The Prettiest Disciple © ddideubeogeo17
.
.
.
Hana
Dul
Set
Enjoy it~
.
.
.
"Jungkook-ah?!"
"Hm?"
"Kenapa kau menarik–"
"Ssstt, aku sudah tidak tahan melihat hyung yang jelas merasa tidak nyaman. Sekarang pulang bersamaku saja ya?"
"Eh? Tumben, biasanya kau pulang ke rumah lebih dulu lalu menjemput hyung dua jam kemudian dengan pakaian bebas." Ucap Wonwoo dengan suara pelan.
"Ish! Itu kan karena aku bosan menunggu hyung yang selalu pergi ke perpustakaan tiap pulang sekolah. Ayolah kali ini menurut saja, oke?"
"Oh, oke. Baiklah."
SRET!
Baru saja mau melangkah, salah satu lengan Wonwoo sudah ditahan oleh lelaki berkulit tan yang menatap keduanya dengan tatapan tajam.
"Wonwoo hyung, aku saja yang mengantarmu pulang, ya? Hitung-hitung main, lagipula aku kan belum pernah berkunjung ke rumah hyung. Bagaimana?"
"Tentu." / "Tidak."
Dua jawaban yang berbeda dari sosok bermarga sama di depannya membuat Mingyu mendengus. Ia menatap teman sekelasnya,"Kenapa kau yang menjawab? Aku kan bertanya pada Wonwoo hyung."
"Aku takut kau melakukan hal tidak senonoh, karena di rumah Wonwoo hyung sedang tidak ada orang."
"Enak saja! Aku tidak mungkin melakukan hal itu, prasangkamu sangat tidak berdasar. Tapi, darimana kau tahu jika di rumah Wonwoo hyung sedang tidak ada orang?" tanya Mingyu dengan mata memicing.
"Tentu aku tahu, aku kan. . ."
"Kau?"
"Aku kan Jeon Jungkook. Sudahlah, tidak ada manfaatnya bicara denganmu, Kim. Ayo kita pulang Wonwoo hyung."
"H–huh? Ah ya, kami duluan Mingyu-ya."
Mingyu masih terpaku di tempatnya, kemudian ia tersadar,"Sebegitu dekatkah mereka? Bahkan sudah jadi mantan pun tidak ada kecanggungan sama sekali." lirih Mingyu, ia rasanya ingin menyerah saja jika memang dua lelaki bermarga Jeon itu masih menyimpan perasaan untuk satu sama lain.
Namun, Mingyu tidak ingin pendekatan yang selama ini dilakukannya pada Wonwoo berakhir sia-sia begitu saja. Setidaknya ia harus mengutarakan perasaannya terlebih dahulu pada lelaki yang sudah mematahkan kelurusannya itu.
.
.
.
Mentari dan bulan sudah bergantian dalam menjalankan tugasnya hingga berkali-kali, itu menandakan sudah lewat beberapa hari sejak kejadian dimana Wonwoo lebih memilih pulang diantar Jungkook dibanding Mingyu.
Kini, di siang yang cukup terik itu terlihat Wonwoo tengah melihat ke arah jam tangannya dengan begitu resah, kentara sekali dari gelagatnya jika ia sedang menunggu kehadiran seseorang.
Saat merasakan tepukan di salah satu bahunya, ia membalikkan tubuh.
Pemandangan pertama yang langsung dilihat sepasang netranya adalah seorang lelaki tinggi yang tengah menyunggingkan senyum hingga gigi taringnya terlihat jelas.
"Hyung, sudah lama menunggu?"
"Tidak juga. Jadi sebenarnya kita akan kemana, Mingyu-ya?"
"Tidak seru jika ku beri tahu duluan."
Akhirnya Wonwoo hanya menuruti kemanapun Mingyu pergi. Mereka memang membuat janji bertemu di taman kota pada akhir pekan itu, lalu setelahnya Wonwoo benar-benar tidak tahu akan dibawa kemana oleh Mingyu.
Mereka naik kendaraan umum, dan Wonwoo cukup terkejut saat tahu jika Mingyu ternyata mengajaknya ke taman hiburan.
"Jadi, kau mengajakku kencan ya?"
Mingyu tersedak ludahnya sendiri, ia sama sekali tidak menyangka kalimat itu akan terlontar dari belah bibir Wonwoo.
"Mingyu-ya~?"
Mingyu membelalakkan matanya saat menyadari nada bicara Wonwoo yang terkesan merengek.
"Ehem," Mingyu berdehem guna menetralkan suaranya,"Y–ya, mungkin? Jika hyung beranggapan begitu."
"Woah, baiklah. Berarti ucapannya benar, ini memang acara kencan!"
"Eh? Ucapan siapa?"
Wonwoo hanya menggeleng, ia pun menarik tangan lelaki yang berusia setahun lebih muda darinya itu dengan semangat. Sedangkan yang ditarik merasa senang-senang saja –favoritnya saat kulitnya bergesekan dengan tangan halus Wonwoo.
Tak terasa sudah beberapa jam sepasang lelaki dengan tampang rupawan itu menghabiskan waktu bersama. Ketika sang surya tengah kembali ke peraduannya, kedua lelaki itu sudah duduk manis di tempat pertemuan mereka pagi tadi –di taman kota, dengan es krim yang berada di kedua tangan masing-masing.
Suasana yang sepi sudah mendukung bagi seseorang untuk mengutarakan perasaannya. Namun, percuma saja jika nyalinya tidak ada.
"Mingyu-ya?"
"Ya?"
"Kau melamun?"
"Ti–tidak."
"Tapi kenapa kau membiarkan es krimmu mencair hingga mengenai tangan seperti itu?" tanya Wonwoo dengan menahan kekehan.
Walaupun tidak peka, setidaknya Wonwoo menyadari jika lelaki disampingnya ini tengah kalut dengan pikirannya sendiri. Terbukti dari es krim Wonwoo yang bahkan sudah habis sejak beberapa menit lalu, sementara Mingyu masih berdiam diri bagai patung tanpa merubah posisi sedikitpun.
"O–oh?" dengan tergagap Mingyu menengok ke arah tangannya yang sudah dilumuri cairan es krim, ia bergegas mengambil sapu tangan di kantungnya dengan satu tangan lainnya yang masih bersih. Baru saja ia berniat membersihkan tangannya, namun sudah ada tangan lain yang mengambil alih sapu tangan itu lalu mengusap tangan Mingyu dengan lembut.
Ia terpaku saat dilihatnya sosok lelaki bermarga Jeon itu mengusap tangannya dengan perlahan,'Memang calon istri idaman!'
"Wonwoo hyung?"
"Hm?"
"Aku mencintaimu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sama, aku juga."
"Eh?!"
Wonwoo mendongak, ia tersenyum hingga muncul kerutan lucu di hidung yang menambah kadar kemanisannya.
"S–sungguh? Apa aku berhalusinasi?" bisik Mingyu pada dirinya sendiri.
Wonwoo menggeleng,"Tidak, kau tidak berhalusinasi kok."
Mingyu pun menangkup wajah manis lelaki yang sudah berhasil mencuri hatinya."Hyung, aku mencintaimu dalam konteks romantik, bukan sekadar platonik."
"Hu'um." Wonwoo mengangguk.
"Jadi, perasaan hyung padaku juga seperti itu?" tanya Mingyu masih tidak percaya dengan kenyataan yang didapatnya.
Bosan karena ditanya terus menerus, Wonwoo pun memajukan wajahnya dan mengecup pipi lelaki bermarga Kim itu.
". . ."
"Mingyu-ya?"
"Tampar aku, Hyung."
PLAK!
"Aw sakit! Hyung?! Kenapa menamparku?"
"Lho, kan tadi kau yang minta?"
"Ya tapi jangan sekeras itu juga." Ujar Mingyu masih dengan mengusap pipi kirinya yang ia yakini sudah terdapat cap merah bekas tamparan tangan lentik Wonwoo.
Tersangka penamparan hanya tersenyum tanpa dosa, ia menyingkirkan tangan Mingyu yang masih mengusap pipinya sendiri, lalu mengganti dengan tangannya.
Wonwoo mengecup pipi itu –lagi,"Maaf ya." bisiknya pelan. Ia tidak menyadari saja jika efek perbuatannya itu berimbas pada detak jantung Mingyu yang bergemuruh hebat.
"Hyung?"
"Apa?"
"Hyung tadi bilang jika hyung mencintaiku, kan?"
"Iya."
"Sejak kapan?"
Wonwoo hanya mengendikkan bahu,"Entahlah, aku sendiri bahkan tidak menyadarinya."
"Memangnya hyung sudah benar-benar move on?"
"Move on? Maksudnya?"
Mingyu mengusap wajahnya frustasi,"Hyung, beberapa waktu ini kau kan terlihat akrab lagi dengan mantanmu. Seperti salah satu pepatah yang berkata jika cinta bisa tumbuh karena terbiasa, hmm karena hyung–"
"Tunggu, apa? Mantan? Siapa?"
Mingyu merengut,"Hyung, jujur saja. Tidak apa-apa kok, tidak usah disembunyikan lagi karena aku sudah tahu." Ujarnya sambil mengambil sepasang tangan Wonwoo dan menggenggamnya erat.
"Sungguh, Mingyu-ya aku tidak mengerti. Jujur apa? Bahkan aku tidak menyembunyikan apapun."
Mingyu melepaskan genggamannya, ia memilih bersandar pada bangku taman itu. Matanya menerawang ke depan, ia menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Ya sudah, jika hyung memang belum mau terbuka padaku juga tidak apa-apa. Aku mengerti, meskipun kita sudah saling mencintai, pasti tidak mudah menceritakan masa lalu."
"Huh?"
Mingyu menatap sepasang netra Wonwoo dengan begitu lekat, ia mengusap pipi halus itu.
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Mengetahui jika hyung mencintaiku saja, itu sudah lebih dari cukup untukku."
Wonwoo menggeleng, ia memegang tangan Mingyu yang masih menangkup salah satu pipinya.
"Mingyu-ya, move on? Mantan? Siapa? Bahkan aku belum pernah memiliki kekasih, bagaimana mungkin aku memiliki mantan?"
"Apa?!"
Wonwoo mengangguk yakin, membuat Mingyu terperangah."La–lalu Jungkook itu siapa?"
"Sahabatmu, kan?"
"Ck, bukan itu! Maksudku statusnya denganmu, Hyung. Bukankah ia mantanmu?"
"Mantan apa?"
"Mantan kekasih." lirih Mingyu.
"Pfffttthahahaha" Wonwoo tidak dapat menahan tawanya, ia tergelak dengan begitu gelinya.
Mingyu hanya mengernyitkan dahinya, tak bisa membaca situasi sama sekali. Kemudian ia membelalakkan mata saat si lelaki manis tiba-tiba memeluknya erat.
Wonwoo mengusap kepala Mingyu dengan lembut, ia mengarahkan mulutnya ke telinga Mingyu dan berbisik,"Bagaimana mungkin aku berpacaran dengan adik kandungku sendiri, memangnya kau pikir kami incest?"
Mingyu segera melepaskan pelukan itu,"Benarkah? Lalu apa maksud Jungkook saat menyebut-nyebut tentang 'kalian yang bisa saja jadi seperti dulu' di taman belakang sekolah?"
Wonwoo terlihat tengah mengingat-ingat dengan ekspresi polosnya, hingga kemudian,
"Oh! Kau ada di sana?"
"Bukan aku, tapi salah satu temanku."
Wonwoo hanya terdiam.
"Hyung?"
"Ya?"
"Hyung, aku menunggu penjelasan lho. Kenapa malah diam?" tanya Mingyu dengan wajah memelas, membuat Wonwoo lagi-lagi terhibur dengan ekspresi lelaki bermarga Kim itu.
Wonwoo mencubit hidung mancung Mingyu dengan jahil,"Jungkook memang suka iseng. Dia jelas tahu aku tidak pernah memiliki kekasih sementara dia sudah taken dengan Taehyungie hyung dari sekolah lain. Jadi menurutnya, agar aku tidak terkesan 'tidak laku', Jungkook senang bermain peran dan akhirnya berkata begitu. Berakting seolah-olah kami itu mantan kekasih dan ya aku sih mengikuti alur permainannya saja."
"Aish! Jinjja, bocah tengik itu!"
"Yak! Jangan mengatai adikku."
"Maaf, lagipula kenapa hyung terkesan tidak kenal dengannya?"
"Benarkah? Ku pikir sepertinya interaksi kami biasa saja."
Mingyu menggeleng,"Tapi, aku yakin sebagian besar murid di sekolah ini tidak menyangka jika kalian adalah saudara kandung." Ujar Mingyu bersikukuh.
"Hmm, mungkin karena saat tahun pertama di sini ia terlalu sibuk dengan kau, Seokmin, Jun, dan Soonyoung sementara aku pun sibuk dengan teman-temanku, jadi kami jarang berpapasan. Lagipula Jungkook tidak pernah menyapaku duluan, dan aku juga tidak terpikir untuk menyapanya. Tapi meskipun begitu, sebenarnya setiap hari Jungkook yang mengantarku pulang sekolah."
"Oh, tunggu, mengantar hyung pulang? Tapi selama aku berteman dengannya, baru akhir-akhir ini saja aku melihat kalian pulang bersama."
"Tentu saja karena beberapa waktu belakangan kau kan juga pulang lebih lama dari biasanya. Aku terbiasa membaca di perpustakaan sekitar dua jam tiap pulang sekolah, karena Jungkook itu mudah bosan jadi ia lebih memilih pulang ke rumah dulu baru nanti kembali lagi ke sekolah."
"Ya ampun, kalian adik-kakak macam apa. Lalu, kenapa hyung tidak bilang jika Jungkook adikmu?"
"Kau tidak bertanya."
'Ya Tuhan, bahkan jawabannya sama persis seperti Jungkook saat itu. Benar-benar, tidak diragukan memang darah lebih kental daripada air.' Batin Mingyu meringis.
"Hyung, karena kita memiliki perasaan yang sama. Jadi, bisakah hubungan kita lebih dari sekadar teman?"
". . ."
"Hyung, jadi kekasihku ya?"
CTAK!
"Kenapa malah menjitak dahiku?!"
"Kenapa tidak ada romantisnya sama sekali, sih? Lagipula kau tidak bisa menggunakan diksi yang lebih bagus? Itu seperti pemaksaan tahu!"
Mingyu hanya mengusap tengkuk canggung,"Maaf, aku terlalu gugup."
"Heleh, masa? Seseorang yang sudah berkali-kali mengutarakan perasaan pada orang lain, masih bisa merasa gugup juga?"
"Hyung, aku tidak–"
"Tidak perlu mengelak, aku tahu kok. Kau sudah sangat pengalaman menembak orang, tapi sayang semuanya meleset karena belum ada yang menerimamu." Ujar Wonwoo santai dengan senyum jahil.
"Pasti hyung diberitahu Jungkook ya?"
"Hmm tidak juga sih, tanpa diberitahu pun semua berita itu sudah menyebar dengan sendirinya."
Mingyu menutup wajahnya, ia malu. "Tapi hyung, sungguh aku belum pernah melibatkan perasaan. Itu hanya, apa ya, uhmm hanya ambisi semata agar–"
Wonwoo membekap mulut Mingyu,"Iya iya, aku percaya. Tidak usah gugup begitu." Kemudian Wonwoo menjauhkan tangannya.
"Hyung? Jadi, hyung menerimaku atau tidak?"
Wonwoo terdiam, membuat jantung Mingyu berdegup tidak nyaman. Ia bahkan merasakan keringat dingin yang menetes di dahinya karena menanti jawaban si cantik.
"Mingyu-ya. . . "
"Iya?"
"Maaf,"
"Oh. . ."
Mingyu menunduk, ia bahkan seakan bisa mendengar suara kepingan hatinya yang telah retak hingga hancur berkeping-keping.
'Jika memang menolak, kenapa kau mengaku jika kau mencintaiku juga? Maksudnya apa, Hyung?!' batin Mingyu menjerit protes.
"Maaf karena aku sudah menelantarkan segala bentuk perhatianmu selama ini, aku juga mewakili Jungkook untuk meminta maaf karena kesalahpahaman ini."
"Eh? Tunggu? Apa? Bagaimana?" Mingyu langsung mendongak dan menatap Wonwoo dengan wajah terkejutnya.
"Maaf, karena aku tidak bisa dan tidak mungkin menolakmu."
". . ."
". . ."
"AIGOO~ HYUUUUUNG~"
Mingyu segera merengkuh lelaki yang lebih kurus ke dalam pelukannya, sementara Wonwoo menyamankan dirinya dalam pelukan lelaki berkulit tan itu.
"Hyung, maaf ya. Dulu aku sempat merasa kesal padamu padahal kita tidak saling kenal."
"Kenapa? Pasti karena banyak yang menjodoh-jodohkan kita ya?"
Mingyu mengangguk, ia mengeratkan pelukannya, sesekali mengecup puncak kepala dalam rengkuhannya.
"Tapi itu dulu, sebelum pada akhirnya aku menyadari pesona lelaki cantik dalam pelukanku ini."
"Eiyh~ so cheesy!"
"Tidak apa-apa, toh pada kekasih sendiri. Sah-sah saja, kan?" ujar Mingyu santai, sementara Wonwoo makin menyusupkan wajahnya ke leher kekasih barunya untuk menyembunyikan pipi yang diyakininya sudah merona.
"Aduh, mentang-mentang sudah punya kekasih, sombongnya." ledek Wonwoo.
"Apa sih? Biar saja, memang kenapa? Tidak boleh sombong? Wajar jika aku pamer, kekasihku kan murid tercantik di sekolahnya."
Wonwoo sebal mendengar kekehan Mingyu yang sudah berhasil menggodanya, ia menggigit bahu kekasihnya itu.
"A–aw ampun, hyung!"
Hening melingkupi hingga kemudian Mingyu melonggarkan pelukan keduanya. Ia merapihkan poni Wonwoo yang terlihat berantakan. Mereka berdua larut dalam keadaan intim yang tercipta, menikmati setiap detik dengan status baru yang melekat diantara mereka.
Tanpa disadari, jarak diantara wajah keduanya sudah semakin menipis. Tidak tahu siapa yang memulai, namun yang pasti kedua bibir itu sudah bertubrukan dengan lembut.
Hanya saling menempel berusaha menyalurkan perasaan tulus masing-masing. Hingga suasana yang begitu tenang itu harus berhenti karena getaran ponsel milik sang submisif.
"Siapa hyung?" tanya Mingyu penasaran.
"Aigoo kekasih baruku ternyata posesif ya?" goda Wonwoo. Sementara Mingyu hanya berdecih, ia pun mengusalkan hidungnya ke pipi yang dilapisi kulit putih pucat itu.
"Siapa~?"
"Jungkook, sepertinya aku harus segera pulang."
Mingyu menghela napas berat, namun biar bagaimanapun memang besok mereka harus sekolah. Tidak mungkin ia mementingkan egonya untuk tetap bersama Wonwoo sedangkan suhu di luar sudah semakin dingin.
"Baiklah, ayo kita pulang. Ku antar ya?"
"Hu'um."
Mereka pun beranjak, Mingyu menautkan jari tangan keduanya. Baru beberapa langkah Wonwoo sudah berhenti, membuahkan kebingungan di benak Mingyu.
"Kenapa?"
Wonwoo melepaskan tautan tangan keduanya, ia menangkup wajah Mingyu dan berjinjit sedikit, untuk kemudian menyematkan kecupan lama di kening sang kekasih.
"Terima kasih banyak untuk hari ini, Jeon Wonwoo's property."
Mingyu terkekeh, ia pun mengusak sayang rambut yang lebih tua."Terima kasih kembali, sayang~"
Saat sudah berjalan cukup lama yang diliputi kesunyian, tiba-tiba Wonwoo membuka suara."Mingyu-ya. . ."
"Apa, hm?"
"Atas segala perbuatan Jungkook, jangan marah padanya ya? Percayalah, dia melakukan itu semua demi kebaikanku juga. Ia memang protektif dan tidak ingin aku mencintai orang yang salah. Jadi kalau kau marah padanya, kau juga berhak marah padaku."
Mingyu menggeleng, kemudian tersenyum."Tidak kok."
'tapi membalas Jungkook dengan mengerjainya sedikit, tak apa kan?' lanjut Mingyu dalam batinnya sambil membayangkan segala kejahilan yang sekiranya bisa setimpal.
.
.
.
Sementara itu di kediaman Jeon. . .
"Kenapa telingaku panas ya?" tanya lelaki bergigi kelinci yang tengah duduk santai di kamarnya sambil membaca komik.
Karena tidak mendapat petunjuk apapun, ia hanya mengendikkan bahunya tak acuh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kembali ke waktu dimana seorang Kim Mingyu sedang dalam masa peralihan, dari lurus menuju belok.
Di kamar dengan cahaya temaram itu terlihat sesosok lelaki bergigi kelinci yang tampan dan manis tengah mengotak-atik ponselnya. Ia tengah gusar, batinnya ragu akan langkah apa yang harus diambilnya.
Pada akhirnya ia membulatkan tekad, ia membuka salah satu aplikasi dan segera mencari kontak dengan nama YoonCheonsa hyung, Jihoonie hyung, Minghaoer, dan BooSKwan. Kemudian jarinya sibuk mengetik pesan kepada mereka berempat dalam sebuah Group Chat yang baru saja dibuatnya.
'Jeonghan hyung, Jihoon hyung, Minghao-ya, dan Seungkwan-ah. Maaf jika mengganggu waktu kalian, tapi aku bersungguh-sungguh. Ini hal yang darurat –untukku!
Kalian tahu Kim Mingyu, kan? Temanku yang berpredikat sebagai Siswa Tertampan, dan kalian tahu apa? Ia sedang menyukai Wonie hyung!
Aku tidak akan mempermasalahkan hal itu jika saja seandainya Mingyu itu tidak kerdus. Tanpa dijelaskan, kalian pasti paham betul bagaimana hobi Mingyu yang suka tebar pesona. Aku takut hobinya itu tidak berhenti meskipun ia nantinya menjalin hubungan dengan Wonie hyungku T.T
Jadi, aku berencana mengetes keseriusan Mingyu. Kebetulan teman-temanku tidak pernah main ke rumah, dan beruntung karena sedari awal masuk sekolah aku dan Wonie hyung hampir tidak pernah terlihat bersama, jadi memudahkan rencanaku.
Tahap awal, pokoknya aku tidak ingin mengungkit jika Wonwoo hyung adalah hyung kandungku, dan ku harap kalian juga diam-diam saja.
Rencana berikutnya menyusul, tapi apa kalian mau membantuku?'
Dan tak perlu menunggu waktu lama hingga akhirnya ponselnya berbunyi, lelaki itu tersenyum puas saat group chat itu sudah ramai dan keempatnya menjawab dengan hal yang sama, bahwa mereka menyetujui apapun rencananya.
'Yeoksi! Kau memang jenius, Jeon Jungkook!' batinnya memuji diri sendiri.
.
.
.
.
.
THE END
*Makasih banyak buat yang udah baca, fav, follow, bahkan nyempetin review /deep bow/ hwehehe
**Mind to RnR? Gomawo^^
***Ini emang dari awal udah esvi konsep bakal jadi cerita ringan dgn chapter pendek, dan bukan cerita dgn konflik-konflik berat yang super kompleks /? jadi, maaf banget kalo ada readernim yang berekspektasi tinggi sama cerita ini T.T
