DAZZLING SHADOW
Author: Kusanagi Hikari
Pairing: Baekyeol
Summary: Baekhyun dan Luhan, sepasang adik-kakak yang sangat bertolak belakang. Dimana tiap harinya Luhan selalu menerima pujian dan kasih sayang, Baekhyun selalu menerima cacian dan makian dari orang-orang, termasuk keluarganya sendiri. Sampai pada suatu saat Park Chanyeol, seorang murid pindahan datang ke sekolah mereka dan jatuh cinta kepada Baekhyun.
WARNING: Yaoi, OOC, typo dimana, bahasa ancur, dll
Sekali lagi, Hika sangat berterima kasih kepada kalian semua yang sudah dengan baik hati RCL ^^ Semua komen kalian membuat Hika sangat bermotivasi untuk terus menulis ^^
~~CHAPTER 3~~
Hatinya sakit. Dadanya terasa begitu sesak. Seolah-olah merasakan sebuah tali melingkar di lehernya dan menjerat saluran pernapasannya.
Chanyeol menundukkan kepala, menatap namja yang berada di dekapannya lekat-lekat. Kedua bola matanya tidak berhenti menelusuri wajah Baekhyun yang kini telah tertidur lelap setelah terkena serangan panik tadi. Sosok Baekhyun yang seperti ini… benar-benar menyerupai sosok malaikat baginya. Begitu indah, begitu cantik… namun terlihat begitu rapuh.
Dia menghela nafas dan menyandarkan kepala pada pohon yang disandarinya seraya mengeratkan dekapannya pada Baekhyun.
Melihat wajah Baekhyun yang begitu diselimuti oleh ketakutan seperti tadi… membuat dadanya sakit. Dia tidak suka melihat itu…
Dia tidak mau melihat itu lagi.
Chanyeol mengecup pucuk kepala Baekhyun. Tuhan… mengapa ada yang berniat melukai makhluk ciptaan-Mu yang indah ini?
"Ketua!"
Seruan itu membuat Chanyeol menoleh pada sumber suara dan menangkap sosok Chen dan Xiumin beserta sepupunya berlari menghampirinya.
Sebuah kerutan muncul di dahi Kris melihat sosok Baekhyun, "Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Ada apa dengan Baekhyun-ssi? Apa Baekhyun-ssi terluka?" kali ini Xiumin menyerukan suara, sedangkan Chen tak henti-hentinya menatap Baekhyun dengan tatapan penuh khawatir.
Chanyeol menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, dia tidak terluka… hanya saja, memang terjadi sesuatu."
"Maksudmu?" tanya Kris meminta penjelasan.
"Tadi, aku menemukannya terkunci, atau mungkin dikunci, didalam gudang peralatan olahraga." Perkataan Chanyeol membuat Xiumin dan Chen membelalakkan mata mereka, sementara kerutan di dahi Kris terlihat semakin dalam.
"Mwo?! Siapa yang berani melakukannya?!" kesal Chen.
Namja tertinggi di antara mereka melipat tangan di depan dada, "kemungkinan besar Sulli yang melakukannya… karena dia adalah orang terakhir yang bersama Baekhyun." katanya.
Chanyeol mengangguk, menandakan bahwa dia menyetujui pemikiran sepupunya. "Aku juga berpikir seperti itu. Tapi kita tidak memiliki bukti…" namja itu mengela nafas. "Kalian tahu, aku sangat terkejut saat menemukannya dalam keadaan menangis…"
Saat ini, kedua bola mata Chen dan Xiumin terlihat seolah akan keluar, "Eh? Menangis?!"
"Sssh!" Chanyeol mendiamkan kedua namja yang dengan segera menutup mulut mereka saat Baekhyun tengah mengeluh pelan dalam tidurnya. "Jangan membuatnya bangun…" namja pirang berambut ikal itu terus mengelus kepala Baekhyun.
"M-maaf ketua…" ucap kedua namja itu bersamaan.
"Mengapa dia menangis?" Kris berjongkok di depan Chanyeol, seketika matanya melirik ke arah Baekhyun yang kembali tertidur pulas.
"Aku rasa Baekhyun phobia gelap. Dia terus menangis sambil mengatakan kalau dia takut gelap…" jelas Chanyeol, tidak menggubris tindakan Xiumin yang memukul kepala Chen ketika dia hendak menuliskan info baru di buku catatan personal miliknya mengenai Baekhyun phobia gelap.
"Tapi kau tau apa yang paling membuatku terkejut?" lanjut Chanyeol, "Saat dia menangis, dia terus menyebut nama Luhan, dia mengatakan bahwa dia merindukan Luhan dan dia menginginkan Luhan…"
"Luhan?" tanya Kris sedikit tidak percaya, "Dia mau Luhan? Kakak kandungnya yang bahkan tidak peduli padanya itu? Kau yakin tidak salah dengar?"
"Aku serius Kris. Kau pikir aku tuli?"
"Bisa jadi… otakmu saja tidak beres."
"Aish! Namja sialan!" Chanyeol mengumpat kesal. Dan suara bentakannya membuat Baekhyun kembali mengeluh dalam tidurnya sebelum kedua matanya perlahan-lahan terbuka. Kris menatap tajam Chanyeol yang menyunggingkan senyum bersalah, kemudian dia menoleh kepada Baekhyun.
"Maafkan aku manis, aku membuatmu terbangun ya?"
Baekhyun menatap wajah Chanyeol yang begitu dekat, kemudian mengedipkan mata. Sekali. Dua kali. Sampai pada akhirnya dia membelalakkan mata dan melompat menjauh dari Chanyeol dengan muka yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
Ya Tuhan! Aku tertidur di pelukannya?! Agh! Aduuh… memalukan sekali! Baekhyun terus mengumpat dirinya dalam hati dengan dada berdebar.
Chanyeol hanya tersenyum gemas melihat Baekhyun yang malu-malu seperti itu. Manis, pikirnya.
Baekhyun memutar badannya agar berhadapan dengan Chanyeol dan membungkukkan tubuhnya berkali-kali. "Ma-ma-maafkan aku! Aku seenaknya tertidur! Maafkan aku!"
Namja tinggi itu terkekeh dan mengusap kepala Baekhyun dengan lembut. "Tidak masalah, yang penting Baekkie baik-baik saja."
"Baekhyun-ssi, kau baik-baik saja?" tanya Xiumin cemas. "Ketua menjelaskan bahwa kau terguncang karena phobiamu terhadap gelap."
Baekhyun tersenyum pelan, "Ne, tidak apa-apa. Hanya sekedar ketakutan biasa saja."
"Kau yakin?" tanya Chanyeol cemas, "kami bisa membawamu ke UKS dan menemanimu disana."
Mendengar itu, Baekhyun mengerjapkan mata. "Eh? Aduh… tidak perlu. Aku tidak ingin kalian membolos pelajaran hanya karena aku. Lagipula, kau ini kan murid baru Chanyeol, kalau kau membolos bisa-bisa orang berpikiran jelek tentangmu."
"Cih. Aku tidak peduli dengan omongan orang-orang. Aku hanya mementingkan dirimu, itu saja."
"Kami juga tidak masalah membolos pelajaran! Lagipula, aku dan Xiumin sama-sama tidak menyukai pelajaran Kim Sonsaengnim!" seru Chen.
"Aku sih, sudah sering membolos." Kata Kris.
"Aku mohon, jangan begitu." Pinta Baekhyun, "aku benar-benar tidak enak hati kalau kalian sampai membolos… lagipula aku sudah tidak apa-apa."
Melihat ekpresi Baekhyun yang terlihat begitu memelas membuat Chanyeol tidak tega. Tentu saja dia mengkhawatirkan kondisi Baekhyun, namun dia benar-benar tidak kuat apabila Baekhyun sudah menatapnya seperti itu. "Ya sudah kalau begitu, kita kembali ke kelas ne?"
Chen dan Xiumin terlihat kecewa seketika karena rencana membolos pelajaran Kim Sonsaengnim dibatalkan. Kris menoleh Baekhyun, "Berjanjilah kau akan bilang pada Chanyeol apabila kau tidak enak badan."
Baekhyun sedikit tertegun, "I-iya Kris-ssi."
Apakah mungkin Kris mengkhawatirkannya?
.
.
.
Brak.
"Yah! Kenapa kalian baru datang?!" terikan Choi Sonsaengnim memenuhi ruangan kelas ketika mendapati kedua muridnya berdiri di depan pintu masuk.
"Maafkan kami Sonsaengnim. Tadi Baekhyun sempat sakit, jadi saya harus menemaninya di UKS." Jelas Chanyeol sambil membungkukkan tubuhnya beserta dengan Baekhyun.
Choi Sonsaengnim mendecak kesal. "Ya sudah, duduklah." Dia menyuruh Chanyeol untuk kembali pada kursinya sebelum menoleh pada Baekhyun, "Kau tidak boleh duduk. Berdirilah di luar kelas."
Semua murid dikelas terkekeh mendengarnya dan Baekhyun sedikit tersentak, sementara Chanyeol mengerenyitkan keningnya. "Mengapa Baekhyun tidak boleh duduk Sonsaengnim?"
Choi Sonsaengnim menoleh kepada Chanyeol, "Aku hanya menginzinkanmu duduk karena kau adalah murid baru disini. Semua murid yang terlambat dikelasku harus berdiri di luar kelas sampai pelajaranku selesai."
"Tapi Sonsaengnim… Baekhyun sedang tidak enak badan." Protes Chanyeol, dan melihat hal itu, ada perasaan senang dan khawatir bersatu di dalam hatinya. Senang karena Chanyeol begitu perhatian kepadanya, dan khawatir karena dia tidak ingin Chanyeol ikut dimarahi oleh Choi Sonsaengnim karena dirinya.
Baekhyun menepuk lengan Chanyeol dan berbisik, "Sudah Chanyeol, tidak apa-apa…" namun namja itu tidak memperdulikan perkataannya dan dia hanya dapat mendesah. Di ujung penglihatannya, dia dapat melihat Luhan dan entah apa yang merasukinya, dia menoleh agar dapat melihat wajah kakaknya lebih jelas.
Mata mereka saling berpautan. Luhan menatapnya tajam, membuat hatinya bergemuruh oleh rasa sakit. Baekhyun berusaha mengalihkan pandangannya, namun entah mengapa saat ini dia sulit sekali melakukannya. Seolah-olah dia tengah sibuk mencari sesuatu di bola mata kecoklatan milik Luhan.
Saat menatap Luhan lekat-lekat seperti ini, Baekhyun benar-benar mengerti mengapa orang-orang jauh lebih menyukai Luhan dibandingkan dirinya. Kecantikan kakaknya terlihat sangat jelas, bahkan anak kecilpun pasti mengenal keindahannya. Rambut coklat kemerahannya yang tertata rapi, kulitnya yang putih, dan wajahnya yang manis itu… wajar saja jika semua orang terpikat padanya.
Dia dan Luhan… memang sangat berbanding terbalik. Dia tidak akan mungkin bisa selevel dengan Luhan.
"Aku tidak peduli. Baekhyun terlambat, dan dia harus menerima konsekuensi atas kesalahannya. Aku tidak peduli dia sakit atau tidak." Kata-kata Choi Sonsaengnim menyadarkan Baekhyun dari lamunannya dan dia menoleh pada Chanyeol dan Choi Sonsaengnim, memutus kontak pandangan antara dirinya dan Luhan.
Chanyeol terdiam, menatap guru dihadapannya dengan tatapan tajam sebelum dia meraih tangan Baekhyun. "Kalau Sonsaengnim akan menghukum Baekhyun, saya juga akan menjalankan hukuman itu bersama dengan Baekhyun. Lagipula kami berdua sama-sama terlambat. Tidak masalah kan?"
Choi Sonsaengnim terlihat terkejut mendengar hal itu sedangkan seisi ruangan kelas bergema oleh bisikan-bisikan para murid. Dan Baekhyun? Matanya membelalak begitu lebar mendengar pernyataan Chanyeol.
"Ch, terserah kau saja." Guru itu mendecak kesal.
Chanyeol membungkukkan kepala untuk terakhir kali sebelum menyeret Baekhyun keluar dari kelas. "C-Chanyeol!" Baekhyun memanggil nama namja itu, namun Chanyeol hanya terdiam dan menutup pintu kelas sebelum kembali menyeret Baekhyun.
"Chanyeol! Mau kemana?!" protesnya, berusaha melepaskan cengkraman Chanyeol. Namun namja itu menggenggamnya begitu erat. "Cha—"
Grep.
Baekhyun membelalakkan matanya saat Chanyeol secara tiba-tiba memeluknya erat.
"Chan—"
"Aku tidak suka…"
"Eh?"
"Aku ingin sekali menghajar wajah guru itu." Bisik Chanyeol lagi, membenamkan wajahnya dileher Baekhyun.
Baekhyun terdiam sesaat sebelum dia menyentuh lengan Chanyeol. "Jangan begitu Chanyeol… Lagipula memang aku yang salah karena terlambat saat pelajarannya."
Chanyeol memundurkan tubuhnya agar dapat memandang wajah Baekhyun lekat-lekat. "Tapi aku sudah menjelaskan padanya bahwa kau sakit. Tapi dia tetap saja tidak peduli. Bukankah itu menandakan bahwa dia memang guru brengsek?"
"Chanyeol! Jangan membicarakan Sonsaengnim seperti itu!" protes Baekhyun. "Lagipula, Chanyeol juga berbohong pada Sonsaengnim kan? Aku tidak sakit, tapi mengapa kau mengatakan bahwa aku sedang sakit?"
Wajah Chanyeol sangat terkejut, benar-benar kaget karena Baekhyun tengah memarahinya. Otaknya secara otomatis memerintahkannya untuk mengucapkan kata maaf untuk menghilangkan kerutan di kening Baekhyun. Tapi untuk apa dia harus meminta maaf demi guru sialan seperti itu.
Akhirnya Chanyeol melanjutkan perdebatan mereka, "Tapi pada kenyataan kau memang sakit kan."
Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Sudah kukatakan aku baik-baik saja. Itu hanya sekedar phobia saja Chanyeol."
"Aku tidak membicarakan soal phobiamu Baekkie." Chanyeol menyilangkan kedua lengan di depan dada kemudian melanjutkan, "Bukankah hatimu sakit?"
Baekhyun mengerutkan kening kebingungan, "Maksud Chanyeol?"
Chanyeol terdiam. Namja itu mengulurkan tangan dan membelai lembut pipi Baekhyun dengan punggung tangannya. "Kau sakitkan ketika Sulli menguncimu? Kau sakitkan saat anak-anak menertawaimu di kelas barusan? Siapapun pasti akan merasa sakit ketika direndahkan oleh orang-orang. Terutama oleh kakak kandungnya sendiri."
Namja pendek itu membatu seketika mendengar perkataan Chanyeol. Perkataan yang tepat menusuk hatinya. Bukan, bukan karena Chanyeol telah mengatakan hal yang buruk kepadanya. Tapi karena Baekhyun menyadari persis bahwa perkataan Chanyeol itu benar. Dan dia sedikit takut karena saat ini Chanyeol bisa memahami isi hatinya.
"Aku… sudah terbiasa." Balas Baekhyun pelan.
"Terbiasa, mungkin secara fisik. Tapi tidak disini," Chanyeol mengambil satu langkah mendekati Baekhyun dan menunjuk dadanya, "perasaan manusia itu lemah Baekkie."
Baekhyun menundukkan kepalanya. "Aku tidak masalah. Lagipula sudah sepantasnya—"
"Hentikan." Dengan cepat Chanyeol memotong ucapannya dan menarik Baekhyun dalam dekapannya. "Hentikan menjelekkan dirimu sendiri Baekkie. Aku tidak suka mendengarnya."
Baekhyun menyandarkan kepalanya pada pundak Chanyeol, menikmati setiap kehangatan yang ditawarkan oleh namja tinggi itu. Entah mengapa dia merasa sangat lelah. Otaknyapun kacau. Dia ingin segera pulang dan membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk yang selalu setia menjadi tempat sandaran hatinya.
Dia lelah dengan semua ini.
.
.
.
Rasanya seperti baru saja dia mengenal Baekhyun, Kris, Chen dan Xiumin. Namun, jika sekarang ada seseorang bertanya siapakah orang yang berarti bagi Chanyeol, namja itu tidak akan ragu-ragu memasukkan nama keempat orang itu kedalam list-nya. Saat ini mereka berada di dalam kelas Baekhyun dan Chanyeol yang sudah kosong, dan lihatlah, namja pirang berambut ikal itu bercanda dengan Chen dan Xiumin dan sebuah cengiran lebar menghiasi wajah tampannya. Seolah-olah mereka adalah teman lama.
Namun Chanyeol merasa ada yang aneh. Oke, pada umumnya Kris memang orang yang pendiam. Meskipun Chanyeol akan melontarkan candaan yang membuat Chen dan Xiumin terbahak-bahak, Kris pasti hanya akan memutar bola matanya malas.
Baekhyun, meskipun dia termasuk orang yang pendiam dan pemalu, setidaknya dia akan tertawa kecil mendengar lawakannya. Tapi lihatlah namja mungil itu sekarang. Dia hanya duduk terdiam dengan pandangan kosong dan ekspresi yang begitu datar. Tidak seperti Baekhyun yang biasanya. Dan itu membuat Chanyeol cemas.
" Baekkie?" Chanyeol berlutut di depan Baekhyun, mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun. "Kau baik-baik saja?"
Namja tersebut mengedipkan matanya. "Ah… ne, aku baik-baik saja." Baekhyun mengulaskan sebuah senyuman, namun Chanyeol tahu ada sesuatu yang tidak ingin dibicarakan olehnya.
"Yah, Park Chanyeol." Sahut Kris, membuat Chanyeol menoleh kepadanya, "Sampai kapan kau mau terus bercanda? Kau bilang kau ingin mengatakan sesuatu."
"Oh iya, aku sampai lupa." Chanyeol berdiri seketika sebelum menghadapi teman-temannya. "Aku ingin membahas tentang misi pertama kita. Yaitu meng-makeover penampilan Baekhyun."
Chen dan Xiumin bersorak dengan semangatnya. "Ketua! Bolehkah aku yang melakukan perawatan kulitnya agar kulit Baekhyun-ssi terlihat lebih putih dan mulus?" tanya Chen sambil mengangkat tangannya.
"Aku akan mengurus make-upnya!" seru Xiumin.
Chanyeol mengedipkan matanya melihat keantusiasan mereka berdua. "Er… boleh saja. Tapi yang saat ini ingin kubahas adalah meng-makeover yang sederhana-sederhana saja."
"Kalau begitu, bagaimana dengan mengganti model rambutnya?" ucap Kris menyarankan yang saat ini tengah bersandar pada dinding sambil menyilangkan kedua lengan didepan dada. "Bukannya aku mengatakan rambut jamur Baekhyun itu aneh. Hanya saja di zaman sekarang model rambut sudah sangat bermacam-macam. Mungkin kita bisa memilih model rambut yang lebih cocok untuknya."
Chanyeol menyunggingkan sebuah senyuman yang lebar. "Wah! Ide bagus Kris! Kau memang Wakil Ketua yang baik!" ucapnya mengacungkan jempol. "Lalu, kira-kira model rambut seperti apa yang cocok untuk Baekkie kita?"
"Bagaimana kalau model rambut seperti Super Junior Ryewook?" usul Xiumin.
"Jangan! Terlalu panjang untuk Baekhyun-ssi!" protes Chen.
Chanyeol menopang dagu dengan tangannya, terlihat berpikir keras. "Ah! Bagaimana kalau—"
"…Hentikan."
Suara itu membuat Chanyeol berhenti berbicara dan menoleh pada Baekhyun. "Eh?"
Kepala Baekhyun yang sedari tadi terus menunduk secara perlahan terangkat dan kedua matanya berpautan dengan Chanyeol. "Kita hentikan saja semua ini…"
Chanyeol membatu seketika. Dia tidak tahu arah pembicaraan Baekhyun, tetapi dia berusaha bersikap sewajar mungkin, meskipun hatinya merasa sangat gelisah dengan tatapan Baekhyun yang terlihat sangat menyerah seperti itu. "Maksudmu?"
Baekhyun terdiam, dia merasa takut dan sedikit merasa bersalah jika harus meneruskan omongannya. "M-maksudku… hentikan kegiatan kalian yang berusaha mengubahku ini. Hentikan… klub ini."
Chanyeol, Xiumin, dan Chen membelalakkan mata mereka bersamaan. Kris memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menatap Baekhyun datar.
Ini… Inilah yang Chanyeol takutkan saat melihat tatapan Baekhyun seperti itu. "K-kenapa Baekkie? Apa kami berbuat salah padamu?Apa ada sesuatu hal yang kami lakukan—"
"Bukan. Ini bukan kesalahan kalian." Dengan cepat Baekhyun memotong pembicaraan Chanyeol sebelum namja itu terus menyalahkan diri yang pada akhirnya hanya akan membuat Baekhyun merasa semakin bersalah. "Aku hanya tidak ingin kalian repot-repot melakukan sesuatu untukku…"
"Tapi Baekhyun-ssi, kami melakukan ini kan atas kemauan kami sendiri!" ucap Chen.
"Aku tahu itu…" Baekhyun menghela nafas dan mengepalkan kedua tangannya. "Tapi apa gunanya jika kalian bersikeras melakukan sesuatu yang tidak akan ada hasilnya?"
Xiumin mengerutkan keningnya, "T-tapi Baekhyun-ssi kan belum tahu…"
"Kalian semua tahu apa yang terjadi padaku tadi bukan?" satu persatu Baekhyun menatap mereka. "Kalian lihat bagaimana aku diperlakukan? Dan itu terjadi hanya karena telah dibentuknya klub ini. Bagaimana jika semakin kita berusaha, maka semakin besar pula masalah yang akan timbul? Bagaimana jika suatu saat aku akan ditenggelamkan ke kolam renang sekolah?"
"Seberapa keras usahaku… kemanapun aku pergi, semuanya sama saja…" Suaranya sedikit bergetar, seolah ada sesuatu yang naik ke tenggorokannya dan membuatnya sulit berbicara. Ada nada kesakitan dalam suara Baekhyun dan hal itu membuat hati Chanyeol tercabik.
"Kau… kau tidak sungguh-sungguh berpikir seperti itukan Baekkie?" namja pirang berambut ikal itu menelan ludahnya, berjalan menghampiri Baekhyun dan menyentuh kedua pundaknya yang entah mengapa terasa begitu rapuh. "Aku sudah berjanji padamukan? Aku sudah berjanji akan membuatmu bersinar. Karena itu… kau juga tidak boleh menyerah semudah ini."
Chanyeol menatap bola mata Baekhyun lekat-lekat, dan hatinya tercabik semakin dalam melihat mata indah itu bergelinang air mata. "Aku… tidak mau mencari masalah Chanyeol… Kalau orang-orang semakin membenciku karena aku mencoba untuk berusaha, aku lebih memiliih tetap menjadi bayangan Luhan-hyung saja…"
Brak!
Kris yang sedari tadi hanya terdiam tiba-tiba saja menjadi pusat perhatian saat dia menendang kursi secara kasar hingga tergeletak di lantai. Kedua mata tajamnya menatap Baekhyun dengan marah, dan jujur saja, hatinya terasa begitu sakit.
"Geure, kalau memang itu maumu. Terserah kau saja." Memang Kris tidak mengucapkan kata-kata yang kasar padanya, namun entah mengapa dia merasa sangat terpukul oleh kata-kata itu. Nada bicaranya begitu menyakitkan dan Baekhyun dapat merasakan setiap kekesalan yang tersirat didalamnya.
Tapi bukankah memang itu yang dia inginkan?
"Hoi, Kris! Mau kemana kau?!" Chanyeol berteriak pada Kris yang berjalan menuju pintu. Langkah sepupunya terhenti mendengar Chanyeol memanggilnya.
Kemudian, tanpa menoleh dia menjawab. "Klub ini sudah bubar. Tidak ada alasan bagiku untuk tetap terus disini kan?"
Chanyeol mengerenyitkan alisnya, menatap kepergian sepupunya. "Kris…"
Baekhyun menundukan kepala, tidak mampu melihat tatapan Chanyeol, Chen, dan Xiumin yang tersirat dengan kekecewaan dan Xiumin. Dia tahu jelas bahwa dialah alasan mereka seperti ini.
Diulurkan tangannya untuk mengambil tas yang tergeletak di atas meja sebelum dia bangkit dari kursinya. "Maaf, aku pulang duluan…" dia berjalan melewati Chen dan Xiumin, tidak mengadahkan tatapan mereka yang seolah memohon kepada Baekhyun untuk tetap tinggal.
Namun saat dia berjalan melewati Chanyeol, sebuah tangan mencengkram tangannya dengan erat, dan Baekhyun tidak perlu menoleh untuk mengetahui bahwa pemilik tangan itu adalah Chanyeol. Dia telah mengenal bagaimana sentuhan tangan Chanyeol. "Chanyeol… tolong lepas…"
"Baekkie…" suara namja tampan itu terdengar lirih, memberikan sebuah sayatan di permukaan hati Baekhyun.
"Aku… ingin sendiri…"
Chanyeol menahan diri untuk tidak memeluk punggung Baekhyun yang terlihat begitu kesepian. Dia tahu, saat ini pikiran Baekhyun sedang kacau dan dia harus menghargai keinginannya. "Baekkie… lihat aku…"
Namun Baekhyun masih tidak bergeming. Chanyeol menghela nafas pasrah. "Baik… tidak apa kalau Baekkie tidak mau melihatku. Asal kau dengar baik-baik perkataanku…"
"Kau tidak sendirian."
Baekhyun membelalakkan matanya. Hatinya bergetar dan berdegup begitu kencang. Dia membuka mulutnya, hendak membalas perkataan Chanyeol. Dia berusaha mengumpulkan perkataan yang berceceran di rongga mulutnya, menyatukannya menjadi satu. Namun entah mengapa tidak satu katapun mampu dia keluarkan.
Chanyeol menatap sendu namja manis yang masih berada dihadapannya. Dengan perlahan dan ragu, dia melepas tautannya pada tangan Baekhyun. Melihat sosok Baekhyun yang langsung pergi meninggalkannya itu bagaikan sebuah tamparan di pipinya dan dia hanya mampu terdiam disitu, menatap kepergian Baekhyun dengan nanar.
"Ketua…" Chanyeol menoleh pada Xiumin yang memanggilnya. "Apa Ketua… akan membiarkan Baekhyun-ssi begitu saja?"
Chanyeol tersenyum tipis, namun terlihat jelas bahwa dia juga merasa terluka. "Mau bagaimana lagi…" jawabnya sambil berjalan menuju mejanya dan menyambar tas sekolahnya dan tas sekolah Kris. Namja tinggi itu berdiri menghadap kedua temannya. "Dia sendiri yang memintaku untuk meninggalkannya sendirian…"
Chen mengerenyitkan keningnya, "Tapi Ketua…"
"Tentu saja aku hanya akan membiarkannya sementara, karena dia terlihat membutuhkan waktu untuk sendiri saat ini. Tidak mungkin kubiarkan dia sendirian. Dan…" dia menepuk pundak Chen dan Xiumin, "Baekhyunku… bukan orang yang mudah dijatuhkan begitu saja."
Jujur saja, Chanyeolpun juga tidak begitu mengerti Baekhyun. Dia tidak bisa membaca isi hati dan pikiran Baekhyun. Tapi dia tidak ingin membuat Chen dan Xiumin juga mengkhawatirkan keadaan namja manis itu.
"Kalian pulanglah, aku ingin mencari Kris terlebih dahulu." Setelah tersenyum kepada Chen dan Xiumin untuk terakhir kalinya, dia berjalan keluar kelas.
.
.
.
Suara decitan sepatu Kris menggema di aula olahraga setiap kali dia berlari melewati lapangan basket itu, beriringan dengan suara pantulan bola basket yang digiringnya. Dia melompat tinggi, kemudian melakukan dunk, membuat ring basket bergetar hebat atas benturannya. Ketika kedua kakinya menapak dilantai, dia menyeka keringat di keningnya.
"Cih…" umpatnya pelan. Tak jelas kepada siapa.
Dia kesal.
Kris memang tidak mengenal Baekhyun. Bahkan, dia baru mengenal pemuda itu kemarin. Dia tidak mengetahui apapun tentang Baekhyun. Tapi meskipun begitu, dia telah mengenal Baekhyun bahkan sebelum bertemu dengannya kemarin—walau hanya sedikit.
Siapa yang tidak mengenal adik dari Byun Luhan? Siapa yang tidak mengenal sosok yang terkenal dengan sebutan 'bayangan Luhan' itu?
Pada awalnya, dia sama sekali tidak memperdulikan mengenai omongan-omongan itu. Saat pertama kali dia melihat sosok Baekhyun—yang begitu kecil dan terlihat rapuh—dan hanya mampu menundukkan kepala tiap kali mendengar orang-orang merendahkan dirinya, Kris berpikir bahwa Baekhyun tidak lebih dari seorang murid biasa yang akan selalu tertindas. Layaknya di setiap film yang pernah dia tonton, di mana ada yang kuat, disitu pasti ada yang lemah selalu tertindas.
Namun, semua anggapannya mengenai Baekhyun berubah ketika pada suatu hari dia melihat Baekhyun menyunggingkan senyum kepada seorang nenek tua yang telah dia bantu untuk menyebrangi jalan. Senyuman yang menurutnya begitu tulus dan begitu bersinar.
Dan semua anggapan semakin tersapu habis tiap kali dia melihat Baekhyun selalu kembali mengangkat kepalanya meskipun orang-orang tetap merendahkan dirinya. Saat itulah, Kris menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih dari seorang Byun Baekhyun. Dia tidak hanya sekedar bayangan dari Luhan. Kris bisa melihat itu.
Dimatanya, Baekhyun adalah orang yang sangat sabar dan teguh. Selain itu dia juga baik dan polos. Kris tahu, Baekhyun bisa terus bertahan karena sifatnya itu.
Karena itu Kris tidak pernah menyangka ucapan-ucapan yang begitu merendahkan itu akan keluar dari mulut Baekhyun. Dia tidak pernah menyangka bahwa Baekhyun melihat dan menilai dirinya sendiri serendah itu.
Dan itu membuatnya kesal.
Tapi mengapa? Apa karena dia kesal karena dipikirannya Baekhyun adalah orang yang kuat? Atau karena ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Baekhyun itu tidak pantas diucapkan? Atau dia kesal karena—
Kris menghela nafas dan memejamkan mata.
Atau dia kesal karena dia tidak mampu berbuat apa-apa saat Baekhyun merapuh?
"…Cih…Kenapa aku kesal seperti ini sih?" tanyanya pada diri sendiri.
"Kesal kenapa?" suara berat itu membuat Kris menoleh. Dia hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Chanyeol yang berjalan mendekatinya.
"Mau apa kau?" Kris berjalan dan mengambil bola basket yang sedari tadi dia biarkan terdiam di lantai.
Chanyeol menghela nafas kemudian melemparkan tas milik Kris ke lantai. "Kau meninggalkan tasmu."
"Oh."
"Hanya itu? Tidak ada ucapan terima kasih? Aish… dasar namja tak tahu diuntung."
Bola basket yang berada ditangannya kini dilempar menuju ring basket. Namun karena Kris juga melemparnya secara asal, bola basket itu membentur ujung ring dan tidak berhasil masuk.
Kris segera melemparkan tatapan tajam pada sepupunya. "Jangan bercanda denganku Yeol. Aku sedang tidak mood. Pulanglah."
Chanyeol menatap Kris yang kembali mengambil bola basket sebelum memantul-mantulkan bola itu ke lantai. Kemudian dia mengayunkan lengannya agar tas sekolahnya tertopang dibahunya. "Kau mengkhawatirkan Baekhyun?"
"…Tidak." Jawaban itu tidak dilontarkan Kris secara langsung, seolah-olah butuh waktu bagi Kris untuk memikirkan jawabannya. Dan pada saat detik itu juga, Chanyeol tahu bahwa sepupunya berbohong.
Chanyeol menatap Kris, bibir tipisnya sedikit terangkat ke atas. "Kau bisa menipu orang lain, tapi kau tak bisa menipu sepupumu sendiri Kris. Mengapa kau tidak mengaku saja kalau kau memang mengkhawatirkan Baekhyun? Kau bukan satu-satunya yang mengkhawatirkan Baekhyun. Aku, Chen, dan Xiuminpun mengkhawatirkannya."
Kris terdiam, tangannya berhenti memantul-memantulkan bola basket. "Entah mengapa mendengarnya berbicara seperti itu membuatku…" namja itu berhenti berbicara, berusaha mencari kata-kata yang tepat, "…kesal." Lanjutnya.
"Aku mengerti perasaanmu." Chanyeol berjalan menghampiri sepupunya, merangkulnya dan menaruh dagunya di atas bahu Kris. "…aku pun begitu, hatiku sakit mendengarnya. Begitu merendahkan dirinya sendiri…"
Biasanya, Kris akan selalu mendorong Chanyeol jauh-jauh saat namja ini bergelayutan padanya. Namun untuk kali ini dia membiarkan Chanyeol. Dia tahu sepupunya membutuhkan suatu kontak saat-saat seperti ini. "Lalu? Sekarang mau bagaimana?"
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya, "Maksudmu?"
"Baekhyun ingin kita berhenti membantunya, lalu bagaimana? Kita ikuti omongannya?"
Namja berambut ikal itu menjauhkan dirinya dari Kris, menatap sepupunya dnegan kerutan di kening. Dia mendengus kesal, kemudian memukul kepala Kris.
"Ugh! Kau gila?! Mau kubunuh eoh?!" geram Kris, tatapan yang tajam itu terlihat begitu siap menikam Chanyeol. Namun namja itu tidak bergeming dan terus menatap Kris dengan kesal.
"Kau yang gila!" Chanyeol membalas tak kalah keras dan mencengkram kerah baju Kris. Namja tertinggi di antara mereka berdua itu terlihat sangat murka, tapi dia memilih untuk diam karena dia tidak mau mencari masalah dengan Chanyeol. Lagipula, Chanyeol hanya akan terlihat sangat marah hanya pada saat dia bersikeras meluruskan hal yang salah. Berbeda dengan dirinya yang temperamental.
"Setelah melihatnya seperti itu, kau benar-benar berpikir kita akan meninggalkannya begitu saja?! Bukankah jelas dia membutuhkan seseorang untuk terus membantunya berdiri?! Selain kita, siapa lagi yang akan membantunya?!" pemuda itu terus membentak. Dia benar-benar kesal. Bukankah Kris yang seharusnya lebih pintar darinya? Mengapa dia berpikiran begitu dangkal?
Kris benar-benar terpaku dengan ucapan Chanyeol. Bukan karena Chanyeol membentaknya, tapi karena semua kata-kata yang dilontarkan namja didepannya ini terasa begitu membuka mata.
Setelah beradu mata, Chanyeol melepaskan genggamannya dan mendengus kesal. "Baekhyun… tidak sekuat yang kubayangkan… dan aku tidak akan meninggalkannya sendiri. Tidak sampai aku menyelesaikan janjiku padanya."
Chanyeol selalu berbicara apa adanya, dia selalu jujur pada perasaanya sendiri dan dia sangat peduli dengan orang yang benar-benar dia cintai. Chanyeol selalu tersenyum begitu lebar, begitu besar, dengan kedua mata coklatnya yang bersinar dan api determinasi yang tak pernah padam. Kris sudah tak mampu lagi menghitung berapa kali ucapan Chanyeol berhasil menyihirnya, seolah-olah terdapat bubuk peri terselip di balik setiap kata-katanya. Terlalu banyak, terlalu sering, sehingga yang dapat dia lakukan hanyalah menghela nafas dan mengikuti ucapannya.
Kris menyunggingkan sebuah senyum kecil, "Kau ini… benar-benar gombal."
Namja pirang berambut ikal itu mengedipkan matanya sebelum dia tertawa renyah. "Hah, sudah kuduga… ini baru sepupuku! Jadi…?"
"Mau bagaimana lagi," Kris mengangkat bahu, berjalan untuk mengambil tasnya yang tergeletak dilantai sebelum berdiri menghadap Chanyeol, "kau sudah menyeretku sejauh ini."
Chanyeol mencibirkan bibirnya dan menyilangkan kedua lengan di depan dada. "Cih, kau tidak pernah mau jujur. Bilang saja kau juga ingin menolong Baekhyun."
Kris menyeringai kecil kepada Chanyeol. "Kalau aku bilang begitu, nanti kau cemburu."
Chanyeol benar-benar terpaku mendengar balasan Kris yang kini sudah berjalan menuju pintu keluar.
Harusnya dia cemburu mendengar Kris berbicara seperti itu, tapi kecemburuannya kali ini tertutupi oleh rasa bangga karena untuk pertama kalinya, dia mendengar Kris berbicara jujur. Chanyeol mengenal jelas bahwa Kris adalah orang yang tertutup dan sulit sekali untuk jujur, terutama dengan perasaannya sendiri.
Dengan sebuah senyuman lebar, dia berlari menghampiri Kris. "Hei! Tunggu!"
.
.
.
Mentari telah melangkah pergi dan membakar langit, menebarkan bara api ke sekujur bumi. Kuas merah mulai menorehkan panasnya, mempersilahkan kehangatan untuk terakhir kalinya bersentuhan dengan dunia, sebelum pada akhirnya tergantikan oleh kebekuan malam yang panjang.
Baekhyun menarik napas dan terus melangkahkan kakinya yang terasa begitu berat menuju jalan pulang. Namja pendek itu sedang mengagumi bagaimana dedaunan di tiap pohon menari-nari saat tertiup angin. Namun pikirannya terombang-ambing, terus mengulang-ngulang kejadian tadi di kepalanya.
Bukankah ini yang dia inginkan? Membuat dirinya menjauh dari mereka karena dia tidak ingin mereka merasa sia-sia untuk bersamanya?
Tapi mengapa hatinya sakit dan terasa hampa?
Dia ingin menghancurkan perasaan menyebalkan ini, ingin membuangnya kesuatu tempat atau bahkan menggali sebuah lubang dan menguburnya dalam-dalam. Tetapi setiap kali perasaan ini muncul dia selalu melihat wajah Chen dan Xiumin yang terlihat begitu berbinar setiap kali berbincang dengannya, dan wajah datar Kris yang baginya selalu terlihat tampan, dan—
Chanyeol. Chanyeol yang selalu tersenyum, yang selalu bersemangat, yang selalu bersama dirinya, yang selalu berusaha untuk mencoba mengerti perasaanya dan mencoba untuk membangkitkannya tiap kali dia terjatuh, yang akan memeluk dirinya dengan hangat saat dia merasa gundah dan takut.
Semua itu akan hilang. Dan Baekhyun hanya merasakan kekosongan, dan juga perasaan ditinggalkan.
Baekhyun berhenti melangkah ketika pandangannya menjadi buram karena air mata yang menggenang di matanya. Mengingat dirinya akan kembali sendirian.
Dengan cepat dia menghapus air mata itu, dia tidak mau terlihat lemah. Untuk apa menangis? Bukankah dia sudah terbiasa sendirian? Bukankah dia sudah terbiasa ditinggalkan?
Baekhyun menarik nafas dan membuangnya pelan-pelan, hal itu dia lakukan beberapa kali demi menenangkan dirinya sendiri. "Aku akan baik-baik saja, aku akan baik-baik saja…" dia mengulang ucapannya sebagai sebuah mantra peyakinan untuk dirinya.
Ketika dia berhenti bergumam, pandangannya jatuh kepada sekumpulan anak-anak di tengah taman. Anak-anak itu tengah mengelilingi dua orang anak yang badannya sedikit lebih pendek dibandingkan mereka, dan betapa terkejutnya Baekhyun ketika menangkap sosok yang cukup familiar itu. Dia yakin anak itu adalah Kai, namun dia tidak mengenal anak kecil berambut hitam yang berada di samping Kai.
Wajah Kai yang terlihat marah dan ujung bibir anak lelaki berambut hitam yang kini memerah itu meyakinkan Baekhyun bahwa anak-anak yang lebih besar dari mereka berdua tidak sedang bermain-main. Tanpa ragu lagi Baekhyun berlari menghampiri mereka. "Hei! Apa yang kalian lakukan?!"
Anak-anak itu mengalihkan perhatian mereka terhadap Baekhyun, mata mereka membelalak ketakutan sebelum mereka berlari, meninggalkan Kai dan anak beambut hitam itu sendirian. Sebuah senyuman muncul di wajah Kai mendapati sosok Baekhyun, "Ah! Kakak cantik!" serunya.
Baaekhyun segera berlari menghampri Kai, menagkup wajah anak itu dengan tangannya. "Kai, gwaenchana? Kau terluka?"
Kai menggelengkan kepalanya, "Aku tidak apa-apa. Tapi…" anak itu menoleh pada temannya, "Mereka sempat memukul Tao…"
Kali ini dia menoleh pada anak yang Kai sebut dengan nama Tao tadi. Baekhyun berdiri dan menghampiri Tao, "Tao tidak apa-apa?"
Mata tajam anak itu menatap Baekhyun lekat-lekat. "Kakak… siapa?"
Baekhyun sedikit terkejut karena anak ini tidak menjawab pertanyaannya dan malah bertanya balik. Kai berdiri di samping Baekhyun dan mewakili dirinya untuk menjawab pertanyaan Tao. "Ini kakak yang aku ceritakan! Tao ingat kan?!" tanya Kai dengan semangat.
"Ah… kakak cantik yang kamu ceritakan?" tanya Tao sambil memiringkan kepalanya.
"Iya! Cantik kan?!"
"Hn, cantik." Meskipun anak kecil yang memujinya, entah mengapa Baekhyun tetap merasa malu dipuji seperti itu.
"Ng… Tao baik-baik saja?" ulangnya lagi, berharap kali ini anak itu menjawabnya.
"Hn. Aku tidak apa-apa." Anak itu mengangguk. Baekhyun menghela nafas dan terus menatap memar yang berada di sudut bibir Tao.
"Apa anak-anak itu sering mengganggu kalian?" Baekhyun bertanya pada Kai, sementar tangan kanannya secara otomatis terulur untuk membelai lembut rambut Tao, membuat semburat merah muncul di kedua pipi anak itu.
Mata Kai teralihkan ke Tao sejenak sebelum kembali pada Baekhyun dan mengangguk. "Mereka juga yang kemarin mengambil bolaku dan melemparkannya ke atas pohon."
Namja manis itu menggelengkan kepala tidak percaya. Bahkan anak-anak tak berdosa seperti mereka pun diganggu. Baekhyun tak habis pikir bagaimana kedepannya dunia ini nantinya. "Kenapa kalian tidak lari saja? Mereka lebih besar dari kalian berdua, bagaimana kalau kalian terluka lebih parah?"
Tao menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau lari. Kalau lari, itu artinya aku kalah dan takut. Lagipula, guruku bilang jangan pernah menyerah sebelum mencoba. Kalau aku tidak mencoba melawan mereka, aku tidak akan pernah tahu apa aku bisa melawan mereka atau tidak."
Baekhyun tercekat. Dia hanya mampu terdiam, merasakan lidahnya terkunci dan kata-katanya tersesat. Dia memperhatikan kedua bola mata Tao yang diselimuti oleh determinasi, dan memperhatikan bagaiman wajah polosnya tidak sedikitpun menunjukkan rasa takut.
Kemudian dia tersenyum.
Dia benar-benar bodoh. Pantas saja dia selalu mendapatkan nilai yang jelek di setiap mata pelajarannya. Lihat saja, bahkan anak kecil saja jauh lebih pintar darinya.
Baekhyun menarik tangan Kai dan Tao bersamaan, membawa mereka kedalam dekapannya, tanpa menyadari bahwa tindakannya telah sukses membuat semburat merah muncul di wajah kedua anak itu. "Terima kasih…" bisiknya pada mereka seraya mengeratkan dekapannya, "Kakak yakin kalian akan tumbuh menjadi orang yang sangat baik…"
"Kenapa kakak berterima kasih? Harusnya kan kita yang bicara begitu." Ujar Kai, membuat Baekhyun terkekeh. Dia melepas kedua anak itu dan mengelus kepala Kai.
"Karena Kai dan Tao mengingatkan kakak pada teman-teman kakak yang sangat baik." Jawab Baekhyun menyunggingkan senyum.
"Kalau begitu… mereka teman kakak?" Tao mengacungkan telunjuknya dan menunjuk sesuatu yang ada di belakang Baekhyun. Baekhyun menoleh kepada arah yang ditunjukkan Tao. Sebuah kerutan muncul di kening ketika dia mendapati seseorang berusaha bersembunyi di balik pohon, namun tidak sukses menyembunyikan tas yang dikenakannya. Dia berdiri dan menghampiri sosok itu dengan perlahan.
Betapa terkejutnya dia melihat Xiumin dan Chen di balik pohon itu dengan sebuah senyuman gugup di wajah mereka. "Ka-kalian?! Ke-kenapa—"
Chen dan Xiumin melontarkan pandangan pada satu sama lain sebelum sedikit menghampiri Baekhyun. "M-maafkan kami karena telah lancang mengikutimu Baekhyun-ssi." Ujar Xiumin yang terlihat begitu bersalah.
Baekhyun hendak menjawab bahwa hal itu bukan masalah, dia hanya bingung mengapa mereka berdua mengikutinya. Belum sempat dia membuka mulut dan bertanya, Chen telah memotong ucapannya.
"Kami hanya sangat mengkhawatirkan Baekhyun-ssi. Dan kami yakin Ketua dan Wakil Ketua juga merasakan hal yang sama."
Dan untuk kesekian kalinya, Baekhyun tercengang. Jantungnya berhenti seketika.
Ini akan menjadi lebih mudah bila Chen dan Xiumin tidak memandangnya dengan tatapan yang begitu khawatir. Akan lebih mudah jika mereka menyimpan kata-kata itu dan—dan—
"Entah mengapa, kami tidak bisa membiarkan Baekhyun-ssi begitu saja. Mangkanya—"
Bukankah seharusnya mereka marah? Bukankah seharusnya mereka mengatakan bahwa mereka kecewa terhadapnya? Bukankah harusnya mereka mengepalkan tangan dan membentaknya? Seharusnya mereka kesal padanya, namun—
"Bagaimanapun juga, kami sangat menyayangi Baekhyun-ssi."
Yang dapat dia rasakan hanya sebuah kehangatan yang menyelimuti hatinya yang kosong, seolah-olah serpihan-serpihan yang terpecah belah itu kini kembali menjadi satu. Rasa itu meluap dan terus meluap, hingga pada akhirnya membuat mata Baekhyun kembali digenangi oleh air mata.
Chen dan Xiumin tersentak melihat air mata mengalir membasahi wajah manis malaikat mereka. "B-Baekhyun-ssi?! K-kenapa menangis?!" tanya Xiumin panik. "Apakah Chen telah mengatatakan hal yang membuatmu sakit hati?! A-apa karena aku—"
Belum sempat Xiumin menyelesaikan, Baekhyun memeluk mereka berdua. Chen dan Xiumin membatu seketika karena pertama, yang memeluk mereka saat ini adalah objek kehidupan mereka, pujaan hati mereka, dan kedua, malaikat mereka saat ini tengah menangis dan mereka tidak tahu harus berbuat apa untuk melenyapkan air mata itu.
"Ng, Baekhyun-ssi—"
"Maaf…" Suara namja manis itu bergetar dan dia mengeratkan pelukannya pada Chen dan Xiumin. "Maafkan aku… maafkan aku karena… aku tidak seharusnya…" Baekhyun tidak mampu mengeluarkan kata-kata dan terus menangis.
Chen menatap namja manis itu dengan sendu, sementara Xiumin hanya menyunggingkan sebuah senyum kecil. "Tidak apa-apa Baekhyun-ssi, tidak sekalipun kami membenci Baekhyun-ssi… karena itu, berhentilah menangis." Ujarnya lembut, berusaha untuk menghibur Baekhyun. Namun air mata itu terus mengalir.
"Kami sangat menyayangi Baekhyun-ssi…" kali ini Chen membuka mulut, tangan kanannya memeluk Baekhyun sementara yang dipeluk olehnya semakin menangis. "Dan hal itu tidak akan pernah berubah."
"Karena mau bagaimanapun kami adalah teman Baekhyun-ssi."
.
.
.
Keesokannya di pagi hari sebelum bel masuk sekolah, terlihat Chanyeol dan Kris berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Kris yang sedari tadi berdiri dengan menyandarkan punggungnya pada tembok terus mengikuti sosok Chanyeol yang tak henti-henti berjalan kesana-kemari, menandakan bahwa dia gelisah. "Tenanglah Chanyeol…" ucapnya.
Namja berambut ikal itu berhenti tepat di depan Kris dan memandangnya heran yang bercampur dengan sorot gugup. "Tenang? Kris, bagaimana kalau Baekhyun tidak mau melihat dan berbicara dengan kita? Bagaimana kalau dia membenci kita?"
"Aku rasa dia tidak akan sampai membenci kita." Kris menjawab pertanyaan sepupunya. "Anak itu… terlalu baik."
Chanyeol mengerjapkan matanya dan menghela nafas. "Oke, kau memang benar. Tapi bukan berarti dia tidak akan menghindari kita kan?"
"Ya, begitulah."
"Agh! Michigeutta!" Chanyeol mengacak-mengacak rambutnya. "Jujur saja, aku tidak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan dengan Baekhyun. Aku tidak ingin salah bicara dan membuatnya tersinggung."
Cih, kalau kau yang sangat talkative saja tidak tahu harus bicara apa… bagaimana denganku? Umpat Kris kesal dalam hati karena yah… Chanyeol bukan satu-satunya orang yang gugup untuk bertemu dengan Baekhyun. Dia telah melakukan hal yang tidak spoana kemarin dan dia sedikit resah Baekhyun akan takut dengannya.
"Ah! Ketua! Wakil Ketua! Annyeonghaseyo!"
Kedua sepupu itu mengalihkan perhatian mereka pada sumber suara yang terdengar begitu semangat. Chanyeol tersenyum, "Oh, annyeong Chen, annyeong Xiumin." Sapanya, dia terkekeh melihat Chen dan Xiumin tersenyum begitu lebar. "Eoh? Kalian terlihat sangat senang hari ini. Terjadi sesuatu yang baikkah?"
Chen dan Xiumin menoleh pada satu sama lain. Chanyeol dan Kris menatap mereka heran saat sebuah seringai kecil muncul. "Ketua! Wakil Ketua! Kami membawa kejutan untukmu!" seru Chen.
"Eoh?" Chanyeol memiringkan kepalanya bingung sementara Kris menaikkan sebelah alisnya. "Apa itu?"
"Itu." Xiumin menunjuk belakangnya, membuat kedua namja tinggi itu secara otomatis melihat kesana dan—
Otak mereka berhenti berfungsi. Kris sedikit membelalakkan matanya sedangkan Chanyeol membuka mata dan mulutnya dengan lebar-lebar.
Disana, berdiri di hadapan mereka adalah Baekhyun. Namun terlihat jelas terdapat perubahan pada namja itu. Rambut jamurnya yang berwarna coklat gelap itu telah berubah menjadi bergelombang, memberikan kesan yang begitu manis dan cantik. Wajahnya diselimuti oleh bedak yang diusapkan secara tipis. Dan—dan—Tuhan… bibir merah Baekhyun yang terlihat mengkilap itu… Baekhyun mengenakan lip gloss?!
Ditatap secara intens oleh Chanyeol dan Kris benar-benar membuatnya malu, terlebih lagi tidak hanya mereka berdua yang terus memerhatikan Baekhyun. Beberapa murid yang disekitar juga menatapinya.
"Ng… A-annyeonghaseyo Chanyeol… Kris-ssi…" ucapnya ragu, semburat merah menghiasi kedua pipinya.
"Kau…" sedikit mengejutkan bahwa yang duluan berbicara adalah Kris, bukan Chanyeol. Namja berambut ikal itu sedang sibuk mematung, berusaha mengatur nafasnya. "Kau… mengganti model rambutmu…?" dia bertanya dengan ragu.
"Ah… begitulah…" Baekhyun tersenyum malu, tangannya sibuk bermain dengan ujung seragamnya, "Ng… tidak cocok ya?"
Kris terdiam, mengedipkan mata dua kali lalu menjawab. "…cocok. Sangat cocok."
Mendengar pujian itu keluar dari mulut Kris, Baekhyun yakin wajahnya pasti sudah sangat merah sekarang, karena itu dia menundukkan kepalanya. "T-t-terima kasih…"
"Baekkie, kau…" Baekhyun menoleh pada Chanyeol yang akhirnya berhasil menenangkan dirinya sendiri, "…kau… memakai lip gloss?" pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutnya.
Refleks, Baekhyun menyentuh bibirnya dan wajahnya semakin memerah. Kris menatap sepupunya tajam dan memukul kepala Chanyeol dengan tas sekolah yang dia pegang. "Aw!" keluh Chanyeol.
"Dasar mesum. Yang seharusnya kau perhatikan itu rambutnya, bukan bibirnya."
"Hei! Kau kan sudah mengomentari rambutnya, jadi bolehkan aku mengomentari yang lain!"
"Baekhyun-ssi bukan memakai lip gloss! Tapi lip-balm!" seru Xiumin, menyentuh kedua pundak Baekhyun. "Tadinya aku ingin memakaikannya lip-gloss, tapi Baekhyun-ssi menolak. Jadi aku mengoleskan bibirnya dengan lip-balm dan memberikannya sedikit make-up~"
"Lalu aku yang mengubah model rambutnya~" Chen tersenyum dengan bangga. "Bagaimana? Baekhyun-ssi cocok dengan rambut itu kan? Dia terlihat semakin manis dan cantikkan?"
Tentu saja. Baekhyun terlihat sangat indah di mata Chanyeol. Membuat raja gombal itu sampai kehabisan kata-kata. "Tapi… kenapa tiba-tiba…?"
Kali ini wajah malu-malu itu menghilang. Baekhyun melangkah mendekati Chanyeol dan Kris, mengepalkan tangan sebelum membungkukkan badan, membuat Chanyeol dan Kris terkejut. "Maafkan aku."
Baekhyun kembali berdiri dengan tegak dan menatap Chanyeol dan Kris lekat-lekat. "Aku… telah mengatakan hal-hal yang bodoh. Aku terlalu mengkhawatirkan pendapat orang lain tanpa menyadari perasaanku sendiri… Karena itu, aku ingin meminta maaf."
"Lalu, kenapa kau merubah penampilanmu?" tanya Kris
Baekhyun menggigit bibir bawahnya. "A-agar kalian semua melihat kesungguhanku bahwa aku… aku ingin berubah, bahwa aku mencoba untuk berusaha. Demi diriku sendiri yang selalu merendahkan diri…" dia terhenti berbicara, kemudian melanjutkan, "…dan demi kalian yang telah berusaha demiku."
"Baekkie…"
"Aku tidak akan lari lagi." Ucap Baekhyun lagi, "Aku tidak akan lari sebelum berusaha untuk mencoba, dan aku tidak akan mudah menyerah sebesar apapun rintangan di depan mata."
Sungguh, Chanyeol tidak tahu harus berbicara apa. Baekhyun, Baekhyunnya yang berada di depannya ini masih tetap terlihat kecil, namun sosoknya itu begitu membakar jiwa, dan senyumnya begitu terang. Begitu membuat Chanyeol terpikat.
Melihat sosok Baekhyun berdiri di depannya ini, membuat Chanyeol tersenyum lebar. Selebar yang dia bisa, selebar yang dia mampu, sampai-sampai membuatnya merasa bahwa mungkin senyum tersebut mampu membelah wajahnya. Dengan cepat, dia memeluk Baekhyun. Mencoba mengeluarkan rasa senang yang kini meluap ke seluruh tubuhnya.
Baekhyun mengedipkan mata dengan bingung. "Chanyeol…?"
"Aku senang." Namja tinggi itu mengeratkan pelukannya, "Aku benar-benar bangga dengan Baekkie."
Baekhyun terdiam, tak tahu harus membalas apa sementara dadanya berdebar semakin kencang, sebelum kemudian menaruh tangannya di punggung Chanyeol dan berbisik. "Terima kasih…"
Chanyeol tertawa, dan melepaskan satu tangannya pada Baekhyun dan menatap wajah Chen, Xiumin, dan Kris. "Grup Hug!" serunya.
Kris menggelengkan kepala, "Aku me—hei!" protesnya ketika Chanyeol menarik tangannya, membuat tubuhnya terhempas pada tubuh Chanyeol dan Baekhyun. Dia hanya menghela nafas mengalah saat Chen dan Xiumin juga bergabung, membuatnya semakin sulit untuk meloloskan diri. Tangan kanannya dia lingkarkan pada pundak Chanyeol, sementara yang sebelah kiri dia gunakan untuk merangkul pundak Baekhyun. "Cih, dasar."
Baekhyun tertawa, menatap lembut wajah Chanyeol yang tersenyum begitu hangat, wajah Kris yang menyunggingkan senyum kecil, Xiumin yang tertawa begitu manis, dan Chen yang tersenyum berseri-seri. Ditatapnya lekat-lekat wajah mereka, seolah-olah otaknya sedang merekamnya agar tersimpan dengan aman di dalam kepala.
Dan Baekhyun berpikir, tangan yang saling menopang dan mendekap inilah yang disebut sebagai keabadian.
Karena tali persahabatan adalah sesuatu yang tak akan bisa kau hentikan, yang akan terus berlangsung selamanya.
.
.
.
Ketika pintu kelas bergesar dibuka dan Baekhyun, bersama dengan Chanyeol melangkahkan kaki mereka ke dalam. Entah mengapa, suasana kelas di pagi hari yang selalu dipehuni oleh canda dan tawa tiba-tiba berubah sunyi. Mata mereka tertuju pada satu sumber, dan itu adalah Baekhyun. Baekhyun yang beridiri di sana dengan penampilan barunya.
Memilih untuk diam dan tidak mengadahkan tatapan-tatapan yang begitu menusuk itu, Baekhyun berjalan ke bangkunya dan mendudukkan dirinya, diikuti dengan Chanyeol yang duduk di depannya.
"Uwooh!"
Seruan itu membuat Baekhyun mengangkat kepala ketika dia melihat salah satu teman sekelasnya, Jonghyun, tengah menatapnya dengan mulut terbuka lebar. "Wow! Baekhyun-ah, itu kau?" tanyanya tidaka percaya.
Baekhyun diam untuk sementara, ragu untuk menjawab karena tahu dia masih menjadi pusat perhatian kelas. Kemudian matanya tertuju pada Chanyeol yang seolah-olah mengatakan 'hei, dia berbicara denganmu' dalam diam dan setelah menelan ludah, Baekhyun membuka mulut. "I-Iya…"
"Woah! Serius?!" namja itu tertawa dan berjalan mendekati Baekhyun. "Kau benar-benar terlihat… berbeda sekali."
"Benar! Benar!" Baekhyun tersentak ketika seorang namja bernama Taemin muncul dari belakang Jonghyun. "Kau terlihat sangat manis dan cantik~"
Wajah Baekhyun merona seketika. "Te-terima kasih…"
Sedangkan Chanyeol hanya tersenyum-senyum melihat wajah manis Baekhyun, merasa senang karena akhirnya misi pertama mereka berhasil. Meskipun… yah, kalau boleh jujur, dia sedikit cemburu.
"Baekhyun-oppa!" tiga orang siswi menghampiri Baekhyun, membuat namja manis itu tersentak. "Aku suka sekali dengan model rambut oppa yang seperti ini."
"Oppa terlihat sangat imut!" seru siswi yang lain.
Baekhyun tak tahu harus mengucapkan apalagi selain berterima kasih, karena dia seperti baru saja menginjak dunia baru. Setelah lama terus berusaha dan mencoba, akhirnya… akhirnya mereka melihatnya.
Mereka mengakui dirinya.
Sebuah senyuman lebar dan tulus mengembang di wajahnya tiap kali mereka menuturkan pujian-pujian manis kepadanya. Namun ketika pandangannya mendarat pada sosok Luhan yang kini tengah menatapnya dengan tatapan datar, senyuman itu semakin menciut dan kini telah sirna saat Luhan berdiri dari bangkunya, kemudian berjalan keluar kelas bersama Sehun.
Secara refleks, Baekhyun berdiri dari bangkunya dan berlari keluar kelas, tidak memperdulikan Chanyeol yang memanggil namanya.
"Luhan-hyung!" nama itu keluar dari mulutnya, terasa familiar dan asing secara bersamaan di lidahnya. Baekhyun dapat merasakan dadanya berdegup kencang.
Langkah kaki Luhan dan Sehun. Luhan menolehkan kepala, menatap sang adik dengan tatapan yang tak bisa dibaca. Ditatap seperti itu oleh sang kakak membuat Baekhyun gugup, tapi dia sudah bersumpah pada dirinya… untuk tidak lari.
Baekhyun mengepalkan tangan. Benar, dia tidak akan lari. Bahkan tidak dari kakaknya sendiri.
"Luhan-hyung, aku mohon jangan salah paham." Suaranya sedikit bergetar, dan meskipun rasa gugup itu tetap menyelimuti hatinya, Baekhyun memberanikan diri untuk tetap terus menatap Luhan. "Aku begini bukan karena ingin menjadi saingan Luhan-hyung…"
"Aku… berusaha berubah…" ujarnya pelan seraya mengencangkan kepalannya, seolah berharap agar tangan Luhan membalas genggaman itu, "…karena aku tidak mau terus melarikan diri. D-dan aku…"
Sehun tidak tahu harus berbuat apa, haruskah dia meninggalkan kakak-beradik ini berdua untuk memberikan sebuah privasi, atau haruskah dia tetap di sini? Tapi diapun penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Baekhyun kepada sahabatnya ini. Jarang sekali melihat keduanya berinteraksi.
"Aku… ingin berdiri di level yang sama dengan hyung…" Baekhyun berbiara dengan gugup, "Aku ingin hyung tidak merasa malu mempunyai adik sepertiku…"
Mata Luhan sedikit melebar mendengar ucapan Baekhyun. Dia terdiam, tidak tahu harus berbicara apa sementara bola matanya terus menatap sosok yang berdiri di depan. Dia membuka mulut, kemudian berucap, "…terserah kau saja."
Luhan membalikkan badan dan terus berjalan, sementara Sehun melemparkan pandangan pada Luhan dan Baekhyun secara bergantian. Namja tinggi itu tersenyum kecil pada Baekhyun yang membalas senyumnya dengan sopan sebelum mengejar Luhan.
"Kau tahu…" kata Sehun saat dia berjalan berdampingan dengan Luhan, "kau bisa mengatakan sesuatu yang lebih baik dari itu."
Luhan tidak membalas ucapannya dan Sehun menghela nafas.
Melihat Luhan yang membalikkan badan, memunggunginya, dan berjalan menjauh darinya terasa seperti sebuah tamparan di pipi.
"Baekkie."
Tanpa menoleh, dia dapat mengetahui siapa yang memanggil namanya. Dia sudah hafal dengan suara itu. Suara yang selalu mengiangi pendengarannya sejak kemarin.
"Chanyeol…" namja pendek itu berucap, "Luhan-hyung… dia…"
"Jangan khawatir." Sebuah tangan mendarat di kepalanya, mengusap surainya lembut. "Dia akan kembali padamu, tenanglah."
Wajah Baekhyun terangkat, menatap Chanyeol yang kini juga menatapnya. "…Sungguh?"
Di hadapannya, Chanyeol memberikan senyum. Seolah memberikan harapan dan membebaskan hati Baekhyun yang selama ini terpasung. "Tentu saja, kau percaya padakukan?"
Baekhyun sedikit tersentak dengan pertanyaan itu. Dia melihat senyum Chanyeol, melihat tatapan tersebut, kemudian ikut menyunggingkan senyum.
"Aku percaya padamu."
-TBC—
Et dah sumpah! Panjang banget! -_- aduh maaf bangat ya kalau Hika nulisnya kepanjangan dan membosankan, tapi di chapter ini Hika harus fokus dengan friendship-bonding dan memang alurnya harus begini biar gak melenceng kemana-mana, jadinya panjang begini deh. Maaf ya _
Sekali lagi, Hika sangat menghargai saran, kritik, dan komentar kalian. ^^ Biar Hika menjadi penulis yang baik hehehe. Tapi dilarang ngebash! Oke?!
Oh iya, kalau ada yang bingung membayangkan seperti apa rambut Baekhyun yang baru, bayangin aja rambutnya waktu di Idol Star Championships. Itu Baekhyunnya lucu banget sumpah! XD dan disitu merupakan Baekyeol moment paling epic! XD
