Langsung aja, ya. Tanpa banyak komentar lagi.

Just enjoy chapter 3~ -Kdramon-


Lost Saga Online

A LostSaga Fanfiction
by Kdramon and Percyhood


Chapter 3: Land of Magic

"Oh iya, aku belum menjelaskan ke kamu tentang barang itu, yang didalam inventorimu," kata Alph sambil mengambil sesuatu dari inventorinya. Sebuah gulungan berwarna keemasan tua pun muncul.

"Tetapi sebelum itu, ayo kita pergi dari sini, Sudah nggak aman disini," ucapnya.

"Bagaimana..."

"Apakah kau akan terus bertanya?"

"...baiklah." Chrono pun hanya memperhatikan saat Alph mulai membuka gulungan tersebut dan melemparnya ke udara. Sebuah portal sebesar tubuh orang, terbuka lebar dihadapan mereka.

"Cepat masuk. Timegate ini tak akan bertahan lama." Alph memaksa Chrono untuk masuk, namun sebelum Chrono sempat melangkah, Alph menarik lengannya dan melemparnya kedalam.

"WAAAA!"

Semua pun hilang dari pandangannya. Chrono hanya melihat sebuah langit gelap berwarna biru kehijauan.

Sebentar saja dan langit itu menghilang. Pengelihatan Chrono menampakkan hamparan rumputyang luas nan indah. Rumah-rumah tersusun secara apik sejauh mata dapat memandang.

Tiba-tiba, sebuah lingkaran sihir muncul dibawah Chrono.

"A-apa ini?!" Chrono berteriak, kaget karena dia baru saja datang.

"METEOR! AWAS!" Secepat kilat, Alph mendorong Chrono dan menubruknya ke tanah, sesaat sebelum bola api raksasa menghantam tanah dan meledak. BLAM!

"Siapa disana?!" Alph bangkit berdiri dan mencari-cari sumber meteor tersebut.

"Aaah, aku meleset!"

Suara itu datang dari belakang semak-semak. Seorang Fire Mage dan seorang Ice Mage menampakkan diri dari belakangnya. Keduanya berada dalam fraksi Orde.

"Kalian kan.. Orde.. Kenapa kalian menyerang kami?!" Tanya Alph dengan nada tinggi.

"Templar dan Werewolf! Maaf, tadi itu gak sengaja," Fire Mage itu memberikan alasan bodoh. Ice Mage perempuan disampingnya hanya tertawa terkekeh-kekeh.

"Yah, kamu sih bodoh. Makanya sampai nyerang sesama Orde begitu."

"Heh, kamu diam aja! Dasar es batu!"

"Ngajak ribut nih, cacing kepanasan?"

Chrono terdiam melihat kedua mage itu saling berkelahi. Sampai akhirnya Luna, sang Ice Mage, mengajak Alph dan Chrono untuk bertempat di kediaman mereka untuk sementara waktu.

"Jadi," kata Alph, "Aku akan berkelana bersamamu."

"A-apa ini tiba-tiba?" tanya Chrono.

"Darkstar Timegate Scroll.. sebuah item yang hanya ada satu di LSO. Satu-satunya yang dapat membawa tim berisi 6 hero ke panggung akhir, yaitu Hydra Castle.

"Dan didalam castle itu.."

"Kita melawan boss terakhir LSO, yaitu pencipta gamenya sendiri."

"APA?!" Chrono berteriak histeris, sebelum akhirnya dihajar oleh Alph dan diam kembali.

"Ya, kira-kira begitu. Buruknya lagi, kita hanya berdua. Butuh empat orang lagi."

"Apa DTS punya..."

"Ya, benda itu punya expire date, 1 tahun dari sekarang."

"Bisakah kamu berhenti melakukan hal itu? Kamu membuatku sedikit takut seakan kamu dapat membaca pikiranku."

"...Oops?"

"Jadi... jika DTS expire maka..."

"Betul, semua player yang mempunyai PCP pun akan terkena radioaktif dan..."

"Meninggal."

"Kali ini kau yang membaca pikiranku. Begitulah. Jadi oleh karena itu kau adalah satu-satunya orang yang dapat menyelamatkan jutaan orang dari dunia ini. Sebelum setahun lewat ataupun sebelum kita mengalahkan boss akhir, kau tidak boleh, tepatnya, tidak bisa logout. 1 menit saja kau keluar, DTS akan expired dan BAM! Kematian massal muncul sebagai berita utama di TV dan koran."

Chrono terdiam. Aku tidak mau ini. Sama sekali.

"Darkstar Timegate Scroll tidak dapat diberikan kepada orang lain, namun dapat direbut. Pastinya, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."

"Apa yang terjadi dengan orang yang mati di dalam game?"

"Program LSO otomatis akan di uninstall dari PCPnya, namun sistem radiasinya masih ada."

"Jika aku mati, maka... scroll itu hilang dan aku, kau, dan semua orang termasuk Hakua di dunia asli akan.. meninggal dunia?"

"Tepat sekali. Tetapi hanya sedikit yang tahu tentang hal ini."

Tunggu, pikirnya. Ini sangat berbahaya. Aku telah membawa diriku kedalam masalah besar. Papa.. kenapa?

Tanpa disadari. Setetes air mata mengaliri pipi Chrono.

"Kenapa harus seperti ini.."

"O-oi! K-kenapa kau?"

"Aku gak apa-apa kok. Aku kadang mau menikmati rasanya main game bersama papa. Aku mau cerita-cerita sama mama. Tapi... entah kenapa aku selalu mendorong hal-hal itu untuk menjauh dariku."

Tiba-tiba, Alph menggenggam tangan Chrono.

"Aku juga ingin kembali, Chrono. Oleh karena itu, untuk kembali, kita harus bertarung."

"..kau benar. Kau benar, Alph. Jika aku menyerah disini, entah apa yang akan terjadi untuk kedepannya."

Alph memberikan senyuman manis pada Chrono, yang dibalas dengan senyuman kecil. Senyuman pertama yang pernah terpancar di muka Chrono- atau Kotaro- didalam hidupnya.

Keesokan harinya, Chrono dibangunkan oleh sejuknya siraman air dingin.

"Jam 3 pagi?! Ngapain?!" protes Chrono yang masih menggigil kedinginan.

"Latihan lah. Kalau kamu masih 2nd Liutenant, gimana caranya melawan musuh dengan level yang jauh lebih tinggi? Ayo, angkat pedangmu!"

Gelap gulita, sunyi senyap. Begitulah suasana pagi buta diluar sana, terasa seakan hantu berada disekelilingmu.

Chrono menarik keluar pedangnya. Sebuah pedang berwarna azure, dengan pahatan kepala serigala dibagian gagangnya.

Alph meng-equip palu raksasanya. Palu keemasan, dengan tanda salib yang terlalu familiar untuknya. Scalfold's Cross. Salah satu item rare di Tales of Soul, sebuah VRMMORPG lain.

"Mari kita mulai dengan dasarnya. Serang, dan bertahan."

Chrono berpikir, apakah skillnya dalam bermain VRMMO dapat membantunya? Ternyata, tak perlu memikirkannya untuk membuktikan hal tersebut.

Chrono berlari kearah Alph, mencoba untuk melakukan tusukan. Alph mencoba untuk menangkisnya, namun Chrono membungkukkan badannya kebelakang dan meluncur dibawah palu sang Templar. Dengan satu tusukan, Chrono berhasil melukai Alph. Defense Broken dalam percobaan pertama.

Alph terpental ke udara, namun masih dapat mengontrol postur tubuhnya. Namun sebelum ia sempat melakukan serangan balasan dari udara, Chrono melompat dan menghantamnya dengan kecepatan tinggi. Air attack. Dilanjutkan dengan gerakan Chrono yang menukik kebawah untuk mengakhiri serangannya dengan 4 hit kombo. Menapakkan kakinya di tanah, Chrono mengaum.

"Wolf's Energy! WOOO!" Chrono melepaskan gelombang audiosonik yang melempar Alph dan menghantamkannya ke pohon.

BRAK! Pohon itupun patah, dan Alph tersungkur di tanah. Sekilas dia melihar bar HP-nya yang sudah turun seperempat.

"Itu... tadi itu.. gerakan seorang Brigadir, atau Brigade," ujar Alph.

"B-benarkah? Aku hanya melakukan yang biasanya kulakukan di game-game VRMMO seperti Sword Art Online, Tales of Soul, dan lainnya..."

"mm, kau tak perlu latihan sepertinya. Begini saja sudah terlihat, kau jauh lebih kuat dariku."

Tiba-tiba...

CTAR! Sebuah petir biru terdengar dari kejauhan. Alph langsung berlari melihat kondisi.

"Diam kau, Sky! Jangan ikut campur!"

"Betul. Jadi kau duduk saja disana."

"T-tapi kan..."

"Kubilang diam! Ah!"

Apollo dan Luna, berdebat dengan bodohnya sementara seorang Lightning Mage berada diantara mereka, mencoba untuk melerai pertengkaran mereka. Alph menyadari bahwa pertemuannya dengan Lightning Mage tersebut merupakan sesuatu yang penting.

"Lightning Bolt barusan itu... itu punya seseorang dengan skill Brigade General."

-Chapter 3, End-


Jadii... Sebenernya saya mau tau, ApoLu jadi canon pairing #eh tapi tanpa dimauin juga, suatu hari akan saya wujudkan #WoopsSpoilerAlert

Udahlah, chapter berikutnya juga saya gak akan ngomong banyak, update update terus aja (?)

Kotaro: ...R&R.

Kdramon: Uh, dia setuju. Kdramon out!~