Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Author : Hani Yuya
Judul : My Little Princess Rate : M (for lime)
Pairing : SasuSaku, Slight ItaSaku.
Gendere : Au,Ooc,Romance,Comedy,
Chap 4- Keputusan yang seenaknya. .
.
.
.
.
Hari berlalu dengan cepatnya, matahari kini menutup mata di balik sinar rembulan. Bintang bertaburan menghiasi langit malam membuat pemandangan malam ini sangat indah. Sang gadis bertubuh mungil yang sejak tadi siang tertidur kini membuka matanya.
"Hoaammmm...aku ketiduran." ujarnya pelan seraya mengucak matanya. Emeraldnya membulat ketika melihat Sasuke tidur di sampingnya, sontak ia segera memastikan keadaannya, ia takut kejadian tadi pagi terulang kembali. Ia bernafas lega pakaian yang ia gunakan masih menempel rapih di tubuhnya.
Perlahan ia turun dari ranjangnya dengan hati-hati karena tak ingin membuat Sasuke terbangun. Sekali lagi ia menatap Sasuke dengan intens dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia mendesah pelan dan menggigit bajunya dengan air mata yang mengucur deras meratapi nasibnya. Darimanapun dia tetap bocah berusia 12 tahun dan lebih pendek 10 cm dariku, Kami-sama kenapa mesti bocah SD pria pertama yang melihat tubuh polosku?' innernya menjerit frustasi.
Dengan langkah gontai Sakura memutuskan untuk mencari angin di luar.
Bbbrrrrr... Bbbbrrr
Angin berhembus kencang malam ini, rambut soft pinknya terbang tertiup angin. Sakura merutuki dirinya sendiri karena lupa memakai jaket sehingga udara dingin masuk sampai ke tulang sumsum, Ia menggigil kedinginan tapi enggan untuk berbalik masuk ke dalam villa dan tidur satu ranjang dengan Sasuke.
Berbagai fikiran negatif terlintas di benaknya jika ia tidur satu kamar dengan Sasuke, bisa-bisa kejadian tadi pagi terulang lagi. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya mengenyahkan pikiran negatifnya. Ia memutuskan tetap berjalan menyelusuri pantai menerjang angin yang bertiup kencang.
Byuuurrrr
Suara ombak yang membentur karang terdengar cukup kencang. Sakura segera berlari mendekat dan berdiri tak jauh dari tepi pantai, emeraldnya terperangah melihat ombak yang seakan mengamuk malam ini.
"Sugoiiiii..." teriaknya kagum padahal keadaan laut malam ini sangat tidak bersahabat, semakin malam air laut semakin meninggi sangat berbahaya berdiri di tepi pantai di cuaca buruk seperti ini.
"Gadis kecil"
Sebuah suara baritone yang terdengar sexy menginterupsi kegiatannya. Sakura menoleh, Emerald dan Onyx saling bertatapan. Seorang pemuda berhelai raven panjang sebatas punggung dengan paras wajahnya yang tampan kini berdiri di hadapannya. Sakura sampai tak berkedip sedikit pun memandangi wajah tampan bak seorang pangeran itu.
Pemuda itu menghampiri Sakura dan melepas jaket yang digunakannya lalu memakaikan jaket itu pada tubuh mungil Sakura, membuat sang empu salah tingkah dan merona merah.
"Gadis kecil dimana orang tuamu? Jangan terlalu dekat dengan pantai karena malam ini ombak sedang mengamuk." ujarnya.
'Gadis kecil katanya?' Duak... bagai tertimpa beribu ton langsung menimpah kepalanya, ia hampir terhuyung jatuh. Yang benar saja sampai orang tak dikenal pun dia masih dianggap anak kecil, hancur sudah masa depannya kalau begini terus tak akan ada pria yang menganggapnya sebagai seorang wanita.
Pemuda itu mengernyit heran melihat wajah Sakura yang kini menekuk dan terlihat kesal, apa perkataannya membuat gadis kecil ini marah?
Sreet
"Hwaaa, apa yang kau lakukan?!" teriak Sakura histeris karena pemuda itu tiba-tiba menggendongnya bak anak kecil.
"Aku akan mengantarmu pulang, nah tunjukkan dimana villa tempat tinggalmu?"
"Aku bisa jalan sendiri... turunkan aku." rengek Sakura seraya meronta-ronta.
"Hahaha, tak perlu malu, anggap saja aku kakakmu. Siapa namamu?"
"Uhh~ Sakura." jawabnya malu-malu.
"Namaku Itachi, panggil saja aku Itachi-nii."
'Ah~ sudahlah biar saja dia menganggapku anak kecil. Karena dia tampan kumaafkan.' innernya.
Itachi mengantarkan Sakura pulang, dia sedikit terkejut karena Sakura tinggal di villa keluarganya. Sudah lama dia tak berkunjung ke villa ini, setelah dia pergi meninggalkan keluarganya tak sekalipun dia menginjakkan kakinya di villa ini, meski beberapa kali ia ada jadwal pemotretan di dekat sini.
Itachi menurunkan Sakura dari gendongannya, lalu berjongkok menyamai tinggi Sakura.
"Kau tinggal di villa Uchiha ini?" tanyanya.
"Ya."
"Apakah kau pergi dengan Sasuke?"
Sakura mengernyit heran, kenapa pemuda ini tau kalau villa ini milik keluarga Uchiha dan juga tau tentang Sasuke! Sakura diam tak merespon, ia menatap Itachi penuh dengan tanda tanya. Itachi yang di perhatikan terkekeh pelan melihat ekspresi Sakura yang menatapnya curiga.
Ia menepuk pucuk kepala Sakura pelan, "tak kusangka Sasuke berteman dengan seorang gadis selain Karin. Dan menginap di villa ini bersamamu, kau pasti teman dekatnya."
'Teman dekat!' Ctak, perempatan siku tercetak jelas di pelipisnya ketika Itachi menyebutnya teman dekat Sasuke, Sakura menggembungkan pipinya kesal, "tch, bocah mesum itu bukan temanku!" ujarnya seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah Itachi.
Itachi mengernyit,"bocah mesum? Apa maksudmu Sasuke?" tanyanya.
"Tentu saja,siapa lagi klo bukan dia, tch menyebalkan."
Hahahahha... Itachi tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya yang sedikit sakit karena tertawanya yang berlebihan. Baru kali ini dia mendengar dari mulut teman Sasuke bahwa adiknya itu orang yang mesum. Setau Itachi, Sasuke tipe orang yang dingin, memang dia suka seenaknya menyuruh orang untuk kepentingan dirinya sendiri tapi selama ini dia tak pernah menyentuh teman wanitanya, malah dia selalu menghindari Karin yang selalu bergelayut manja padanya.
Apalagi adiknya itu masih tergolong anak di bawah umur, mana mungkin melakukan tindakan mesum bukan? Sepertinya Itachi tak menganggap perkataan gadis kecil di hadapannya ini dengan serius.
"Masuklah, nanti Sasuke dan temanmu yang lainnya khawatir kalau tau kau tak ada disana."
Sakura mengernyapkan mata berulang kali,'teman yang lainnya? Apa mungkin dia mengira aku datang ke sini dengan teman-teman Sasuke?' batinnya menerka-nerka, 'sudahlah~ di jelaskan pun dia tak akan percaya, kalau aku Haruno Sakura seorang gadis berusia 18 tahun tunangan bocah mesum itu, setiap kali memikirkan tentang pertunangan kami sering membuat kepalaku pusing dan ingin pecah. Kenapa bukan pemuda tampan ini saja sich yang jadi tunanganku, betapa beruntungnya aku jika Itachi yang jadi tunanganku." tiba-tiba Sakura tersenyum malu-malu membuat Itachi menautkan alisnya heran melihat ekspresi Sakura yang cepat sekali berubah-ubah.
Tuk, Itachi menyentil jidat lebar Sakura pelan,"apa yang kau pikirkan adik kecil? Apa ada sesuatu yang baik,sehingga kau tersenyum lebar seperti itu?" godanya.
Blussshh... wajah Sakura merah seperti kepiting rebus, "ra-ha-si-a." Sakura menjulurkan lidahnya dan berlari masuk ke villa sambil melambaikan tangannya ke arah Itachi, "arigatou Itachi-nii, bye-bye."
Itachi tersenyum dan membalas melambaikan tangannya. Sepertinya Itachi sedikit tertarik dengan gadis kecil itu.
.
.
.
.
.
Tap... Tap... Sakura mengendap-endap masuk ke dalam villa, ia takut ketahuan oleh Sasuke dan juga Neji yang tidur di ruang tamu. Sesampainya di kamar dia tak langsung masuk karena tak mau satu kamar dengan Sasuke, sejak tadi dia diam berdiri di depan pintu sambil memutar otaknya. Sampai seseorang menepuk bahunya.
"Dari mana saja kau Sa-ku-ra?"
Bulu kuduknya merinding ketika mendengar suara dengan nada tinggi penuh penekanan saat menyebut namanya seakan-akan menginterogasi dirinya.
"Anoo...aku-hanya-pergi-mencari-angin." jawabnya terputus-putus.
Haa~ Sasuke mendesah pelan, Puk lalu menepuk pucuk kepalanya, "kau membuatku khawatir Sakura, lain kali bilang padaku kalau mau pergi ke luar, sekarang tidur- lah!" ucapnya lalu melengos pergi.
Sakura menoleh seraya memegang kepalanya yang habis di pegang Sasuke barusan. Aneh! Sasuke tak mengatakan perkataan yang kasar padanya. Biasanya dia akan mengancam Sakura atau melakukan hal mesum untuk menghukumnya.
'Ada apa dengan nya?' Sakura mengendikkan bahu heran dan langsung masuk ke dalam kamar. Ia tak tau bila Sasuke berdiri di balik tembok tak jauh dari kamar, sejak tadi ia belum jauh beranjak pergi dari sana. Ia memastikan Sakura masuk ke dalam kamarnya kali ini, tangannya mengepal erat dan menatap sendu pintu kamar Sakura.
"Tuan muda air hangatnya sudah siap?" tiba-tiba Neji datang menghampiri Sasuke dan memberikan sebuah handuk padanya.
"Hn ... jangan bilang pada Sakura kalau aku pergi mencarinya tadi." ujarnya seraya pergi ke kamar mandi.
"Baik tuan muda." sahut Neji seraya membungkukkan badannya.
Sepertinya Sakura tak menyadari kaki Sasuke yang penuh dengan pasir pantai sama seperti dirinya. Sasuke yang panik ketika bangun dari tidurnya tak mendapati Sakura disampingnya, dengan segera pergi dengan Neji untuk mencarinya.
Namun manik Onyxnya membulat ketika melihat sosok pemuda yang menghampiri Sakura, Itachi kembali. Melihat wajah Sakura yang merona merah saat menatap Itachi membuatnya membatalkan niatnya untuk menghampiri gadis musim semi itu dan kembali ke villa menunggu kepulangan Sakura, meski rasa sesak di dadanya tiba-tiba muncul ketika ia melihat keakraban diantara keduanya.
.
.
.
.
Byuuurrrr... Byuurrrr
Pagi ini sepertinya matahari masih enggan menampakkan dirinya. Ia bersembunyi dibalik awan, cuaca pun sedikit mendung. Meski cuaca tak bersahabat, tak sedikit orang berdatangan untuk berenang menikmati musim panas di penghujung musim ini. Sasuke yang enggan beranjak dari tempat duduknya hanya memperhatikan Sakura yang kini sedang berenang di tepi pantai sendirian.
Sasuke duduk di bawah payung besar menggunakan kursi pantai yang sudah dipersiapkan oleh Neji seraya menikmati juice tomat kesukaannya.
Dia masih menggunakan sweater hitam dan juga celana pendek. Sepertinya dia enggan untuk ikut turun bermain air bersama Sakura, sejak kejadian semalam membuat moodnya memburuk.
"Ohayou Sasuke-kun." Sebuah suara menyadarkan lamunannya, Onyxnya terbelalak ketika melihat siapa orang yang datang menghampirinya.
"Ka-kau!Karin! Kenapa bisa ada di sini?" ujarnya kaget.
Gadis kecil itu langsung mendudukan bokongnya di bangku samping Sasuke, merogoh tas yang dipakainya lalu mengeluarkan sebotol minuman dari sana.
"Minumlah Sasuke-kun aku membuatnya khusus untukmu. Hehehe." ia mengulurkan botol minuman itu di depan Sasuke membuat sang empu menatapnya curiga.
"Apa lagi yang kau rencanakan! Jauh-jauh menemuiku hanya untuk memberikan sebotol minuman padaku? Aku tak sebodoh itu terperangkap dalam jebakanmu!" ujar Sasuke sarkastik.
Keringat dingin bercucuran membasahi wajah Karin, sepertinya ia tak pandai berbohong. Ia tersenyum kaku dan berusaha meyakinkan Sasuke, "ayolah Sasuke-kun aku tak mungkin macam-macam padamu bukan! Kau teman sekaligus orang yang kusuka mana mungkin aku berbuat buruk padamu."
"KARIN! Sedang apa kau disini?" Sakura yang datang dari tepi pantai untuk beristirahat sebentar terlonjak kaget ketika melihat Karin ada disana.
"Cih, bukan urusanmu!" ujarnya dengan nada kesal, namun tiba-tiba ia teringat tujuan utamanya datang kesana untuk mengerjai Sakura. Ia kembali merogoh tasnya dan mengambil sebotol minuman yang di dalamnya sudah dicampur dengan obat racik buatannya kemudian ia memberikan minuman itu pada Sakura, "aku juga membuatkan minuman energi untukmu Sakura-chan minumlah." ujarnya dengan senyum yang menghiasi wajahnya, 180 derajat berbeda dengan wajah masamnya tadi.
Sakura menyipitkan matanya curiga akan tingkah Karin yang tiba-tiba baik padanya. Emeraldnya menatap minuman aneh yang di pegang karin penuh selidik. Jangan harap dia mau meminumnya! Menyentuhnya saja ia enggan. Karena tau pasti gadis kecil itu sudah memasukkan obat aneh di dalam minumannya itu seperti sebelumnya.
"Jangan harap aku sudi menerima minuman darimu lagi Karin. Aku tak akan tertipu untuk yang ke dua kalinya! Gara-gara kau hidupku hancur... Ggrrrrr." ujar Sakura seraya mengarahkan jari telunjuknya ke depan wajah Karin.
Sreettt... "Oi, apa yang kau lakukan kembalikan!"Sasuke tersentak kaget ketika Sakura merampas minuman khusus buatan Karin untuknya yang entah sejak kapan berada di tangannya.
"Baka! Kembalikan! itu minuman khusus kubuat untuk Sasuke-kun!" teriak Karin sontak beranjak diri seraya menggapai minuman yang kini sedang di minum Sakura.
'Gawat jangan sampai ia menatap mata Sasuke-kun!' batin Karin panik, ia refleks membalik tubuh Sasuke membelakangi Sakura dan menahan kepalanya agar tak menengok menatap Sakura.
"Ugghhh... Apa yang kau lakukan Karin! Lepaskan!" ronta Sasuke.
"Tidak akan Sasuke-kun sebelum Sakura pergi dari sini, aku tak akan membiarkanmu menatap matanya!"
Karin sibuk menghalangi penglihatan Sasuke, sedangkan Sakura yang tak tau apa-apa dengan santainya meminum minuman itu sampai habis tak tersisa karena saking hausnya.
Ukkhh! Sakura memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa panas, tanda segitiga tercetak di dahinya.
Karin menoleh, 'tch, obatnya mulai bereaksi.' batinnya mendecih.
"Gadis kecil?" Sebuah suara menginterupsi kegiatannya, ia menoleh dan tak sengaja menatap Onyx milik pemuda raven sebatas punggung dengan setelan kaos dan celana pantai itu.
"Itachi-nii!" panggilnya kemudian ia tersenyum lebar dan refleks memeluknya. Matanya seakan terhipnotis ketika bertatapan tadi sehingga semua perbuatan yang ia lakukan murni bukan kemauannya sendiri. Seperti robot yang sudah di program, dia akan suka pada pria yang pertama kali dilihatnya dan akan terus menempel pada ya .
Sasuke yang mendengar Sakura memanggil 'Itachi' sontak mendorong tubuh Karin agar menyingkir darinya. Onyxnya terbelalak tak percaya ketika melihat Sakura memeluk tubuh Itachi erat.
'Sasuke!'
Onyx dan Onyx bertemu, tatapan tak bersahabat Sasuke menatap Onyx milik Itachi tajam.
'Ternyata benar dia ke sini dengan temannya.' batin Itachi. Sebenarnya banyak hal yang ingin dibicarakan oleh Itachi pada Sasuke saat ini, mungkin sekaranglah waktu yang tepat. Ia sengaja meminta ijin membolos pemotretan hari ini untuk menemui Sasuke, karena jarang sekali mereka bertemu secara kebetulan seperti saat ini. Namun ia tak akan pernah menyangka pertemuannya dengan Sakura dan kedekatan diantara keduanya membuat Sasuke semakin membencinya.
"Itachi-nii."
Suara Sakura menyadarkan lamunannya, ia menjajarkan tinggi badannya dengan Sakura dan menatap iris matanya yang terlihat sayu, wajahnya terlihat pucat, keringat dingin bercucuran memenuhi wajah porselinnya.
"Hn, apakah kau demam? wajahmu terlihat pucat!" wajah Itachi sangat dekat dengan Sakura yang hanya berjarak beberapa centi saja. Sasuke yang melihat kedekatan mereka mengepal tangannya erat.
"Suki... Daisuki... Cup." Sakura memajukan wajahnya dan mengecup bibir Itachi.
Karin terbelalak tak percaya, mulutnya menganga lebar, sedangkan Sasuke menggeram tertahan, giginya bergeletuk menahan marah. Kini Onyxnya menatap tajam shappire Karin penuh amarah.
"Apa yang kau masukkan ke dalam minuman itu? JAWAB!" bentak Sasuke.
"Ini bukan salahku! Seharusnya kau yang meminumnya dan mengatakan suka padaku! Hiks, kau kejam Sasuke-kun, kau selalu membentakku, huaaaaaa."
"Oi, tunggu Karin mau kemana kau?jelaskan dulu apa yang sebenarnya terjadi! Tck. Kuso!"
Karin pergi begitu saja tanpa menjelaskan efek dari minuman yang ia buat itu pada Sasuke. Membuat uchiha bungsu itu semakin menggeram kesal, aura hitam pekat menguar dari tubuhnya.
"Kurang ajar! Sakura ~ tck, pergi kemana mereka!" ujarnya frustasi karena Sakura tak ada di sana, lengah sedikit saja gadis musim semi itu selalu saja menghilang dari hadapannya.
"Nona Sakura tadi pergi bersama tuan muda Itachi ke tepi pantai tuan muda Sasuke." Neji menjelaskan.
"APA!" Seperempat siku memenuhi wajahnya, ia benar-benar kesal dibuatnya. Ia bergegas berlari menuju tepi pantai, "SAKURA!" berulang kali ia meneriakkan nama gadis musim semi itu, namun nihil Sakura tak ada di manapun.
Byuuuurrrr... Duar... Duar...ombak semakin meninggi dan langit pun semakin gelap, cuaca seakan tak berpihak pada dirinya.
"Tuan muda Sasuke sebaiknya kita kembali ke villa, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan." ujar Neji.
"Tidak! Sebelum menemukan Sakura aku tak akan kembali."
"Nona Sakura akan baik-baik saja bersama tuan muda Itachi. Lihat!langit semakin gelap, aku takut akan terjadi badai, jika terus berada disini akan berbahaya."
"Tck, jika kau takut kembalilah duluan. Aku akan pergi mencarinya sendiri, tak akan kubiarkan Aniki menyentuhnya lebih dari ini!" kukuhnya.
Neji memijit keningnya pelan, beginilah sikap tuan mudanya yang keras kepala. Tak mungkin dia meninggalkan Sasuke sendirian di sana, jika Madara tau ia bisa di pecat bukan! Bahkan bisa lebih buruk daripada itu.
Neji berjalan pelan mendekati Sasuke, mengambil sapu tangan di balik jasnya kemudian menyemprotkan sesuatu disana.
"Maafkan aku tuan muda Sasuke, aku terpaksa melakukan ini demi kebaikanmu." ujarnya pelan. di balik punggung Sasuke, kemudian mengarahkan sapu tangan itu ke wajah Sasuke.
"Ukhhhh, ku-rang-a-jar ka-u Ne-ji." ucapnya terbata-bata kemudian tak sadarkan diri. Neji membawa Sasuke kembali ke villa, setelah itu ia berencana akan mencari dimana Sakura dan Itachi berada.
.
.
.
*Itachi Pov On*
.
.
Bbrrrrr... Brrrrrr
Hujan pun turun, angin bertiup kencang membuat laut kembali mengamuk. Sepertinya pergantian musim di mulai dan sekarang memasuki awal musim hujan.
Aku berjalan di bawah guyuran hujan sambil menggendong seorang gadis kecil di dadaku. Baju yang ku kenakan basah kuyup ditambah lagi sepertinya gadis itu tak sadarkan diri. Aku berjalan tak tau arah, Onyxku terpendar mencari tempat untuk berteduh, bibirku tertarik ke atas menyimpulkan sebuah senyuman karena menemukan sebuah goa tak jauh dari tempatku berdiri, sontak ku bergegas dengan langkah besar berjalan menuju goa itu.
Beruntungnya aku karena di dalam goa itu tak terlalu dalam sehingga keadaan di dalamnya tak terlalu gelap. Aku segera membaringkan tubuh gadis musim semi itu di atas tanah. Wajahnya semakin memucat membuatku mendesah frustrasi.
Aku terus menyalahkan diriku sendiri karena tak mampu mencegah gadis kecil teman adikku itu untuk berenang di cuaca yang tiba-tiba memburuk sehingga akhirnya kami berdua terseret arus lumayan jauh sampai terdampar di sebuah pulau tak jauh dari pantai.
"Bertahanlah gadis kecil!"
Aku tak tau apa yang harus ku lakukan sekarang. Handphone genggamku basah terendam air saat terbawa arus tadi sehingga tidak dapat digunakan untuk meminta bantuan yang lainnya. Kulihat wajahnya yang semakin bertambah pucat, lalu ku pegang jidatnya.
"Panas!Sial! Kenapa disaat seperti ini!"
Suhu badan Sakura sepertinya sangat tinggi dia sedikit menggigil. Aku harus segera mencari cara untuk memberikan pertolongan pertama padanya.
Terlintas sebuah ide yang cukup gila, suhu badan bisa cepat turun jika berpelukan dengan seseorang jika saling bersentuhan, karena saat berpelukan, hormon oksitoksin akan dilepaskan sehingga penderita demam merasakan nyaman dan rileks, dengan demikian proses kesembuhannya dapat berlangsung lebih cepat.
Tapi aku masih sedikit ragu dengan ide ku yang satu itu, tapi hanya itulah satu-satunya cara yang efektif untuk menurunkan demam di situasi seperti ini. Lagipula Sakura seumuran dengan Sasuke, dia masih di bilang anak kecil bukan? pikirku tanpa tau apapapun tentang gadis kecil ini.
Ah biarlah ku pikirkan lagi nanti yang penting aku harus segera menurunkan panasnya! Aku mulai melucuti pakaian renang Sakura sampai tak tersisa. Entah kenapa dadaku berdebar tak seperti biasanya, ini aneh! Kenapa aku sampai berdebar ketika melihat tubuh polos Sakura yang notaben masih dibawah umur! Oh Kami-sama sebenarnya apa yang terjadi pada diriku?
Onyxku tak sengaja terpaku pada buah dada miliknya yang terbilang kecil namun sedikit menonjol itu. Bluuushhhh... wajahku memerah seperti kepiting rebus, ku- gelengkan kepalaku mengenyahkan pemikiran kotorku. Gawat! Di saat seperti ini aku malah berfikir yang aneh-aneh... Aku mendesah frustasi, untung saja dia masih kecil, kalau tidak entah aku bisa menahan diriku atau tidak. Wanita itu makhluk yang berbahaya. Itu semua membuatku tertawa miris karena tak menyangka akan berfikiran mesum terhadap anak kecil.
Tak mau ambil pusing lagi aku pun melucuti pakaianku sendiri dan hanya meninggalkan celana pendek. Perlahan aku memeluk tubuh Sakura ke dalam pelukanku, menempelkan dada bidangku menyentuh dadanya.
Deg... sensasi aneh yang ku rasakan ketika kulit kami saling bersentuhan membuat perasaanku menjadi tak menentu. Hahahha...Aku tertawa geli dalam hati, tak mungkin kan jika aku suka pada gadis kecil ini? bsa-bisa aku dibilang pedhopil jika teman-teman ku tau tentang ini.
"Andai kau tumbuh dewasa lebih cepat Sakura, aku pasti menjadikanmu milikku." ujarku pelan.
Aku tak akan pernah tau bahwa ucapanku itu akan membawa diriku ke dalam masalah suatu saat nanti.
*Itachi Pov Off *
.
.
.
Brrrrr... Bbbrrrr
Tetesan hujan dan gemuruh langit yang masih ditutupi awan hitam sejak tadi belumlah reda. Sudah lewat beberapa jam Itachi memeluk Sakura dan sepertinya perbuatannya tak sia-sia, kini keadaan tubuh Sakura sudah normal kembali, tanda segitiga yang muncul di keningnya tadi pun hilang hingga tak berbekas sedikit pun.
Itachi mendesah lega bibirnya tertarik ke atas menyimpulkan senyuman tipis di wajah tampannya. Cup...entah sadar atau tidak dia mengecup jidat gadis itu sekilas.
"Nggg... " lenguhan pelan terdengar dari bibir Sakura, perlahan emeraldnya terbuka. Ia mengerjabkan matanya berulang kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam iris matanya.
"Kau baik-baik saja?" ujar Itachi pelan namun tak ada respon darinya. Gadis itu hanya menatap lekat Onyx Itachi, sepertinya angan-angannya masih belum terkumpul sepenuhnya.
Ia mengedarkan penglihatannya meneliti sekeliling goa menautkan alis heran karena pemandangan asing yang tersuguhkan di hadapannya. Kemudian ia beranjak diri berjalan menghampiri mulut goa, sontak Itachi mengalihkan pandangannya ke samping.
"Gadis kecil sebaiknya kau pakai bajumu dulu!" ujar Itachi dengan wajah yang merona merah, Tapi sepertinya sang empu tak menghiraukan perkataannya membuatnya mendesah frustasi.
Itachi beranjak diri lalu mengambil baju renang Sakura yang ia letakkan di atas bebatuan sehingga baju renangnya sudah sedikit agak mengering.
"Karena demammu sudah turun cepat pakai bajumu, nanti kau bisa masuk angin lagi." ujar Itachi seraya memberikan baju renang itu di depannya.
Sakura menoleh dan kembali menatap Itachi, Onyx serupa dengan Sasuke namun lebih lembut dibandingkan uchiha bungsu itu.
"Hei, ada apa? Sejak tadi kau diam tak merespon pertanyaanku? Apa kepalamu terbentur sesuatu tadi?" Itachi semakin mendekati Sakura yang masih diam tak bergeming di depat mulut goa. Ia mendekatkan wajahnya dan menempelkan jidatnya ke jidat lebar sang gadis, "tidak panas." lanjutnya.
" ... " Sakura masih diam, lalu tiba-tiba kepalanya terasa sedikit sakit dan hampir terjatuh untung Itachi dengan sigap menopang tubuhnya. Itachi tak tau sikap Sakura yang linglung ini adalah efek dari obat buatan Karin yang di minumnya tadi.
"Gadis kecil kau tak apa-apa?" tanyanya khawatir.
"Sakura!"
Sebuah suara menginterupsi kegiatan Itachi, ia menoleh ke arah sumber suara. Sasuke berdiri dengan tangan yang di kepal erat di bawah guyuran hujan. Onyxnya menatap marah Onyx serupa milik Itachi.
Tak dapat dipungkiri ia kecewa melihat Sakura berdua dengan Itachi dengan keadaan seperti itu. Itachi yang setengah telanjang dan Sakura yang tak berbusana membuat Sasuke memikirkan hal negatif tentang mereka. Sasuke berbalik arah meninggalkan mereka berdua tanpa bicara sepatah kata pun.
"Sa-su-ke-kun." ucap Sakura terbata-bata dengan nada lemah sebelum kembali tak sadarkan diri. Itu membuat Itachi sedikit terkejut ketika Sakura memanggil nama adiknya, meski belum sadar sepenuhnya ia dapat mengenali Sasuke. Namun berbeda dengannya padahal sejak tadi bersamanya Sakura tak sekali pun menyebut namanya.
Ditambah lagi tatapan menusuk yang di suguhkan sang adik padanya. Sepertinya Itachi sadar akan satu hal, adiknya punya hubungan khusus dengan gadis musim semi yang berada di pelukannya. Ia tersenyum tipis ketika menyadari hal itu.
'Jadi dia kekasihnya? Seleramu bagus juga Sasuke.'
Tak berapa lama kemudian Neji menghampiri keduanya dan membawa dua buah selimut untuk mereka. Lalu membawanya kembali ke villa dengan perahu boot milik keluarga Uchiha. Mereka tak satu perahu, Sasuke pulang duluan denga perahu yang berbeda. .
Sasuke memutuskan untuk langsung pulang ke rumah utama, mengakhiri liburannya padahal baru sehari mereka berdua berada di sana. Itachi pun tak sempat berbincang dengan Sasuke karena adiknya itu selalu melengos pergi mengabaikannya setiap kali berpapasan.
Sepertinya Sasuke mengurungkan niatnya untuk membuat perhitungan dengan Itachi karena alasan tertentu. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk meminta penjelasan kepergian kakaknya setelah sekian lama meninggalkannya. Sasuke menyadari satu hal sejak kedatangan Itachi lalu pertemuannya dengan Sakura dan itu sangat mengganggu pikirannya.
Ia tak ingin hal yang ia takuti menjadi kenyataan, bahwa sejak awal Sakura di tunangkan dengan Itachi bukan dirinya. Ya, dirinya hanya pengganti sementara sampai Itachi kembali dan mengambil alih semuanya.
.
.
.
*Sakura Pov On*
.
.
"Ugghhh... Dimana ini." desisku pelan. Emeraldku menelisik setiap sudut ruangan tempatku terbaring saat ini. Aku tak bisa mengingat apapun kenapa aku bisa berada di sini, sebuah kamar yang tak asing bagiku.
"Di rumah." jawab Sasuke yang berdiri dekat jendela kamar.
Emeraldku membulat, "Ehhhh! Sejak kapan kita berada di rumah, setauku kita menginap di villa yang berada di Suna!" ujarku bingung.
"Hn, wajar saja kau tak ingat, kau dibawa kemari dalam keadaan tak sadarkan diri."
"Ha! Maksudmu aku pingsan? Kenapa? Apa yang terjadi? Seingatku aku sedang berenang di pantai dan Karin datang ~kemudian aku tak ingat apa-apa lagi. Hmmm... apa yang terjadi setelah itu aku tak tau... Tck, ini pasti ulah bocah berkacamata itu. Lagi-lagi aku terjebak dalam jebakannya ck." ocehku.
Sasuke menatap intens emeraldku "kau benar-benar tak ingat kejadian di pantai dan di pulau itu?" tanyanya menyelidik seraya melipat tangan di dada.
Aku menggelengkan kepalaku, "entahlah aku tak ingat. Memang apa yang terjadi?"tanyaku heran.
Kulihat ekspresi Sasuke berubah drastis, seperempat siku memenuhi wajahnya, "TCH, JANGAN TANYA HAL ITU PADAKU. KAU YANG LEBIH TAU DARIKU BUKAN! DASAR MESUM! GADIS TUKANG SELINGKUH!"
Jleb... Bagai tertusuk sebilah pedang tepat di jantungku. Kata-kata Sasuke membuatku menggeram kesal, 'Mesum? Tukang selingkuh?' itu semua membuatku marah, bukannya dia yang selalu berbuat mesum padaku. Aku tak bisa terima tuduhannya padaku! Aku berbalik mengatainya dengan suara lantang penuh emosi.
"SEHARUSNYA AKU YANG MENGATAKAN HAL ITU PADAMU SASUKE! YANG MESUM ITU KAU BODOH! hosh hosh." nafasku naik turun menahan amarah yang seakan meluap sampai ke ubun-ubun.
"Tch, dasar wanita. Tidak mau mengakui kesalahannya." ujar Sasuke lalu melengos pergi meninggalkanku di dalam kamar.
Ctak, tanda siku-siku pun penuh di wajahku, dia benar-benar tak mau kalah heh! Awas kau Sasuke! aku pun beranjak turun dari tempat tidur dan mengejar Sasuke,aku tak terimakau menuduhku yang tidak-tidak.
"Oi tunggu Sasuke apa maksudmu menuduhku begitu ha!" ujaku di sepanjang jalan, namun Sasuke tak sedikit pun menoleh ke arahku. Tch, itu benar-benar membuatku tambah jengkel dengan sikapnya yang seakan-akan berkata aku memang bersalah padanya.
Bruugh... tiba-tiba Sasuke berhenti melangkah secara tiba-tiba alhasil tubuh kami bertubrukan dan hampir jatuh.
"Hei, kenapa tiba-tiba berhenti sih!" ujarku kesal.
"Gadis kecil apa kabar? loh kenapa kau disini?" sebuah suara yang terdengar familiar menginterupsi kegiatanku, membuatku melongo tak percaya melihat Itachi ada di rumah Sasuke sekarang.
"Seharusnya aku yang bertanya pada Itachi-nii kenapa ada di sini bukan?" timpalku yang penasaran apa tujuannya datang kemari.
Itachi hanya terkekeh pelan lalu menghampiriku, puk ia menepuk kepalaku pelan, "aku Uchiha Itachi kakaknya Sasuke, maaf aku lupa memberitaukannya kemaren."
Hee! Kakak! Aku sempat terpaku sesaat, ku tatap Itachi dan Sasuke secara bergantian dari ujung kepala sampai ujung kaki, wajahku mulai memucat. 'Mirip! Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal bertemu! Kami-sama betapa bodohnya aku.' rutukku dalam hati.
"Lalu kenapa kau di sini? Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan?" tanyanya bertubi-tubi, aku tak bisa bilang padanya jika aku tinggal di sini bukan?
Aku hanya menganggukkan kepala dan menggaruk pelipisku yang tak gatal. Deg...tak sengaja aku bertatapan dengan Sasuke, ia menyuguhkan deathglare mematikan padaku kemudian melengos pergi. Sepertinya ia tak menyukai keberadaan Itachi! Apa cuma perasaanku saja? Entahlah.
"Sasuke! Tunggu!" teriakku refleks, tak biasanya dia bersikap cuek seperti itu? sepertinya kali ini dia benar-benar marah padaku.
"Itachi? Kapan kau datang kemari?"
Sebuah suara menginterupsi kegiatan kami. Sosok pria separuh baya yang ku kenal akhir-akhir ini menghampirimenghampiri Itachi kemudian menatapnya marah.
"Anoo, jii-chan maaf aku datang tiba-tiba ke sini, aku menyesal atas semua yang sudah kulakukan padamu. Mulai hari ini aku akan kembali dan menuruti semua keinginan jii-chan." ucapnya serius seraya menundukkan badannya. Aku hanya diam memperhatikan perbincangan keduanya.
"Angkat badanmu! Ha~ kau memang selalu pergi dan datang seenaknya Itachi, kali ini jangan mengecewakanku."
"Baik." senyum sumringah menghiasi wajahnya.
"Sakura bagaimana keadaanmu kakek cemas ketika mendengar kabarmu dari Neji tadi, lalu aku memutuskan pulang dan menengokmu."
"Aku baik-baik saja Madara -jii chan. Tak perlu mengkhawatirkanku." ujarku seraya memamerkan senyum manis padanya.
"Syukurlah kau baik-baik saja, aku takut terjadi hal buruk padamu, sebaiknya kau kembali istirahat di kamarmu." ia mengecup jidatku.
"Kamar?" tiba-tiba Itachi memotong pembicaraan kami. Pertanyaannya membuatku harus menahan nafasku di tenggorokan.
"Kau belum tau jika Sakura tinggal di sini Itachi?"
Ia menggelengkan kepalanya, "aku hanya tau jika gadis kecil ini temannya Sasuke."
Aku menelan ludah panik, habislah aku jika Itachi tau identitas asliku. Mau di taruh dimana wajahku ini, Kami-sama tolong aku.
Madara-jii chan memautkan alis heran, "gadis kecil katamu? Sakura bukan gadis kecil Itachi, umurnya tak beda jauh darimu... Usianya sudah 18 tahun dan siap untuk menikah. Tunggu~ karena kau sudah kembali bagaimana jika kau saja yang menikah dengan Sakura, kalian berdua sudah cukup umur untuk menikah. Baiklah aku akan bicarakan ini pada Sasuke. Semoga dia tak marah... Hahahaha." setelah berucap Madara-jii chan pergi meninggalkan kami berdua yang kini diam mematung.
Siiiingggggggggggg
"Heeeeeeee." teriak kami bersamaan.
Sepertinya kami berdua terlalu kaget sehingga tak mampu berkata-kata. Di satu sisi Itachi kaget mengetahui usiaku yang tak jauh darinya, di lain sisi aku pun kaget mendengar keputusan Madara- jii chan yang tiba-tiba ingin menikahkanku dengan Itachi dan membatalkan pernikahanku dengan Sasuke.
Entah aku harus senang atau sedih mendengarnya. Ini memang cita-citaku ingin menikah dengan pemuda tampan seperti Itachi, namun di lain sisi entah sejak kapan aku tak bisa mengabaikan Sasuke begitu saja.
Arrrrgghhh! Kenapa jadi runyam begini sih! Kenapa juga aku harus memikirkan perasaan Sasuke di kondisi seperti ini. Dia hanya bocah mesum yang sering kali menggodaku bukan! Tapi kenapa kini aku peduli padanya. Tck sial.
Sepertinya banyak hal yang berputar-putar di dalam benak kami berdua saat ini. Sampai-sampai tak tau apa yang harus kami berdua ucapkan di pertemuan ketiga kami saat ini.
*sakura Pov Off*
.
.
TBC
