IS THAT LOVE?
Dramione Fanfiction
.
Pairing: Draco M. & Hermione G.
World: Before War
Genre: Romance, Adventure, Sacrifical, Vulnerable
.
Summary
Taruhan itu. Taruhan yang berhadiah perpustakaan terbesar se-Britania Raya yang membuat Hermione bersikap manis dan memikat hati Draco. Semua berjalan lancar seperti yang diharapkan Hermione. Tapi satu yang tidak berjalan lancar.../RnR/Jika sudah membaca silahkan review.
.
Chapter 4.
Hermione melangkahkan kakinya menuruni tangga untuk sarapan bersama teman-temannya.
"Hai, Hermione." Harry menyapa saat Hermione tiba dihadapannya.
"Pagi semuanya."
"Kau tahu, Hermione? Bertie Bott Beans akan ditarik dari peredaran," ucap Ginny heboh.
"Ya. Katanya sudah ada lima orang yang keracunan setelah mengkonsumsinya," tambah Ron yang juga heboh.
"Sangat konyol."
"Kau tahu? Banyak penghuni Hufflepuff yang bergosip tentangmu dan Malfoy," kata Harry setengah berbisik. Hermione melotot kearahnya dengan mulut sedikit membuka.
"Ya. Sepertinya mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa kau dan Malfoy akan menjadi partner dalam satu tahun kedepan," sambung Ginny menyuapkan daging panggang kemulutnya.
"Hei, kapan kau akan mengumumkan anggota Prefek yang baru? Aku sudah tidak sabar," seru Ron.
"Ya, kalian adalah Ketua Murid yang sangat sangat lamban," tambah Harry.
"Oh, diamlah Harry," ucap Hermione terkekeh. "Aku berjanji. Mungkin saat makan siang atau malam. Hari ini Malfoy berhalangan hadir untuk menemaniku. Dia hanya menitipkan perkamennya untuk diserahkan kepada profesor Sinistra lalu pergi tanpa mengucap apapun," lanjutnya
"Menemaniku, huh? Dan kau sudah mulai terlihat seperti sepasang kekasih dengannya," goda Ginny sambil tertawa. Ron dan Harry tertawa dan hampir tersedak dibuatnya.
"Aku akan bunuh diri jika itu sampai terjadi, hahaha," canda Ron.
"Cepatlah selesaikan makan kalian. Kita akan terlambat ke kelas profesor Sinistra, lalu ia akan memotong poin asrama kita," kata Hermione dengan muka masam.
"Dan kau akan senang hati mengembalikan poin asrama kita."
"Silahkan duduk. Tumben sekali kau mengunjungiku pagi-pagi seperti ini."
"Ini bukan hanya mengenaiku. Tapi ini juga mengenaimu," kata Draco yang membuat Dumbledore mengernyitkan dahinya bingung.
"Aku seorang Pelahap Maut."
"Aku sudah mengetahuinya," sahut Dumbledore tenang.
"Ya." Draco menaikkan lengan seragamnya dan disitulah ia menampakkan tanda kegelapan yang sudah lama ingin ia ceritakan dengan orang dihadapannya.
Dumbledore menatap lekat kearah tanda kegelapan milik Draco. "Bisa kau jelaskan mengapa kau menunjukkan ini padaku?"
"2 hari lalu, dia memanggilku. Dia memberikaku tugas yang katanya mulia, membunuhmu." katanya.
"Dan sekarang tersisa 8 hari. Kau harus cepat cepat membunuhku sebelum dia marah." Dengan santainya Dumbledore mengatakan hal seperti itu kepada Draco.
Dahi Draco berkerut bersiap memberikan sumpah serapah yang tersusun rapi di otaknya. Apa-apaan ini? Apakah Dumbledore baru saja menyerahkan dirinya?
"Apa yang ada dipikiranmu saat ini, Malfoy?"
"Kau tahu betul."
"Bergabunglah dengan Orde. Kami akan melindungimu dan keluargamu. Kau akan selalu dalam lindungan Orde. Kita memiliki anggota yang cukup handal," ucap Dumbledore.
"Apakah semudah itu kau mengatakannya? Keselamatan keluargaku dipertaruhkan!" Seru Draco tertahan.
"Kau seharusnya mengerti dengan apa yang kurasakan." Suara Draco sudah mulai bergetar. "Jika ia tahu bahwa aku berkhianat ia akan membunuh ibuku, bahkan ia akan membunuhku."
"Pikirkan selama yang kau mau," kata Dumbledore pada akhirnya.
Draco meninggalkan ruangan Dumbledore yang perasaan campur aduk, sebelum ia menemui teman temannya ia menyeka matanya yang berkaca kaca dan menormalkan perasaannya.
"Profesor Sinistra sangat gila. Aku hampir gila dengan setiap kata kata yang diucapkannya. Terlebih dengan essay sepanjang dua meter yang ia berikan." Ron berjalan berdampingan dengan Hermione dan Harry. Hanya Ginny yang mengambil kelas satu jam sebelum makan siang.
"Ini masih tugas ringan, Ron. Tak ingatkah kau essay tujuh meter yang diberikan profesor Snape dua minggu lalu?" Tanya Hermione.
"Bahkan aku sudah melupakan waktu dan apa saja yang kutulis didalamnya," ujar Harry yang membuat Hermione dan Ron tertawa.
"Apa kau ingin langsung makan siang? Aku sangat lapar."
"Aku akan kembali keasramaku dulu untuk menaruh buku buku-ku."
Hermione lalu berjalan memisahkan diri dari Harry dan Ron lalu melangkahkan kakinya menuju asrama Ketua Murid.
"Aromohola Flipeculus." Setelah mengatakan kata sandi asrama, Hermione menemukan Draco yang tergeletak tak sadarkan diri didepan kamarnya dengan memegang sebotol minuman yang dicurigai Hermione adalah Fire Whiskey.
"Astaga! Apa Dumbledore tidak bisa mencari Ketua Murid yang lebih baik?" Gerutu Hermione yang mengangkat Draco yang sedang terkapar dengan Mobilicorpus.
Hermione menyentuh kening Draco, ternyata pemuda pirang ini demam. Lalu ia mengambil air hangat dikamar mandi untuk mengompres Draco. Cara muggle.
Cukup lama Hermione mengompres Draco sampai ia pun ketiduran disamping Draco dengan posisi duduk.
Tak lama kemudian Draco mengernyitkan dahinya dan membuka matanya perlahan. Ia merasakan dahinya basah dan rambutnya lepek karna air yang berasal dahinya. Perlahan tangannya bergerak untuk menyingkirkan benda asing yang membuat dahinya basah. Ia mengerjapkan matanya berkali kali sampai ia menemukan kepala seseorang disamping tempat tidurnya.
"Granger?" Draco mengelap kembali dahinya yang masih basah. Draco menggoyangkan lengan Hermione berharap gadis disampingnya segera bangun. Ia melirik jam yang berasa diatas mejanya.
"Sudah jam segini dan aku melewatkan makan siang, Crap. Granger bangunlah."
Draco beranjak dari tidurnya dan menyingkirkan helaian rambut Hermione yang menutupi wajahnya.
"Dia sangat cantik jika sedang terlelap," ucap Draco tersenyum tanpa ia sadari. Draco mengangkat tubuh Hermione dengan hati hati dan meletakkannya diranjangnya lalu menyelimutinya. Draco keluar dari kamarnya dan menyegarkan diri dikamar mandi.
Tak lama kemudian, Hermione bangun dari tidur panjangnya. Kamar ini terasa asing bagiku.
Hermione mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar. "Mengapa kamarku berubah mejadi warna hijau perak?" Hermione mulai memutar kejadian kejadian yang terjadi sebelum ia tertidur.
Hermione menemukan Draco tergeletak tak sadarkan diri didepan kamarnya
Hermione membawanya kedalam
Lalu mengompresnya
Lalu ia ketiduran
Pikirannya sudah berakar kemana-mana. Dan ia pun keluar dari kamar Draco dan pada saat yang bersamaan Draco baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang diletakkan dilehernya.
"Kau bisa terpesona jika terus melihatku, Granger," kata Draco sambil menunjukkan seringai-nya yang paling dibenci Hermione. Lagi lagi gadis itu teringat dengan taruhan konyol yang telah mereka sepakati.
Perlahan Hermione mendekati Draco dengan melipatkan tangannya didada. "Mengapa kau tidak bilang kalau kau sedang sakit, Honey. Aku bisa merawatmu jika kau tak mau ke Madam Pomfrey."
Draco kembali menyeringai sambil menatap tajam Hermione. "Yes, babe. Aku mau kau merawatku selama aku sakit," ucap Draco sambil mencium Hermione.
Gadis itu berusaha untuk menormalkan detak jantungnya meskipun tidak berhasil tapi Hermione bisa menyembunyikan kegugupannya. "Baiklah, apapun yang kau mau, Honey."
"Bagaimana jika nanti malam..."
Hermione sedikit terkejut dengan ucapan Draco walaupun ia belum selesai berbicara. Tiba tiba Draco tertawa.
"Kenapa kau terkejut?"
"Kau tidak berniat melakukan -"
"Jangan berpikir negatif. Aku hanya mengajakmu untuk mengumumkan anggota Prefek tahun ini. Kecuali jika kau menginginkan yang lain," ujar Draco tersenyum penuh arti.
"Berhentilah membuat pipiku merah, Malfoy. Baiklah, kita akan mengumumkannya nanti malam. Dan sekarang aku ada pelajaran. Sebaiknya kau istirahat agar cepat membaik."
"Baiklah."
"Dari mana saja, Hermione?" Suara itu mengejutkan Hermione, ternyata Harry.
"Kau melewatkan makan siang tadi. Dan profesor Dumbledore menanyakan kau dan Malfoy yang tak nampak saat makan siang. Kemana saja kalian?" Cerocos Ron sambil meletakkan perkamen dan tintanya diatas meja.
"Malfoy sedang sakit. Jadi- Ia memintaku untuk mengambilkan ramuan dari Madam Pomfrey," ucapnya berbohong.
"Dan kau menurutinya? Tak ingatkah kau dengan mulutnya yang setajam belati Bellatrix."
"Aku hanya kasihan dengannya, lagipula dia adalah partnerku, jika ia sakit aku akan kerepotan mengurus semuanya!"
Tepat setelah Hermione berkata seperti itu, profesor Binns pun masuk dengan riang.
Siang ini profesor Binns mencuri sepuluh menit waktu istirahat hanya untuk menjelaskan hal hal yang tidak masuk akal dan tidak berkaitan dengan sejarah sihir. Dengan tambahan essay sepanjang tiga meter mengenai sejarah Hogwarts tujuh puluh tahun lalu. Seperti biasa, Harry dan Ron kembali sebentar ke asrama Gryffindor untuk istirahat sambil menunggu makan malam. Begitu juga Hermione.
"Cepatlah, musang tampan," teriak Hermione.
"Sabar, sweetheart," teriak Draco lagi dari kamarnya. Saat ini ia sedang santainya memasang dasi dengan kecepatan setara dengan siput. Hermione dengan tidak sabar pun menerobos kekamar Draco dan memutar tubuh Draco yang semula menghadap kaca menjadi menghadapnya.
Dengan cepat ia membuka kembali dasi Draco dan memasangkannya dengan rapi. Draco sendiri senyum senyum sendiri karena Hermione dengan seriusnya memasangkan dasinya. "Sudah selesai. Ayo cepat baby dragon," gerutu Hermione
"Banyak sekali julukanmu untukku."
"Tapi hanya kau yang ada dihatiku."
Untuk sesaat Hermione menahan dirinya untuk tidak mengambil sebuah buku yang tebalnya seribu halaman lalu meleparkannya hingga mengenai kepala Draco.
Draco dan Hermione pun turun untuk mengisi perut mereka. Tak lupa Hermione membawa selembar perkamen kecil yang berisi nama nama Prefek. Sesampainya di Aula Besar, mereka langsung meminta ijin profesor Dumbledore untuk langsung mengumumkan nama-nama Prefek.
"Profesor, aku dan Malfoy akan mengumumkan nama nama Prefek tahun ini. Maafkan aku karna ini sangat terlambat." Hermione meringis. "Tak apa."
Seperti biasa, jika ada informasi penting, McGonagall akan mendentingkan gelasnya agar para penghuni Hogwarts menghentikan aktifitasnya sejenak. Hermione sedikit canggung ditatap ribuan pasang mata.
Ia pun menarik napasnya untuk meredakan sedikit kegugupannya. Tiba tiba Draco merampas perkamen ditangannya yang dihadiahi pelototan tajam oleh Hermione. "Kau membuang buang waktu, sweetheart," bisik Draco.
Seluruh murid Hogwarts pun mulai cekikikan melihat hal yan baru saja Draco lakukan.
"Selamat malam semuanya," sapa Draco yang membuat murid perempuan Hogwarts histeris.
"Merlin!"
"Rambutnya mengalihkan duniaku!"
"Kurasa aku akan pingsan."
"Wow, sepertinya aku ikut menjadi pembicaraan siswi Gryffindor karna berdiri disampingmu," ucap Hermione berbisik kepada Draco.
Draco menggeleng gelengkan kepalanya dan mengacuhan Hermione. "Aku dan Granger akan mengumumkan nama nama Prefek dari masing masing asrama." Draco mulai membuka perkamen ditangannya.
"Oke dari asrama Slytherin, Theodore Nott dan Blaise Zabini. Dari Huff-"
"Gryffindor terlebih dahulu, Malfoy."
"Dari Gryffindor, Harry Potter dan Neville Longbottom. Dari Hufflepuff, Hannah Abbot dan Zacharias Smith. Dari Ravenclaw, Anthonny Goldstein dan Stephen Fawcett." Beberapa dari mereka memberi selamat sorakan yang meriah kepada prefek tahun ini.
"Prefek baru diminta untuk berkumpul di ruang rapat yang berada 20 meter setelah asrama Hufflepuff yang berarti berada diujung Hogwarts. Dan jangan lupa membawa perkamen untuk mencatat materi. Terima kasih," lanjut Hermione sambil tersenyum.
Draco dan Hermione pun kembali kemeja makan mereka masing masing dan mendapat tepuk tangan yang tak kalah meriah.
"Wow, aku menjadi Prefek tahun ini hahaha."
"Kau salah jika memilih Zabini sebagai Prefek, Draco. Kau harusnya memilihku!" Seru Pansy tepat saat Draco sampai ditempat duduknya.
"Salah besar jika aku memilihmu. Jelas-jelas kau sangat suka melanggar jam malam," sambung Draco.
"Hei, maukah kau memberitahuku jadwal patroli Stephen Fawcett?" Tanya Pansy pelan yang langsung membuat Draco tertawa pelan sambil mengarahkan pandangan 'seriously?' kearahnya.
"Stephen Fawcett, huh?" Blaise menggoda. Pansy pun mendengus sebal melihat respon kedua laki-laki dihadapannya.
"Well, Neville lebih beruntung, ya?" Kini Ron yang berbicara tanpa makanan dimulutnya.
"Prestasi Neville lebih bagus darimu, Ron. Lagipula jika aku mengusulkan namamu, profesor Dumbledore tidak akan setuju. Mungkin anakmu kelak akan melanjutkan cita citamu menjadi prefek," canda Hermione
"Aku berharap bisa jadi Ketua Murid tahun depan," ujar Ginny. "Aku mendukungmu, babe," kata Harry tersenyum.
Setelah makan malam, para Prefek baru pun berkumpul ditempat yang sudah direncanakan oleh Ketua Murid. 3 Prefek yang terlambat pun dimarahi habis habisan oleh Hermione.
"Aku berharap kalian bisa mengubah pemikiranku bahwa aku cukup menyesal memilih kalian sebagai Prefek," kata Hermione menyindir prefek yang telat.
"Atas dasar kejadian siswa Gryffindor diserang oleh Pelahap Maut, profesor Dumbledore meminta jadwal patroli para Prefek ditambah, sedangkan Ketua Murid akan patroli tiap hari," kata Draco langsung pada intinya, ia tidak suka bertele tele.
Hermione membuka perkamennya lagi. "Blaise Zabini dan Theodore Nott berpatroli dihari Selasa dan Kamis, Harry Potter dan Neville Longbottom berpatroli dihari Senin dan Jumat, Hannah Abbot dan Zacharias Smith berpatroli dihari Rabu dan Sabtu, Anthonny Goldstein dan Stephen Fawcett berpatroli dihari Senin dan Sabtu. Aku akan memberikan kalian masing-masing peta yang akan menunjukan daerah patroli." jelas Hermione panjang lebar sementara para Prefek itu hanya mengangguk-angguk menyetujui.
"Untuk pemotongan poin..." Draco tau mereka pasti sangat senang dengan bagian potong memotong poin asrama yang berbuat kesalahan.
"Usahakan untuk tidak terlalu berlebihan, potong 10 poin sudah cukup, tapi jika ia melakukan pelanggaran besar maka maksimal pemotongan poin 50, hanya Ketua Murid yang diperkenankan untuk melakukan pemotongan poin lebih dari 50," jelas Draco.
"Bisakah kau beritahu bagaimana pelanggaran yang memiliki sanksi pemotongan 50 poin?" Tanya Neville. "Kau tahu, jangan sampai aku salah memotong poin asrama," katanya was-was.
"Potong 10 karena membuat kekacauan—ringan. Potong 30 poin karena melanggar jam malam dan memasuki area terlarang Hogwarts."
"Potong 50 poin karena melakukan hal tidak senonoh dikoridor Hogwarts. Terakhir kuperiksa ada tiga pasangan bodoh yang sedang melakukannya dibagian Selatan. Aku tidak tahu dimana otak mereka sehingga berani berbuat seperti itu dikawasan sekolah. Jika salah satu dari kalian tertangkap basah olehku, mungkin aku akan langsung memotong 100 poin." Harry dan yang lainnya langsung membulatkan matanya tak percaya kearah Draco. Hermione disampingnya hanya mengiyakan.
"Rapat selesai. Silahkan kembali keasrama masing masing." Hermione sudah mulai membereskan buku bukunya yang menumpuk diatas meja. Tadi ia tidak sempat mengembalikan bukunya keasrama karena ada rapat Prefek.
"Aku duluan, Hermione," kata Harry yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban Hermione. Tinggallah Hermione dan Draco diruang rapat Prefek.
"Kau ingin kembali keasrama bersamaku atau sendiri?" Tanya Draco.
Hermione sedikit berpikir pikir sambil mengerutkan dahinya. Jarak antara ruangan Prefek dan asrama Ketua Murid cukup jauh dan ia tak mau mengambil resiko jika harus bertemu dengan Bloody Baron, apalagi dengan banyak darah yan masih berada di bajunya. Hermione sangat takut dengan darah, garis bawahi itu.
Draco mendengus keras dan ingin meninggalkan Hermione, baru saja ia ingin memanggil Draco, pria pirang itu sudah hilang dari padangannya. Gengsinya terlalu tinggi jika harus memanggil balik pemuda itu.
Hermione melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ruangan rapat Prefek dan bersiap-siap untuk segera meninggalkan ruang rapat. Belum satu langkah ia keluar dari ruangan itu,
Tiba tiba...
