Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Pair : Itachi. U x Hinata. H

~Please Look At Me~

WARNING : AU, Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, Alur cepat, Gaje dan masih banyak kekurangannya.

PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

Mulai hari ini dan seterusnya Hinata akan diantar jemput oleh Juugo yang merupakan orang kepercayaan dari Itachi, menggunakan mobil mewah milik keluarga Uchiha tentunya. Padahal Hinata tidak mau terlihat mencolok dan menjadi pusat perhatian disekolah dengan diantar jemput menggunakan mobil mewah. Karena sejak kecil Hinata selalu hidup sederhana dan juga selalu pergi kesekolah dengan menggunakan kendaraan umum.

Hinata menyelesaikan sarapannya dengan cepat dan langsung menyambar tas sekolah yang diletakkan disebelahnya, "Ibu aku pergi," pamit Hinata.

"Hati-hati dijalan Hinata-chan." Mikoto melambaikan salah satu tangannya pada Hinata.

Saat Hinata keluar dari dalam rumah, Juugo sudah menunggu kedatangan Hinata didepan mobil.

"Selamat pagi Nona muda." Sapa Juugo sopan

"Pagi juga," balas Hinata ramah.

"Silahkan masuk Nona muda," Juugo membukakan pintu mobil untuk Hinata.

"Terima kasih Juugo-san." Hinata masuk kedalam mobil dan duduk dengan nyaman dibangku bagian belakang.

Selama perjalanan kesekolah Hinata hanya diam, sementara Juugo terlihat sangat fokus sekali menyetir. Setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh menit, akhirnya Hinata tiba didepan sekolah. Kebetulan saat Hinata tiba disekolah, suasana sekolah tengah ramai dan mau tak mau kedatangan Hinata dengan diantar mobil mewah menjadi pusat perhatian para murid yang melihatnya.

"Mobil siapa itu?!" tanya salah satu murid perempuan dengan sedikit berbisik dengan teman disebelahnya.

"Entahlah. Kurasa itu anak baru," jawab teman gadis itu.

"Kuharap itu adalah pria tampan." Ujar gadis itu penuh harap.

Hinata masih duduk diam didalam mobil mewahnya, ia menghela nafasnya sejenak sebelum turun dari dalam mobil. Juugo sudah dari tadi membukakan pintu mobil untuknya. Para murid terlihat penasaran dengan siapa yang menaiki mobil mewah tersebut.

Hinata keluar dari mobil dengan perlahan, dan seluruh murid langsung terlihat sangat syok sekali ketika melihat Hinata yang turun dari mobil mewah itu.

"Bukankah itu, Hinata Hyuuga murid baru di kelas dua," ujar salah satu murid perempuan bersurai hitam.

Hinata sedikit membungkukkan tubuhnya, "Terima kasih Juugo-san." ujar Hinata saat hendak masuk kedalam sekolah.

"Sama-sama Nona muda. Saya akan menjemput anda setelah sekolah usai." Ucap juugo dengan sopan sekali pada Hinata.

Tak lama Juugo kembali kedalam mobil dan pergi meninggalkan area sekolah. Hinata menarik nafasnya dalam-dalam sebelum memasuki sekolah. Saat Hinata berjalan kearah gerbang sekolah dan memasuki area sekolah. Bisa Hinata lihat wajah terkejut, syok, tak percaya dari teman-teman sekolahnya. Mereka semua tidak menyangka kalau Hinata adalah seorang Nona muda. Saat Hinata berjalan disepanjang koridor menuju kelasnya pun. Para murid terlihat tengah berbisik-bisik sambil memadangi dirinya.

"Ya Tuhan!" geramnya dalam hati.

Entah apa yang tengah dibicarakan oleh mereka. Akan tetapi Hinata pura-pura tidak melihat dan mendengarnya dengan mempercepat langkahnya dan masuk kedalam kelas. Baru juga Hinata duduk meletakkan tasnya. Ino sudah berlari menghampirinya dan langsung duduk didepan Hinata.

"Siapa kau ini sebenarnya Hinata?" Tanya Ino tiba-tiba.

"Maksudmu apa Ino-chan?!" tanya Hinata dengan bingung sekali menatap heran sahabatnya ini.

"Kau ini, siapa sebenarnya!?" tanya balik Ino dengan gemas.

"Aku Hinata Hyuuga. Kau ini kenapa Ino-chan, kau aneh sekali," Hinata tertawa kecil melihat ekspresi wajah sahabatnya yang menatapnya dengan ekspersi lucu.

Ino menarik salah satu pipi Hinata karena merasa gemas sekali dengan sikap Hinata yang sangat polos sekali dan juga tidak peka.

"Sakit Ino-chan," keluh Hinata sambil mengelus pelan pipinya yang dicubit.

"Habis aku gemas sekali denganmu. Dari tadi aku bertanya kau ini siapa sebenarnya? Soalnya sejak tadi, seluruh murid disekolah ini tengah membicarakanmu," ujar Ino dengan sebal.

"Oh itu," Hinata tersenyum kikuk menanggapinya.

TING...TONG

Tiba-tiba saja bel masuk berbunyi, membuat Hinata menunda jawabannya atas pertanyaan dari sahabatnya itu. Hinata hanya diam melihat sahabatnya, ia bingung harus mejawab apa. Ia tidak bisa memberitahukan jati dirinya pada Ino, namun ia juga tidak bisa berbohong pada sahabatnya itu.

"Tuhan aku harus bagaimana?" teriak Hinata dalam hatinya.

.

.

.

Itachi duduk melamun memandangi sebuhah figura foto seorang gadis, pandangan matanya terlihat sangat sendu sekali. Sampai akihrnya sebuah suara deheman dari Deidara membuyarkan lamunannya.

"Ini laporan yang kau minta tadi pagi," Deidara menghampiri Itachi dimejanya.

Itachi menaruh kembali figura foto Konan didalam sebuah laci dan menerima laporan dari Deidara.

"Apakah kau tengah merindukannya?!" tanya Deidara seraya duduk dipinggiran meja disebelah Itachi.

Itachi menanggainya dengan senyuman kecil, pandangan matanya mulai menerlusuri setiap deretan angka dan huruf dari laporan yang ada ditangannya.

Deidara menghela nafasnya dengan perlahan lalu menoleh menatap sahabatnya itu, "Sudah saatnya kau melupakannya kawan," celetuk Deidara.

Itachi menutup laporan yang ada ditangannya dan menaruhnya diatas meja. Ia menatap wajah Deidara dengan datar, "Aku belum bisa Deidara," ujar Itachi.

"Bukannya kau tidak bisa. Namun kau tidak mau membuka hatimu saja," balas Deidara dengan keras.

"Sampai kapan kau terus hidup dalam kenangan? Hidup ini terus berjalan kawan, memangnya kau tidak ingin membahagiakan ibumu?!" sindir Deidara.

Itachi bangun dari duduknya dan berjalan kearah jendela, pandangan matanya lurus menatap tiap tetesan air hujan, saat ini hujan tengah turun. Padahal ramalan cuaca tadi pagi mengatakan kalau hari ini akan cerah, namun sayangnya ramalan itu meleset.

"Mungkin perkataanmu memang benar adanya," ujar Itachi.

"Lalu, apa yang mau kau lakukan?" tanya Deidara.

"Entahlah, aku juga bingung dengan perasaanku saat ini." Jawab Itachi seraya tersenyum kecil menatap sahabatnya itu. Sedangkan Deidara hanya bisa menghela nafasnya melihat sikap temannya itu, yang belum juga bisa melupakan Konan.

*#*

TING….TONG….

Bel pelajaran istirahat terdengar, baru juga sang Sensei keluar dari dalam kelas. Ino sahabatnya langsung datang menghampiri Hinata.

"Hari ini kau bawa bekal apa? Tadi pagi aku membuatkan sosis goreng," Hinata mengeluarkan kotak bekal makan siangnya.

"Hinata jawab pertanyaanku yang tadi pagi, kau ini siapa sebenarnya?" cecar Ino.

Hinata menunda acara makan siangnya sejenak lalu menatap sahabatnya yang memandangnya dengan penasaran sekali, "Aku masih ada hubungan kerabat dengan keluarga Uchiha, dan aku tinggal di kediaman mereka saat ini. Kau sudah puas Ino-chan?" Jelas Hinata.

Ino terlihat sangat kaget sekali mendengarnya, dirinya tidak percaya kalau Hinata masih ada hubungan saudara dengan keluarga Uchiha yang sangat terpandang dan terkenal di kota ini.

"Benarkah itu, Hinata?" tanya Ino untuk memastikan kembali.

"Hmm," angguk Hinata seraya memakan bekal siangnya.

Hinata menatap sendu sahabatnya itu, "Maafkan aku Ino-chan, karena aku terpaksa membohongimu." Batin Hinata.

Dirinya tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kalau ia bukan saudara dari kelurga Uchiha, melainkan menantu keluarga itu dan juga istri dari Itachi Uchiha dan Hinata terpaksa berbohong pada teman-temannya.

Tes...

Tes...

Tes...

Sore ini hujan turun dengan derasnya, namun Hinata lupa membawa payung.

"Apa aku menerobos hujan saja?" pikir Hinata.

Namun sayanganya hujan semakin deras saja dengan diiringi petir membuatnya mengurungkan niatnya, suasana sekolah juga sudah mulai sepi dan hari semakin sore. Membuat Hinata sedikit cemas dan takut, karena Hinata berencana untuk menunggu hujan reda.

"Apakah kau mau pulang, Hinata?" tanya Sasori dengan ramah.

Hinata menoleh menatap sang Sensei tampan itu, "Iya, tapi hujan. Apakah Sensei juga ingin pulang?"

"Ya, apakah kau mau berpayungan bersamaku?" tawar Sasori seraya membuka payung berwarna biru miliknya.

Hinata diam sesaat dan memikirkan tawaran dari sang Sensei, dan diam-diam Sasori memperhatikan wajah Hinata yang sedikit agak bingung.

"Baiklah, jika anda tidak keberatan berbagi payung denganku," ujar Hinata dengan cepat.

Sasori tersenyum sangat tipis ketika mendengar jawaban dari Hinata.

"Ayo Hinata," ajak Sasori yang sudah berdiri dibawah payungnya.

Dengan sedikit ragu Hinata mendekat kearah Sasori, mereka berdua berpayungan bersama. Dan hal ini membuat beberapa murid wanita yang melihatnya menjadi iri dan marah dengan Hinata.

Saat tiba didepan pintu gerbang, Hinata melihat Juugo yang sudah berdiri menunggu didepan mobil seraya berpayungan. Juugo langsung menghampiri Hinata dan memayungkan sang Nona, menjauhkannya dari Sasori.

"Silahkan masuk Nona muda," Juugo membukakan pintu mobil untuk Hinata.

"Terima kasih Juugo-san,"

Hinata menatap sang Sensei dan tersenyum, "Terima kasih atas tumpangannya Sensei," ujar Hinata.

"Sama-sama Hinata," balas Sasori dengan lembut.

Juugo yang melihat Sasori tersenyum penuh arti pada sang Nona muda membuatnya tidak suka dan menaruh curiga pada Sensei muda dan tampan ini.

"Ayo Nona muda, kita harus segera pulang."

"Baiklah, saya pulang dulu Sensei. Sekali lagi terima kasih," Hinata masuk kedalam mobil.

Sasori hanya terlihat diam melihat Hinata yang masuk kedalam mobil, dan tak lama mobil itu membawa jauh pergi Hinata dari hadapannya. Saat dirinya tengah bengong melihat mobil Hinata yang melaju jauh, tiba-tiba saja ponselnya berdering dengan keras membuyarkan lamuannya.

"Hallo Deidara." Ucapnya ditelpon.

X0X0X0X0X0X0X0X0X

Hinata menatap bingung penampilan dan dandannya malam ini, gadis cantik ini merasa kalau orang yang ada didalam cermin bukan dirinya, karena sangat jauh berbeda dari dirinya yang biasanya.

"Kau sangat cantik sekali Hinata-chan. Andai saja anak bodoh itu menyadarinya, pasti ibu yakin dia menyesal karena telah menyia-nyiakan gadis semanis dan secantikmu," puji Mikoto.

"Ibu, memangnya kita mau kemana dengan berdandan seperti ini?" tanya Hinata dengan polosnya.

"Kita akan pergi kepesta Hinata-chan, ibu akan memberikan pelajaran pada anak bodoh itu," geram Mikoto.

Hinata hanya bisa diam dan pasrah mengikuti setiap perkataan dari sang ibu, karena ia yakin kalau perkataan dan permintaan dari Mikoto itu baik untuknya. Walaupun kadang-kadang menyusahkannya, karena permintaannya yang aneh.

Menantu dan ibu mertua ini akan pergi keacara pesta Sakura, anak dari pemilik Haruno Corporation. Hal ini dilakukan oleh Mikoto karena, Itachi tidak mau mengajak Hinata ke pesta itu dan memperkenalkan Hinata pada orang-orang.

"Ayo Hinata-chan kita masuk," ajak Mikoto seraya turun dari dalam mobil.

Namun Hinata masih duduk diam didalam mobil dan terlihat ragu sekali untuk turun dari mobil, karena merasa takut dan gugup sekali bertemu dengan orang-orang didalam.

"Ayo Hinata-chan, jangan takut. Turunlah." Mikoto mengulurkan tangannya membantu sang menantu turun dari dalam mobil.

Hinata mulai berjalan masuk kedalam pesta. Dan tanpa Hinata sadari kalau kedatangannya telah mengundang perhatian para tamu dipesta itu, terlebih para pria yang sangat kagum dan terpesona pada penampilan serta kecantikan wajah Hinata.

"Cantik sekali!" seru para pria dengan takjub saat melihat Hinata.

Mikoto dan Hinata langsung disambut hangat oleh kedua orang tua Sakura dengan ramah. Hinatanya hanya bisa berdiri diam disamping Mikoto, tanpa banyak berbicara.

Para pria terlihat memperhatikan Hinata dan penasaran dengannya, terlebih ia datang dengan Mikoto. Yang merupakan Nyonya besar keluarga Uchiha yang terkenal.

Itachi terlihat menyendiri menikmati segelas wine putih ditangannya, ia tidak tertarik untuk berbincang-bincang dengan tamu dipesta ini. Sampai ia mendengar bisak-bisik dari para pria yang membicarakan seorang gadis cantik dipesta ini.

"Kau tahu gadis cantik yang datang bersama dengan Nyonya besar Uchiha?" tanya seorang pria berjas biru pada temannya.

"Entahlah, namun gadis itu sangat cantik sekali dan kulitnya juga sangat putih sekali," sahut teman pria itu.

"Kau benar, andai saja aku bisa mengenalnya. Akan kujadikan ia miliku." ujar pria berjas biru itu yang membuat perasaan Itachi tidak enak.

Saat hendak melihat gadis yang tengah diperbincangkan oleh para pria, tiba-tiba saja Sakura datang dan langsung merangkulnya dengan mesra.

"Ternyata kau disini Itachi-kun. Ayo kita berdansa," ajak Sakura seraya menariknya ketengah lantai dansa.

Itachi tak bisa berbuat banyak dan membiarkan gadis manja ini mengajaknya berdansa. Para pasangan terlihat tengah menikmati dansa romantis, tanpa Itachi sadari kalau Hinata melihat hal itu.

Nyut~~

Hati Hinata terasa sangat sakit sekali ketika sang suami bermesraan dengan gadis lain didepan matanya.

"Itachi-kun," gumam Hinata dengan mata yang berkaca-kaca.

Hinata hanya bisa berdiri mematung melihat pemandangan didepan matanya, tanpa bisa berbuat banyak.

Tes…

Tes…

Tes…

Air mata Hinata langsung jatuh menetes ketika melihat dengan kepalanya sendiri Itachi berciuman dengan gadis cantik bersurai merah muda itu, walaupun sebenarnya Sakura yang memaksa mencium Itachi tepat dibibirnya.

"Apa yang kau lakukan Sakura!" Itachi mendorong keras tubuh Sakura hingga gadis itu hampir jatuh.

"Memanganya aku salah mencium orang kusukai?" tanya Sakura.

Itachi terlihat mengelap bibirnya yang terkena noda lipstik milik Sakura. Semua orang cukup kaget dengan kejadian itu dan tidak menyangka kalau Sakura akan mencium Itachi didepan semua orang.

"Dasar gadis itu!" geram Mikoto dalam hati.

Mikot sangat marah sekali melihat kejadian ini dan tidak suka kalau Itachi disentuh-sentuh oleh gadis lain selain Hinata, menantunya yang sah.

Mikoto langsung menghampiri Itachi dan Sakura, "Selamat malam Nona Sakura," sapa Mikoto saraya menyunggingkan senyuman dingin dan aura gelap pada gadis bersurai merah jambu itu.

"Selamat malam juga Nyonya Uchiha," balas Sakura dengan sopan.

Sakura merasa sedikit takut melihat senyuman dari Mikoto yang dirasanya penuh aura membunuh.

"Ibu! Apa yang dilakukan oleh ini disini?" tanya Itachi dengan bingung.

Tanpa berkata apa-apa Mikoto langsung menarik tangan Itachi dan membawanya pergi jauh meninggalkan Sakura dari lantai dansa.

Dan saat dirasa sudah berada ditempat sepi dan aman Mikoto langsung memarahi sang anak.

"Apa yang kau perbuat Itachi Uchiha? Mencium seorang gadis didepan ibu dan istrimu!?" omel Mikoto dengan penuh emosi.

"Hinata disini?" tanya Itachi yang tak menangapi omelan dari sang ibu.

"Ya, dia datang bersama dengan ibu," Mikoto berkacak pinggang menatap wajah sang anak yang terlihat bingung.

"Lalu dimana Hinata sekarang ibu? Mengapa ibu tidak bersama dengannya?" ujar Itachi dengan cemas.

Mikoto terlihat tertegun sesaat dan tak lama wajahnya syok dan terkejut sekali karena menyadari kalau sang menantu tidak ada didekatnya padahal beberapa waktu yang lalu Hinata bersamanya.

"Cepat cari dia Itachi, ibu takut terjadi apa-apa dengannya." Ujar Mikoto panik.

Itachi segera mencari keberadaan Hinata dan meminta sang ibu untuk menunggu didalam mobil. Dirinya tidak mengira kalau Hinata akan datang kepesta ini bersama dengan sang ibu, terlebih sang istri melihatnya tengah dicium oleh Sakura.

"Hinata." gumamnya.

*#*

Seorang gadis terlihat tengah berjalan gontai menelusuri jalanan tanpa mengenakan alas kaki sama sekali, dirinya tidak peduli pada penampilannya bahkan gaunnya yang kotor karena tersere-seret aspal jalanan.

"Hiks..." isaknya tertahan.

Sakit, perih, sedih, terluka, itulah yang dirasakan oleh Hinata saat ini. Hatinya terasa hancur sekali ketika melihat dengan kepalanya sendiri Itachi mencium seorang gadis didepan semua orang, padahal pemuda itu tidak pernah melakukannya selain diupacara pernikahan mereka beberapa bulan yang lalu.

Hinata tahu kalau sang suami memang tidak mencintainya akan tetapi melihat Itachi berbuat seperti itu membuat hatina sakit dan terluka.

Tes….

Tes…

Tes…

Syut~

Hinata menghapus kasar air matanya karena merasa menjadi gadis bodoh, menangis gara-gara Itachi.

"Aku tidak boleh menangis, aku harus tegar dan kuat," bibir Hinata sedikit bergetar saat mengatakannya.

Dengan menenteng sepatu hak tinggi yang dipakainya tadi, Hinata berjalan menyelusuri jalanan kota dan entah kemana langkah kakinya akan berhenti karena saat ini dirinya tak ingin pulang hingga tanpa sadar kalau Hinata sudah berjalan jauh. Orang-orang disekitarnya terus memperhatikan Hinata karena penampilannya yang bisa dibilang tak biasa juga berantakan disebabkan matanyanya yang sembab juga make-upnya yang luntur terkena air mata.

Karena merasa lelah Hinata duduk disebuah halte bus lalu menyadarkan tubuhnya dan menatap kosong kendaraan juga orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya.

Hingga sebuah mobil berhenti didepan Hinata dan saat kaca mobil itu terbuka menampilkan seorang pria bersurai merah didepannya.

"Hinata," panggil pria tampan itu, yang tak lain adalah Sasori.

"Sensei, apa yang anda lakukan disini?" tanya Hinata dengan bingung.

Sasori terkekeh kecil mendengar pertanyaan dari Hinata, karena yang seharusnya bertanya seperti itu adalah dirinya, bukan Hinata.

"Masuklah, tak baik jika wanita cantik duduk sendirian disana," goda Sasori dari dalam mobil.

Tanpa berfikir panjang Hinata langsung masuk kedalam mobil Sasori dan duduk disebelahnya.

.

.

.

Itachi terlihat sangat cemas, bingung juga takut memikirkan Hinata, sudah lebih dari satu jam Itachi mencari namun Hinata tidak ia temukan dimana-mana. Hal ini membuatnya sangat khawatir dengan sang istri, terlebih Hinata pergi tanpa membawa ponsel juga dompet.

Itachi memutuskan menemui sang ibu dan memintanya untuk segera pulang, mungkin saja Hinata sudah pulang kerumah sendirian.

"Itachi, ibu takut terjadi apa-apa dengan Hinata-chan. Ibu takut kalau ia….."

"Sudahlah ibu jangan berfikir yang macam-macam, kita berdoa saja kalau Hinata sudah berada dirumah," potong Itachi.

Itachi terlihat sangat tergesa-gesa sekali membawa mobilnya, saat ini dirinya ingin cepat sampai kerumah dan bertemu dengan Hinata.

"Itachi pelan-pelan membawa mobilnya, kau mau membunuh ibumu ini?" ujar Mikoto dengan takut.

Bukannya memelankan laju mobilnya, Itachi semakin mempercepatnya membuat Mikoto sangat ketakutan. Akhirnya setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka berdua sampai di rumah.

"Selamat datang Nyonya besar, Tuan muda." sapa para pelayan dengan ramah.

Itachi terlihat terus melangkah masuk menuju kamarnya, sementara itu Mikoto terlihat berjalan sempoyongan. Kepalanya terasa sangat pusing sekali, jika tahu kalau naik mobil bersama dengan Itachi akan begini jadinya. Lebih baik tadi Mikoto menunggu Juugo datang menjemputnya.

"Sayang kau kenapa?" tanya Fugaku denga heran.

"Kepalaku sangat pusing sekali, kurasa anakmu itu ingin membunuh ibunya." Jawab Mikoto seraya memegangi kepalanya.

Fugaku langsung memapah sang istri dan membawanya kekamar lalu meminta para pelayan membawakan minuman hangat kedalam kamarnya. Entah apa yang terjadi dengan sang istri namun wajahnya terlihat sangat pucat sekali.

"Hinata," panggil Itachi saat masuk kedalam kamarnya, namun sayangnya kamarnya sepi dan tidak ada Hinata didalamnya.

"Pelayan, pelayan," panggil Itachi dengan keras.

Seorang pelayan bersurai hitam datang menghampiri Itachi, "Ya Tuan muda, ada apa?" tanya pelayan itu dengan sopan.

"Dimana Nona muda?"

"Maaf Tuan muda, saya tidak tahu dimana Nona muda, bukankah Nona muda pergi bersama dengan Nyonya besar?" pelayan itu menudukkan wajahnya dan tak berani menatap wajah Itachi yang sangat ini sangat menyeramkan menurutnya.

Itachi langsung jatuh terduduk diatas kasur dan memegangi kepalanya yang sedikit pening, "Tolong kau buatkan secangkir teh untukku," ujar Itachi dengan nada yang sedikit pelan.

"Baik Tuan muda." sahut pelayan itu dan tak lama ia pergi meningalkan kamar Itachi.

BRAK….

Pintu kamar Itachi didobrak dengan sangat keras oleh Madara sang kakek. Itachi yang tengah duduk pun langsung menghampiri sang kakek.

"Kak…."

PLAK….

Madara menampar wajah Itachi dengan keras dan terlihat sekali kalau Itachi sangat syok dan kaget.

"Dimana Hinata? Mengapa Hinata tidak datang bersama dengan kalian berdua?" tanya Madara.

Itachi hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan sang kakek dan memilih menundukkan wajahnya tak berani menatap wajah Madara.

"Kenapa kau hanya diam saja Itachi. Jawab pertanyaanku, dimana Hinata?"

"Dia…."

"Ayah, Itachi, Hinata sudah pulang," teriak Mikoto dengan senang.

Keduanya langsung bergegas keluar dari kamar dan pergi menemui Hinata. Namun sayanganya saat mereka keluar. Itachi melihat Hinata tengah digendong mesra oleh seorang pria yang tak dikenalnya.

"Anda siapa?" tanya Itachi dengan sinis. Ia juga berusaha merebut tubuh Hinata dari gendongan Sasori.

"Saya Sasori, Sensei Hinata disekolahnya," jawab Sasori dengan ramah.

Itachi terlihat diam menatap tajam Sasori yang dirasanya sudah kurang ajar, karena berani menyentuh tubuh istrinya.

"Anak mudah tolong kau lepaskan gendonganmu dari Hinata, dan biarkan dia membawanya kedalam kamar," ujar Madara seraya menunjuk Itachi.

Mau tidak mau Sasori memberikan Hinata pada Itachi, dengan pelan dan penuh perasaan Itachi menggendong Hinata kedalam kamar. Ia membaringkan tubuh mungil sang istri diatas kasur, bisa Itachi lihat bekas air mata dipipi Hinata.

"Maafkan aku Hinata," Itachi mengusap pelan pipi Hinata, dan tak lama ia mengecupnya.

Itachi keluar dan menemui Sasori untuk mengucapkan terima kasih karena telah mengantar Hinata pulang. Namun tiba-tiba ia jadi teringat dengan pria yang mengantarkan Hinata pulang kerumah, dan pria itu adalah Sasori.

"Terima kasih Sasori, karena telah mengantarkan Hinata pulang," ujar Itachi dengan dingin dan datar.

"Sama-sama Tuan muda Uchiha," sahutnya.

Sesaat terjadi ketegangan diantara keduanya, Mikoto melihat ada sedikit percikan api cemburu pada Sasori, dan itu malah membuatnya senang.

"Sebaiknya aku harus pulang," pamit Sasori.

"Oh ya, jangan pernah biarkan ia menangis lagi, mungkin jika kau lengah ia bisa direbut orang lain." ancam Sasori.

Itachi hanya diam seraya mengepalkan kedua tangannya menahan gejolak emosi dalam hatinya. Mikoto terlihat tersenyum senang melihat ekspersi wajah dari sang anak.

"Sepertinya Itachi cemburu dan itu bagus." Batin Mikoto seraya tersenyum senang.

TBC

A/N : Mohon maaaafffff Inoue menelantarkan Fic ini lama sekali, maafkan Inoue, karena Inoue keasikan di fandom sebelah hehehehe.

Saya ucapkan banyak terima kasih kepada siapapu yang sudah mau membaca Fic ini.

Jika berkenan Read and Riviewnya.

Inoue Kazeka