[CHAPTER 04]
Tom, Roxas Dan Ashley sekarang berada di kantor polisi. Mereka bertiga berada di ruang pemeriksaan…
"aku tidak membunuh Ben di pertambangan Roxas" ucap Tom yang sekarang duduk di meja
Roxas sekarang sedang mondar mandir, Ashley hanya mendengarkan mereka sambil lemes
"kau pikir aku melakukannya?" Tanya Tom "tapi aku tidak"
"santai…kawan" ucap Roxas "Ashley"
"yeah…?"
"tadi malam waktu kau terbangun, kau bersama Tom kan?" Tanya Roxas "kemana kau waktu itu Tom?"
"aku ke kamar mandi waktu itu" tegas Tom "Kau pikir aku juga yang membunuh penjaga malam itu?"
Roxas lalu melihat Ashley
"well, aku gimana gitu. Sepertinya aku bermimpi. Aku turun ke lantai bawah. Aku melihat sebuah bekas darah diseret keluar rumah…"
"mimpi?" Tanya Roxas "mimpi apa?"
"aku ngak tahu, tapi aku merasa itu benar-benar seperti kenyataan" jawab Ashley "aku mengikuti kemana darah itu pergi. Darah itu menuju ke mobil pickup Tom"
Roxas lalu menatap Tom lagi
"dengarkan… aku lalu melihat sebuah plastic yang menutupi bagasi belakang mobil Tom. Penuh darah. Aku membukanya…"
"lalu apa yang kau lihat?" Tanya Roxas
"itu Tom…dan Hitomi… mereka sudah tewas" ucap Ashley "tetapi, aku sadar… sepertinya aku bermimpi atau mengigau…"
"lalu kau dikejar oleh penambang itu" tambah Roxas
Roxas sepertinya makin mencurigai Tom… kemana Tom waktu Ashley terbangun dari tidurnya tadi malam? Apa benar dia ke kamar mandi?
"jadi" Roxas sambil menghembuskan nafas lesu "kenapa kau kembali ke kota?"
"kau sudah tahu mengapa"
"tidak" geleng Roxas "yang kutahu kau ingin menjual tambang itu"
"aku tidak jadi menjual tambang itu"
"Dan kau Ash, kenapa kau kembali?" Tanya Roxas melihat Ashley
"mengenang masa lalu… dan menyelesaikan apa yang kumulai" ucap Ashley "itu saja"
"aku juga memutuskan tuk tinggal" tegas Tom
Roxas lalu mulai menatap tajam Tom lagi… Ashley sudah merasa suasana semakin panas…
"kau tahu dia selalu menyelesaikannya untukmu" Tom berusaha menganti topic… dengan maksud sedikit mencela
"oh..!" Roxas mau tertawa "tuhanku… kau bilang apa kepadaku?" Tanya Roxas mulai geram
"Yuki… dia…"
Tiba-tiba Roxas langsung memukul Tom…
"buakkk!!!!"
Dia lalu mendorong meja dan langsung membabi buta Tom…
"PERSETAN KAU!!!" Teriak Roxas sambil hendak memukul Tom
"Here We Go Again…" gerutu Ashley yang diam saja
Terjadi sedikit keributan disitu, Roxas menghantam Tom… tiba-tiba polisi Roy muncul, berusaha melerai mereka
"KAU PEMBUNUHNYA!!!" Teriak Roxas "KAU YANG MEMBUNUH DI PERTAMBANGAN ITU!"
"Pak Roxas, tenang!!!" Polisi Roy menahan Roxas "saksi mata bilang, Tom terjebak di kurungan generator pas mereka disana" perjelas pak Roy "seseorang pasti sudah berada di bawah sana"
"huh…" Roxas menghembuskan nafas lemas "bagus…"
Roxas lalu pergi…
"BANGSAT!!!" teriak Roxas lagi
Tom sekarang sedang keluar kantor polisi… bersama Ashley dan Ayah Tom
"hm… mungkin Roxas memukulmu demi kebaikanmu Tom" ucap Ayahnya
"dia berpikir aku membunuhnya tetapi tidak" tegas Tom "seseorang pasti dibawah sana"
"Harry" Ayahnya mau tertawa "menurutmu bagaimana Ash?"
"ngak tahu" jawab Ashley "Tom, Om… saya duluan" ucap Ashley
"baiklah, sampai jumpa" sapa ayah Tom
"hati-hati" ucap Tom
Ashley lalu pergi, berjalan ke mobilnya dimana dia parkir….
"kasihan dia" ucap ayah Tom melihat Ashley "dia anak baik-baik. Berusaha menyelamatkanmu 6 tahun lalu"
"well" gerutu Tom "mungkin sebaiknya aku mengikuti cara dia juga, mencari siapa pembunuhnya"
Tom sambil berjalan ke mobilnya diikuti ayahnya
"Tom, tapi jika Harry. Bagaimana dia melakukannya?" Tanya ayahnya
"ngak tahu, mungkin dia ingin menyelesaikan apa yang dia perbuat 6 tahun lalu" tegas Tom
"jika aku menjadi kamu aku lari saja dari kota ini Tom" ucap ayahnya
"tidak, aku ngak lari lagi kali ini" tegas Tom "aku lelah, aku mau istirahat"
Tom lalu berjalan ke dalam mobilnya, menyalakannya. Dan pergi meninggalkan ayahnya. Ayahnya hanya melihat Tom pergi…
MALAM HARI…
Kantor gedung berlantai 7 dimana Danielle bekerja…
Di lantai 5. Danielle sekarang lembur… dia kerja sendirian malam ini… dia tampak stress sekali…
"fyuh…"
Cahaya lampu yang menyala hanya di tempatnya pula…
"huh…" gerutu Danielle "mana Lumina lagi…?"
Tiba-tiba seseorang muncul… itu Lumina…
"Danielle…" keluh Lumina, dia sambil membawa suatu kresek berisi makanan…
Di atap gedung…
"kau kemana saja?" Tanya Danielle geram
"well…aku…" keluh Lumina
"kau pergi bersama mereka bukan!?" Tanya Danielle "Lumina… aku sudah bilang berapa kali. Jangan pernah terlibat dengan hal semacam itu!"
"BAGAIMANA AKU TAK TERLIBAT DANIELLE?!" bentak Lumina "6 tahun lalu… aku bersama mereka… jelas sudah aku tuh pasti terlibat!" tegas Lumina "pembunuhan 6 tahun lalu!"
Danielle terdiam…
"kau… memilihku atau mereka?" Tanya Danielle
Lumina lalu terdiam juga… dia lalu berpikir…
"mungkin… mungkin pernikahan ini salah Danielle" ucap Lumina
Danielle terkejut… mengerti apa maksud Lumina…
"sepertinya… salah melakukan ini" ucap Lumina
"Lumina, apa yang kau bicarakan?!" Tanya Danielle memegang lengan Lumina
"lepaskan Danielle" ucap Lumina melepaskan diri dari Danielle "aku ngak tahu, tapi… besok hari. Aku meminta cerai" tegas Lumina
"Tidak Lumina" tegas Danielle "aku tidak akan menceraikanmu"
"Danielle! Mengerti!" tegas Lumina "hubungan kita sudah kandas, kau mau begini terus?!"
"baiklah Lumina… aku akan berusaha… berusaha berubah" ucap Danielle meyakinkan Lumina
"terlambat" ucap Lumina "aku sudah bulat Danielle" tegas Lumina
Lumina lalu pergi dari situ… meninggalkan Danielle… dia bergegas ke lantai bawah… Danielle sepertinya semakin stress… dia mengelap wajahnya dengan tangannya
"BRENGSEK!!!!"
Tiada siapa-siapa disitu… tetapi Danielle merasakan sesuatu…
"grrr…grrr…"
Ketika Danielle menoleh, penambang itu muncul dari pintu masuk ke lantai bawah… dia sambil memegang pickaxe tersebut…
"sial…"
Danielle lalu melangkah mundur… Penambang itu mendekatinya perlahan-lahan…
"kau mau apa?!" teriak Danielle
"grr…grrr…"
Penambang itu lalu semakin mendekati Danielle, Danielle udah di ujung sisi gedung… terlihat curamnya dan tingginya lantai 7 ke lantai bawah…
"huh…!"
Danielle lalu menoleh lagi… Penambang itu sudah berada di depannya…
"tpak…"
Tetapi dia menjatuhkan pickaxe tersebut ke lantai. Sekarang dia tidak bersenjatakan apa-apa… Namun jelas, penambang itu masih akan melakukan sesuatu ke Danielle…
Di lantai bawah gedung… Lumina sudah berada di bawah… tiba-tiba muncul Hitomi…
"Lumina" panggil Hitomi
"oh hai Hitomi" sapa Lumina
"kau…dimarahi lagi kah?" Tanya Hitomi
"yeah" ucap Lumina "biasa…tapi aku sudah minta cerai. Keputusanku bulat sudah"
"well, itu pilihanmu. Aku hargai kok" tersenyum Hitomi
"GEDEBUAK!!!!"
Suara benturan terjatuh terdengar keras dan menyakitkan sekali dekat mereka… ketika mereka berdua sadar… itu adalah seseorang…
"*gasp*" Hitomi terkejut dan histeris
"astaga…" keluh Lumina sampai terjatuh
Itu Danielle… dia terjatuh dari lantai 7… darah pun keluaran dari tubuhnya…
"oh tuhan…!!! Astaga…!!!" Lumina jadi ketakutan sekali
Danielle terlihat sambil memegang sesuatu… itu sebuah kotak cokelat berbentuk hati merah yang seperti Roxas dapatkan kemarin juga di kantor polisi… Tetapi… Danielle tak menunjukkan luka lain seperti ditusuk ataupun dibacok…
Hitomi lalu meraih kotak cokelat berbentuk hati merah itu…
"ini…"
Hitomi lalu membuka isi kotak cokelat itu, dan ternyata itu hanya berisi cokelat lezat biasa… dengan surat tanpa diketahui siapa pengirimnya…
"Happy Valentine's Day" Hitomi membaca surat itu
Hitomi lalu menatap Lumina… Lumina sudah sangat ketakutan sekali terkejut dan melihat Danielle yang muncul dan langsung tewas begitu saja…
KAMIS 11 FEB 2010 pagi hari
Polisi kembali berdatangan bersama petugas lainnya… mengamankan Lumina dan Hitomi… Roxas dan polisi Karin berada disana…
"…" Lumina diam saja…
Polisi Karin lalu menghampiri mereka…
"ibu, anda sudah siap berbicara?" Tanya polisi Karin
"entahlah" jawab Lumina
"tidak apa-apa jika ibu belum siap. Tapi kami butuh pernyataan dari ibu secepat mungkin" ucap Polisi Karin
Roxas lalu muncul…
"kalian tidak apa-apa?" Tanya Roxas
"tidak…" jawab Hitomi "kami tidak apa-apa Roxas"
"apa kalian…" Roxas sambil memperagakan sesuatu "kalian tahu kan?"
"tidak, kami tidak dikejar penambang itu" geleng Hitomi menjawab pertanyaan Roxas "yang kutahu, Lumina baru keluar dari gedung itu. Dan aku menghampirinya. Dan…"
Mereka lalu terdiam… Roxas dan Karin lalu menjauhi Lumina dan Hitomi…
"menurutmu apakah ini perbuatan penambang itu lagi?" Tanya Roxas
"aku tidak tahu pak, tetapi jika penambang itu. Kenapa dia tak memberi luka apapun?" Tanya Karin "biasanya kan dia pasti melakukan sesuatu terlebih dahulu ke korbannya"
Lumina lalu muncul menghampiri Roxas dan Karin…
"mungkin…mungkin dia bunuh diri" ucap Lumina "setelah aku meminta cerai semalam"
"kau minta cerai?" kaget Roxas
"yeah" ngangguk Lumina "aku sudah tak tahan bersamanya"
"itu aneh… kalian baru berapa minggu menikah…" keluh Karin
Roxas lalu menatap Karin…
"oh! Maafkan aku atas kelancanganku nyonya silverman" keluh Karin
"tidak apa-apa Karin" tersenyum Lumina
"Lumina, tapi jika dia bunuh diri…" ucap Roxas sambil mengambil sesuatu "kenapa dia sambil membawa ini?"
Roxas menunjukkan kotak cokelat berbentuk hati yang bersama Danielle ketika dia jatuh tadi malam…
"aku…aku ngak tahu!" geleng Lumina
"jika begitu, menurutku ini masih perbuatan penambang tersebut" ucap Roxas "ini… pembunuhan"
Danielle memang dibunuh… tetapi… siapa sih sebenarnya penambang yang membunuh Danielle itu? Yang juga membunuh korban sebelumnya? Atau… Pembunuh itu tidak sendirian…?
Taman kota…
Ashley sekarang berada di tempat itu. Dia sekarang sedang duduk di suatu meja makan. Dia sedang melakukan sesuatu di laptopnya… sepertinya sedang mengetik. Dia sambil mendengarkan lagu juga dari headsetnya…
"fyuh…"
Ashley sambil menghembuskan nafas rokok… benar. Dia sambil merokok…
"sret"
Tiba-tiba seseorang muncul… meraih rokok yang dipegang Ashley…
"huh?" Ashley menoleh
"aku sudah katakan tuk berhenti" tegas orang itu sambil membuang rokok Ashley
Itu Tom…
"Tom" kaget Ashley
Tom lalu duduk di depan Ashley…
"apa yang kau kerjakan?" Tanya Tom penasaran
Tom lalu melihat ke laptop itu, itu adalah sebuah kisah… kisah yang diangkat dari pengalaman Ashley, Tom dan yang lain…
"aku tiada kerjaan" ucap Ashley "tetapi… setidaknya, aku musti selesaikan ini"
"benar-benar mirip" Tom mau tertawa
Kisah itu dari sejak mereka 6 tahun lalu, sampai sekarang… di terror oleh pembunuh tersebut…
"tetapi bagaimana akhirnya jika kita semua masih diterror?" Tanya Tom
"entahlah" geleng Ashley "jika begitu… mungkin kisah ini akan lebih panjang lagi" jawab Ashley "atau gantung jika aku sampai ikut tewas"
Tom terdiam mendengar Ashley…
"kita semua musti menyelesaikan ini" ucap Ashley "selesaikan apa yang kita mulai. Sekarang, aku tak akan lari lagi"
"aku juga" ucap Tom sambil tersenyum
Malam hari…
Tom sekarang berada di tambang miliknya. Di depan pintu masuk menuju ke dalam tambang tersebut…
"krak…" suara pintu masuk ke dalam tambang yang dibuka Tom
"huf…"
Tom sambil membawa senter… dia hendak memasuki ke dalam tambang tersebut… tetapi…
"…"
Tom tampak ragu dan gugup sekali. Tubuhnya bergetaran… Dia lalu menutup kembali pintu masuk ke tambang itu. Dia lalu berjalan menjauhi tambang itu. Tetapi…dia merasa ada yang mengikutinya…
"ehm…"
Dia lalu melihat seseorang, sepertinya orang itu adalah penambang itu. Soalnya dia terlihat memakai topi penambang yang diatasnya ada senter. Dia terlihat dari kejauhan atas gunung hutan. Tepat di dekat tambang Tom berada sekarang. Penambang itu lalu pergi ke dalam hutan. Tom lalu mengikutinya…
Sesampai di hutan, Tom kehilangan jejak penambang tersebut. Tetapi dia melihat sebuah rumah tua kosong. Yeah, dia tahu. Itu adalah rumah tua bekas ayah Roxas…
"…"
Tom kemudian memasuki rumah itu melalui pintu belakang rumah. Dikarenakan pintu depan terkunci rapat.
"krek…" suara pintu belakang rumah yang dibuka Tom perlahan-lahan
Tom lalu memasuki rumah, dia lalu melihat sesuatu tergeletak di meja makan dapur…
Di sebuah restoran tempat Hitomi bekerja…
Hitomi bekerja sampai jam 10 malam, tetapi karena hari ini dia piket. Dia musti membersihkan sisa-sisa yang lain dulu bersama teman kerja-nya… Kaya
Hitomi dan temannya sekarang berada di dapur restoran yang besar dan lengkap … mereka sekarang sedang mengepel lantai
"Hitomi-chan, kau masih saja bekerja ya" ucap Kaya "padahal kau sudah berapa kali melihat mayat tewas tergeletak di depanmu"
"well, walaupun keadaan apapun. Aku berusaha untuk tetap beraktivitas" ucap Hitomi
"kau wanita yang kuat huh?" kagum Kaya
Hitomi tersenyum… tiba-tiba terdengar seseorang masuk ke dalam restoran dari luar dapur…
"itu pasti Erick" ucap Kaya "biasa, dia selalu ceroboh"
"well, hampiri dia coba" mohon Hitomi
Kaya lalu ke depan, menghampiri Erick… Hitomi sekarang sendirian di dapur. Kembali mengepel lantai. Tiba-tiba dia mendengar…
"KYAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!"
Itu teriakan Kaya…
"astaga!" kaget Hitomi
Hitomi kemudian langsung menghampiri ke depan, terlihat Penambang itu baru saja membunuh Kaya dengan cara membacok kepalanya. Dia lalu melepaskan pickaxe itu dari kepala Kaya. Darah pun bermuncratan dan Kaya langsung tergeletak di suatu kursi meja…
"KYAAAA!!!" Teriak Hitomi histeris ketakutan
Penambang itu lalu melihat Hitomi, dia kemudian mengejarnya dengan pickaxe yang berlumuran darah. Hitomi lalu berlari kembali ke dapur.
"grr…grrr…"
Penambang itu lalu mengikuti Hitomi ke dapur, tiba-tiba Hitomi langsung membanting pintu dapur yang terbuat dari besi itu dan mengenai penambang itu
"TPANGGG!!!!!!!!!!!"
"Urggh!!!" geram Hitomi habis membanting pintu dapur kuat sekali
Penambang itu sedikit lengah, Hitomi lalu berlari lagi. Penambang itu lalu mengejarnya lagi. Hitomi lalu meraih dan melempar suatu botol kecap… tetapi penambang itu berhasil menghindar.
"TPRANG!!!" Suara botol kecap pecah
"grrr…grrr…"
Hitomi lalu melempar suatu panci…
"TPANG!!!"
Panci itu menancap di pickaxe penambang tersebut. Penambang itu melepaskan panci itu dari pickaxe-nya. Hitomi lalu kembali berlari. Dia lalu berusaha keluar lewat pintu belakang…
"krek-krek-krek!" usaha Hitomi membuka pintu itu
Tetapi pintu tersebut dikunci dari luar…
"siall!!!"
Hitomi lalu mengambil sebuah pisau…
Penambang itu lalu kembali mengejar Hitomi, tetapi dia kehilangan jejak Hitomi. Hitomi sudah tiada dimana-mana…
persembunyian Hitomi…
Hitomi bersembunyi di suatu tempat sempit. Dia sambil menutup mulutnya. Ada lubang kecil yang bisa melihat keluar tempat persembunyian Hitomi tersebut.
"huff…!!!" Hitomi tampak panic sekali, dia ketakutan…
Penambang itu terlihat melewati dia di luar… tak menyadari keberadaan Hitomi disitu… Hitomi bersembunyi di suatu kulkas pendingin besar yang bisa menampung seseorang disitu…
"huf…!" Hitomi berusaha menahan nafasnya sambil memegang pisau itu…
Penambang itu lalu kesana kemari… Tiba-tiba Hitomi menjatuhkan sesuatu…
"sret… kring…!"
Kaki Hitomi tak sengaja menjatuhkan sebuah gelas… Membuat Penambang itu terpancing ke persembunyian Hitomi…
"ungg!!!"
Penambang itu lalu melihat Hitomi dari luar lubang kecil itu. Dia lalu menunjukkan pickaxe itu ke Hitomi…
"brengsek…!!!"
Penambang itu lalu mulai mengayunkan pickaxe itu, tetapi…
"TDORRR!!!"
Suatu peluru melayang. Walaupun tak mengenai penambang itu.
"jangan bergerak!!!" tegas seseorang
Itu Polisi Karin, dia muncul dari pintu belakang dapur… Karin lalu meluncurkan peluru lagi dari pistol yang dia pegang…
"TBANG! BANG BANG!!!"
Tetapi penambang itu keburu melarikan diri melewati pintu masuk ke dapur tadi. Tiada satupun peluru yang berhasil mengenai penambang tersebut. Penambang itu belum sempat membunuh Hitomi di dalam kulkas. Karin lalu langsung menghampirinya. Lalu membukanya…
Hitomi keluar dengan panic sekali sambil menodongkan Karin pisau…
"KYAAA!!!" teriak Hitomi
"Mba! Mba!!! Tenang mba!!!" mohon Karin "saya polisi!!!"
"astaga…" Hitomi sambil menghembuskan nafas lega ketakutan, mengira hidupnya sudah akan berakhir sebentar lagi "dimana dia?!"
"dia lari" ucap Karin "ayo kita ikuti!"
Hitomi dan Karin lalu berjalan ke depan. Tetapi penambang itu sudah tiada. Yang ada tinggalah mayat Kaya yang dibunuh oleh penambang itu tergeletak di kursi meja…
"oh tuhan…"
Karin dan Hitomi lalu mendekati mayat Kaya tersebut
"Kaya…astaga…" Hitomi histeris sambil menutup mulutnya, dia juga mau menangis...
Satu nyawa melayang lagi malam ini… malam sebelum Valentine tiba…
Tengah malam…
Ashley sekarang berada di kota, sendirian saja… sepi dan hening… Dia baru saja dari suatu tempat…
"…"
Tubuh Ashley bergetaran, tetapi dia tetap berjalan sambil memasukan tangannya ke saku jaket miliknya tersebut.
"…aku…"
Diam-diam Ashley sudah bersenjatakan pistol… Ashley merasakan dia seperti diikuti. Dia lalu menoleh kebelakang. Dia lalu melihat seseorang dekat lampu jalanan dari kejauhan…
"astaga…"
Itu adalah penambang tersebut. Sambil membawa pickaxe yang berlumuran darah… Ashley lalu mengeluarkan pistolnya
"kau pikir aku sudah tak bisa membunuhmu Harry…!?" tanya Ashley "aku masih bisa…! Tepat seperti 6 tahun lalu…!" geram Ashley
Penambang itu lalu mendekati Ashley, Ashley lalu melepaskan peluru…
"TBANG!!!"
Tetapi lepas, Ashley lalu kembali menembakan pistol…
"TBANG BANG BANG BANG BANG!!!!"
Seluruh peluru yang dia tembakan tiada yang mengenai Penambang tersebut…
"brengsek!!!"
Ashley membuang pistolnya, dia lalu berlari… Penambang itu mengejarnya dengan cepat sekali.
"sial!!!"
Di depan mata, Ashley sudah menemukan mobilnya. Dia lalu langsung masuk ke dalam mobil. Penambang tersebut lalu melemparkan pickaxe itu ke arahnya…
"whuss…!!!"
Tetapi…
"tbrakkk!!!" suara kaca pecah akibat pickaxe yang dilemparkan penambang tersebut
Ketika Ashley membuka matanya, pickaxe itu tepat di depan matanya. Sedikit lagi hampir mengenai matanya…
"Arghh!!!" kaget Ashley sambil memundurkan dirinya dari pickaxe yang menancap di kaca mobilnya tersebut "brengsek…!"
Ashley lalu menyalakan mobil, membiarkan pickaxe yang dilempar penambang tersebut menancap di kaca depan mobilnya dan meninggalkan penambang tersebut…
Keesokan harinya…
JUMAT 12 FEB 2012 pagi hari
Di kantor polisi, sudah ada Roxas, Roy, Hitomi dan Karin. Roxas dan Roy tampak sibuk sekali… mereka juga mencari-cari keberadaan Ayah Tom. Karena Ayah Tom juga menghilang…
Tiba-tiba muncul Yuki… dia sambil membawakan makanan untuk Roxas… Dia lalu melihat sebuah foto dan kertas-kertas di dinding. Foto mayat wanita kemarin, foto supir truk kemarin, foto jantung yang di dapatkan Roxas kemarin, dan foto Tom…
Roxas lalu menghampiri Yuki…
"Yuki…" panggil Roxas yang wajahnya terlihat lelah sekali
"Aku bawakan kau makanan" ucap Yuki sambil menyerahkan sebuah kantong makanan
Yuki lalu melihat Hitomi yang tampak pucat. Dia bersama Karin yang menemaninya…
"aku… aku sedih tentang Hitomi…" ucap Yuki
"Yuki, kau lihat Tom?" Tanya Roxas
"tidak" geleng Yuki "lusa kemarin saja setelah dia menghampiri pergi ke supermarket"
"Kita kehilangan jejaknya, dan ayahnya menghilang" ucap Roxas "ini bukan permainan Yuki. Penduduk tewas dan Tom sudah jelas dia tersangka utama pembunuhan ini" tegas Roxas
"Aku benar tidak melihat…"
Sebelum Yuki selesai berbicara, Roxas langsung menghentakan tangannya ke suatu meja
"BANGSAT!!!!" teriak Roxas
"BRUK!!!"
"oh tuhan!!!" kaget Yuki
Semuanya lalu memperhatikan mereka… Roxas lalu memegang kepalanya. Dia terlihat stress berat…
"maafkan aku Yuki…" ucap Roxas "maafkan aku"
Yuki diam saja… Tiba-tiba Roy memanggil Roxas
"pak, pak Roxas"
"ya" jawab Roxas
"Kita menemukan Ayah Tom" ucap Roy
Mereka lalu saling bertatapan…
"Karin" panggil Roxas "Hitomi"
"ya pak?" jawab Karin
"aku mau kau tolong jaga Hitomi" ucap Roxas "dan Hitomi. Maafkan aku, tetapi sebaiknya kau tetap bersama Karin" Roxas sambil melihat Hitomi
"tidak apa-apa" jawab Hitomi "aku merasa di rumah pun tak aman"
Mereka sepakat. Hitomi akan mengikuti Karin demi nyawa Hitomi.
"sampai jumpa" ucap Roxas ke Yuki
Roxas dan Roy lalu pergi…
Di sebuah hutan dekat kota Harmony…
Mayat Ayah Tom tergeletak di sebuah hutan dengan luka bacok di kepalanya. Juga jantungnya. Jantungnya sudah menghilang. Mayat tersebut sudah busuk dan dikerumuni lalat-lalat. Jelas dia dibunuh oleh penambang itu malam tadi juga…
Di sekitar tempat itu sudah dikasih pembatas garis polisi. Beberapa polisi sudah mengamankan tempat itu…
"huh…" Roy menghembuskan nafas lemes sambil bertepuk pinggang "apa yang kau pikir?" Tanya Roy ke Roxas yang disebelahnya
"hanya orang yang sudah tak asing tahu tempat ini" ucap Roxas
Mereka berdua lalu memandang sekeliling hutan tersebut…
"aku tidak tahu, tetapi aku ada firasat buruk" pikir Roxas "hubungi Lumina, kirim Karin bersama Hitomi tuk mengamankan rumahnya" ucap Roxas "dan cari Tom Hanniger, dia sudah masuk daftar tersangka utama"
Roxas lalu kembali memeriksa mayat itu, Roy melihatnya…
[Bersambung]
