Beep Beep
Author : gaemkevin [deercode]
Genre : Mystery, Horror, Romance, Siblingship
Rated : T
Cast : LuhanBaekhyun[sibling], Sehun, Kai, and other
Pair : HunHan, Kaibaek.
Summary : "Beep Beep. Beep Beep. Beep Beep". Apa itu? Terengar begitu aneh namun lucu. Apa aku boleh mengangkatnya?
Warn : genderswitch![forLuBaek] / Typos / Abal / Gaksherhem / KurangNendang / dan lain lain.
A/N : first horror fic i made. Sorry if this to bad or you dont like it. Inspiration from SNSD's new title song : Beep Beep. Enjoy it
.
.
.
Chapter 4
.
Beep Beep
...
..
.
DOK DOK DOK
"Buka pintunya sayang!"
"Andwae!"
"Kau harus membuka pintu ini! Kakakmu tidak akan pulang, jadi aku yang akan menemanimu!"
Gadis dibalik pintu itu bergetar. Dia menggenggam erat dress coklat yang sedang ia genakan.
"Tidak..tidak..tidak akan.." isaknya pelan.
BRAK!
Matanya membulat. Pintu itu terbuka lebar menampilkan lelaki dengan seringaiannya yang mengerikan. Lelaki itu menutup pintu dan menguncinya.
"Aku akan menemanimu malam ini sayang... kemarilah.."
Gadis itu bergetar. Dia menggeleng cepat dan berlari masuk. Belum sampai masuk kekamar, tangannya ditarik oleh lelaki tadi dan tubuhnya terhempas disofa.
"Kau tak akan bisa kemana-mana, manis.. Aduh kau cantik sekali,"
Lelaki itu meraba-raba tubuh gadis tadi dengan mesum.
"TIDAK! LEPASKAN!" jerit gadis itu sambil berusaha menghindari bibir lelaki yang terus meraih bibirnya.
"Jangan berisik, kau akan menganggu tetangga,"
"LEPASKAN! TOLONG! TO—MMPH!"
"Kubilang jangan berisik..." lelaki itu melepas perlahan bekapannya dan mencium bibir ranum itu kasar.
"MMPH! HHMP!"
Gadis tadi terus saja meronta. Dia mencoba melepaskan tangannya dan meninju pipi lelaki kurang ajar itu.
BUAGH! BRUGH!
Gadis itu cepat-cepat menghindar dan meraih gagang telepon disamping kamarnya. Tangannya dengan cepat menekan nomor polisi yang ia hafal.
"Tolong angkat.. aku mohon.." tangis gadis itu dengan tangan gemetar. Dia melihat kebelakang mengecek lelaki tadi tapi tidak ada siapa-siapa.
Gawat. Dimana dia?! Lelaki itu bisa menyerangnya kapan saja!
CTEK. "Yobosseyo?"
"Ah, halo aku ingin meminta bantuan. Aku mohon, aku—"
JLEB
.
.
Luhan membuka matanya dan langsung terduduk. Dia memegang dadanya yang berpacu cepat. Lagi-lagi dia dapat mimpi aneh.
"Luhan, kau sudah sadar?"
Luhan menoleh dan mendapati Sehun disampingnya. "Sehun.. ini di—"
"Dikamarmu. Tadi kau pingsan setelah melihat.." Sehun tak melanjutkan bicaranya. Takut membuat Luhan shock kembali.
Luhan memegangi kepalanya yang masih berdenyut-denyut.
"Baekhyun dimana?"
"Dia sama sepertimu. Dia juga jatuh. Tapi yang berbeda.. dia jatuh setelah eum.. 'wanita' itu menyentuh pipinya,"
"A—apa?!" tanya Luhan kaget. Dia segera membuka selimut yang menelingkupinya dan berlari ke kamar Baekhyun.
"Luhan! Aish— anak itu!" gerutu Sehun. Dia membetulkan posisi selimut Luhan dan menyusulnya menuju kamar Baekhyun.
.
.
BRAK!
"Baekhyun!"
Kai yang sedang menciumi tangan Baekhyun menoleh dan tersenyum pada Luhan. "Kau sudah sadar?"
Luhan acuh. Dia mendekati Baekhyun yang masih memejamkan matanya rapat. Kai yang mengerti menyingkir dan berdiri. Mempersilahkan Luhan untuk duduk ditempatnya tadi.
Luhan terduduk dan menggenggam tangan Baekhyun lembut. Tangan satunya lagi dipakai untuk mengelus surai halus coklat milik Baekhyun.
"Baekhyunnie.. Bangun, sayang.." bisik Luhan lirih.
Kai memegang pundak Luhan. "Dia mungkin masih shock, Luhan,"
"Bagaimana bisa?" tanya Luhan. "Bagaimana bisa hantu sialan itu menyentuh pipi adikku?"
"Aku.. maafkan aku.. aku tidak sadar, yang kutau 'wanita' itu sudah ada didepanku dan menyentuh pipi Baekhyun. Maafkan aku,"
Sehun yang baru masuh langsung menghampiri mereka berdua.
"Aku takut. Baekhyun tak akan mati, kan?" tanyanya pelan.
Sehun dan Kai menggeleng kompak.
"Itu tidak mungkin, sayang," jawab Sehun sambil mengelus kepala Luhan.
Luhan terdiam. Wajahnya menuduk memperhatikan wajah cantik adiknya yang terlihat pucat. Kai duduk ditepi ranjang sedangkan Sehun berjongkok disamping Luhan.
"Sehunnie, Kai.."
"Ya?" jawab Sehun dan Kai berbarengan.
"Aku.. aku mimpi.."
"Mimpi apa?" tanya Kai cepat.
Luhan terdiam sebentar. "Aku tidak tau..."
"Ceritakan, Lu. Pelan-pelan," ucap Sehun sambil mengelus lengan Luhan. Luhan meneguk air liurnya.
"Ada seorang gadis.. dia.. dia gadis yang itu.."
Kai dan Sehun mengangguk paham yang dimaksud Luhan 'gadis itu'.
"Teruskan,"
"Di sendirian dirumah.. diluar ada yang menggedor-gedor pintu dengan brutal ingin masuk. Tapi gadis itu terlihat sangat.. ketakutan. Dia menangis. Pintu didobrak dan masuk seorang lelaki.. aku tak tau.. mukanya tak terlihat jelas..."
Sehun berdehem. "Tak apa, Lu. Lanjutkan saja,"
Luhan mengangguk. "Dia masuk.. gadis itu langsung berlari. Tapi.. belum sempat kekamar.. tangannya ditarik dan.. tubuhnya dihempas di sofa.. lelaki itu menciumnya dengan kasar.. lalu gadis itu meninju pipinya.. membuatnya tersungkur kebawah.. gadis itu.. dia.. dia.."
"Lu, tenanglah," Sehun memeluk Luhan saat melihat badannya yang mulai bergetar.
Luhan menggeleng pelan.
"Dia.. dia menelpon.. dia menelpon dengan menggunakan telepon itu.. Kai.. Sehun.."
Lagi, Kai dan Sehun mengangguk. Mereka mengerti walaupun Luhan tak jelas berbicara tentang apa 'itu'.
"Tapi.. tapi dia.. dia di—"
TING TONG
Kepala mereka kompak menoleh kearah pintu.
"Biar aku yang buka," Kai berdiri dan berjalan keluar kamar menuju pintu depan.
CKLEK
"Sia—oh.." muka Kai berubah masam melihat lelaki berusia 38 tahun dihadapannya, Jonghun.
"Hai, pemilik Baekhyun," sapa Jonghun dengan senyuman.
Kai menatapnya aneh. "Untuk apa kau kesini?"
"Aku hanya ingin bertemu Baekhyun. Tidak boleh?"
BRAK
Dan Kai langsung menutup pintu lalu kembali lagi kekamar.
"Siapa Kai?" tanya Luhan.
"Tetanggamu yang otaknya miring,"
Mata Luhan membulat. Dia cepat-cepat berlari kearah pintu utama.
"Jonghun-ssi?!"
"Ya, Luhan-ssi?"
Luhan mendesah lega saat masih menemukan Jonghun yang berdiri tegak di depan pintu apartemennya dengan senyuman seperti biasa.
"Silahkan masuk," kata Luhan menyingkirkan tubuhnya memberi jalan untuk Jonghun lewat.
"Mana Baekhyun?" tanya Jonghun. Luhan menutup pintu dan berjalan duluan. Dia memberi isyarat pada Jonghun untuk mengikutinya.
Mereka berdua berjalan bersama menuju kamar.
"Lho? Itu Baekhyun?" tunjuk Jonghun pada gadis yang terbaring pucat. Luhan mengangguk. Jonghun mendekati ranjang. Tangannya terulur ingin menyentuh pipi Baekhyun.
PLAK
"Jangan sentuh," ujar Kai dingin. Dia berdiri dihadapan Jonghun dan menghalangi aksesnya melihat Baekhyun. Tentu langsung mudah tertutup, Kai lebih tinggi dari Jonghun.
"Kai!"
"Tak apa, Luhan. Tidak masalah," ucap Jonghun sambil tersenyum. Dia menyingkir dari Kai dan berdiri di sebelah Sehun yang juga menatapnya aneh.
"Kalian berdua kenapa? Dia Jonghun. Tetangga sebelah, dia baik. Kenapa kalian menatapnya seperti itu?" protes Luhan tidak suka.
Kai acuh sedangkan Sehun diam saja.
"Ngh.. K—Kai.. Kai.."
Keempat mata orang yang ada dikamar tertuju ke Baekhyun.
"Ya? Ini aku, Baekkie," Kai menggenggam tangan Baekhyun erat.
"Ngh.. K—kai.. Jangan pergi.. hiks.." rintihnya.
"Tidak. Aku disini, sayang. Buka matamu," bisik Kai lembut. Dia mengusap air mata yang keluar dari mata Baekhyun yang masih terpejam.
Baekhyun membuka perlahan matanya. Pandangannya buram tertutup air mata. Kai tersenyum dan mengusap air itu pelan. Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali dan menengok kearah Kai.
Badannya langsung bangun dan memeluk Kai erat membuat lelaki itu hampir jatuh kebelakang.
"Baekhyun? Wae—"
"Jangan Kai. Jangan pergi. Hiks.. Aku gak mau.." tangis Baekhyun. Baju Kai dibuat basah olehnya.
Kai melepas pelukan Baekhyun dan menangkup kedua pipinya. "Tidak. Aku tidak pergi. Aku disini, lihat?" jarinya diusapkan kemata Baekhyun membuat aliran air mata itu putus.
Baekhyun mengangguk. Matanya tak sengaja menangkap sosok Jonghun yang berdiri disamping Sehun.
Mata Baekhyun meredup. Tangannya mencengkram kuat pundak Kai. Tubuhnya gemetar.
"Baekhyun-ah? Kau kenapa?" tanya Sehun yang bingung dengan perubahan Baekhyun.
"Di—dia Kai.." bisik Baekhyun. "Dia yang membunuhmu.."
Kai melotot. "Hah? Baekhyun? Kau bicara apa?"
Baekhyun menggeleng pelan. "Jangan dekati dia Kai.. Kau dibunuh.. Hiks.." isak Baekhyun pilu.
Kai menatap Jonghun yang menatapnya—sok—bingung.
"Bawa dia keluar Lu," suruh Kai. Luhan mendelik.
"Kai kau—"
"Cepat," suruh Kai dengan nada dingin. Luhan diam. Terpaksa dia mengangguk dan meminta Jonghun keluar.
.
.
"Ah, Jonghun-ssi! Tunggu!" cegat Luhan saat Jonghun sudah akan keluar kamar. Luhan menarik tangan Jonghun menuju ke arah telepon diluar kamar.
"Aku tidak bermaksud ingin tau. Tapi memang itu sih sebutannya. Kau tau telepon siapa ini?"
Jonghun terlihat terkejut saat Luhan menunjuk sebuah telepon usang tak layak pakai.
"Aku tidak tau. Namun aku merasa tidak nyaman dengan kehadiran benda ini diapartemenku. Kalau boleh tau siapa seseorang yang tinggal disini sebelum aku dan adikku? Aku ingin mengembalikannya kalau memang dia—"
"Aku tidak tau. Sungguh, aku tidak tau,"
Luhan mengeryit saat melihat Jonghun yang—gugup?
"Jonghun-ssi? Aku hanya ingin tau. Kau kelihatan sudah tinggal lama disini," kata Luhan sedikit memohon.
Jonghun menggeleng cepat dengan senyum aneh. "Aku tidak tau, Luhan-ssi. Maaf aku harus kembali. Sampai jumpa,"
"Eh? Tunggu! Kuantar—"
"Tidak usah!"
Dan tak lama Luhan bisa mendengar gebrakan gugup pintu depan apartemennya. Luhan melongo.
"Kenapa sih? Apa pertanyaanku terlalu mengintimidasi?"
.
.
.
Lelaki itu mengelus dadanya dan menormalkan nafasnya.
"Sial. Apa yang dilakukan hantu sialan itu? Meminta pertolongan?!"
Dia dengan brutal membuka pintu rumahnya dan menguncinya kembali. Kakinya menghentak masuk dan membuka salah satu kamar di dalam ruangannya.
BRAK
Matanya menatap marah pada gadis yang tertidur diranjang dengan gaun coklat. Kulitnya sangat pucat melewati pucat normal.
Lelaki itu duduk dan mencengkram kedua sisi rahang gadis itu kencang.
"Maumu apa, hah?!" bentaknya kasar. Mata gadis itu tetap terpejam. Tak ada respon.
"Jawab jalang!" bentak lelaki tadi sambil menghentakkan kepala gadis itu kasar ke bantal. Tapi sama seperti tadi. Tak ada respon. Gadis itu hanya diam dengan mata terpejam dan tak bergerak sama sekali.
"Kau yang menaruh telepon itu kan?! Atau kakak sialanmu itu yang sengaja tak menyingkirkannya?!"
Lelaki itu mencium gadis tadi dengan kasar.
"Sial! Kubunuh siapapun yang mengangguku. Termasuk kakakmu dan kekasihmu itu! Mereka akan senasib denganmu kau tau, hah?!" bentaknya lagi pada gadis itu.
Dan setelah itu tawa kencang menyebar membahana memenuh ruangan dengan penerangan seadanya itu.
.
.
"Baekhyun bagaimana?" tanya Sehun.
Luhan tersenyum. "Dia lebih baik. Dia sudah tak memikirkan malam itu dan juga mimpi tentang Kai,"
"Baguslah,"
"Tapi Sehun.. tentang mimpiku itu..."
"Ah ya, apa kelanjutan yang ingin kau bilang? Waktu itu suara bel memutuskannya,"
Luhan terdiam. "Gadis itu.. "
"Ya? Apa yang terjadi?" tanya Sehun penasaran.
"Dia ditusuk.."
Mata Sehun melebar. "A—apa?"
Luhan mengangguk. "Dia ditusuk saat sedang menelpon oleh lelaki yang entah aku juga tidak tau siapa,"
Sehun terdiam.
"Dan juga Sehun.. saat aku bertanya tentang telepon itu pada Jonghun dia seperti—"
"—Orang yang tertangkap basah melakukan kesalahan?" lanjut Sehun.
"Bagaimana kau tau?"
"Aku memperhatikan kalian dari dalam kamar. Aku sudah curiga padanya sejak bertemu malam itu,"
Luhan menggeleng. "Tidak Sehun. Aku percaya Jonghun orang baik,"
Sehun menggenggam tangan Luhan.
"Ingat mimpi Baekhyun? Kai dibunuh oleh Jonghun?"
"Ta—tapi—"
"Belajarlah membedakan mana 'orang baik' dan 'pura-pura baik', Luhannie,"
Luhan menunduk. "Lalu? Apa kau pikir Jonghun ada hubungannya dengan telepon dan gadis itu?"
Sehun berpikir. "Kalau si Joghun tak mau bercerita bagaimana kalau—"
"—kita tanyakan pada tetangga sekitar apartemen?"
.
.
"Kita mau kemana?" tanya Kai pada Baekhyun.
Baekhyun berpikir sebentar.
"Makan! Aku lapaaar.." ucapnya manja.
Kai mengangguk sambil tersenyum. Dia memarkir mobilnya disalah satu cafe yang cukup ramai.
"Ayo turun," Kai membukakan pintu untuk Baekhyun.
"Sebentar," Baekhyun mengotak atik tasnya dan keluar.
Kai berjalan duluan didepannya.
KREK
Baekhyun mendongak dan memicing saat melihat seseorang sedang berkutat dengan papan nama cafe besar yang terbuat dari besi.
Matanya membulat saat Kai sudah berada tepat dibawah nama cafe itu ketika benda itu bergelincir jatuh.
"KAI! AWAS!"
Tangan Baekhyun dengan cepat menarik Kai menjauh.
BRAAAAANG
Kai melotot shock. Baekhyun tak kalah shocknya. Semua orang memandang benda besi yang terjatuh itu, bahkan orang-orang di cafe berhambur keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Ba—bagaimana.."
"Apa yang terjadi?" sebuah suara hadir. Sepertinya itu manajer cafe.
"Benda ini terjatuh dan hampir menimpa tubuh kekasih saya," protes Baekhyun berani dengan nafas yang masih berhamburan.
"Ah, begitukah? Bagaimana bisa? Apa kekasih anda baik-baik saja?" tanya manajer itu cemas.
Baekhyun menoleh pada Kai.
"Aku baik-baik saja.." jawab Kai pelan.
"Maafkan kami. Kami sungguh tidak menduga ini akan terjadi," manajer itu membungkuk meminta maaf.
"Tidak masalah. Lain kali perhatikan benda-benda disekitar cafe anda apa itu sudah lapuk atau bagaimana," ucap Baekhyun.
"Baik. Sekali lagi maafkan kami,"
Baekhyun mengangguk pelan. Kai membungkuk pelan juga pada manajer cafe dan membawa Baekhyun keluar dari kerumunan. Lama-lama kerumunan itu bubar.
"Bagaimana benda itu bisa jatuh?" tanya Kai heran.
Baekhyun menoleh dan melihat ke bagian atas cafe. Sesosok siluet hitam—dan sepertinya laki-laki—perlahan pergi dari sana.
"Baekhyun?"
Baekhyun tersadar. "Y—ya?"
"Ada apa?" tanya Kai.
Baekhyun menggeleng. Dia dengan cepat masuk kedalam mobil Kai.
Kai menghidupkan mesin mobil dan bertanya pada Baekhyun ingin kemana lagi.
"Aku tidak tau. Sudah tidak mood," jawab Baekhyun.
Kai tersenyum dan mencubit pipi Baekhyun.
"Jangan sedih begitu, dong. Aku baik-baik saja, lihat?"
Baekhyun melirik Kai dan tersenyum pelan. "Ya.."
Kai mencubit pipi Baekhyun lagi.
"Yasudah, kita jalan-jalan saja, ya?"
Dan Baekhyun hanya mengangguk.
.
.
"Aku dapat!" sorak Luhan. Dia menunjukkan kertas berisi sederet nama dan alamat pada Sehun. "Tetangga dengan 3 jarak dari apartemenku yang memberitahu ini,"
Sehun mengambil selembar kertas. Keras koran sepertinya.
"Kim Kyungsoo?"
Luhan mengangguk. "Katanya dia adalah wanita yang tinggal sebelumnya di apartemen ini. Bersama kakak laki-lakinya, Kim Joomyeon,"
"Dan menghilang?" baca Sehun saat menemukan kalimat terakhirnya.
Luhan mengangguk. "Yang memberitahu juga tidak tau kenapa bisa, yang pasti saat kakaknya, Joomyeon pulang kerumah hanya ditemukan bercak darah dan.. tidak ada siapa-siapa,"
Sehun bergidik.
"Apa dia tau dimana rumah Kim Joomyeon itu?"
Luhan menggeleng. "Tetanggaku bilang kakaknya menikah dengan orang China dan sekarang tinggal di China. Tapi, dia memberiku alamat kekasihnya," tunjuk Luhan kepada alamat di bawah nama Kyungsoo.
"Kalau begitu, ayo kerumahnya,"
Luhan menggeleng. "Sudah sore, Sehun. Besok saja. Baekhyun kemana pula? Sesore ini belum pulang?" decak Luhan saat melihat jarum jam dinding yang menujuk pukul 5.
TING TONG
"Jieeee~ Aku pulang," seru sebuah suara.
Luhan menengok dan mendapati Baekhyun dan Kai. Gadis itu berdecak.
"Darimana? Ini jam berapa?" tanya Luhan.
"Cuma jalan-jalan, kok. Serius deh," jawab Baekhyun.
"Ada apa Kai? Lemas sekali," tanya Sehun. Kai menggeleng.
"Bolehkah aku pulang? Kepalaku terasa pusing," ijin Kai.
"Ah, bersamaku. Aku juga mau pulang, ya," pamit Sehun. Dia mencium pipi Luhan dan berdadah-dadah.
Kai meraih tangan Baekhyun dan menciuminya. "Aku pulang ya,"
Baekhyun mengangguk dan tersenyum.
.
.
"Ada apa sih?" tanya Luhan penasaran saat Kai dan Sehun sudah pulang. Baekhyun terdiam, tapi kemudian menarik tangan Luhan untuk duduk disofa.
"Tadi.. saat kami ingin makan di cafe.. Papan nama cafe yang besar itu jatuh dan nyaris menimpa Kai,"
Luhan terbelalak. "Mwo?!"
"Bagaimana bisa?" tanya Luhan.
"Aku tidak tau.." desah Baekhyun. "Tapi, aku melihat siluet laki-laki dari atas cafe itu. Mungkinkah?"
Luhan berpikir. "Jadi ini seperti perencanaan.. pembunuhan?"
Baekhyun mengangguk perlahan namun pasti. "Aku juga tidak tau. Itu membuatku semakin takut kalau mimpiku ternyata benar, Jie,"
Luhan tersenyum dan duduk mendekat kearah Baekhyun. Dirangkul dan dielusnya pelan bahu sempit Baekhyun.
"Jangan suka negative thinking dulu. Mungkin saja orang itu sedang membenarkan papan dan tidak sampai betul papan itu sudah jatuh,"
Baekhyun mengangguk pelan dan tersenyum. "Kuharap begitu, Jie,"
.
.
"Ini rumahnya?"
Luhan melihat lagi kertas ditangannya dan kemudian mengangguk. Sehun memarkirkan mobilnya dipinggir jalan yang sepi.
Mereka berdua turun dan berdiri didepan gerbang bewarna hitam kusam itu.
Luhan mengetuk-ngetuk besi pagar pelan membuat satpam yang tertidur perlahan membuka matanya.
"Siapa?"
"Aku tamu. Aku ingin bertemu pemilik rumah ini. Apa bisa?"
Satpam itu mengangguk dan membukakan pintu.
"Anda tinggal jalan lurus dan kemudian berbelok. Disana anda bisa menemukan pintu utama rumah ini," jelas si Satpam.
Luhan mengangguk mengerti dan menarik Sehun untuk berjalan.
Sehun menatap kanan kirinya yang penuh dengan tanaman tanaman. "Rumah ini suram sekali, Lu,"
Luhan mengangkat bahu. "Mungkin pemiliknya penggemar Halloween,"
Luhan dan Sehun berdiri tepat dihadapan pintu kayu tua besar. Jari telunjuk Luhan terulur menyentuh benda hitam bertombol disamping pintu.
NEEENG
Luhan hampir saja terjungkang kebelakang karena terkejut. Sehun terkikik pelan.
Pintu perlahan terbuka. "Siapa?"
Luhan tersenyum manis. "Apa kau pemilik rumah ini?"
Kepala yang menyembul dibalik pintu itu mengangguk dan membukakan pintu.
"Silahkan masuk,"
.
.
"Kim Kyungsoo?"
Lee Taemin—nama pembuka pintu tadi—kelihatan terkejut.
Luhan mengangguk. "Apa benar kau kekasihnya?"
Taemin terdiam. Kemudian mengangguk.
"Ya, aku kekasihnya. Kekasih Kyungsoo,"
Luhan tersenyum lega. "Akhirnya. Aku ingin bertanya apakah Kyungsoo dulu tinggal di apartemen xxx lantai 5 nomor 026?"
Taemin terdiam lagi. Cukup lama hingga membuat Sehun jenuh.
"Taemin-ssi?"
Taemin mengangguk pelan. "Iya. Apartemen yang membuat kekasihku menghilang,"
"M—mwo? Jadi Kyungsoo betul-betul menghilang diapartemen itu?"
Taemin mengangguk lagi.
"Hari itu aku baru saja mengantarnya pulang dari sekolah ketika ia bilang kakaknya sedang dinas di luar kota. Aku menawari untuk menemaninya hingga kakaknya pulang, namun dia menolak,"
.
.
"Kau yakin tidak mau kutemani? Kenapa tidak menginap di rumahku saja?"
Kyungsoo menggeleng sambil tersenyum manis.
"Joomyeon oppa berpesan padaku agar tinggal diapartemen saja. Katanya lebih aman,"
"Tapi tetanggamu itu kan.." kata Taemin sambil melirik pintu sebelah yang masih tertutup rapat.
"Aku akan mengunci pintu rapa-rapat. Jadi tenang saja,"
"Bagaimana aku bisa tenang kalau kau sendirian malam ini? Sudah, aku gak mau tau. Pokoknya aku akan menginap,"
Taemin menerobos masuk namun dicegat cepat oleh Kyungsoo.
"Yak! Kau ini tidak percaya sekali sih padaku? Aku akan baik-baik saja. Percayalah!"
Taemin mendesah frustasi.
"Baiklah! Baiklah! Besok pagi, aku akan cepat datang kesini. Setelah masuk, langsung ganti bajumu dan cepat tidur. Jangan hiraukan jika ada yang memanggil. Mengerti?!"
Kyungsoo mengangguk lucu. Taemin tersenyum dan mencium Kyungsoo dengan sayang.
"Aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik oke?"
.
.
"Setelah malam itu, paginya aku mendapat telepon dari Joomyeon Hyung kalau Kyungsoo menghilang,"
Luhan melongo. "Ba—bagaimana bisa?"
"Tetangga didepan apartemen Kyungsoo mendengar teriakan histeris Kyungsoo tadi malam. Dia juga mendengar keributan. Tapi dia tak melihat karena dia takut. Ketika dia memeriksa besok paginya, kunci pintu apartemen Kyungsoo terbuka dan tidak ada siapa-siapa didalam. Tetangga itu buru-buru menelpon Joomyeon Hyung saat melihat ada.. darah berceceran didalam apartemen,"
"A—apa?!" teriak Luhan dan Sehun berbarengan.
"Jadi ini seperti pembunuhan?" tanya Sehun.
Taemin mengangkat bahu. "Aku tidak tau. Kami semua tidak tau. Tidak ada jejak pasti yang ditinggalkan si pembunuh, kalau memang Kyungsoo dibunuh,"
"Tapi apa maksudnya jika Kyungsoo dibunuh dan menghilang? Apa pembunuh itu membawa kabur jasad Kyungsoo?" tanya Luhan.
Taemin menggeleng. "Aku tidak tau itu juga. Tapi sebentar," lelaki bangkit dari duduknya menuju kamar. Dia kembali dengan kotak ditangannya.
"Polisi menemukan ini.. Ketika evakuasi,"
Luhan memincing melihat sebuah kalung ditangan Taemin. Kalungnya bagus sekali, dengan liontin berbetuk kotak perak dan seperti ada tulisan didalamnya. Entahlah.
"Oh, ya. Kalau boleh tau, bagaimana rupa Kyungsoo?" tanya Sehun. Luhan yang tadinya diam langsung mengangguk-angguk.
"Ah, itu," Taemin menggeser duduknya dan mengambil figura yang terletak dimeja sebelah sofa. "Ini, Kyungsoo yang memakai baju biru dengan cardigan,"
Sehun mengambil foto itu perlahan. Luhan ikut mendekat dan melihat foto itu.
Seketika mata rusa Luhan membulat. Tangannya menutup mulutnya dengan shock.
"Lu? Ada apa?" tanya Sehun bingung.
Luhan tercekat. Tangannya gemetar. "Se—Sehunnie.."
"Ya?"
"Ini.."
"Apa, Lu? Kenapa?"
"Ga—gadis ini.."
Sehun mendecak. "Yang jelas Luhan,"
"Gadis ini gadis yang ada didalam mimpiku,"
Sehun terbelalak.
Dddrt Dddrt Drrtt
Luhan terjolak kaget saat ponsel disakunya bergetar hebat.
"Yobosseyo?"
"J—Jie.."
"Baekhyunnie? Ada apa?"
"Jie.. cepat pulang.. Aku mohon.."
Luhan mengeryit mendapati suara adiknya yang begitu ketakutan.
"Baekhyun? Kau kenapa?"
Tak ada sahutan.
"Jie kumohon.. Hiks.. Aku takut.. Tolong aku.."
BRAK! BRAK!
Mata Luhan membulat saat mendengar gedoran pintu dari sebrang dan sambungan telepon Baekhyun putus.
"Ada apa Luhan?"
"Kita harus pulang Sehun. Secepatnya. Baekhyun dalam bahaya,"
Sehun mengangguk. Mereka berdua pamit kepada Taemin.
"Ah tunggu sebentar," cegat Taemin. Luhan dan Sehun menoleh.
"Kenapa kalian bertanya tentang kekasihku dan apartemennya? Kalian sebenarnya siapa?"
Luhan tersenyum. "Karena aku yang menempati apartemen itu sekarang,"
Taemin terbelalak. "Kau—"
"Maaf kami terburu-buru. Terima kasih atas segalanya. Permisi,"
Luhan buru-buru keluar dari rumah itu.
"Ada apa sih, Lu?" tanya Sehun. Luhan menggeleng.
"Aku tidak tau. Yang pasti kita harus pulang. Sekarang!"
Sehun mengangguk cepat saat melihat wajah Luhan yang benar-benar panik.
Sehun menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobilnya. Meninggalkan rumah kekasih orang bernama Kim Kyungsoo.
.
.
::TBC::
A/N : Halo. Hehehe. Ini saya. Hehehe.
-_- mistis amat yak.
Maaf ya kalo makin gajelas, makin ngawur, makin aneh dan makin makin. Ini horror pertama author dan otak author bener-bener ruwet banget-_- wkakak. Dan kayaknya ini ff gabakal lama lagi bakal is death. Maksudnya the end. Wakakak gatau berapa chapter lagi tapi ini udah mendekati akhir. Udah ketebak belum? Kalo belum selamat menebak nebak riaaa.
Ah, maaf ya. Author tau emang Kyungsoo sama Baekhyun kaga ada mirip mirip nya. Yah kemiripannya palinagn mereka berdua cantik udah itu aja. Cuma author bingung mau kasih siapa ini nama hantu dan yang kepikiran cuma Kyungsoo. Dan soal Taemin yang jadi pacar Kyungsoo.. udah bisa nebak kan ya?
Oh iya betewe, exo udah comeback. Mimpi bukan sih? Bukan kan ya. Abisnya keknya baru kemaren maren makan rumor exo comeback eh comeback beneran. Azz-_-
Oh, iya juga. Doain author lulus ya. Besok pengumuman soalnya. Author deg degan bangeeet Masya Allah /.\ . Yang seangkatan ama author juga author doain lulus yaa. Amin amin amiiiiiiiin.
Yasudah. Mind review?
Thanks To :
Love Couple, kaibaekyeolshipper, hyerinxx, ssjllf, baekyeolssi, Eunsoo, Imeelia, jungsii, ramiminnie, canyol, Blacknancho, Lkireii0521, ChanLoveBaek, zie, RadenMasKYU, Zie, Astri407, widyaokta, cho, mitatitu, chyshinji0204, Love Couple, 0312luLuEXOticS, , MeelMeel Aideen, ohristi95, fadillaShiners.
Kiss Hug {}
