Miku mau minta maaf sebelumnya karena udah hampir 2 tahun tidak mengupdate cerita ini. Bukannya Miku nggak mau update cerita ini, hanya saja... Ketika Miku mau buka ffn, ternyata ffn-nya keblokir dan malah keluar Internet Positif. Jadi selama 2 tahun ini, Miku nggak bisa buka ffn, dan baru buka sekitar setengah tahun yang lalu. Jujur saja, Miku sudah mulai lupa sama semua cerita ffn yang Miku buat. Makanya sekitar beberapa hari ini, Miku berusaha melanjutin cerita ini...

Meski singkat, tapi Miku senang akhirnya Miku bisa ngelanjutin cerita ini. Tentang cerita Miku yang lain, harap sabar, Miku akan berusaha untuk mengupdatenya secepat mungkin. Nah cukup sekian curhatan Miku dulu ya, selamat membaca...

Me and Our Marriage

Genre: Hurt, Romance

Pairing : SasufemNaru,ItafemNaru

Rate : T

WARNING :

Not Yaoi, Typo, aneh, OOC, Etc

CHAPTER 4

Naruto POV:

"Uchiha Naruto, aku bisa memberikan darahku di setiap waktu untukmu. Jadi berhentilah minum darahmu sendiri." Ucap Sasuke padaku.

Memberikan darahnya untukku? Apa aku tidak salah dengar? Dia seperti bukan Sasuke saja. Aku akui, aku sedikit tergiur mencium aroma darahnya. Namun jika aku mencicipi darahnya, aku takut. Aku takut tidak bisa melepaskanmu. Aku mohon Sasuke, jangan terlalu memberiku harapan terlalu tinggi. Aku sudah sering kau sakiti.

"Terima kasih atas tawarannya, Uchiha. Tapi aku menolak." Balasku pada akhirnya.

Ya, lebih baik begini. Biarkan aku bersikap seperti ini. Aku yakin kau perlahan akan menghilang dari hatiku, seperti yang pernah Itachi lakukan padaku.

"Tapi kau adalah mate-ku. Sampai kapan pun itu." Katanya padaku dengan dingin.

Mate-ku? Kau memang mate-ku. Kau selalu membuatku mengantungkan harapanku terlalu tinggi padamu. Ku mohon berhenti. Aku tak ingin layu lagi, karenamu.

"Aku tak peduli, Uchiha. Lagipula kita akan segera melakukan pemutusan hubungan. Jadi lebih baik, kau urusi dirmu dan Haruno Sakura." Jawabku dengan tak kalah dingin darinya.

Dapat kulihat raut kekagetan di wajahmu. Aku ingin terkekeh geli melihat raut wajah konyolmu. Aku sendiri bingung melihatmu, Sasuke. Seharusnya kau bukan memperlihatkan raut seperti itu. Kau seharusnya senang. Karena kau akan bebas dari belenggu pernikahan ini.

"Baguslah kalau begitu." Balasmu tanpa melihat diriku.

Apa aku begitu menjijikan untuk kau pandang, Sasuke? Aku tak mengerti denganmu, Sasuke. Tadi kau memperlihatkan raut kecewa. Namun sekarang perkataanmu, menunjukan raut kebahagaian.

"Apa kau bahagia dengan pemutusan hubungan ini?" tanyaku pada Sasuke.

Aku hanya ingin mendengar jawabanmu, Sasuke. Jika memang kau bahagia, akan aku mantapkan hatiku untuk melepaskanmu. Namun jika kau tidak bahagia, aku akan mendampingimu. Sampai kebahagian yang kau tunggu kembali dalam rengkuhanmu.

Aku menanti jawabanmu. Sudah beberapa menit, aku menanti jawabanmu. Apa yang kau pikirkan, Sasuke?

"Aku bahagia." Jawabmu setelah beberap menit.

Onyxmu menatap sapphireku. Waktu terasa begitu lambat bagiku. Ku coba menyelami keindahan matamu seraya mencari kebenaran dari sana. Aku menemukan keraguan disana.

"Kau ragu dengan keputusan ini?" tanyaku setelah menemukan keraguan di kemilau onyxnya.

Sasuke diam. Aku tahu, dia sedang menyakinkan dirinya. Mungkin.

"Tidak. Aku bahagia."

"Kuharap juga seperti itu."

"Kenapa kau tida mau minum darahku?"

Aku bukannya tidak mau, Sasuke. Jujur aku menginginkan darahmu mengalir dalam kerongkonganku. Darahmu itu menggiurkan bagiku. Selain itu darahmu bisa membuatku ingin dan ingin terus meminum darahmu. Karena itulah aku harus menahan gejolak nafsu saat kau memiringkan kepalamu dan mempersilahkan aku mencicipi darahmu.

Aku ingin. Tapi nafsuku membuatku gila.

"Aku tidak bisa."

Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku harus menjauh darimu sekarang juga, Sasuke. Aku tak ingin kembali tergiur dengan darahmu. Ku balik tubuhku dan tergesa-gesa berlari menuju pintu. Namun sebelum aku menyentuh pintu itu. Kau menghadangku.

Aku yang masih dikuasai logika, langsung mendorongmu dengan sihirku. Kali ini, kau harus membiarkan aku pergi, Sasuke. Harus.

Tampa menunggu reaksi Sasuke, aku berlari. Berlari tanpa arah tujuan. Tapi sepertinya Sasuke tidak tinggal diam, melihat tindakanku. Sasuke mulai merafalkan beberapa sahir kepadaku, namun aku berhasil menghindar dengan baik. Ini sangat memalukan, pikirku. Bagaimana tidak, sekarang aku dan Sasuke menjadi tontonan orang-orang di kastil ini. Aku kemudian berlari ke arah luar kastil dan menuju hutan terlarang.

"Uchiha Naruto, kuperintahkan kau untuk berhenti!" geram Sasuke melihat aku terus berlari.

Aku tidak bisa menahan dahargaku. Aku sudah sangat kehausan. Kenapa kau melakukan hal ini padaku, Sasuke? Aku begitu tersiksa.

Karena tak mampu menahan dahargaku, kuhentikan lariku, dan menancakan taringku pada pergelangan tanganku. Dengan rakus, kuminum darahku. Ini lebih baik daripada minum darahmu, Sasuke. Aku merasakan kau mendekat. Tapi aku tidak berlari, karena setidaknya dahargaku telah padam. Kau mendekat ke arahku, kemudian melepaskan tanganku dari taringku.

Namun tanpa kuduga, Sasuke menancapkan taringnya pada leherku. Perih kurasakan. Sepertinya Sasuke haus sepertiku tadi. Apa karena ini, Ia mengizinkan aku untuk minum darahnya supaya dia dapat minum darahku?

Kuhembuskan nafasku saat menyadari sikap Sasuke. Aku tak bisa menghentikan Sasuke. Dia masih suamiku. Sebagai seorang istri, aku hanya bisa melayaninya sampai akhir tugasku. Aku akan memberikan yang terbaik bagi Sasuke. Darahku miliknya. Tapi darah Sasuke bukanlah milikku. Darah Sasuke hanya milik Haruno Sakura.

Setelah beberaa menit, akhirnya Sasuke menarik taringnya dari leherku. Darahku masih mengalir di sudut bibirnya. Ia sangat tampan. Sahabat kecilku telah berubah. Tak salah jika semua wanita mengejarnya. Baik itu dari kalangan vampire maupun manusia.

"Darahmu sangat manis." Katanya setelah menjilat darah di setirah bibirnya.

Aku senang mendengar pujian itu. Hatiku berdesir hangat saat kau tidak lagi bersikap kasar padaku, Sasuke.

"Terima kasih atas pujiannya, Sasuke Ojii-sama." Jawabku dengan tenang.

Sejujurnya, aku seperti dilambungkan ke tempat yang tinggi sekali. Seolah aku dapat menggapai bintang di langit. Dan aku takut jika aku akan dijatuhkan lagi. Maka dari itu, aku akan menganggap peristiwa ini sebagai akhir dari kisah kita berdua, Sasuke.

"Panggil aku Sasuke, seperti saat kita kecil dulu." Suara dinginmu menyadarkan aku dari lamunanku.

Memanggilmu seperti dulu? Aku selalu memanggilmu dengan Sasuke. Tapi kau menolak untuk kupanggil demikian. Aku selalu memanggil namamu, Sasuke. Tapi kau terlalu tuli untuk mendengar suaraku, Sasuke.

"Sasuke." Ucapku dengan pelan.

Sasuke kemudian memelukku dengan erat. Hutan terlarang akan menjadi saksi akhir dari ini semua. Semua kisahku. Aku membalas pelukanmu, merasakan hangatnya tubuhmu.

"Naruto, aku mencintai Sakura. Dan kau berjanji akan membantuku, bukan?"

Kupejamkan mataku saat mendengar pengakuanmu yang entah keberapa kalinya. Aku kemudian melepaskan pelukanmu dan memberi jarak antara kita berdua.

"Aku tahu. Aku akan membantumu."

Senyum manis terukir di wajah Sasuke. Sasuke terlihat sangat manis saat itu. Aku menyukai senyumnya. Walau itu bukan untukku.

"Arigatou." Bisik Sasuke.

Naruto POV END.

.

.

.

-Me and Our Marriage-

.

.

.

Ketika para tetua membacakan hasil dari kasus pemutusan hubungan antara bangsawan Namikaze dengan pangeran Underworld, semua mata tak berhenti memberikan pandangan iba pada Naruto. Semuanya membisikan dan menertawakan Naruto. Naruto hanya diam tak bergeming, mendengarkan keputusan akhir dari ini semua. Menulikan dirinya dari cibiran-cibiran penghuni Underworld.

"Uchiha Sasuke dan Namikaze Naruto bukan lagi suami-istri." Teriak tetua berambut putih dengan lantang.

Semua orang yang berada dalam ruangan tersebut memberikan tepuk-tangan yang meriah. Seolah pemutusan hubungan ini adalah suatu hal yang baik.

Sasuke menatap Naruto, mantan istrinya dengan pandangan aneh. Naruto yang ditatap Sasuke, hanya memberi senyum kecil dan berlalu meninggalkan ruangan dimana menjadi saksi dari akhirnya hubungan Uchiha Sasuke dengan Namikaze Naruto.

.

.

.

-Me and Our Marriage-

.

.

.

"Sasuke-kun, tunggu." Teriak seorang wanita bernama Haruno Sakura

Sasuke yang mendengar teriakan wanita yang dicintainya, langsung berhenti dan menunggu Sakura. Sakura tersenyum lega saat Sasuke bersedia untuk menunggunya menyamai langkah Sasuke. Ketika Sakura telah mendekat dan berdiri di samping Sasuke, Sakura langsung memeluk Sasuke dengan erat.

"Aku tahu, Sasuke. Kau pasti selalu menungguku." Bisik Sakura dengan lembut.

Mendengar bisikan Sakura, rasanya hati Sasuke berdesir hangat. Jujur, Sasuke menyukai sensasi desiran itu. Rasanya menyenangkan.

"Aku akan selalu menunggumu, Sakura." Balas Sasuke.

Sepasang kekasih gelap itupun saling berbagi kehangatan dengan pelukan dan melempar kata-kata manis dan romantis untuk satu sama lain. Tanpa menyadari di ujung lorong yang gelap, Naruto mengamati mereka dengan sendu.

"Sayonara, Sasuke." Bisik Naruto dengan lirih seraya meninggalkan tempat persembunyiannya dan menghilang di balik lorong-lorong yang gelap.

.

.

.

-Me and Our Marriage-

.

.

.

Sampah berserakan dimana-mana. Tiba-tiba sebuah cangkir dibanting oleh seorang gadis cantik bermarga Haruno. Air mata keluar dari kedua mata emerlandnya. Tubuhnya bergetar seperti orang ketakutan. Wajahnya pucat, bahkan bibirnya terasa kering. Sakura menatap lembaran foto pernikahan Sasuke dan Naruto dengan hampa. Sakura iri melihat Naruto. Naruto. Naruto. Naruto. Selalu Naruto. Apakah Naruto lebih baik daripada dirinya?

"Naruto, kau kalah dariku. Sasuke-kun itu milikku," kekeh Sakura.

Sakura bahkan tak sadar akan kehadiran Kabuto, suaminya. Kabuto kemudian menarik rambut Sakura dengan kasar.

"Kau pikir kau lebih baik dari Naruto? Tak ada yang bisa mengalahkan Naruto bahkan dirimu," bisik Kabuto sambil mendorong mantan istrinya ke dinding.

Sakura hanya diam, kemudian tertawa kesetanan. Kabuto hanya diam melihat mantan istrinya tertawa.

"HAHAHAHA... lucu sekali. Naruto bahkan sudah kalah dariku. Kau mau tahu kenapa, karena Sasuke-kun hanya mencintaiku dan tidak mencintainya," balas Sakura pada Kabuto.

Kabuto hanya mengeleng pelan dan kemudian melepaskan tangannya dari rambut Sakura.

"Setidaknya Naruto jauh lebih terhormat daripadamu. Wanita mana yang terus memaksa mantan suaminya untuk berhubungan badan dengannya selain seorang pelacur? Dan kau Sakura, kau itu tak lebih dari seorang pelacur," ucap Kabuto.

"Aku bukan PELACUR, Kabuto. AKU ADALAH CALON PERMAISURI PANGERAN UCHIHA SASUKE. SASUKE-KUN memilihku dibanding NARUTO," teriak Sakura.

"Terserah kau sajalah, Sakura. Jika terjadi suatu hal yang buruk pada Naruto. Aku tak akan segan-segan membunuhmu. INGAT ITU!" Balas Kabuto, lalu pergi meninggalkan ruangan yang penuh dengan sampah.

Sakura hanya memandang punggung Kabuto dengan senyuman. Sakura tak peduli, mau Kabuto membunuhnya atau menyiksanya. Sakura akan maju dan menyingkirkan penganggu hubungannya dengan Sasuke. Meski itu adalah orang tuanya sendiri. Sakura bahkan sudah merencanakan nama anaknya dengan Sasuke jika mereka menikah dan memiliki anak. Sarada untuk anak perempuannya dan Kaita untuk nama anak laki-lakinya. Bukankah itu nama yang indah untuk anak-anaknya dan Sasuke. Membayangkan dirinya masuk menjadi anggota keluarga kerajaan, membuatnya bahkan nyaris tak dapat berpikir.

Uchiha Sakura. Hah, nama yang indah yang pernah didengar Sakura. Bukan lagi Haruno Sakura atau Yakushi Sakura. Hanya Uchiha Sakura. Istri dari Pangeran Uchiha Sasuke.

dari jika di wajah Itachi terukir sebuah senyum saat melihat reaksi Naruto. Itachi menyukai wajah Naruto saat dimana rona merah menyelimuti kedua pipi gadis itu.

.

.

.

-Me and Our Marriage-

.

.

.

Love is when the other person's happiness is more important than your own.
.

.

.

Konoha, 21 Juni xxxx

Sudah dua bulan lamanya sejak pemutusan hubungan itu diresmikan. Baik Naruto maupun Sasuke, tidak terlalu ambil pusing atas gosip-gosip tentang pemutusan hubungan yang mereka lakukan. Sementara Itachi tersenyum puas mendengar kabar itu. Dan beberapa hari lagi, Itachi dan Naruto akan melakukan ritual pertukaran darah.

Itu artinya, mereka akan menikah.

Naruto menatap langit malam dengan hampa. Diulurkan tangannya tuk mencoba mengapai bulan. Hari ini bulan purnama dan inilah waktu yang tepat untuk berburu. Namun Naruto tidak tetarik melakukan hal itu. Ia hanya termenung, memikirkan ritual pertukaran darah yang akan ia lakukan beberapa hari lagi.

Itachi. Nama Uchiha sulung itu cukup mampu menyita perhatian Naruto. Awalnya Naruto ragu tentang hubungannya. Bagaimana jika Itachi tidak menyetujui ini? Tapi semua kecemasannya sirna, saat Itachi datang ke ruangannya dan berbicara empat mata dengannya.

Naruto tahu Itachi sangat menyayanginya. Namun entah kenapa Naruto masih belum bisa menerima hati sahabatnya. Hatinya masih mekukir nama adik sahabatnya, Uchiha Sasuke.

Naruto merasa bersalah. Seharusnya ia bisa menerima hati sahabatnya dan membalas hati itu. Namun Naruto belum bisa melupakan nama Sasuke. Naruto takut bahwa ia hanya akan menyakiti hati Itachi lagi.

'Itachi-kun, akan kucoba menerima dan membalas kasihmu.' Batin Naruto saat melihat bulan purnama.

"Aku akan menunggunya, Naru." Ucap Itachi seolah mampu mendengar bisikan batin Naruto.

Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya dan berpikir bagaimana bisa Itachi masuk ke kamarnya dan auranya sama sekali tidak terasa. Matanya mulai menyipit dan menatap Itachi dari atas sampai bawah. Memutar otaknya tentang keberadaan Itachi di kamarnya.

Wajah Naruto yang sibuk berpikir itu sangat lucu di mata Itachi. Dengan pelan diusapnya rambut Naruto, dan berbisik di telinga kanan Naruto.

"Kyuubimu mengijinkan ku memasuki kamarmu. Sepertinya Kyuubi tahu, jika kau memikirkanku." bisik Itachi.

Mendengar kalimat terakhir Itachi mampu menimbulkan rona merah di wajah Naruto. Naruto membuang mukanya. Naruto merasa malu karena ketangkap basah memikirkan Itachi. Naruto tidak mampu menjawab ataupun menanggapi bisikan Itachi, karena ia malu.

"Aku tak sabar melihatmu menjadi permaisuriku, Naru," ujar Itachi sambil memainkan rambut Naruto

"Sebenarnya Itachi, aku..."

.

.

-Me and Our Marriage-

.

.

.

TBC...

Sampai jumpa di Chapter berikutnya ya...

Miku mengucapkan terima kasih banyak atas semua review yang sudah diberikan pada Miku. Tapi maaf, untuk di chapter ini, Miku nggak sempat balas review dari reader satu-satu. Tapi Miku akan membalas review kalian nanti satu-persatu, Oke..