"Tolong jaga bayi ini, uhuk - " Seorang wanita menyerahkan sebuah buntalan kecil berisi seorang bayi perempuan mungil yang sedang terlelap. Bayi perempuan itu nampak damai dalam tidur nyenyaknya tanpa mengetahui bahwa bisa saja saat ini Ia langsung kembali ke dalam pangkuan Kami sama sebelum sempat menikmati keindahan dunia ini.

"Bagaimama denganmu?" Di sana berdiri sosok pemuda gagah yang baru saja menjalankan misi pertamanya. Ia tampak begitu panik sambil terus mendekap bayi mungil itu dalam gendongannya.

"Jangan hiraukan aku, uhuk. Cepat pergi - " Suara wanita itu semakin lirih, tampak dirinya yang semakin kesulitan untuk bernafas di tengah kepulan asap pekat yang memenuhi seluruh ruangan sempit itu.

"Tapi - " Pemuda itu ragu dan gentar. Di satu sisi Ia harus segera keluar dari tempat ini namun di sisi yang lain, Ia tak mampu meninggalkan satu nyawa yang sedang bertaruh melawan kematian yang akan segera menjemputnya.

"Pergi! Uhuk, pergi! Kumohon, pergilah hiks -" Tangisan dan teriakan yang dilontarkan wanita itu membuat pemuda itu berlari meninggalkan wanita itu sendirian.

"Maafkan aku," ujarnya lirih sesaat sebelum atap yang terbakar api itu runtuh dan menutupi penglihatannya akan wanita tersebut.

"Naruto! Dari mana saja kau! Cepat keluar dari sini! Situasinya sudah bahaya! Apa kau mau bunuh diri?!" Teriak salah satu rekan dari pemuda tersebut.

"..." Naruto tak menjawab, Ia tak akan membocorkan kejadian ini pada siapa pun. Tidak, tidak ada yang boleh mengetahui bahwa Ia meninggalkan seseorang di dalam kobaran api itu.

"Ngh, oeeekk oeeekk." Bayi dalam gendongan pemuda itu mulai menangis, entah karena suhu yang panas atau memang nalurinya mengetahui bahwa sang Ibu telah tiada, Naruto tidak tahu. Ia hanya memandang bayi perempuan itu miris dan berbisik kepadanya, "Maafkan aku."

"Hei Naruto! Awas di atasmu!" Kewaspadaan Naruto berkurang sehingga Ia tak menyadari bahwa atap yang berada tepat di atasnya sedang meluncur bebas ke arahnya.

"Sial!"

*Brak

"Uggh - "

"Shino!"

•••

"Haah, haah - " Naruto meraih gelas berisi air putih yang selalu Ia letakkan di samping futon-nya. Mimpi yang mengulas masa lalu kehidupannya membuat pria itu terengah - engah. Ia kemudian memijit pelipisnya pelan dan mencoba kembali mengatur nafasnya yang kacau.

"Ck, sial!" Ia mendecih kesal. Jika saja kemarin Ia tak bertemu dengan sang Ayah, maka tak mungkin pikirannya akan kacau seperti sekarang ini. Naruto meraih telepon genggamnya, dengan lincah Ia menekan nomor sang Ibu dan meneleponnya. Ia harus menjemput Hinata dan meminta maaf pada gadis itu.

•••

Getaran dan bunyi pada smartphone Kushina membangunkan wanita paruh baya itu, namun Ia hanya melihat nama yang tercantum pada layar smartphone-nya tanpa berniat untuk mengangkat panggilan tersebut.

Kushina tahu bahwa putranya ingin segera berbaikan dengan Hinata namun wanita bersurai merah itu paham betul kondisi mental Hinata yang masih belum siap menemui sang Ayah saat ini.

"Mh, Baa chan?" Hinata melenguh panjang, gadis cilik itu mengusap kedua matanya dan menatap Kushina dengan wajahnya yang kusut dan lelah. Kushina menekan tombol kecil yang berada di samping smartphone-nya lama, membuat benda itu otomatis dalam mode mati. Kemudian Ia membelai surai indigo Hinata dan membaringkan tubuh gadis itu kembali pada tempat tidurnya.

"Tidurlah sebentar lagi, ini masih pagi. Baa chan akan memesankan sarapan untuk kita berdua." Gadis cilik itu mengangguk pelan, Ia lalu menguap dan memejamkan amethyst-nya dan kembali pada dunia mimpinya yang indah. Sementara Kushina beranjak pergi ke dalam kamar mandi, melepas pakaiannya dan berendam dalam bath tub yang telah diisinya dengan air hangat dan garam mandi.

•••

"Ck, mengapa nomor Kaa san jadi tak dapat dihubungi?!" Naruto menekan nomor telepon Ibunya berulang kali namun hasilnya nihil. Tentu saja karena sang Ibu yang telah mematikan total smartphone-nya dan tak memberi tahu sang putra nama hotel tempat mereka menginap sehingga membuat Naruto kewalahan dalam mencari jejak Hinata.

"Sial sial sial! Kenapa aku bisa begitu nampak seperti orang tolol jika berhadapan dengan Tou san?!" Rutuk Naruto pada dirinya sendiri. Pria itu kemudian melipat kedua kaki serta tangannya dan menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangannya.

Masa lalu tak akan dapat berubah, menyesal pun juga percuma. Naruto tak akan pernah bisa kembali menjelajah ke masa lalu dan merubah setiap detail kejadian yang telah berubah menjadi kepingan memorinya saat ini.

"Hinata - "

•••

Sementara itu tampak seorang gadis kecil yang berbeda dengan sebelumnya. Kondisinya yang lusuh, pakaiannya yang sudah usang, rambutnya yang tak terawat dan wajah sendunya menghilang entah ke mana. Tentu saja semua itu berkat kebaikan hati sang nenek yang telah mendadaninya menjadi Hinata yang baru.

Ya, semua pasang mata saat ini tengah mengagumi keindahan sang maha pencipta yang telah terlahir menjadi Hinata yang baru. Ia memakai sebuah dress lolita berwarna peach dengan aksen pita kecil berwarna hitam di bagian tengahnya. Tak lupa Kushina juga membawa gadis cilik itu ke salon untuk memotong rambutnya yang sedikit kumal dan tak terawat dengan gaya rambut model terbaru.

Sang nenek juga membelikan dua pasang sepatu untuk Hinata. Satu pasang untuk Ia kenakan di sekolahnya yang baru dan satu pasang lagi dipergunakan untuk Hinata ketika bermain keluar rumah.

Ya, Kushina tak akan membiarkan Hinata untuk berhenti sekolah namun Ia juga tak akan membiarkan cucu kesayangannya untuk bersekolah di tempat di mana banyak predator buas yang hendak memangsanya.

"B... Baa chan, apa tidak apa - apa?" Tanya Hinata gugup saat mereka sampai di depan sekolahan tempat Kushina akan mendaftar sang cucu untuk menempa ilmu.

Kushina hanya menghela nafasnya pelan, baru kali ini Ia melihat ada gadis kecil yang begitu manis dan memikirkan orang lain lebih daripada dirinya sendiri.

"Kenapa kau begitu sungkan terhadap nenekmu sendiri hm, Hinata chan? Atau jangan - jangan kau menganggap aku orang asing yang tak berhak mencampuri urusanmu?" ujar Kushina dengan nada serius yang dibuat - buat.

Gadis cilik itu tersentak, Ia langsung menggenggam tangan sang nenek dan menggeleng cepat, "Bu.. Bukan, hanya saja sekolah ini terlihat begitu mewah, Hina takut Tou chan akan kesulitan untuk membayar biayanya." Hinata memainkan kedua jarinya dan menunduk ke bawah. Kebiasaan yang selalu Ia lakukan di kala rasa gugup menyerang dirinya.

Kushina hanya tersenyum, Ia kagum melihat gadis yang masih berumur sembilan tahun ini rela meredam keegoisannya demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Ah, andaikan saja Hinata lahir lima belas tahun lebih cepat saja, maka mungkin saat ini gadis yang tengah menjabat sebagai cucunya itu akan menjabat sebagai menantunya.

"Tenanglah cucu Baa chan yang manis. Biar Baa chan yang mengurus persoalan administrasi sekolahmu. Tapi kau harus berjanji satu hal pada Baa chan ya?"

Hinata menganggukan kepalanya cepat. Bisa bersekolah di tempat bagus tanpa harus memikirkan biayanya saja Hinata sudah bersyukur. Ia rela melakukan apapun demi membalas kebaikan hati sang nenek bahkan jika sang nenek menyuruhnya untuk menjadi pembantu pun Hinata mau.

*Ctak

Satu sentilan mendarat pada dahi Hinata, "Jangan berpikir aneh - aneh." Gadis itu merintih pelan sambil memegangi dahinya yang memerah, seakan sang nenek mampu membaca pikirannya.

"Aku hanya ingin kau belajar yang rajin. Jangan pikirkan biaya atau apapun yang membebanimu. Jalanilah hari - harimu selayaknya anak pada umumnya. Kau mengerti?"

"Um, Hina mengerti. Arigatou Baa chan." Hinata memberikan pelukannya tulus pada sang nenek.

Perlahan namun pasti, selangkah demi selangkah kejadian yang akan terjadi selanjutnya, pertemuan dengan orang - orang baru akan membawa Hinata menuju masa lalunya dan membuka peluang baru terhadap rasa cintanya kepada sang Ayah.

•••

つづく

08.02.17 | Xx - Yuki Hime

Balasan review :

Nawaha : semoga aja seru ya, makasih

Firufiru : tetep anak hikari dan hiashi kok, makasih

Himenara kun : minato baik kok hanya saja emang emosinya tinggi

Namehime : makasih ya

Ana : sipp

Mihawk607 : naru awet muda kok jadi masih cocok sama hina nanti haha

Hikarishe : wah makasih, beda 18 tahun *buka kartu*

Magendrik : sipp

Nimura, Hinami : ga jahat kok aebenarnya si minato cuma emang emosian

Guest : makasih ya

5udiantar4 : akan diungkap perlahan, makasih ya

Zizu : makasih :)

Vidia : begitulah kehidupan yang layaknya drama di tv" haha

Gaara van astrea : kok tau nama asli yuki? Hihi, makasih ya

Cinvia : engga kejam kok, nanti akan diungkap bahwa minato sebenarnya penyayang

Pewe : makasih ya

Evil smirk : hati - hati di karate minato loh

Kitsune : begitulah

Ryuza : minato juga ga tega benernya, cuma gegara naru pengecut

Himawariyabe : cuma 18 kok hima *evil smirk*

Nico adrian : makasih bro hehe

Mey lovenolaven : makasih ya mey, 18 tahun mey :) salam balik

Thanks for your review

Nb : Maaf chap kali ini dikit, Yuki lagi kena WB