Once Upon a Sleepless Night © Daaro Moltor
Harry Potter © JK Rowling
Alih bahasa oleh neko chuudoku.
.
CHAPTER 4
.
"Kita harus membawamu pada Hermione," ujar Ron ketat, lalu bangkit berdiri.
Harry mengangguk lemah. Sekarang setelah dia tak perlu meyakinkan Ron lagi, kelelahannya kembali saat darah perlahan mewarnai handuk menjadi merah.
"Jangan khawatir, Hermione bisa menyembuhkan ini. Ini cuma luka gores." Dia tak yakin Ron bicara padanya atau bukan. "Pakai celanamu lagi dan kita akan turun, Hermione harusnya sudah kembali sekarang. Dia harusnya sudah kembali dari tadi…" gumam Ron.
Dia bahkan tak sadar bahwa dia masih telanjang, tapi pada saat ini dia tak punya darah mau pun energi untuk benar-benar peduli.
Dia memakai kembali celananya dalam diam, sambil ditopang oleh Ron. Saat dia hendak mengambil bajunya, si Gryffindor satunya menghentikannya.
"Lewatkan saja bajunya, Harry. Kita tak punya waktu untuk sopan santun sekarang," ujar Ron dengan senyuman, tapi kekhawatiran bersinar dari matanya.
Harry mengangguk singkat dan membiarkan Ron menopangnya pada perjalanan turun ke ruang rekreasi.
Seperti yang dikatakan Ron, Hermione ada di sana, dan kelihatannya dia sudah ada di sana untuk beberapa waktu.
"Hermione," panggil Ron dari seberang ruangan, sialnya menarik lebih banyak perhatian dari yang Harry inginkan dalam keadaan separo telanjangnya.
Hermione memandang mereka. Dan mengeryit.
"Harry, kenapa kau tak pakai baju?" tanyanya saat mereka sudah hampir sampai. Ron menurunkan Harry di sofa.
"Lihat pergelangan tangannya alih-alih dadanya, Hermione," ucap Ron, lalu duduk di sofa sebelah Harry.
Hermione terkesiap saat dia melihat handuk berdarah di sekeliling pergelangan tangannya.
"Apa yang telah kau lakukan, Harry!" sembur Hermione, lalu mulai membuka handuknya. "Oh Ron, kau harus mengawasinya dengan benar! Kita ta—"
"Aku tidak melakukan ini pada diriku sendiri, Hermione," sahut Harry lelah. Hermione menghentikan gerakannya membuka handuk.
"Apa maksudmu?" tanyanya serius.
"Keadaan makin parah," kata Ron dari samping mereka.
Mereka berdua menoleh untuk menatapnya.
"Apa itu benar, Harry?" Hermione bertanya dan menatap matanya, seakan menantang Harry untuk berbohong padanya.
"Ya. Aku tak tahu persis apa yang terjadi, tapi entah bagaimana Voldemort mengambil alih tubuhku meskipun aku sedang terjaga. Tak ada yang bisa kulakukan," dia menjelaskan..
Hermione terdiam dan memaku pandangannya pada handuk. Noda darah masih menyebar tapi tidak secepat sebelumnya.
"Kau harus menjelaskan segalanya sebelum aku bisa menyembuhkanmu, kalau tidak aku tak bisa konsentrasi," kata Hermione perlahan.
"Hermione! Tidak bisa begitu! Hidupnya dalam…"
"Ron! Kalau aku tak bisa konsentrasi dengan benar, mungkin aku malah akan melukai Harry alih-alih menyembuhkannya!" balas Hermione.
"Oh…" Hanya itu yang bisa Ron katakan.
"Tak masalah, aku bisa menjelaskannya dengan cepat," kara Harry untuk menenangkan Ron.
Hermione mengangguk untuk menyuruhnya mulai menjelaskan.
"Yah… Setelah kau pergi ke perpustakaan, Ron tertidur dan aku berusaha untuk tidak ikut tertidur, karena aku bisa merasakan Voldemort mengusik isi kepalaku. Jadi sekitar jam lima aku bangun dan pergi mandi untuk tetap terjaga, tapi aku malah berakhir tertidur di sana…" Dia berhenti sesaat, mengingat hal-hal yang dia kira telah dia lupakan. "Tunggu, saat aku menaiki tangga, Voldemort mengatakan sesuatu dalam kepalaku… dia melakukan itu kadang-kadang… sesuatu soal dia akan segera memegang kendali…" Dia tersesat dalam pemikirannya untuk sesaat, sampai Hermione berdeham untuk mendapat perhatiannya.
"Oh, yeah, benar… Aku terbangun karena tanganku sakit. Aku sedang berdiri dan sepertinya aku menonjok cermin… Atau lebih tepatnya Voldemort membuatku menonjok cermin… Pokoknya, saat itulah aku sadar bahwa aku tidak memegang kendali. Dia menggunakan tubuhku untuk memungut salah satu pecahan kaca, lalu mendudukkanku dan memotong pergelangan tanganku. Dia bilang padaku bahwa aku harus mati agar dia bisa mengambil alih tubuhku… Lalu aku mulai melawannya, menang, dan memanggil Ron…"
Dia punya perasaan bahwa bicaranya tidak begitu koheren.
Hermione terdiam beberapa lama. "Ini buruk," ujarnya.
"Aku tahu," Ron setuju.
Harry entah bagaimana merasa tak terlibat padahal yang mereka bicarakan adalah dirinya.
"Harry, entah bagaimana mantra Voldemort mendapat kekuatan. Dan karena kau tidak tidur, kau kehilangan kekuatan. Jelas-jelas dia bisa mengontrol tubuhmu untuk beberapa saat singkat, dan jelas sekali hanya saat singkat itulah yang dia butuhkan. Kita harus lebih hati-hati mulai dari sekarang," ujar Hermione dengan tampang penuh pemikiran.
"Ya, dan itu artinya tak ada pindah kamar buatmu," kata Ron cepat-cepat.
Harry mendesah.
"Aku harus pindah kamar, Ron. Kalian tidak tidur nyenyak selama berminggu-minggu," ucap Harry seraya menggosok kedua mata.
"Tapi—" Ron mulai protes.
"Sebetulnya," Hemione menyela, "aku setuju dengan Harry dalam masalah ini."
"Apa? Tapi barusan kau bilang—"
"Aku tahu apa yang kubilang, Ron, tapi aku perlu bantuanmu untuk penelitian dan kau tak akan bisa membantu kalau kau tidak tidur. Dan lagipula, aku sudah menemukan orang yang cocok untuk mengawasi Harry untuk kita."
Ron menatap Hermione seakan Hermione sinting.
"Kau membuatnya terdengar seolah dia seekor anjing," komentar Ron.
"Ah, kalian para laki-laki memang lamban kadang-kadang!" Hermione mendesah keras. "Aku sudah menemukan Slytherin kita," Hermione menjelaskan.
Ron membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi Harry mendahuluinya. Dia tak tahan dengan komentar jahat Ron sekarang.
"Lalu?" tanyanya ingin tahu.
"Yah, dia laki-laki. Dan aku sudah membuat dia bersumpah setelah beberapa bujukan dan bantuan dari McGonagall dan Snape. Dia yang terbaik, seratus enam puluh tujuh generasi penyihir darah murni, dan itu hanya sejauh yang tercatat. Bila dia masih tak mempan, tak ada orang lain yang bisa." Hermione menghirup napas dalam-dalam. "Tapi poinku adalah kita tak bisa kehilangan dia, apalagi sekarang setelah kita tahu betapa kuatnya mantra ini. Itu artinya kemungkinan besar kau harus tinggal di sini selama libur Natal, Harry, karena perjalanan ke the Burrow mungkin akan membuat dia mundur. Dan kau tidak diizinkan untuk menghina dia, mengerti?" kata Hermione seraya mengacungkan telunjuk ke arah mereka.
"Merlin, Hermione, kami bisa menjaga sikap, kau tahu?" gumam Ron. "Bagaimana pun juga dia cuma Slytherin…"
"'Cuma Slytherin' yang kau sebutkan itu mungkin bisa menyelamatkan hidup Harry." Mata Hermione berkobar.
"Kapan dia sampai kemari?" tanya Harry untuk menghentikan pertengkaran temannya.
"Oh, dia bilang dia akan tiba sebentar lagi," jawab Hermione, lalu menatap jam besar dalam ruangan.
Tepat saat itulah pintu mengayun terbuka dan Slytherin mereka berjalan masuk seakan dia pemilik ruangan. Ruang rekreasi hening. Si Slytherin melihat mereka dan berjalan mendekat.
"Weasel," sapanya. "Granger… Potter…" Si pirang menatap Harry beberapa detik, mulai dari handuk berdarah di sekeliling tangannya hingga dada telanjangnya.
"Granger, kenapa Potter tak pakai baju?" tanya Draco Malfoy.
.
-bersambung-
.
Akhirnya Draco muncul juga /yha.
Btw, FFN sedang kumat lagi ya. Ripiu yang masuk buat chapter 3 masih belum tampil. Ya sudahlah~
:D
