Minnaaaaa.. gomen baru bisa update.. hiks.. TT^TT
ren-chanz baru selesai ULUM di skul..tapi gara2 pas ULUM masih banyak waktu buat nunggu, kepikiran cerita Akuroku dah.. XD

Ok deh.. met baca..

Chapter III : When he Know the Truth

"I can only bloom my wishes...you're my all. I watching you from here even your eyes as they mature and slowly grow rounder, my watches never stop anytime, 're my dear. I hope the screw in my back that I get from being with you never stops -Demyx-"

Pada hari ini aku bertemu dengan salah satu anggota dari Organization XIII, anggota ke-13, Xion

"Salam kenal, Roxas" kata Xion sambil tersenyum kepadaku

Aku tidak sengaja bertemu dengannya di depan gerbang masuk dan tidak kami sadari bahwa kami pergi ketempat yang sama, kantin..bertemu dengan Demyx, Zexion dan Axel

"Ah, salam kenal juga..Xion"

"Xwi-huaaan, khcaaau kemhaanwa sauaha siwhh?" (Xi-chan, kau menana saja sih?) Demyx bertanya sambil mengunyah makanan

"Demyx, habiskan dulu makananmu baru berbicara" Zexion duduk sambil memberi pesanan minum Demyx

"Haha.. Demyx, kau sebaiknya menghilangkan kebiasaan itu. Nafsu makan seseorang mungkin bisa hilang bila melihat gaya makanmu yang seperti itu.."Kata Xion padanya.

"Mumuuu... kau tidak imut ah, Xion.. ngomong-ngomong demammu sudah turun khan?"

"Demyx, dia tidak akan masuk bila dia masih sakit, kau tahu itu.." Axel menjawab pertanyaan Demyx. Oh, jadi Xion baru sembuh dari demam

"Ngomong-ngomong.. bicara soal keluarga, kau punya seorang kakak khan, Roxas?" tanya Demyx padaku

"Eh? Maksudmu Cloud?"

"Cloud?" Mata Demyx melebar ketika mendengar nama tersebut

"Masaka... apakah Cloud yang itu?"

"Ya, Demyx, kakak Roxas, adalah Cloud yang dulu pernah berurusan dengan kita, aku pernah mengantarkan Roxas kerumahnya dan tak kusangka bahwa Cloud adalah kakaknya" Axel kembali berbicara kepada Demyx. Oh, pantas, ketika pertama kali Axel mengantarkanku pulang, ia seolah memikirkan sesuatu..

"Ah.. masalah...waktu itu ya? Pada saat Xemnas masih berada disini, ketika pemberontakan besar-besaran di Kingdom Hearts" tutur Xion

"Saat sekolah kami mengalami pemberontakan, salah satu polisi yang menenangkan tempat kejadian adalah kakakmu, Roxas. Dia orang yang sigap, tak lebih dari 1 jam, semua lapangan sudah menjadi sunyi dan pada saat pemeriksaan, Cloud membawa kami ke rumahnya, menjelaskan semua hal yang terjadi" Zexion berkata sambil membalik-balikkan halaman bukunya

Aku tidak tahu bahwa Cloud-nii ternyata sangat tegas dengan tugasnya, teliti, disiplin, tegas..dan kejauhan, aku melihat Sora dan Kairi yang melambai-lambaikan tangannya kepadaku, aku meminta izin untuk pergi kesana sebentar. Dan ketika aku sedang pergi, tampaknya mereka sedang membicarakan suatu hal yang serius, entahlah..

"Axel, apa Roxas sudah tahu tentang.." Perkataan Xion terpotong ketika Axel menghentikannya

"Tidak, kita tidak membutuhkan apapun dari Roxas, ini adalah keeinginanku semata untuk memasukkannya kedalam Organization XIII"

"...Tapi kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya bila Xemnas mengetahui hal ini, bukan? Aku khawatir bila sesuatu hal buruk terjadi padanya.. walau kami baru bertemu, aku juga bisa merasakan bagaimana saat pertama kali bergabung disini.." Muka Xion terlihat sedikit sedih bercampur dengan khawatir

"Tenang saja, Axel pasti akan melindungi Roxas, khan?" Demyx tersenyum lebar kepada Xion

"Bagiku sampai saat ini, baru Roxaslah orang pertama yang bisa membuat Axel yang brutal ini menjadi sangat tenang. Kau, menganggapnya sangat berharga, khan?" Zexion pun ikut berkata-kata

"Gezz.. bisakah kalian menghentikan pembicaraan ini.. sebelum ia mendengar pembicaraan kita ini"

Tak lama aku kembali dengan melihat muka Axel yang sedikit merona, ia tampak sedikit marah-marah.. apa Demyx, Zexion dan Xion menjahilinya? Kulihat mereka ber-3 tertawa melihat kearah Axel yang mulai cemberut tersebut

Beberapa minggu kemudian, hubungan diantara kami semakin akrab saja, ditambah dengan kedatangan Xion, grup kami semakin bertambah bising. Tapi aku suka dengan keramaian ini, rasanya kebersamaan ini begitu hangat.

Pada hari itu, aku pulang kerumah seorang diri. Hari ini Axel bilang akan pergi kerumah temannya, Demyx menunggu Zexion yang sedang menghadiri rapat OSIS, dan Xion sedang melakukan ulangan susulan dan harus menyelesaikan beberapa pekerjaan lab-nya. Sora sedang menunggu Riku, Riku juga masuk dalam salah satu bagian dari OSIS. Sedangkan Namine hari ini tidak masuk karenna flu, Kairi pulang lebih cepat karena ia juga terserang flu ketika jam pelajaran ke-5, jadi tinggalah aku seorang diri pulang kerumah.

Ketika aku berada di jalan, aku melihat didepanku sudah ada seseorang yang kukenal menghalangi jalanku.. ia adalah orang yang dulu pernah bersama Larxene, kakaknya, yaitu Xigbar

"Bocah, aku ada urusan denganmu..ikutlah denganku" katanya dengan suara beratnya itu

"Bagaimana bila aku menolaknya?" kataku kepadanya

"Xemnas menyuruhku untuk membawamu menemuinya, mau tidak mau, aku harus menyeretmu" Xigbar mulai mendekati dan hendak memegang tanganku, aku menolak dengan menempis tangannya.

Ketika Xigbar hendak menarikku, aku menendang perutnya, sesekali aku harus bertahan dan menyerangnya, aku tidak mau pergi menemui Xemnas, Axel dan yang lainnya berkata bahwa ia adalah orang yang jahat. Saat kesempatan datang untuk memukulnya jatuh, tiba-tiba semua menjadi blank, badanku tidak bisa bergerak dan kepalaku menjadi pusing...sangat pusing. Xigbar yang bingung tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memukulku, aku terjatuh cukup keras, dan kurasakan kepalaku bertambah sakit, ketika kupegang bagian kepala belakangku.. oh, bagus, sepertinya kepalaku berdarah karena benturan yang keras tersebut. Xigbar mendekat kearahku, aku menutup mataku, pasrah bila ia ingin menyeretku, tapi tiba-tiba yang kudengar adalah suara jatuh dari depanku.. Xigbar jatuh diujung, tepat bersebrangan denganku, walau jarak kami memang jauh. Aku melihat seseorang.. Axel?

Xigbar kini bangun dan mulai memukul Axel, tapi tak lama Axel kembali memukulnya. Aku bisa melihat kemampuan Axel berkelahi memang hebat, aku tidak bisa bergerak melihat perkelahian mereka berdua itu. Terlebih raut wajah Axel terlihat begitu marah, sangat seram.. Tanpa kusadari seseorang kini berada disebelahku

"Kau tidak apa-apa? Tampaknya kepalamu terbentur.. kau harus dibawa kerumah sakit" spontan aku menengok kepada orang yang berada disebelahku itu.. seorang wanita? Oh, bukan.. dia pria, tapi..warna rambutnya.. pink!

"Axel akan mengakhirinya dengan cepat. Ia akan menjadi seorang singa yang mengamuk bila seseorang telah mengusik apa yang berharga baginya."Ia berkata sambil melihat kearah Axel yang sedang memukul jatuh dan membiarkan Xigbar tergeletak di jalan, untungnya jalan tersebut sepi.

'apa yang berharga baginya?' pikirku dalam hati

Aku melihat Axel kini berlari kearahku "Roxas! Kau..lukamu.. darah! Kau.. kau baik-baik saja?"

"Axel, tenanglah dulu.. tampaknya dia terbenturcukup keras, sebaiknya kau membawanya ke Rumah Sakit terdekat, biar aku yang akan mengurus Xigbar"

"Maaf, tapi kuserahkan padamu, Marluxia" Axel tersenyum kepadanya sebelum menggendongku dengan bridal style

Aku kaget ketika Axel menggendongku, Axel sungguh khawatir tentang keadaanku.. dalam perjalanan, aku menutup mataku, dan membiarkan kepalaku bersandar pada dadanya.. begitu hangat, aku bisa mendengar detak jantungnya..

Di tempat Xigbar & Marluxia

Xigbar nampaknya tidak sadarkan diri ketika pukulan terakhir yang dilancarkan oleh Axel, Marluxia menyeret Xigbar menuju kursi terdekat dan menaruhnya disana. Pada saat Xigbar terbangun, ia menemukan Marluxia duduk disebelahnya

"Kau sudah bangun rupanya.."

"..Marluxia"

"Kenapa? Mukamu kaget seperti melihat hantu saja"

"... kau.. berada di pihak Axel?"

"Ya, dan aku tidak menyangka bahwa kau akan mengikuti Xemnas, Xigbar..ternyata penilaianku terhadapmu itu salah" Marluxia berkata sambil tersenyum sinis

"Hei, Xigbar.. katakanlah pada Xemnas, bila ia sampai berani lagi mengusik Axel maupun kami semua, aku tidak akan segan-segan untuk bertindak kedalam perang kalian" Marluxia tertawa sinis sambil memandang Xigbar dengan tatapan yang sangat dingin, hampir menyamai tatapan sinis Xemnas dan hal ini berhasil membuat Xigbar tidak bisa bergerak oleh ancamannya itu

Marluxia pergi meninggalkan Xigbar yang terpaku oleh kejadian yang dialaminya itu, badannya sedikit bergetar ketika melihat ekspresi Marluxia yang seperti itu, bahkan lebih seram dibanding merusak ladang bunga mawarnya.

AXEL POV (Point Of View)

'Damn.. harusnya aku ajak Roxas kerumah Marluxia saja kalau tahu jadinya akan seperti ini.. Xemnas, langkahmu sungguh cepat!' Aku berlari sambil menggendong Roxas menuju rumah sakit, untungnya letak Rumah Sakit tidak terlalu jauh dari letak kami berada, jadi aku cukup membawanya dengan berjalan saja.

Sesampainya di Rumah Sakit, Roxas segera diperiksa, sedangkan aku menelopon rumahnya, ibunya akan datang tak lama lagi. Saat aku berada di luar dan melihat Roxas yang terdidur setelah diobati. Ketika aku memasuki kamarnya dan tak lama aku melihat dia merasa tidak nyaman, nafasnya menjadi terengah-engah, aku segera memanggil dokter dan memeriksa keadaannya, dokter memberi suntikan yang membuat Roxas menjadi tenang

"Dokter, apa yang terjadi dengan Roxas?" aku bertanya pada dokter tersebut

"Ternyata dia adalah anak yang dimaksud oleh para dokter di Destiny Island.. penyakitnya sungguh langka, pelan tetapi sangat mengerikan.. ah, apa kau kerabatnya? Gejala ini mungkin akan sering muncul, kami akan mengambilkan obat penenang bila Roxas kembali bereaksi.. tolong perhatikan Roxas untuk sementara ya" Dokter tersebut pun pergi

Aku mendekat ke tempat Roxas berbaring.. sebenarnya penyakit apa yang menimpamu, Roxas? Tak lama aku mendengar suara pintu terbuka.. ibu Roxas. Aku menceritakan tentang peristiwa yang terjadi, bahwa Roxas terbentur cukup keras, Ibunya hanya mengusap kepala Roxas saja sambil memandang wajahnya yang tenang keika tertidur. Lalu, aku mulai bertanya tentangg penyakit Roxas, kami berbicara di depan ruangan

"Oba-san, sebenarnya penyakit apa yang menimpa Roxas? Tadi dokter mengatakan bahwa penyakitnya adalah penyakit yang langka tetapi sungguh mengerikan" Oba-san hanya tersenyum miris mendengar pertanyaanku

"Axel, aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri, kupkir tidak adil bila kau tidak mengetahuinya. Roxas menderita sebuah penyakit yang sangat mengerikan, sama seperti kakeknya dulu. Dokter berkata bahwa hidup Roxas mungkin tidak akan lebih dari 5 tahun lagi"

Aku kaget mendengar fakta yang dilontarkan oleh Oba-san.. hidup Roxas.. tak akan lebih dari 5 tahun lagi? Dengan berjalannya waktu, itu berarti tinggal 4 tahun lebih dari sekarang

"Apa.. Roxas mengetahuinya juga?"

"Tidak, Oba-san tidak mau memberitahu keadaannya, Oba-san tidak mau melihat dia yang hidup menderita karena mengetahui bahwa hidupnya tinggal sesingkat itu"

Aku hanya terdiam, jadi.. Roxas tidak tahu akan hal tersebut

Roxas POV

Aku membuka mataku, putih.. dinding yang putih dengan udara yang tidak begitu kusuka, ya.. rumah sakit.. tetapi aku melihat seseorang yang sedang tertidur sambil duduk disebelahku, dia memegang tanganku.. ya, itu adalah Axel..

Aku menyentuh rambutnya.. sungguh unik dan lembut.. saat aku hendak menyelimutinya, tiba-tiba ia terbangun. Axel langsung memelukku, entah mengapa.. jantungku berdetak kencang pada saat ia memelukku..

"A..Axel..?" aku berusaha mengatur detak jantungku, tetapi kulihat Axel begitu serius memelukku.. apa..ada suatu hal yang terjadi?

Pada saat yang bersamaan ditempat yang lain...

Zexion POV

Pada hari ini, seluruh anggota OSIS mengadakan rapat untuk kegiatan sekolah bersama. Seperti pesta kostum dan sebagainya yang akan kami ikuti kelak dikemudian hari. Hari ini aku meminta semuanya untuk pergi duluan, karena rapat mungkin akan berjalan lama. Kami baru selesai menghadiri rapat dan aku melihat langit sudah mulai gelap. Saat aku ingin memasuki kelas untuk mengambil tas, aku menyadari seseorang berada didalam.. Demyx.

Dia sedang bernyanyi didalam dengan nada yang sangat slow, sambil melihat pemandangan dari jendela ke luar, aku berdiri dibalik tembok mendengar nyanyian Demyx yang terdengar begitu sedih tersebut..

[Tobira]

Kizukareta hazu no mukishitsu na kono sekai... Kageri no senritsu ga kikoete kuru... Mamoru tame ni tada subeki koto wo motomete...Shizuka naru sora ni toikakete miru

Me no mae no mabayui shinjitsu ha... Asu kara no genwaku.. Ima Toki ha kita.. Furimuku na Furimuku na...Itsuwari ni nurareta kako ni...Tachi agare Shinjita kiseki wo kachitoru made...Ano tobira he...

Tsumetai hitomi no yami ni moeta kiru hono'o...Chikai no shirushi ga uzuki hajimeru...Mitasareta ayaui kanzen ha Yogensha no bougen...Ima Kaze ha fuku

Osoreru na Osoreru na...Chinmoku ni mo tsureta kage ni...Tachi agare Tashika na yokan wo te ni suru made...Ano tobira he...

Furi hodoke Furi hodoke...Furubita senki no kusari wo...Mai agare Mugen ni hirogaru nessa no hate

Furimuku na Furimuku na...Itsuwari ni nurareta kako ni...Tachi agare Shinjita kiseki wo kachitoru made...Ano tobira he...

"Demyx" aku memanggil namanya, reflek ia langsung melihat kearahku

"Zexyyyy! Rapatmu kali ini lama sekali, aku sampai bosan menunggunya, mumumu..." Demyx langsung lari dan memelukku

"Ya, bukankah sudah kubilang untuk pulang duluan?"

"Buu..tapi aku tidak mau pulang sendiri, aku mau pulang bersamamu, Zexy!" Demyx melepaskan pelukannya

"Hai, hai.. ng.. Demyx?"

"Ya?"

"Lagu tadi..hmmm.. sepertinya berbeda dengan lagu yang biasa kau nyanyikan.. biasanya kau selalu menyanyikan lagu yang gembira..sesuatu terjadi?" aku bertanya pada Demyx, membuat dia membuka lebar matanya karena kaget

"Zexy..kau..mendengarnya?"

"Ya, saat aku ingin memasuki kelas, kau sedang bernyanyi..jadi aku tunggu hingga kau selesai menyanyi

"..."

"Demyx?" aku memanggil namanya, namun ia tidak menjawabnya, seperti sedang memikirkan sesuatu.. aku yakin Demyx pasti menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi aku ingin dia menceritakannya langsung padaku, jadi aku membiarkannya. Aku mengambil tasku dan kini menarik Demyx

"Demyx, sampai kapan kau mau bengong? Ayo kita pulang" Demyx mengikutiku dengan gembira dan kami pun pulang bersama pada sore hari itu.

~ Owari ~