—私はあなたと、ここにいるよ。—
(Watashi Wa Anata To, Koko Ni Iru Yo.)
All of characters are belongs to Masashi Kishimoto and the several unknown characters belong to mine.
But this story is belongs to mine.
.
.
.
.
.
—oOo—
Seseorang mengetuk pintu kamar Temari, yang membuat interupsi kecil lagi di kegiatan mereka berdua. Perlahan mereka melepaskan diri mereka lagi dari pelukan itu dan Shikamaru langsung mengambil posisi duduk di samping tempat tidur. Temari sedikit berdehem dan mengizinkan si pengetuk pintu masuk.
Umaru memasuki ruangan sembari membawa baki yang diatasnya berisi peralatan medis. Setelah membungkuk hormat, ia posisikan dirinya di dekat sanggahan infusan Temari, mengeceknya dengan teliti.
Shikamaru menoleh mengisyaratkan dirinya ingin keluar sebentar pada Temari yang dibalas anggukan.
Pemuda itu beralih menuju dapur kecil kediaman utama Kazekage, mengambil segelas air putih untuk ia minum. Ia tegukkan air itu melewati tenggorokannya, meninggalkan rasa dahaganya. Saat hendak mengambil air putih lagi, pemuda itu merasakan seseorang datang ke arah dapur dan mengikuti kegiatannya. Shikamaru mendelik melalui ekor matanya ke arah orang yang baru tiba itu.
"Kurasa kakak kami sudah baikan," ucap Kankurou yang baru tiba langsung meneguk air putih yang baru ia ambil. Shikamaru yang baru selesai menghabiskan minumannya kemudian menoleh, sedikit terkejut dan hampir tidak mengenali Kankurou yang berada disampingnya karena tidak menggunakan riasan ungu anehnya, "Kau ini ninja medis juga ya?"
Shikamaru kembali meminum airnya dan hampir tersedak.
"Yah, walau bagaimana pun, kami mengucapkan terimakasih banyak padamu." Kankurou sedikit mengangkat alisnya singkat diikuti lengkungan tipis di bibirnya—yang entah mengapa senyuman itu terlihat mengerikan.
Pemuda Konoha itu menyandarkan dirinya pada dinding ruang makan, tetap dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Selesainya, Kankurou hendak beranjak pergi namun terhenti pada langkahnya, ingin mengucapkan sesuatu.
"Untuk hubunganmu dengan nee-san," Kankurou menoleh kebelakang membuat Shikamaru menautkan kedua alisnya, "Aku dan Gaara menyetujuinya, jika itu yang terbaik bagi nee-san."
Rasanya tubuh Shikamaru akan terjatuh berpuluh-puluh meter jauhnya kebawah dari posisinya kini mendengar pernyataan aneh nan mendadak Kankurou itu. Sesaat lalu ia melongo, kini gantian dirinya yang menampilkan lengkungan tipis yang terpatri di wajahnya cukup lama, menatap punggung Kankurou yang menghilang di belokkan dapur—seolah-olah ekspresinya mengucapkan sesuatu.
Umaru dan Shikamaru berjalan beriringan memasuki kamar Temari—karena kebetulan mereka berdua berpapasan di lorong dengan Umaru yang membawa nampan berisi satu mangkuk bubur dan segelas teh hijau panas. Setibanya di kamar gadis itu, Shikamaru menyadari kalau infusan Temari sudah dilepas.
Temari terlihat menggeleng, melemparkan rambut kuning cerahnya yang tampak kusut melihat Umaru menaruh baki itu di atas meja samping tempat tidur, "Aku mau makan bersama-sama."
Baik Umaru dan Shikamaru terlihat senang mendengar permintaan Temari. Segera saja Umaru bergegas menyiapkan tongkat bantu untuk Temari—yang sebelumnya dia menolak menggunakan kursi roda.
Di ruang makan, di depan meja makan kayu persegi itu tepatnya, sudah menunggu Gaara dan Kankurou yang tersenyum melihat kakak perempuan mereka yang berjalan dipapah oleh Shikamaru. Umaru menarik kursi untuk tuannya tersebut kemudian diikuti Shikamaru yang duduk di samping Temari.
Sepanjang sarapan pagi, pandangan dua kakak beradik laki-laki itu tidak terlepas dari 'pasangan' yang berada tepat di depannya. Dikarenakan mereka seolah-olah memamerkan kemesraannya; saat Temari tidak sampai mengambil potongan ikan goreng, Shikamaru lah yang mengambilnya lalu menaruhnya di mangkuknya dan juga saat sesuatu menempel di ujung bibir kakak mereka, Shikamaru lagi lah yang membersihkannya. Begitu seterusnya potongan-potongan kecil perhatian Shikamaru pada gadis di sampingnya.
Sadar diperhatikan, mereka berdua menoleh ke arah dua kakak beradik itu. "Apa?" tanya Temari mengangkat dagunya.
Kankurou menaruh sumpit diatas mangkuknya, menatap Shikamaru dan Temari bergantian diikuti dengusan, "Oh, kalian benar-benar pasangan yang manis," terdengar sindirian di nadanya. Kankurou menoleh ke Gaara yang duduk di samping kirinya, "Betul kan, Gaara?—"
Kankurou mendengus lagi karena adik bungsunya itu sudah kembali makan dengan tenangnya—diacuhkan. Dengusan ketiga kalinya terdengar dari Kankurou yang kembali memakan sarapannya, menatap tajam kakaknya lalu memakan sarapannya lagi.
Temari memutar kedua iris zambrudnya dan melanjutkan kegiatannya.
.
.
.
—oOo—
.
.
.
Shikamaru membuka pintu kamar Temari dan mendapati Umaru tengah menguncir empat rambut pirang si gadis Suna. Pemuda itu berjalan mendekati tempat tidur lalu duduk di pinggirannya, menghadap punggung Temari yang duduk di meja rias kecilnya. Temari sedikit melirik ke arah Shikamaru melalui pantulannya di cermin meja rias.
"Nah, selesai," ucap si pelayan menyelesaikan tugasnya. Umaru lalu beranjak mengambil peralatan medis yang berada di meja lainnya untu kembali meninggalkan mereka berdua.
Shikamaru berjalan menuju Temari, menaruh telapak tangan kirinya pada pundak kurus Temari, dan sejenak mengelusnya. Ia berbalik menatap mata Temari melalui pantulannya di cermin, "Kau yakin?"
Temari memposisikan telapak tangan kanannya menggenggam pada telapak tangan Shikamaru yang berada di pundaknya, lalu mengangguk singkat, "Ya."
"Yah, baiklah," pemuda itu beralih mengambil tongkat bantu yang berada tidak jauh darinya, memberikannya pada Temari, "Walau bagaimanapun aku harus tahan menghadapi pandangan-pandangan aneh dari warga desamu."
"Maksudmu?" gadis itu menoleh cepat, memutar posisinya menghadap Shikamaru, "Maksudmu warga desa akan menatap aneh padaku yang sedang dipapah—tampak sangat lemah tidak seperti biasanya?"
Shikamaru mendecih, "Bukan itu. Apa tidak aneh seseorang dari desa lain memapah gadis yang notabenenya kakak kazekage—ya, maksudku seseorang sepertiku akan membuat pikiran-pikiran aneh—," Shikamaru kembali menggaruk tengkuknya.
"—seperti di Konoha?" Temari menyela, "Beberapa tahun lalu saat kita mendapat pandangan aneh dari warga desa Konoha yang menyangka kita berkencan?—Ah, ya si Naruto itu."
Shikamaru menatap Temari heran, menautkan kedua alisnya. Temari kembali menyela, "Tidak, tidak. Toh, mereka pasti akan tahu kalau aku sedang terluka."
Shikamaru kembali mendesah, "Mendokuse."
.
.
.
—oOo—
.
.
.
Ya, benar dugaan Temari. Mereka berdua berhasil mendapat tatapan aneh—terutama dari para ibu-ibu dan remaja pria yang mereka lewati. Pantas saja, karena Shikamaru memapah Temari dengan tangannya yang ia taruh pada lekukan punggung gadis kebanggaan Suna itu, yang masih kesulitan dalam berjalan menuruni tangga. Sebelumnya Temari tetap bersikeras tidak mau menggunakan kursi roda dengan alasan jalanan yang berbatu akan membuatnya tak nyaman.
Matsuri terlihat berlari tergesa-gesa menuju mereka berdua dengan ekspresi shock. Terhenti tepat di depan mereka, Matsuri menutup mulutnya terkejut, "Ya ampun, Temari-san, a—anda kenapa?"
Temari mendesis menyuruh mantan murid dari adiknya itu diam, lalu memberikan pandangan 'diamlah-nanti-akan-kuceritakan-padamu'. Matsuri mengangguk dan berjalan mengekor dibelakang mereka.
"Anda mau kemana?" tanya Matsuri tetap memperhatikan Temari dari belakangnya.
"Ke gedung introgasi," Temari menjawab tanpa menoleh.
Matsuri terlihat mengangguk lalu sedikit berpikir, "Ah! Temari-san, anda diperintahkan Gaara-sama untuk menyelidiki Shinobi itu? Untuk apa?"
"Rahasia," jawabnya lagi tanpa menoleh ke belakang.
Matsuri terlihat mengangguk mengerti lagi, lalu mendekatkan kepalanya diantara Temari dan Shikamaru. Rambutnya yang cokelat menyembul diantara kedua bahu mereka, "Setelah ini, anda tidak berniat untuk berkencan, kan?" goda Matsuri mendelik ke samping Shikamaru. Ya, asal tahu saja, Matsuri—yang saat ini sudah di anggap seperti sahabatnya itu sangat mengetahui segala seluk beluk hubungan antara seniornya dan pemuda intelejen ini.
Mereka berdua serasa melewati Déjà vu.
Langkah keduanya terhenti bersamaan sehingga kepala Matsuri membentur bahu Shikamaru, keduanya menoleh menghadap kepala Matsuri yang tingginya lebih rendah dari mereka, memberikan tatapan tajam.
Matsuri nyengir canggung yang kemudian menegak kembali ke posisinya, "Oh, aku baru ingat ada janji dengan Yurai-senpai. Umm—sampai jumpa Temari-san, Shikamaru-san," Matsuri membungkuk hormat kemudian melesat pergi.
"Dia bukankah murid adikmu?" tanya Shikamaru yang kini mereka berdua telah sampai di depan sebuah bangunan. Temari mengangguk.
Tanpa berkata-kata lagi, mereka berdua membuka pintu coklat besar itu yang langsung disambut oleh seorang jounnin Suna. Jounnin itu menginstruksikan keduanya untuk memasuki sebuah ruangan yang letaknya terpencil dan lebih tertutup, dengan tiga orang jounnin elit Suna berdiri tidak jauh dari mereka.
Tidak ada jendela diruangan itu. Yang ada hanya ada sebuah lampu bohlam tak terlalu terang di tengah ruangan dan ventilasi kecil yang berada di ujung langit-langit ruangan. Dan di bawah cahaya lampu bohlam kuning itu disanalah Shinobi yang menyerangnya berada, duduk tepat ditengah-tengah ruangan dengan semacam segel yang mengitarinya.
Untuk sesaat tangan putih Temari bergetar hingga harus dibantu oleh Shikamaru. Shikamaru yang tanpa melirik ke arah Temari, menenangkannya dengan menggenggam tangan pucat gadis itu.
"Temari-sama, apa benar dia yang menyerang anda?" tanya salah satu jounnin Suna itu dengan nada tegas.
Temari tetap termangu menatap Shinobi yang berada lima meter di depannya. Napasnya mulai memburu sekaligus keringat dingin keluar dengan seenaknya melewati pelipisnya. Temari tampak menoleh perlahan ke arah Shikamaru yang menatapnya dengan air muka yang mulai khawatir, kemudian beralih lagi pada salah satu jounnin yang berada di samping kiri si penyerang. Ia mengangguk pelan.
"Temari-sama, apakah anda yakin?" tanya si jounnin yang lainnya dan dibalas anggukkan pelan lagi diikuti kelopak matanya yang mengatup perlahan.
Temari mengalihkan pandangannya pada Shikamaru, hendak mengucapkan sesuatu, "K—kita pulang."
Pemuda Konoha itu mengangguk mengerti lalu merangkul Temari untuk mengajaknya keluar dari ruangan gelap nan pengap itu.
"Shinobi tadi seorang buronan kelas A. Ia bernama Rikuto, berasal dari desa terpencil di Negara Angin. Tapi sampai sekarang tim penyelidik kami masih belum menemukan apa motif Rikuto menyerang anda, Temari-sama," jelas seorang ninja Suna sepanjang perjalanannya menuju pintu keluar gedung itu. Baik keduanya hanya terdiam mendengar penjelasan yang mendetil itu.
Setelah keluar dari bangunan itu, Shikamaru mengarahkan Temari untuk berbelok ke arah kiri, bukan arah jalanan yang lurus untuk menuju rumahnya. Temari menautkan kedua alisnya, "Kita mau kemana?"
"Sudah ikut saja," menurut, Temari berjalan mencoba menyejajarkan langkahnya pada Shikamaru—atau Shikamaru yang menyejajarkan langkahnya. Sampai akhirnya ia sadar kemana arah Shikamaru membawanya.
Hati Temari kembali mencelos lega setelah melihat pemandangan yang berada di hadapannya, oasis kecil yang dulu ia tunjukkan pada pemuda itu. Shikamaru menuntun Temari menuju tempat biasa mereka sering menghabiskan waktu di sini.
Temari menyadari ada sedikit perubahan pada tempat itu. Ada sebuah bangku kayu panjang berada tepat tidak jauh dari kolam itu, dengan beberapa pohon palem-paleman yang ada dibelakang bangku itu, sehingga rimbun daunnya menjadi penghalau sinar matahari.
Gadis Suna itu mendudukan dirinya dibangku, disamping Shikamaru. Beberapa menit mereka lewati dengan hanya berdiam, tidak ada seorangpun diantara mereka yang ingin membuka pembicaraan.
"Ah, bukankah ini waktumu untuk minum obat?" ingat Shikamaru.
"Aku sudah meminumnya tadi," Temari memutar bola matanya tetap menatap kolam yang berada di depannya.
Ah, benar juga. Tadi kan dia melihatnya sendiri.
Diam kembali menyelubungi mereka. Sampai saatnya Temari yang angkat bicara.
"Kapan kau pulang?" tanya Temari beralih menunduk, menatap kaki-kakinya.
Shikamaru tidak menoleh, melainkan tetap memandang kolam yang berada di depannya juga, "Kau mengusirku?"
Dengan cepat gadis itu menyangkal, "Bukan, bukan. Aku hanya ingin tahu."
Shikamaru menghela napasnya, "Entahlah. Melihat keadaanmu yang membaik, mungkin besok pagi."
Sesaat hatinya mendadak serasa seperti dilubangi oleh sesuatu. Tidak, ia tidak ingin Shikamaru berada jauh darinya lagi.
"Oh, aku mengerti," Temari kembali menunduk. "Bisakah kita pulang?"
.
.
.
—oOo—
.
.
.
Shikamaru yang baru mengantar Temari ke ruang tengah kini merebahkan dirinya di kamarnya. Helaan napas kembali muncul di mulutnya sembari memandang langit-langit kamar itu. Pikirannya kembali mengawang.
Raut wajah kecemasan, kepanikan, dan kekhawatiran Temari tempo hari lalu terputar jelas di pikirannya seolah memproyeksikan semuanya pada langit-langit kamar.
Pemuda itu memilih bangkit dan beranjak menuju ruang tengah, dimana Temari kini sedang duduk bersama kedua adik laki-lakinya. Ia sedikit mengintip dibalik tembok pembatas lorong dan ruang tengah, memperhatikan gadis bersurai kuning cerah itu yang tengah memukul kepala adik pertamanya lalu meringis.
Keduanya menoleh ke arah pemuda yang baru saja tiba, Kankurou dengan pandangan mendecih, pandangan Gaara yang dingin dan Temari yang tersenyum padanya. Ia ambil duduk di sofa putih gading depan kedua bersaudara itu. Bersandar ke sandaran sofa lalu melipat kedua lengannya.
"Kau sudah minum obatmu?" tanya Shikamaru dengan nada bosan.
Temari sedikit menggaruk tengkuknya, "Umm, ya, nanti," cengiran tertera jelas di wajahnya, membuat Shikamaru hanya memutar kedua bola mata onyxnya.
"Akan ku bawakan obat-obatanmu," Shikamaru yang kurang dari sepuluh menit lalu duduk, harus bangkit lagi dan kembali beranjak menuju kamar Temari.
Melihat Shikamaru yang sudah sampai di ambang pintu, Temari menyela, "A—aku akan ke kamar. Tunggu aku," dengan hati-hati ia mencoba berdiri dan berjalan tetap menyanggah tongkatnya. Shikamaru yang menoleh kemudian beralih membantu Temari berjalan, yang membuat Kankurou mendecih lagi.
"Sudah kubilang, kan, kau harus meminum obat-obatmu tepat waktu," cerocos Shikamaru yang kini sudah menaruh Temari di atas tempat tidurnya. Ia berbalik keluar ruangan untuk mengambil sesuatu. Temari yang melihat Shikamaru kembali menghilang hanya membuang napasnya kasar.
Sejak kapan dia menjadi overprotective begitu.
Tidak lama, Shikamaru kembali dengan Umaru yang membututinya, membawa baki berisi obat-obatan serta beberapa perban dan obat luka.
Temari memposisikan dirinya bersandar di kepala tempat tidur dan menyibakkan selimutnya, memperlihatkan kaki jenjangnya. Shikamaru yang bersandar tembok samping meja rias dengan melipat kedua tangannya hanya memperhatikan saat Umaru dengan hati-hati mengganti perban pada paha kanan dan lengan kiri atas Temari.
Namun saat Umaru hendak mengganti perban pada bagian paha Temari, ia palingkan wajahnya ke arah jendela yang membuat Temari sadar akan kecanggungan Shikamaru.
"Oh, kukira besok hari terakhir Anda menggunakan perban di lengan Anda," ucap Umaru yang sedang melakukan tugasnya, "Tapi luka di kaki Anda belum sepenuhnya sembuh."
"Benarkah?" balas Shikamaru yang masih memandang jendela.
Umaru mengangguk, "Kalau Temari-sama mau berlatih berjalan, kukira Temari-sama akan bisa kembali berjalan normal, tidak memerlukan tongkat bantu itu lagi."
Baik Temari dan Shikamaru mengangguk pelan, bertanda mengerti.
"Tapi masih ada masalah," Umaru mengambil jeda dan bangkit dari duduknya di samping tempat tidur, "S—saya dapat memastikan kalau racun itu masih ada 2.5% dan hanya bisa diambil oleh ninja medis yang sangat-sangat ahli dalam menangani racun," jelas Umaru dengan memainkan jari-jarinya.
Kedua orang yang berada di ruangan itu tertegun dan menatap Umaru intens. Temari kemudian beralih menoleh menatap Shikamaru yang juga menatapnya penuh arti. Mereka saling pandang sebentar dan mengangguk pelan, seolah-olah terjadi kontak batin diantara mereka.
.
.
.
—To Be Continued—
.
.
.
Kyaa...! kayanya makin hari ide makin buntu... =,=a *jedotin kepala* dan juga kayanya fic ini gak selesai-selesai deh~
Hehehe...gimana? apa masih ada typo atau kesalahan kata? Bisa kok di taruh review dan Pm nya~
Yosh, minna! Arigatou gozaimashita buat yang review, favorite-in, dan follow cerita ini... :D *deep bow*
Mind to review (again)?
.
.
.
