Disclaimer : semua karakter milik J.K. Rowling. I don't own here.

Pairing : Draco Malfoy / Hermione Granger

Rated : T

Timeline : Tahun ketujuh setelah perang Hogwarts. Hermione dan Draco menjadi Ketua Murid.

Summary : Draco Malfoy menerima tantangan untuk menaklukkan hati Hermione Granger. Apa saja usaha yang akan dilakukannya? Berhasilkah?

A/N : Wah, aku ga nyangka deh respon buat chapter 3 kemarin banyak banget...^^ Thanx yah buat yang udh review, kasih saran, kritik, dsb. Chapter 4 ini persembahan buat kalian semua...*ceilah. Hahaha...Moga kalian semua suka ya...:)

Warning! OOC, GaJe, Typo, Humor garing, dan kekurangan lainnya. Boleh dikritik kok, selama kritik itu membangun..:)

Happy Read and Review, please.


.

Mission Impossible

.

#4: Mission Three: Protect or Be Patient

.

Pagi itu suasana Hogwarts masih sangat sepi. Masih terlalu pagi untuk semua orang bangun dari dunia mimpi masing-masing. Pagi itu hanya diisi oleh suara-suara kicauan burung yang terbang melintasi Hogwarts.

Sampai keheningan pagi itu pecah di asrama Ketua Murid, yang ditempati oleh dua pribadi yang bertolak belakang dan sedang bersitegang dalam beberapa hari terakhir.

"MALFOY!" Suara Ketua Murid Putri, Hermione Granger melengking penuh amarah.

Hermione berjalan dengan cepat menuju ke kamar Ketua Murid Putra dan menggedor pintunya dengan marah.

"MALFOY! KELUAR KAU!" Raung Hermione ketika seruannya tidak ditanggapi oleh si Ketua Murid Putra, Draco Malfoy.

"Apa maumu, Granger? Tidak bisakah kau tidak menggangguku sepagi ini?" Bentak Draco yang akhirnya muncul dari kamarnya dan langsung berhadapan dengan Hermione yang menatapnya murka.

"Jangan pura-pura tidak tahu! Kau memang menyebalkan, Malfoy!" Seru Hermione.

"Apa sih maksudmu, Granger? Membangunkanku pagi-pagi, berteriak-teriak dan mengataiku macam-macam? Memang apalagi yang kulakukan?" Tukas Draco yang mulai naik darah.

"Langsung saja, Malfoy! Kembalikan esai Pertahanan terhadap Ilmu Hitamku yang kau ambil!" Tuding Hermione sambil mengulurkan tangannya.

Draco menatapnya dengan dahi berkerut. "Apa maksudmu?" Tanyanya bingung.

"Jangan main-main, Malfoy! Apa belum cukup semua tingkahmu yang menyebalkan dari kemarin itu? Kembalikan esai-ku sekarang juga! Kau tahu kan kalau esai itu harus dikumpulkan pagi ini juga! Jam pertama! Aku tidak mau di detensi karena di anggap tidak mengerjakan esai-ku!" Teriak Hermione histeris.

"Kalau memang kau belum mengerjakannya, jangan menuduhku mengambilnya! Akui saja kalau kau memang belum mengerjakannya," tukas Draco yang merasa sebal karena tidurnya di ganggu.

"Memangnya kau pikir aku pernah tidak mengerjakan tugasku, Malfoy?" Desis Hermione berbahaya.

"Barusan aku berpikir seperti itu," jawab Malfoy tenang.

"Kau—"

"Aku memang tidak mengambilnya, Granger! Kenapa kau menuduhku seperti itu sih? Memang untuk apa aku mengambilnya? Apa wajahku seperti wajah pencuri?" Tuntut Draco.

"Kalau kau memang tidak berwajah seperti itu, tentu aku tidak akan mencurigaimu, Malfoy!" Balas Hermione.

"Jadi maksudmu aku berwajah seperti pencuri?"

"Oh—lihat saja wajahmu dan seringaimu yang mencurigakan itu," kata Hermione sambil melipat kedua tangannya dan menatap Draco dengan pandangan menilai.

"Berapa kali harus kukatakan kalau aku tidak mengambilnya?"

"Mengaku saja!"

"Tidak!"

"Kau mengambilnya kan?"

"Tidak!"

"Malfoy!"

"Apa, Granger?"

"Kau memang—"

"Hermione!" Rambut merah menyala milik Ron Weasley muncul di pintu masuk asrama Ketua Murid. Dibelakangnya, Harry Potter mengikuti sambil nyengir bersalah.

"Hermione, kenapa kau berteriak-teriak? Apa Malfoy melakukan sesuatu? Katakan padaku, Malfoy! Apa yang sudah kau lakukan?" Kata Ron dengan nada marah pada Draco. Tapi Hermione tidak mendengarkan kata-kata Ron. Matanya tertuju pada gulungan perkamen yang dibawa Ron.

"Itu esai-ku!" Seru Hermione tiba-tiba sambil menunjuk pada gulungan perkamen di genggaman Ron.

Ron melongo sesaat. "Oh—err—ini—iya—eh—"

Sebelum Ron sempat berkata lebih banyak lagi, Hermione sudah merebut gulungan perkamen itu dan membukanya.

"Benar kan, ini esai-ku! Beraninya kau mengambilnya tanpa ijinku! Beraninya kalian!" Desis Hermione murka sambil menatap Ron dan Harry. "Apa kalian tidak tahu betapa cemasnya aku melihat esai-ku sudah tidak ada lagi di tempatnya? Apa kalian tahu berapa waktuku yang terbuang sia-sia untuk menggeledah kamarku dan mencari esai itu? Seharusnya aku bisa belajar pagi ini! (Draco mendengus dan Ron melongo) Apa kalian tahu betapa menyeramkannya bayanganku tentang professor Davis yang memberiku detensi? Apa kalian—"

"Yeah, apa kalian tahu kalau dia sampai berteriak-teriak padaku, membangunkanku dan menuduhku sudah mengambil esai itu?" Timpal Draco yang merasa kesal karena disalahkan atas sesuatu yang dilakukan oleh si Weasel-berambut-merah itu.

Ron hanya menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu. Jiwa Gryffindor-nya seketika menciut dibawah pandangan murka satu singa Gryffindor dan satu ular Slytherin. Ron menatap Harry dengan tatapan memohon bantuan, tapi Harry hanya membalasnya dengan cengiran bersalah dan tatapan yang mengartikan itu-memang-salah-kita. Ron menggerutu pelan.

"Jadi, apa penjelasan kalian?"

"Kau harus minta maaf padaku dulu, Granger!" Tuntut Draco yang merasa dirugikan.

"Diam dulu kau, Malfoy!" Bentak Hermione. Walaupun begitu, rona merah menjalari pipi putih Hermione. Terlihat jelas bahwa gadis itu sedang menahan rasa malunya karena sudah menuduh Draco atas sesuatu yang tidak dilakukan pemuda pirang itu. "Katakan padaku, kenapa—"

"Granger!"

"Oh, baiklah, Malfoy! Aku minta maaf, oke?" Kata Hermione.

"Itu tidak tulus, Granger! Kau tidak benar-benar meminta maaf dan merasa bersalah padaku," ujar Draco dengan seringai yang sama menyebalkannya seperti biasa.

"Kenapa aku harus merasa bersalah padamu?" Hermione tampak sedikit tidak rela harus meminta maaf pada Draco.

"Karena kau memang salah, Granger," kata Draco yang sekarang tampak puas bisa menyalahkan Hermione.

"Oke! Baiklah! Aku minta maaf, Malfoy."

Draco hanya menyeringai menatap Hermione. Kemudian dia masuk ke dalam kamarnya setelah berkata, "Aku belum bilang bahwa aku memaafkanmu, Granger."

Hermione menatap tidak percaya ke arah pintu dimana Draco menghilang dibaliknya. Setelah beberapa detik menegangkan bagi Harry dan Ron, akhirnya Hermione berbalik menghadapi kedua sahabatnya.

"Ini semua gara-gara kalian," desisnya sambil berbalik dan kembali ke kamarnya dengan membanting pintu meninggalkan kedua sahabatnya.

"Hei, dia bahkan tidak memberikan kita kesempatan untuk bicara," ujar Ron.

"Sudahlah, Ron. Lagipula apa kau pikir dia akan menerima alasan kita kalau kita mengambil esainya untuk dicontek karena kita belum selesai mengerjakannya?" Kata Harry.

"Yeah, kau benar, Harry," jawab Ron sambil mengangkat bahu.

.

.

Sabar.

Sabar adalah cara yang di anjurkan oleh Theo. Pemuda itu memang lebih mudah di ajak berdiskusi daripada cowok centil Zabini itu, gerutu Draco dalam pikirannya.

Menurut Theo, untuk menghadapi wanita seperti Hermione, sabar adalah kuncinya. Pantang menyerah, Tidak cepat putus asa, Coba terus dan intinya adalah sabar.

Draco mendengus. Bisakah dia bersabar dalam menghadapi Nona-Tahu-Segala itu? Bersabar artinya Draco tidak boleh membalas semua kata-kata gadis itu. Bisakah Draco tidak mencibir Hermione walau hanya sehari?

Bagaimana Draco bisa bersabar jika tadi pagi saja gadis itu sudah mencari gara-gara dengannya? Menuduhnya sebagai seorang pencuri essai, huh? Memangnya wajah tampannya ini terlihat seperti pencuri? Memangnya Draco tidak bisa mengerjakan esai itu lebih baik dari Hermione?

Belum lagi jika mengingat detensinya dengan Slughorn karena keterlambatannya yang hampir setengah jam di kelas ramuan. Tapi dia terlambat karena saat itu terjadi insiden 'Buku- yang- melemparkan- dirinya- karena- jatuh- cinta- pada- Draco- Malfoy- yang- beruntung' dan hal itu disebabkan oleh Hermione Granger. Yang lebih menyebalkan bagi Draco, Hermione sama sekali tidak terlambat! Tentu saja—karena Granger itu kan tidak perlu memeriksakan kepalanya terlebih dahulu karena buku tebalnya itu hanya menghantam kepala Draco. Tapi kan—Hei! Jika si Granger itu lebih hati-hati, bukunya tidak akan jatuh menimpa kepala Draco dan Draco tidak akan terlambat karena harus menemui Madam Pomfrey terlebih dulu.

Yah—tapi tidak ada salahnya dicoba. Sabar, Draco. Blaise akan mengakui kehebatanmu jika kau benar-benar berhasil membuat si keriting itu jatuh hati padamu. Draco menjadikan itu sebagai motivasinya untuk pantang gagal mendekati Hermione dan mendapatkan hatinya.

.

.

Melindungi. Menurut buku Dua Belas Cara Pantang-Gagal Memikat Penyihir Perempuan, wanita itu biasanya butuh untuk dilindungi. Wanita membutuhkan seorang pria yang bisa melindunginya dan niscaya, wanita itu akan luluh atas pengorbanan seorang pria yang melindunginya. Huh, memangnya Draco harus mengorbankan dirinya dulu untuk mendapatkan Hermione?

Misi ketiga Draco dihari ketiga taruhannya ini adalah 'Menjadi Bodyguard untuk Hermione Granger'. Baru memikirkannya saja sudah membuat Draco ingin sekali memukul kepala Blaise—yang sudah mengusulkan dan melibatkannya dalam permainan ini.

Dengan berat hati dalam menjalani tugas misinya hari ini, Draco turun ke ruang rekreasi. Saat Draco membuka pintu kamarnya, diwaktu yang bersamaan, Hermione Granger juga membuka pintu kamarnya. Mereka berdua terpaku sesaat dengan mata saling menatap sebelum melangkahkan kaki bersama menuju ruan rekreasi.

"Mau kemana kau, Malfoy?" Tanya Hermione.

"Mau kesini," jawab Draco sekenanya.

Hermione menggeretakkan giginya. "Tidak bisakah kau menjawab dengan benar, Malfoy?"

"Aku menjawabnya dengan benar, Granger," ujar Draco sambil menyeringai.

"Itu bukan jawaban, Malfoy!" Geram Hermione.

"Dan kenapa kau mau tahu, Granger?" Tanya Draco dengan gayanya yang menyebalkan.

Hermione mendengus dan memilih untuk tidak melanjutkan percakapan yang bisa berujung pada perdebatan itu. Dia berjalan cepat melewati Draco—yang mengikutinya keluar asrama. Hermione terus berjalan tanpa mempedulikan Draco yang mengikutinya dibelakang sambil bersenandung.

Setelah beberapa lantai, Hermione berhenti berjalan dan berbalik menatap Draco dengan kesal.

"Kenapa kau mengikutiku, Malfoy?" Tuding Hermione.

"Kau tahu aku mengikutimu?" Balas Draco dengan sok terkejut.

"Tidak usah sok terkejut seperti itu, Malfoy! Katakan padaku, kenapa kau mengikutiku?"

"Hanya menjagamu."

Hermione menganga mendengar jawaban Draco. Pemuda itu bahkan mengatakannya dengan lancar, tanpa cibiran dan tanpa seringaian. "Ap—menjagaku? Menjagaku dari apa?"

"Dari kesialan karena darahmu, Granger," jawab Draco dengan wajah serius.

Oke. Sekarang Hermione tidak lagi merasa tersanjung. Ingin sekali Hermione mengayunkan tasnya ke arah wajah menyebalkan itu.

"Terima kasih, Malfoy," kata Hermione dengan ketus. "Tapi aku tidak membutuhkan penjagaanmu. Aku bisa menjaga diriku sendiri."

Hermione menegakkan badannya, mengangkat dagunya dan berbalik. Dia berjalan lagi beberapa langkah dengan cepat menuju tangga. Tapi gadis itu tahu bahwa Draco masih mengikutinya dibelakang.

"Malfoy, berhenti mengiku—" Saat Hermione berbalik untuk menghadapi Draco lagi, kakinya tergelincir tangga dan gadis itu kehilangan keseimbangannya.

Hermione menutup matanya dengan ngeri dan menunggu dirinya jatuh terguling atau mungkin dia akan merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Tapi yang dia rasakan justru tangan yang memeluknya dan menahannya supaya tidak jatuh.

Hermione membuka matanya perlahan dan mendapati sepasang bola mata abu-abu sedang balas memandang ke dalam mata cokelatnya.

Draco Malfoy kembali menyunggingkan senyum kemenangan. "Itulah gunanya aku menjagamu, Granger."

Kata-kata Draco itu membuat Hermione harus susah payah untuk menahan rona merah supaya tidak muncul dan terlihat oleh Draco. Hermione menemukan kembali keseimbangannya dan segera melepaskan diri dari pelukan Draco.

"Baik.—Terima kasih," ucap Hermione dan kemudian segera pergi meninggalkan Draco.

Draco tersenyum ditempatnya berdiri. "Tidak buruk," gumamnya sambil mengingat-ingat wajah Hermione yang bersemu merah tadi.

Dengan langkah yang lebih ringan, Draco berjalan menuju ruangan Slughorn untuk menjalankan detensinya.

.

.

Draco kembali keruang asramanya dengan tubuh dipenuhi lendir dan bau. Seperti biasa, detensi dari si siput tua Slughorn selalu menyebalkan bagi Draco. Terakhir kali dia di detensi dulu, dia disuruh untuk mengidentifikasi ramuan-ramuan tidak berlabel. Dan baru saja, Draco disuruh memilah-milah telur kodok, acar kodok, siput dan berbagai hewan berlendir lainnya dan memasukkan mereka ke tempatnya yang sesuai. Dilarang menggunakan sihir—tentunya.

Sekarang Draco jadi dipenuhi oleh lendir. Belum lagi bajunya basah terkena keringat. Ditambah dengan baunya yang sangat tidak mengenakkan.

Beruntung Draco tidak bertemu dengan siapapun dalam perjalanannya kembali ke asrama kecuali dengan Baron Berdarah. Well— setidaknya Baron tidak tahu betapa baunya dia sekarang.

Tapi bayangkan saja jika ada serombongan gadis yang suka mengikik melewatinya. Draco bergidik membayangkannya. Bisa-bisa hancur reputasinya di hadapan fans girlnya.

Draco memanjat naik ke dalam ruang rekreasi dan langsung menuju ke kamar mandi. Seluruh badannya terasa lengket dan dia sudah tidak tahan dengan baunya.

Draco memutar knop pintu kamar mandi dan menyadari bahwa pintunya dikunci. Dan itu berarti, ketua murid perempuan sedang menggunakan kamar mandi.

"Granger!" Draco menggedor pintu kamar mandinya dengan cukup keras. "Granger, cepat keluar!"

"Tunggu saja sebentar, Malfoy!" Terdengar suara balasan Hermione dari dalam kamar mandi.

"Bisakah lebih cepat, Granger? Aku butuh membersihkan diri saat ini!"

"Aku juga butuh, Malfoy!" Jawab Hermione lagi.

Draco menggerutu pelan. Tubuhnya sudah terasa gatal-gatal sekarang. Tapi dia tidak mau mengambil resiko memulai pertengkaran lagi. Bisa-bisa penampilannya nanti jadi lebih berantakan daripada sekarang. Lagipula dia masih mengingat usulan Theo. Sabar, Draco.

Akhirnya setelah sepuluh menit yang terasa sangat lama bagi Draco, Hermione keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju mandinya. Hermione tercengang melihat penampilan Draco. Draco Malfoy yang terkenal akan kebersihannya, sekarang jadi berlumur lendir dan bau seperti itu?

"Bbbuufff—" Hermione berusaha menahan tawanya melihat penampilan Draco.

"Jangan tertawa, Granger!" Geram Draco.

"Baru saja mandi siput, Malfoy? Kuingatkan kau, keran didalam tidak ada yang berbau wangi siput," gurau Hermione sambil tertawa kecil.

"Tutup mulut, Granger!" Tukas Draco gusar. Kemudian dia menerobos masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Hermione yang masih tertawa-tawa sambil menggelengkan kepalanya.

.

.

Draco masih berpikir di dalam kamarnya. Dia tahu bahwa Hermione adalah gadis yang tidak memerlukan perlindungan. Kecerobohan seperti tadi hanyalah kebetulan dan kecil kemungkinan akan terulang. Kalau begitu, bagaimana Draco bisa bersikap sok pahlawan dan membuat Hermione luluh padanya?

Draco harus membuat satu situasi yang membuat Hermione berada dalam kondisi yang menakutkan dan barulah Draco bisa bersikap sebagai pahlawan.

Tapi—apa yang ditakutkan oleh Hermione Granger?

Dalam situasi apakah gadis itu bisa merasa takut?

Setelah berpikir selama beberapa saat lagi, Draco menjentikkan jarinya. Dia tahu! Dia tahu apa yang harus dilakukannya! Dia tahu situasi apa yang bisa membuatnya 'hebat'. Dia tahu situasi apa yang menakutkan bagi Hermione.

Mission Three: Ini belum berakhir!

Don't Forget, Draco! Be Patient!

.

To be continue...

-Felicia Rena-

.


A/N: Nih Draco kok tambah OOC ya? *ngringkuk dibawah meja. Mohon ripiu-nya lagi boleh? :D Seperti yang kemarin-kemarin, balasan anonymous review ada dibawah and yg pake akun, aku bales lewat message. ^^

Enaknya ini dibikin berapa chapter ya? Kalo yang mau agak banyakan, bantuin dong cari ide buat usahanya Draco...:D


Balasan review chapter kemarin:

Alice the dark rabbit: Hai. Thanx ya dah review. Jangan sungkan review lagi. Hohoho..xD Masih kurang puaskah ama panjang chapter ini? :D Okke, tar aku pikirin gimana biar Draco tambah usil...:)

Anak hilang: Hai. Thanx ya reviewnya. Thanx juga buat sarannya. Sebenernya sih aku emang niat bikin ada humornya di bagian usaha2nya Draco. Maap yah kalo humornya ga kerasa.

Lily love snowdrop: Thanx yah dah revieww lagii...^^ Thanx juga dah ngasi ide ya..Bisa di olah nanti..Hehehe...^^

Puputkawaii: Hahaha.. Thanx bgt yah usulnya...:) Bikin ide aku jalan loh...xD

Yanchan: Hai. Thanx ya reviewnya..^^ Ditunggu review brikutnya..xD

Zean: Hahaha..kita lihat gimana nanti endingnya ya..xD thanx dah revieww..^^

Aichiruchan Phantomhive: Maaf baru di update sekarang..:) Thanx reviewnya...

devintha malfoy: Taktik bikin jealous ya? Hmm..bisa dipikirin kok tar..hehhee...thanx ya idenya..thanx juga buat reviewnya..jangan lupa review chapter ini juga ya..^^

Lizzie: Udah apdet lhoo..Review lagi ya..^^

Caco: Hahahha...Draco emang PD banget ya..*direbus Draco. xD sebenernya sih aku ga rencana bikin 1 misi 1 chapter, cuma lihat perkembangan aja gimana..hahaha...xD

Just ana g login: Romance ya? Sabar aja. Aku usahain romancenya biar kerasa nantinya, soalnya kau ga pinter bikin romance sih..xD. Tapi sabar dulu aja ya. Buat sekarang romancenya belum nongol..:)

Kezjesslyn: Thanx reviewnya...Ini udah di apdet..:)