Waahhhh…. Akhirnya chap 4 update…
UTS bikin kepala saya jadi lier lier… jadi daripada pusing belajar mendingan mencurahkan ide di kepala yang mulai luber… ntar klo gk di tulis malah menguap…
Disclaimer : Masih punya yana toboso koq. Kalo Ara yang punya. Ciel nya gk bkal mati.
Genre : Family/ Hurt/ Comfort ( ntar bakal jdi Angst)
Warning : OOC, Banyak typo melanglang buana, cerita mellow tingkat akut, dll( dan lupa lagi)
Don't like don't read!
Happy reading…..
Sebastian pun pamit untuk ke kantornya setelah mengcium kening Ciel layaknya seorang ayah dan mengusap lembut puncak kepala Ciel. Semburat merah muncul di wajah Ciel saat Sebastian memperlakukannya seperti itu. Kemudian lengan Ciel langsung ditarik oleh duo pirang hyperactive yang sepertinya akan berteman akrab dengannya
Lost Hope
Chapter 4
7 Years Later
Sebastian's Office room 15.00 p.m.
Drrrtt… drrrttt… Terdengar getar ponsel yang terletak di meja kerja seorang pria bergaya rambut harajuku. Mata merahnya melirik nama yang terpampang di layer ponselnya. 'Ciel'. Jari-jari rampingnya menyambar benda bergetar tersebut dengan sigap setelah mengetahui siapa si penelpon.
"Ada apa, Ciel?" Tanya Sebastian to the point.
"Aku pulang telat malam ini. Alois dan Lizzy mengajakku mengerjakan tugas bersama." Jawab suara di seberang.
"Baiklah. Jam berapa aku harus menjemputmu? Dan kau belajar di mana?"
"Tenanglah. Aku bukan anak kecil lagi, Sebastian. Aku akan pulang sendiri. Aku sudah SMP, ingat?" tanggapan dari Ciel barusan, membuat seulas senyum tipis di bibir Sebastian.
"Baiklah, Tuan Muda. Tapi jangan lupa pakai sweatermu." Detik setelah Sebastian selesai bicara, telepon ditutup.
Sebastian yang sudah selesai dengan urusan pekerjaannya hari ini, sekarang hanya memandang ke arah luar melalui jendela kantornya. Memandang langit yang mulai dipenuhi awan mendung,. Ia yakin, nanti malam pasti hujan akan turun. Hal itu membuat Sebastian mengingat kejadian yang dialaminya 7 tahun yang lalu. Kejafian yang mempertemukan dirinya dengan malaikat kecilnya, Ciel. Kejadian yang merubah hidupnya yang sepi menjai begitu berwarna setelah kedatangan bocah itu di rumahnya. Sebastian pun mengingat satu persatu kejjadian yang pernah dialaminya bersama si malaikat kecil, dan terhenti ketika mengingat satu kejadian di mana Ciel membuatnya panic setengah hidup.
'Malam ini akan turun hujan. Ciel tak bawa paying atau pun mantel, 'kan? Dia juga tak bilang akan belajar di mana.' Sebastian mulai panik begitu ingat tubuh Ciel gampang sekali sakit. Tanpa pkir panjang, ia menelepon orang yang tengah dikhawatirkannya.
Satu kali. Tidak aktif. Dua kali. Masih sama. Tiga kali. Tetep begitu. Kemudian panggilan diarahkan untuk menghubungi kedua sahabat Ciel. Namun hasilnya sama saja. 'Mereka pasti sudah mulai belajar.' Akhirnya ia menyerah, memilih untuk segera pulang dan memikirkan kemungkinan Ciel berada, di rumah.
Library Center 19.00 p.m.
"Aku duluan, Ciel." Anak lelaki yang dipanggil Ciel kini tinggal sendirian setelah kedua temannya masuk ke dalam limausin yang menjemput mereka. Awalnya mereka mengajak Ciel untuk pulang bersama. Namun Ciel menolak dengan alas an 'Sebastian akan menjemput'. Ia tak ingin mengganggu pasangan duo pirang yang baru jadian itu. Tapi pada kenyataannya, ia meminta Sebastian untuk tidak menjemputnya. Ditambah lagi sekaramg hujan. Setelah mempertimbangkan, akhirnya Ciel memilih untuk menerobos hujan. Bocah biru itu tidak berniat menghubungi seseorang yang bisa membantunya saat ini. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menarik ucapannya siang tadi.
Sementara itu kita beralih ke sebuah sedan hitam yang sedang melaju tak tentu arah dan tujuannya. Sang pengemudi, pria bermata seindah ruby dengan mantel bulunya, kini tengah menyusuri jalanan kota yang tampak sepi karena hujan. Tak ada yang rela mengorbankan tubuhnya untuk sekedar berjalan-jalan. Kecuali untuk sesosok manusia yang kini tengah menjadi pusat perhatiannya. Seorang bocah berambut kelabu yang sedang berlari kecil sambil mendekap tasnya. Wajahnya memucat akibat perubahan suhu atmosfer, suara percikan air terdengar tiap kali ia melangkahkan kaki mungilnya. Hal itu membuat sosok berambut raven yang ada di dalam sedan hitam itu tersentak dan mengejar bocah yang dikiranya adalah orang yang sedang ia cari.
'TIN' Sebastian memukul klakson di setirnya, membuat yang sedang berlari menghentikan langkah dan menoleh ke sumber suara. Matanya sedikit memicing karena sorotan lampu dari sedan hitam itu. Kemudian pandangannya beralih pada sosok yang keluar dari salah satu pitu mobil itu. Sosok tegap itu mendekat… semakin dekat… membuat mata safir itu terbelelek kaget… dan….
"Apa yang kau lakukan? Kau bisa sakit!" Ssebastian menyemprot Ciel dengan kata-katanya, masih di tengah hujan yang mengguyur kota itu. Yang dimarahi hanya bisa tertunduk sambil merasakan dingin yang kini mulai terasa menusuk ke sumsum tulangnya.
Sebastian jarang sekali membentak, marah, atau semacamnya. Hampir tak pernah malah. Tapi kali ini tampak berbeda. Nada ucapan yang kasar dan tinggi, matanya yang memerah, dan cengkeramannya yang kuat saat menarik pergelangan tangan Ciel menuju ke mobil, sedikit banyak membuat si safir merasa bersalah.
Sebastian's Mansion 21.00 p.m.
Seorang maid dengan pakaian maid berwarna merah tampak berdiri kecewa di depan sebuah kanar sambil menopang sebuah nampan berisikan semangkuk sup hangat dan segelas susu.
"Tuan Muda, saya bawakan sup hangat." Entah ini sudah yang ke berapa kalinya Maylene mengucapkan hal yang sama tanpa mendapatkan respon dari pemilik kamar. Namun pintu terkunci di hadapannya tak kunjung terbuka. Kemudian terdengar suara langkah menuju maid merah tersebut.
"Master.."Maylene mendadak gugup begitu Sebastian menghampirinya. " Maaf, Master. Tetapi Tuan Muda tak mau membuka pintu kamarnya." Sebastian menghela nafas begitu mendengar penjelasan Maylene.
"Baiklah. Berikan nampan itu padaku. Kau kembali urus pekerjaanmu yang lain." Sebastian menerima nampan tersebut dan menggantikan peran maid merahnya.
"Maafkan aku, Ciel. Aku tak bermaksud memearahimu. Aku bahkan tidak marah. Karena itu, bukalah pintunya."
Lama Sebastian menunggu tapi tidak ada hasil.
Ciel's PoV
Setelah selesai memakai piyamaku, aku langsung meringkuk di atas kasur. Tubuhku masih sedikit gemetar karena kedinginan, jadi aku menaikkan selimut hingga menutupi kepalaku. Aku masih memikirkan wajah Sebastian yang bisa berubah menjadi seperti tadi. Aku tidak mengerti, tapi yang jelas aku merasa agak… takut.
Aku mendengar suara pintu kamarku di ketuk berkali-kali. Aku yakin, seseorang di balik pintu, entah siapa pun itu, pasti sedang memintaku untuk membuka pintu kamarku. Coba saj ketuk pintu itu sampai jebol. Aku tak akan membuka pintu itu. Aku tidak peduli lagi. Karena tak ada yang peduli lagi padaku. Sejak awal Sebastian mangambilku hanya untuk dijadikan penerusnya karena ia tak mungkin bisa memiliki keturunan. Kalian tahu kenapa? Mungkin lain kali akan kujelaskan. Sekaramg aku sedang tidak ingin membahas tentang Sebastian.
Kenapa di saat aku sudah mulai terbiasa dengan orang-orang di sekitarku, ia malah menunjukkan ekspresi yang paling tak ingin kulihat dari wajahnya padaku? Padahal seharusnya ia tahu, aku tak suka dengan ekspresi macam itu. Aku terlalu lelah memikirkan kejadian yang baru saja terjadi, dan itu membuatku terlelap.
Sebastian's PoV
Kupikir cara ini tak akan berhasil. Aku pun melangkahkan kakiku menuju kamarku yang berjarak dua ruangan dari kamar Ciel. Mengambil kunci duplikat kamar Ciel dan kembali menuju pintu yang akan kubuka tanpa izin dari pemiliknya. Ya, kamar itu juga milikku karena rumah ini milikku.
CKLEK. "Ciel.." aku mulai melangkah masuk ke dalam ruang pribadi 'anak'ku. Ya, Ciel adalah anak angkatku. Anak yang kuangkat untuk menjadi penerusku kelak karena aku tak mungkin bisa memiliki seorang anak. Ya, terkadang cinta itu rumit. Jadi sulit menjelaskannya. Mungkin aku sedikit egois karena menjadikan Ciel korban dari buah cintaku dengan'nya'. Tapi aku tak bisa menolak semua itu.
Aku melangkah menuju gundukan gundukan berlapis selimut tebal yang aku tahu bahwa gundukan tersebut berisi seorang manusia dengan nuansa biru. Gundukkan itu tampak naik turun perlahan. Aku pun menyimpulkan bahwa 'anak'ku ini sudah terlelap. Aku mulai menyibakkan selimut yang dipakainya, dan benarlah dugaanku. Kedua bola safir itu kini telah tergantikan oleh jejeran bulu mata yang begitu lentik. Kuangkat tubuhnya yang kurasa sangat kecil untuk ukuran anak seusianya, membenarkan posisi tidurnya dan menyelimuti tubuhnya kembali. Wajahnya kali ini tidak seperti biasanya. Kali ini wajah tidurnya tampak sangat tertekan. Hal itu membuatku sangat merasa bersalah karena telah melukainya, melukai hatinya.
Aku membaringkan tubuhku di samping tubuhnya dan mendekapnya dengan sebelah tanganku. Mencoba menhilangkan rasa bersalahku, sedikit demi sedikit. Walaupun aku tahu, rasa bersalah itu tak akan pernah kulupakan.
Bersambung…..
Ppppuuuaaahhh….. akhirnya selesai juga ne chapter… thanks bwt smua yang udah review chap gak mutu ini..
Gimana? Masih mo baca?
Makasih banyak kalo masih mo baca fict terlampau mellow ini. Tapi aku usahain ada hepi hepi nya gitu. Ada yang bisa nebak alur ke depannya gak?
Ciel : Mereka mana bisa nebak pikiran author stress kayak loe, hah?
Author : Siapa tau readers lebih stress dr gw n bsa nebak alurnya *digeplak readers*
Sebastian : Yo wes lah. Tolong reviewnya ya readers, supaya fict ini bertahan. Lumayan honornya.
Sampai ketemu di chap berikutnya minna….
