Title :

11-13

(One Confession)

.

Main Cast :

Cho Kyuhyun

Lee Sungmin

.

Genre :

Romance, Fluff, Hurt/Comfort

.

Warning :

Yaoi (Boys Love), Typo(s), OOC, AU, Adult Content, Confusing Plot, Over

.

It's a REMAKE fanfiction~!

Don't Like, Don't Read

.

.

.


Sinar matahari yang mulai beranjak naik membangunkan Kyuhyun dari mimpi indahnya.

"Selamat pagi.." sapa Sungmin. Ia mencium bibir Kyuhyun kilat.

Kyuhyun mengerjap sebentar, ternyata semalaman ia tertidur sambil memeluk Sungmin, dan saat ini mereka hanya ditemani sehelai selimut yang membungkus tubuh telanjang mereka.

"Thanks God.." kata Kyuhyun sambil menatap wajah Sungmin, mengamatinya dari jarak sedekat ini. Wajahnya masih terlihat cantik walaupun ia baru bangun tidur.

"Kyu.."

"Ya, Sayang?" jempol Kyuhyun mengusap pelan pipi Sungmin, lelaki yang semalam telah menjadi miliknya seutuhnya.

"Kita ketinggalan sunrise-nya," ucap Sungmin dengan bibir mengerucut imut.

Kyuhyun tersenyum, "Siapa bilang?"

Sungmin mengerjab pelan dan menaikkan alisnya, tanda tidak paham.

"Aku sudah menyaksikannya. Sunrise terindahku pagi ini," lelaki berkulit pucat itu sekali lagi mengelus lembut pipi bulat Sungmin. "It's you Lee Sungmin, my sunshine.."

"Ppffftt.. Ya! Kyu, kau masih mabuk, eoh? Hahaha.."

Dan keduanya pun terbahak.

Tawa pertama mereka pagi itu.

"Sungmin, ini adalah hari terindah dalam hidupku."

"Kenapa?" Sungmin mempererat pelukannya.

"Entahlah, rasanya aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya."

"Mungkin karena ada aku di sampingmu?" kali ini gantian Sungmin yang mengelus pelan pipi Kyuhyun.

"Tentu saja.."

"Kalau itu bisa membuatmu bahagia, aku akan selalu ada di sampingmu.."

"Dan selalu bercinta denganku.." Kyuhyun mengedipkan sebelah matanya.

"Dasar mesuuum!" Sungmin sontak mencubit pipi yang tadi dielusnya.

"Hahaha.. Tapi kau suka kaan.." goda Kyuhyun tidak mau kalah. Digelitiknya perut Sungmin dari dalam selimut mereka, membuat Sungmin menggeliat kegelian.

Setelah puas tertawa, mereka pun sama-sama terdiam. Entah apa yang mereka pikirkan saat itu.

Kemudian Sungmin menatap Kyuhyun dan begitupun sebaliknya. Kyuhyun memeluknya. Sungmin pun juga. Kyuhyun tersenyum. Ia tersenyum. Perlahan Kyuhyun membelai wajah Sungmin, mencoba untuk mengabadikan segala keindahan wajahnya dalam sentuhan tangannya. Tatapan matanya yang lembut dibalik manik indah yang berbinar penuh cinta itu. Bibir dan hidungnya yang mungil terpahat di sana. Sambil tetap mengabadikan kesempurnaan mahluk terindah Tuhan itu, Kyuhyun berbisik dalam hati..

'Sungmin, aku belajar banyak darimu. Belajar tentang hidup yang sesungguhnya..'

Entah siapa yang memulai duluan, tiba-tiba wajah mereka sudah dekat dan semakin dekat, hingga tidak ada lagi jarak di antara keduanya. Dan akhirnya, dua belah bibir itu pun bertemu kembali.

Yang diharapkan pun terjadi.

Lagi.

"Lee Sungmin, jangan berhenti mencintaiku.."

.

.

.

Sore harinya, mereka berdua menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di pesisir pantai Haeundae. Sore itu suasana di pantai tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pasang remaja yang sedang asyik bermain ombak.

"Min, seandainya saja kita bisa seperti mereka, bebas mempertontonkan kemesraan di muka umum," kata Kyuhyun sambil menatap iri ke arah pasangan remaja itu.

"Kenapa Kyu? Kau iri dengan mereka?" Sungmin tau-tau meraih tangan Kyuhyun dan menggenggamnya.

"Tapi Min, apa kau tidak malu bergandengan tangan denganku?" Kyuhyun memandang Sungmin dengan ekspresi cemas.

"Sebaliknya. Apa alasanku untuk malu bergandengan tangan dengan orang yang aku cintai?"

"Tapi bagaimana jika nanti ketahuan pers dan kau jadi bulan-bulanan mereka? Kau beda denganku, Sungmin. Kau mempunyai..."

Tiba-tiba Sungmin berjinjit dan mencium Kyuhyun tepat di bibir. "Sstt.. Kita sama. Aku manusia dan kau juga manusia. Kau punya cinta dan aku juga punya cinta. Kita saling mencintai, bukan? Aku tidak peduli apa kata orang. Aku lebih menganggap ini adalah resiko yang harus aku hadapi."

Sekali lagi Kyuhyun hanya bisa terdiam mendengar kata-kata Sungmin barusan. Ia berhasil meyakinkannya bahwa cinta itu ada untuk menyatukan segala perbedaan.

"Aku mencintaimu," Kyuhyun membelai rambut Sungmin dan menggenggam tangannya. Dengan posisi seperti itu mereka begitu leluasa menatap luasnya cakrawala yang berpadu dengan magisnya hamparan laut di ujung sana.

Semuanya seakan menjadi saksi betapa Kyuhyun mencintai sosok yang ada di sampingnya ini. Perlahan, Kyuhyun mulai menarik tangan Sungmin dan menciumnya berkali-kali. Lama. Lama sekali.

Hingga akhirnya matahari pun mulai tenggelam di ufuk barat dan menyisakan semburat cahaya kemerahan.

Bagi Kyuhyun, itu luar biasa.

.

.

11-13

.

.


Itulah awal kisah cinta Kyuhyun dengan Sungmin, sosok lelaki yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta dan benar-benar merasakan cinta lagi. Cinta dalam arti yang sebenarnya. Bagaimana awalnya Sungmin hadir dalam hari-harinya sebagai seorang penolong dan memberikan segala perhatiannya kepadanya hingga ia berhasil menjadikan Kyuhyun lelaki yang melihat permasalahan tidak hanya dari satu sudut pandang.

Tidak hanya itu, Kyuhyun dan Sungmin juga saling mengisi, saling memberi support, dan saling mengatakan "Aku menyayangimu."

Ya, itulah Kyuhyun dan Sungmin.

Melalui Sungmin, Kyuhyun tidak hanya belajar tentang memiliki seseorang, tetapi juga menjaganya. Belajar memasuki dunia yang sama sekali baru. Kyuhyun belajar mencintainya. Belajar mencintai laki-laki. Belajar mencintai laki-laki dengan cara laki-laki. Belajar mencintai Lee Sungmin.

Kyuhyun merasa tidak akan pernah menyesal tentang keputusannya untuk mencintai Sungmin. Walaupun cinta seperti itu baru ia rasakan, tetapi ia bisa merasakan indahnya. Di saat semua tatapan menghakimi dan segudang judge bahwa "cinta ini adalah cinta terlarang", tetapi hal tersebut tidak menyurutkan segala keindahan yang telah ia bangun bersama Sungmin.

.

.

Dan tidak terasa, segala keindahan itu telah terajut selama kurang lebih enam bulan lamanya. Dan selama enam bulan itu, hari-hari Kyuhyun selalu diliputi senyum kebahagiaan. Benar-benar bahagia. Tidak pernah sekalipun mereka saling menyakiti.

Selalu ada pesan "Selamat pagi" dan ditutup dengan "Selamat tidur". Sepertinya, tidak pernah ada waktu yang terlewatkan tanpa bersama Sungmin. Kapan pun dan di mana pun, mereka selalu berdua. Weekend selalu mereka isi dengan liburan bersama. Sekedar one day stand di apartment, bahkan keliling Seoul sampai Gangwon pun pernah mereka lakukan.

Seperti weekend kali ini. Saat musim panas menjelang, Kyuhyun begitu bersemangat mengajak Sungmin untuk berlibur ke pulau Jeju.

"Kali ini liburan ala anak kuliahan. Semua biaya aku yang menanggung."

"Siap!" Sungmin menjawab sangat excited.

.

.

11-13

.

.

Hari jumat sore, sepulang Sungmin siaran di salah satu stasiun televisi swasta, mereka benar-benar memanfaatkan waktu untuk berlibur ke pulau Jeju.

Kyuhyun yang tidak tahu jalan ngotot untuk mengajak Sungmin berangkat naik motor. Dengan alasan, jika nanti tersesat, akan mudah untuk berputar arah daripada naik mobil. Ya, sesekali liburan ala anak kuliahan. Backpacker. Naik motor. Nekat.

Tiga jam mereka melakukan perjalanan panjang. Dan ketika mereka sampai di suatu daerah dengan jalanan yang mulai menanjak naik dan berkelok-kelok, Kyuhyun mendadak kehilangan arah.

"Kyu, berhenti sebentar," teriak Sungmin dari belakang. "Pinggangku sakit.. Capek."

Dan mereka pun berhenti di sebuah kedai ramen. Waktu itu jam menunjukkan pukul 07.15 pm. Kabut tebal mulai menyelimuti perjalanan. Penjual di kedai itu menyarankan mereka untuk bermalam di sana dahulu karena dermaga pulau Jeju masih sangat jauh. Kira-kira setengah jam lagi dari situ.

"Hanya tinggal setengah jam lagi? Tetapi jalannya tidak terlalu ekstrim kan, ahjussi?" tanya Kyuhyun sambil menyeruput kuah ramennya.

"Tetapi rawan sekali jika malam-malam begini kesana naik motor, di Jeju itu dingin sekali. Kalian bisa menggigil di perjalanan."

"Asalkan jalannya gampang ditempuh tidak masalah."

"Jangan nekat, Kyu," Sungmin mencoba memperingatkan.

"Tidak apa-apa, hanya tinggal setengah jam lagi, Min," kata Kyuhyun bersikeras. "Petunjuk jalannya jelas kan, ahjussi?"

"Iya, jelas kok, nak. Rutenya juga mudah. Tetapi tetap saja kalau malam begini rawan."

"Kyuhyun, kenapa kau susah sekali di nasehati, sih?" kali ini Sungmin setengah menghardik.

"Tanggung, Min. Tinggal sedikit lagi. Sudahlah, kau diam saja di belakang," Kyuhyun pun mulai kesal dibuatnya.

"Tapi ini sudah malam, Kyuhyun! Bukannya liburan, yang ada kita bisa jadi es batu di pinggir jalan!"

"Aish, itu tidak mungkin. Jaket kita sudah tebal. Perut kita juga sudah terisi. Jadi kita akan baik-baik saja dan besok pagi kita bisa langsung keliling Jeju," Kyuhyun tetap ngotot. Yang ada dipikirannya saat itu adalah, bagaimana bisa secepatnya sampai di dermaga Jeju dan segera beristirahat di hotel yang sudah dipesannya.

"Aniya! Kita bermalam di sini dulu! Sini mana kunci motormu!" Sungmin langsung merebut kunci motor dari tangan Kyuhyun.

"Ya! Lee Sungmin! Kau mau apa?" Kyuhyun mencoba menghindar agar Sungmin tidak bisa mengambil kunci motornya.

"Ehm, maaf. Lebih baik kalian makan dulu saja. Jika perut kenyang, pikiran juga bisa tercerahkan," lelaki paruh baya pemilik kedai itu mencoba mencairkan suasana.

"Ya sudah, makan saja dulu! Daripada berdebat denganmu," Sungmin lantas mengacuhkan Kyuhyun dan memilih untuk konsen dengan semangkuk ramennya.

Enam bulan berpacaran dengan Sungmin, baru kali ini Kyuhyun bertengkar dengannya. Sejujurnya Kyuhyun juga capek. Tetapi ia sudah melakukan pencarian di Google Earth dan pemandangan pagi di Jeju itu sangat indah. Bagaimana pun juga, besok ketika bangun tidur dan membuka jendela, view yang ia lihat adalah surga Jeju-do.

Suasana malam itu benar-benar berbeda. Mereka sama-sama diam, tanpa ada keinginan dari Kyuhyun maupun Sungmin untuk membuka pembicaraan setelah pertengkaran tadi.

Sedang asyik-asyiknya menikmati seduhan teh ginseng, tiba-tiba ada sesuatu yang memegang tangan kiri Kyuhyun dari bawah meja. Kyuhyun tahu itu adalah tangan Sungmin. Ia menggenggam tangan Kyuhyun. Erat, dan semakin erat. Kyuhyun tahu apa artinya itu. Artinya adalah gencatan senjata. Sungmin sudah kembali menjadi Sungmin yang ia kenal. Sungmin yang selalu menggenggam tangan Kyuhyun, menguatkannya. Kyuhyun pun membalas genggaman tangan Sungmin. Orang yang ia sayangi.

"Kau adalah tanggung jawabku, Sungmin. Semuanya akan baik-baik saja. Kita akan sampai di Jeju dengan selamat. Aku janji itu."

Akhirnya Sungmin luluh juga..

.

Tepat satu jam kemudian, Kyuhyun dan Sungmin memasuki kawasan pulau Jeju. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Ternyata keyakinan Kyuhyun benar. Tidak ada apa-apa di jalan. Perjalanan lancar. Mereka selamat sampai di tujuan.

.

.

.

Akhirnya, Kyuhyun dan Sungmin tiba di sebuah penginapan sederhana dengan lokasi yang cukup strategis. Kamar yang mereka pesan adalah kamar terbaik yang mempunyai view langsung menghadap pantai. Tidak hanya itu saja, jika jendela belakang dibuka, view yang terlihat adalah dinding tebing curam yang ditumbuhi dengan pepohonan cemara.

Setelah sampai di penginapan, mereka langsung masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian. Ketika hendak masuk ke kamar mandi, Kyuhyun menghampiri Sungmin yang tengah membuka-buka tas sambil mengambil ipad. Ia lalu memeluknya dari belakang dan mencium pundaknya berkali-kali.

"Sayang, kau masih marah?", Kyuhyun mencoba memulai pembicaraan. "Lihat, semuanya baik-baik saja kan?"

Sungmin membalikkan badannya dan menatap mata Kyuhyun, "Kau nekat!"

"Nekat demi membahagiakan kekasih itu merupakan sebuah kepuasan yang tak terbayar dengan apa pun," kata Kyuhyun sambil membelai pipi Sungmin dengan jempol kanannya. "Dan aku janji, besok pagi kau akan menyaksikan pemandangan yang luar biasa saat membuka jendela. Kau pasti akan berterima kasih atas kenekatanku malam ini."

"Tahu dari mana besok aku tidak akan marah?" tanya Sungmin masih sewot.

"Lihat saja!"

"Huh, percaya diri sekali!" Ia masih menancapkan tatapannya tepat di mata Kyuhyun.

Dengan cengiran lebarnya Kyuhyun pun mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk tanda swear.

"Kau keras kepala, Kyuhyun!" Sungmin lantas mencubit hidung mancung Kyuhyun. "Sudah ah, aku mau mandi dulu."

Lalu Sungmin pun meninggalkannya dengan peralatan mandi dan handuk di bahunya.

"Ya! Sungmin! Aku yang mau mandi duluan, kenapa kau−? Aish, bagaimana jika kita mandi bersama saja?"

"Mandi saja dengan kakekmu!" teriak Sungmin dari dalam kamar mandi.

.

.

Sambil menunggu Sungminnya selesai mandi, Kyuhyun mengotak-atik lomo cam-nya yang sengaja ia bawa untuk memotret segala moment berduanya dengan Sungmin di Jeju.

Lima belas menit, dan pintu kamar mandi itu pun terbuka. Sungmin keluar dengan bertelanjang dada dengan selapis handuk yang menutupi area perutnya ke bawah. Titik-titik air masih menetes dari helai rambutnya yang sedikit basah.

"Min, ini kan sudah malam, kenapa kau keramas, eoh?" tegur Kyuhyun.

"Kepalaku panas gara-gara berdebat denganmu," jawab Sungmin tanpa melihat ke arah Kyuhyun. Ia kembali membongkar ranselnya, mencari baju ganti rupanya.

"Hm, jadi Tuan Putriku ini masih ngambek?" Kyuhyun tidak pantang menyerah. Ia kembali mendekati Sungmin dan mengusap-usap pundaknya yang terbuka.

"Pikirkan saja sendiri."

"Min, kau tahu tidak, tadi saat di perjalanan, aku melihat bayangan putih yang tiba-tiba menyeberang," kata Kyuhyun.

Sungmin langsung menghentikan kegiatannya mengobrak-abrik isi ransel. Ia menoleh cemas ke arah Kyuhyun. "Kau tidak bohong kan?"

Kyuhyun menggeleng dengan ekspresi yang dibuat seserius mungkin. Ternyata Sungminnya cukup penakut juga.

"Lalu bagaimana? Bagaimana jika bayangannya mengikuti kita, Kyu?" Dan Kyuhyun pun semakin menyeringai lebar di dalam hatinya. Sungmin benar-benar penakut.

"Ehm, Min.. Maaf tapi sebenarnya bayangannya sekarang ada di..." Kyuhyun sengaja menggantung ucapannya.

Ekspresi waspada Sungmin semakin menjadi-jadi.

"Ada di belakangmu!"

"Kyyaaaaa!" Sungmin langsung melompat ke pelukan Kyuhyun. Saking kuatnya ia melompat, handuk yang ia kenakan jadi terbuka semuanya.

"Ups.." Sungmin cepat-cepat memasang handuknya yang sempat terbuka. Ia bahkan lupa dengan cerita horor Kyuhyun.

"Kenapa? Kau masih malu?" tanya Kyuhyun dengan tatapan menggoda yang seakan menelanjangi Sungmin. "Bukankah aku sudah pernah melihat dan merasakan setiap jengkal tubuhmu?" lanjutnya.

Sungmin diam sambil menatap mata Kyuhyun. Kyuhyun membalas tatapannya. Jemarinya yang panjang membelai wajah Sungmin dan mencium keningnya.

"Tubuhmu adalah tubuhku. Aku milikmu. Kau milikku. Tidak ada rahasia lagi. Tidak ada penghalang lagi."

Lalu Kyuhyun berdiri dan menanggalkan semua pakaiannya tepat di hadapan Sungmin. Ia telanjang.

Seperti magis, Sungmin pun perlahan ikut berdiri sejajar dengan Kyuhyun. Pelan-pelan ia meraih tangan Kyuhyun dan ia arahkan ke simpul handuknya. Kyuhyun membiarkannya mengikuti nalurinya. Diam-diam tangan Kyuhyun membuka dan melemparkan handuk Sungmin ke lantai.

"Aku ingin menyesap aroma tubuhmu sebelum aku mandi. Bolehkah?" Kyuhyun bertanya.

Sungmin diam. Bagi Kyuhyun, itu tandanya boleh.

Kyuhyun mulai mendekatkan tubuhnya ke tubuh Sungmin.

'Tubuhmu adalah tubuhku. Aku milikmu. Kau milikku.'

"Kau sudah 'on', Kyu.." bisik Sungmin.

"Aku bergairah," jawab Kyu langsung.

Dengan cepat Kyuhyun menancapkan bibirnya ke bibir Sungmin. Tidak ada apa-apa selain itu. Yang ada hanya sepasang lidah dua anak manusia yang saling terkait. Yang sama-sama dewasa. Yang sama-sama mencintai. Dan kebetulan, sama-sama lelaki. Bahkan dinginnya udara yang menerpa kulit mereka tidaklah berarti apa-apa karena tubuh keduanya saling menguatkan.

Ya. Cinta itu menguatkan.

Dan mereka melakukannya.

.

.

.

'Tidak ada rahasia lagi. Tidak ada penghalang lagi.' Kata-kata itu terus menari-nari di benak keduanya. Entah mengapa, kata-kata itu terdengar seksi di telinga Kyuhyun.

Setelah selesai dari mandi panjang mereka− karena mereka melakukannya di kamar mandi juga, keduanya kini hanya bisa diam di kamar, berpelukan, berciuman, bahkan mereka tetap bisa bermesraan walaupun tubuh mereka sudah tidak lagi dalam keadaan sensitif pasca bercinta.

Dan akhirnya mereka menghabiskan malam dengan cerita-cerita. Cerita tentang apa saja.

"Besok kita mau ke mana?" tanya Sungmin yang posisinya sedang bersandar pada dada telanjang Kyuhyun.

"Tergantung posisi tidurmu," jawab Kyuhyun dengan tatapan nakal.

"Eoh? Kenapa begitu?"

"Kalau kau tidur membelakangiku, besok kita jalan-jalan ke pantai. Nah, kalau kau tidurnya menghadapku, besok kita tidak akan kemana-mana," Kyuhyun mencolek pucuk hidung Sungmin.

"Eung.., kalau aku tidurnya tengkurap? Artinya?"

"Artinya, besok kita akan paraseling, Sayang.. Hehe.."

"Kalau begitu malam ini aku tidur menindihmu saja," tiba-tiba Sungmin mengangkat tubuhnya dan menghempaskannya tepat di atas badan Kyuhyun.

"Let me ride on you, baby Kyu.." Ia mengedip nakal.

Dan mereka melakukannya. Lagi.

.

.

.


Di luar fajar tengah menyingsing. Kyuhyun baru sadar, ternyata ia masih tertidur dengan Sungmin di dalam pelukannya. Lelaki berparas malaikat itu masih memeluk erat tubuh Kyuhyun. Hangat. Nyaman.

Tidak hanya itu, Kyuhyun juga baru sadar jika pagi itu, tangannya masih bersarang di dalam selimut mereka, tepatnya di bagian private Sungmin. Jika tidur berdua, pasti saat bangun tangannya sudah berada di dalam celana Sungmin. Ia suka sekali memegang "adik" Sungmin pagi-pagi. Alasannya, karena jika "ia" terbangun, Kyuhyun dapat langsung menidurkannya kembali.

Perlahan, Kyuhyun menarik tangannya dari 'singgahsana'-nya. Sungmin tidak terbangun karena pasti ia sangat lelah, terlihat dari ekspresi tidurnya.

Kyuhyun mulai menurunkan sebelah kakinya ke lantai. Lalu ia membuka jendela depan. Pemandangan di hadapannya benar-benar langsung pesisir pantai Jeju, sedangkan dibagian belakangnya adalah pemandangan lereng pegunungan yang berwarna hijau segar.

Kyuhyun menikmati paginya dengan menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Nanti setelah Sungmin bangun, ia pasti terkejut melihat keindahan yang ada di depannya ini. Belum selesai membayangkannya, tiba-tiba seseorang memeluk pinggangnya dari belakang.

"Pangeranku sudah bangun?" tanyanya.

"Hehe, dan putri tidurku sendiri bagaimana? Apakah tidurnya nyenyak?"

"Aku sedari tadi memperhatikanmu, Kyu," ia memperlihatkan handphone-nya kepada Kyuhyun. Sebuah gambar silhouette tubuh Kyuhyun ketika berada di dekat jendela tadi memenuhi layar 5 inch tersebut. "Pangeranku, dari belakang pun terlihat sangat tampan," pujinya sambil mencium collarbone Kyuhyun.

"Aku memang tampan sejak lahir, Min."

"Ish, dasar," Sungmin lalu mencubit pelan pinggang Kyuhyun.

"Bagaimana Tuan Putri, bagus tidak pemandangannya? Aku tidak salah memilih tempat liburan kan?" kata Kyuhyun sambil menaik-turunkan alisnya.

"Ne. Pangeranku memang tidak salah memilih tempat liburan," ucap Sungmin dengan mata yang memandang kagum ke depan.

"Sekarang mana hadiahnya?"

"Apalagi?" tanya Sungmin gemas.

"Morning kiss?" Kyuhyun memajukan bibirnya.

"Dengan senang hati.." Dan bibir keduanya pun sekali lagi menyatu dalam sebuah ciuman ringan yang berkepanjangan, tentu saja.

.

.

.

Tidak pernah Kyuhyun merasa se-enjoy ini sebelumnya ketika berjalan dengan Sungmin. Di pulau Jeju ini, ia merasa tidak akan ada yang mengenali mereka berdua sehingga mereka bisa bebas menjadi diri mereka sendiri: berjalan beriringan, saling bercanda tawa, saling merangkul, bahkan mereka mencuri-curi kesempatan untuk bergandengan tangan, walau hanya beberapa detik saja. Bagi Kyuhyun, itu sudah lebih dari cukup.

Setelah lelah menyisiri garis tepi pantai, mereka duduk di atas sebuah karang di sudut pantai yang kebetulan cukup sepi. Namun ketika Sungmin duduk, tubuhnya spontan langsung menegang begitu saja.

Kyuhyun yang tidak sengaja melihatnya sontak bertanya, "Kau kenapa, Min?" tangannya nyaris memegang pantat Sungmin, namun segara ditepis oleh pemiliknya.

"Ani. Tidak apa-apa," kata Sungmin berusaha menutupi salah tingkahnya.

"Tidak mungkin, kau pasti bohong. Pasti ada sesuatu," Kyuhyun meraih kedua pipi Sungmin, menangkupnya pada sepasang telapak tangannya. "Aku mainnya kasar ya tadi malam?"

"Hahaha! Tidak Kyu. Aku baik-baik saja. Serius." wajah malaikat itu tersenyum namun Kyuhyun tetap bisa melihat kepalsuan di balik senyumnya.

"Lee Sungmin, dengarkan aku. Ingat janji kita, tubuhmu adalah tubuhku."

Kali ini Sungmin sungguh tidak bisa menyembunyikan lagi rasa sakitnya. Tidak lama kemudian, Kyuhyun langsung mengajaknya pulang ke penginapan.

Baru saja mereka masuk ke kamar, Kyuhyun sudah cepat-cepat mengunci pintunya dan berkata, "Sayang, buka celanamu sekarang."

"Eoh? Ke-kenapa Kyu?" Belum sempat Sungmin menyelesaikan kalimatnya, Kyuhyun sudah memaksa untuk memelorotkan celananya hingga akhirnya terbuka semuanya.

"Sekarang coba menungginglah."

Rasanya Sungmin sudah tidak punya kekuatan lagi untuk menolak permintaan Kyuhyun kali ini. Lalu Kyuhyun berjongkok dan melihat ke arah pantat Sungmin. Hanya beberapa detik. Karena setelah itu ia langsung berdiri dan memeluk Sungmin. Erat sekali.

"Maafkan aku, Sungmin. Maaf.. Aku sudah kejam kepadamu.." Kyuhyun menitikkan air mata dan menhujani Sungmin ciuman di pipi dan keningnya berkali-kali.

"Hey, kau kenapa, Sayang? Aku tidak apa-apa, besok pasti sudah sembuh," Sungmin ikut berkaca-kaca namun tetap menunjukkan senyum terbaiknya.

"Tapi itu luka, Min.."

"Kyuhyun, please. Ini tidak separah yang kau kira. Aku baik-baik saja. Sungguh."

Kyuhyun masih menatap mata Sungmin. Rasanya baru saja ia melihat wajah Sungmin yang tersenyum penuh kepuasan ketika mencapai puncak kenikmatan. Namun kini senyum itu seakan penuh luka bagi Kyuhyun. Ia benar-benar merasa bersalah pada Sungmin. Ia yang hilang akal ketika Sungmin menghendakinya. Ia yang lepas kontrol saat Sungmin memintanya untuk lebih keras, lebih lama, lebih dalam, lebih, lebih, dan lebih.

Tetapi kini semuanya berubah. Wajah itu kini dibasahi oleh air mata.

"Sungmin-ah mianhae.. Maaf aku sudah menyakitimu," bibir Kyuhyun bergetar. Dan ia pun langsung memeluk Sungmin sekali lagi.

Setelah kejadian itu, Kyuhyun tidak memperbolehkan Sungmin untuk turun dari tempat tidur walau hanya kakinya yang menyentuh lantai. Makan, minum, ia yang melayaninya. Persis ketika awal dirinya bertemu dengan Sungmin. Tetapi kali ini kondisnya berkebalikan.

Sekarang Kyuhyun tahu resep untuk memperlakukan laki-laki: perlakukan mereka seperti anak kecil. Ya, anak kecil. Dicium, dipeluk, dikuatkan, dan katakan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan akan tetap baik-baik saja.

Cintailah laki-laki dengan cara laki-laki. Itu adalah kekuatan sekaligus kelemahan mereka.

.

.

11-13

.

.


Mulai sejak itu, Kyuhyun memasuki tahapan baru dalam hubungannya dengan Sungmin. Tahapan yang jauh lebih tinggi dari sekedar jatuh cinta, yaitu tahap saling memiliki. Mungkin benar bahwa bulan-bulan pertama sebuah hubungan adalah tentang menginginkan. Tetapi bulan-bulan selanjutnya adalah tentang membutuhkan. Dan yang dinamakan saling memiliki adalah benar-benar memiliki antara satu dan yang lain.

'Tubuhmu adalah tubuhku. Aku milikmu. Kau milikku. Tidak ada rahasia lagi. Tidak ada penghalang lagi. Sakitmu adalah sakitku. Tawamu, air matamu, marahmu, semuanya adalah tanggung jawabku.'

Adakah kata-kata yang lebih seksi daripada itu?

Kini Cho Kyuhyun dan Lee Sungmin adalah satu paket. Paket senang, sedih, suka, duka, canda dan tawa. Lebih dari itu, Kyuhyun dan Sungmin jadi sering mengenakan pakaian masing-masing satu sama lain, bahkan pakaian dalamnya juga. Dan entah kenapa, Kyuhyun merasa seksi. Ya, dengan beginilah mereka dapat menjadi bagian dari diri masing-masing. Menjadi bagian dari diri orang yang mereka sayangi.

Dan Sungmin adalah orang yang Kyuhyun sayangi paling lama dalam sejarah percintaannya selama ini, yaitu hingga memasuki bulan ke tujuh.

Sejak Sungmin mengatakan bahwa ia mencintainya dan Kyuhyun menindaklanjutinya, itu adalah pelajaran baru bagi Kyuhyun dalam hal mencintai. Yang dinamakan mencintai adalah menempatkan kebahagiaan pasangan dalam kebahagiaan kita. Sedangkan kebahagiaan itu sendiri adalah bagaimana kita bisa menikmati setiap detik bersama pasangan, dan bukanlah sesering apa kita berada di dekat pasangan.

Love is all about quality, not quantity.

"Jika cinta itu dikenakan pajak, maka akulah pembayar pajak paling mahal itu," ujar Kyuhyun suatu hari, saat mereka sedang kencan seharian di apartment Sungmin sambil menonton film favoritnya.

"Kenapa begitu?" tanya Sungmin tidak mengerti.

"Karena aku mempunyai objek pajak yang paaaaliiiing mahal yang tidak bisa dihitung berapa won pun!"

"Oh ya? Apa? Apartment?"

"Bukaaan~"

"Mobil?"

"Bukan juga, Min.."

"Lalu apa?"

Kyuhyun menggantungkan jawabannya dengan tatapan mata yang sulit diartikan.

"Kau.."

.

.

Jika Kyuhyun harus mengingat semua kenangannya bersama Sungmin, sepertinya tidak pernah cukup waktu untuk menjabarkan semua detil kenangan itu. Terlalu banyak dan terlalu indah. Bagi Kyuhyun, Sungmin adalah kesempurnaan yang telah di berikan Tuhan untuknya.

Tetapi Kyuhyun mulai berpikir, apakah Tuhan memang memberinya benar-benar untuknya? Maksudnya, apakah Sungmin adalah jodohnya?

Entahlah..

Kyuhyun memilih pasrah terhadap segala kemungkinan yang terjadi. Begitu juga dengan kemungkinan ia bakal dikucilkan oleh teman-temannya di kampus jika mereka mengetahui bahwa akhirnya Cho Kyuhyun si playboy kampus berhasil bertekuk lutut di hadapan SEORANG NAMJA.

"Kami senang asalkan kau juga senang, Kyu. Bagi kami tidak ada bedanya kau pacaran dengan siapa pun. Asal kau masih laki-laki.." kata Donghae di suatu sore saat mereka baru sama-sama pulang kuliah.

"Pabo, aku ini masih laki-laki. Laki-laki yang kebetulan mencintai sesama laki-laki"

"Karena setiap orang mempunyai alasan sendiri untuk jatuh cinta," ucap Eunhyuk saat Kyuhyun mengaku atas hubungannya dengan Sungmin.

"Salah, Hyuk-ah. Karena cinta tidak membutuhkan alasan."

"Pppffftt.. Hahahahaha.." Donghae terbahak seketika. "Kyuhyun, Kyuhyun.. Kau dulu sering mengataiku karena aku suka menggombal. Sekarang siapa yang akhirnya tertular? Haha.."

"Ternyata benar kata orang. Jika satu namja memiliki dua atau lebih sahabat yeoja tanpa ada hubungan apa-apa, bisa dipastikan jika si namja adalah gay! Hahahaha.." Donghae masih terus membombardir Kyuhyun dengan goda-godaannya.

"Ikan tengik! Kau mau mati hah?" Dan Kyuhyun pun tidak tahan lagi untuk tidak mengejar Donghae dan mencekik lehernya.

.

.

.

Sejak itu, Kyuhyun sekarang jadi sering mengajak Sungmin jika ia dan Ryeowook cs sedang berkumpul bersama. Kyuhyun juga sering curhat dengan Ryeowook dan Eunhyuk tentang hubungannya dengan Sungmin. Bagaimana ia sering cemburu ketika ia dan Sungmin jalan-jalan ke mall dan selalu saja ada yeoja maupun namja yang terang-terangan menatap ke arah Sungmin.

Sampai pada suatu hari, Sungmin pamit kepada Kyuhyun hendak pulang ke rumah orang tuanya karena faktor rindu.

"Hanya tiga hari kok, Kyu," itulah kata-katanya saat mereka sedang makan siang di daerah Dongdaemun. Entah mengapa saat itu Kyuhyun terasa berat untuk mengizinkannya pergi.

Keesokan harinya, Kyuhyun mengantar Sungmin ke Bandara dan tetap stay di sana sampai pesawat yang ditumpangi Sungmin benar-benar take off.

Belum satu jam Sungmin pergi. Rasanya Kyuhyun sudah dilanda rasa kangen yang teramat sangat. Ia merogoh ponselnya cepat dan mengetik satu pesan di sana,

To : My Sunshine

Rasanya sakit sekali melihat pesawat itu pergi meninggalkanku. Pesawat itu membawa kekasihku, cintaku, sayangku, nafasku, dan hidupku. Pesawatku, aku menitipkan belahan jiwaku padamu. I miss you..

Send.

Delivered.

.

.

11-13

To Be Continue

.

.


Holaa~~

Kalau kemarin2 Kyumin manis2 aja, chap ini mereka ngambek2an bentar, tapi habis itu akur lagi~ kkkk..

Chapter depan ada apa lagi ya? ;;)

Sekali lagi maaf karena ga bisa menyuguhkan(?) adegan ranjang yang explicit saya ga jago bikin gituan, takutnya malah gaje dan bikin ilfeel T_T

Yosh! Sekali lagi terima kasih banyak atas review dan positif komennya.. ^^

See you soon~~ :)

.

Rgds,

SHC.