Disclaimer by Masashi Kishimoto

Pemandangan yang tersuguh membuat kedua pupil mata Sasuke mengecil. Tubuhnya kaku seketika. Dan tanpa sadar bibir tipis milik pemuda berumur limabelas tahun itu mengalunkan suara.

"Apa yang dia lakukan disini?"

"Ada apa Sasuke?" Suara nyaring Naruto membuatnya kembali dari lamunannya. "Bukan apa-apa."

"Kau terlihat aneh." Sai ikut menimpali.

"Sudah kubilang aku baik-baik saja." Nada dinginnya kembali ia gunakan.

Shikamaru hanya mengutak-atik handphone, malas mendengar celotehan dari ketiga temannya.

"Sekarang kita tentukan siapa yang bertanding kali ini." Sama seperti biasa Sai menunjukkan senyum andalannya.

"Eto…" Sai langsung memandang ke arah Shikamaru, merasa sepasang mata menatapnya Shikamaru mulai risih. Ia masukkan handphone hijau kedalam sakunya. "Ck, mendokusei." Tangannya ia gunakan menggaruk kepala yang tidak gatal. Jika pada awalnya dirinyalah yang harus menentukan, kenapa Sai malah bertindak layaknya seorang moderator.

"Mungkin Sasuke atau Naruto yang akan bertanding malam ini. Sementara aku dan Sai cukup mengawasi dari belakang saja." Shikamaru menguap cukup lebar.

"Yosh, sudah diputuskan. Sasuke, kita tentukan dengan gunting-batu-kertas." Naruto sudah bersiap dengan tangannya.

"Tidak perlu, kau saja." Sejak tadi pandangannya masih tertuju pada sosok itu. Kedua mata hitamnya seolah tak ingin melepasnya pergi dari pandangannya. Ketika sosok itu menghilang tertelan keramaian, tanpa disadari kedua kaki panjangnya bergerak.

"Aku ada urusan." Tanpa menunggu reaksi dari ketiga temannya Sasuke langsung berlari menerobos puluhan orang dan menghilang tak lama kemudian.

"Kau mau kema-"

"Sudahlah Naruto, biarkan dia." Shikamaru menepuk pundak Naruto yang hendak menghentikan Sasuke. Entah kenapa sepertinya Shikamaru mengerti kenapa Sasuke berlari meninggalkan mereka.

"Aku pulang."

Suara datar milik seorang gadis menggema. Mata amethystnya ia alihkan ke sekeliling. Walaupun ia sudah tahu jika tidak akan ada jawaban. Rumah kecil dengan dua lantai yang hanya ditempati oleh dua orang manusia dengan salah satu diantaranya sedang tidak berada di sini membuat suasana rumah serasa di kuburan.

Ia berjalan tiga langkah dari pintu, tangan putihnya ia gunakan untuk melepas sepatu dan meletakkan di rak yang berada di dekat pintu.

Suara langkah kakinya adalah satu-satunya suara yang terdengar saat ini. Sinar matahari sore yang akan berganti menjadi sinar bulan masih tetap menyinari cela-cela jendela. Membuat suasana rumah yang mulai gelap dihiasi cahaya berwarna oranye.

Tepat ketika ia melewati dapur, langkahnya terhenti. Ungu muda di matanya menangkap sebuah benda di atas meja makan. Dengan sangat malas kaki gadis itu mendekat.

Tangannya terulur untuk mengambil kertas yang sangat ia yakini itu untuknya.

'Hangatkan sendiri.'

Tulisan berhuruf hiragana yang ditulis besar dengan tinta hitam. Untuk kesekian kalinya gadis itu menghela nafas, sebelum kertas berisi pesan dari kakaknya ia remas ada sebuah tulisan kecil berada di pojok kertas. Ia dekatkan kertas kuning itu, membaca tulisan rapi milik kakaknya.

'P.S. Aku tidak pulang, cepat tidur dan BANGUN PAGI-' Sedikit senyum terpatri manis di bibir tipisnya ketika membaca kelanjutan tulisan.

'-HYUUGA HINATA.'

...

Jam kamarnya menunjukkan pukul enam lebih sebelas. Sudah lebih dari satu jam ia berbaring di atas kasurnya. Rambut panjang berwarna indigo ia gerai, membuat warna seprai putih berhias dengan warna indigo miliknya.

Tidak seperti biasa kedua matanya masih terbuka, sedari tadi ia hanya berguling ke kanan dan ke kiri mencari tempat nyaman untuk tidur. Namun nihil kedua matanya masih saja belum terpejam. Menyerah, akhirnya ia membuat badannya terlentang dengan tangan yang berada di kepala berusaha menghalangi sinar lampu.

Sekelebat banyangan tadi siang terputar di dalam kepalanya. Mulut tipis itu sedikit menyunggingkan senyum meremehkan.

Apapun yang terjadi, seorang pemuda bernama Uchiha Sasuke tidak mengenal kata menyerah mungkin sifat Nauto yang satu ini menular padanya. Terbukti dengan kejadian tadi siang, ia sengaja kabur dari bocah berambut emo itu. Alasannya hanya satu, ia tidak mau menjadi pusat perhatian jika harus berjalan bersama dengannya. Apalagi jika berpuluh hingga ratusan mata yang menatapnya adalah milik manusia bernama perempuan. Dan kebanyakan dari sekian puluh hingga ratusan pasang mata itu menatapnya dengan tatapan membunuh.

Bukannya takut atau apa, ia hanya tidak mau memulai pertengkeran dengan perempuan. Menurutnya memukul seorang perempuan adalah sebuah tindakan taboo yang harus ia hindari. Begitulah kata ibunya, meskipun kata itu ditunjukkan untuk Neji.

Ia menghela nafas kemudian. Entah kenapa sejak ia bersama dengan bungsu Uchiha itu, menghela nafas menjadi suatu hal favorit untuknya selain tidur.

Drrrttt drrrttt

Getaran benda persegi panjang membuyarkan lamunan singkatnya. Amethys miliknya melirik malas ke arah tempat getaran berasal.

'Apa yang kau lakukan? Cepat kemari!'

Keenam kata itu yang tertulis di layar handphone miliknya. Dengan ogah-ogahan ia tegakkan tubuhnya sehingga posisinya menjadi duduk. Ia lirik jam digital di sudut handphone.

06.40

Ia hampir saja lupa jika hari ini ia harus bekerja, dengan sedikit tergesa ia bangkit dari tempat tidur dan langsung menyambar tas biru tuanya. Tanpa memperdulikan bagaimana penampilannya saat ini.

...

Langkah Sasuke terhenti, 'Kenapa selalu terjadi hal seperti ini'.

Lama kelamaan ia lelah, kenapa setiap ia pergi selalu ada orang itu. Dan yang lebih parahnya lagi, ia selalu dan selalu terlibat. Sekarang ia mulai meragukan perilakunya. Dimana Sasuke yang tidak suka mencampuri urusan orang lain, dimana Saskue yang cuek, dan dimana Sasuke yang ah sudahlah.

Dengan satu bulan berinteraksi dengannya membuat Sasuke mau tidak mau harus ikut membantu -baca mengatasi masalah yang ia perbuat.

Dan sekarang apa.

Setelah melihatnya diantara kerumunan itu, ia malah berlari menghampirinya.

Sasuke sedikit berlari menghampiri kerumunan yang berada tidak jauh di depannya.

Yah, pemandangan yang sudah bisa ia ditebak, dimana seorang gadis berambut indigo dengan kerumunan. Hal yang sudah biasa Sasuke lihat empat minggu belakangan ini.

Seorang gadis dengan pakaian pelayan yang sedikit mengekspos beberapa bagian dari tubuhnya dengan tiga orang pemuda yang jatuh terkapar dengan beberapa kucuran darah dan seorang wanita berambut kribo tengah memakinya habis-habisan. Dan Sasuke sudah mulai mengerti arah alur cerita ini.

"Apa yang kau lakukan Hyuuga? Kau mau membuat bar ini bangkrut apa?!" Teriakan nyaring dari seorang manajer bar berada tepat di depan wajah datar milik Hyuuga Hinata.

Dan demi apapun di dunia ini bukannya merasa bersalah atau apa di malah menampakkan wajah malas miliknya-hampir sama dengan wajah Shikamaru.

"..."

"Jelaskan apa maksudnya?" Beberapa pelayan menatap takut ke arah wajah wanita itu. Sasuke bisa mengerti raut wajah geram dari manajer itu, bahkan ia sudah sering kali mengalami hal itu saat berada di samping Hinata. Hal berikutnya malah membuat wajah manajer itu semakin geram.

"Ketiga pria itu melakukan pelecehan pada para pelayan itu-" Jemari lentik Hinata menunjuk dua orang pelayan, "kau tahu mereka tidak suka." Wajah sang manajer semakin tertekuk.

"Itu sudah menjadi hal yang biasa terjadi disini Hyuuga. Mau tidak mau mereka harus melakukannya demi uang, apa kau pikir mencari uang itu gampang, huh?!"

"Mereka masih muda, tidak perlu harus sampai melakukannya kan?" Sasuke menepuk dahinya, bukankah dirinya juga masih muda dan dilihat dari umur Hinatalah yang terlihat paling muda.

Beberapa kedutan mulai bertambah di wajah si manajer. "Ini sudah ketiga kalinya dalam minggu ini. Dan dilihat dari semuanya hari ini yang paling parah." Emosi manajer kribo mulai tak terkendali. Dan dengan santai Hinata malah mengorek telinganya, mungkin jika setiap hari mendengar teriakan dari wanita tua itu ia bisa dalam waktu dua bulan.

"Hyuuga kau dipecat."

"…"

Seringai keji terpampang jelas di wajah si manajer melihat ekspresi wajah Hinata saat ini. Pasti dia akan memohon untuk memperkerjakannya lagi, tapi maaf Hyuuga seberapapun kerasnya kau memohon aku tidak akan pernah melakukannya. Begitulah pikiran si manajer menurut Sasuke terlihat dari raut wajahnya.

"Benarkah? Syukurlah kalau begitu." Dan setelah mengatakannya Hinata malah melenggang pergi.

Seumur-umur Sasuke hidup baru pertama kalinya ia melihat ada gadis dengan sifat seperti itu.

"KAU BERANI-BERA-"

HUP

Tanpa Sasuke sadari, tangan putih miliknya sudah menggenggam tangan berisi lemak milik si manajer. Seketika itu pula berpuluh-puluh pasang mata beralih menatapnya. Termasuk mata berwarna amethyst milik gadis dibelakangnya.

'Sial! Apa yang aku lakukan?!' Sadar dengan apa yang ia lakukan, Sasuke melepaskan tangan milik manajer itu. Menyadari semua mata tertuju ke arahnya, tangan kiri Sasuke meraih tangan berwarna pucat milik Hinata.

"Aku akan mengganti kerusakan yang dia buat." Sasuke menyeret Hinata dengan paksa. Menghiraukan terakan dari si manajer yang terlihat tidak terima dengan kejadian tadi. Tanpa mereka ketahui sepasang iris berwarna jade telah memperhatikan kejadian itu dari tadi.

...

Dan sekarang kedua manusia bebeda gender itu saling berhadapan lagi. Si pemuda yang menatap si gadis penuh dengan pertanyaan dan sebaliknya si gadis malah membuang muka tanda tak peduli.

Suasana gang yang sempit dan gelap membuat Sasuke yang tinggi menjulang terlihat sedang mengurung seorang gadis pendek dihadapannya.

"Ehem." Sasuke sengaja berdehem.

"Biar ku tebak, kau pasti akan berkata 'apa yang kau lakukan disini Hyuuga?'" Hinata mengikuti suara datar milik Sasuke. Padahal jika didengar baik-baik suara keduanya hampir sama.

"Hn."

"..." Hinata mengalihkan pandangannya ke arah lain. Malas untuk meladeni adu mata dengan Sasuke.

Tahu jika Hinata tidak akan mengucapkan kata selanjutnya, Sasuke masih dengan tatapan penuh tanya harus kembali membuka suara. "Jadi, apa yang kau lakukan disini?"

"Bukan urusanmu."

Sasuke menggeram, ia menyerah. Ia sudah berusaha berbuat baik kepada Hinata.

"Tentu saja urusanku, walaupun tidak suka aku harus mengatakan jika kau adalah paca-"

"Aku tidak pernah beranggapan begitu." Kedua mata itu saling beradu, berusaha menampakkan mata siapa yang lebih seram. Dan dengan nada datar dari mereka berdua.

"Aku sudah muak Hyuuga. Kita akhiri sampai disini!" Wajah Sasuke mendekat ke wajah Hinata.

"Bahkan kita belum memulainya Uchiha!" Begitu pula Hinata, kedua wajah itu saling membentur dan terjadilah adu mata diantara keduanya. Jika di dalam anime atau manga pasti akan tercipta kilat pada kedua mata milik mereka.

"Kau benar, sejak awal memang tidak ada hubungan diantara kita." Tidak lupa seringai kejam terpatri di wajah milik Sasuke.

PROK! PROK!

Keduanya masih saling beradu sampai ada seseorang dari arah samping mereka datang. Pandangan keduanya langsung mengarah pada seorang pemuda berambut merah dengan tidak melupakan pandangan menusuk mereka.

"Wah wah, pertengkaran sepasang kekasih?" Kata pemuda dengan iris mata berwarna jade itu. Kedua jade miliknya mengarah pada Hinata.

"Cih, Sabaku."

"Tidak baik mendecih di hadapan kekasihmu, Uchiha." Ungu muda dan hitam semakin menyipit. "Lagipula, jika dilihat kekasihmu…lumayan." Bungsu Sabaku itu mengitari tubuh Hinata. Menilai dari ujung kepala hingga kaki.

'Hanya orang buta yang mengatakan hal itu.' Batin Sasuke.

Hinata yang merasa risih, mulai berjalan menjauh. Menganggap sudah tidak ada urusan dengan kedua pemuda itu.

"Mau kemana?" Tanpa Hinata duga, pemuda bernama Sabaku itu sudah membawanya ke dalam pelukannya. "Jika Uchiha mencampakkanmu, kau bisa pergi denganku." Muncul seringai yang biasa ia gunakan untuk merayu perempuan. Sasuke yang melihatnya hanya menatap malas. 'Tidak mempan, Hyuuga bukan wanita.'

"Kau tidak cemburu Uchiha? Melihat pacar-" pemuda bernama Gaara meralat ucapannya. "-ah bisa dibilang mantan, bersama dengan musuhmu?" Masih dengan tangan yang memeluk pinggang Hinata.

"Kau bisa memilikinya, aku sudah muak hanya dengan melihatnya." Sasuke berkata dengan nada dan pandangan dingin, maksudnya sih ia tunjukkan pada Hinata.

"Benarkah? Tidak kusangka kau akan memberikan-" Diliriknya name tag bertuliskan Hyuuga Hinata. "-Hinata-chan dengan mudah."

'Kau akan langsung mati jika bersamanya Sabaku.'

Tunggu, mungkin dengan adanya kejadian ini ia bisa membunuh dua burung dengan satu kali tembakan. Disamping bisa bebas dari gadis gila itu, ia juga bisa melihat musuhnya mati. Dalam keadaan ini Sasuke menahan senyumnya agar tidak mengembang.

Pelukan di tubuh Hinata semakin erat ketika ia akan melepaskan diri dari pemuda berambut merah itu dan tanpa aba-aba wajah milik Gaara semakin mendekat. "Kita lihat apa pacarmu cemburu jika aku menciummu." Bisiknya tepat di telinga kanan Hinata.

Sasuke yang semula cuek, langsung berubah kaku. Bukannya cemburu, ia hanya waspada. Untuk pertama kali ia melihat ada seseorang terutama laki-laki yang berada cukup dekat dengan gadis iblis itu.

Berusaha terlihat biasa Sasuke berbalik dan akan pergi. Namun suara benda jatuh menghentikan langakahnya.

"Dengar, aku tidak peduli apa yang kau permasalahkan dengan bocah sialan itu. Tapi jika kau berani menyentuhku, aku tidak segan untuk membunuhmu, Panda."

Bisa dilihat, jika Hinata tengah mengunci pergerakan tangan Gaara dan memojokkannya ke dinding. Tubuh kecilnya seakan bukan menjadi penghalang baginya memenjara tubuh jangkung milik Gaara.

Bahkan Sasuke lupa untuk mengedipkan kedua matanya, melihat seberapa kuat gadis mungil itu. Ia tidak habis pikir, ajaran apa yang Hinata dapat dari Neji sehingga membuatnya menjadi seperti ini.

Hinata melepas cengkraman tangannya dan pergi begitu saja meninggalkan kedua pemuda yang masih tercekat dengan kejadian barusan. Diikuti Sasuke yang berlari mengejar Hinata. Mengabaikan tubuh Gaara yang sekarang terduduk bersandar pada dinding.

"Gadis yang menarik." Ucapnya lirih. Mungkin jika Gaara tidak pura-pura mengalah, kedua tangannya tidak akan memar seperti ini. 'Panda, ya?'

.

Langkah Hinata berhenti di sebuah taman. Kaki jenjangnya kemudian melangkah menuju tempat duduk taman yang panjang. Udara dingin dan pakaian yang terbuka berhasil membuat tubuh Hinata sedikit menggigil. Keadaan taman yang sepi membuatnya menjadi satu-satunya pengunjung disini.

Tidak tahu harus melakukan apa, Hinata mengecek handphone miliknya. Ia mendapati satu pesan yang sangat ia yakini dari manajer sialan itu.

'Kau dipecat.'

Walaupun tidak membuka e-mail pun, Hinata tahu jika ia akan dipecat dari bar itu. Sungguh jika disuruh memilih, ia lebih memilih bekerja di toko bunga ataupun toko buku. Jika saja ia tidak menghajar beberapa orang yang ada di bar itu dulu, mungkin ia tidak harus bekerja disana. Bisa dibilang sebagai pertanggungjawaban atas tindakannya.

Mungkin besok ia harus mencari pekerjaan sambilan lagi. Namun dari sekian banyak pekerjaan yang ia ambil, gaji bekerja di bar lah yang paling banyak.

Hinata sendiri tidak tahu, kenapa di umurnya yang masih limabelas tahun ini, ia sangat berambisi untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.

Siluet jangkung yang tidak asing tertangkap oleh ungu mudanya. Bisa dipastikan si jangkung itu berjalan kearahnya.

Merasa tidak nyaman, Hinata memutuskan berdiri meninggalkan tempat ini. Dan seperti biasa tangan panjangnya pasti bisa menghentikan langkahnya.

Hinata sudah bersiap ketika sosok jangkung yang tak lain adalah Sasuke memulai pertengkarannya dengannya. Namun tak disangka, bukannya celotehan yang menyebalkan, pemuda itu malah melepas jaketnya dan meletakkannya di kepala Hinata.

"Pakai itu." Sasuke mengatakannya, mengerti dengan pandangan bingung Hinata. Walaupun Sasuke menyuruh Hinata untuk memakai jaketnya, ia tahu jika gadis itu pasti akan menolak niat baiknya ini. Dan dengan perlahan ia memakaikan jaketnya atau bisa dikatakan memindahkan jaket biru dari kepala menjadi di pundak Hinata.

"Hyuuga aku tidak suka bertele-tele." Hinata menatap mata hitam milik Sasuke. Dan yang ia lihat adalah sorot serius dari kedua matanya. Hinata tidak menanggapi dan memilih untuk menunggu kelanjutan katanya.

"Kita menjadi seperti ini karena kedua orang itu."

"…"

"Mereka tidak akan berhenti sampai tujuan mereka tercapai." Dengan menyatukan kita tentunya.

"…"

"Aku yang ingin mobilku cepat kembali dan kau ingin lepas dari kekangan kakakmu." Sasuke sudah memikirkan rencana ini dengan matang.

"Kita ikuti alur permainan mereka dan membuat ini cepat berakhir." Hinata yang semula terlihat tidak peduli mulai membuka telinganya. Ia tahu kemana pembicaraan ini akan berakhir.

"Bersikap layaknya sepasang kekasih, membuat mereka percaya, dan putus." Kali ini Hinata membuka mulutnya setelah sekian lama.

"Deal."

"Deal."

TBC.

Wah akhirnya saya updet setelah satu tahun lebih hiatu, sebenarnya saya bingung mau dilanjutkan atau enggak. Dan sebentar lg saya mau ujian lagi. (kenapa hidupku penuh dg ujian?T^T}

Terimakasih buat para readers yg udah membaca fanfic saya ini

Dan para reviewers, saya mengucapkan banyak-banyak terimakasih

Indigo Mitha-chan, Nivellia Neil, tomo-chan s, FP GUDANG FANFIC SasuHina-Indo, flowers lavender, Guest, Black, Yafa mut, n, Sasuhina-loversz, AFujiwaraChan, nounou

Dan buat minna-san yang udah ngefave saya ucapkan arigatou gozaimasu. Dan jika ada yg bertanya kpn saya bisa update lg #emang ada yg nanya# untuk ch 5 udah 50% secepatnya.

Jaa adios…