Fanfic pertama saya di Fullmetal Alchemist! Wohoo! *soundepek: jreng jreng jreeeng*
Fullmetal Alchemist hanya milik Hiromu Arakawa-sensei, sapi terjenius yang pernah ada! Kalau FMA punya saya, dijamin bakalan aneh dan jadi enggak masuk akal, serius.
Ini fic random (?), tentang kebahagian-kebahagian para karakter setelah bertarung dengan Father.
Hak milik saya hanya cerita, USB dan laptop doang!
Read, Enjoy and Review!
A Little of Happiness
Fourth Happiness: Liore City ~True and Real~
Sinar cahaya matahari membuat mata gadis itu terbuka. Dia mengusap mata kanannya, lalu membuka kerai jendela yang berada di sisi tempat tidurnya. Pemandangan para rakyat kota yang sedang berusaha membangun kembali kota mereka menyambutnya.
"Oh, pagi, Rose!" salam salah satu dari mereka, dan diikuti oleh yang lainnya dengan senyuman.
"Selamat pagi!" balas gadis itu—Rose—dan tersenyum. "Ah, aku akan segera turun dan menyiapkan makanan. Tunggu ya!"
-A Little of Happiness-
Siang itu sangat terik, terlalu terik. Di kota bernama Liore itu matahari menunjukkan sinarnya yang membuat bulir-bulir keringat menetes di pipi gadis bernama Rose itu. Dia terus melayani teman-temannya yang meminta makanan, dan terus mengembangkan senyumnya.
"Rose, setelah ini kau istirahat saja," panggil pemilik kedai. "Sepertinya kau kelelahan."
"Tidak apa-apa, kok, Paman!" sahut Rose menunjukkan semangatnya. "Aku masih bisa bekerja!"
"Aku tidak tanggung jawab kalau ada apa-apa denganmu, loh," sahut pemilik kedai itu lagi. "Ah, Rose, gulanya habis—"
"Aku tahu. Aku akan segera kembali!" sahut Rose dan berlari riang.
Pemilik kedai itu tersenyum. "Tak kusangka Rose bisa seceria ini. Ternyata, dunia bisa berubah," gumamnya sambil mengaduk-aduk sup.
"Paman, Paman, ini ada surat!" panggil seorang anak kecil di depan kedai. "Dari Amestris!"
"He? Amestris?" ulangnya dan menghampiri anak itu dan mengambil surat beramplop peach itu. Dia membalikkan amplop dan melihat siapa pengirimnya dan tersenyum.
"Sepertinya surat ini isinya kabar bahagia."
-A Little of Happiness-
Rose berlari kecil dengan membawa sebungkus gula di kantung coklat yang dia pegang erat. Dia terus berlari sampai ia berada di depan sebuah pemakaman. Pemakaman dimana kekasihnya terkubur.
Rose menatap gerbang pemakaman itu. Mengingat betapa bodohnya dia waktu itu, percaya kalau kekasihnya itu bisa dihidupkan kembali. Untung saja ada Ed dan Al, kalau tidak—yah, Rose tidak akan mencicipi kebahagiaan yang sebenarnya.
Dia tersenyum, dan kembali berjalan. "Sudah saatnya aku melupakan masa lalu!" sahutnya ceria. "Yang penting, aku masih bisa tersenyum sekarang!"
Rose menyusuri kota, melihat pemandangan kota yang terus menemaninya dari awal dia terlahirkan. Para pria saling membantu membangun kembali kota mereka, para wanita yang membantu dengan menyiapkan makanan, dan bahkan para remaja dan anak-anak tidak ketinggalan membantu.
Memang jika semua ini dilihat oleh orang luar, ini terkesan seperti kota miskin yang mencoba bangkit. Namun, bagi penduduk kota itu sendiri, inilah kebahagiaan mereka. Kebahagiaan nyata yang mereka buat sendiri, dan untuk mereka sendiri.
Itulah kebahagiaan yang nyata. Kebahagiaan yang takkan hilang meski waktu terus bergulir. Kebahagiaan yang tidak bisa dibuat oleh sebuah batu dan pendeta penuh dusta.
"Rose!" panggil pemilik kedai begitu ia melihat gadis itu. "Ini, ada surat dari Amestris!"
"Amestris?" ulang Rose dan menaruh kantung berisi gula di atas meja. "Dari siapa?"
"Tebak saja," jawab pemilik kedai dan memberikkan amplop itu kepada Rose.
Rose menerima amplop itu dan melihat pengirimnya dan tersenyum. "Winry!" sahutnya senang dan membuka amplop itu.
Dia membacanya, surat berisi keadaan Amestris dan Resembool akhir-akhir ini, kehidupannya, mimpi Winry yang tecapai, Ed dan Al yang melanjutkan perjalanan dan…
"HEEE?" teriak Rose kaget dan membuat orang-orang di sekitarnya terkejut. "W—W—W—Winry dan—!"
"Ada apa? Ada apa, Rose?" tanya pemilik kedai kaget. "Kenapa dengan Winry-chan?"
"Di—Dia…" jawab Rose. "Dia dan Edward akan segera menikah dan mereka akan mengunjungi kita!"
Para penduduk terdiam kaget dan tiba-tiba tertawa dalam satu kebersamaan. Kata-kata seperti "Wow, si kacang kecil bisa mendapatkan gadis juga!", atau "Syukurlah! Kukira takkan ada wanita yang mau dengan kacang sepertinya!" keluar dari mulut penduduk. Tawa itu juga mengundang Rose untuk tertawa bersama.
Inilah kebahagiaan di kota kecil itu. Hanya satu kabar baik yang tersiar, maka satu kota tersebut akan ikut merasakan kebahagiaan yang sama. Memang itu sebuah hal yang biasa saja. Namun, bagi kota Liore itu, kebahagiaan kecil itu sangat berharga dan berarti.
Itulah kebahagiaan. Dan kebahagiaan takkan berarti kalau tidak dirasakan oleh orang yang mereka cintai.
We all can make happiness. We all can share happiness. If we can't make and share it, then, it won't be called as 'happiness'.
O-MA-KE
"Aaah! Itu mereka, itu mereka!" sahut salah seorang penduduk saat melihat dua sosok yang mereka nanti-nanti memasuki gerbang kota.
Rose menunjukkan wajahnya. "Winry! Edward!" panggilnya dan menghampiri kedua pasangan itu. "Bagaimana perjalanan kalian?"
"Buruk," sahut mereka bersamaan.
"He?"
"Oh, Rose, asal kamu tahu, si kacang ini tidak bisa berhenti berjalan! Dia terus, terus, TERUS berjalan tanpa henti! Dia kira aku sepertinya yang bisa berjalan tanpa henti?" sahut Winry kesal.
"Hei! Aku tidak memintamu ikut, Winry!"
"Oh, jadi kau menyuruhku tinggal sendirian di hotel? Yang benar saja, Ed!"
"Dasar maniak mesin!"
"Apa? Kau maniak alchemy!"
"APA?"
"APA?"
"KALIAN BERHENTI!" teriak Rose menengahi pertengkaran tanpa bobot itu. "Sudahlah! Ayo, para penduduk sudah menunggu kalian!"
Ed dan Winry saling bertatapan dan akhirnya setuju untuk 'damai sementara'. Mereka berjalan dan para penduduk menyambut mereka.
"Waa! Akhirnya kalian datang!"
"Hei, kacang, akhirnya kau mendapat mendamping juga!"
"Wah, ternyata gadis yang kau pilih boleh juga, kacang!"
"Hei, kacang—"
"Oh, itu si pendek—"
"SIAPA YANG KAU SEBUT SUPER DUPER PENDEK SEPERTI KACANG YANG BISA KAU INJAK SEMUDAH MEMBALIKKAN TELAPAK TANGAN, HAH?" teriak Ed dan mulai 'memburu' orang-orang yang mengatainya.
"Kami tidak berkata sejauh ituuuuu!"
Sedangkan Winry dan Rose hanya bisa menghela nafas dan melihat dari kejauhan. Kejadian seperti ini memang selalu terjadi kalau Ed mengujungi Liore. Untuk selamanya.
The end
Jeng, jeng, jeeeng! Saya kembali lagi dengan chapter yang gaje! Ha-ha-ha! Tanya kenapa saya telat update? Pokoknya salahkan sekolah saya. Salahkan juga soal-soal semesternya bikin kepala puyeng. Makannya chapter ini jadinya engga jelas, omake-nya juga garing banget. Beginilah saya. Kalo stress, kalo engga ngusilin orang, ya, ngetik. Ha-ha-ha!
Oke. Cukup ketawa-ketawanya. Makasih buat yang udah nge-review di chapter sebelumnya! Saya engga bisa sebutin satu-satu dan jawab satu-satu, tapi makasih banget! Buat kalian yang baca doang tapi engga review juga makasih! Semoga kalian menikmati chapter ini ya!
Sebenernya, chapter ini ngeceritain kebahagiaan Rose, tapi setelah dibuat ceritanya, kayaknya lebih enak kalo ini kebahagiaan satu kota Liore. Oh ya btw, aku enggak tahu siapa nama pemilik kedai tempat Rose kerja. Ada yang tahu? Perasaan saya kok fandom FMA jadi agak sepi ya...MARI KITA BANGUN KEMBALI FANDOM INI! *PLAK*
Oke, kalo ingin membantu saya sembuh dari stress, klik tombol imut-imut bertuliskan 'review' di bawah ini, oke? Hua-ha-ha!
Thank you~
