Haaaai~!

Hmm, lama banget nggak kesini. Maaf ya, UAS menghalangiku untuk mengapdet. Apalagi beberapa makalah akhir semester yang harus diselesaikan.

Untuk Just 'Monta –YukiYovi, Iin cka you-nii sudah kubalas lewat PM yaa…

Hiruma Enma 01: hehehe, iya. Waduh… kalo Hiruma kemungkinan kecil nih, munculnya. Untuk kali ini ada senasuzu, semoga suka, ya ;)

Jadi, terima kasih banyak sudah menunggu! Silakan membaca, semoga suka! xD


Taki's Love Life

Chapter 4: Jepang, Aku Pulang!

Written by: undine-yaha

Disclaimer: Inagaki Riichiro and Murata Yuusuke

Disclaimer: Nama-nama tempat dan nama tim amefuto yang ada di dalam cerita ini bukan punya saya ^^

Dear Coach Bryan,

Terima kasih sudah melatih Taki selama ini. Pasti ia banyak merepotkan Anda. Tapi aku benar-benar berterima kasih karena saya dengar Anda sudah memberinya kesempatan bermain di salah satu pertandingan Lions. Saya harap ia banyak membantu tim.

Saya mengirim e-mail ini untuk meminta izin supaya Taki diperbolehkan pulang ke Jepang. Ayahnya sedang sakit dan sekarang masih dirawat di rumah sakit. Ia sangat ingin bertemu dengan Taki setelah berbulan-bulan ia tidak pulang. Saya mencoba mengabulkan permintaan suami saya itu, tapi itu semua tak akan terjadi bila Anda sebagai pelatih tidak memberi izin.

Kuharap Coach Bryan berbaik hati pada Taki. Kalau Anda mengizinkan, maka Anda pula yang berhak untuk menentukan kapan Taki boleh pulang dan kapan ia harus kembali ke LA.

Kuucapkan terima kasih sebesar-besarnya.

-Taki Manami

Coach Bryan menghela napasnya setelah membaca e-mail yang sebenarnya ditulis oleh Mamori itu. Ia memang pelatih yang sangat tegas. Sangat disiplin. Apalagi di tengah-tengah turnamen seperti ini, tidak peduli pemain inti atau cadangan, semua harus mengeluarkan kemampuan secara maksimal.

Taki sebetulnya hanya memiliki satu kelebihan: kelenturan tubuhnya yang sangat bagus. Jika ia turun ke lapangan dan bermain dengan baik, itu berkat latihan dan tekad kuatnya untuk membuktikan diri. Coach Bryan sangat suka pemain berbakat, tapi ia akan lebih senang lagi pada pemain yang sebetulnya tidak terlalu berbakat namun selalu berlatih dengan giat hingga berhasil.

Ia menutup program browsernya dan mematikan Macbook miliknya. Waktunya makan malam di asrama Lions. Sewaktu turnamen biasanya Bryan memang ikut tinggal di asrama dan tidak pulang ke rumah. Di akhir pekan, anak dan istrinya akan mengunjunginya di asrama ini.

"Ahahaa, Coach, ayo makan! Makanannya sudah siaaap!" Taki berputar melewati pelatihnya itu.

"Natsuhiko! Aku ada perlu denganmu!" panggil Bryan.

Taki terkejut. "Eh? Jangan-jangan e-mailnya sudah sampai ya?"

"Ya, aku sudah membaca e-mail dari ibumu itu," jawab Bryan, "duduklah." Ia menyuruh Taki duduk di sebelahnya.

Taki hanya merengut. Ia berpikir Coach akan memarahinya.

"Dulu, waktu aku masih menjadi seorang pemain," Coach Bryan teringat masa lalunya, "aku juga pernah mengalami kejadian seperti ini. Ketika harus memilih antara tim atau keluargaku."

"Ahaaa?" Taki mengerjapkan matanya, "waktu itu mana yang Coach pilih?"

Coach Bryan terlihat muram. "Aku memilih tim dan aku menyesal melakukannya. Waktu itu istriku sedang melahirkan dan aku menyesal tidak mendampinginya. Ia sedang mempertaruhkan hidup-matinya. Aku harus bersyukur ia berhasil melewati saat-saat itu dengan selamat."

"Tidak ada yang salah maupun benar, entah kau mau memilih tim atau keluargamu. Tapi keluarga itu sangat penting, Natsuhiko. Jadi, pulanglah. Kau bisa kembali kapanpun yang kaumau," Coach memberikan izinnya dengan seulas senyum.

"Eeeh?" Taki berbinar, "kembali kapanpun yang aku mauuu?"

Senyum Bryan memudar. "Bercanda. Tahu diri sedikit, Natsuhiko! Kau kuberi cuti tiga bulan. Lebih dari itu, kau akan kukeluarkan dari tim ini!"

"Gyaaaa! Ampun Coach! Arienaiiii!" Taki berteriak-teriak heboh, membuat teman-temannya yang ada di ruangan itu tertawa-tawa melihat tingkahnya.

'Ah, pelatihku ini memang orang yang lucu. Kupikir dia galak dan jahat, ternyata ia bisa tersenyum dan bercanda juga!' batin Taki sambil cekikikan.

xXx

Miracle Mile

Brooklyn Residence's frontyard

Bocah lelaki bermata biru itu langsung melengos sedih. Taki datang ke rumah keluarga Brooklyn dan berkata kalau dia akan pulang untuk sementara waktu.

"Little Monsieur, jangan sedih begituu," hibur Taki, "begitu ayahku sembuh, aku akan langsung pulang dan mengajakmu main! Kau akan kutraktir hot dog!"

"Huuuh," Justin menggerutu, "kalau nggak ada Oom Natsuhiko aku kan bosaaaan," ujarnya kesal.

Brenda hanya bisa tersenyum dan membelai putranya itu. "Jangan begitu, Justin. Natsuhiko kan harus menemui ayahnya, kasihan kan ayahnya sakit…."

"Ah, ya sudahlah. Janji ya, kalau kau sudah pulang nanti, kau harus traktir aku!" Justin mengulurkan tangannya, mengajak Taki bersalaman.

"Ahaha! Tentu saja! Ini adalah janji antara pria!" kata Taki, menyalami Justin yang memasang wajah serius.

"Hati-hati ya Oom! Sampaikan salamku pada adik Oom yang katanya kuat sekali itu!" pesan Justin.

"Ahahaaa!" Taki mengangkat kakinya tinggi-tinggi, mengacungkan jempol.

"Ya sudah. Mandi sana, nanti kesorean lho!" kata Brenda pada Justin.

"Oke Mom! Bye Oom!" Justin melambaikan tangan sambil masuk ke dalam rumah.

Taki balas melambaikan tangan.

"Well, you have to go, then," Brenda berujar, melipat tangannya di depan dada, "kapan kau akan kembali?"

"Begitu ayahku sembuh, aku akan segera kembali," jawab Taki.

"Tidak usah terburu-buru, sempatkanlah berkumpul dengan keluargamu, oke?" Brenda menepuk lengan Taki, "hati-hati ya. Jangan ceroboh."

Taki tersenyum. "Ahahaa, tentu saja Brenda!"

Meski terasa berat, Brenda akhirnya bisa melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan untuk Taki. Taki juga, terpaksa harus melambaikan tangan, berbalik dan pergi dari sana. Tapi kakinya enggan melangkah. Ia berbalik dan terhenti. Brenda terpaku di tempat ia berpijak.

"Brenda..."

Usai mengucapkan nama itu, Taki berbalik ke hadapan Brenda lagi dan memeluknya dalam satu gerakan cepat. Brenda membalas pelukan itu dengan sedih.

"Jaga kesehatanmu, ya," pesan Taki, "semoga adik kecil di dalam perutmu selalu sehat!"

"Cepat kembali, Natsuhiko," Brenda merasakan rasa hangat yang aneh ketika kepalanya tersandar ke dada pria muda yang lebih tinggi darinya itu, "aku akan merindukanmu."

"Ahaha, tunggu aku ya!" Taki akhirnya bisa pergi dengan rasa lega setelah memeluk Brenda. Cepat-cepat ia pergi dari sana sambil berputar.

"Sampai jumpaaa!"

"Hati-hatiiii!" teriak Brenda. Semburat merah muda menghias pipinya.

xXx

Narita International Airport, Japan

Seorang wanita muda dengan sweater merah terlihat mencari-cari seseorang. Matanya yang berwarna biru-keunguan melihat ke seluruh penjuru terminal kedatangan internasional.

"Aduuuh, mana sih? Jangan-jangan dia salah naik pesawat?" gerutunya.

"Hahahaha," pria muda berambut cokelat hazelnut di sampingnya tertawa, "jangan berkata seperti itu, Taki-san pasti sudah sampai, tapi mungkin dia masih menunggu barang di tempat pengambilan bagasi…."

"Sena, ingatkan aku untuk menghajar kakakku kalau dia datang, ya!" Suzuna mengepalkan tinjunya.

"HIEEE jangan Suzuna! Kasihan kan," Sena terlihat ngeri.

Terlihat banyak orang keluar dari pintu kaca yang terbuka secara otomatis itu. Orang-orang yang ikut menjemput penumpang seperti Sena dan Suzuna mengangkat kertas-kertas nama mereka tinggi-tinggi, supaya yang dijemput bisa melihat mereka.

"A-ha-haaa!"

"Kakak!" Suzuna sangat mengenali suara itu. Sena menggiringnya keluar dari kerumunan menuju ke tempat yang lebih lengang.

"Kakak! Di sini!" Suzuna meloncat-loncat dan melambai-lambaikan tangannya.

Taki segera bisa melihat tempat adiknya berada. "Mai Shisutaaaaa!"

Ia meluncur, lebih tepatnya, berputar, ke tempat Suzuna. Taki memeluk Suzuna dan Sena dengan lebay.

"Sena-kuuuun! Kau juga dataaang! Kalian berdua pasti rindu padaku yaaaaa?" tanya Taki pede.

Bletak!

Akhirnya keluar juga jitakan Suzuna.

"Ge-er! Kakak ini, sudah tinggal di luar negeri sendirian, masih juga seperti ini!" omel Suzuna.

Taki mengusap-usap kepalanya yang terasa berdenyut. "Ahahaa, masih juga jenius, ya?"

Suzuna baru mau menjitak kakak lelakinya lagi kalau tidak dihalangi oleh Sena.

"Sudahlah, sudah, ayo cepat ke rumah sakit! Ayahmu sudah menunggu, Taki-san," kata Sena menengahi.

Taki lalu berputar mengikuti Sena dan Suzuna. Ia terlihat riang, tapi sesungguhnya ia memikirkan sesuatu.

Sedang apa ya Brenda sekarang?

xXx

Ternyata, Ayah Taki memang hanya perlu bertemu dengan anak lelakinya untuk bisa sembuh.

Taki datang dengan putarannya yang heboh, membuat ayahnya langsung bangun dari tempat tidur dan berpelukan dengan putranya itu.

"Ahahaaa! Ayaaah! Kau merindukanku, yaaa? Aku terharuuu!" seru Taki.

"Ayah kehilangan partner karaoke, Natsuhiko! Ayooo, kita ke karaoke sekarang!" ajak Taki Yukijo—pria berambut hitam bergelombang yang berkumis dan sifatnya tak jauh-jauh dari anaknya: suka heboh sendiri. Ia dirawat di RS akibat naiknya tingkat produksi asam lambung. Mirip seperti maag, tapi penyebabnya umumnya akibat stres. Yukijo tidak bisa menelan makanan apapun sehingga harus diinfus. Kemarin begitu mendengar Taki akan segera pulang, kondisinya berangsur pulih. Infus itu sudah tidak terpasang lagi.

"Ya~, syukurlah kalau Ayah sudah sehat lagi," Suzuna melihat tingkah ayah dan kakaknya itu dengan wajah sumpek, "Kakak memang anak Ayah."

"Mereka kompak sekali, ya," Sena berkomentar.

"Memang. Biasanya kalau di rumah, Ayah akan bermain gitar dan Kakak yang bernyanyi. Kurasa itu satu-satunya hal yang bisa dilakukan Kakak selain amefuto!" cerita Suzuna.

"Ahaha, Ayah, istirahatlah dulu hari ini. Besok kita ke karaoke! Setelah itu…"

Ekspresi Taki berubah serius. Suzuna dan Sena melongo.

"Aku ingin bicara serius tentang sesuatu. Pada Ayah, Ibu, juga kau, Mai Shisutaa. Sena-kun juga boleh ikut," lanjut Taki, masih dengan serius.

Suzuna menoleh pada Sena. "Sena, bisa kau pukul aku? Sepertinya aku sedang bermimpi."

Tentu Sena tidak akan melakukan itu. Ia menepuk agak keras pipinya sendiri.

"Aw. Ini bukan mimpi, Suzuna," gumamnya, masih tak percaya.

Tepat setelah itu, Taki kembali ke dirinya yang biasa dan sibuk mengobrol dengan ayahnya.

Suzuna akan segera tahu kalau ada hal lain yang bisa dilakukan kakaknya—setelah amefuto dan bernyanyi. Itu adalah… mencintai seseorang.

xXx

Big Echo Karaoke

Asakusa, Tokyo

Sena duduk manis menikmati pemandangan di dalam ruang karaoke yang cukup besar itu, spesial disewa Yukijo untuk acara keluarga malam ini. Taki dan ayahnya bernyanyi-nyanyi dengan gembira. Ibu Suzuna, Taki Manami, bertepuk tangan sambil tertawa kecil, tepukan tangan itu mengikuti irama lagu.

"YA~! Sena, ayo, setelah ini giliran kita bernyanyi!" ajak Suzuna, memberikan salah satu mikrofon pada Sena.

"HIEE! A-aku, aku tidak bisaa," tolak Sena sambil tersipu.

"Pokoknya harus! Ayolah Senaaa, aku juga tidak begitu bisa bernyanyi, tapi, siapa peduli?" Suzuna tertawa, "ayo kita pilih lagu yang bagus!"

Suzuna menemukan lagu Innocence dari 20th Century. Sena pasti bisa menyanyikannya, nadanya kan nggak begitu tinggi, batin Suzuna.

"Kakak! Ayah! Gantian yaa!" kata Suzuna agak keras, mengatasi suara speaker yang membahana.

"Ookee!" Taki mengacungkan jempolnya, lalu melanjutkan baris terakhir dari lagunya, "Lalalalala love soong!"

Tak lama suara dari lagu La La La Love Song dari Toshinobu Kubota itu mengecil dan hilang. Satu detik setelahnya, intro dari lagu Innoncence terdengar.

"Silakan bernyanyi duluan, Sena. Nada yang di bagian awalnya terlalu rendah untukku," pinta Suzuna manja, tidak sejalan dengan senyum jahilnya.

"Err, emm, oke," Sena menurut. Ia menyanyikan bagian awal lagu dengan sedikit gugup.

"Gooo, Sena-kun~!" Taki menyemangatinya.

Sena tahu nadanya, tapi dia tidak hapal lagu itu. Ia begitu konsentrasi pada teks yang ada di layar hinggi ia tak menyadari kalau Suzuna tidak ikut bernyanyi sama sekali. Bahkan dia sudah tidak berdiri di samping Sena, melainkan duduk santai di sofa.

"S-Suzunaa!" panggil Sena ketika ada jeda pada lagu, "kenapa aku jadi nyanyi sendirian?"

"Kau tidak sendirian, Senaaa! Aku mendukungmuuu! Aku kan pemandu sorak!" Suzuna ngeles.

"Tapi—"

"Sudahlaaah, suaramu nggak jelek kok, ayo, teruskan Sena, lagunya sudah mulai tuh!" Suzuna menunjuk layar di depan Sena.

"Suzunaa!" Sena merasakan panas di wajahnya karena malu berat, apalagi ketika Yukijo, Manami, dan Taki menyorakinya heboh.

'Kenapa aku harus terjebak dengan keluarga heboh iniiiii?' batin Sena menjerit.

"Sena! Sena! Sena!" Suzuna dan Yukijo mengelu-elukan nama Sena, berharap ia segera menlanjutkan lagu itu.

"Ayo duet denganku, Sena-kun!" Taki yang tadinya duduk di sofa langsung berdiri sambil membawa mikrofon dan merangkul kekasih adik perempuannya itu lalu menyanyi bersamanya.

"HIEEE!" Sena bereaksi kaget.

"Tobou yo… nandomooo!" Taki bernyanyi dengan semangat.

Mendekati sepuluh menit terakhir jam sewa karaoke, Taki mengambil mikrofon tanpa ada satu lagu pun di daftar lagu yang akan diputar. Kedua orang tuanya tidak akan percaya apa yang mereka dengar saat itu.

"Ayah, Ibu, Mai Shisuta, Sena-kun, malam ini aku ingin memberitahukan kalian sesuatu," kata Taki riang, tapi Suzuna tahu, wajah riang itu bukan Taki yang konyol, melainkan…

"Aku telah bercerita banyak tentang hidupku di Amerika pada kalian hari ini, tapi ada satu yang spesial yang ingin kuberitahukan pada kalian malam ini, ahaha," Taki terdengar seperti Oprah yang ingin memberikan kejutan.

"Apa itu, Kak?" tanya Suzuna penasaran. Apalagi raut wajah itu…

"Aku…"

Taki berbinar, rasa debar dan semangat membuncah dalam dadanya. Sosok wanita itu, suaranya, sentuhannya, semua berkelebat di benak Taki. Brenda Brooklyn.

"…aku telah jatuh cinta pada seorang wanita! A-ha-haa! Aku jatuh cinta!" ia mengangkat kakinya dengan penuh percaya diri, sementara ekspresi tiga orang dihadapannya bisa dikatakan blank.

"A….ha?" Taki menurunkan kakinya. 'Kenapa semua orang terdiam?'

….

"APAAAAAAAA?" tiga orang yang blank tadi mendadak memasang ekspresi terkejut yang amat sangat secara berjamaah.

[bersambung…]


Yo-ho-ho-ho! Bagaimana ceritanya? Mohon maaf kalau ada kekurangan alias ceritanya pendek ya… terima kasih banyak sudah membaca dan jangan lupa untuk memberikan review! Review kalian adalah penyemangatku.

Sampai jumpa di Love Labyrinth yang akan mendekati puncak kerumitannya! #halah

Sehat selalu, ya!