.

The Thrill of Chase

.

By Lynda Chance

.

~.~

.

CHANBAEK – HUNHAN – KAISOO

GS for Uke

.

.

Ini BUKAN karya Cactus93, Cactus93 hanya me-remake dan berbagi cerita yang Cactus93 sukai. Cactus93 hanya mengganti nama pemeran, mungkin dialog yang sesuai dengan keadaan.

.

.

RATE M

.

.

Hope u will enjoy this remake^^

Happy reading

.

.

Previous Chapter

Sehun mengamati Luhan yang membawa mobilnya keluar dan turun ke jalan. Rasa bahagia yang tajam melanda Sehun saat dia melihat Luhan mengendarai mobilnya. Mobil itu dibayar dengan uangnya.

Saat Sehun menyadari kemana emosinya menuju, Sehun dengan kasar mengenyahkannya. Ya, Sehun begitu menginginkan Luhan.

Luhan adalah terlarang untuknya. Jika Sehun mengambil apa yang ia inginkan, maka ia kemungkinan akan kehilangan sahabatnya.

Pandangan marah yang gelap melintasi Sehun. Situasi ini secara keseluruhan menyebalkan, jelas sekali.

.

.

Jika mengendarai mobil Sehun selama akhir pekan seharusnya membantu Luhan untuk melupakan Sehun, maka itu tidaklah berhasil. Luhan berusaha untuk fokus tentang keadaan yang berbeda diantara mereka tiap kali dia masuk ke dalam mobil, tapi Luhan tak bisa membuat pikirannya kesana. Semua yang bisa Luhan ingat hanya betapa lembutnya Sehun, betapa manis dan penyayang dia. Semua itu membuat rasa tertarik Luhan terhadap Sehun semakin besar dan Luhan fokus untuk membuat Sehun tak pernah tahu betapa dalam perasaan Luhan terhadap dirinya.

Sehun mengirimkan SMS padanya pada hari Rabu dan mengatakan bahwa perbaikan mobilnya ternyata memakan waktu lebih lama dari yang ia perkirakan. Dealer harus memesan sparepart dan Sehun akan mencoba untuk mengembalikan mobil Luhan sebelum hari Jumat.

Jumat malam, Sehun mengetuk pintu apartemen dan berdiri mundur untuk menunggu. Perutnya seperti terikat dalam simpul antisipasi dan ketegangan.

Sehun perlu menukar mobil Luhan dengan mobilnya dan segera pergi.

Itu yang harus dia lakukan menurut otak di dalam kepalanya.

Masalahnya, tubuh Sehun sudah tidak mau menurut perintah dari otaknya sejak Sehun berusia sekitar lima belas tahun.

Sehun berdebat dengan dirinya sendiri selama naik ke atas ke depan pintu Luhan. Chanyeol akan membunuhnya. Sehun mengatakan itu kepada otaknya lagi dan lagi. Chanyeol akan membunuh Sehun.

Masalahnya adalah Luhan adalah makhluk paling manis yang pernah Sehun temui dalam waktu yang sangat lama. Dan ia gatal untuk menyentuh Luhan.

Dia perlu menukar mobil dan pergi dengan segera.

Pikiran itu terbang dari otak Sehun saat Luhan membuka pintu.

"Hai." Suara lembut Luhan mengirimkan panah kebutuhan ke dalam dirinya.

"Hey." Bisakah Luhan tahu bahwa Sehun ingin meraihnya dan memeluknya? Bisakah Luhan tahu bahwa diperlukan semua kontrol diri darinya hanya untuk berdiri di depan pintu dan tidak mendorong Luhan ke dalam apartemen?

Luhan berdiri di depan Sehun dengan memakai celana pendek katun berwarna merah dan kaos kuning berlengan pendek dengan kerah berbentuk V. Kulit Luhan halus dan mulus, dari wajahnya sampai kaki telanjangnya, kuku jari kaki Luhan di cat warna pink.

Perut Sehun mengencang karena dorongan kebutuhan yang sangat keras. Sehun harus segera meninggalkan Luhan. Dengan cepat.

Sehun memberikan kunci mobil pada Luhan tanpa berkata-kata.

Luhan meraih dan mengambil kunci mobil dari tangan Sehun, bertekad untuk membuat Sehun masuk ke dalam apartemen. Dua teman sekamarnya keluar malam ini dan Luhan sudah memasak makanan untuk Sehun sebagai ucapan terima kasih atas pertolongan yang sudah dia berikan. Itu bukan berarti Luhan mengejar-ngejar Sehun, kan? Tidak, tentu saja bukan. Luhan hanya mencoba untuk bersikap baik.

"Masuk." Luhan mencoba untuk terdengar santai.

"Tidak usah." Sehun menolak dengan datar.

"Kau akan membeku. Cuaca dingin berhembus masuk entah dari mana. Aku masih memakai celana pendek." Luhan tahu dia sedang ngelantur. Cuaca sudah membeku sejak sejam yang lalu. Luhan tidak mengikuti ramalan cuaca dan tak tahu apakah cuaca dingin benarbenar datang. Tapi, ini bulan Desember di Seoul dan cuaca berubah setiap harinya.

Pandangan Sehun jatuh ke kaki Luhan. Angin berhembus masuk dari luar. Sehun tak ingin Luhan kedinginan dan Sehun tahu Luhan tidak akan menutup pintu jika Sehun masih berada di sana. Dengan enggan Sehun masuk ke dalam apartemen.

Luhan menutup pintu dan mereka berdua sekarang ada di dalam apartemen.

"Aku memasak makan malam untukmu. Apakah kau lapar?"

Sehun berpikir untuk berbohong dan mengatakan padanya bahwa dia sudah makan tapi aroma masakan datang dari dapur kecil menggoda perutnya.

Sehun tak pernah menolak satu pun tawaran masakan rumahan.

"Kau tak perlu melakukan hal itu." Sehun bisa makan lalu pergi.

"Tentu saja aku perlu. Setelah semua pertolonganmu? Aku harus melakukan sesuatu untukmu." Luhan tersenyum. "Maksudku selain tidak merusak mobilmu."

Sehun memberikan Luhan senyuman kecil. "Aroma masakannya enak."

"Itu spaghetti."

"Sepertinya enak."

Luhan mengarahkan Sehun ke area kecil ruang makan di dapur dan menuangkan segelas es teh. "Duduklah."

Sehun duduk dan mengamati Luhan bergerak di dalam dapur. Sosok tubuh Luhan melakukan hal gila di dalam pikiran Sehun. Saat Luhan mengisi piring dengan makanan, pandangan Luhan terus melirik ke arah Sehun. Sehun berusaha untuk tetap duduk diam dan menunggu, dan menjaga tangannya saat Luhan datang mendekati Sehun dan ia berada dalam jangkauannya lalu Luhan meletakkan piring di hadapannya.

Sehun menunggu sementara Luhan duduk dengan piring untuk dirinya sendiri lalu Sehun mengambil garpu.

Kemudian Sehun menyadari makanan di atas piringnya. Bagaimana aroma makanan ini bisa sangat mengundang selera dan terlihat sangat enak. Mienya berkumpul membentuk gumpalan dan mirip dengan jamur. Ditaburi Saus dan gumpalan cairan sisa saus yang menempel pada piring dan bertaburan di ujung piring. Daging di dalam sausnya membeku dan pinggirnya berminyak. Perut Sehun melilit, tapi Sehun mengeratkan cengkeramannya pada garpunya dan dengan berani mengambil lagi makanan dari piringnya. Sehun tidak akan menyakiti perasaan Luhan.

Luhan terlalu gugup untuk makan. Luhan mengamati Sehun mengembalikan makanannya kembali ke atas piring untuk beberapa saat sebelum Luhan mengambil makanan di atas piringnya sendiri.

Luhan mengambil suapan pertama dan menjatuhkan garpunya dengan suara keras. Luhan berusaha untuk menelan, mengambil teh dan meminumnya lalu Luhan meraih pergelangan tangan Sehun yang berada di seberangnya. "Berhenti."

Saat Sehun memandang ke arah Luhan, Luhan melihat ekspresi lega di mata Sehun. Mata Luhan penuh dengan air mata karena malu.

Luhan mencoba untuk meminta maaf. "Aku minta maaf. Aku tidak bisa percaya kau memakannya."

Luhan bahkan merasa lebih buruk lagi saat Sehun tersenyum padanya. "Makanannya lumayan."

Luhan menggelengkan kepalanya. "Makanannya sangat tidak enak."

"Kau sering memasak?"

"T-tidak. Baekhyun dan Kyungsoo yang memasak. Aku tak pernah berpikir kalau memasak itu ternyata sulit."

"Makanannya tidak terlalu buruk, sayang. Kau hanya butuh latihan,"

Sehun mengatakannya dengan lembut.

"Aku tidak bisa membayangkan mengorbankan seseorang untuk mencoba hasil masakanku."

Kecemburuan mengalir ke dalam diri Sehun saat memikirkan ada orang lain, seorang pria lain yang memakan makanan Luhan. Ini konyol, dan dia tahu itu. Bahwa masakan Luhan memang tidak enak.

Sehun harus mengalihkan pemikiran Luhan dari itu. "Bagaimana jika aku mengajakmu makan di luar?"

Luhan sangat malu, dia seakan ingin merangkak sembunyi ke bawah batu. Atau pergi ke tempat tidur dan meletakkan kepalanya di bawah bantal dan tidak bangun untuk beberapa hari. "Tidak terima kasih. Aku tidak lapar." Luhan memandang ke arah Sehun, perasaan Luhan tergambar jelas di matanya.

"Tidak apa-apa, sayang."

"Aku sangat malu."

"Jangan khawatir soal itu. Pakai Jeans dan mari kita pergi untuk mencari makanan."

"Tidak, sungguh, kau tak perlu melakukan hal itu. Aku tahu kau harus melakukan hal lainnya. Aku baik-baik saja."

Sehun tidak bisa memaksa Luhan untuk pergi. Lagi pula Sehun tahu bukan ide yang baik untuk berada di dekat Luhan terlalu sering. Saat Luhan berdiri untuk membersihkan meja, Sehun berdiri.

Luhan melirik ke arah Sehun dan tersenyum. "Aku akan mengambil kunci mobilmu."

Luhan mengantar Sehun ke pintu dan baru saja akan mengucapkan terima kasih kepada Sehun saat Sehun meletakkan satu jarinya ke bawah dagu Luhan dan mengangkatnya.

"Terima kasih karena sudah mencoba untuk memasak, sayang."

Jemari Sehun menyapu bibir bawah Luhan "Kau sangat manis."

Luhan memandang Sehun dengan seksama. Sehun bisa merasakan tubuh Luhan gemetar. Suara Luhan sangat lembut. "Terima kasih untuk pinjaman mobilnya. Terima kasih sudah memperbaiki mobilku. Terima kasih untuk setiap-"

"Shhh. Sudah Cukup. Kau tak perlu berterima kasih padaku."

Sehun tidak ingin pergi. Saat Sehun pergi, ia tak akan punya alasan yang masuk akal untuk kembali. Sehun tak tahu kapan dia bisa bertemu dengan Luhan lagi.

Persetan, Chanyeol.

Sehun tak dapat menghentikan dirinya dan menunduk ke bawah untuk mencium dahi Luhan. Hanya itu yang Sehun izinkan untuk dirinya lakukan. Hanya itu yang ia bisa izinkan untuk dirinya dalam keadaan seperti sekarang ini.

Kulit Luhan lembut dan mulus di bawah bibirnya dan Sehun menahan dirinya untuk tidak meraih Luhan. Luhan yang manis sudah menjadi candu bagi dirinya. Kelembutan Luhan sungguh memukau dirinya. Sehun bernafas mencium aroma Luhan, mencoba untuk mengingatnya dan kemudian dengan lembut menjauhkan Luhan dari dirinya.

"Tetaplah jadi gadis yang manis, sayang. Jaga dirimu." Suaranya terdengar seperti siksaan bahkan bagi dirinya sendiri.

Sehun dengan cepat berpaling dan pergi.

ooOoo

.

Tepat delapan hari kemudian, telepon Sehun berbunyi saat Sehun baru saja kembali ke dalam rumah setelah membuang sampah.

Caller ID "Gadis pirang kecil yang hot" berkedip padanya dari layar telepon. Panah kebahagiaan yang tidak seharusnya mengalir ke dalam dirinya saat Sehun menjawab.

"Hey. Apa kabar?" Sehun menyeringai saat Sehun mendengar antusiasme di dalam suaranya. Hey dude, santai.

Luhan mulai bicara dengan segera. "Sehun aku tidak tahu apa yang harus - aku tak tahu apa yang harus aku lakukan."

Rasa takut menyusup ke dalam diri Sehun mendengar kata-kata Luhan yang gemetar. "Ada apa?"

"Aku berada di apartemen. Di tempat parkir. Ada mobil polisi dimana-mana. Aku takut untuk naik ke atas. Aku-"

Sehun menyela Luhan. "Tetap di situ. Dimana sepupumu? Dimana Kyungsoo?"

"Baekhyun bersama Chanyeol. Kyungsoo berada di rumah orang tuanya."

"Tenang, sayang. Jangan mencoba untuk masuk ke dalam apartemenmu. Tinggalkan semuanya dan datang kemari. Kau ingat jalannya?" Kekhawatiran terdengar dari Suara Sehun.

"Aku tidak bisa datang ke rumahmu-" Luhan membantah.

"Kenapa tidak?" Sehun akan pergi mencari Luhan dan menariknya ke rumahnya jika diperlukan.

"Aku tidak tahu - aku akan menelpon Baekhyun. Mungkin aku akan pergi ke rumah Chanyeol."

"Tidak. Kau akan pergi ke rumahku."

"Sehun-"

"Berhenti membantah dan mulainya menyetir. Kau ingat jalan menuju ke rumahku?"

"Ya. Kupikir aku ingat."

"Gadis pintar. telepon aku jika kau membutuhkan arahan penunjuk jalan."

"Ok."

Sehun bisa mendengar kelegaan di suara Luhan.

"Luhan."

"Ya?"

"Hati-hati, sayang."

.

oOo

.

Satu jam kemudian, Luhan akhirnya sampai ke rumah Sehun.

Seharusnya hanya memakan waktu 40 menit paling lama bagi Luhan untuk sampai dan Sehun hampir saja menjadi panik. Kenapa Luhan terlambat? Emosi Sehun seperti terpasung saat menunggu Luhan datang.

Sehun berdiri di jalan mobil rumahnya dan membukakan pintu mobil Luhan Saat mobil Luhan berhenti. "Kau baik-baik saja?"

"Ya."

"Ayo, mari kita masuk ke dalam rumah."

Luhan meraih tasnya, mengunci mobilnya dan mengikuti Sehun ke dalam rumahnya. Rumah Sehun seindah yang Luhan pernah bayangkan. Apakah seseorang sudah mendekorasi rumah ini untuknya? Seorang wanita? perasaan cemburu pada wanita asing yang tidak dia kenal mengalir ke dalam dirinya. Luhan ingin menjadi wanita yang merawat Sehun. Peluang yang sangat tipis. Luhan bahkan tidak bisa memasak makanan yang pantas buat Sehun.

Sehun memimpin Luhan masuk ke dalam rumah dan mengambil tas Luhan dan melemparkannya ke atas kursi. Sehun meraih bahu Luhan dan memegang lengan atas Luhan. "Kau baik-baik saja?"

Luhan menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. "Ya." Mata Luhan menenggelamkan Sehun jauh ke dalam.

Sehun tinggi, keras dan berkulit gelap dan Sehun membuat kaki Luhan bergetar, seperti yang selalu Sehun lakukan. Sehun memakai baju kaos ketat dan jeans yang pudar. Kakinya telanjang. Ya Tuhan, Sehun bahkan memiliki kaki yang seksi.

Sehun menahan Luhan di dalam lingkaran lengannya sementara aroma Luhan membangunkan indera Sehun. Rangsangan menghantam Sehun dengan keras, di bawah perutnya. "Aku senang kau menelponku."

Mata Luhan bercahaya saat dia memandang Sehun. "Aku tidak - aku tak tahu kenapa aku menelponmu."

"Ya, kau tahu."

Kesunyian menjawab kata-kata Sehun.

Mata mereka berkait saat gairah tajam dan panas mengalir di antara mereka. Tubuh Luhan gemetar di bawah tangan Sehun.

Kulit lembut Luhan terasa sempurna di bawah sentuhan Sehun.

Sehun sudah selama delapan hari yang panjang tidak bertemu dengan Luhan atau mendengar kabar darinya dan saat ini terasa pas.

Hal lain di dunia ini jadi terasa mulai kabur. Pikiran Sehun fokus pada Luhan. Tubuh Sehun fokus pada Luhan. Yang lain bukan masalah. Sehun tak dapat melihat kenapa hal lain atau orang lain menjadi penting. Sehun sama sekali tidak perduli terhadap apapun.

Ini semua tentang Luhan.

Suara gemetar lembut dari diafraghma Sehun keluar saat dia merendahkan kepalanya ke arah Luhan. "Perduli setan dengan Chanyeol. Dia urus urusannya sendiri."

Luhan menarik nafas dalam saat mulut Sehun menutup mulutnya.

Untuk beberapa detik, ingatan tentang ciuman hukuman Sehun yang brutal dulu merasuk ke dalam pikiran Luhan dan Luhan menguatkan tubuhnya dari pengaruh Sehun. Tapi dengan segera, Luhan merasakan ciuman ini berbeda dan rasa lemah melanda Luhan saat dia bersandar ke tubuh Sehun.

Pikiran Luhan terbagi saat kebahagiaan melanda ke sekujur tubuhnya.

Oh Tuhan, Ya! Ini dia! Ini ciuman yang ia inginkan, ciuman yang diabutuhkan dari Sehun. Tangan Luhan merangkak dari dada Sehun dan memeluk lehernya saat Luhan memberikan dirinya kepada Sehun.

Aroma tubuh Sehun membasuh Luhan seutuhnya dan nafasnya tertahan di paru-parunya saat Luhan merasakan dirinya gemetar. Luhan sudah menginginkan hal ini sejak lama sekali! Sehun membuat perasaan kuat ini di dalam diri Luhan, begitu mutlak. Tidak ada hal yang bisa dibandingkan dengan ini.

Pikiran Luhan seakan berhenti saat dia merasakan aliran yang sangat deras melanda ke dalam kepalanya dan antisipasi yang melingkar ke dalam perutnya.

Tubuh Sehun mengeras dan kebutuhan yang buas masuk ke dalam dirinya saat dia merasa Luhan meleleh ketubuhnya. Luhan adalah miliknya untuk dinikmati!Dan Sehun tak akan membuang beberapa detik waktunya untuk mencoba bersikap seperti orang mulia. Sehun menginginkan Luhan. Sehun ingin Luhan tanpa busana. Di tempat tidurnya. Sekarang.

Luhan merasakan kepalanya berayun saat kakinya terangkat dari lantai dan Sehun mengangkat dirinya dan membalikkan tubuhnya dengan satu gerakan tiba-tiba. Mulut Sehun terlepas dari mulut Luhan dan Sehun mulai berjalan dari ruangan ini, menggendong Luhan di tangannya seperti Luhan sangat ringan. Rangsangan dan dorongan kebutuhan melayang di dalam tubuh Luhan. Saat Sehun terus berjalan menuju pintu ke dalam kamar gelap, Sehun menurunkan Luhan ke atas tempat tidur. Tangan Luhan turun ke dada Sehun.

"Kau tahu berapa lama aku menginginkanmu berada di sini? Di rumahku, diatas tempat tidurku?" Suara Sehun pelan, datang dari dalam dadanya, dalam suara yang dalam.

Luhan menggelengkan kepalanya dan menurunkan tangannya ke samping tubuh Sehun. Luhan menarik kaos Sehun ke atas kepalanya sampai tangan Luhan menyentuh tubuh Sehun yang panas. Tubuh Sehun melonjak di bawah jemari Luhan.

"Lama. Berminggu-minggu, sayang, sejak malam pertama kali kita bertemu." Tangan Sehun meraih ke bawah diantara tubuh mereka dan membuka kancing celana jeans Luhan dan menurunkan restleting jeans Luhan.

Sensasi gelombang panas membanjir ke dalam aliran darah Luhan.

Sehun menarik celana Jeans Luhan ke bawah cukup untuk mendorong tangannya ke dalam dan menangkup bagian panas Luhan melalui celana dalamnya. Luhan mendesah dan berayun ke depan ke arah Sehun.

Sehun mencengkeram Luhan dengan erat, satu tangan ke pantat Luhan di dalam celana Luhan yang sudah terbuka dengan longgar dan tangan Sehun yang lain berada di dalam area V diantara kaki Luhan. Jemari Sehun menyusup ke bawah celana dalamnya dan terus ke menuju lipatan dan jemari Sehun menemukan celah lembut milik Luhan.

Panas, cairan basah yang hangat menutup jemari Sehun saat otot Luhan mencengkeram jarinya. "Oh sialan." Suara Sehun dalam dan serak penuh rasa syukur.

Luhan mengeluarkan suara yang pelan penuh kenikmatan.

Sehun menurunkan kepalanya ke arah Luhan dan mengangkat dagu Luhan ke atas dengan wajahnya sampai mulut Luhan terbuka dan lidahnya langsung masuk ke dalam. Pinggul Luhan mendorong ke arah Sehun saat lidah mereka saling membelit. Mereka berciuman sampai mereka tak dapat bernafas dan Luhan melepaskan mulutnya dari Sehun. Bibir Sehun bergeser ke telinga Luhan dan ia menghisap aroma Luhan saat Sehun berbisik kepadanya. "Kau sangat nikmat.

Kau amat sangat nikmat. Aku ingin kau telanjang. Aku ingin membuatmu orgasme. Ya Tuhan, aku ingin membuatmu orgasme."

Sehun menggigit daun telinganya dan Luhan merasakan cairan mengalir dari celah di antara kedua kakinya, membasahi Sehun, mengizinkan jari Sehun untuk bergerak masuk dan keluar dengan mudah.

Jari Sehun keluar dari tubuhnya dan Luhan mendesah protes, sementara Sehun mencengkeram kaos Luhan dan menariknya ke atas kepala Luhan dan membukanya.

Pikiran Sehun hampir meledak saat Sehun melihat gundukan lembut dan mulus payudara Luhan menyembul dari cup bra-nya.

Sehun menurunkan kepalanya dan menghisap puting payudara Luhan kedalam mulutnya lewat renda cup bra Luhan, menyerempet puting payudara Luhan dengan gigi dan lidahnya. Luhan gemetar dan mengangkat tangannya ke kepala Sehun dan menahan Sehun sementara Sehun terus menghisapnya. Dengan ketidaksabaran, Sehun menarik cup bra-nya ke bawah sampai puting payudara Luhan keluar. Geraman yang dalam bergetar berasal dari dada Sehun saat Sehun menggerakkan ibu jarinya ke atas puting merah jambu milik Luhan. Sehun mengangkat mulutnya hanya cukup untuk berguman, "Sialan, kau sungguh cantik."

Pinggul Luhan mengayun ke arah Sehun. "Sehun, tolong."

Sehun mengapitkan tangannya ke payudara Luhan secara penuh, mengangkat payudara Luhan ke wajahnya. "Tolong apa, sayang?"

Luhan mengerang di tenggorokan Sehun. "Tolonglah, tolonglah, tolonglah."

"Ya. Ok." Sehun meremas payudara Luhan dan menggerakkan lidahnya dari satu puting ke puting lainnya, menyapu kulit lembut Luhan dan membuat napas Luhan semakin sesak.

Luhan menggerakkan tangannya ke kancing celana jeans Sehun dan mencoba untuk membukanya. Luhan meraba-raba tapi sia-sia. Ia kehilangan kekuatannya.

Sehun mendorong tangan Luhan dari atas kancing celananya dan Sehun membuka celana jeansnya dan mendorong celananya ke bawah kakinya, bersamaan dengan celana dalamnya.

Luhan mendorong kaos Sehun ke atas dan Sehun mengangkat tangannya dan menarik kaosnya ke atas kepalanya, melemparkannya ke bawah.

Sehun berdiri tanpa busana di depan Luhan. Mata Luhan terbuka lebar saat dia memandang Sehun. Sehun sempurna. Melebihi apapun.

Sehun ramping dengan otot keras menghiasi setiap inchi tubuhnya.

Perut Sehun seperti terpahat, otot perutnya tampak menonjol membuat Luhan ingin meraih dan menyentuhnya. Luhan membisikkan kata-kata yang tadi diucapkan oleh Sehun. "Sialan, kau cantik."

Sehun tertawa tanpa sedikitpun nada humor dalam suaranya dan mendorong bra Luhan dari bahunya dan mulai mendorong celana jeansnya terbuka. "kau pikir begitu?"

"Ya."

Sehun melemparkan celana jeans Luhan dan celana dalamnya di sebelah pakaiannya. Sehun memandang ke bawah ke lekuk tubuh Luhan yang sudah tanpa busana berlutut di tempat tidur, rasa gemetar melanda ke dalam tubuh Luhan. Rambut pirang Luhan jatuh bergelombang lembut di atas payudaranya. "kau cantik." Sehun melihat ke tubuh Luhan lalu ke atas ke matanya. "Kurasa kau tahu aku bahwa aku akan menguncimu di sini. Kau tidak akan pernah meninggalkan kamar tidurku."

Sehun mengatakan itu dengan raut wajah yang tidak bergerak, seperti dia benar-benar serius.

Tangan Sehun meraih ke tubuhnya.

Mata Luhan melebar saat gairah intens melandanya. "Orang-orang akan merindukanku."

"Mungkin." Satu tangan mendarat di belakang tubuh Luhan, tangan lainnya dibawah lututnya saat Sehun membalikkan tubuh Luhan ke bawah sampai Luhan telentang. Sehun mendorong kaki Luhan terbuka dan memposisikan tubuhnya diantara paha Luhan. "Tapi itu bukan urusanku."

Luhan menarik nafas. Kata-kata Sehun menggoda tapi juga intens.

Posisi Sehun mengancam. Sehun berada di atas Luhan, matanya mereka saling memandang.

"kau siap, sayang?"

"T-tidak."

"Bersiap-siaplah."

"Apakah kau punya - apakah kau punya kondom?"

Mata Sehun menyipit dengan kemarahan yang mengancam, Aliran api berada di dalam emosinya. "Kau ingin membuat aku memakai kondom?" Sehun menggeram.

Luhan memandang ke atas ke arah Sehun, terkejut dengan pertanyaan Sehun. "Seberapa sering kau tidak menggunakan kondom?"

"Tidak pernah," Jawaban Sehun yakin dan terdengar jujur. "Aku bertanya padamu lagi, kau ingin aku menggunakan kondom?"

Luhan menggigit bibirnya saat Sehun memandang ke bawah ke dalam matanya, lengan Sehun menawannya, lutut Sehun menekan kakinya membuka. Milik Sehun ada di atas di area masuknya.

"Hanya jika - hanya jika kau tidak menginginkan bayi," Luhan berbisik.

Lubang hidung Sehun melebar saat dia memandang ke arah Luhan untuk satu detik, dua detik, tiga detik lalu Sehun menggeram rendah di tenggorokannya dan menusuk ke dalam celah Luhan.

Tubuh Luhan bergema sebagai dampaknya, dan ia mengeluarkan suara serak kesakitan bercampur dengan gairah. Dengan kaget Luhan membuka matanya dengan lebar dan memandang Sehun sementara ia berusaha untuk menyesuaikan tubuhnya dengan ukuran milik Sehun. Tusukan Sehun yang tanpa pelindung. "Aku tidak – aku tidak bisa percaya kau baru saja melakukan itu."

Suara jeritan terkejut lain datang lagi dari Luhan ketika Sehun melakukan tusukan pertamanya.

Sehun memberikan Luhan beberapa saat untuk menyesuaikan diri lalu Sehun meletakkan tangannya di bawah pantat Luhan dan mengangkat tubuh Luhan ke arahnya.

Sehun menusuk lagi dan mendesah dengan keras. "Kau bilang aku bisa."

"Tidak. Aku tidak mengatakannya." Kenikmatannya begitu intens sehingga Luhan hampir tak bisa berpikir dan Luhan mengangkat pinggulnya sementara otaknya menjerit padanya untuk menghentikan Sehun. Bisakah ia membiarkan Sehun melakukan beberapa tusukan lagi? Luhan bisa merasakan perasaan ini terbangun; Luhan mendekati orgasme. "Kau harus berhenti."

Sehun membekukan gairahnya akan pembebasan yang berteriak ke dalam pembuluh darahnya dan berkonsentrasi kepada Luhan. "Kau sudah dekat?"

Luhan mendesah di lengan Sehun dan mengangkat pinggul ke arah tusukannya. "Y-Ya."

Sehun menyusupkan tangannya ke bawah dan jari Sehun mendarat di clit-nya. Sehun menusuk Luhan dengan cara yang tak akan dapat ia tolak. Sehun berharap Luhan tak akan mampu untuk menolak.

Dan Sehun benar.

Luhan mulai mendesah dan Sehun dapat merasakan otot Luhan menjepit miliknya, lebih ketat menjepit miliknya, meremas miliknyasampai Luhan meledak dalam pelukannya.

Kecantikan Luhan saat orgasme begitu menggetarkan. Luhan panas, basah, mulus dan ketat. Pikiran Sehun meledak dalam sensasi dan tubuh Sehun mulai mencapai bibir jurang. Ia mendorong ke dalam Luhan dengan keras satu kali lagi dan menyentak, menumpahkan miliknya ke dalam perut sehalus satin milik Luhan.

Sehun ambruk di atas tubuhnya, menjatuhkan kepalanya ke atas bantal di sebelah kepalanya. Oksigen membakar paru-paru Sehun dan Sehun menarik nafas. Detak jantungnya perlahan menurun.

Sehun memeluk Luhan dan jatuh tertidur karena puas.

oOo

.

Telepon Luhan membangunkan Sehun. Sehun berbalik, meletakkan lengannya ke atas kepalanya dan mengamati Luhan saat Luhan berusaha untuk mengangkat telepon tanpa membiarkan selimut jatuh dari tubuhnya. Luhan memandangnya dan Sehun mengangkat satu alisnya.

Luhan tersipu merah merona.

Sehun menyeringai dan mendengarkan percakapannya.

Luhan bicara di telepon untuk beberapa menit dan Sehun tahu bahwa Luhan bicara dengan teman seapartemennya. Perkiraan Sehun itu adalah Kyungsoo. Suatu ketika Luhan mengatakan "rumah Sehun" dan ternyata dunia tidak berakhir karena kata-kata itu sehingga Sehun berpikir perkiraannya benar.

Luhan mengakhiri telepon.

"Itu bukan sebuah perampokan. Wanita tua yang baik di lantai bawah kami mendapat serangan jantung dan berhasil menekan telepon untuk meminta pertolongan sebelum dia kehilangan kesadaran. Dia sekarang berada di rumah sakit."

"Sangat memprihatinkan. Tapi hal baiknya itu bukan perampokan. Jika itu perampokan kau tidak akan pernah kembali ke sana."

"Oh Ya?"

"Ya."

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Hanya mengatakannya, sayang. Kau tidak harus menjadi panik atau apapun, Karena itu bukan sebuah perampokan."

"Tidak ada yang meninggal dan membuatmu menjadi bos."

"Jangan sampai kau mencobanya."

"Terserah."

Sehun menyeringai dan menghentikan pembicaraan.

Sehun kelaparan dan bertanya pada Luhan apakah dia mau memesan pizza atau makan di luar.

Luhan memilih pergi makan ke luar.

Mereka menyetujui makanan Meksiko dan tidak lama kemudian mereka sudah duduk di belakang kursi dengan gelas margarita di antara mereka. Tidak seperti biasanya Sehun diam kali ini dan Luhan dengan cepat mencatat kencan ini, dengan segala maksud dan tujuan, kencan pertama mereka.

Walau mereka sudah melakukan seks sebelumnya.

Sehun mempermainkan tangan Luhan di seberang meja sementara margarita-nya mencair. Luhan memandang wajah Sehun dan memutuskan untuk menyelesaikannya. "Itu tidak boleh terjadi lagi."

Sehun tahu dengan pasti apa yang Luhan bicarakan. "Tidak?"

"Tidak."

"Aku tak perduli untuk memakai kondom, sayang."

"Tapi kau bilang kau selalu menggunakannya - sebelum."

"Ya, tapi sekarang hanya kamu. Hanya kau dan aku dan aku ingin bisa merasakan kulit lembutmu, sayang."

"Walau begitu kukira kau tidak menginginkan bayi."

"Belum ingin."

Mereka saling memandang. Secara cepat nafsu menyelinap diantara mereka. "Jadi Apa saranmu supaya kita bisa menjaga agar itu tidak terjadi?"

"Apakah kau pernah menggunakan pil?" Sehun bertanya. Sehun lebih dari sekedar ingin tahu. Sehun ingin mengetahui masa lalu Luhan. Perasaan posesif mengalir ke aliran darahnya.

"Tidak." Luhan menjawab dengan lembut.

"Tidak pernah?" Sehun merasa senang dan tak bisa mencegah rasa senang itu keluar dari suaranya.

"itu yang baru saja aku katakan." Luhan mengulangi.

"Jadi kau tidak pernah punya pasangan seks jangka panjang?"

"Wow, itu pertanyaan pribadi."

"Apa jawabannya?" Sehun bertanya dengan nada ketidaksabaran dalam suaranya. Sehun ingin tahu. Luhan akan memberitahunya.

"Aku pernah punya beberapa pacar, tapi mereka selalu menggunakan kondom." Luhan melirik ke arah Sehun saat mengatakan itu. "Lalu kami putus sebelum kami memutuskan hal lainnya."

"Baiklah itu tidak akan terjadi."

"Ya. Kau sudah mengatakan kau tidak perduli dengan kondom."

Luhan berkata dengan singkat.

"Maksudku tentang putus itu." Sehun memandang Luhan dengan seksama.

Rahang Luhan terbuka lebar saat Sehun memandangnya.

"Apa?" Luhan bertanya.

"Kau pikir kita tidak akan putus?" jantung Luhan mulai berdetak tidak beraturan. Sangat kencang di telinganya.

Sehun menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tidak juga."

"Kenapa?"

"Aku tak tahu. Hanya perasaan, kurasa. Aku begitu menginginkanmu, sayang. Kau tahu aku mungkin akan kehilangan sahabatku karena urusan ini."

"Chanyeol?" Luhan bertanya dengan lembut.

"Ya."

"kau serius? malam itu di klub?" suara Luhan bergetar.

"Ya."

"Kau pikir Baekhyun membencimu atau semacamnya?" Luhan harus mencari tahu soal hal ini.

"Chanyeol pikir begitu," Sehun menjawab.

"Baekhyun tidak pernah membenci siapapun Sehun. Siapapun tidak punya sikap semanis Baekhyun."

"Tentu mereka begitu." Mata Sehun intens saat memandang Luhan.

Kehangatan menjalar ke pembuluh darah Luhan saat tangan Sehun memegang jemarinya dengan erat dan Sehun terus memandangnya.

Luhan menarik nafas. Ini terdengar serius. Sehun terdengar serius.

Kebahagiaan melanda pembuluh darah Luhan. "Apakah kau ingin aku mencoba untuk meminum pil?"

"Apakah kau keberatan?" Sehun bertanya dengan tatapan panas memancar dari matanya.

"Tidak. Apa kau pikir ini pantas untuk di coba?" Luhan bertanya. Luhan masih sedikit tidak bisa percaya apa yang Sehun katakan.

"Apa maksudmu?"

"Um, maksudku - aku hanya bertanya-tanya apakah kita akan bersama cukup lama untuk-"

"Serius? Kau pikir aku akan melepaskanmu pergi sekarang?" Suara Sehun terdengar kasar.

"Sehun kau tidak bisa tahu-"

"Luhan, sayang, kita tidak membicarakan tentang pernikahan sekarang, tapi jujur aku katakan padamu bahwa aku tak bisa membayangkan untuk bisa meninggalkanmu dalam waktu dekat."

Ekspresi Sehun menjadi ganas. "kecuali kau sudah berpikir untuk meninggalkanku?"

"tidak!"

"Bagus, Ok kalau begitu. Minum pil. Kita akan lihat bagaimana selanjutnya."

oOo

.

Luhan meminum pil dan itu berjalan dengan baik.

Hari berganti menjadi minggu. Minggu menjadi bulan. Mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kebosanan atau putus.

Sehun langsung memberi tahu Chanyeol. Sehun tidak merahasiakannya. Pembicaraan berlangsung lebih baik dari yang Sehun pikirkan. Sehun tidak mendapatkan masalah seperti apa yang dia pikir akan dia dapatkan dari Chanyeol. Hubungan Chanyeol aman bersama dengan Baekhyun.

Mereka berempat mulai menghabiskan waktu bersama.

Luhan khawatir soal Kyungsoo. Sehun dan Chanyeol berusaha untuk menjodohkan Kyungsoo dengan salah satu teman mereka tapi Kyungsoo menolak.

Baekhyun mengatakan pada Luhan dengan yakin bahwa dia berpikir pastinya ada seorang pria di masa lalu Kyungsoo yang menghancurkan hatinya. Mereka tidak tahu siapa itu atau apakah mereka benar.

Kyungsoo memegang kartunya sangat rapat di dadanya.

Tapi mereka sudah sangat marah dengan kekasih mereka yang menawarkan untuk menjodohkan Kyungsoo dengan teman mereka. Itu menandakan kedua kekasih mereka menangkap hal ini dengan salah.

Kekasih mereka pastinya memperlakukan mereka seperti tuan putri.

Luhan mulai menghabiskan waktu lebih banyak dan lebih banyak lagi di rumah Sehun.

Luhan perlahan-lahan mulai belajar memasak. Luhan terkagum-kagum saat Sehun memakan semua makanan yang dibuat Luhan hasil percobaan gagalnya. Sehun mengatakan kepada Luhan makanannya enak, saat Luhan tahu itu tidak enak.

Luhan tidur di atas tempat tidur Sehun setiap malam. Sehun memeluknya sampai Luhan tertidur. Sehun memberikan sinyal kepada Luhan bahwa Luhan tidak lagi membutuhkan apartemennya. Sehun mulai memarkir mobil Corvette miliknya di depan mobil Luhan dan menutup jalannya. Saat Luhan mengeluh Sehun mengatakan kepada Luhan untuk menggunakan 'Vette nya saja. Itu berlangsung terus menerus sampai Luhan mendapatkan kunci vette nya sendiri dan mulai mengendarainya kemanapun dia pergi. Itu tampaknya membuat Sehun bahagia.

Empat bulan setelah mereka mulai berkencan, mereka duduk di halaman belakang dan memandang bintang.

Sehun bangkit dari kursinya dan berlutut di hadapan Luhan dan dengan meletakkan tangan di atas hatinya, Sehun melamar Luhan untuk menikah dengannya.

Tangan Sehun mencengkeram Luhan dengan erat dan suaranya gemetar.

Luhan mengigit bibirnya saat air matanya mengalir. Tidak pernah dalam seribu juta tahun dia mengharapkan Sehun melamarnya dengan cara yang sangat romantis seperti ini. Dan pastinya tidak secepat itu. Luhan menjulurkan tangannya dan menyentuh cincin yang Sehun pegang di jarinya. Cincinnya cantik, bermata berkilau, terbuat dari platina tebal.

Luhan mengamati cincin dan wajah Sehun. Sehun memandang Luhan dengan seksama, bernafas dengan berat. Satu tangan menggenggam Luhan dengan erat, tangan lainnya memegang cincin di hadapan Luhan.

Itu momen sebelum Luhan dapat bicara. "Benarkah?"

Sehun melepaskan genggamannya dan menyentuh pipi Luhan.

"Tolong."

Kepanikan melanda Sehun. "Kumohon jangan bilang tidak, sayang."

Mata Luhan melebar memandang Sehun. "Apakah kau gila? Aku tidak akan berkata tidak!"

Sehun relaks dan tersenyum. "Kau tidak akan menolak?"

"Tidak mungkin. Berikan padaku cincin itu." Luhan tetap menjulurkan tangannya, jari manisnya berada di hadapan Sehun.

Sehun mulai memakaikan cincin itu di jari Luhan dan Luhan terpesona karena tangan Sehun bergetar lebih hebat dari tangannya.

Sehun mengangkat tangan Luhan yang sekarang memakai cincin darinya. Sehun mencium telapak tangannya, "Aku mencintaimu sayang."

Luhan memeluk leher Sehun. "Aku juga mencintaimu."

"Selamanya, sayang."

"Ya. Selamanya."

ooOoo

.

TBC

.

ooOoo

.

.

.

Thanks for:

BBH75 - fuckyeahSeKaiYeol - misslah (makasih^^) - Soocy-Nim - TKsit - Yenna Park - Lucky8894 - chenma (kamu pinter banget #peluk kkk) - Chanbaekhunlove (iya^^) - Arifahohse - Selenia Oh (setelah baca chapter ini, kalau belum paham PM aku ya kkk xD) - keziaf - akhoirullisa - BabyByunie - HunHanCherry1220

.

a.n

Chapter selanjutnya fokus ke Jongin ama Kyungsoo… yang pada nunggu Kaisoo, tunggu seminggu lagi ya ;)

Sampai jumpa di jumat depan^^~