DON'T TALK ANYMORE

.

Four

.

.

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

.

M-Preg

.

.

.

"Boleh aku bergabung disini?" Keempat karyawanku mengangguk. Seungkwan, Hansol, Seokmin dan Hara. Kemudian aku duduk setelah meletakkan nampan makan siang ku di meja. Hari ini Manager Park sedang cuti, jadi aku tidak ada teman makan siang.

Menu hari ini adalah sup kimchi. Ini makanan kesukaan Wonwoo-ku. Selain burger.

"Bukankah tadi kalian bersama Wonwoo?" Aku bertanya sambil melahap satu suapan nasi.

"Dia ijin pulang kerumah. Dia bilang putranya sakit. Kasihan sekali." Aku mendengarkan perkataan Seungkwan dengan pura-pura tak perduli.

"Apa dia sering seperti itu? Maksudku, ijin keluar jam kerja." Seungkwan ini penggosip unggul. Banyak bicara. Mungkin beberapa informasi tentang keluarga Wonwoo bisa kudapatkan darinya.

"Dia itu single-mom. Jadi maklum saja dia mengurus sendiri putranya. Putranya juga sering nakal dan berulang kali Wonwoo dipanggil ke sekolah. Anak yang tidak punya ayah ya seperti itu." Benarkan? Dia bicara panjang.

"Single-mom? Tidak punya ayah? Wonwoo sudah pernah menikah?" Seharusnya aku tahu jawaban dari pertanyaan terakhir.

"Sebenarnya dia tidak pernah membahas pernikahannya. Siapa nama suami dan ayah dari putranya, tidak ada yang tahu. Dia terlalu tertutup." Kali ini Hara yang menyahut. Satu-satunya wanita di kerumunan ini mulai ikut membahas kehidupan Wonwoo.

"Omong-omong, Direktur Kim. Sepertinya anda mengenal Wonwoo-hyung sebelumnya. Maksudku sebelum anda dikantor ini. Benarkah?" Hansol termasuk pengamat yang baik. Memang tidak ada yang tahu kalau kami adalah sepasang kekasih sebelumnya.

Wonwoo memintaku merahasiakan apapun hubungan kami di masa lalu.

"Dia seniorku di high school." Aku melahap cepat menu makan siangku. Lalu pergi dari meja itu secepatnya. Kondisinya berubah dari aku yang menanyai informasi tentang Wonwoo menjadi mereka yang menanyaiku tentang hubunganku dan Wonwoo.

Tapi..

Dimana suami Wonwoo?

.

Dia kembali. Aku tidak bisa hanya diam saja tanpa bertanya.

"Wonwoo-hyung, keruanganku sekarang." Ya. Aku atasannya. Jadi sesuka hatiku bisa memanggilnya.

Ia masuk setelah mengetuk pintu dua kali. Aku mempersilahkannya masuk.

"Maaf. Aku terlambat masuk." Dia memang terlambat masuk beberapa menit. Dia melewatkan jam makan siangnya.

"Sudah makan siang?" Tanyaku. Aku mengkhawatirkannya. Dia mengangguk kecil.

"Bagaimana keadaan Taemin?" Dia menatapku. Seakan bertanya dari mana aku tahu kabar itu. Taemin sakit.

"Dia demam dan sudah aku bawa ke klinik. Sekarang ia sedang istirahat dirumah Bibi Nam." Aku suka suaranya. Dia tidak banyak bicara. Bahkan ketika ditanya, dia akan menjawab seadanya. Itu sebabnya ketika dia berbicara agak banyak, aku akan menatapnya lebih lekat.

Dia menunduk. Tidak. Aku tidak mungkin bertanya tentang suaminya sekarang.

"Kembalilah ke meja kerjamu. Makan ini." Aku menyerahkan sebungkus burger kesukaannya. Dia bohong kalau bilang dia sudah makan. Aku tahu itu.

Dia hendak menolak sebelum aku memberikan nada rendah sebagai perintah mutlak. Setidaknya perutnya terisi dengan ini. Dia menerimanya dengan canggung.

.

Aku mencoba menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Sudah begitu larut. Dia lembur lagi malam ini. Aku benar-benar tidak tega.

Kenapa kau harus bekerja sekeras ini, sayang?

Dia menolak sedikit tapi akhirnya patuh dan duduk tenang disampingku.

"Kita menjemput Taemin dulu kan?" Tanyaku sambil menyalakan mesin mobil. Dia mengangguk. Sedikit tersenyum simpul.

Aku melajukan mobil menuju rumah pengasuh Taemin. Keheningan menyelimuti seluruh rongga di mobil ini. Canggung sekali.

"Kau ke Washington?" Aku menoleh sekilas. Membagi fokus dari jalanan dan suara rendahnya.

"Ya. Seminggu setelah kau pergi." Aku menjawab mantap. Dia tahu maksudku.

"Bagaimana kota Washington?" Dia bertanya lagi. Aku sangat suka ketika dia yang memulai pembicaraan. Meskipun masih dilingkupi kecanggungan.

"Mengerikan. Aku lebih suka di Myeongdong." Itu tempat tinggalku waktu aku jadi berandalan dulu.

Dia terkekeh mendengar jawabanku. Ya. Myeongdong yang aku bahas adalah satu ruangan yang sangat kecil. Hanya cukup untuk menampung tubuh tinggiku saat aku tidur. Itu sebabnya aku suka berkali mencari alasan agar bisa menginap di flat kecilnya. Setidaknya itu lebih nyaman. Apalagi bersama dirinya.

Di Washington aku tinggal di sebuah apartemen mewah. Semua kebutuhan terpenuhi. Tapi aku hampa.

"Bagaimana Changwon?" Aku yang ganti bertanya setelah diam beberapa lama tanpa suara.

Dia menunduk lalu menghela nafas berat. Aku meliriknya sekilas.

"Sepi.." Aku tidak paham. Tapi aku diam.

.

Mobilku terparkir di ujung jalan kerumah Bibi Nam. Dia melarangku lagi untuk ikut menjemput Taemin. Tapi kali ini dia cepat menggendong keluar Taemin. Bocah gembil itu tertidur dalam gendongan Wonwoo-ku. Di dahinya masih tertempel plester penurun panas.

"Sudah mau hujan, Mingyu. Antar aku kejalan-"

"Aku tau." Aku memotong perkataannya yang akan menyebutkan alamat rumahnya. Dia tidak terlihat terkejut berlebihan.

Dia mulai memahamiku. Jadi dia tidak bertanya darimana aku tahu alamat rumahnya. Aku melajukan kendaraanku.

Taemin berada di pelukan Wonwoo. Wajahnya pucat. Mata dengan bulu mata lentik itu tertutup.

"Kenapa demamnya belum turun? Padahal dia sudah meminum obatnya.." Wonwoo mengusap peluh kecil di pelipis Taemin.

"Ayo kerumah sakit." Aku tidak butuh persetujuan. Karena Wonwoo pasti tak akan setuju.

Jadi dengan kemauanku sendiri aku memutar arah menuju rumah sakit. Aku ingat tadi dia bilang hanya memeriksakan Taemin ke klinik. Aku tidak bisa percaya pada penanganannya.

Aku mengambil alih Taemin dalam gendonganku saat memasuki rumah sakit. Sudah pukul sepuluh lewat tiga puluh tujuh menit malam. Hujan mulai turun saat kami tiba di rumah sakit.

Dokter bilang kami harus bersyukur cepat membawa Taemin ke rumah sakit. Taemin harus dirawat. Demamnya sudah sangat tinggi. Terlambat sedikit saja, dia bisa kejang-kejang dan aku tak mau membayangkan apa yang terjadi selanjutnya.

Selang dengan cairan bening tertanam di lengan Taemin. Wonwoo duduk disamping putranya itu. Aku tahu dia menahan tangis.

Sudah kubilang dia jarang menangis. Dia akan menunduk dan terdiam untuk menahan air matanya turun. Dia hebat dalam hal itu.

"Terima kasih, Mingyu. Aku akan mengganti biaya pengobatan Taemin secepatnya." Aku baru sadar dia sudah menyebutkan namaku dua kali. Aku ingin berteriak senang.

"Tidak perlu. Aku benar-benar tulus membantu Taemin." Aku mendekatinya. Berdiri disampingnya. Wajahnya kusut sekali. Dia pasti khawatir setengah mati pada putranya.

"Terima kasih. Pulanglah. Ini sudah larut. Aku tinggal disini menjaga Taemin." Dia mendongak dari duduknya. Menatapku teduh. Aku suka tatapannya.

Aku seperti tidak bisa mengendalikan diri. Aku mendekatinya. Lebih dekat dari sebelumnya. Kusentuh pipinya yang halus.

Sungguh aku tak terkendali. Aku menunduk untuk mengecup bibir manis itu dengan gerakan perlahan. Hanya sebuah kecupan yang sedikit lama. Dia memejamkan mata.

Aku melepas kontak bibirku dan bibirnya. Dia membuka mata perlahan lalu menatapku.

Tapi kemudian menunduk.

Ini ciuman pertama kami setelah berpisah. Ciuman pertama setelah menjadi pasangan terpisah. Tapi sensasinya masih sama seperti ciuman pertama kami dulu.

Waktu itu aku ingat aku dan dia berciuman dihalte didepan sekolahku. Kami pulang sedikit larut karena dia mengikuti pelajaran tambahan. Kemudian ketika menunggu bus, hujan tiba-tiba turun. Menyisakan kami berdua diudara yang mendingin. Suasana hening membawa bibirku dan dia bersatu dalam pagutan manis.

Malam ini terasa sama. Diiringi gemericik hujan di luar gedung. Aku menciumnya. Masih dengan perasaan cinta yang sama.

Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana setelah ciuman itu. Kecanggungan makin menyebar. Dia menyibukkan diri mengecupi jemari Taemin.

Aku mencium pria yang sudah menikah.

"Aku akan datang besok pagi. Kau istirahatlah di sofa." Sebenarnya aku masih ingin tinggal disini bersamanya. Dengan dalih menjaga Taemin. Tapi aku juga tahu diri. Jadi aku memilih pulang kerumah.

.

Wonwoo menelponku pagi-pagi untuk mengatakan dia tidak masuk kerja. Taemin sudah membaik dan diperbolehkan pulang siang ini.

Jadi tepat jam makan siang aku buru-buru melajukan mobilku kerumah sakit itu lagi.

Wonwoo sedang mengganti pakaian Taemin saat aku masuk keruang rawat.

Taemin berteriak riang mengetahui keberadaanku.

"Uncle Gyu datang.." aku mendekat untuk mengacak lembut rambut kemerahan milik Taemin. Ku perhatikan Taemin berbeda sekali dengan Wonwoo. Hampir tak ada satupun bagian yang mirip dengan Wonwoo. Hanya mata sipit ketika tertawa yang terlihat sama.

"Hey, anak nakal.. Sudah sembuh?" Aku mencubit gemas pipi gembil Taemin.

"Minie tidak nakal, uncle.." Bocah itu cemberut lucu.

Wonwoo selesai mengancingkan kemeja Taemin lalu beralih melipat selimut rumah sakit. Sesekali melirik kearah candaan aku dan Taemin.

"Kalau membuat Wonu-mom bersedih itu tandanya Taemin anak nakal." Taemin menunduk setelah ucapanku. Bocah bijak berumur tiga tahun ini sangat pintar. Dia sudah mengerti ucapan-ucapan rumit dari orang dewasa.

"Minie ingin meminta sesuatu, Mom.." Taemin menggenggam ibu jari Wonwoo dengan jemari mungilnya. Matanya menatap dengan penuh gurat permohonon.

"Apa yang ingin Taeminie beli sayang? Katakan." Aku memerhatikan cara Wonwoo membelai lembut kepala Taemin. Sangat berkasih sayang.

"Minie ingin bertemu ayah"

Wonwoo terdiam. Dia tampak bingung dan berpikir keras.

Apa Wonwoo menyembunyikan ayah Taemin sehingga ia disebut anak tak berayah?

"Hm. Baiklah. Hari ini kita temui ayahnya Taeminie.." Wonwoo tersenyum manis untuk putranya.

"Ajak Uncle Gyu ya, Mom? Minie ingin mengenalkan pada ayah." Bijak sekali lelaki kecil ini.

Apa aku punya kesempatan untuk bertemu suami Wonwoo?

Bertemu pria yang telah membuat aku terpisah dari priaku.

Bertemu pria yang membuat Wonwoo-ku hidup sesulit ini.

Aku berencana memberi tonjokan di wajah pria itu.

.

Aku mengerut heran ketika Wonwoo mengarahkanku untuk berhenti di sebuah komplek pemakaman.

Taemin turun dengan patuh saat Wonwoo sudah turun. Wonwoo tidak menyuruhku tinggal di mobil. Berarti dia mengijinkanku melihat lelaki itu.

Aku turun lalu mengikuti kedua pria malaikat itu dari belakang.

Taemin tersenyum. Berdendang sedikit sambil melompat. Wonwoo memarahinya yang berlari terlalu jauh didepannya. Dia baru sembuh dari demam.

Aku berdiri lima langkah dibelakang Wonwoo yang berdiri menatap Taemin.

"Selamat siang, Appa. Minie datang bersama Wonu-mom dan uncle Gyu. Uncle gyu sangat tinggi loh. Tapi Minie tidak suka kalau uncle gyu mencubit pipi Minie. Minie tidak nakal…" Bocah itu duduk bersila direrumputan hijau berbicara seakan-akan ayahnya itu dapat mendengarnya.

Ayahnya cuma gundukan tanah yang tinggi dengan batu berukir di ujungnya. Ayahnya sudah mati. Taemin berbicara dengan orang mati. Taemin menemui orang mati.

Itu sebabnya Taemin disebut tak berayah.

Dadaku sesak. Antara ingin menangis atau ingin menyeringai licik.

Aku tak perlu membunuh suami Wonwoo-ku. Dia sudah mati. Langkahku termudahkan.

Aku mendekati Wonwoo yang menatap Taemin dengan senyum kecil. Aku berdiri disampingnya. Tidak berniat bertanya apapun meski diotakku dipenuhi pertanyaan.

Nama lelaki itu. Tulisan yang tertera di batu berukir itu. Ya. Dia bermarga Kim.

Kim Taehyung.

.

.

.

To be Continued

.

.

.

Review untuk chapter 3 kemarin ga bisa terbaca di Ffn. Noona baca yang masuk notif email doang. Ga tau ini kenapa.. T.T Sepertinya emang error dari Ffn nya. Menyebalkan. Noona jadi ga bisa baca ulang review kalian.

Nah, syukurnya tadi pagi waktu cek semua udah terbaca. Noona seneng banget. Makanya diupdate hari ini.

Jangan minta chap-nya panjang2 karena emang saya nge-cut nya di moment yang pas. /ngeles/

.

Hayo siapa yang bener tebakan ayahnya Taemin?

Ada yang bener nebak Taehyung! Wah, kalian hebat.

Tebakan kalian lucu-lucu deh. Noona ngakak sama semua spekulasi kalian. Seneng banget dapet respons yang seperti ini. Terima kasih semuanya.

.

Kim Noona

Thur, 15th Sept 2016