DCMK milik Aoyama Gosho
Warning : R18+, Yandere!Kaito, twincest, yaoi, AU, typo(s), OOC, dll.
Mature Content!
(Ntah ini bisa disebut rape atau tidak~)
.
The side you don't know milik Kyuushirou
Part 04
.
Bersamaan dengan jam weker yang berbunyi, sebuah lengan reflek tergerak untuk meraba-raba meja di samping tempat tidur dengan niat mematikan jam tersebut. Merasa gapaiannya tak kunjung sampai, pemilik lengan itu mendengus sebal sambil menggeser tubuhnya untuk mendekati meja di sampingnya. Pikirannya yang masih setengah sadar, merutuk kesal saat ia merasakan sepasang lengan tengah melingkar di perutnya—membuatnya tak bisa bergeser lebih jauh.
Kesal akan suara deringan jam weker tersebut, ia menghempaskan tangan di perutnya dan segera menekan tombol off di jam itu dengan kasar. Setelah deringan memekakan telinga itu terhenti. Ia kembali membawa selimutnya untuk kembali tidur—meski dirinya harus ke sekolah tapi tidur lagi untuk beberapa menit tidak apa-apa kan?
Menyamankan posisi kepalanya di bantal, sang brunette kembali menutup matanya dengan senyum kecil. Lengan yang tadi sempat ia hempaskan, ternyata kembali melilit di tubuhnya. Sang brunette yang masih tak sadar dengan posisinya yang tengah dipeluk oleh seseorang dari belakang hanya berguman pendek seolah mengatakan pada remaja lain kalau dirinya sedang tak ingin diganggu.
Shinichi yang berusaha kembali untuk tidur, nampak gelisah saat merasakan sebuah lengan tengah menelusup masuk ke dalam kemejanya—tangan nakal itu bergerak lembat dengan jemarinya yang mengusap kulit perut Shinichi dengan gerakan sensual—hingga membuat Shinichi mendesah kecil saat jemari itu mulai memilin benda merah muda di dadanya.
Terangsang akan sentuhan-sentuhan di kulitnya, bola mata Shinichi pun kembali terbuka. Maniknya mengerjap berusaha membiasakan biasan cahaya yang masuk ke retinanya. Otaknya mencoba memproses apa yang terjadi, dimulai dengan tubuhnya yang hangat—menandakan seseorang tengah memeluknya dari belakang di tempat tidurnya—dan sepasang tangan yang sibuk menjelajahi kulit dada dan perutnya—uh, apalagi ketika tangan nakal itu terus turun ke bawah dan mencapai selakangannya—
"Huh?"
Panik dengan apa yang ia rasakan, Shinichi langsung melepas jeratan sosok di belakangnya dan segera menendangnya hingga pelaku nakal itu jatuh ke lantai.
"Ouch!"
Pekikan dari suara yang Shinichi kenal langsung membuat sang penyuka misteri menghela napas pendek. Ternyata saudara kembarnya lagi-lagi seenaknya masuk ke kamarnya dan melakukan hal mesum.
Terkadang Shinichi juga bingung pada saudara jahilnya itu, sudah berapa kali—ribuan kali mungkin—ia mengatakan pada Kaito untuk tidak mengendap-endap masuk ke kamarnya dan tidur bersamanya. Tapi sang pesulap terus saja datang seolah peringatannya itu hanyalah angin lalu. Bukannya Shinichi tidak mau untuk tidur seranjang dengan saudaranya. Dirinya hanya tidak ingin mereka terlambat ke sekolah. Karena ia tahu kalau Kaito di pagi hari itu sering 'menyentuh' atau mencium Shinichi sampai lupa waktu. Geez, kebiasan yang aneh.
"Shin-chan jahaaat!" rengek Kaito sambil mengembungkan mulutnya bak anak kecil yang tak diberi uang saku.
Shinichi mendelik ke arah saudaranya. "Salah siapa yang mengendap-endap kemari? Apalagi tanganmu tak bisa diam." Balas Shinichi dingin seraya turun dari tempat tidur dan membereskan selimutnya.
Kaito yang tadinya merengut kini menyeringai setan, ia lalu menerjang Shinichi dan segera menindihnya di atas kasur. Shinichi yang kaget akan serangan tiba-tiba dari Kaito tentu saja berontak. Namun karena lengannya sudah duluan dicengkram oleh Kaito, dirinya tak bisa berbuat banyak. Apalagi ketika sang pesulap sengaja menggesekkan tubuh mereka dengan sensual. Sang penyuka misteri pun hanya bisa mendesah pelan saat Kaito mulai menciumi lehernya sebelum teralih untuk menawan mulutnya dalam pagutan panas penuh lilitan lidah.
"Mmhhph—Kai—" desah Shinichi berusaha menyingkirkan lidah Kaito di dalam mulutnya. Mereka harus segera bangun untuk pergi ke sekolah, bukannya melakukan sesi make-out sebelum bagian bawah mereka mengeras. "Sekolah—mmmhh—bisa ter—lambat—ngh!" lanjutnya seraya berusaha lepas dari cengkraman pemuda di atasnya. Sayangnya, berapa kali pun Shinichi berusaha meronta, tubuhnya terlalu lemas untuk melawan akibat cumbuan Kaito yang membuat napasnya terengah dan tak berdaya.
Mendapati Shinichi yang tengah menatapnya sayu, Kaito pun melepas pagutannya sambil merutuk pelan. "Hm~ padahal aku ingin melanjutkan hal kemarin di kamar mandi, bagaimana kalau bolos saja?" godanya seraya melepas cengkraman di lengan Shinichi.
Ketika lengannya bebas, Shinichi langsung mendorong bahu Kaito dan melenggang pergi menuju pintu. "Kalau kita bolos, Kaa-san bisa kembali menghukum kita. Kau tidak mau disuguhi makanan laut kan?" ia memperhatikan ekspresi Kaito yang berubah horor. Dengan seringai kecil Shinichi pun menyentuh kenop pintu. "Sayang sekali, padahal aku sangat menyukai Sushi...,"
Dan sosok Shinichi pun menghilang dari pandangan Kaito, meninggalkan sang pesulap yang masih berwajah pucat karena teringat akan pobia-nya terhadap i-ik—ugh, Kaito benar-benar tidak ingin menyebut nama makhluk hobi menyelam yang punya sisik dan mata bulat besar layaknya monster atau zombie.
Bergidik ngeri atas bayangannya, Kaito pun memutuskan untuk ikut mandi dengan Shinichi—siapa tahu dirinya bisa dapat jatah—pikirnya jahil. Sebelum ia meninggalkan kamar, irisnya menangkap ponsel saudaranya yang kembali berkedip. Merasakan firasat buruk, Kaito pun berjalan ke arah meja dan mengambil ponsel Shinichi yang tak pernah memakai password.
Ekspresinya mengeras saat membaca isi e-mail tersebut. Padahal ia sudah 'memusnahkan' semua gadis nyalang yang mendekati Shinichi-nya. Kenapa mereka terus berdatangan? Heh. Sepertinya ia akan menemukan mangsa baru~
Menyeringai sadis, Kaito pun membalas e-mail tersebut dan segera menghapusnya. Sang pesulap sama sekali tak menyadari bahwa sepasang iris sapphire telah memperhatikan gerak-geriknya sejak beberapa menit.
.
.
.
Bosan.
Itulah perasaan yang Shinichi rasakan saat ini. Bukannya ia terkesan sombong atau angkuh, tapi pelajaran sejarah yang diajarkan pria berkacamata di depan kelas terasa sangat membosankan. Dirinya yang sudah hapal betul tentang sejarah Jepang—bahkan Dunia karena hobi membaca sejak kecil—tentunya terus menguap saat guru kelewat santai itu bercerita. Oh, Shinichi sangat berharap pelajaran ini cepat selesai. Toh, bisa dipastikan kalau ia akan mendapat nilai sempurna seperti saudaranya.
Berbicara mengenai saudaranya, Shinichi pun melirik bangku di sampingnya dan menemukan Kaito yang tengah menguap lebar. Mendengus geli melihat ekspresi lucu dari Kaito, Shinichi pun mengalihkan pandangannya pada meja kosong di dekat pintu kelas. Sudah empat hari semenjak Mouri Ran dinyatakan menghilang. Pihak polisi yang mencari pun sama sekali tidak menemukan petunjuk kemana gadis karate itu pergi. Ayah Ran yang merupakan detektif swasta sudah mengedarkan berita ke seluruh penjuru Jepang bila ada yang melihat anak semata wayangnya. Akan tetapi, tak ada seorang pun yang tahu keberadaan gadis brunette itu.
Shinichi membuka buku di mejanya dan mulai menuliskan beberapa petunjuk tentang hilangnya gadis itu. Dirinya entah kenapa merasa kalau gadis itu menghilang akibat kesalahannya. Mengingat sebelum gadis itu hilang, dirinya sempat menghabiskan waktu untuk berbincang dengannya. Bila dipikir-pikir sejak Shinichi memasuki SMA, banyak gadis atau pemuda yang menghilang. Anehnya saat ia ingat kembali, semua siswa atau siswi yang menghilang itu adalah orang yang sempat mendekatinya atau mengajaknya kencan.
Tunggu!
Jangan bilang!
Otak Shinichi pun berputar keras, ia mencoba mengingat siapa saja siswa yang menghilang. Irisnya terbelalak kaget saat dirinya menemukan sebuah jawaban yang tak ingin ia ketahui.
Kenapa ia baru sadar sekarang? Setidak pedulikah Shinichi pada lingkungannya sehingga dirinya sama sekali tak sadar bila ada orang yang mendekatinya, orang tersebut akan langsung menghilang keesokan harinya?
Perutnya yang tiba-tiba terasa mual—akibat mengetahui fakta yang sangat tak mengenakan di hati—Shinichi pun mengangkat tangannya dan meminta izin ke UKS dengan alasan tidak enak badan—meninggalkan sosok Kaito yang memandangnya khawatir di dalam kelas.
Sang brunette berjalan gontai menuju ruangan UKS, maniknya sibuk membaca beberapa korban hilang yang berasal dari SMA-nya di ponsel.
Shinichi shock!
Ia tidak menyangka kalau list orang-orang hilang itu sama percis dengan orang-orang yang berusaha untuk mendekatinya. Oh, god! Itu menandakan bahwa seseorang telah 'menghilangkan' siswa-siswi yang mengincar hubungan dengannya. Dan seseorang itu pasti sangat terobsesi padanya hingga mampu berbuat hal gila seperti itu. Saat Shinichi selesai membaca berita tentang hilangnya para siswa, ia menghela napas berat.
Lengannya terulur untuk membuka ruangan UKS, Shinichi merasa beruntung ketika ruangan itu kosong. Dirinya pun berjalan mendekati sebuah ranjang kosong dan menghempaskan tubuhnya. Pikirannya mulai berputar mencari spekulasi paling benar mengenai kasus yang menimpanya.
"Sepertinya aku harus menyelidikinya secara langsung...," gumamnya kalut sambil memperhatikan langit-langit ruangan.
Apapun yang terjadi, Shinichi harus menemukan siapa orang yang telah 'menghilangkan' para siswa dan menghentikannya. Shinichi tidak ingin dirinya menjadi motif pembunuhan berantai hanya atas alasan 'aku tidak ingin Shinichi direbut oleh orang lain'.
.
.
.
"Shin-chan? Tidak biasanya kau pergi keluar." Kaito berkomentar saat melihat Shinichi yang tengah memasang jaketnya.
Shinichi menoleh ke arah Kaito yang merengut. "Aku hanya ingin membeli buku-buku misteri terbaru. Tak akan lama...," jawabnya pendek sambil membuka pintu keluar. "Sampai jumpa." Pamitnya pergi.
Kaito memperhatikan pintu rumah yang tertutup dengan pandangan gelap. Ini aneh, Shinichi tidak pernah ingin pergi sendirian kemana pun! Jika ada buku misteri baru, saudaranya itu selalu memesannya secara online. Bukan hanya itu, biasanya saat ia bilang ingin ikut Shinichi akan mengangguk dan membiarkannya untuk mengikuti. Namun sekarang berbeda, kembarannya itu dengan lantang menolak ajakannya dan bersi keras untuk pergi sendiri—bahkan mengancamnya dengan i—ik—atau apalah itu namanya.
Melihat Shinichi yang bersi keras agar dirinya tak ikut, tentunya membuat Kaito cemburu. Memang apa yang akan kembarannya itu lakukan sampai dirinya tak boleh ikut pergi? Apalagi, sikap Shinichi akhir-akhir ini sangat aneh. Dia mulai menjauhi semua orang yang mencoba mendekatinya tanpa sebab. Bahkan saudaranya yang terkenal dingin itu sempat marah saat seorang gadis menawarinya bento.
Dirinya memang senang karena Shinichi nampak menjauh dari teman-temannya. Tapi kenapa? Sampai saat ini Kaito sama sekali belum mendapatkan jawabannya. Karena sikap Shinichi yang lebih dingin dari biasanya, membuat daftar korban Kaito menurun drastis—sampai ia cukup bosan karena rencana yang ia susun untuk menyiksa sudah banyak namun korbannya sama sekali tak muncul.
Sang pesulap harusnya senang karena Shinichi-nya tidak didekati orang lain. Akan tetapi, sikap dinginnya juga berlaku padanya! Akhir-akhir ini saudaranya itu sangat sulit untuk diajak bicara, bahkan Shinichi terkesan mengurung dirinya di kamar. Saat Kaito mencoba untuk menggodanya dengan menciuminya penuh gairah. Shinichi hanya merespon pasif, seolah tak menginginkan ciuman itu—dan membuat Kaito sangat sedih karena sikap Shinichi yang seperti menolaknya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang menyebabkan Shinichi berubah drastis?
Apakah Shinichi akan meninggalkannya?
Ketika bayangan saudaranya pergi dari kehidupannya sontak membuat sekujur badannya membeku. Indigo-nya membola horor dengan ekspresi takut.
Tidak! Kaito tak akan membiarkan Shinichi pergi! Ia akan menahan Shinichi untuk tetap di sisinya meskipun dia harus mengurungnya!
Dengan pikiran gelap yang menguasai tubuhnya, Kaito pun menyeringai psiko. Ia akan menyiapkan sebuah 'hadiah' pada Shinichi saat saudara kembarnya pulang.
Dan Kaito sama sekali tidak peduli jika Shinichi akan menyukainya atau tidak! Yang jelas, ia hanya akan menjaga apa yang sudah menjadi miliknya!
.
.
.
Shinichi memperhatikan pintu rumahnya dengan pandangan kikuk. Entah kenapa perasaannya saat ini sangat tidak enak. Ia teringat pada sosok Kaito yang diabaikannya karena terlalu fokus pada misi pencariannya. Dirinya sengaja mengabaikan saudaranya, ia takut jika orang yang terobsesi padanya mencelakai Kaito. Makanya ia berusaha untuk menjauhi orang-orang disekitarnya.
Sikapnya yang dingin pada orang lain ternyata berhasil, dirinya menghela napas lega karena tak ada korban lain yang jatuh karena berusaha mendekatinya. Sudah dipastikan kalau 'stalker-nya'—sebutan Shinichi pada pelaku pemusnahan para siswa—hanya menyerang orang-orang yang mendekatinya.
Meremas kantung berisi cake cokelat untuk Kaito di tangannya, Shinichi pun membuka pintu dan mendapati kepulan asap pink yang membuat pandangannya kabur. Sepasang lengan yang memeluknya erat adalah hal terakhir yang ia rasakan sebelum kesadarannya hilang.
.
.
.
"Akh—ahhah—ahhngg!" pekiknya keras. Tubuhnya sangat panas, Shinichi merasakan kalau sebuah lengan tengah mencubit gemas putingnya. Apalagi ketika bagian lehernya tengah digigit dengan kasar hingga dirinya mendesah kencang.
"Nyah—aahhh! Hah—haah—" ia kembali mendesah keras saat sesuatu tengah menghantam bagian selatannya dengan ritme kasar. Tubuhnya sangat lengket oleh keringat, lengannya tak bisa digerakan karena benda keras seperti borgol. Huh?
Ketika ia membuka bola matanya, Shinichi menemukan Kaito yang sedang menyeringai sadis layaknya maniak—seperti orang yang memiliki obsesi tinggi atau seorang psikopat—saudaranya itu juga nampak merona dengan keringat yang mengucur dari dahinya.
Tidak mengerti dengan situasi yang sedang dialaminya, Shinichi mengalihkan pandangannya ke arah tubuhnya yang tak memakai apapun. Telanjang! Lengannya juga diikat oleh borgol di tiang ranjang.
Otak Shinichi terasa buntu saat melihat milik Kaito yang masuk sepenuhnya di lubang bagian selatannya. Huh?
"Ohayou~ Shin-chan~" bisik Kaito dengan nada berat, sang pesulap lalu kembali menggerakan pinggulnya untuk proses in-out hingga membuat Shinichi kembali melenguh antara sakit dan nikmat.
Shinichi yang berusaha memproses apa yang terjadi makin terlena, hantaman milik Kaito di dalam tubuhnya terasa panas dan membuat benda di selakangannya kembali mengeras. Dirinya bahkan tidak peduli dengan tangannya yang terborgol di tiang ranjang. Gerakan liar Kaito saat bercinta dengannya membuatnya tak bisa berpikir jernih.
"Ah—ahhah—Kai—nghhh—" ia merasakan milik Kaito berkedut di dalam tubuhnya—menandakan bahwa saudaranya sebentar lagi akan keluar. Hantaman Kaito yang makin cepat dan kasar membuat Shinichi mabuk sampai akhirnya keduanya keluar di saat yang bersamaan.
"Ah! Shinichi! Kau begitu—ah!"
"Nghh—Kaito—ah!"
Sang penyuka misteri merasakan cairan hangat memenuhi bagian dalam tubuhnya, tubuhnya sedikit bergetar akan sensasi aneh yang pertama kali ia rasakan. Sambil menstabilkan napasnya yang terengah, ia melihat Kaito yang masih menyeringai mesum di atasnya.
Ha?
"Ka—Kaito! Apa yang kau lakukan!" Shinichi menatap Kaito horor saat ia sadar bahwa dirinya telah melakukan hubungan intim dengan saudaranya sendiri.
Kaito terkekeh jahil, ia mengecup sekilas bibir bengkak saudaranya seraya mengelus pipi Shinichi lembut. "Lucu sekali, tentu saja kita melakukan seks. Apa lagi?" jawabnya jahil masih dengan ekspresi yandere-nya.
Wajah Shinichi kembali merona, mengapa saudaranya itu bisa mengatakan hal mesum dengan wajah datar?
"Kenapa! Kau tidak ingat kalau kita saudara sedarah?!" protes Shinichi tak mengerti.
Mendengar nada tak suka dari kembarannya, membuat emosi Kaito kembali naik. "Itu semua karena Shin-chan!" kesal Kaito sambil mencengkram dagu Shinichi untuk menatapnya. "Kenapa akhir-akhir ini kau menjauhiku?" nada sang pesulap sangat tajam hingga membuat Shinichi sedikit bergidik ketika mendengarnya.
Inginnya Shinichi menghindar, namun milik Kaito yang masih tertanam di dalam tubuhnya membuat dirinya tak leluasa bergerak. "Bukan urusanmu!" balasnya singkat sambil menggerakan lengannya yang diborgol.
"Angh!" ia merasakan Kaito kembali menghantam titik kenikmatannya dengan kasar. "Kaito! Hentikan semua ini! Aahh—ngh!" protesnya sambil berusaha menahan desahannya yang selalu lolos dari mulutnya. Dirinya ingin segera membersihkan tubuhnya yang sudah penuh cairan putih—entah miliknya atau Kaito—dan keringat. Jangan lupakan bekas merah keunguan yang menghiasi sekujur tubuhnya. Ada apa sih dengan saudaranya?
Kaito kemudian mencumbu bibir Shinichi dengan penuh gairah, lidahnya memaksa masuk dan menjelajahi mulut pemuda di bawahnya. Pasukan oksigen yang menipis pun membuat Kaito melepas pagutannya—menyisakan Shinichi yang terengah dengan wajah erotik. Indigo-nya lalu memandang Shinichi tajam. "Tidak! Aku tidak akan berhenti sampai Shin-chan mengatakan alasannya!" ia mengangkat kaki Shinichi dan melebarkannya—agar miliknya bisa tertanam lebih dalam di tubuh kembarannya.
—thrust!
—thrust!
—thrust!
"Oh—Kai—nggh—"
Kaito makin gencar melakukan proses in-out-nya—bahkan ia tak segan untuk meremas milik Shinichi dengan erat sekaligus mengocoknya agar saudaranya berteriak penuh kenikmatan. Sang pesulap menyeringai sadis saat melihat Shinichi tak berdaya di bawah kuasanya. Kembarannya itu hanya bisa mendesah; melenguh dan memekik antara nikmat dan sakit. Sungguh pemandangan yang indah bagi Kaito. Apalagi ketika ia memperhatikan bekas kepemilikan yang ia tinggalkan di sekujur tubuh Shinichi, Kaito pastikan kalau bekasnya tak akan hilang berhari-hari—jika hilang pun dirinya akan kembali membuat yang baru.
Melihat ekspresi Shinichi yang terlihat kepayahan, membuat Kaito kembali menyerang area leher kembarannya sebelum kembali memagut bibir Shinichi. Ia mempercepat tempo gerakannya ketika merasakan tubuh Shinichi yang berusaha bergerak mengikuti iramanya. Bagian selatan Shinichi yang makin menghimpit milik Kaito, membuat kejantanannya bertambah besar dan kembali berkedut—seolah siap untuk melepaskan kembali benihnya di dalam tubuh Shinichi.
Saat Kaito dan Shinichi kembali keluar. Sang penyuka misteri menyerah, ia sudah tidak kuat dengan permainan kasar Kaito yang membuat sekujur tubuhnya sakit—apalagi bagian bawahnya—bisa dipastikan kalau dirinya tak akan bisa berjalan beberapa waktu.
Sang pesulap yang ingin melanjutkan kegiatan mereka, terpotong saat Shinichi memejamkan matanya erat dengan air mata yang mulai jatuh. "Stop! Kaito, hentikan semua ini." Nada Shinichi terdengar sendu. "A-aku menjauhimu karena aku tak ingin kau menghilang...,"
Sang pesulap pun menghentikan niatnya, ekspresinya berubah sedih ketika melihat kondisi saudaranya yang sangat memprihatinkan.
"Aku menyelidiki sebuah kasus, aku tahu kalau ada seseorang yang terobsesi padaku hingga ia membunuh orang-orang yang berusaha mendekatiku. Makanya akhir-akhir ini aku mengabaikanmu." Jelas Shinichi pelan, maniknya lalu memandang Kaito yang sepertinya diam membeku. Menautkan alisnya heran, Shinichi pun lalu memasang ekspresi kesal. "Sekarang giliranku, mengapa kau melakukan hal ini?"
Kaito menundukkan wajahnya, ia kemudian mengeluarkan miliknya perlahan dari tubuh Shinichi—membuat cairan putih bekas Kaito ikut keluar, membasahi kain putih di bawahnya—sang penyuka misteri pun kembali bersemu ketika merasakan cairan lengket itu perlahan mengalir dari lubangnya. Ugh.
"Na, Shinichi." Nada Kaito terdengar serius. "Bagaimana jika aku bilang kalau akulah yang membunuh semua orang yang mendekatimu?" lanjutnya dengan hawa dingin yang sangat menakutkan. Bahkan kilatan jahil yang selalu terlihat di indigo itu, kini nampak menggelap seolah tak memiliki ekspresi apapun selain kelamnya hati.
"Karena kau adalah milikku yang tak akan kubiarkan kabur meski kau membenciku."
Mendengarnya Shinichi hanya bisa menatap horor sang pesulap.
Dan Shinichi berharap bahwa apa yang didengarnya saat ini hanyalah sebuah mimpi belaka.
-TBC-
Terima kasih sudah membaca!
