Thanks semua buat review dan koreksinya. Maaf jika banyak typo dan kesalahan-kesalahan lainnya. Pas chapter 1 sih, masih sempet buat proofread, tapi chapter selanjutnya gak sempet.
Soal umur Acqua ya, maaf. Author sendiri bingung. Haha.. soalnya Author sempet nulis dua tahun berlalu, tapi Author ganti jadi satu tahun aja. Maaf ya, ngebingungin. Jadi umur Acqua di sini masih lima tahun.
And this is the last chapter..
Hope you enjoy^^
Distress
"Papa menangis.."
"Acqua… jangan..!"
"Tapi, mama.."
"Nanti saat kondisi papa sudah lebih baik, kita coba masuk dan ajak papa ngobrol ya..?"
"Papa… benar-benar akan sembuh kan, mama…?"
"Mm, mama.. kemarin peringatan kematian paman Blaze kan?"
"Ayo kita pergi melihatnya..!"
"Apa?"
"Tidak boleh ya, mama?"
"Acqua itu anak papa Ice, bukan Blaze, kan, mama..?"
"Bagaimana dengan papa?"
"Saat kita kembali, papa pasti sudah baik-baik saja.."
"Baiklah.."
"Yaay!"
"Mama, apa kita akan pergi membeli bunga untuk paman Blaze?"
"Boleh… bunga apa?"
"Bagaimana kalau bunga matahari?"
"Bunga matahari?"
"Papa suka bunga matahari, mungkin paman Blaze juga menyukainya.."
"Begitu.. baiklah, kita beli bunga matahari."
"Kalian mau pergi?"
"Bisa tolong jaga Ice sementara kami pergi?"
"Kalian mau kemana?"
"Kami mau ke tempat paman Blaze."
"Mama, ayo..!"
Keduanya pergi begitu saja, meninggalkan Hanna yang mulai emosi namun segera ditahan oleh Ara. Sementara Taufan hanya diam menatap kedua orang itu mulai menghilang dari pandangan.
…
..
.
Sunyi.
Tak ada kata lain yang tepat untuk mendeskripsikan tempat Yaya dan putranya berada saat ini, selain satu kata yang tersusun dari lima huruf itu.
Mereka berdua perlahan menapaki jalan setapak diantara barisan-barisan nisan. Tak satu pun suara terdengar dari ibu dan anak itu. Hanya sebuah genggaman tangan yang semakin erat dari Acqua saat mereka berdua berjalan semakin jauh ke tengah area pemakaman, tanda bahwa anak itu tak nyaman dengan tempat yang sedikit menyeramkan tersebut.
Ini adalah pertama kali Acqua datang ke tempat seperti itu.
Langkah mereka berhenti tepat di sebuah nisan.
"Mama…" Acqua mendongak menatap wajah ibunya, ada seraut tanya di wajah mungil itu.
Seolah bisa membaca pikiran sang anak, Yaya mengangguk pelan sambil menyerahkan keranjang berisi bunga dan sebuket bunga matahari, memberi isyarat pada anak itu untuk meletakannya di atas gundukan tanah.
"Mama…"
"Hm?" Yaya berlutut di samping putranya yang masih diam, menatap lekat nisan bertuliskan Boboiboy Blaze di sana.
"Mama benar-benar pernah menyukai paman Blaze?" satu pertanyaan itu melesat dari bibirnya tanpa menoleh atau mengubah ekspresi di wajahnya, masih menatap lekat nisan itu.
Tak ada jawaban atas pertanyaan tersebut. Yaya hanya diam, menatap lekat satu titik yang sama dengan yang dilihat putranya. Ia tak memikirkan apapun, dan ia pun tak memikirkan jawaban seperti apa yang harus diberikan pada putra kecilnya.
"Acqua… tidak suka dengannya," tak peduli dengan diamnya sang ibu, Acqua tiba-tiba menyatakan sebuah kalimat tadi tanpa beban sedikit pun. Wajar baginya, ia baru lima tahun dan jujur adalah sifat asli anak-anak.
"Acqua.."
"Acqua tidak tahu kenapa mama begitu menyukai paman Blaze, tapi Acqua tidak menyukainya."
"Maaf, Acqua…" ia berusaha mengulurkan tangan, menyentuh pundak sang putra agar lebih dekat dengannya.
"Kenapa mama menyukai paman Blaze? Apa mama tidak salah mengenali paman Blaze dan papa saat kalian bertemu? Mama tidak bisa membedakan mereka berdua?" seperti detektif, anak lima tahun itu masih berusaha mencari tahu apa yang dulu ada dalam pikiran ibunya itu.
Lagi-lagi tak satu pun rangkaian kata mengalir dari bibir yang terkunci rapat itu. Seolah bingung harus menjawab pertanyaan itu seperti apa. Ia pun tak bisa membaca apa yang dipikirkan putranya saat ini, sehingga ia pun tak tahu pertanyaan apa yang mungkin terlontar darinya.
"Mama.." suara lirih itu membuat Yaya kembali menoleh, dan sedikit terkejut saat tiba-tiba Acqua mendekapnya dengan erat. Tanpa banyak bicara, Yaya membalas, mengusap pelan punggung dan kepala anak itu.
"Mama sayang Acqua?"
"Tentu saja."
"Seberapa besar mama sayang Acqua?"
"Sangat besar, lebih besar dari apapun yang ada di dunia ini. Acqua segalanya untuk mama.." Yaya merasakan satu anggukan di bahunya.
"Acqua nomor berapa, mama?"
"Nomor satu."
"Kalau Acqua nomor satu, bagaimana dengan papa?" lagi-lagi Yaya diam, masih membiarkan Acqua memeluknya erat. "Mama sayang sama papa kan?"
Pelan, Yaya mengangguk.
"Papa juga segalanya buat mama kan?"
Satu anggukan lagi, "Semuanya salah mama.." Yaya berbisik pelan.
"Jika saat ini, paman Blaze masih hidup, apa mama akan tetap bersama papa?"
"Ya.." tak ada keraguan dalam nada suara Yaya saat ini.
Acqua melepaskan dekapannya, kini menangkupkan kedua tangan di wajah ibunya, menatap dalam kedua lensa bening sang ibu yang berjarak kurang dari tiga puluh senti dari wajahnya sendiri.
"Mama.. kalau paman Blaze tidak meninggal, mama akan tetap memilih papa? Mama akan tetap bersama papa dan Acqua?"
Yaya tahu jelas maksud dari semua pertanyaan yang sejak tadi dilontarkan anak itu, ia berusaha mencari tahu perasaannya yang sebenarnya. Dan kenapa di tempat seperti ini? Ia berpikir bahwa putranya ingin Blaze juga mendengar seperti apa jawabannya atas semua pertanyaan tadi.
"Apapun yang terjadi, kalian berdua segalanya.."
"Kita bisa membuat papa kembali seperti dulu?"
"Ya.." Yaya mengangguk dengan pasti, tanpa sedikit pun rasa ragu terlukis di wajahnya. Perlahan diarahkan tangannya, mengusap puncak kepala Acqua sebelum mengecup keningnya lembut.
"Mama.."
"Kita mulai semuanya dari awal… hanya ada mama, papa dan Acqua."
Mendengar sebaris kata yang diucapkan ibunya, membuat satu senyum bahagia terlukis di wajah anak itu. Disusul dengan sebuah anggukan dan sumringah.
"Paman Blaze… Acqua pernah nonton di TV, katanya kalau saudara kembar itu bisa merasakan semua perasaan satu sama lain.." Acqua menangkupkan kedua tangan di depan wajah. "Paman Blaze juga bisa merasakan apa yang papa Acqua rasakan kan? Acqua yakin paman Blaze juga bahagia saat papa bahagia.. Karena itu, Acqua mohon… izinkan papa dan mama bahagia.."
Yaya diam tertegun, menatap sendu wajah putranya yang sedang bergumam itu. Detik itu juga, Yaya bisa merasakan dengan jelas bagaimana perasaan yang disimpan sang putra selama hampir satu tahun masa sulit dalam keluarga kecil mereka.
"Paman Blaze, kita memang belum pernah bertemu dan Acqua tidak tahu, paman orang seperti apa.. tapi Acqua yakin, paman pasti orang baik." Ia berhenti sebentar. "Terima kasih karena sudah melindungi papa dalam kecelakaan itu.."
Semua salahnya, dan hari ini ia akan mengakhiri semuanya. Mengubur jauh semua itu. Lalu memulai segalanya dari awal, hanya mereka bertiga, ia, Ice dan Acqua.
"Terima kasih karena sudah menjadi saudara papa, terima kasih sudah menjaga papa. Paman dengar kan, tadi? Kami akan memulai semuanya dari awal, dan semuanya akan kembali merasa bahagia.. Acqua harap paman Blaze bisa ikut merasakan kebahagiaan kami."
Satu senyum terlukis di wajah anak itu setelah selesai mengucapkan pesannya untuk Blaze. Sebuah senyum yang ditunjukan untuk ibunya.
…
..
.
Suara senandung terdengar dari bibir mungil anak lelaki itu, terdengar sedikit bergema di lorong rumah sakit yang sepi. Wajahnya terlihat lebih cerah dari sebelumnya, satu tangan menggenggam erat tangan ibunya, sementara satu tangan lain menjinjing satu kotak kecil berisi kue.
Senyum tak lepas dari wajah itu sejak ia memasuki lobi rumah sakit. Ia tahu, saat kembali menemui ayahnya di kamar rawat, keluarganya akan kembali. Mereka bertiga akan memulai kehidupan baru, semuanya, dari awal.
"Ah!" tiba-tiba ia berseru, teringat sesuatu.
"Kenapa, Acqua?"
Anak itu menunjukan kotak kue di tangannya. "Acqua lupa beli minuman…" senyum lebar masih belum lepas dari wajah manis itu, wajah yang begitu jelas mirip Ice. "Di koridor yang tadi kita lewati ada mesin penjual otomatis, Acqua mau belikan minuman untuk papa.."
"Baiklah, kita kembali ke sana.."
Acqua menggeleng, melepas pegangan tangannya dari jemari sang ibu. "Mama pergi ke kamar papa duluan saja, biar Acqua sendiri yang beli minumannya."
"Tapi…"
"Mama pergi saja duluan, papa pasti sedang sendirian.."
Yaya tak sempat melontarkan satu kata protes atau paling tidak, menawarkan bantuan untuk membawakan kotak kue di tangan anak itu, Acqua sudah pergi, kembali ke koridor yang tadi mereka lewati dengan langkah riang dan senandung pelan terdengar dari bibir kecilnya.
Tampak jelas bahwa anak itu sangat bahagia, satu kata yang entah sejak kapan tak pernah lagi dikenal olehnya sejak kekacauan menimpa keluarganya. Dan dengan segala kebaikan Tuhan, ia akan merasakan perasaan itu sekali lagi.
Yaya masih belum melanjutkan langkahnya sampai punggung mungil putranya itu hilang dari pandangan.
Satu senyum di wajah yang terlihat sedikit lelah itu masih tergantung, mengiringi langkah kakinya menyusuri lorong rumah sakit yang sunyi.
.
.
.
Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu ruang rawat.
Tanpa keraguan sedikit pun, ia memasuki ruangan, mendorong pintu itu dengan sangat perlahan karena tak ingin mengusik seseorang yang ada di dalam ruangan tersebut.
Namun sepelan apapun, suara derit pintu masih terdengar. Dan ia disana, di tepi ranjang yang ada tepat di tengah ruangan. Duduk diam dengan kaki terjuntai ke bawah, tak sampai menyentuh lantai. Menatap kosong ke luar jendela yang tertutup tirai tipis.
Ice, duduk tenang seolah tak menyadari kedatangannya.
"Aku… punya permintaan.." bisikan terucap dari bibir Ice. Walau ia terlihat tak fokus, ia tahu seseorang memasuki ruangannya, dan tanpa menoleh pun ia yakin orang itu adalah Yaya. "Bolehkah?"
Mendengar Ice yang akhirnya mau bicara dengan suara yang tak lagi tinggi dan sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya, membuat Yaya senang dan reflek berjalan mendekatinya.
"Aku ingin menghentikannya.."
Langkah kaki Yaya terhenti di saat ia hanya tinggal empat langkah lagi dari posisi Ice, tak mengerti dengan maksud dari rangkaian kata yang diucapkan olehnya.
"Kau yang memulainya… bisakah kau menghentikan semuanya sekarang?"
Kedua manik karamel Yaya membulat ketika mendengar perkataan itu. "Apa maksudmu, Ice?"
"Aku lelah.." masih saja kata-kata ambigu yang terucap. Tapi kata-kata itu sukses membuat Yaya terpaku di tempat, dicengkram rasa takut yang datang tiba-tiba.
"Ice…"
Wajah Ice terangkat, kedua mata sebiru esnya menatap Yaya, terlihat sembab karena menangis. Yaya perlahan mendekat, menyentuh wajah itu, ingin menyeka bekas air mata di kedua pipinya.
"Bisakah kau hentikan semua ini..? aku lelah… aku bisa benar-benar gila jika terus mendengar suara-suara mengerikan itu.."
Usaha Yaya untuk menyeka bulir-bulir bening itu tak ada gunanya, air mata itu kembali mengalir bersamaan dengan tubuh Ice yang bergetar.
"Sst.. Ice dengarkan aku..!"
"Sejak awal tidak ada yang namanya keluarga bahagia seperti yang kau rencanakan bukan? Yang ada hanya sebuah skenario yang kau buat untuk membuat dirimu sendiri bahagia.. kumohon, Yaya…."
Kata-kata itu menusuk tepat di hatinya.
"Blaze sudah tidak ada dan aku tidak mungkin menggantikannya… bisakah kau mengakhiri semuanya? Kumohon..!" Ice mencoba mengulurkan tangan menyentuh telapak tangan Yaya yang saat ini menangkup wajahnya.
Rasanya perih melihat keadaan Ice seperti itu.
"Ice, dengarkan aku…!" Yaya dengan kedua tangan membuat Ice mendongak, menatap langsung kedua matanya. "Kumohon dengar dulu…!"
Satu gelengan penolakan. Ia berusaha mengalihkan pandangannya, takut jika harus melihat kedua iris karamel itu secara langsung, takut jika harus mnemukan satu lagi kebencian disana.
"Maaf.. maafkan aku yang sudah membuat semuanya jadi seperti ini… maafkan aku karena sudah membuatmu seperti ini," Yaya merendahkan suaranya, perlahan mendekatkan wajahnya. "Maaf Ice… kumohon.."
"Tidak…" gelengan lagi. "Tidak ada seorang pun yang akan memaafkanku.. ibu, Blaze dan kau… akan membenciku selamanya karena sudah menghancurkan semua yang kalian miliki.. tidak.."
Bulir bening itu turun semakin deras membasahi kedua tangan Yaya yang masih menangkup wajah pucatnya.
"Ice, dengar..! ini semua bukan salahmu, bukan salahmu ayah dan Blaze meninggal. Dan tidak ada yang menyalahkanmu atas semua itu."
"Tidak ada yang menyalahkanku?" mendengar kalimat yang diucapkan Yaya itu membuat Ice memberanikan diri menatap kedua matanya secara langsung.
Satu gelengan dan seulas senyum ditunjukan Yaya untuk meyakinkan suaminya itu.
"Lalu kau.."
Sepenggal kalimat itu membuat raut tanya muncul di wajah Yaya.
"Lalu kau… kalau memang kau tidak membenciku, kenapa kau lakukan semua ini? Semua yang kau lakukan ini untuk menghukumku kan?"
Satu sentakan dari kedua tangan Ice yang menepis kedua tangan Yaya, membuatnya kaget dan mundur secara reflek.
"Kalau kau tidak membenciku, kenapa kau lakukan ini padaku…? Membohongiku, membuatku berperan sebagai Ice yang sesuai dengan skenario yang kau buat hanya untuk memenuhi kebahagianmu sendiri, membuatku seperti orang bodoh selama hampir sembilan tahun.."
"Bukan seperti itu, Ice.."
"Kau minta aku memaafkanmu? Jika aku memaafkanmu, apa kau akan lakukan hal yang sama?" berhenti sebentar, berusaha menyeka air mata yang menghalangi pandangannya. "Tidak, kan?"
"Aku melakukannya untukmu, Ice.. karena aku tidak ingin melihatmu terus menerus menyalahkan dirimu sendiri karena kematian Blaze.. karena aku "
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Ice sudah memotong dengan nada suara yang lebih tinggi. "Karena kau membenciku… kau ingin menghapus keberadaanku?!"
"Bukan! Aku melakukannya karena aku mencintaimu," Yaya langsung mencengkram kedua bahu Ice, membuat jarak mereka hampir hilang. "Aku mencintaimu, kau yang kuinginkan untuk terus bersamaku, kau yang aku inginkan untuk menjagaku, kau yang selalu kuharap bisa tersenyum dan tertawa lepas, hanya kau..! maaf atas semua keegoisanku…"
Entah kenapa mendengar kata-kata itu justru membuat Ice gemetar ketakutan dan air matanya pun tak mau berhenti. Kata-kata itu menyakitkan? Ya, menyakitkan jika saat ini Blaze bisa mendengarnya.
"Kumohon, hentikan..!" suara itu bergetar, menahan isak tangis. Ice menggeleng, berusaha mengalihkan pandangan dari menatap langsung kedua mata Yaya yang mulai tergenang air. Ia tak mau melihat wajah itu basah oleh air mata hanya karena dirinya.
"Bisakah kau akhiri semuanya? Kumohon…"
Suara lemah yang dipenuhi keputus asaan itu membuat Yaya semakin frustasi menghadapi keadaan seperti ini. Ice terus memohon sambil tak henti-hentinya meronta dari pegangannya.
"Bisakah kita memulai semuanya dari awal?"
Pertanyaan itu berhasil membuatnya berhenti meronta. Kedua matanya membulat, tak percaya dengan kata yang baru saja terdengar.
"Hanya aku, kau, juga Acqua… kita mulai semuanya dari awal."
Lagi-lagi gelengan kepala bentuk penolakan menjadi jawaban atas penawaran yang diberikannya. Dan hal itu membuatnya benar-benar tak bisa lagi memegang kendali air mata yang sudah menggenang.
Ia melepaskan cengkraman kedua tangannya dari bahu Ice, sadar bahwa itu menyakitinya. Dengan kedua tangan yang sedikit gemetar, ia mencoba membungkus telapak tangan suaminya yang juga gemetar dan terasa dingin.
"Bukan aku…"
Yaya berusaha menghilangkan gemetar di tangan itu dengan memberikan kecupan lembut di jemarinya.
"Jika memang bisa memulainya dari awal, bukan denganku kau ingin mengawalinya kan? Kau berharap bisa memulainya dengan Blaze…" dadanya terasa sesak saat melihat Yaya menangis di hadapannya.
"Apa yang harus kulakukan agar kau tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu..?"
"Aku bukan Blaze… jika kau ingin memulai semua dari awal.." Ice seolah tak ingin mendengar apapun dari Yaya. Ia hanya ingin terus bicara agar Yaya tahu betapa inginnya ia mengakhiri semua ini.
Ruangan itu hanya diisi oleh desis mesin penghangat yang mengeluarkan uap dan isak tangis tertahan dari bibir Ice. Belum ada tanda-tanda akan datangnya putra mereka, meski sebenarnya anak itu sejak tadi sudah menunggu di luar.
Acqua tetap di luar ruangan, karena ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Berkali-kali ia mendengar ayahnya memohon pada ibunya untuk mengakhiri semuanya. Ia tahu dengan jelas arti dari kata 'mengakhiri' itu, dan ia hampir menangis setiap kali mendengar suara memohon dari ayahnya untuk mengakhiri keluarga mereka.
Apa salahnya jika memulai semuanya dari awal?
Itulah satu-satunya hal yang terbesit di dalam kepala anak lima tahun itu. Ingin rasanya ia menerobos masuk ke dalam ruangan itu dan memohon pada ayahnya untuk tetap bersamanya. Tapi rasa takut lebih menguasai dirinya.
"Ice…"
"Semuanya akan lebih baik jika aku tidak ada.." Ice sudah terduduk di lantai, kedua kakinya lemas dan sudah tak kuat lagi menahan berat tubuhnya.
Tanpa sempat melanjutkan perkataannya, Ice sudah dibungkam oleh satu sentuhan lembut dari bibir Yaya.
Tak peduli berapa pun lamanya, sesesak apapun dadanya karena mulai kehabisan udara ataupun rasa sakit karena dalam pikirannya Yaya tak melakukan ini untuknya, ia tetap tak ingin melepasnya.
Yang membuat dadanya benar-benar sesak adalah saat melihat garis air mata di wajah halus itu.
"Aku tak tahu apa yang harus kulakukan jika kau tidak bersamaku… Acqua membutuhkanmu, kau ayahnya, dan akan seperti itu selamanya.." Yaya berbisik setelah melepaskan bibir itu untuk mengambil napas. "Seandainya waktu bisa diputar ulang, aku berharap tidak pernah salah mengenalimu dengan Blaze…"
"Maaf…" Ice sendiri tak tahu kenapa kata maaf terlontar dari bibirnya saat Yaya membawanya tenggelam dalam lingkaran kedua tangannya yang membungkus seluruh tubuhnya yang entah sejak kapan menggigil.
"Maafkan aku, Ice.." satu bisikan membuat rambut hitam Ice bergoyang karena hembusan napasnya.
"Maaf… karena telah merebut semua kebahagiaanmu, jutaan kata maaf tidak akan bisa membuatnya kembali padamu.. dan meskipun aku mati saat ini, itu tidak akan bisa menukar posisi kami." Masih saja mengucapkan kata-kata itu.
"Aku hanya membutuhkanmu.. aku mencintaimu juga Acqua… karena itu, kumohon tetaplah disini…"
Ice hanya diam mendengarkan kata demi kata yang diucapkan Yaya sambil mendengar ritme jantung Yaya yang cepat.
"Papa.." pintu ruangan tiba-tiba terbuka, menampakan wajah Acqua yang terlihat memerah dan mata yang sembab karena menangis. "Mama…"
Yaya masih belum melepaskan kedua tangannya dari memeluk Ice saat anak itu berjalan mendekat ke arah mereka.
"Kalian berdua akan tetap bersama Acqua apapun yang terjadi kan? Tidak akan pergi kemana pun?" sang anak mulai terisak.
Ice akhirnya sadar bahwa putranya itu terus berdiri di luar dan mendengarkan semua ucapan mereka. Dan itulah yang membuatnya menangis seperti sekarang.
"Acqua…" Ice mencoba lepas dari Yaya untuk mengulurkan kedua tangan memeluk Acqua. "Maaf…" ia membisikan kata itu tepat di telinga si kecil saat ia sudah berada dalam dekapannya.
"Papa nggak akan pergi kemana-mana? Tetap bersama Acqua selamanya?"
"Iya… maaf ya.."
Yaya tak berusaha menghilangkan bekas air matanya, hanya diam melihat kedua orang yang paling dicintainya itu bisa tersenyum sekali lagi.
Ia tak tahu apakah Ice sudah benar-benar memaafkannya atau itu semua dilakukannya demi putra mereka. Yang ia tahu, saat ini semuanya akan dimulai dari awal lagi. Tak ada kebohongan dan takkan ada lagi kebahagiaan kosong.
Ia tak tahu apakah Ice benar-benar sudah menerimanya. Yang ia tahu, Tuhan sudah memberi kesempatan bagi keluarga mereka untuk memulai semuanya dari awal.
Me-restart semuanya dari awal.
Hanya ada ia, Ice dan putra kecil mereka, Acqua.
…
..
.
Apa salahnya jika memulai dari awal?
Tak ada salahnya memulai semuanya dari awal. Sama sekali tidak. Merestart segalanya adalah pilihan paling tepat bagi mereka.
Perlahan tapi pasti, bunga-bunga kebahagiaan mulai mekar di dalam keluarga kecil mereka. Dan perlahan namun pasti, semua menjadi lebih baik.
"Mama…!" satu suara terdengar melengking di tengah keramaian. "Ayo, cepat…!" anak laki-laki itu memakai seragam anak sekolah dasar, tak lupa dengan topi dinosaurus birunya, melambai penuh semangat pada seseorang yang berjalan sedikit lambat jauh di belakangnya. Sementara ia sendiri hampir sampai di gerbang sekolah.
"Mama! Kenapa lama sekali..? ayo, cepat!"
Satu seruan lagi sebelum langkah kecil anak itu terhenti karena menabrak seseorang. Untungnya, sebelum ia merasakan sakitnya bagian tubuh karena menghantam tanah, orang yang baru ditabraknya itu sudah lebih dulu menahan tubuhnya.
"Bukannya mama sudah bilang jangan lari-lari?"
Suara hangat itu membuat satu senyum lebar tergantung di wajah mungilnya.
"Papa terlambat.. kunjungan orang tuanya sudah selesai. Kenapa baru datang sekarang?" Acqua mendongak, menatap si pemilik suara hangat yang tengah tersenyum padanya.
Ya, hari ini adalah hari kunjungan orang tua murid ke sekolah untuk melihat kegiatan belajar-mengajar putra putri mereka, sekaligus pertemuan rutin wali murid dengan wali kelas untuk membahas kemajuan kegiatan belajar. Biasanya setiap anak diwakili oleh salah satu orang tuanya, tapi karena masih kelas satu, tak jarang kedua orang tua datang bersama.
Sayangnya, kali ini Acqua hanya bisa datang bersama Yaya, karena Ice masih harus disibukan dengan pekerjaannya. Tapi sekarang, Ice sudah disini, meski sangat terlambat.
"Maaf ya, Acqua.." Ice mengusap lembut puncak kepala putra kecilnya.
Satu senyuman masih tergantung di wajahnya, menyambut satu lagi orang yang begitu disayanginya.
Yaya berjalan pelan menghampiri keduanya, membalas senyuman yang dikirimkan Ice padanya.
"Kau datang… bagaimana pekerjaanmu?"
"Siapa yang dulu mengatakan, 'Jangan membicarakan pekerjaan saat kita bertiga sedang bersama, tinggalkan semua urusan pekerjaan di kantor saat kau sedang bersama kami!', hm.. siapa?" Ice menirukan gaya bicara itu dengan sangat baik, membuat Acqua yang berdiri diantara mereka terkikik geli.
"Mama!" anak itu menunjuk ke arah Yaya yang saat ini mulai merona wajahnya.
"Aku hanya bertanya…" Yaya mengembungkan kedua pipinya, berusaha menormalkan warna wajahnya.
Ice mengulurkan tangan untuk mengangkat Acqua ke dalam gendongannya. Tertawa geli saat anak itu bermanja padanya, menempelkan dagu mungilnya di pundak Ice.
"Baiklah, akan kujawab.. kak Taufan menyuruhku pulang karena tahu hari ini ada kunjungan orang tua murid. Dan ia juga terlihat sangat repot hari ini karena mengurus persiapan persalinan Ara.." Ice mengulurkan tangan, kali ini merangkul Yaya, menariknya agar berjalan lebih dekat di sampingnya.
"Hm.. kita harus ke rumah sakit untuk melihat keadaannya…"
"Papa, paman Taufan akan punya bayi?" Acqua bertanya, kedua matanya bersinar polos menatap wajah ayahnya.
"Iya."
"Acqua juga mau punya.." anak itu bergumam pelan. "Kapan papa dan mama memberikan adik buat Acqua?"
Satu pertanyaan yang terdengar merajuk itu membuat Yaya dan Ice terdiam sebentar, saling berpandangan, seolah saling melempar tanggung jawab untuk menjawab pertanyaan itu.
"Erm.. itu.. kalau itu.." Ice bingung harus menjawab apa, sedangkan Yaya mencoba mengalihkan diri sendiri dari pembicaraan tersebut.
"Kenapa, papa? Lia selalu membicarakan tentang adik bayinya di depan semua teman-teman.. Acqua juga mau seperti itu.."
Ice menggaruk pipinya meski tak gatal, melirik ke arah Yaya yang masih memalingkan wajahnya.
"Papa…" Acqua merengek, memegang erat kerah kemeja ayahnya.
"Hm.. Ice, bisa mampir sebentar di pet hospital sebelum kita pulang?" pertanyaan itu sebagai pengalih perhatian si kecil.
"Kenapa dengan Ochobot?"
Usaha kedua orang tuanya untuk mengalihkan pembicaraan membuat anak itu kesal. Ia melepaskan pegangan jemari kecilnya dari kemeja sang ayah. Bergumam sambil memalingkan wajah dari ayahnya.
"Jahat.." meski mengatakan itu, tetap saja ia kembali menempel manja pada Ice.
"Aku meninggalkannya disana untuk vaksinasi dan pemeriksaan rutin.." satu helaan napas dari Yaya. Ia hanya angkat bahu saat Ice menatapnya, minta pendapat tentang sikap yang seharusnya mereka ambil untuk menghadapi si kecil.
"Pulang dari menjemput Ochobot, papa akan belikan es krim untuk Acqua, ya?"
"Acqua nggak mau es krim, papa.. Acqua mau adik.." masih kesal, kini anak itu mencubit gemas kedua pipi ayahnya, membuat ekspresi aneh di wajah sang ayah. "Acqua mau adik, papa!"
"Baiklah…"
"Eeh?" Yaya spontan menoleh ketika Ice tiba-tiba mengatakan kata 'baiklah' itu.
Entah, wajahnya seketika berubah ekspresi. Sementara Acqua mulai memunculkan satu sumringah di wajah mungilnya.
"Benarkah, papa?"
"Iya.. nanti setelah menjemput Ochobot, papa akan membelikan Acqua es krim. Papa janji.." Ice melempar senyum jahil dengan kedua jarinya membentuk huruf V.
"Uhh.. papa menyebalkan…"
Meskipun bilang begitu, toh anak itu masih tetap bergelung manja pada ayahnya, mengeratkan lingkaran kedua tangannya di pundak sang ayah. Ya.. walaupun tak hentinya ia bergumam kesal.
…
..
.
"Ahaha… Ochobot!" suara teriakan riang terdengar, pecah di udara, memantul di permukaan air sungai yang tenang.
Acqua..
Anak itu kini tengah bermain bersama kucing tersayang, melupakan kekesalannya terhadap sang ayah yang masih belum mau memenuhi permintaannya tentang seorang adik.
Amarahnya menguap begitu saja setelah Ice memberikan double cone es krim coklat dan dua kotak takoyaki. Mudah sekali? Ya, memang mudah membuat mood anak itu kembali ke semula, cukup dengan memberikannya makanan kesukaan atau mainan baru yang diinginkannya. Sekeras kepala apapun, anak itu toh tetap bocah enam tahun yang pada dasarnya anak kecil mudah dirayu.
Di sana, mereka duduk menikmati matahari sore hangat yang hampir tenggelam, menatap jingganya matahari terpantul di permukaan sungai. Ice duduk berdampingan dengan Yaya, menikmati satu kotak takoyaki sambil melihat senangnya Acqua bermain dengan kucing hitam-keemasan tersayangnya.
"Ah.. Ochobot, kenapa menendang jauh bolanya?" Acqua mengeluh karena si kucing telah menendang bola kecil mainannya cukup jauh.
"Acqua, hati-hati mencari bolanya, jangan sampai turun ke sumgai!" Yaya memperingatkan.
"Baik, mama…"
Ice hanya tersenyum mendengar jawaban dari putra kecilnya. Ia menoleh, menatap wajah Yaya yang begitu dekat dengannya saat ini.
"Kau ingat?" ia bertanya, membuat salah satu alis istrinya terangkat, menantinya melanjutkan pertanyaan itu. "Saat SMA kita pernah melakukan ini juga.."
"Melakukan apa?"
"Duduk di tepi sungai, melihat matahari terbenam sambil makan takoyaki."
"Apa iya?" Yaya memiringkan kepala, mencoba mengingat. "Ah, saat itu kau bodoh sekali, Ice… berguling dari atas sampai ke bawah sana, untungnya kau tidak jatuh ke sungai."
Senyum lagi-lagi terlukis di wajah Ice. Ia senang bisa melihat senyum terbit kembali di wajah merona itu. Ia terus memandangi wajah itu, tanpa sadar membuat Yaya terdiam, merasa canggung karena ditatap seperti itu. Wajahnya kini merunduk, berusaha menyembunyikan semu merah di kedua pipinya.
"Yaya… sampai kapan kau akan menyembunyikannya?" pertanyaan itu membuat Yaya mendongak, menatap wajah Ice.
"Menyembunyikan apa?"
"Acqua terus merengek soal itu.. sampai kapan kau akan menyembunyikan hal itu darinya?"
Bagi Yaya, pertanyaan Ice itu adalah pertanyaan random yang sama sekali tak dimengerti olehnya.
"Aku sudah tahu sejak dua minggu lalu, Yaya.. menunggu sampai kau mengatakannya sendiri padaku. Tapi kenapa kau terus bersikap biasa saja?"
Ice kini membuat Yaya langsung menghadap ke arahnya, membuat si lawan bicara makin bingung dengan maksud pembicaraannya.
"Kau.. mau sampai kapan menyembunyikan kehamilanmu dariku?"
Diam. Tak ada satu ekspresi pun di wajah itu.
…..
Masih diam. Berusaha keras mencerna pertanyaan Ice barusan.
"Eeeehh?!"
Akhirnya satu kata 'eh' terlontar dari bibirnya.
"Kenapa hanya 'eh'?"
"Darimana kau tahu?" manik karamel itu membulat, tak percaya bahwa rahasianya sudah terbongkar.
"Tidak penting darimana aku tahu, jadi.. jika tidak kutanya seperti ini, kau tidak akan mengatakannya pada kami?"
Yaya menunduk. "Aku hanya ingin memberi kejutan.. setidaknya sampai tanggal 13 nanti… itu saja kok.."
Ice menghela napas panjang, menyentuhkan tangannya di wajah itu, membuat sang istri mendongak, menatap langsung matanya. Ia tak tahu kalau Yaya sampai seperti itu, menyembunyikan kabar bahagia tersebut sampai bulan depan hanya untuk memberi kejutan padanya.
"Terima kasih atas rencana kejutannya.." Ice mendekatkan wajahnya, memberi kecupan singkat di dahi Yaya. "Terima kasih karena sekali lagi memberikan satu hadiah yang sangat berharga bagiku.."
"Aku yang seharusnya berterima kasih.. terima kasih karena kau terus bersamaku dan memberikan begitu banyak hal berharga dalam hidupku… terima kasih.."
Tak ada lagi kata diantara mereka. Ice mendekatkan kembali wajahnya….
"Eemm…"
Satu dehaman pelan membuat Ice menghentikan gerakannya.
Disana, ia melihat seorang anak laki-laki tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. Berdecak kesal ke arah mereka.
"Ada yang melupakan kita, Ochobot…" Acqua sengaja meninggikan suara meski berdiri tak jauh dari tempat kedua orang tuanya. "Acqua nggak mau tahu.. pokoknya papa dan mama harus memberi Acqua adik sekarang juga."
Ice dan Yaya tertawa geli mendengar ancaman anak itu. Sebegitu inginnya ia punya adik?
"Acqua benar-benar ingin punya adik?" Ice berdiri dari posisinya, berjalan mendekati sang putra. "Apa Acqua akan jadi kakak yang baik jika papa dan mama memberi Acqua seorang adik?"
"Tentu saja! Acqua akan jadi kakak paling baik di seluruh dunia.. Acqua akan menjaga adik dengan baik dan nggak akan membuatnya menangis.." tanpa ragu ia menjawab.
"Baiklah.."
"Acqua nggak mau es krim lagi, papa… Acqua mau adik!" anak enam tahun itu sudah memotong lebih dulu dengan penekanan di akhir kalimat.
"Papa nggak akan memberikan es krim lagi kok.. papa dan mama mau memberi Acqua adik.."
"Yang benar?"
Satu sumringah dan teriakan girang lagi-lagi melengking ke langit senja di atas permukaan air sungai yang tenang itu. Mendengar bahwa ia benar-benar akan punya seorang adik, sang anak langsung menghambur ke dalam pelukan Ice.
"Terima kasih.. papa," anak itu berkali-kali mencium kedua pipi ayahnya dengan perasaan begitu senang. "Terima kasih, mama…" tentu ia tak lupa mengucapkan kata itu pada Yaya yang sudah berdiri di sisi Ice, mengulurkan tangan menyentuh lembut kepala putranya.
"Bahagianya, Acqua.."
"Ya.." anak itu mengangguk, tak melepaskan senyum di wajahnya.
Senyum di wajah mungil itu, membuat dua senyum lain turut muncul. Tentu saja, kebahagiaan anak itu adalah kebahagiaan Ice dan Yaya juga.
Mulai hari ini, rasanya kebahagiaan tak akan pernah hilang dari keluarga itu. Kebahagiaan yang hilang di waktu lalu, akan terganti dengan segera.
End
Ya, begitulah endingnya. Maaf bila kurang memuaskan dan banyak kesalahan-kesalahan lainnya. Terima kasih sudah membaca.
Dan bagi yang muslim (maaf yang non), selamat merayakan hari kemenangan ya.. Minal Aidin wal Faidzin (bener ga tulisannya?). mohon maaf lahir dan batin…
Taqaballahu minna wa minkum..
Selamat hari raya..^^
