Disclaimer: Aileen's ff, i just borrow them for the cast and the other things belongs to the rightful owner

Pairing: Sehun x Luhan from EXO

Cameo: Lee Sungyeol x Kim Myungsoo from INFINITE

Genre: Romance, Friendship, Hurt/ Comfort and a little bit Humor on this chapter


Previous Chapter

Saat Kyungsoo tengah melamun, iya melihat sesosok namja sedang melemparkan batu ke arah danau, namja itu berteriak frustasi sambil melemparkan batu-batu berukuran sedang itu. Ia terlihat sedang melampiaskan kekesalannya, saat Kyungsoo bangkit untuk melihat namja itu dari dekat, Kyungsoo terlonjak kaget karena tidak mengira akan bertemu dengannya di tempat seperti ini.

"Kai?"

.

.

'Mengapa cinta Sehun terasa begitu tulus terhadapku? Tuhan... kumohon, aku ingin membalas perasaannya.'

Sehun tidak bermaksud membuat Luhan menangis, dan tanpa diduga, Sehun mengangkat wajah Luhan dan menatap lurus ke dua manik indah berwarna coklat milik Luhan yang kini telah basah dan sembab.

Detik berikutnya, bibir keduanya sudah saling berpautan. Dengan perlahan, Sehun mulai melumat bibir mungil Luhan, walaupun Luhan belum berani membalas ciuman Sehun. Sehun melakukannya dengan lembut, tanpa nafsu, dan... hanya cinta. Mereka melakukannya cukup lama, dan kini tangan Luhan sudah melingkar dengan manis di leher Sehun. Sementara tangan Sehun sedari tadi sudah berada di pinggang Luhan, memeluknya dengan erat.

.

.

"Saranghae Luhannie..."

'Nado... walaupun aku menjawabnya dalam hati, kuharap kau dapat merasakannya Sehunnie...'


Sacrifice For Love

(I Know You Love Me)


Pagi ini Luhan merasa sangat lelah, seharian ia bermain bersama Sehun di rumahnya. Hey! Maksudku bukan bermain dalam artian macam-macam. Kemarin Luhan dan Sehun melakukan kegiatan-kegiatan sederhana namun menyenangkan bagi Luhan. Seperti merawat taman Luhan yang belakangan ini tidak ia urus, menonton DVD koleksi Luhan, memasak kue bersama (yang berujung menjadi perang tepung) sampai bermain permainan hal-hal konyol yang umumnya dimainkan oleh pelajar Sekolah Dasar. Salahkan Luhan yang berjiwa kekanak-kanakan.

Namun Luhan merasa bahagia dengan semua itu. Dan ya, hanya seorang Oh Sehun yang dapat membuatnya merasakan perasaan itu. Perasaan bahagia saat Sehun berada di dekatnya, atmosfir kupu-kupu yang beterbangan di perut Luhan, dan tentu saja debaran jantung diatas normal saat Sehun bersentuhan dengannya. Ah, Luhan rasa ia mulai gila. Ia sangat menikmati ini semua, dan ia berharap Tuhan mendengarkan doa-doanya di setiap malam.

'Aku ingin hidup lebih lama bersama Sehun...'

Karena Luhan terlalu sibuk melamun, ia tidak menyadari kalau ia masih di dalam pelukan seseorang. Siapa lagi kalau bukan pemuda tampan bernama Oh Sehun?

Hapuskan pikiran mesum kalian! Mereka tidak berbuat macam-macam semalam. Hanya saja Luhan merasa kedinginan karena semalam hujan badai mengguyur kota Seoul sehingga membuat Little Xiao Lu kedinginan bukan main. Sehun yang sudah berpengalaman saat itu tidak mau mengambil resiko dan membuat Luhan sakit lagi, hingga akhirnya Sehun memutuskan untuk tidur di kamar Luhan dan menemaninya. Tentu saja atas izin Luhan terlebih dahulu. Ia tidak mau dikatakan namja mesum oleh Luhan kan?

Jujur saja Luhan merasa gugup walaupun sebenarnya ia merasa lebih nyaman saat Sehun menemaninya, tidur disampingnya dan memeluknya. Seakan Luhan adalah sesuatu paling berharga yang ada di hidup Sehun. Aigoo! Tapi bagaimana kalau Sehun mendengar debaran jantung Luhan yang rasanya ingin keluar dari tubuh mungil Luhan itu?

Tidak lama kemudian Sehun bangun karena merasa sesuatu dalam pelukannya sedang bergerak gelisah. Dan pemandangan pertama untuk hari ini adalah wajah cantik dan imut Luhan. Omo! Dan bayangkan saja, jarak wajah keduanya hanya terpaut 5cm. Sedikit saja Sehun atau Luhan memajukan wajahnya, bibir mereka akan bersentuhan. Membayangkannya saja wajah Luhan sudah memerah, bagaimana kalau bayangan Luhan tersebut benar-benar terjadi?

"Hey, good morning princess" Sapa Sehun dengan suara seraknya karena baru saja bangun dari tidur indahnya. Sehun mencium kening Luhan dan mengusap surai coklat Luhan dengan sayang.

"M-morning Sehun-ah" Sehun terkekeh geli melihat ekspresi Luhan yang saat ini tengah terkejut dan dalam hatinya Sehun bertaruh, pasti Luhan sangat terkejut, tapi syukurlah, tidak terlihat tanda-tanda penolakan dari Luhan.

"Hmm, jadi bagaimana tidurmu semalam? Kau tidak merasa kedinginan kan Xiao Lu?" Oh ayolah Oh Sehun! Berhenti memanggil Luhan dengan nama-nama panggilan yang begitu manis untuk didengar!

"A-ani, tidurku sangat nyenyak semalam. Gomawo kau sudah menemaniku semalaman dan... memelukku hingga tertidur"

"Hey, bukankah itu sudah menjadi tugasku? Aku kan namj-"

"A-ah! Sehunnie! Kau lapar kan? Pagi ini aku yang masak, bagaimana? Kau tunggu disini arraseo! Jangan beranjak dari kasur sebelum kupanggil untuk sarapan!" Dan dengan cepat Luhan meluncur menuju dapur dan mengunci pintu kamarnya, meninggalkan Sehun yang belum menyelesaikan kata-katanya mematung di dalam.

Kalian lihat? Lagi-lagi Luhan menghindar dari pernyataan Sehun. Sementara itu di dalam kamar Sehun hanya membuang nafas dengan berat. Baiklah, dia tidak ingin memaksa Luhan untuk menerimanya, tapi tidakkah Luhan menyadari batin Sehun sangat tersiksa setiap kali Luhan menghindari pernyataan-pernyataan cinta dari Sehun? Well, tidak hanya Sehun yang tersiksa sebenarnya, di dalam hati Luhan ia sangat tersiksa. Sangaaaat tersiksa. Bahkan hatinya selalu perih ketika kata-kata cinta itu meluncur dari bibir tipis namja itu.

'Bukannya aku tak mau, aku hanya tidak bisa...'

.

.

.

"Sehunnieee~ sarapan sudah siap!" Panggil Luhan dari arah dapur.

"Ne~ Ah- Xiao Lu, kurasa kau mengunci pintunya? Aku tidak bisa keluar Lu" Sehun mengetuk-ngetuk pintu kamar yang tadi memang Luhan kunci tanpa sadar.

"Ah? Mian mian aku lupa!" Luhan pun segera menuju kamarnya dan membukakan pintu untuk Sehun. "Kajja kita makan!" Sambut Luhan dengan ceria sambil menarik tangan Sehun menuju meja makan.

"Cha! Tadaaa! Waffle special for Sehunnie ala Chef Lulu!" Sehun terkekeh melihat tingkah Luhan yang lagi-lagi begitu manis dan kekanak-kanakan.

Sehun pun duduk di samping Luhan dan disampingnya Luhan memandang Sehun sambil berharap-harap cemas menunggu reaksi Sehun terhadap makanan karya Luhan tersebut.

'Uugh, semoga saja Sehunnie menyukainya...'

"Mhmmm, mashita! Jeongmal! Benarkah kau yang membuat Waffle ini Lu?" Luhan mengangguk dengan semangat.

"Tentu saja! Aku ini memang berbakat!" Sehun pun menyeringai jahil melihat Luhan yang menyombongkan bakat memasaknya.

"Ahh jinjja? Huum aku tidak yakin kau membuat ini sendirian, jangan-jangan kau membelinya ya?" Sehun pun terkekeh melihat ekspresi Luhan yang entah terkejut, bahagia atau kesal karena Sehun meledeknya. Sehun pun tidak tahan untuk menggoda dan mencolek-colek dagu Luhan yang mungil itu.

"Aish! Tentu saja itu aku yang membuatnya! Kau meragukanku? Huuftt yasudah kalau kau tidak percaya aku tidak perlu repot-repot membuat makanan untukmu lagi! Hweeek!" Luhan yang sebenarnya salah tingkah malah pergi menuju ruang TV dan meninggalkan Sehun yang masih tertawa melihat tingkah Luhan yang begitu menggemaskan dan polos itu.

Aigoo, Sehun hampir berfikir kalau Luhan sedang PMS kalau saja Sehun tidak lupa fakta bahwa Luhan adalah seorang namja. Yaa, walaupun untuk ukuran namja Luhan sangat amat tidak ideal karena kecantikan serta tubuhnya yang indah bahkan mengalahkan para yeoja-yeoja yang berusaha keras untuk mempercantik diri dan membentuk tubuhnya.

Sehun pun menyusul Luhan ke ruang TV, dan ia melihat Luhan sedang duduk melihat ke arah jendela. Ternyata di luar sedang hujan.

"Hmm? Sedang memandangi hujan Lu?"

"Uhm? Ah! Sehunnie kau mengagetkanku!" Pekik Luhan yang sedang melamun, ia sangat terkejut karena pasalnya posisi kedua tangan Sehun tiba-tiba sudah melingkar sempurna di pinggang mungil Luhan. Dan Sehun menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Luhan.

"Kekeke, arraseo, mianhae Luhannie~ Eung, kau sudah tidak marah lagi kan? Aku hanya bercanda tadi, jeongmal" Sengaja ia mengucapkan kata-kata tersebut dengan nada memelas agar Luhan luluh dan tidak marah lagi padanya.

'Kekeke kau pasti tidak tahan dengan aegyoku Xiao Lu!'

Luhan menoleh ke arah Sehun yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya "Iish! Kau itu menyebalkan Oh Sehun! Uuh, pergi sana! Aku membencimu!"

"Jinjja? Baiklah baiklah, kalau begitu aku pergi saja dari rumahmu. Aku merepotkan kan? Humm yasudah aku akan ke kamar mengemasi barangku, annyeong!"

Luhan pun mengerjap-ngerjapkan matanya dengan imut. Benarkah apa yang ia dengar tadi? Sehun ingin pergi dari sini? T-tapi ia kan tidak benar-benar berniat menyuruh Sehun pergi!

Sehun pun segera melepaskan pelukannya dari pinggang Luhan dan berjalan menuju kamar tamu. Tentu saja itu membuat Luhan terkejut dan terus merutuki perkataannya yang seharusnya tidak ia ucapkan itu.

'Kau pabo Luhan! Kau telah menyakiti Sehun!'

'Hah! Good job Luhan, sekarang kau membiarkan orang terpenting dalam hidupmu pergi begitu saja? Pabo!'

'Ya! Luhan! Bangun dari pikiranmu dan segera susul Sehun!'

Setidaknya kata-kata itulah yang terus berputar di otak Luhan setelah menatap kepergian Sehun menuju kamar tamu, berniat membereskan barang-barangnya dan segera angkat kaki dari rumah ini. Meninggalkan Luhan sendirian yang jelas-jelas sangat membutuhkan kehadiran Sehun, menjaganya dan akan selalu ada setiap Luhan butuhkan. Luhan pun segera bangkit dari lamunannya dan menyusul Sehun ke kamar. Dan saat Luhan tiba di kamar, Sehun sedang membelakanginya, merapikan barang dan memasukannya kedalam tas berukuran lumayan besar berisi pakaian-pakaiannya. Seketika pikiran Luhan langsung kacau dan terlalu panik, tanpa sadar ia berteriak sambil memeluk Sehun dari belakang.

"ANDWAEEE! SEHUNNIE TIDAK BOLEH PERGI! Hiks... Mianhae! Aku yang salah! Hiks... Sehunnie jangan tinggalkan aku, jebal...hiks"

Sehun menatap kedua tangan mungil yang melingkar di pinggangnya.

'OMO! Luhannie menangis? Eh?'

Sebenarnya Sehun tidak benar-benar berniat meninggalkan Luhan, hanya saja ia mau menjahili Luhan dan penasaran dengan reaksi Luhan jika ia mengerjainya. Hanya saja, Sehun tidak menyangka rencananya berjalan begitu mulus, bahkan Luhan sampai menangis. Sungguh kali ini Sehun sudah tidak tahan untuk tidak tertawa.

"Pffft ahahahaha Xiao Lu kau ini menggemaskan sekali aigoo~ Ahahahaha" Sehun pun membalikan badannya dan menangkup pipi Luhan di kedua tangannya, menatap lurus ke kedua mata Luhan yang merah dan berair karena menangis. Menghapus air matanya dengan kedua ibu jari Sehun.

"M-mwo? M-maksud Sehunnie apa? Yaah! Kenapa kau malah mentertawakanku?" Luhan pun mendongakkan kepalanya menatap langsung ke arah mata Sehun. Memukul pelan dada bidang Sehun.

"Ehehe aniyaaa, aku kan hanya bercanda! Aku tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja Luhannie! Kau pikir aku pria macam apa? Pria pabo yang meninggalkan namjachingunya begitu saja karena namjachingunya marah karena hal sepele? Ahahaha aigoo aigoo"

"Yah! Kau ini apa-apaan Sehunnie! Dan apa-apaan itu, aku kan bukan namjach- Mmmph"

Bibir Sehun sukses membungkam bibir Luhan yang belum menyelesaikan kalimatnya itu. Sehun mencium Luhan dengan lembut, ia hanya melumat bibir bawah Luhan lalu melepasnya.

"MWOYAAA! OH SEHUN NAMJA MESUM AKU MEMBENCIMU!"

CUP

"Nado saranghae Luhannie~"

Sebuah kecupan manis di pipi Luhan sukses didaratkan.

"Yaak! Aku bilang aku membencimu pabo, bukan mencint-" Tangan Luhan sudah melayang hendak memukul Nappeun Oh Sehun. Namun Sehun sudah memotong perkataannya.

"Mencint apa hmm? Mencintaiku? Kau tidak mencintaiku? Jinjja~?" Sehun mengedip-ngedipkan mata dan menaik turunkan alisnya, menggoda Luhan.

"Y-yak! A-ani, bukan begitu juga" Luhan mengalihkan pandangannya.

"Hm? Wae? Kau mencintaiku juga kan? Ayolah Lu, mengaku saja" Sehun menggelitiki perut Luhan karena ia memang sudah benar-benar tidak tahan untuk menggoda malaikat kecil bernama Luhan ini. Kekeke suara tertawanya pun begitu lucu untuk didengar. Dan Sehun sangat tahu Luhan itu sangat sensitif di beberapa daerah.

"Ahahahah-yaa! Oh Sehun haahaha geumanhae! Kyahahaha" Luhan masih saja tertawa karena Sehun belum juga menghentikan serangannya.

"Ahahaha mengaku saja Baby Lulu!"

"Aniyaaa! Kyahahaha"

Dan pagi hari kedua sejoli ini pun begitu manis karena gelak tawa keduanya membuat siapa saja yang mendengarnya akan ikut berbahagia. Oh Sehun dan Lu Han, bukan kah pasangan ini terlalu cocok dan terlalu berharga? Keduanya seolah memiliki pesona yang tidak seorang pun bisa menolaknya. Andaikan saja kedua sejoli ini benar-benar berstatus sebagai sepasang kekasih.

.

.

.

"Kai?"

Kyungsoo semakin mendekat ke arah namja yang melempar batu dengan frustasi itu. Dan ketika jaraknya hanya tersisa satu meter lagi.

Bayangan itu lenyap.

"M-mwoya? B-bagaimana bisa? Apakah aku melihat hantu? T-tapi itu tadi benar-benar Kai kan?"

Kyungsoo yang panik pun segera berlari menjauh dari danau itu. Danau itu memang sepi dan menyeramkan, tapi Kyungsoo tidak menyangka kalau danau itu juga berhantu. Akhirnya dengan jalan yang sedikit tertatih karena kelelahan berlari, Kyungsoo sampai di sebuah taman di dekat kediaman Sehun dan Kai. Ya, Kyungsoo tahu mereka berdua memang menghuni rumah itu berdua. Tapi setahunya, Sehun, pemilik rumah itu jarang sekali berada di rumah.

Kyungsoo melihat kedai bubble tea di ujung taman, kebetulan karena ia haus, ia membeli satu cup bubble tea ukuran besar. Dan setelah pesanannya jadi, ia kembali duduk di bawah pohon. Merasakan angin musim semi. Dan saat Kyungsoo hampir tertidur di bawah pohon itu, ponselnya berdering.

"Yeoboseyo?"

"Yeoboseyo Kyungie-ah? Ini hyung" Sahut suara cukup nyaring di seberang sana.

"Eung, waeyo Sungyeol hyung?" Jawab Kyungsoo agak malas-malasan.

"Hyung akan bermalam di apartemen Myungsoo hyung lagi hari ini, dan kau tahu kan apartemen Myungsoo jauh dari rumah?" Jawab Sungyeol sedikit hati-hati, berjaga-jaga kalau saja adik manisnya ini meledak sewaktu-waktu. Karena dibalik sifat cute dan manjanya, Kyungsoo bisa menjadi sangat cerewet.

"Ne arra, bukankah biasanya juga kau sering menginap disana? Memangnya ada apa hyung?" Perasaannya mulai tidak enak.

"Umm itu... Kunci rumah terbawa olehku"

"NE? Bagaimana bisa? L-lalu aku akan tidur dimana hyung?! Aku kan tidak punya kunci cadangan!" Suara Kyungsoo mulai naik 1 oktaf, membuat Sungyeol agak menjauhkan ponselnya dari telinga.

"Begini saja, eungg... Myungsoo mempunyai sepupu dan rumahnya di dekat taman kota. Myungsoo sudah menelepon sepupunya, tapi ia sedang tidak ada di rumah. Tapi, di rumah itu ada temannya yang ikut tinggal bersama sepupu Myungsoo. Dan sepupu Myungsoo itu juga sudah memberitahu temannya dan ia tidak keberatan. Jadi... apa kau mau menginap di rumah sepupu Myungsoo dulu?"

Dio berpikir sebentar. Tidak ada salahnya menumpang satu malam, daripada harus tidur diluar atau menyewa hotel dengan harga yang mahal. Lagipula itu rumahnya sepupu Myungsoo hyung -yang notabenenya adalah calon kakak iparnya- jadi tidak salah kan kalau Kyungsoo menganggap sepupu Myungsoo itu juga kelak akan menjadi keluarganya.

"Aish hyung, baiklah, mau bagaimana lagi. Hufft lagipula kau mau adik kesayanganmu ini terlantar di jalanan?" Keluh Kyungsoo yang mulai melunak.

"Kekeke, arraseo~ Adik hyung yang cantik jangan marah seperti itu!" Tawa jahil ala choding hyung-nya itu terdengar menyebalkan di telinga Kyungsoo.

"Yaak! Adikmu ini namja hyung!" Lagi-lagi kakaknya yang memiliki sifat seperti anak Sekolah Dasar itu menggodanya.

"Ya ya, diluarnya saja kau terlihat namja, padahal kau ini berjiwa yeoja, bahkan kau sangat manis!"

"Hyung geumanhae, sudah sudah, berikan aku alamatnya sekarang!" Teriak Kyungsoo tidak sabaran.

"Kekeke arraseo, nanti Myungsoo akan mengirimkan alamatnya lewat pesan singkat"

"Ne~ ppali hyung!"

"Neee! Cerewet sekali, sudah ya, annyeong!"

"Hufft, nee, annyeong"

PIP

Kyungsoo pun memasukan ponselnya ke sakunya lagi sambil menunggu pesan dari Myungsoo hyung, tunangan dari hyung satu-satunya Kyungsoo, Do Sungyeol. Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar, menandakan pesan masuk.

From: Myungsoo Hyung

Kyungsoo pun membaca alamat itu dengan seksama sampai akhirnya ia menyadari sesuatu.

"MWOYA? INI KAN RUMAH-"

.

.

.


To Be Continued


Next chapter preview: Penyakit Luhan kambuh lagi, Sehun menyatakan cintanya secara resmi (lagi), Kisah Kai dan Kyungsoo, dan... tunggu saja next chapter (kalau lanjut ya :p)

Big thanks to: LittleZhao, arvitakim, fieeloving13, lisnana1, ajib4ff, kyungieee, 0312luLuEXOticS, ssnowish, wu Sha Na, LeeJiYoon, LULU97, sari2min, OSH-XLH, dian deer, Lin Hwang, ferinaref, WinterHeaven, Hyorim16, RZHH 261220, park soohee

Annyeong! Sebelumnya maaaaf banget updatenya memakan waktu berbulan-bulan hehehe. Dan ff ini -hampir- terbengkalai. Tapi seminggu yang lalu aku cek ff ini ternyata sambutan reviewnya lumayan meningkat. Jadi Aileen mau ngucapin terimakasih yang seeebesar-besarnya buat para readers yang nyempetin waktu buat review.

Hmm baiklah, jadi setelah kalian membaca chapter ini, gimana menurut kalian? Masih tertarik buat baca atau udahan aja nih? Hehe

Ada yang minta adegan NC, jadi aku memikirkan untuk masukin NC atau enggak, tapi entahlah, menurut kalian gimana? Mau tetap fluff kaya gini atau tambah NC? Jujur aku sih agak bingung kalau udah masalah NC hehehe

Daaaan, aku masukin MyungYeol ke chapter ini huehehe apakah readers ada yang Inspirit atau MyungYeol shipper? Ayo kita toss! Kekeke

REVIEW PLEASE! THANKS^^

Hahahaha yasudah, dilanjut atau tidak ada di tangan kalian. Jika masih ada yang berminat baca chapter selanjutnya, aku minta reviewnya yaa, terimakasih! ^^v