahwa ia telah mengambil keputusan yang terbaik di hidupnya.
Ia bahagia luar biasa.
Kehidupan rumah tangganya jauh dari kata normal. Karena mereka harus mengeluarkan satu pak kartu lalu bermain Poker hanya untuk menentukan siapa yang akan memasak dan mencuci piring nanti malam, atau bermain Jenga demi lolos dari tugas mengepel, serta masih banyak lainnya.
Mindae hadir setahun setelah Minseok mengungkapkan bahwa ia kesepian berada di rumah sendirian. Mereka sempat berdebat panjang mengenai nama anak itu dan berakhir dengan nama paling sederhana yang pernah mereka pikirkan ("Mindae, Minseok – Jongdae, aku bahkan membiarkan namaku berada di akhir, kau harus segera mengakhiri ini, Minnie~").
Minseok tertawa tiap kali mengingat kejadian itu.
Jongdae berhenti memakan es krimnya saat mendengar tawa Minseok. Ia menoleh, menemukan suaminya sedang memandang Mindae dengan tatapan yang dalam. Gadis kecil itu mengusap perutnya yang kekenyangan dan Jongdae yakin sebentar lagi Mindae akan jatuh tertidur.
"Hey, apa temanmu memberi diskon untuk pemindahan barang kita?" gumam Minseok.
Ia kini menarik Mindae ke pelukannya, membiarkan gadis kecil itu bersandar di dadanya.
Jongdae tergelak. "Ya. Ia hampir tidak memberikannya karena akhir-akhir ini susasana hatinya sedang mengerikan."
"Oh, kenapa?" tanya Minseok heran.
Mereka menggunakan jasa pindah rumah dari salah satu rekan Jongdae di tempat kerjanya dulu. Keduanya masih berhubungan baik walaupun sekarang rekannya itu telah mendirikan perusahaan jasa pindah rumah sendiri.
"Mantan kekasihnya dari Kanada kembali." Tukas Jongdae. "Dia tidak berhenti mengeluh mengenai itu."
Minseok ingin mengetahui lebih lanjut, namun Mindae tiba-tiba merengek meminta untuk tidur di dalam mobil. Ia mendesah panjang, kemudian menggendong Mindae. Mereka menhampiri Chanyeol sejenak untuk berpamitan, sekaligus mengundang lelaki itu agar datang ke Housewarming Party mereka nantinya.
"Oh, katakan pada kekasihmu untuk membawa teman. Dan katakan pada temannya untuk membawa teman yang lain." Jongdae menambahkan sebelum mereka keluar dari parlour. "The more, the merrier." Tutupnya riang sambil merangkul Minseok menuju ke mobil mereka.
.
—oOo—
.
Kening Minseok mengernyit menangkap sebuah sticky notes yang tertempel di depan pintu rumah baru mereka. Ada gambar panda dengan telinga yang terlalu besar di bawah tulisan tangan yang terlihat digoreskan terburu-buru;
.
Go, go, make a baby! Oh, I forgot you can't…
I mean, go, go, get more baby!
Aku menyiapkan sedikit hadiah untukmu di dalam, Chenchen ;)
.
Jongdae tertawa renyah. Ia segera membuka pintu rumahnya perlahan, sambil menarik nafas dalam dan memandang ke arah Minseok.
Begitu pintu itu dibuka, keduanya tercengang. Tidak hanya barang mereka telah disusun rapi dengan tatanan yang apik, namun juga karena terdapat lampu led yang berbentuk seperti jaring-jaring kelambu menjalar di dinding ruang tengah, melingkari berbagi foto keluarga mereka hingga menimbulkan kesan temaram yang menghangatkan.
Minseok melepaskan desah kagumnya. Jongdae melingkarkan tangannya ke pinggang Minseok, kemudian menempelkan pelipisnya ke kepala lelaki itu. Mindae yang masih berada di dekapan Minseok tiba-tiba mengigau hingga keduanya tertawa.
Mereka memutuskan untuk merebahkan anaknya di kamar agar gadis kecil itu bisa tidur lebih nyenyak. Kejutan kedua menyambut mereka di ruang tidur Mindae. Terdapat boneka panda besar yang gemuk diletakkan di atas ranjang Mindae.
"Kenapa temanmu ini baik sekali?" Minseok berubah penasaran. Ia melepas sepatu Mindae juga ikat rambutnya sebelum menarik selimut sampai ke atas dada anak itu.
Keduanya berjalan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun saat menutup pintu kamar Mindae.
"Mungkin karena aku satu-satunya orang yang setia mendengarkan keluh kesahnya." Jawab Jongdae santai. Ia menarik Minseok ke kamar utama dengan pandangan yang penuh teka-teki. "Atau mungkin," lanjutnya sambil tersenyum. "karena ia tahu ini adalah hari jadi pernikahan kita yang ketiga."
Minseok membelalak. Ia buru-buru melirik arlojinya dan segera mendesah oh, Tuhan, kenapa aku bisa melupakannya ketika melihat tanggal yang tertera di arloji itu.
Namun Jongdae tidak menampakkan kemarahan atau rasa kecewa sedikitpun. Lelaki itu justru membawa Minseok ke pelukannya, membiarkan hening menyalurkan bagaimana berartinya mereka untuk satu sama lain.
"We have a home." Minseok berbisik pelan sambil mengedarkan pandangannya ke luar ruangan.
"And we have a family." Lanjut Jongdae—tersenyum, mengetahui hidupnya mendekati kata lengkap.
Ada rasa syukur merebak dari dalam dada mereka. Keduanya memilih untuk saling bersitatap, karena terkadang mata lebih banyak bicara dari kata. Jongdae melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Minseok, menarik senyum di sudut bibir lelaki itu sebelum mendekat dan mengunci senyumnya dengan bibirnya.
"Happy 3rd anniversary of being Mr. Kim." Desah Jongdae lirih dengan wajah yang masih belum berjarak.
Minseok tersenyum, kemudian mengalungkan lengannya ke leher Jongdae. "Right back at you, Captain Kim."
Di hari pertamanya, kediaman Kim dipenuhi dengan banyak tawa serta kata cinta dari keduanya.
END OF CHAPTER THREE
.
Author's Note :
Setelah selesai bikin chapter ini, aku menyadari bahwa... bikin marriage life itu syusah (mungkin karena belum ngalamin sendiri? hehehe)
ENIWEIIII, thankyou buat semua review-nya, kalian ih bikin aku seneng ih sama review lucu-lucuan kalian. Hehehe. Kali ini akhirnya ketemu sama beberapa ChanBaek shipper. (Hello! *bows*)
Jangan lupa untuk kritik, saran serta review-nya buat chapter ini :)) (please, excuse my crappy imagination about the domestic thing *cries*)
I love you all!
P.S : Guess who's the next pairing! :D
XOXO
—Red Sherry—
