DISCLAIMER

Rumor mengatakan cerita ini dibuat santhy agatha jauh sebelum sleep with devil tapi ada juga yang mengatakan santhy agatha terinspirasi dari karya ini.

Saya bukan author, saya belum bisa disebut penulis hanya pingin share dan remake cerita ini dalam bentuk pair Sasunaru

WARNING

Yaoi, ManxBoy, Typo, Rape, Interseksual, Hardcore, Sadist, Psyco, Violence, Rude and vulgar language, OOC, Mpreg, Age Gap

Cerita ini akan sedikit berbeda karena karakter Naruto disini akan saya buat sebagai seorang intersex / berkelamin ganda untuk kebutuhan alur cerita. Seperti dalam doujin yang saya baca intersex dalam cerita ini yaitu naruto memiliki vagina dan penis dan bisa dibuahi.

Tidak usah caper, tidak suka tidak usah baca

Chapter 4: Set me Free

Aku sudah tidak tahu ini sudah berapa jam sejak Sasuke menyetubuhiku dengan brutal. Bunyi tamparan bokongku dan selangkangan Sasuke menggema dalam kamar ini. Dicermin almari kulihat seorang pemuda mungil yang menungging dan lelaki dewasa yang sedang menggempurnya dari belakang diatas ranjang.

"Annh..su-sudah kumohon..hiks hiks"

Dan setelah permohonan yang entah keberapa kalinya dan sedikit tangisan Sasuke akhirnya berhenti setelah orgasme sebanyak tiga kali dan jangan tanyakan berapa kali aku orgasme hingga membuatku bahkan tidak bisa membalik badanku sendiri dari posisi menungging.

Setelah membalik badan dan menciumku paksa Sasuke pergi dengan seringai mengejeknya seperti biasa, dan itu menjengkelkan setengah mati. Dalam beberapa hari ini Sasuke terus melatih mulut dan anusku selama aku mens. Tampon besar yang mengganjal dalam vaginaku membuatku merasa seperti sedang disandwich bila penis Sasuke menyodok anusku. Dia menyodomiku dengan berbagai gaya, berdiri, duduk, nungging, tengkurap sampai berbaring miring. Meski jarang memakai pelumas, lama-lama aku terbiasa juga dan selalu menikmati orgasme. Sebenarnya disetubuhi lewat vaginaku akan lebih aman karena vagina akan mengeluarkan cairan alami yang mengurangi rasa sakitku ketika digenjot Sasuke. Tapi sensasi ketika penis besar sasuke menyodok anusku dan mengenai prostatku tanpa henti membuatku hilang akal.

Tapi hal ini bukan berarti aku rela digaulinya begitu saja. Aku selalu melawan dengan keras bila dia mendekat. Aku benci sekali melihat gayanya yang dingin dan sok berkuasa seakan-akan aku ini adalah properti miliknya yang bisa dipermainkan begitu saja. Aku tahu, seharusnya aku memakai cara lain selain kekerasan karena perlawananku hanya akan membuat birahi Sasuke semakin melonjak tinggi. Dengan penuh semangat dia memiting dan meringkusku sebelum menyetubuhiku dengan kasar. Bisa dibilang perkelahian kami adalah foreplay.

Tidak cukup dengan mengajariku lewat praktek, Sasuke juga menjejalkan teori bercinta (ralat: yang kami lakukan sama sekali tidak pantas disebut bercinta karena tidak ada setitik pun molekul cinta di sana) lewat majalah, buku dan film. Kamarku yang tadinya kosong, hanya berisi ranjang besar dan lemari mendadak menjadi penuh setelah dua rak buku memenuhi dua sisi tembok hingga ke langit-langit. Ditambah lagi sebuah televisi LED berukuran 42 inchi. Rak itu dipenuhi berbagai buku teori dari kamasutra hingga novel-novel seks dan majalah pornografi dari dalam dan luar negeri. Tapi yang lebih gila, tv besar itu terus menyiarkan film-film porno tanpa henti. Bahkan saat jam tidur pun televisi itu terus menyala hanya suaranya yang mendadak di-mute. Aku Tidak bisa menyalakan dan mematikan tv itu sesuka hatiku karena dikontrol dari luar.

Aku seperti sedang dicuci otak. Yang ada di kepalaku selalu hanya seks. Sepraiku lembab karena selangkanganku terus-terusan becek. Aku tidak peduli lagi dengan kamera-kamera pengintai yang ada. Aku ikut menggeliat dan mengerang seperti bintang porno yang kutonton. Sasuke sendiri juga senang sekali menggumuliku di depan tv. Dia sering memaksaku menceritakan apa yang sedang ditayangkan di layar LED itu dengan detail. Wajahku yang memerah sampai ketelinga dan suaraku yang terputus-putus karena kelelahan membuatnya makin gila menggenjotku. Saat orgasme, aku mengerang dan mendesah bersaing dengan bintang porno yang sedang kami tonton.

Akhirnya aku capek. Mataku perih karena terus menonton dan membaca. Tenggorokanku kering karena terus mengerang dan berteriak. Badanku pegal-pegal karena terus menggeliat dan mengejang. Aku jenuh dan mulai putus asa. Apa aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan cara seperti ini?

Kuputuskan malam ini aku harus keluar dari kamar mesum ini. Satu-satunya tempat yang terpikirkan olehku adalah kamar mandi. Baru lima belas menit duduk di atas kloset, mendadak lampu kamar mandi mati. Walaupun sempat menjerit kaget, tapi aku tetap diam di tempat. Aku tidak tahu apa lampu kamar mandi ini benar-benar mati atau dimatikan dari luar karena lampu kamar tidur masih menyala.

Sinar lampu kamar yang menerobos masuk lewat lubang ventilasi di atas pintu membuat kamar mandi ini tidak gelap gulita. Tapi yang menarik perhatianku ventilasi di dinding atas dekat langit-langit. Kupandangi cahaya bulan yang lembut dengan mata berkaca-kaca. Bisa jadi yang kulihat bukan sinar bulan melainkan sinar lampu teras. Aku menghela nafas panjang. Belum pernah aku merasa begitu kesepian. Aku juga baru sadar kalau sudah dua bulan lebih aku tidak melihat matahari dan bulan. Yang kulakukan tidak ada bedanya dengan misi bunuh diri yang gagal. Aku tercenung, sampai kapan aku dikurung seperti binatang peliharaan? Haruskah aku bunuh diri?

Kudengar pintu kamar terbuka, tapi aku bergeming. kurasa yang datang Jugoo atau Sasuke. Nah, benar sekali. Jugoo muncul didahului sinar senter. Aku menggeleng saat dia menarik lenganku kembali ke kamar.

"Jugoo, kumohon. Aku mau di sini saja."

Sinar senter menerangi wajahku. Kurasa dia heran mendengarku bicara sopan padanya tanpa perlawanan sedikit pun. Apalagi wajahku lesu dan suaraku serak. Dia melepas cekalan tangannya.

"Aku mau sendirian."

Tapi dia tidak juga pergi meninggalkanku meskipun aku terus memohon dengan suara bergetar.

"Paling tidak, tolong tutup pintu dan matikan senternya," ujarku menyerah.

Tanpa banyak tanya, dia menuruti permintaanku. Entah berapa lama kami saling diam dalam gelap. Yang jelas aku tersiksa sekali. Sungguh Tidak enak menangis dalam gelap sambil ditemani orang yang kita benci. Aku sampai harus bernapas lewat mulut agar Jugoo tidak mendengar bunyi hembusan nafas berat dari hidungku.

"Saya juga pernah menangis sendirian dalam gelap seperti ini," mendadak dia berbicara. "Waktu saya tidak menjadi laki-laki lagi." Gumamnya.

Tangisku sontak berhenti. Hatiku miris mendengar cerita Jugoo tentang bagaimana dia kehilangan penisnya. Tujuh tahun yang lalu seorang pengusaha mabuk mengamuk di Sanctuary gara-gara pelacur incarannya direbut Sasuke. Pengusaha itu nekat menikam perut Sasuke. Tapi Jugoo dengan gesit menjadikan dirinya tameng dan karena tubuhnya lebih tinggi dari majikannya maka pisau itu menikam penisnya dengan sukses.

"Apa Tuan tahu, kenapa tidak ada pembantu wanita di rumah ini?" ujarnya tiba-tiba.

Aku terbengong mendengar pertanyaan itu. Mengapa tema pembicaraan meloncat jauh? Apa dia merasa tidak enak sendiri karena sudah menceritakan nasib tragisnya? Tapi benar juga. Aku baru sadar kalau yang bertugas membersihkan kamar tidur dan kamar mandiku semuanya lelaki. Setiap dua hari sekali biasanya dua orang dari mereka membersihkan kamar saat aku mandi. Dan saat kamar mandi dibersihkan, Jugoo berada dalam kamar untuk menjagaku.

"Karena semua pembantu wanita sudah dihabisi Tuan Sai," ujarnya menjawab pertanyaannya sendiri.

"Dihabisi?" Kurasakan suaraku bergetar.

"Ya."

Aku tidak tahu maksud dihabisi itu diperkosa dan disiksa habis-habisan atau dibunuh dan dimakan sampai habis. Aku tidak berani bertanya lebih lanjut karena bagiku semuanya mengerikan. Aku tidak bergidik lagi, tetapi gemetar ketakutan.

"Empat tahun yang lalu, Tsunade-san yang mengasuh Tuan Sai dan Uchiha-sama sejak kecil juga dihabisi sampai Uchiha-sama marah sekali. Tidak ada yang bisa mengendalikan dia sejak Tuan dan Nyonya besar meninggal dalam kecelakaan pesawat enam tahun lalu. Dia hanya takut kepada Uchiha-sama, tapi Uchiha-sama juga tidak bisa mengawasinya terus menerus. Jadi sekarang walaupun Tuan adalah pria akan tetapi sekarang Tuan adalah satu-satunya pria paling manis di rumah ini, Tuan Sai pasti akan mengincar Tuan Kyubi karena rasa penasarannya yang besar dengan Tuan Kyubi, apalagi dua pelacur yang dibawa Tuan Sai sudah dikembalikan ke club kemarin malam. Yang satu masih pingsan dan yang satu lagi sepertinya berubah gila. Jadi Tuan seharusnya bersyukur karena bukan Tuan Sai yang membeli Tuan Kyubi, tapi Uchiha-sama. Kalau tidak, Tuan mungkin sudah 'lewat'."

Astaga! Orang berwajah konyol itu ternyata tidak kalah mengerikannya dari Hannibal Lecter dan semua psikopat di film-film Hollywood lainnya.

"Kenapa tidak ada yang lapor ke polisi?" Tanyaku ketakutan.

Jugoo mendengus sinis.

"Memangnya polisi tidak ada pekerjaan sampai mau mengurusi pelacur-pelacur? Lagipula Uchiha-sama sudah berjanji di depan peti mati orangtuanya, kalau dia akan menjaga Tuan Sai sampai mati. Tidak mungkin Uchiha-sama menyerahkan saudaranya kepada polisi."

Saat itu juga niatku untuk kabur kembali muncul. Aku tidak mau tinggal seatap dengan pembunuh berantai.

"Tuan tidak perlu khawatir," ujar Jugoo seperti bisa membaca pikiranku. "Uchiha-sama sudah memerintahkan saya menjaga Tuan dengan ketat. Pengawal Tuan Sai tidak ada yang berani mencari masalah dengan saya. Tuan Sai sendiri juga segan kepada saya."

Mendadak pintu kamar mandi terbuka dan siluet tubuh tinggi kekar membayang di lantai kamar mandi. Aku buru-buru mengelap wajahku yang basah. Aku tidak mau Sasuke melihatku menangis.

"Mesra sekali. Berbicara dalam gelap-gelapan seperti ini," tukas Sasuke sinis.

Lalu dia mendekati Jugoo dan menamparnya dengan keras. Jugoo diam saja, sepertinya tamparan tadi hanya sengatan nyamuk di pipinya. Aku sendiri meraung marah.

"Apa-apaan kau ini? Dia tidak salah brengsek!" Sengitku.

"Oh, jadi kau membelanya? Memangnya dia sudah berbuat apa padamu? Mengoralmu? Karena dia tidak mungkin menggagahimu."

PLAK! Kutampar Sasuke sekeras mungkin. Dan seperti biasa dia berusaha meringkusku. Tapi karena kondisi gelap, dia sedikit mengalami kesulitan. Kami bergumul dan saling mendorong. BRAK! Botol-botol yang ada di atas wastafel terguling setelah tangan kami berdua tanpa sengaja menyenggolnya. Jugoo tetap diam mematung meskipun kakinya terinjak dan perutnya tersikut olehku. Telinga gorila itu seakan tuli total, Tidak mendengar pertengkaran kami berdua mengenai dirinya.

"Dasar bajingan tidak tahu diri! Kau berhutang nyawa padanya, tahu!" sergahku sembari menonjok dada Sasuke.

"Sok tahu sekali! Dia yang berhutang nyawa padaku! Aku yang mengeluarkan dia dari penjara dan membiayai operasi ibunya!" balas Sasuke sambil menyergap kedua lenganku.

"Tapi tidak seharusnya kau menghinanya begitu!" Pekikku.

"Dia sendiri hanya diam, kenapa jadi kau yang marah? Huh, wajahmu basah. Kau habis menangis?" tukasnya mengejek.

Kuludahi wajahnya namun dia malah menciumku dengan paksa hingga aku gelagapan. Aku masih sulit bernapas biarpun Sasuke sudah melepaskan kepalaku. Kedua lengannya yang kekar membelit tubuhku dengan kuat bak ular anaconda, seakan-akan ingin meremukkan tulang rusukku.

"Apa yang kau tangisi hah?"

"Aah… aku… tidak… bi…sa… na…fas…," sahutku tersenggal sambil meronta.

"Apa?!" bentaknya sambil mempererat pelukannya.

Kupukuli dada dan punggungnya. Dia membentak lagi. Kali ini persis di depan telingaku.

"Aa…ku… i…ngin… ke…lu…ar…"

"Apa? Kau ingin orgasme? Kau ini benar-benar Hypersex ya!"

Aku hampir mati kesal mendengarnya hinaannya.

"Bu…kan…i..tu…bo-bodoh…"

Sasuke terkekeh geli mendengarku masih bisa memaki.

"Oh, kau ingin keluar dari kamar ini? Bicara seperti itu saja susah. Ayo, kita keluar."

Aku langsung merosot jatuh begitu dia melepaskan pelukannya. lututku pasti memar lagi. Belum sempat berdiri dengan benar, dia sudah menyeretku keluar. Langkahnya yang panjang membuatku pontang-panting mengikutinya. Kaos kebesaranku berkibar memperlihatkan selangkanganku yang telanjang. Tapi seisi rumah yang kebetulan melihat kami tampak cuek. Sepertinya mereka sudah terbiasa melihat kegilaan majikan mereka. Jugoo terus mengikuti kami seperti bayang-bayang.

Sasuke membawaku keluar bangunan mansion yang luas dan bergaya minimalis menuju kolam renang di halaman belakang. Aku mulai ketakutan. Aku tidak bisa berenang. Tapi dia malah menyeretku menaiki tangga menara papan loncat setinggi tiga meter. Kakiku berusaha mengerem namun hasilnya pergelangan tanganku sakit karena dia terus menarik paksa dengan kasar. Jugoo juga membantu mendorongku maju.

Akhirnya kami sampai juga di puncak menara papan loncat. Jugoo turun meninggalkan kami berdua. Sasuke menatapku sejenak dengan dingin, sedingin angin malam yang membuatku menggigil sebelum mengalihkan pandangannya ke langit. Di langit, bulan purnama sedang berlayar di antara gumpalan-gumpalan awan tipis.

"Aku bisa membunuhmu kalau aku mau." Katanya datar.

Aku meliriknya. Kalimat itu diucapkannya dengan ringan seperti sedang berkata 'Aku suka makan es krim.'.

"Ya, aku tahu," sahutku dengan gaya acuh.

"Kau tidak takut kalau aku mencekikmu dan melempar mayatmu ke bawah? Aku juga bisa menggantungmu di sini supaya kau digigiti kelelawar penghisap darah. Atau mengikatmu di sini selama seminggu tanpa diberi makan-minum supaya kau mati dehidrasi."

Sakit. Dia memang sakit jiwa.

"Brengsek, biarpun kau makhluk kebal hukum apa kau tidak takut terhadap dosa? Aku heran, cara orang-tuamu mendidikmu? Kenapa anak-anaknya semuanya gila? Jangan-jangan mereka juga gila."

Seharusnya aku diam atau memohon agar tidak dibunuh, tapi darah panasku bergolak dan lidahku yang liar susah dikendalikan. Padahal aku takut mati.

Wajah Sasuke sontak membeku begitu mendengarku menghina orang-Tuanya. Aku tahu, kedua orang-Tuanya tewas dalam kecelakaan pesawat di Kanada tujuh tahun yang lalu. Mendadak dia mendorongku dengan kasar. Aku terhuyung mundur ke arah ujung papan yang menjulur ke kolam. Dia mendorongku lagi dan aku terjatuh terduduk. Buru-buru aku memegangi papan kuat-kuat begitu melihat air kolam yang jernih kebiruan.

"Kelihatannya kau takut ketinggian. Hmm… bukan. Kalau kau takut ketinggian, kau pasti sudah merangkak dari tadi. Kau pasti tidak bisa berenang. Betul kan?"

Wajahku memucat. Buku-buku jariku memutih saking kuatnya mencengkeram pinggir papan. Bukannya mendorong atau menendangku hingga tercebur ke bawah, Sasuke malah asyik memandangi kakiku yang mengkangkang dan memamerkan selangkanganku yang telanjang. Aku bisa melihat bagian depan celana pendeknya mulai menggembung. Astaga! Apa dia ingin menggagahiku di atas sini?

Dengan santai Sasuke membuka kaosnya sambil mempermainkanku. Sesekali kakinya menendangku. Kulancarkan tendangan balasan sambil menggigit bibir. Aku tidak mau dia tertawa senang mendengar jeritan ketakutanku. Karena tidak menerima perlawanan maksimal, dengan mudah dia menindihku. Aku hanya bisa melawan dengan satu tangan, tapi setelah menyadari usahaku hanya membuat tubuhku bergeser makin ke ujung papan, aku menyerah. Setengah kepalaku sudah tergantung bebas, membuat kepalaku sedikit pening.

SRET. Dengan giginya, Sasuke merobek kaosku. Dengan buas, gigi, lidah dan jari-jarinya menjelajahi lekuk tubuhku, membuatku mengerang dan terlonjak tertahan.

"Aaaannh!" erangku keras saat penisnya menusuk masuk lubang anusku dan tepat mengenai prostatnya.

Aku mengutuki diriku. Bagaimana bisa aku mendesah nikmat di saat kritis seperti ini?

Sasuke menggenjotku dengan mantap. Setiap genjotan, membuat tubuhku maju dan akhirnya kepalaku terayun bebas dari pinggir papan. Déjà vu. Mengingatkanku saat dia memerawaniku dengan paksa di hadapan puluhan orang di Sanctuary. Tapi tergantung dari atas meja dan papan loncat setinggi tiga meter sangat berbeda. Kalau dulu saja aku sudah pusing, sekarang aku mual.

Kubelitkan kakiku pada pinggang Sasuke erat-erat. Kalau aku harus jatuh paling tidak, aku tidak sendirian. Namun akibatnya, lubang anusku makin terbuka lebar dan sodokan penis Sasuke menggesek prostatku dengan telak. Membuat penisku mengeras tanpa disentuh.

"Nghhh… Nghhh… Aaaah….Aaannh! Emhhh!!"

Gila! Desahan orgasmeku yang super lantang di malam sepi ini pasti terdengar seisi rumah. Mungkin tetangga sebelah juga ikut mendengar. Astaga! Jangan-jangan mereka semua menonton kami.

Sasuke berhenti bergerak. Disibakkannya poni yang menutupi wajahku. Aku benci sekali melihat sorot matanya yang mengejek. Sudah telanjur aku menjerit, tapi sudahlah mungkin saja tadi orgasmeku yang terakhir dalam hidupku.

"Bagaimana orang-tuamu mendidikmu? Kalau kau bisa delapan kali sehari masturbasi. Apalagi mereka. Jangan-jangan kerja mereka juga cuma sex setiap hari."

Aku marah sekali. Kuludahi wajahnya.

"Ya, aku tahu pasti mereka juga sering meludah. Pasti mereka tidak berpendidikan, kampungan," ujar Sasuke mengusap wajahnya lalu melepas kedua tanganku dari papan serta merentangkannya di udara sehingga aku merasa gamang.

Biarpun begitu aku melawan dengan sekuat tenaga, tetapi cekalan tangannya di pergelangan tanganku kuat sekali. Apalagi dengan perlahan dia kembali menggoyang pinggulnya. Tanpa sadar aku meremas penisnya yang kembali menggesek telak prostatku. Aku baru sadar, kalau dia belum orgasme.

"Hmmph… remasan anusmu benar-benar luar biasa, Sayang…"

Sasuke tidak melanjutkan kata-katanya dan memilih mendecak sambil menggeleng dengan tampang sok sedih.

"Seperti apa orang-tuamu? Kalau mereka baik, kenapa kau bisa terdampar di tempat seperti Sanctuary itu? Kau kan bisa memilih pekerjaan di tempat yang lebih baik seperti jadi kasir di minimarket. Danzo bilang, kalau kau seorang yatim piatu, tapi apakah kau sama sekali tidak mempunyai keluarga? Mengapa sampai sekarang tidak ada yang melaporkan kehilanganmu ke polisi? Hey, jangan diam saja. Jawab!"

Sasuke memberondongkan pertanyaan sembari menggenjot cepat lalu berhenti. Terus begitu. Beberapa kali aku sudah nyaris orgasme untuk kedua kalinya, tapi gagal karena dia mendadak berhenti bergerak.

"Kenapa kau jadi seperti ingin menangis lagi. Tumben sekali malam ini kau cengeng. Ada apa?"

"Kumohon, jangan seperti ini." Bisikku lemah.

"Seperti apa?" Sasuke tersenyum mengejek.

Aku terdiam. Berusaha mengusir keinginan gila dari otakku. Apa jadinya kalau aku minta dia menggenjotku dengan keras agar aku bisa orgasme? Tapi Sasuke terus mempermainkanku dengan genjotan dan kata-kata menyakitkan.

"Kumohon…"

Aku benci sekali harus memohon pada bajingan jahanam sialan ini, tapi aku lebih benci mendengar sahutannya yang bernada polos.

"Aku tidak mengerti kau meminta apa. Sejak tadi kau bilang kumohon, kumohon apa?katakan dengan jelas."

"A-aku mau… keluar…" Cicitku lirih. Seperti naraka rasanya penisku sakit sekali karena tertahan orgasme sedari tadi.

"Keluar ke mana lagi? Sekarang kan kita sudah di luar." Seringai Sasuke melebar.

Tidak sabar dengan jawaban yang menyiksa, aku memilih menggoyang pantatku. Tapi Sasuke menggencet tubuhku sehingga aku tidak bisa bergerak.

"Kau ternyata suka bermain curang. Jawab dulu, seperti apa orang-tuamu. Kalau jawabannya bagus, aku tidak suka. Dan kalau aku tidak suka, akan kutinggalkan kau sendirian di sini bersama Jugoo. Kau lebih suka dia daripada aku kan? Tapi aku tidak yakin penis cacat itu bisa membuat mu melonjak kesenangan seperti tadi."

Kugigit bibirku yang bergetar menahan marah dan tangis.

"Otou-sama pemain wanita yang brengsek dan Okaa-sama tukang mengeluh!" seruku tanpa pikir panjang.

Gelombang penyesalan langsung menerpaku. Anak macam apa aku ini? Lebih mementingkan kepuasan diri daripada harga diri. Aku benar-benar anak durhaka, tidak tahu diuntung.

Sasuke terkekeh puas lalu menyodokku dengan kuat. Tubuhku makin bergeser maju. Aku menjerit-jerit. Aku sendiri tidak bisa membedakan antara jeritan kepuasan dan ketakutan. Semuanya bercampur jadi satu. Mendadak Sasuke mencabut penisnya, melepaskan belitan kakiku dan mendorongku ke bawah.

Tubuhku tergantung terbalik. Yang menahan berat badanku hanyalah cengkeraman tangan Sasuke pada kedua pergelangan kakiku. Kepalaku pusing karena darah mengumpul di kepala.

"Apa permohonan terakhirmu?"

Aku berusaha menenangkan diri dan berujar segagah mungkin,

"Terima kasih sudah membebaskanku."

Lalu dia melepas kakiku. Biarpun kepalaku di bawah, rasanya jantungku tenggelam ke dasar perut. Aku tidak menjerit. Bukan karena gengsi, tapi karena seluruh syarafku mati rasa. Aku hanya bisa memandangi bulan yang semakin menjauh.

BYURRR!!

Kolam ini ternyata dalam juga. Kalau dalamnya cuma satu setengah meter, kepalaku pasti sudah pecah terbentur dasar kolam. Aku langsung panik, menggapai-gapai ke sana-kemari. Tubuhku seperti kapal karam, dimasuki air dari berbagai lubang. Hidung, mulut, telinga semuanya kebanjiran air.

BYURR!!

Ada orang lain yang ikut terjun ke kolam. Untuk menyelamatkanku atau menenggelamkanku? Mungkin Sasuke melihat kalau aku masih hidup dan menyuruh Jugoo atau anak buahnya yang lain untuk menahanku agar tetap di sini. Namun ternyata orang ini menarik pinggangku dan menyeret tubuhku ke atas.

UWAH! Leganya! Akhirnya aku tidak dikelilingi air lagi. Aku megap-megap sekaligus terbatuk-batuk sampai dadaku sakit. Air keluar dari mulut dan hidungku. Aku menurut saja saat dibawa dan disandarkan ke tepi kolam.

Aku tidak tahu berapa lama aku mempertaruhkan nyawaku di dasar kolam, yang jelas aku lelah sekali. Kupejamkan mataku sambil mengatur napas. Ya ampun, aku belum berterima kasih pada penolongku. Siapa…

Kurasakan kedua kakiku dibuka dan HEK! UGH! Ada yang menghujam anusku!

Aku langsung membuka mata dan …. Astaga! Sasuke sudah menggenjotku lagi! Jadi dia yang menyelamatkan nyawaku? Dia tertawa geli melihatku kaget dan terus menghentak-hentakkan pinggulnya.

"Ti-tidak… Aku… nnnhh…tidak… m-mau…," tolakku sambil mendorongnya menjauh.

Tapi perlawananku sia-sia karena tenagaku sudah terkuras di dasar kolam. Akhirnya aku hanya bisa pasrah, dipepet di pinggir kolam sembari disetubuhi dengan paksa. Air kolam beriak di sekitar kami menghasilkan bunyi kecipak.

Sasuke melumat bibirku, menghisap leherku, memilin putingku dan meremas pantatku dengan gemas. Aku mulai mengerang, awalnya pelan makin lama makin keras. Lama-lama kedua lenganku yang tadinya terkulai kini memeluk dan mencakar punggung Sasuke.

"Aaahh… Emmhh… nnyaaaaahh…. Aaannh!!!"

Aku orgasme dengan kuat tanpa menyentuh penisku. Pada saat aku masih menggelinjang dan menjerit keras, Sasuke menggeram dan menekan pantatnya kuat-kuat. Penisnya menumbuk dinding terdalam anusku dan tidak seperti biasanya kali ini kurasakan semburan-semburan hangat di dalam. Aku yang kelelahan langsung terkulai lemas. Yang kulihat hanya gelap. Aku tidak peduli lagi apakah setelahnya dia benar-benar akan membunuhku atau tidak. Karena aku sudah merasakan orgasme yang luar biasa nikmat.

TBC