Disclaimer : NARUTO milik Masashi Kishimoto-sensei dan saya hanya pinjam saja.
TADAIMA,SAKURA
"NATSU" (CHAPTER 3)
Samar-samar ia merasakan hangatnya sinar mentari pagi di wajahnya, membuatnya mengernyitkan sedikit wajahnya. Perlahan-lahan ia membuka matanya, menampilkan iris berwarna hijau cerah miliknya. Sebelah tangannya ia letakkan di wajahnya, mencoba menghalau silau yang ditimbulkan dari matahari pagi yang menembus gorden di kamarnya. Sakura mengerang. Sudah pagi. Saatnya melakukan aktifitas kembali. Sekuat tenaga ia menyeret tubuhnya untuk keluar dari empuk dan nyamannya tempat tidur. Bukannya ia terluka atau badannya terasa sakit, tapi entah kenapa hari ini ia merasa sangat malas untuk beraktifitas. Tetapi kewajibannya di rumah sakit tak bisa menunggu. Sakura perlahan bangkit dari tempat tidurnya yang hangat dan nyaman, kemudian ia merenggangkan otot-otot tubuhnya. Kedua bola matanya yang sayu dan mengantuk kemudian bersinar cerah kembali dalam sekejap.
"Yosh! Hari inipun harus semangat! Shannarooo!" teriaknya sambil mengepalkan tinjunya ke atas. Sakura kemudian bersenandung pelan sambil berjalan menuju kamar mandi untuk memulai aktivitasnya hari ini. Tanpa ia sadari, di luar sana tepatnya di atas sebuah pohon tak jauh dari apartemen yang ditinggalinya, seorang pria menatap ke arah jendela kamarnya sejak semalam.
...
"Arrghhhh! Ini benar-benar membosankan! Apa tak ada tugas lain selain ini, Kakashi-sensei? Kalau begini terus, aku bisa mati kebosanan,dattebayou!" omel Naruto pada mantan senseinya itu. Memag, saat ini Naruto diminta oleh mantan senseinya, Kakashi-sensei, untuk membantu tugas Hokage-nya. Tugas yang melibatkan kertas, pena, dan stempel. Sungguh membosankan dan Naruto tak tahan lagi setelah hampir 2 jam lamanya bertarung dengan barang-barang tersebut. Sedangkan yang diomeli hanya terkekeh-kekeh dengan matanya yang menatap halaman demi halaman sebuah buku bersampul orange yang ada di tangannya. Naruto yang melihat itu mendelik sebal.
"Sensei! Kenapa kau malah membaca buku mesum itu sedangkan aku mengerjakan tugas-tugasmu! Oi! Tidak adil-ttebayou!" Naruto mengomel kesal. Sang Rokudaime kemudian melirik anak didiknya itu, tetapi buku orange itu tak lepas dari tangannya.
"Yah, dengar Naruto. Aku memintamu melakukan tugas-tugas itu juga sebagai latihanmu sebagai Hokage nan-" tetapi kata-katanya tak didengar lagi oleh anak didiknya itu karena Naruto telah melarikan diri. Kakashi menghela napas dan mendesah. Ditutupnya buku yang tengah dibacanya sedari tadi.
"Hahhh...sekarang aku harus menyelesaikan tugas-tugas ini sendiri jadinya." Gumamnya sambil mengambil pena di depannya yang terabaikan sejak tadi.
Naruto melompati atap demi atap rumah-rumah penduduk desa Konoha setelah melarikan diri dari kantor Kakashi di gedung Hokage tadi. Dia bersungut-sungut sebal. Pagi tadi ketika bangun tidur, ia dipanggil oleh Kakashi ke kantor Hokage karena ada permasalahan penting yang ingin dibicarakan oleh mantan gurunya di kelompok tujuh tersebut. Dia yang sudah membayangkan akan diberi misi yang sulit dan memacu adrenalin kemudian ingin membenturkan dahinya ke dinding karena ternyata Rokudaime Hokage itu ternyata ingin agar Naruto membantu tugasnya dengan dalih sebagai pelatihan kelak kalau Naruto dilantik sebagai penggantinya. Naruto dengan setengah malas membantu Kakashi mengerjakan tugas-tugasnya, akan tetapi dia meledak karena mantan sensei-nya itu malah membaca buku bersampul orange favoritnya sedangkan dia berkutat dengan kertas-kertas yang membuat kepalanya pusing.
"Huh. Dasar Kakashi-sensei. Bilang saja ia malas mengerjakan tugas-tugasnya. Pakai berdalih agar aku nanti terbiasa dengan tugas-tugas itu nanti dan blah blah." Naruto masih mengomel sambil terus melompati atap-atap rumah. Kemudian ia mendarat dan berjalan pelan. Tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya dan ia melihat ke kanan kiri desa. Beberapa penduduk desa yang melihatnya menyapanya dengan ramah atau tersenyum padanya. Memang, sekarang tak ada lagi orang yang membencinya karena dia adalah seorang Jinchuuriki dari Kyuubi. Sekarang dia adalah Naruto Uzumaki, penduduk desa Konoha yang telah menyelamatkan desa dari bahaya besar beberapa waktu yang lalu. Penduduk pun tak lagi takut pada Kurama atau Kyuubi yang ada dalam Naruto karena Kyuubi juga ikut menyelamatkan desa bersama Naruto. Langkahnya terhenti tiba-tiba.
"Sekarang, apa yang harus aku lakukan ya? Hinata-chan tadi malam berkata kalau dia akan mengunjungi orang tuanya. Apa aku harus menyusul ke sana? Ck, ini gara-gara Kakashi-sensei. Hmph, apa mengunjungi Teme saja ya. Hmmmm, boleh juga. Sudah lama tidak berkunjung ke tempatnya. Nishishishi, akan kugoda dia tentang Sakura-chan." Dan Naruto-pun kemudian berlari ke arah apartemen yang ditinggali Sasuke berada.
Sementara itu, Sasuke sedang melatih fisiknya di balkon apartemennya. Apartemen lama yang pernah ditinggalinya saat dia masih Genin dulu. Sasuke memilih untuk tidak kembali ke komplek Uchiha, setidaknya belum. Belum saatnya. Namun dia pernah sekali mengunjungi tempat itu dan sedikit membersihkannya. Dia melakukan push-up dengan satu tangan. Hal ini tidak sulit untuknya karena selama dalam perjalanan pun, dia terus berlatih. Baik melatih fisik ataupun jurusnya. Tubuh bagian atasnya yang tidak terbalut sehelai benangpun telah banjir keringat. Peluh juga menetes dari dahinya. Rambutnya yang mencuat ke belakang juga terlihat basah oleh keringat.
"989...990...991..." Sasuke menghitung dengan pelan. Dia telah melakukan ini sejak pagi tadi. Keningnya berkerut berkonsentrasi.
"995...996..." Dia terus menghitung. Kemudian tiba-tiba dari belakangnya-
"Yo! Teme!" Sasuke hampir terjatuh saat suara keras nan cempreng milik orang yang sangat dikenalnya itu tiba-tiba terdengar di belakangnya. Dengan geram, ia sedikit menoleh ke sumber suara yang mengagetkannya.
"Mau apa kau datang ke sini,Baka-dobe." Ejek Sasuke yang kemudian melanjutkan latihannya yang sempat terhenti karena kedatangan Naruto yang tiba-tiba di apartemennya ini. Naruto cengar-cengir mendengar ejekan sahabat sekaligus rivalnya dia melompat turun dari teralis balkon dan berjalan menghampiri Sasuke hingga sekarang ia berdiri di depan Sasuke yang masih melakukan latihannya dan tak menghiraukan Naruto.
"Wah wah, rajin sekali kau Teme. Ngomong-ngomong, tubuhmu bagus juga. Ditambah kau juga tampan. Walaupun tak setampan aku. Pantas saja gadis-gadis dan Sakura-chan tergila-gila padamu dulu. Yah, walau tak sepopuler aku sih." Kata Naruto dengan bangga. Sasuke hanya mendengus mendengar kata-kata Naruto. Tapi kalimat 'tampan' dan 'tubuh yang bagus' membuatnya jijik karena itu terlontar dari mulut Naruto. Tak ayal dia sedikit bergidik ngeri.
"Kalau tak ada keperluan penting, pulanglah. Kau hanya menggangguku saja." Kata Sasuke sambil melompat dari posisi push-up nya dan berjalan ke dalam kamarnya kemudian mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya yang basah oleh keringat. Naruto mengikutinya dari belakang.
"Hey! Kau kejam sekali mengusirku seperti ini. Padahal aku ingin mengajakmu mengunjungi Sakura-chan di rumah sakit. Ayo kita makan siang bersama!" ajak Naruto pada Sasuke.
"Bilang saja kau kesepian. Jangan menggangguku hanya karena kau tak punya orang lain untuk diganggu." Kata Sasuke pedas. Naruto mengerucutkan bibirnya. Dia kini duduk di atas tempat tidur Sasuke di tengah ruangan sedangkan pemiliknya berdiri di depan lemari. Mencari-cari baju untuk dipakainya. Naruto memperhatikan Sasuke dari tempatnya duduk. Dipandanginya tubuh Sasuke dari belakang. Punggung yang dihiasi beberapa bekas luka dan lengan kiri yang tak lagi ada.
"Hey Sasuke. Kau, masih menolak untuk memasang lengan buatan nenek Tsunade ya hingga saat ini?" tanya Naruto pelan. Dia tahu betul alasan Sasuke menolak menggunakan lengan buatan ciptaan Tsunade, tetapi tak ada salahnya bertanya lagi. Sasuke menghentikan gerakannya memakai baju. Dia mendengus mendengar pertanyaan Naruto.
"Tak akan. Dan aku yakin kau tahu mengapa. Jadi jangan bertanya lagi." Jawabnya sambil meneruskan kegiatannya memakai baju. Naruto yang mendengar jawaban Sasuke hanya terkekeh, paham sekali akan maksud pemuda Uchiha ini.
"Nishishishi. Kau tetap sok cool. Walau tak se-cool aku sih. Hey! Ayo, temani aku untuk makan siang! Kita akan mengajak Sakura-chan juga! Kemudian-"
Sasuke memilih untuk mengabaikan ocehan Naruto dan ia bergegas masuk ke kamar mandi. Setengah bermaksud untuk membersihkan diri, setengahnya bermaksud ingin kabur dari ocehan Naruto.
...
Sakura menghembuskan napas panjang. Hari ini terasa sangat melelahkan. Gadis ini meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Diliriknya jam dinding di seberang ruangan. Pukul 1 siang, waktunya beristirahat. Seharian ini dihabiskannya untuk memeriksa pasien-pasien yang sakit ringan. Tak banyak yang mengalami luka-luka ataupun luka berat. Semenjak dunia ninja damai kembali, tak banyak shinobi yang terluka yang harus dia menyunggingkan senyum tipis. Semoga kedamaian ini akan terus seperti ini. Kemudian dia juga berharap agar Sasuke terus tinggal di desa ini. Mendadak Sakura tersadar. Apa sih yang dipikirkannya. Dia bukanlah Genin bertahun-tahun lalu yang dengan mudahnya meneriakkan 'Sasuke-kuunnn' seperti gadis-gadis lainnya. Sekarang, dia adalah seorang Jounin dan ninja medis didikan nona Tsunade yang bertanggung jawab besar sebagai medis di rumah sakit desa Konoha ini.
"Yosh! Semangat Sakura!" teriaknya sambil mengepalkan tangannya ke udara. Tingkahnya terhenti karena tiba-tiba terdengar ketukan di pintu ruangannya. Tergagap, Sakura bergegas membukakan pintu ruangannya. Seorang ninja medis berdiri di depannya. Sakura mengangkat alisnya heran.
"Ada apa?" tanya Sakura.
"Ada seseorang yang mencari anda, Sakura-san." Kata ninja medis tersebut.
"Mencariku? Siapa?" Sakura heran. Siapa yang mencarinya di rumah sakit saat dia sedang bekerja. Orang itu menggeleng dan memberitahu kalau orang yang mencarinya menunggunya di luar rumah sakit. Sakura mengangguk dan bergegas keluar dari ruangan yang ditinggalinya. Langkahnya terhenti saat matanya melihat sosok yang berdiri di luar gerbang rumah sakit. Rasanya...kalau tidak salah...
"Hayato-san?" panggilnya. Orang tersebut menoleh dan tersenyum begitu melihat Sakura yang berjalan mendekat ke arahnya. Pemuda itu sedikit membungkukkan badan begitu Sakura sampai di depannya.
"Selamat siang, Sakura-san. Maaf karena tiba-tiba menemui anda di saat anda sedang bekerja sekarang. Saya ingin mengucapkan terima kasih dan minta maaf karena kejadian kemarin." Kata Hayato sopan.
Sakura tersenyum mendengarnya. "Tidak apa-apa. Sayalah yang harus berterima kasih karena telah merepotkan anda dengan bunga tersebut. Walaupun mungkin kita sama-sama tidak tahu siapa pemberinya."
Hayato sedikit menyeringai mendengar kata-kata gadis di depannya. Tetapi kemudian dia segera mengubah seringaiannya menjadi senyum hangat. "Apakah anda sedang senggang, nona? Sebagai permintaan maaf, maukah anda makan siang bersama saya sekarang?" tanyanya sopan.
Sakura sedikit terkejut mendengarnya. Seorang laki-laki yang baru dikenal kemarin mengajaknya makan siang. Apa tidak salah?
"Umm...t-tapi-"
"Apakah anda sedang sibuk sekarang, nona?" Hayato masih mendesak.
Sakura kebingungan harus bagaimana. Dia sangat ingin menolaknya, namun laki-laki ini entah kenapa terlihat begitu gigih.
"Maaf, tapi mungkin lain kali saja." Tolak Sakura halus. Dilihatnya wajah pemuda di depannya berubah kecewa seketika.
"Tidak bisa ya? Padahal sebenarnya saya ingin bertanya beberapa hal tentang medis. Saya tertarik dengan beberapa jutsu medis dan ingin tahu lebih banyak dan saya rasa anda bisa menjelaskannya pada saya." Kata Hayato pelan sambil menghembuskan napas pelan. Sakura terdiam seketika. Laki-laki ini, ingin mempelajari jutsu medis? Mungkin, siapa tahu jika dia membantunya, ninja medis bisa bertambah di rumah sakit desa ini. Tak ada salahnya membagikan sedikit pengetahuan yang dimilikinya kepada pemuda ini. Sakura berdeham pelan.
"Umm, apa kau tertarik menjadi ninja medis? Kalau begitu, aku akan dengan senang hati membagi pengetahuanku padamu." Kata Sakura sambil tersenyum. Mendengarnya, wajah Hayato langsung berseri.
"Terima kasih, Sakura-san!"
...
Kakashi memandangi dokumen di tangannya. Matanya terus memandang data dan foto pada dokumen tersebut. Di depannya, Yamato berdiri dengan sabar menunggu instruksi dari sang Rokudaime Hokage tersebut. Dunia yang damai setelah perang rupanya tak lagi damai. Entah bahaya apalagi kali ini. Seorang gadis muda ditemukan tewas terbunuh di sebuah hutan tak jauh dari desa. Gadis yang ternyata seorang pendatang baru di Konoha itu ditemukan tergeletak tak bernyawa di bawah sebuah pohon besar, namun tak ditemukan segores luka pun di tubuhnya. Semua organ tubuhnya juga tak mengalami kerusakan apapun. Gadis itu juga dinyatakan sehat oleh ninja medis yang memeriksa mayatnya. Sungguh aneh. Ninja Konoha menemukan mayat gadis itu saat berpatroli di sekitar desa. Kakashi mengernyitkan kening. Berpikir, apa yang telah membunuh atau membuat gadis itu terbunuh. Dihelanya nafas panjang dan dokumen itu diletakkannya di atas meja di depannya.
"Apa perintah anda, Hokage-sama?" Yamato memecah keheningan yang tercipta sejak ia memasuki ruangan ini untuk menyerahkan dokumen tersebut kepada Kakashi. Kakashi menatap juniornya di Anbu tersebut. Dikaitkannya jari-jarinya di depan wajahnya.
"Aku ingin kau dan beberapa Anbu memeriksa kasus aneh ini. Temukan segala hal yang mencurigakan di tempat kejadian. Kemudian tingkatkan keamanan desa, baik dari dalam maupun dari luar. Namun jangan sampai terjadi kepanikan dalam penduduk. Entah mengapa firasatku tidak enak mengenai hal ini." Kakashi memberi beberapa instruksi pada bawahannya tersebut.
Yamato menganggukkan kepala. "Kalau begitu, saya permisi, Hokage-sama. Kami akan segera memberitahu anda apabila ada yang kami temukan." Yamato kemudian berbalik pergi dari ruangan Kakashi setelah membungkukkan badannya. Kakashi memandang kepergian bawahannya tersebut hingga dia menghilang di balik pintu, kemudian matanya kembali pada gambar di dokumen yang tadi diterimanya dari Yamato. Seorang gadis muda berambut panjang berwarna merah dan kecoklatan, seperti diwarnai tetapi tidak sampai selesai. Kedua matanya membelalak lebar seolah ketakutan dan mulutnya terbuka, seakan meneriakkan jerit kesakitan menjelang kematiannya karena wajahnya juga menunjukkan raut kesakitan dan ketakutan. Kakashi menyipitkan matanya.
"Siapapun atau apapun itu, tak akan kubiarkan mengganggu ketenangan desa ini." Katanya pelan.
...
"Ehhhhh? Sakura-chan tidak ada di tempat?" pekik Naruto keras. Sasuke yang lengannya masih dicengkram erat oleh Naruto karena dia diseret ke tempat ini setelah terang-terangan menolak ajakan pemuda berambut kuning untuk makan siang bersama Sakura menghembuskan nafas keras. Dasar bodoh, pikirnya.
Ninja medis yang berdiri di depan Naruto dan Sasuke menganggukkan kepalanya. "Sakura-san pergi keluar sekitar 30 menit yang lalu bersama seorang pemuda yang mencarinya saat jam istirahat. Mereka masih belum kembali sampai sekarang." Katanya.
Naruto membelalakkan matanya sedangkan Sasuke hanya terdiam di belakang Naruto. "Ha? Sakura-chan pergi bersama seorang pemuda? Siapa dia? Setahuku dia tidak berkencan dengan siapapun." Kata Naruto kencang-kencang. Sasuke mendelik kepadanya. Ditariknya lengannya yang dicengkram oleh Naruto.
"Sudahlah dobe. Bukan urusan kita dia mau pergi dengan siapapun. Ayo pergi." Kata Sasuke sambil berbalik, bersiap untuk pergi. Namun baru dua langkah ia berjalan, kata-kata ninja medis rekan kerja Sakura membuatnya berhenti sejenak.
"Kalau tidak salah dengar, Sakura-san memanggil pemuda itu dengan sebutan 'Hayato-san' atau semacamnya. Yah, entahlah. Jarak mereka agak jauh dari gerbang dan aku hanya lewat saja saat itu."
Sasuke mengernyitkan keningnya. 'Hayato' eh? Walaupun saat itu dia tidak berada di samping Sakura, namun dia masih bisa mendengarnya saat laki-laki itu menyebutkan namanya kepada Sakura. Ya, dia masih ingat betul. Hayato adalah nama pemuda yang malam itu memberikan rangkaian bunga pada Sakura. Sasuke mendengus pelan. Tch, bukan urusanku, pikirnya sambil meneruskan langkahnya menjauh dari gerbang rumah sakit, meninggalkan Naruto yang berteriak-teriak memanggil namanya di belakangnya. Naruto akhirnya berhasil menyusul Sasuke yang telah meninggalkannya di gerbang rumah sakit.
"Heyyy,temeee~. Kejam sekali kau meninggalkanku di sana tadi dan pergi tanpa pamit." Naruto mengomel sambil mengerucutkan bibirnya. Sasuke mendengus pelan sambil terus melangkahkan kakinya.
"Kenapa kau langsung pergi begitu saja setelah mendengar Sakura-chan pergi bersama laki-laki lain? Apa kau marah? Hehehe" Naruto menggoda Sasuke.
"Baka usuratonkachi. Tak ada urusannya dia mau pergi dengan siapapun. Aku tak peduli." Kata Sasuke pada Naruto. Naruto terkekeh mendengarnya.
"Bohong~ kau pasti bohong~ kau kan-Ah! Itu kan Shikamaru dan Temari! Hoiiiiii! Shikaaaaa! Temari-saannnn!" teriak Naruto sambil melambaikan tangannya pada sepasang pria dan wanita yang berjalan bersama dari arah yang berlawanan dengan Sasuke dan Naruto. Sasuke menatap kedua orang yang berjalan menuju ke arahnya dan Naruto. Dia sangat mengenali kedua orang itu namun tak menyangka bahwa pada akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Nara Shikamaru dan saudara Gaara huh? Takdir benar-benar aneh,pikirnya.
"Yo, Naruto. Sasuke." Sapa Shikamaru kepada Naruto dan Sasuke. Temari hanya tersenyum di sebelahnya. Naruto terkekeh dan Sasuke menjawab dengan dengungan 'Hn' miliknya.
"Hahaha,ternyata kau bisa membolos juga dari pekerjaan dan berkencan dengan Temari-san eh, Shikamaru." Kata Naruto menggoda Shikamaru.
"Apanya. Bukannya kau yang kabur dari tugas dan malah pergi bermain-main. Ya kan Sasuke?" tanya Shikamaru pada Sasuke. Sasuke menjawab dengan dengusan pelan.
"Kebetulan sekali. Sebenarnya barusan aku diperintahkan untuk membawamu kepada Hokage-sama, Naruto. Dengan kata lain, kau dipanggil oleh Hokage-sama. Hahhh, tugas mencarimu sungguh merepotkan." Jelas Shikamaru sambil menguap.
"Sepertinya Hokage ingin membicarakan sesuatu dengan kita, Naruto. Kau juga harus datang, Uchiha. Karena nampaknya, Hokage menginginkan bantuan dengan ahlinya." Kata Temari. Mata emeraldnya memandang pemuda Uchiha di depannya.
Sasuke menaikkan satu alisnya begitu mendengar perkataan Temari. "Aku? Mengapa aku juga harus ikut?"
Temari mengangkat bahunya. "Karena bisa dibilang kau juga shinobi yang hebat di Konoha. Dan selagi kau ada di sini, mungkin kau bisa berguna."
"Memangnya apa mau Kakashi-sensei dengan kami? Jangan bilang kalau kami harus menyelesaikan tugas-tugasnya lagi? Aku tak mau!" protes Naruto.
"Merepotkan saja kau ini. Sudah, lebih baik kita menemui Hokage-sama dan mendengarnya sendiri, apa yang diinginkan Hokage dari kalian." Kata Shikamaru.
"Sungguh. Aku akan kabur seketika kalau Kakashi-sensei menyuruhku untuk mengerjakan tugas-tugasnya lagi. Aku tak mau." Kata Naruto keras-keras.
"Sudahlah, jangan banyak bicara. Sebaiknya kita pergi. Kami juga akan melaporkan misi kami sebelumnya kepada Hokage. Ayo, kau juga Uchiha." Temari mengakhiri perdebatan tersebut dan mereka berempat segera melesat ke gedung Hokage.
...
"Terima kasih atas waktunya, Sakura-san." Pemuda bernama Hayato itu tersenyum pada gadis di depannya. Sakura hanya tersenyum membalas keramahan pemuda tersebut. Mereka baru saja kembali setelah meninggalkan rumah sakit saat jam istirahat. Sakura kembali ke rumah sakit karena sudah jelas shiftnya masih belum selesai sampai sore ini dan akhirnya dia menghentikan sesi tanya jawab tentang medis dengan Hayato. Pemuda itu mengantarnya kembali ke rumah sakit dan kini mereka berdua berdiri di depan gerbang rumah sakit, berdiri berhadapan.
"Sama-sama. Semoga apa yang kuajarkan padamu bisa berguna nantinya. Yah,walaupun hanya sedikit karena keterbatasan waktu. Maaf kalau penjelasanku masih banyak yang tidak bisa dimengerti." Kata Sakura.
Hayato menyeringai dalam hatinya. Oh, sangat berguna, nona manis. Percayalah, sangat berguna, katanya dalam hati. "Tidak, tidak. Jangan meminta maaf karena penjelasan anda sangat mudah dimengerti. Sayalah yang harus minta maaf karena telah mengambil waktu istirahat siang anda yang berharga. Saya harap anda tidak akan mendapat masalah karena meninggalkan rumah sakit untuk pergi bersama saya." Kata Hayato sopan.
Sakura menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali. Jangan khawatir. Baiklah, kalau begitu saya akan kembali bertugas." Sakura membungkukkan badannya. Namun sebelum dia membalikkan badan untuk masuk ke gedung rumah sakit, Hayato kembali bertanya.
"Sakura-san. Segel Byakugou yang kau miliki itu, apa kau sudah lama memiliki dan menguasainya?" tanya Hayato pada Sakura. Sakura memandang pemuda di depannya heran. Mengapa tiba-tiba dia bertanya tentang Byakugou miliknya?
"Aku-yah, aku mengaktifkannya sejak perang sebelumnya. Dan bisa dibilang, aku cukup bisa mengontrolnya. Ada apa?" tanya Sakura heran. Hayato kembali tersenyum pada gadis itu.
"Saya hanya tertarik pada segel legendaris yang sangat langka dan tak banyak orang yang bisa menggunakan dan mengontrolnya. Anda, adalah gadis yang hebat, Sakura." Kata Hayato sambil membungkukkan badannya dan berbalik pergi dari hadapan gadis itu. Sakura memandang kepergian pemuda itu. Entah kenapa sesuatu yang tidak mengenakkan mengganggu hatinya, tetapi Sakura memilih untuk menepisnya dan berbalik ke arah rumah sakit untuk meneruskan pekerjaannya. Di koridor, dia bertemu dengan rekannya.
"Ah, Sakura-san. Tadi Naruto-san dan Sasuke-san datang mencari anda." Kata ninja medis bernama Ikuto tersebut. Sakura menaikkan alisnya.
"Naruto dan Sasuke-kun? Untuk apa mereka mencariku?"
Ikuto menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu. Mereka langsung pergi tanpa berpesan apapun setelah saya memberitahu mereka kalau anda tidak ada di tempat." Kata Ikuto.
"Baik. Terima kasih telah memberitahuku." Ikuto mengangguk dan berjalan pergi. Sakura bertanya-tanya dalam hati, mau apa mereka berdua mencarinya hingga ke sini. Dan Sasuke-kun...
Wajahnya terasa panas saat pikirannya melayang ke pemuda Uchiha tersebut. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak tidak. Kau harus konsentrasi dalam berkerja, Sakura. Shannarooo! Dan Sakura pun melanjutkan tugasnya yang sempat terhenti tadi karena kedatangan Hayato.
...
"Haruno Sakura, Kunoichi kelas Jounin. Ninja Medis di rumah sakit Konohagakure. Murid dari Senju Tsunade, Godaime Hokage. Cerdas dan menguasai pengetahuan mengenai medis, baik tentang luka dalam, racun, dan sebagainya. Dulunya merupakan anggota dari tim Tujuh bersama dengan Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke yang diasuh oleh Hatake Kakashi, Rokudaime Hokage. Dia mengalahkan Akasuna Sasori dari Akatsuki bersama dengan seorang nenek tua, tetua dari desa Sunagakure. Haruno Sakura juga menguasai segel Byakugou dengan baik seperti gurunya, Tsunade. Segel tersebut diaktifkan saat perang dunia melawan Madara dan Juubi. Kemudian-"
"Cukup. Aku sudah memperoleh informasi yang lebih dari cukup darimu. Kau bekerja dengan sangat bagus, Terui Hayato." Hayato hanya diam mematung di depan seseorang. Matanya kembali terlihat kosong, tidak ramah dan penuh kehidupan seperti saat bersama dengan Sakura. Sosok yang berdiri di depan Hayato memandang pemuda itu dengan matanya yang dingin.
"Kau tidak menjawab? Apa jawabanmu?"tanya sosok itu dengan suaranya yang datar dan dingin.
"Y-Ya. Terima kasih atas p-pujiannya, Hisao-sama..." suara Hayato terbata-bata dan lemah. Keringat mengalir keluar dari pelipisnya. Laki-laki yang dipanggil Hisao-sama oleh Hayato tersenyum. Diusapnya pelipis Hayato yang berkeringat.
"Jangan takut. Aku tak akan membunuhmu sekarang karena aku masih membutuhkanmu untuk mendapatkan gadis itu." Hisao melepaskan tangannya dari pelipis Hayato dan bergerak mundur. Gerakannya luwes dan tenang. Lelaki bernama Hisao, berambut panjang dan keseluruhannya berwarna putih perak. Dia memakai dalaman berwarna coklat yang tertutup kimono putih serta haori berwarna biru. Rambut panjangnya tergerai. Matanya berwarna hitam, hampir sama seperti Sasuke, tetapi lebih tanpa ekspresi dan banyak memperlihatkan kekosongan di dalamnya.
"Aku tak bisa menggunakan gadis lain. Gadis lain tak cukup kuat untuk menampungnya. Ya...gadis terakhir mati saat aku memasukkan Hisako ke dalam tubuhnya. Transformasinya tak lengkap...tak sempurna...Hisako-ku tidak cocok dengan gadis yang mati itu..." Hisao terus meracau. Hayato yang berdiri di belakangnya hanya diam mendengarkan tuannya.
"Harus dengan tubuh yang kuat...ya, harus dengan tubuh yang kuat. Seorang gadis yang memiliki Byakugou pasti mampu...gadis muda dengan Byakugou...Haruno Sakura...pasti dia bisa menjadi wadah untuk Hisako..." seulas senyum pelan-pelan terbentuk di bibir laki-laki itu.
Dia berbalik menghadap ke arah Hayato yang masih berdiri diam dengan pandangan mata yang kosong.
"Hayato. Pastikan gadis itu datang kepadaku. Secepat mungkin. Dan, pastikan tak ada seorangpun yang akan menggangguku nanti, jika gadis itu sudah ada di depanku." Perintahnya kepada Hayato. Hayato mengangguk kaku tanda mengerti akan perintah laki-laki tersebut. Hisao berbalik dan mulai melangkah pelan. Meninggalkan Hayato dengan tugas terakhir yang diberikan olehnya.
"Tak lama lagi, Hisako...sepertinya, aku telah menemukan sebuah wadah untukmu. Ya...sebuah wadah yang sempurna..." bisiknya pelan.
...
つづく
Yak, chapter 3 dari "Natsu" selesai. Cukup cepat kan updatenya? Maafkan atas typo, salah tulis, salah paham, salah ketik, salah update, dan salah-salah lain. Eve terkena writer block tingkat akut. Bahkan ada yang sampai 6 bulan belum update. Sungguh, beri Eve semangat untuk mengetik, reader-tachi sekalian~~. Dan, ah. Please jangan sebut saya 'Thor' dong. Saya bukan Thor versi cewek lo *ketawa garing. Well, sebenernya saya bikin ini fic karena saya iri soalnya Naruto-Hinata dapet porsi movie untuk kisah romance mereka sendiri, sedangkan Sasuke-Sakura nggak. Jadilah saya bikin beginian,jengjengjengggggg. Maaf kalo jelek yaaaa.
Kazuomi Inoue : Eheheheheh, ya bisa dibilang begitu. Masih kok ditampung,di bak ikan belakang rumah *ditampol. Next mungkin tahun depan yaaa!
Rhein98 : Bukan,bukan! Bunganya ngga ada segelnya kok. Cuma ada kutukan aneh aja *nah lo,spoiler. Sipppp!
Dianarndraha : Udah bisa nebak belum siapa yang kirim bunga buat Sakura? ;)
Arisahagiwara chan : Maafkan sayaaaaa kalau cerita ini jelek dan monotonnnnn *nangis darah. Siapa yaaaa, udah tahu kan sekaranggggg ;)) Dibales kok sayang :*
Rara : Sankyuuu, rara-san :D Ditunggu tahun depan yaaaa *plak
Un : Un! Arigatou! Lol. Eve berusaha menggambarkan karakter Sasuke seperti aslinya. Maaf kalau masih belum mirip :D
Guest : Sankyuuuu my dear :*** Maaf kalo Eve nelat yaaaa. GANBARIMASU!
Babyponi : Halo Beibeh! *ditabok. Ups, jangan bikin saya merinding dong karena saya jadiin Sakura jadi target penjahat di fic ini. Ampunnnn bang Sasuuuuuuu *peluk Sasu.
Kyunia137 : Jangan lah! Jangan getok Sasu! Masih sayang nyawa ngga? Ntar kamu di-amaterasu Sasu gimana coba? YOSHA! GANBARUZO!
Hanazono yuri : Kapan yaaaaa,kasih tau ngga yaaaaa *ditabok
Sherlock Holmes : Shinichi Kudo gimana kabarnya? *abaikan. Makasih, makasihhhh
Hikaru Sora14 : Cieeeee, Sasuke cemburu sama akuuuu *dibakar. GANBARIMASU!
Aitara Fuyuharu1 : Ahh, manisnya kamu dengan imajinasimu *cubit ganti. Gak papa, asal orangnya ngga lompat-lompat *maksudnya?
Miyasato : Ini sudah lanjuttttt
Hakim11 : Ehe, baru dilanjutinnnnn.
Itulah reviewer-tachi yang sudah mau berbaik hati memberi semangat dan dorongan kepada Eve sampai Eve kejebur kali. Review anda benar-benar mengobarkan semangat tersendiri kepada diri ini *sok melankolis puitis. Terima kasih banyak atas review yang anda berikan. Terima kasih sudah membaca fic ini. Terima kasih pada readers, reviewer, silent reader, yang udah nge-like ato fav fic ini. Terima kasih. Terima kasiiihhhhhh...*menghilang pelan-pelan bersama asap.
See you next time!
色々な事、有難うございます。
AZMARIA EVE
