I own nothing, JK Rowling has!

Chapter Four

Wedding day

Rose berdiri di hadapan cermin entah sejak kapan. Ia memandangi tubuhnya yang hanya memakai korset. Alisnya berkerut kemudian dan ia kembali kesal. Ada begitu banyak lebam biru keunguan di sepanjang leher, lengan, dan dadanya. Fuck you, Scorp. Ia masih mencari akal untuk menutupinya namun gagal. Ia mencoba mantra penyamar, tapi tak berhasil. Bercak biru itu hanya terlihat samar bukannya menghilang.

Damn it, Scorpius.

Dia mengumpat sedari tadi di setiap helaan napasnya. Bagaimana mungkin ia membiarkan pria yang baru dikenalnya seumur jagung itu melakukan hal ini padanya? Seumur hidup baru kali ini ia membiarkan seseorang meninggalkan bekas di tubuhnya. Dan baru kali ini pula ia membiarkan seorang pria mengatur hidupnya. Dia tak habis pikir mengapa ia membiarkan Scorp melakukan apa yang ia lakukan tadi malam. Rose menyentuh lehernya dan bayangan-bayangan tadi malam saat Scorp berada disana kembali terulang. Setiap sentuhannya begitu liar dan tak pernah dirasakan sebelumnya oleh Rose. Scorpius fucking Malfoy berhasil membuatnya berteriak untuk meminta lebih.

"Rosabelle," panggil seorang wanita yang membuatnya bukan main terkejutnya.

Wanita berambut cokelat kemerahan itu langsung menarik jubah tidur satin di pinggir sofa tepat di samping cerminnya.

"Apakah kalian semua tak pernah diajarkan mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan seseorang?" tanya Rose kesal.

Kening Rhaella mengerut. "Scorpius, Rhaegar dan kau."

Rhaella tertawa. "Kau benar. Kami tak pernah diajari karena semua ini milik kami. Untuk apa kami meminta izin memasuki sebuah ruangan yang adalah milik kami."

Semanis apapun Rhaella, ia tetaplah seorang Malfoy. Arogansi seperti sudah mengalir di darahnya sejak ia dilahirkan.

"Kau sudah berdandan ternyata. Mari aku bantu menata rambutmu dan mengenakan gaun pengantinmu," ujar Rhaella kembali yang berjalan ke arahnya.

Secara otomatis Rose mundur dan mengangkat tangannya. "Berhenti disitu. Aku tak butuh bantuanmu. Lagipula aku tak suka seseorang menyentuhku."

Rhaella menghela napas kemudian bersedekap di tempatnya. "Kau akan menjadi bagian keluarga ini. Jadi, persiapkan dirimu untuk menerimaku di hidupmu. Sekarang duduklah dan aku akan membantumu."

Mata Rose membelalak. Ini gila. Mengapa semua orang sekarang dengan mudah memerintah dan berucap apa yang harus dilakukakannyan dan mana yang baik untuknya. Demi Tuhan. Dia adalah Rosabelle Weasley-Allegri, calon Capo dari New York Cosa Nostra. Tak ada yang pernah dan tak ada yang dapat memerintahnya. Tetapi, keluarga ini seakan meluluhkan hatinya.

"Duduk, Rosabelle. Kita tak punya banyak waktu sebelum acara pemberkatan kalian," ujar Rhaella.

Dengan muka masam Rose duduk di hadapan meja rias dan pasrah dengan apa yang akan dilakukan Rhaella pada rambutnya. Adik perempuan satu-satunya dari Scorp mengambil pengikal rambut dan memulai 'sentuhannya' pada calon kakak iparnya itu. Dia membiarkan rambut Rose tergerai indah. Sangat jarang pengantin yang menggerai rambutnya, tapi menurut Rhaella rambut Rose terlalu indah bila harus tertumpuk lalu menggunung di kepalanya. Terakhir ia memakaikan tiara kecil dengan hamparan berlian bewarna putih dan zamrud khas para Slytherin dan tentunya keluarga Malfoy. "Ini milik ibuku," ujar Rhaella pelan.

Rose menatap wanita yang berusia sama dengannya itu. "Kau tak perlu memakaikan ini padaku. Masih ada banyak hiasan kepala yang bisa kukenakan," jawab Rose.

Rhaella langsung menggeleng. "Dad memintaku untuk memberikannya padamu untuk kau kenakan hari ini. Tiara ini adalah tiara saat Mum diangkat sebagai Queen setelah menikahi Dad. Dan sekarang tiara ini akan diturunkan kepadamu saat Scorp resmi menikahimu dan ia secara sah menjadi King."

Rose menatap Rhaella dari cermin. Dia selalu berpikir bagaimana sosok Hermione Malfoy saat hidup dulu. Semua orang tampak sangat menyayangi wanita itu. "Cantik," ucap Rhaella saat mahkota itu sudah benar-benar terpasang di rambut Rose.

Tangan Rhaella beristirahat nyaman di pundak Rose dan bulu kuduknya meremang. Sekali lagi ditegaskan bahwa Rose tak pernah nyaman dengan sentuhan dari orang lain, bahkan Hugo dan Maurizio sekalipun. "Jaga tiara ini dengan hidupmu, Rosabelle. Jika tiara ini hilang, aku sendiri yang akan membunuhmu."

Kembali Rose terkejut dibuat gadis yang terlihat begitu manis di luarnya ini. Tawa kemudian muncul di mulutnya. "Jangan berpikir aku bercanda Rosabelle. Aku serius memintamu menjaganya, untuk masalah membunuhmu, mungkin aku akan meminta Rhaegar saja."

Bagaimana mungkin gadis manis ini membuat lelucon tentang membunuh kakak iparnya ini dengan semudah itu? "Sudah selesai mengancamku?" tanya Rose dingin.

Mereka hanya saling pandang di cermin. "Jika sudah kau masih harus membantuku untuk mengenakan gaun pernikahan," tambah Rose.

Rhaella mengangguk lalu mengambil gaun putih di sudut ruangan ini. Gaun yang dipesan langsung dan dijahit khusus untuk Rose ini terlihat begitu menakjubkan. Terbuat dari chiffon dengan detail lengan panjang berbahan lace serta taburan kristal di pinggangnya. Gaun ini dibuat semi konservatif karena Rose tetap membuat gaun ini menonjolkan lekukan tubuhnya terutama kerah V yang dengan anggun menunjukkan belahan dadanya. Ekor gaun yang menjuntai membuat ia terllihat bak para bangswan. Ditambah dengan mahkota yang baru disematkan di kepalanya, Rose akan terlihat bak puteri raja.

"Aku ingin bertanya sesuatu padamu?" ujar Rose pada Rhaella yang tampak sibuk dengan gaun pengantin calon kakak iparnya itu.

"Silahkan," jawab Rhaella yang sambil berjalan ke arahnya dengan gaun putih yang terasa sangat berat itu.

Bibir Rose mengerucut karena ragu dengan apa yang akan ditanyakan olehnya. "Ada apa, Rosabelle?"

"Apakah Scorp mahir berbahasa Italy?" tanya Rose pada akhirnya.

Kening Rhaella mengerut lalu menggeleng. "Scorp mahir beberapa bahasa, tapi tidak dengan Italy."

Rose hanya diam. Kilasan tadi malam kembali terulang di kepalanya betapa Scorp sangat mahir dalam melafalkan setiap kata dalam bahasa keseharian Rose dengan para anggota Cosa Nostra itu. Hal yang paling ia ingat adalah saat Scorp memanggilnya Contessa. Bulu kuduknya masih meremang setiap ia mengingat kembali suara itu.

"Scorp berbicara bahasa Italy denganmu?" tanya Rhaella.

Dan Rose mengangguk. Rhaella tersenyum. "Aku tak heran jika ia dapat melakukannya. Scorp pernah belajar bahasa Jerman dalam tiga hari hanya untuk bericara dengan beberapa rekan bisnisnya di Hamburg. Dan jika ia sekarang mahir berbahasa Italy, itu pasti karena kau selalu berbicara dengan bahasa itu. Scorp pasti akan mempelajarinya untuk tahu apa yang sebenarnya kau katakan," jelas Rhaella

"Mari aku bantu pakaikan gaun ini," tambah Rhaella.

Mata Rhaella membelalak karena baru menyadari beberapa lebam di kulit leher Rose saat membantunya mengancingkan kancing yang berjumlah puluhan di punggungnya itu. "Bloody hell, Rosabelle. Apakah kakakku yang memberikan semua lebam biru di kulitmu ini?"

"Aku rasa aku tak perlu menjawabnya," balas Rose.

Dia kembali panik saat melihat lebam biru keunguan yang masih belum tertutup sempurna meski dengan mantra penyamar tingkat lanjut yang dikuasainya. Tawa kembali terdengar dari Rhaella. "Aku tak heran, Rosabelle. Dari apa yang aku dengar di suite-mu tadi malam di The Waldorf. Kau dan Scorp pasti memiliki malam panjang dan melelahkan bukan?"

Holy shit!

Apakah menikahi keluarga Malfoy berarti tak ada lagi privasi diantara mereka. Dan ia mengutuk vodka serta Scorpius yang membuatnya bahkan lupa untuk merapalkan mantra pengedap suara. Mengingat bagaimana teriakan Rose saat mendapatkan orgasme saat bersama Scorp tadi malam, tak heran bila semua orang yang melewati suite itu dapat mendengarnya.

Rose menghela napasnya. Dia akan terjebak dengan keluarga ini selamanya. Jadi ia hanya butuh terbiasa.

000

Scorpius menatap lurus ke arah taman di balkon ruangan ini sambil mengaitkan kancing di lengan kemejanya. Setelan serta kemeja dan segala perlengkapannya sudah dipersiapkan oleh Rose beberapa hari setelah pertemuan kedua mereka. Saat Scorp menanyakan bagaimana wanita itu mengetahui ukuran tubuhbya, Rose hanya mengedik lalu menjawab 'Aku dapat mengukur hanya dengan melihat dan tanpa harus menyentuhnya' kemudian ia berjalan serta berlalu begitu. Dan ucapannya terbukti dengan setelan jas pernikahan yang digunakan oleh Scorp. Semuanya terasa sangat pas, meski ia tak sempat untuk melakukan fitting dress sebelumnya.

Matahari akan tenggelam beberapa saat lagi dan beberapa saat lagipulalah status lajangnya menghilang. Dua status akan disandingnya dalam satu malam yaitu suami dari Rosabelle Allegri dan King dari The Sociaty. Scorp berjalan ke arah laci ruangan ini lalu mengambil kotak beludru bewarna hitam dan membukanya. Cincin bertahtakan berlian berwarna putih nan besar terpampang di dalamnya. Ia memilihnya bersama Rose beberapa hari yang lalu. Dan membayarnya begitu saja tanpa peduli berapa harga yang dibandrol untuk cincin itu. Mengenal sosok Rose beberapa hari belakangan ini membuat Scorp menyadari wanita itu bagaikan memiliki dua sisi yang berbeda dalam hidupnya. Rose yang dingin serta bengis saat berhadapan dengan musuhnya, serta Rose yang menyukai karya sastra kuno hingga wanita yang menatap cincin pernikahannya dengan wajah yang bercahaya. Bukan karena ia bersemangat dengan pernikahannya, tapi karena ia menyukai setiap berlian yang bertabur di atasnya. Baru saja Scorp akan memasukan kotak cincin itu ke dalam sakunya, sebuah ketukan terdengar dari luar ruangan ini.

"Masuk," ucap Scorp.

Draco Malfoy sudah berdiri di ambang pintu itu dengan jubah hitam suteranya. "Dad," sapa Scorp saat pria itu masuk ke ruangan itu.

"Ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Scorp.

Draco menatapnya sesaat lalu menggeleng. "Tak ada. Hanya ingin melihat sosok yang sesaat lagi akan menggantikan posisiku."

Scorp dan Draco bertukar senyuman. "Kau belum rela bila sebentar lagi aku akan menggabtikanmu?" canda Scorp.

Draco menggeleng perlahan. "Aku justru lega melepaskan tanggung jawab ini dan aku hanya berharap bahwa kau akan menjaga dan melanjutkanya dengan sempurna. Kau hanya perlu ingat bahwa kita adalah Malfoy."

"Dan Malfoy tak pernah sekalipun mengecewakan," tandas Scorp yang hanya dijawab dengan anggukan oleh ayahnya.

Scorp berjalan ke mini bar ruangan ini lalu menuangkan whisky untuk diri dan ayahnya. "Kau tak berencana mabuk di upacara pemberkatan pernikahanmu, bukan?" tanya ayahnya

Scorp hanya menggeleng lalu memberikan gelas di tangannya pada Draco. Mereka menyesap minuman itu perlahan dan hening menyapa ruangan itu. Draco meletakkan gelasnya lalu merogoh sesuatu dari dalam kantung jubahnya. Sebuah kotak beludru hitam seperti milik Scorp keluar dari sana. Ia menyerahkan kotak itu pada anak sulungnya. "Berikan itu pada Rosabelle," ujar Draco.

Kening Scorp mengerut. Ia membuka kotak itu dan langsung menatap ayahnya. Ia tahu persis apa isinya, tapi ia tak tahu apa maksud dari ayahnya itu. "Itu cincin pernikahan ibumu."

"Lalu?"

"Berikan itu pada Rosabelle untuk dijadikan cincin pernikahan kalian," jawab ayahnya.

Scorp terkejut mendengarnya. Ia tahu betul betapa Draco Malfoy mencintai ibunya, bahkan kamar mereka tak pernah berubah dan walk in closet milik ibunya dibiarkan sama sejak kepergian Hermione. Tak ada yang boleh menggantinya apalagi menyentuh barang-barang ibunya. Tetapi, sekarang Draco Malfoy dengan santainya memberikan cincin pernikahan ibunya kepada Rose, calon istri Scorpius yang baru dikenalnya satu bulan ke belakang.

"Tak perlu, Dad. Aku dan Rose sudah membeli cincin pernikahan kami sendiri," jawab Scorp yang disambut dengan gelengan dari ayahnya.

"Aku tak peduli, son."

"Dad, dia tak pantas mengenakan cincin milik Mum."

Scorp sama sekali tak dapat menyandingkan mendiang ibunya dengan calon istrinya itu. Hermione Malfoy begitu lembut dan penyayang, tapi ia tegas terhadap ketiga anaknya. Tak hanya itu, meskipun seorang munggleborn ia tetap dihormati oleh para anggota The Sociaty karena kharismanya. Sementara Rose, dia bahkan dapat menyantap makan malamnya di depan tumpukan mayat dari musuh-musuhnya. Meskipun ia juga dihormati oleh anggotanya, tapi semua itu karena mereka takut mati di tangan wanita berdarah Italy itu. Jadi, Scorp tak mungkin membiarkan wanita itu menggunakan cincin dari ibunya.

"Kau sudah memilihnya, Scorpius, seperti aku memilih ibumu."

"Tetapi, hal ini berbeda, Dad. Kau mencintai Mum dan aku tidak mencintai Rosabelle. Lagipula cincin itu adalah warisan keluarga kita," Scorpius berargumen pada ayahnya.

Ayahnya menggeleng, tapi Scorp tak peduli. "Pernikahan ini terjadi karena kita membutuhkan aliansi dan Rosabelle membutuhkan aku untuk menjadi seorang Capo. Cincin Mum terlalu berharga untuk pengikat pernikahan ini."

"Sudah selesai, son?"

Scorpius langsung terdiam dan menghela napas sejenak saat suara ayahnya berubah menjadi dingin dan tegas. Ia tak lagi berhadapan dengan ayahnya melainkan King dari kelompoknya.

"Jangan berpikir aku menikahi ibumu karena aku mencintainya dan dia mencintaiku. Aku menikahinya karena aku berhutang nyawa padanya dan menikahinya adalah alasan paling tepat untuk memperbaiki citra keluarga kita. Sementara ibumu menerimaku karena aku mengancamnya," ujar Draco.

Kembali Scorp terkejut mendengar ucapan ayahnya. Dia tak pernah tahu bagaimana ayah dan ibunya bertemu dahulu. Mungkin jika Hermione masih hidup ia akan bercerita pada anak-anaknya, tapi tidak dengan Draco. Sampai kapanpun ia tak akan pernah bercerita. Dia terlalu tertutup tentang kehidupannya bahkan terhadap ketiga anaknya.

"Kau mengancam Mum?"

Ia mengangguk. "Tapi aku tak akan menceritakanmu saat ini."

"Dad," ucap Scorpius putus asa.

"Berikan cincin itu pada Rosabelle. Jangan membantahku, ini perintah," ujar Draco dingin dan tak berekspresi.

Scorpius masih belum menjawab. Ia masih berusaha menerka apa sebenarnya yang tengah dipikirkan ayahnya ini. "Scorpius," tegur Draco.

"Yes, Sir," jawab Scorpius.

Draco bangkit lalu keluar dari ruangan ini lalu langkahnya terhenti saat mendapati Albus dan Niklaus di ambang pintu. "Sir," sapa mereka berbarengan.

Draco hanya mengangguk lalu berlalu dari hadapan mereka. Mereka masuk dan mendapati Scorp yang masih terdiam di tengah ruangan ini. "Ada apa, Scorp?" tanya Niklaus.

Scorp mengedik. "Pembicaraan ringan antara anak dan ayahnya," balas Scorp.

Albus dan Niklaus saling bertukar pandang dan memutuskan untuk tak memperpanjang pertanyaan ini. "Pakai jasmu, pemberkatan akan dilakukan sebentar lagi," ujar Albus.

Scorp hanya diam lalu mengenakan jasnya. "Ayo," ajak Scorp pada kedua temannya.

000

Suara puji-pujian sudah terdengar dari dalam gereja, sementara Rose masih berdiri di luarnya dengan jantung yang seakan ingin lepas dari tubuhnya. Pernikahan ini adalah sebatas bisnis semata, ia tak seharusnya merasa sepanik ini. Dia bukan akan menikahi pria yang ia cintai, dia hanya akan menikahi penjamin jabatannya.

"Rose," panggil sebuah suara dari belakangnya.

"Grandpa."

Maurizio Allegri sudah berdiri di belakang cucu semata wayangnya ini. Pria yang sudah berumur lebih dari 70 tahun ini menghampiri cucunya sebelum mengantarnya ke altar. Pria yang dipangil Rose dengan sebutan Grandpa itu mengambil tangannya. "Kau gugup?" tanya Grandpa pada Rose.

Rose tak menjawabnya dan lebih memilih untuk menarik tangannya. Bertahun-tahun hidup dengan Maurizio Allegri tak lantas membuat mereka menjadi dekat layaknya keluarga. Pertemuan mereka bahkan dapat dihitung dengan jari, namun Rose mensyukuri hal itu. Ia tak tahu pembicaraan apa yang akan terbangun antara mereka, karena selama ini pembicaraan dan interaksi yang terjadi di antara keduanya hanyalah sebatas masalah Cosa Nostra.

"Don't falling in love with your husband," ucap Maurizio yang disambut dengan mata yang membelalak oleh Rose.

Rose masih memandang Maurizio tanpa mengeluarkan sepatah katapun. "Just remember this, Rosabelle. Love makes you weak and you can't be weak. Because you're Rosabelle Allegri, the future Capo for New York Cosa Nostra."

Maurizio tersenyum. "Mark my word, Rosabelle. I mean it."

Masih terdiam, Rose tak mampu merespon apapun dari perkataan kakeknya ini. Maurizio menjulurkan tangannya kepada Rose untuk berjalan menuju altar gereja ini. "Ayo, Rosabelle."

Pintu terbuka dan puluhan pasang mata memperhatikan Rose yang tengah berjalan di lorong bersama kakeknya. Di tempat duduk paling depan ia dapat melihat Hugo di kursi rodanya bersama dengan Lorenzo di sampingnya. Di sisi lainnya keluarga Malfoy sudah berada disana. Rhaella tampak tak lepas memandangi Rose dengan senyuman di wajahnya. Tatapan Rose beralih pada pria di hadapan altar yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya. Scorpius bahkan tampak ratusan kali lebih tampan dengan setelan jas pernikahannya. Ia tampak sempurna di setiap jengkalnya. Maurizio meletakkan tangan Rose di tangan Scorp kemudian mengangguk lalu duduk bersama Hugo dan Lorenzo.

Scorp tak dapat berkedip barang sedikitpun saat menatap Rose. Kecantikannya melonjak berjuta kali lipat dengan gaun pengantin dan tentunya mahkota milik Hermione Malfoy yang kini melekat nyaman di kepala Rose. Hal ini pasti perintah ayahnya juga sehingga mahkota ibunya bisa berada di kepala Rose. Pendeta sudah meletakkan rosario di tangan mereka lalu mengajak Scorpius mengucapkan ikrar pernikahannya. Kedua insan itu saling berhadapan dan saat mata kelabu Scorp bertemu pandang dengan iris cokelat tua Rose ia memulai janjinya. "Aku, Scorpius Montella Malfoy akan berjanji untuk menikahi dan memilihmu serta bersamamu di saat sehat atau sakit, suka maupun duka sampai maut memisahkan."

Tatapan pendeta kini beralih pada Rose yang juga sudah siap melafalkan ikrarnya. "Aku, Rosabelle Archangela Weasley-Allegri akan berjanji untuk menikahi dan memilihmu serta bersamamu di saat sehat atau sakit, suka maupun duka sampai maut memisahkan."

Setelah pengucapan ikrar tadi, pendeta itu memberikan kotak yang berisi cincin pernikahan mereka. Rose menjentikkan sebelah alisnya saat mendapati cincin yang berbeda dari cincin yang dipilihnya kemarin. Cincin itu tampak manis dan sederhana namun tetap elegan dengan taburan berlian putih dan kebiruan. Cincin itu adalah cincin tercantik yang pernaj dilihat oleh Rose. Ia menatap Scorp untuk meminta jawaban. "Ini milik ibuku, nanti akan kuceritakan."

Rosabelle hanya mengangguk. Saat kedua cincin itu sudah tersemat di jari masing-masing, pendeta mengangkat tangannya. "Atas nama Tuhan dan kekuatan sihir London yang dilimpahkan padaku, aku nyatakan kalian resmi menjadi suami dan istri."

"Kau dapat mencium pengantinmu."

Scorp menyeringai. "Well, Mrs,Malfoy," Scorpn menarik pinggang istrinya dan melumat bibirnya.

000

Setelah upacara pemberkatan Scorpius dan Rosabelle tak ada satupun yang beranjak dari kursinya. Karena semua orang yang hadir akan menyaksikan pemindahan jabatan pemimpin The Sociaty dari Draco ke Scorpius. Rose masih berada di sisi suaminya saat para tetua bangkit dengan seorang pendeta berada di hadapannya. Draco dan Scorpius sudah saling berhadapan. "Kalian siap?" tanya pendeta yang akan mengukuhkan jabatan ini pada Scorpius secara sihir.

Draco mengangguk begitupula dengan Scorpius. Scorpius menjadi gugup melebihi saat ia mengucapkan ikrar pernikahannya tadi. Suasana gereja itu menjadi sangat senyap, bahkan jika detak jantung seisi ruangan ini dapat terdengar dengan mudahnya. Scorp belum pernah menyaksikan hal seperti ini sebelumnya, meski ia tahu bagaimana prosesi pemindahan tahta di dalam organisasinya. Setelah ia berjabat tangan dengan ayahnya dan sumpah terucapkan, sihir kuno akan mengikatnya selamanya sebagai seorang King bagi The Sociaty sampai saatnya ia harus melepaskan tahta itu.

Pendeta mengangkat tangannya dan Draco sudah menjabat tangan puteranya, tanda prosesi akan segera di mulai. Suhu udara di ruangan semakin menurun karena tak ada yang bergerak dari tempatnya.

"Scorpius Montella Malfoy, will you solemnly promise and swear to govern the people of The Sociaty?" tanya pendeta.

"I solemnly promise so to do," jawab Scorpius.

"Will you promise to protect the people of The Sociaty with the whole of life from the outsider untill your last breath?"

"All this I promise to do. The things which I have here before promised, I will perform and keep. So help me God."

Kalimat terakhir dari Scorpius menjadi pengukuhan dirinya sebagai pemimpin baru dari The Sociaty. Sebuah aliran listrik seperti menjalar di tubuhnya yang terlihat seperti tersalur dari tubuh Draco.

"You did good, son," bisik Draco.

Kedua tangan itu kembali terangkat. Semua orang yang datang langsung bangkit dari duduknya. "I prounace you, Scorpius Montella Malfoy, King of The Sociaty."

Tepuk tangan terdengar bergemuruh di gereja ini. Rhaegar dan Rhaella menatap Scorp dengan penuh senyuman, begitupula dengan Ballard. Tatapan Scorp beralih pada istrinya yang ikut tersenyum tipis khas dirinya. "Congratulations, King."

000

Seperti tradisi The Sociaty di setiap acara pernikahan, setelah pemberkatan akan dilajutkan dengan resepsi dan makan malam di sebuah ballroom yang bersampingan dengan gereja yang mereka sebut The Hall. Rose sudah melepaskan kerudung saat pemberkatan pernikahan mereka. Hanya tiara peninggalan Hermione Malfoy saja yang menghiasi rambutnya. Tak hanya itu, gaun pernikahannya juga sudah dimodifikasi sehinga ekor yang menjulur saat pemberkatan di gereja tadi juga sudah dihilangkan. Sedari tadi Scorpius tak melepaskan Rose dari dirinya barang sedikitpun. Para anggota The Sociaty dan Cosa Nostra secara bergantian memberikan selamat pada mereka. Ada yang tulus dari hati terdalam ada yang hanya sekadar menjilat dan ada yang terpaksa karena tak mau kehilangan muka di hadapan pemimpin barunya.

Tepat setelah jamuan makan malam, dansa pertama bagi pengantin di lakukan. Scorpius dan Rosabelle sudah berada di tengah ballroom ini dengan lampu sorot yang langsung mengarah ke mereka berdua. Saat musik perlahan mengalun, Scorp mulai membimbing istrinya untuk bergerak seirama dengan melody yang ada. "Mau menjelaskan kenapa cincin pernikahanku berubah dan milik siapa cincin ini?"

Mereka masih bergerak mengikuti alunan musik serta ratusan pasang mata yang memperhatikan. "Ayahku meminta untuk memberikan cincin itu padamu sebagai cincin pernikahan kita. Benda itu milik ibuku seperti tiara yang kini sedang kau kenakan," jawab Scorpius.

"Siapa yang memberikan tiara itu padamu?" tanya Scorp sambil memutar tubuh Rose lalu kembali menangkapnya kembali.

"Adikmu, Rhaella. Ayahmu juga memintanya untuk memberikan tiara ini padaku sambil mengancam akan membunuhku jika aku menghilangkannya," ucap Rhaella sarkastik.

Hal ini membuat Scorp tertawa. Scorpius jarang tertawa dan Rose sanggup melakukannya dengan mudah. Rose menatap suaminya itu dengan kesal. "Apa yang lucu?"

"Kau dan ekspresimu. Kau kesal karena ada wanita yang mengancammu dan pada kenyataannya kau bukan takut karena ia akan membunuhmu, tapi karena kau takut benar-benar merusak atau menghilangkan tiara itu, bukan?" ujar Scorpius panjang lebar kepadanya.

"Bukan seperti itu , aku hanya.."

Kalimat Rose terputus lalu sadar bahwa untuk kesekian kalinya, Scorpius berhasil masuk ke pikirannya dan membaca semuanya. "Keluar dari pikiranku, Scorpius."

Scorpius mengedik dan tawa itu masih berada di wajahnya. "Baiklah."

"Jadi , ayahmu memberikan kedua benda peninggalan ibumu untukku. Apa artinya?"

Scorpius menggeleng. "Entahlah. Tetapi hal yang aku tahu bahwa kau tak pantas mengenakannya," ucap Scorp dingin dan tawanya menghilang begitu saja.

Rose membalas tatapan Scorp dengan tak kalah dinginnya. "Aku akan mencatatnya."

Saat alunan musik itu terhenti suara tepukan terdengar dan Scop melepaskan tangannya dari pinggang Rose tapi tidak dengan tatapannya. Ia masih menatap intens istrinya itu.

"May I?" tanya sebuah suara.

Rose dan Scorpius menatap suara itu dan mendapati Draco sudah berdiri di samping mereka. "Sure," jawab Scorpius menyerahkan tangan Rose pada ayahnya.

Sementara Scorpius menyambangi Rhaella dan mulai berdansa dengan adiknya itu.

"Kau tampak cantik, Rosabelle. Dan tiara itu tampak pas denganmu," ujar Draco saat ia mulai berdansa dengan menantunya ini.

Rosabelle hanya menangguk. "Kau tak perlu memberikan tiara dan cincin ini padaku," jawab Rose.

Draco menggeleng. "Jangan pikirkan perkataan Scorpius. Kau sudah menjadi istrinya dan kau kini menjadi bagian dari keluarga kami, tentu kau pantas mendapatkannya."

"Bagaimana kau.."

Shit! Rose mengumpat dalam hati.

"Bisakah kalian, para Malfoy keluar dari kepalaku," ujar Rose mendesis kepada ayah mertuanya ini.

Draco menyeringai persis seperti apa yang Scorpius lakukan selama ini. Hanya dengan seringaiannya saja, semua orang tahu bahwa mereka adalah ayah dan anak. "Hal itu sudah menjadi kebiasaan kami. Belajarlah occlumency untuk menghindari hal ini lagi. Dan Rosabelle, jangan lupa bahwa kini kau juga seoarang Malfoy. Jadi, bersikaplah selayaknya Malfoy."

Rose tak menjawab perkataan Draco tadi. "Kau mungkin berpikir bahwa kami bersikap baik padamu dan menerima dirimu saat ini, tapi hal yang perlu kau ketahui bila kau mengkhianati Scorpius sama artinya dengan kau mengkhianti TheSociaty. Aku dapat pastikan hidupmu akan sengsara, Rosabelle. Aku juga akan memastikan bahwa kau akan kubunuh dengan tanganku sendiri."

Suara Draco yang terdengar seperti mendesis dan sangat dingin membut Rose tak berani berkutik. Ia hanya diam dan menelan ludahnya. Raut dingin Draco kini berubah lalu ia tersenyum singkat dan mencium pipi Rosabelle. "Welcome to our family, Rosabelle."

Sebelum lagu itu usai Draco sudah meninggalkan lantai dansa. Rose masih bergeming di tempatnya. What the fuck! Kembali Rose menggumam. Dalam satu hari ada dua orang Malfoy yang mengancamnya. Benar-benar gila.

000

Pesta masih terus berlangsung. The Sociaty dan Cosa Nostra tampak berbaur menjadi satu. Bukan cinta yang menyatukan segalanya, tetapi alkohollah yang berjasa. Bahkan Lorenzo tampak tertawa nyaman dengan Rhaegar di sudut ruangan sementara Rhaella tengah berdansa dengan pria yang tak dikenal sambil mengikuti beat dari lagu yang di putar di lantai dansa ini. Ballard menyandar di meja bar dengan segelas whisky di tangannya. Ia hanya mengikuti gerak-gerik kekasihnya itu. Apa yang sebenarnya ia lakukan disana dengan pria yang tak dikenalnya itu? Bagaimana mungkin ia terseyum sebahagia itu dengan pria selain dirinya?

"Ballard."

Seorang wanita berambut pirang yang diketahuinya sebagai puteri salah satu anggota The Socity menyapanya. Ballard hanya mengangguk untuk menjawab sapaanya. "Kau sendiri?" tanya wanita itu untuk mencoba membuka pembicaraan yang sama sekali tak diinginkan oleh Ballard.

"Iya," jawa Ballard cepat.

"Kau mau berdansa?" tanya wanita itu lagi dan dijawab dengan gelengan oleh Ballard.

"Aku tak suka berdansa."

Paham akan penolakan Ballard wanita berambut pirang itu pergi meninggalkannya sendiri lagi. Rhaella memandang Ballard dan wanita itu dari lantai dansa. Baru saja puteri klan Malfoy itu akan menghampiri kekasihnya Albus Potter menghampiri Ballard yang membuat Rhaella mengurungkan niatnya dan memilih untuk berbincang dengan anggota The Sociaty yang lain.

"Gin and tonic," ucap Albus pada betender yang bertugas di bar pesta ini.

Sebuah gelas berisi Gin dan Tonic sudah tersedia, Albus kemudian mengangkatnya untuk mengaak Ballard bersulang dengan gelas whisky yang dipegangnya. "Rhaella tampak sangat cantik malam ini, bukan?" ucap Albus yang membuat Ballard sangat terkejut.

Ballard langsung menatap pria yang jauh lebih muda dari dirinya itu, tapi tak menjawab apa-apa dari ucapannya. "Tak heran ada begitu banyak pria yang menatapnya sepanjang malam ini. Dia cantik, pintar, dan penyayang persis seperti ibunya. Setidaknya semua orang berkata seperti itu," tambah Albus.

"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanya Ballard setelah menghabiskan whisky-nya dan kembali meminta bartender untuk mengisi ulangnya.

Albus mengedik setelah menyesap minumannya juga. "Aku tahu kalian menjalin hubungan beberapa tahun ke belakang ini, bukan?" ungkap Albus.

Keterkejutan Ballard semakin bertambah mendengar apa yang telah diucapkan oleh Albus. Ia tak tahu bahwa ada orang lain yang mengetahui hubungan mereka. Ballard yakin betul bahwa hubungan mereka masih terjaga kerahasiaanya. "Aku menyukai Rhaella, jadi aku berusaha mencari tahu siapa pria yang tengah ia sukai, tapi hasilnya nihil," ujar Albus.

"Dia tak pernah terlihat berkencan selama ia berada di Boston, tapi pada suatu hari aku menemukan kau keluar dari kamarnya saat ia masih menempuh studinya dan wanita yang kusukai memberikanmu kecupan panjang dan kalian bertukar senyum penuh cinta yang membuatku muak," tambah Albus lagi untuk kemudian menenggak habis minumannya.

Ballard tak mampu berbicara saat mendengar semua yang dikatakan Albus tadi. Damn it!

"Lalu apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Ballard pada akhirnya.

Albus tertawa. "Aku ingin Rhaella tentunya."

"Langkahi mayatku, Potter," balas Ballard yang mulai terbakar amarah dengan pengakuan dari Albus Potter ini.

"Membunuhmu dan membuat Rhaella ingin ikut mati bersamamu? Tak akan mungkin, Ballard. Aku akan mencari cara lain untuk merebut perhatian wanita itu," kekeh Albus yang kembali mengangkat gelasnya untuk kembali bersulang dengan Ballard.

Ballard tak menjawabnya. Ia hanya diam dan memandang pria yang baru saja mengancam untuk mengambil Rhaella dari hidupnya. "Watch your back, bratan," ujar Albus yang meniru cara Rhaegar memanggil Ballard.

Albus lalu berlalu dan pergi dari hadapan Ballard. Pria itu tak tahu apa yang baru saja terjadi? Ketakutan akan Rhaella yang akan diambil dari hidupnya membuat Ballard kembali memikirkan perkataan Draco Malfoy untuk menikah. Tetapi, bagaimana mungkin ia tetiba saja membawa Rhaella ke hadapan Paxan untuk diperkenalkannya sebagai calon istri lalu meminta izin untuk menikahi puteri semata wayangnya itu? Ballard menyesap whisky-nya hingga tetes terakhir lalu keluar menuju balkon ballroom ini.

Udara malam kali ini ia harap dapat menjernihkan pikirannya yang bercampur aduk. Dia tak pernah berpkir bahwa suatu saat akan ada pria lain yang akan menjadi saingannya, namun saat melihat Rhaella dapat begitu lepas tertawa dan tersenyum dengan pria yang tak dikenalnya seperti tadi, ia terus terpikir akan hal itu. Rhaella seoarang wanita dewasa, cantik, pintar, dan penyanyang persis dengan apa yang dikatakan oleh Albus, pasti ada jutaan pria yang ingin menjadi pendampingnya serta secara terbuka membawanya ke tempat umum untuk dikenalkan ke khalayak ramai. Sementara Ballard tak dapat melakukan hal itu. Ia terlalu takut akan kenyataan yang kelak akan berdampak bagi mereka berdua.

"Kau pasti terlalu banyak minum hingga membutuhkan udara segar, bukan?" Rhaella sudah berdiri di samping Ballard.

"Aku hanya butuh tempat untuk bepikir di dalam ramai sekali," jawab Ballard.

"Tentang?"

"Kita," jawab Ballard cepat.

Ballard melepaskan jasnya lalu memakaikannya pada Rhaella untuk kemudian terdiam. Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka sampai Rhaella membukanya. "Aku minta maaf jika kau tak suka aku berdansa dengan lelaki lain tadi, aku tak bermaksud membuatmu marah."

"Menikahlah denganku," ujar Ballard yang langsung membungkam perkataan Rhaella tadi.

Pupil kelabu Rhaella yang serupa dengan kekasihnya itu membesar saking terkejutnya. Rhaella langsung menatap Ballard tanpa memedulikan sekitarnya lagi. "Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa denganmu?" tanya Rhaella yang masih belum dapat menutupi keterkejutannya.

"Kenapa kau begitu panik saat aku mengajakmu menikah? Kau yang mengucapkan bahwa kita saling mencintai, lalu apalagi yang harus kita tunggu?" jawab Ballard.

Rhaella menatap Ballard tak percaya. Apa yang sebenarnya terjadi di otak kekasihnya ini? Pria ini selalu berpikir dengan jernih. Ia tak pernah sedikitpun bertindak di luar logika dan kini ia benar-benar melanggarnya. Rhaella tak habis pikir, bagaimana mungkin mengajaknya menikah sementara ayahnya dan seluruh keluarganya belum tahu tentang hubungan mereka. "Apakah kau memikirkan pria lain yang lebih pantas untukmu?"

"Jangan bodoh, Liam. Tak ada yang pantas dan tak ada yang aku inginkan selain dirimu. Tetapi, semua ini bergitu cepat. Kau seharusnya mengumumkan hubungan kita terlebih dahulu pada ayahku dan pada Scorp, barulah kita memikirkan tentang pernikahan."

"Jadi, hal ini bukan karena kau memikirkan pria lain atau karena perbedaan usia kita yang sangat jauh dan aku yang lahir bukan dari kaum bangsawan seperti dirimu?" tanya Ballard.

Rhaella menggeleng lalu menatap lurus ke arah pemandagnan yang tak lagi terlihat di malam hari dari balkon ini. "Aku mencintaimu sejak berumur 17 tahun dan saat kau membalas cintaku, aku hampir mati bahagia. Jadi, jangan pernah berpikir seperti itu lagi," jawab Rhaella.

Wanita itu kemudian meletakkan tangannya di atas tangan Ballard di handrail balkon ini. "Aku hanya mencintaimu, Liam," ujar Rhaella yang terdengar bagai berbisik.

"Begitupula aku kepadamu, Rhaella. Ah, aku berharap dapat menciummu saat ini," jawab Ballard.

Rhaella tertawa renyah. "Datanglah ke suite-ku nanti. Aku merindukanmu," balas Rhaella.

Baru saja Ballard akan membalas wanitanya itu, sebuah panggilan dari ponsel sihirnya terdengar. "Ballard," ucapnya.

Wajahnya berubah serius saat memandang Rhaella yang tampak ikut curiga dengan apa yang dibicarakan oleh lawan bicaranya di seberang sana. "Kau yakin?" tanya Ballard.

"Baiklah, aku dan Scorpius akan segera kesana. Pastikan ia tidak lari lagi."

Setelah menutup panggilannya ia beralih kembali pada kekasihnya. "Aku harus pergi, Milaya. Secepatnya aku akan menemuim di suite, okay?"

Rhaella hanya mengangguk dan Ballard pergi dari hadapannya.

000

Rosabelle menatap cincin pernikahannya yang bertahtakan berlian putih dan biru di jari manis tangan kanannya. Cincin yang baru ia ketahui merupakan milik Hermione ini terlihat sangat menakjubkan berada di jarinya. Benda ini seperti memiliki sihir tersendiri. Ketika Scorp memakaikan padanya tadi, cincin itu seakan melekat begitu kuat pada jarinya. Dan hingga saat ini, ia tak tahu apa tujuan ayah mertuanya menghadiahkan benda ini padanya, jika pada akhirnya ia tetap mengancam akan membunuh Rose jika ia berkhianat.

"Rose," sapa Edward sambil tersenyum berjalan ke arahnya.

"Vitiello," Rose berbalik menyapanya.

Berbalik sapa dengan pangilan yang begitu tak disukai oleh Edward. Pria itu tak pernah suka saat Rose memanggilnya dengan nama keluarga. Hal itu biasa dilakukan Rose saat mereka sedang bekerja atau di depan khalayak ramai. Tetapi, kali ini mereka hanya berdua di beranda ballroom ini dan Rose tetap memanggil nama keluarganya. "Kau tampak cantik malam ini," ujar Edward.

Wanita itu hanya tersenyum tipis ke arah Edward tanpa menjawab apapun.

"Kau melihatku setiap hari, tak ada yang berbeda dariku. Hanya gaun putih ini saja," jawab Rose pada akhirnya.

"Rose," ucap Edward kembali.

Rose menggeleng. "Stop, Vitiello. Hentikan semua omong kosong tentang betapa melankolisnya hidupmu. Aku sudah menikah," balas Rose.

Tak perlu mempelajari seni membaca pikiran seperti para keluarga Malfoy karena Rose dengan mudahnya menebak pikiran dari Edward. Ia muak dengan sikap lemah yang ditunjukkan Edward. Seharusnya Rose yang bersikap melankolis dan romantis berlebihan karena selama 4 tahun menempuh pendidikan dengan jurusan English Literature, bukannya Edward yang bahkan tak menghitung ada berapa banyak nyawa yang telah ia hilangkan.

"Aku hanya tak suka dengan bagaimana klan Malfoy memperlakukanmu," ucap Edward.

"Mereka memperlakukanku dengan sangat baik," ucap Rose yang sebenarnya ia juga ragu akan kebenarannya.

Apakah mengancam puteri menantu yang pernikahannya baru berusia hitungan jam termasuk memperlakukan dengan sangat baik? Rose menggeleng. Setidaknya Draco Malfoy mempercayakan dua barang milik mendiang istrinya kepada Rose.

"Tapi Scorpius menatapmu bak kau adalah musuh atau buruan yang akan ia santap untuk makan malam," tambah Edward lagi.

Rose mengangkat tangan tanda menyerah. "Cukup, Vitiello. Aku muak dengan sikapmu!" Rose menaikkan suaranya.

"Jika benar Scorpius akan memburuku, dapat kupastikan bahwa aku akan membunuhnya terlebih dahulu. Jangan memperlakukan seolah aku puteri kerajaan yang lemah dan hanya sekadar menunggu pangeran berkuda putih datang untuk menjemputnya," cecar Rose yang sudah kehilangan kesabarannya, meski pada nyatanya ia memang tak pernah memiliki kesabaran lebih dalam hidupnya.

"Hal yang harus kau sadari aku adalah calon Capo dari kalian dalam beberapa hari kalian, aku tak mungkin semudah itu dibunuh oleh seseorang. Aku Rosabelle Weasley-Allegri."

"Kau melupakan Malfoy di belakang namamu, Rose," tetiba saja Scorp sudah berjalan ke arah mereka.

Edward dan Rose menatap Scorp secara bersamaan. Sementara pria itu hanya membalas tatapan itu dengan datar dan dingin kepada istrinya dan Edward Vitiello. Scorp melingkarkan lengannya di pinggul Rose sambil tersenyum penuh kepura-puraan lalu kembali kepada Edward yang tak tahu harus berbuat apa. "Kau tak perlu takut jika aku dan keluargaku akan menghabisi Capo kalian. Rose terlalu berharga jika harus aku habisi sekarang."

"Sekarang?" tanya Rose tak percaya namun perlahan dapat memahami selera humor dari suaminya ini.

Scorp mengangguk. "Jika aku berencana membunuh istriku, kupastikan bahwa aku akan mengundang para Cosa Nostra menyaksikannya dan terutama dirimu, Vitiello."

Edward hanya menatap Scorp dengan penuh amarah lalu pergi meninggalkan pasangan pengantin baru itu. Scorp menarik pinggul Rose untuk menghilangkan jarak di antara mereka. Semilir angin menerpa mereka. "Kau tak menyukai saat aku bersama Katya, peraturan akan sama berlaku padamu. Jika kau kembali terlihat bersama Vitiello lagi, kau akan mengucapakan selamat tinggal selamanya pada mantan kekasihmu itu."

Rose tertawa sarkastik pada Scorp. "Pertama, aku tak peduli jika kau akan menghabisi Vitiello. Kedua, ada apa dengan otak para Malfoy, huh? Dalam sehari aku mendapat tiga ancaman dari kalian."

"Kalian?" tanya Scorp.

"Yaa, kalian. Kau, ayahmu, dan Rhaella."

Scorp tertawa. "Hentikan tawamu," balas Rose kesal.

"Kau harus melihat ekspresimu saat kesal. That's hilarious."

Rose mendengus dan memberengut. Wanita itu tak pernah memberengut, tapi bersama pria yang kini menyandang jabatan sebagai suaminya dia melakukannya. Melakukan hal layaknya anak remaja bersama kekasihnya. Scorp kembali tertawa lalu kembali menarik Rose ke dalam pelukannya. Tangan Scorp beristirahat nyaman di pinggul Rose lalu menyeringai. "Untuk saat ini, aku belum menyesal menikahimu, Rose Malfoy."

Rose mendengus namun tak dapat menahan senyumanya. Bukan senyuman tipis dan dingin a la dirinya, tapi senyum sumeringah hingga matanya. Ungkapan mata tak pernah berbohong selalu benar adanya. Baru saja Scorp akan merunduk untuk mencium istrinya, Rose menghindar lalu menjepit kedua pipi Scorp dengan jarinya. Wanita itu menggeleng. "No, no, Scorp."

Alis Scorp mengerut lalu Rose menyibak rambutnya yang dibiarkan tergerai. Rose mengusap foundation yang diaplikasikannya di lebam biru akibat aktivitas mereka tadi malam. "Daerah terlarang. Kau belum puas menandaiku tadi malam? Aku hampir mati kesal saat aku harus menutupinya ketika berias tadi."

Scorp menyeringai lalu kembali menarik Rose ke pelukannya. Ia kemudian melepaskan tangan Rose dari pipinya. "Aku tak peduli, Rose. Kau milikku sekarang. Semua orang harus tahu akan hal itu," balas Scorp lalu tanpa berbasa-basi lagi mencium leher jenjang Rose.

"Scorpius," ucap Rose yang ikut meremas bokong suaminya meski mereka tengah berada di beranda di ballroom resepsinya.

"Yes, Contessa," balasnya.

Dan darah Rose kembali berdesir kencang saat suaminya memanggilnya dengan sebutan Contessa.

"Scorp."

"Scorpius."

Sadar bahwa suara itu bukan keluar dari mulut istrinya, Scorp melepaskan Rose yang masih mengalungkan tangannya di leher Scorp. Matanya memandang pria yang berdiri beberapa meter di belakang Rose. "Damn it, Ballard," umpatnya seperti mendesis yang hanya dapat di dengar oleh Rose.

Ballard berjalan ke arah mereka saat Rose dan Scorp sudah melepaskan tubuh satu sama lain. "Ada apa?" tanya Scorp.

Ballard menatap Scorp dan Rose secara bergantian. Ragu untuk berucap. Rose sadar akan hal ini lalu tersenyum kemudian berdiri di hadapan Ballard. "Ada apa?" tanya Rose mengulangi ucapan Scorp.

"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan suamimu," balas Ballar yang menatap intens pada Scorp agar mendiamkan istrinya yang berlaku bossy di hadapannya.

"Katakan, Ballard," jawab Scorp.

"Scorp," ucap Ballard terkejut dengan jawaban dari King-nya ini.

Senyum Rose kembali terpulas. Senyum tipis dan dingin tentunya. "Aku istrinya sekarang itu berarti aku Queen kalian sekarang. Katakan semuanya di hadapan kami berdua, Ballard."

Ballard menghela napas lalu menyerah. "Nott tengah berada di Belfast beberapa saat lalu, informan kita mengatakan bahwa ia berada di sebuah rumah minum selama berjam-jam hari ini. Dan tadi ia terlihat begitu mabuk saat kembali ke sebuah flat yang tak jauh dari rumah minum itu."

Scorp mengangguk. "Siapkan Portkey, sepuluh menit lagi kita akan bertemu dan ke flat itu sebelum ia kembali menghilang."

"Yes, Sir."

Saat Ballard sudah menghilang, tatapan Scorp kembali pada istrinya. "Kau tahu apa yang tengah aku pikirkan. Jadi, jangan melarangku."

"Terserah padamu, Rose," balas Scorp menyerah.

"Great."

000

Tidak seperti formasi sebelumnya saat mereka menyerang Orlov, kali ini Scorp hanya pergi dengan Ballard serta Rhaegar dan tentunya Rose yang 'memaksa'. Kali ini mereka juga tak menggunakan jet sihir pribadi Malfoy dan lebih memilih Portkey untuk mempermudah dan menyingkat waktu. Rose sudah mengganti gaunnya dengan kemeja hitam, celana jeans, dan jaket serta boats. Begitupula denga ketiga pria lainnya. Ballard memimpin jalan saat Portkey telah mendaratkan mereka ke sebuah lorong jalan di kota Belfast. Tongkat sihir serta pistol sudah siap di tangan mereka. Bahkan Rhaegar yang jarang menganggap sesuatu dengan serius kini tampak sangat siaga dengan sekitarnya.

"Menyesal menikahi kakakku, Rosabelle? Jika kau menikahi pria normal, mungkin kalian kini tengah bercinta sepanjang malam, bukannya keluar negeri untuk menangkap pembunuh ibu kami," ucap Rhaegar dengan nada bercanda namun tingkat kesiagaan sama sekali tak dikuranginya.

Rose tertawa sarkastik namun tak menjawab celotehan Rhaegar, sementara Scorp dan Ballard hanya tersenyum. Kali ini Scorp menatap Rose yang tengah berjalan beriringan dengannya. "Fokus, husband. Aku belum mau menjadi janda secepat ini," ujar Rose saat Scorp tak lepas memandangnya.

"Aku yang menyesal karena Nott muncul malam ini. Seharusnya malam ini aku dapat bermain-main denganmu terutama jika kau memakai lingerie hitam itu di balik gaun pernikahan tadi," ucap Scorp sangat pelan.

Rose menarik Scorp seketika yang membuatnya terkejut dan tongkat sihirnya kembali siaga. Diletakkannya tangan Scorp ke bagian perut di balik kemeja hitamnya. Scorp terkejut karena merasakan lingerie itu ternyata digunakannya. "Let's catch this fucker. And then you can make me scream for your name," bisik Rose yang seketika membuat suaminya benar-benar kehilangan fokus.

Rhaegar berdeham dan Scorp otomatis menjauhi istrinya. "Rosabelle, kau yakin hanya Hugo yang menjadi saudaramu? Kau tak memiliki saudara perempuan yang dapat kau kenalkan padaku?"

"Rhaegar Kraver," ucap Scorp.

"Baiklah, brother."

Ballard menghentikan langkahnya saat mereka sampai di sebuah bangunan tua. "Kita sampai," ucap Ballard.

Scorpius menatap flat itu dengan saksama dari seberang jalan. Ia tak tahu permainan apalagi yang dimainkan oleh Nott dengannya. Pria busuk itu tak pernah tinggal di tempat bobrok seperti ini sepanjang pengetahuannya. Nott selalu berpindah dari satu mansion ke mansion lainnya. Dari satu kota ramai ke kota ramai lainnya. Kali ini ia pindah ke tempat kumuh seperti ini, pasti ada sesuatu maksud di baliknya. "Tunggu apalagi? Ayo kita tangkap dan habisi tikus itu," ucap Rhaegar bersemangat.

"Scorp," ujar Ballard meminta persetujuan.

Scorp mengangkat tanganya tidak setuju. "Ada apa denganmu, brother? Tikus itu ada di dalam, ayo masuk dan habisi dia.

Scorp menggeleng. "Ini pasti jebakan. Dia tak mungkin seceroboh ini, Rhaegar"

Rhaegar mendengus. Hal seperti ini sudah terjadi beberapa kali, Rhaegar merasa Scorp terlalu berhati-hati walau pada akhirnya tikus itu selalu berhasil lari dari kejarannya. Bukannya tidak menghargai kakaknya yang notabene juga seorang King baginya, tapi Rhaegar muak jika misi seperti ini harus gagal berulang kali. Scorpius bahkan pernah membunuh penyihir yang jauh lebih kuat dari Theodore Nott dan memenangkan misi yang lebih berbahaya dari ini, tapi entah mengapa untuk urusan menangkap dan membunuh tikus keparat ini rasanya sulit sekali. "Jika kau tak mau masuk ke flat itu, aku akan masuk sendiri," ujar Rhegar.

Langkahnya terhenti di hadapan Ballard. "Bratan," ucapnya pada Ballard.

Ballard mengeleng. "Dengarkan apa Scorp, Rhaegar. Bisa jadi ini adalah sebuah jebakan, untuk ukuran Nott dia tak mungkin bertindak seceroboh ini dan menunjukkan dirinya di tempat umum dengan mudahnya."

Kembali mendengus Rhaegar kesal mendengar jawaban dari Ballard yang seakan membela kakaknya itu. Ia melengos meninggalkan Scorp, Rose, dan Ballard. "Baiklah, aku akan masuk sendiri," balas Rhaegar.

Rose menggeleng tak percaya. "Untung saja aku tak memiliki adik."

"Kau memilikinya sekarang," ujar Ballard yang mengikuti Rhaegar dari belakang begitupula dengan Scorpius.

000

Bangunan tua itu terkesan tak terurus. Lantai kayu untuk di beranda flat itu saja sudah lapuk dimakan hanya itu, bangunan 10 lantai ini bahkan tak dilengkapi dengan fasilitas elevator. Dengan masih bersiaga ia memanjat satu persatu anak tangga hingga ia sampai di lantai teratas bangunan ini sesuai dengan informasi yang di dapatkan Ballard. Hanya ada satu pintu di lantai itu dan dalam keadaan tak terkunci

"Berhenti, Rhaegar," ujar Scorp ketika adik bungusnya itu sudah memegang knob pintu itu.

"Oopsie, sudah terbuka, Scorp," balas Rhaegar

Rhaegar menendang pintu tu dengan pelan dan masuk dengan tongkat dan pistol yang sedari tadi sudah siaga di kedua tangannya. Tanpa memedulikan Rose dan Ballard lagi, Scorp mengikuti jejak adiknya dan terkejut dengan apa yang dia temukan. Tak ada bangunan serta perabot tua yang seperti mereka bayangkan melihat bagaimana flat ini tampak dari luar. Semuanya tampak mewah seperti penthouse para penyihir kaya pada umumnya. Mereka semakin siaga saat mendengar suara dari balkon yang terbuka terlihat berhembus di balkon itu hingga meniup gorden yang masih sedikit menutupinya. Sosok bayangan muncul di sana. "Gotcha," ujar Rhaegar yang langusng berjalan ke balkon itu.

Baru saja Scorp akan melarang adiknya itu kaca di balkon itu meledak yang langsung membuat Rhaegar terjengkang karena jaraknya yang begitu dekat. "Rhaegar!" teriak Scorp yang langsung berlari ke arah adiknya itu.

"Aku baik-baik saja," ucap Rhaegar yang mengalami luka yang cukup ringan.

Tetiba saja pecahan kaca yang terserak di lantai itu bangkit dan melayang kemudian kembali lagi utuh di pintu balkon itu seperti sedia kala. Ballard berjalan menghampiri pintu itu dan sosok yang mereka incar muncul tepat di hadapan mereka di balkon itu. Dengan jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuh dan wajahnya, Theodore Nott berdiri di hadapan mereka. "Well, hello kids," sapanya.

"Congratulation your wedding, Scorpius. Your bride is so beautiful," ujarnya.

Baru saja Scorpius bangkit dan hendak merapalkan mantra, Nott menerjunkan dirinya dari lantai sepuluh bangunan ini setelah mengucapkan kalimat perpisahannya. "Goodbye."

Scorp dan Ballard berlari ke tepi balkon itu dan melihat tubuh Nott tergeletak di tanah untuk sesaat kemudian menghilang bagai diterpa angin. "Damn it," umpat Scorp yang untuk kesekian kalinya kehilangan kesempatan untuk membunun Nott meski jarak mereka sudah sedekat tadi.

"Selamat lil brother, kau berhasil membuat kakakmu kehilangan Nott lagi," ucap Rose santai.

"Diam Rosabelle, kau tak kenal kami," balas Rhaegar.

Saat Scorp masuk kembali dia menjentikkan tongkatnya yang membuat Rhaegar terhempas ke dinding. Rhaegar tak berteriak atau memaki kakaknya, ia hanya menatap Scorp dengan penuh amarah. "Kau yang diam, Rhaegar. Mulai sekarang kau keluar dari misi ini."

"Scorp," ucap Ballard yang Scorpius tahu sekali akan membela adik bungusunya itu.

"King's decission, Ballard,"jawab Scorp.

"Aye, Sir."

Tatapan Scorp kembali pada Rhaegar yang sedang mencoba bangun karena kakanya dengan sengaja menghempaskan tubuhnay ke dinding, "Bangun, spoiler brat. Kita harus pergi dari sini."

Rhaegar tak menjawabnya dan hanya bangkit dari tempatnya tadi. "Ada sesuatu yang tak beres, Scorp," ujar Rose tetiba saja.

"Kau merasakan sesuatu?" tanya suaminya.

"Kau tak merasakan bangunan ini bergetar?" Rose berbalik tanya.

Scorp dan Ballard bertukar pandang. "Kita harus keluar dari sini. Cepat ber-Apparate," perintah Scorp.

"Nott memblokade zona aparasi di flat busuk ini sepertinya," jawab Rose.

Boom

Boom

Suara debuman kencang terdengar dari lantai dasar bangunan ini. Saat mereka akan keluar sema pintu di ruangan itu tertutup secara sihir. Bahkan pintu balkon tadi sama sekali tak dapat digerakan. "Holy shit, kita terjebak," ucap Rose.

Boom

Boom

Lantai di ruangan itu bergetar dan bangunan ini rubuh perlahan. Hawa panas terasa dimana-mana. "Nott mencoba untuk membakar kita hidup-hidup."

"Shit! Aku baru saja menikahimu beberapa jam. Aku belum sanggup berkorban sebesar ini untukmu, Scorpius," ujar Rose yang berusaha bangkit karena getaran dari bangunan yang perlahan akan runtuh dan mengubur lalu membakar mereka hidup-hidup.

"Shut up, Rose," ujar Scorp yang berusaha membantunya bangkit.

Ballard sudah sibuk merapal mantra sambil menepuk-nepuk dinding ruangan ini dan berusaha untuk mematahkan mantra yang ada, sementara hawa panas dari kobaran api yang sudah menghabisi bagian bawah bangunan ini sudah terlalu amat terasa. Rose ikut melakukan hal yang sama sambil berpikir keras mantra apa yang cocok untuk menghancurkan mantra yang dirapalkan oleh Nott di seluruh bangunan ini. Senyum tipis Rose terpulas di wajahnya saat ia menemukan kelemahan di mantra yang telah di rapalkan Nott ini. Rose mundur selangkah dari tempatnyan senyum yang lebih mirip seperti seringaian itu masih terpulas di wajahnya.

"Saudara-saudaraku silahkan mundur dari pintu balkon itu," ujar Rose.

Ketiga pria itu hanya bertukar pandang lalu mundur dari tempat yang diminta oleh Rose. "Kau yakin?" tanya Scorp.

"Hal ini adalah salah satu alasan mengapa kita ditakdirkan menikah, husband," balas Rose.

Dia menjentikkan tongkatnya. "Distruggere maximano," ucap Rose santai.

Seketika pintu kaca balkon itu pecah, begitupula dengan dinding-dinding yang sedari tadi kokoh tanpa celah kini mabruk perlahan. "Kau jenius , Rosabelle," puji Rhaegar yang masih terkagum.

"Lain kali jika kau menyuruhku untuk diam lagi, mantra tadi akan kutunjukkan padamu, Rhaegar," jawab Rose sementara adik iparnya itu hanya diam dan kekehan dari wajahnya hilang.

Boom

Debuman itu kembali terdengar dan api perlahan sudah membakar bangunan itu. "Kita harus keluar sekarang," ujar Scorp.

"Tapi pintu masuk kita tadi sudah terlalap api, namun jika kita tak keluar sekarang, kita pasti mati di dalam reruntuhan ini," jawab Ballard.

Rose tampak kesal dengan suaminya yang masih menyempatkan untuk berbincang. "Kita loncat sekarang juga."

"Ini lantai 10, Rosabelle," balas Scorp sarkastik denga ide gilanya.

"Percaya padaku."

Tanpa meminta persetujuan Scorp lagi, ia berjalan ke pinggir balkon ini dan bersiap-siap untuk loncat. "Ayo!" teriak Rose.

Rasa ragu itu menghilang dan ketiga pria itu mau tidak mau mengikuti perkataan Rose. Dalam hitungan ketiga mereka loncat dari balkon itu berbarengan dengan ledakan dan runtuhnya bangunan itu sebagai latarnya. Dorongan dari ledakan itu begitu terasa di tubuh mereka. Saat Scorp berpikir bahwa setelah ini tulang belulangnya akan remuk dan patah, justru kecepatan mereka semakin berkurang saat mereka hampir menyentuh daratan.

"Aargh," suara Rhaegar terdengar saat mereka sudah terjatuh di tanah.

Rose, Scorp, Ballard dan Rhaegar selamat mendarat di tanah dengan bantuan rapalan mantra dari Rose untuk memperlambat kecepatan mereka agar tak terjadi benturan yang dahsyat. Scorp dan Rose menatap langit yang tak berbintang malam hari ini dengan reruntuhan serta kobaran api di hadapannya. Napas mereka terengah dengan apa yang baru saja terjadi tadi. "Bukan loncat dari lantai 10 seperti inilah aku membayangkan malam pengantinku," desis Rose.

Scorp terkekeh. "Aku berhutang padamu bulan madu, wife," ujar Scorp.

"Aku ingin pantai," balas Rose denga posisi yang belum berubah sedari tadi.

"Come vuo tu, Rose," jawab Scorp.

000

to be continued

So how's this chapter? Let me know what you think, please:))

For typos, I just wanna say I'm sorry. And thank you for still appreciate my story. See you in the next chap, okay? Thanks!