"Ummm..."

Cara dia mencium bibirku...

"Ughk!"

Cara dia mencumbu leherku...

"Ahhh..."

Dan cara ia menyentuh sesuatu di bawah sana...

"Mnh!"

Damn. Kau benar-benar membuatku gila, Chanyeol.

.

.

.

.


Dangerous Chanyeol

By Sayaka Dini

Disclaimer: This story belong to me, but the character not be mine

Main Cast: Baekhyun; Chanyeol

Other: Chanyeol; Kyungsoo; Sehun; Luhan; Kyuhyun

Pairing: Chanbaek / Baekyeol, Hunhan, Kaisoo

Setting: AU

Genre: Crime—Romance

Rated: M.

Warning: Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy.

Please, Don't Like Don't Read.

Note: No bashing, no flame, no copas, no re-publish, no plagiat, yes to like and comment

Hope You Enjoy It~ ^_^

_o0o_

.

.

.

.

.

...


Note: Paragraf bergaris miring menandakan flashback (kejadian masa lalu) dan POV dari seseorang.


...

.

.

.

.

.

...

Years: 2005

Aku menggeliat gelisah di atas ranjang yang bukan milikku. Bajuku sudah tersibak sampai ke atas, tepat di perpotongan bawah bahuku. Di bawah sana, terasa dingin, namun juga panas dalam waktu yang bersamaan. Karena dibalik resleting celana yang sudah terbuka itu, ada sebuah tangan lain yang menyelinap masuk ke dalam boxerku.

"Ughh!"

Daguku terangkat. Kedua tanganku bergerak meremas lengan baju pada bahu Chanyeol yang berada di atasku. Kuberanikan diri untuk mengintip sedikit ke arah wajahnya. Entah aku harus menyesal atau tidak, karena tatapan sendunya sudah balas menatapku entah sejak kapan. Ku tolehkan kepalaku ke samping, menghindari kontak mata dengannya sementara wajahku terasa sangat memanas.

Ini begitu memalukan.

"Ahhh!" aku tersentak dengan remasan tangannya di bawah sana. Ini memang sangat memalukan, tapi aku tak bisa menampik bahwa ini begitu...

...bergairah.

"Aku..."

"Hm," ia membalas dengan sama lirihnya. "Sebut namaku, Baekhyunie," Chanyeol berbisik di telingaku, mengirim sebuah aliran tersendiri yang membuat tubuhku otomatis semakin bergetar.

Lidahku terasa kelu, tapi aku tak keberatan untuk menyembut namanya. "Yeolie...," bahkan jika ini pertama kalinya aku memanggil dia dengan sebutan seperti itu.

Sebelah tangannya yang tidak digunakan 'bermain' di bawah sana, menarik daguku agar wajahku yang menoleh ke samping kembali menghadap lurus ke atas, tepat ke arahnya. Sesaat, mata kami beradu pandang dalam diam, dengan nafas berhembus yang saling menyatu di sela wajah kami yang begitu dekat. Lalu dia lagi-lagi menciumku, dan aku membalasnya.

"Mmnh!" dadaku melengkung ke atas, bertubrukan dengan dada Chanyeol yang masih terbalut dengan bajunya.

Gerakan tangannya di bawah sana bertambah makin cepat. Kakiku menggeliat gelisah. Tanganku melingkar erat pada lehernya, membiarkan bibir dan lidahnya semakin dalam menginvasi mulutku. Mataku terus terpejam erat, terlihat gelap, tapi cahaya putih itu terasa berada di ujung pandanganku.

Sedikit lagi...

"Akhhhh!" Desahan terakhirku terasa panjang. Kepalaku sekali lagi mendongak ke atas, mataku berkaca-kaca, tapi yang kulihat hanyalah cahaya putih yang terasa terang.

Milikku datang, menyembur dalam genggaman tangan Chanyeol.

Tautan tanganku lepas dari leher Chanyeol, terjatuh lemas di atas ranjang di samping kepalaku. Dengan nafas terengah, mataku memandang lemah sayupada Chanyeol di atasku. Wajahku memanas, melihat bagaimana cara Chanyeol menjilati tangannya sendiri sambil memandangku.

Chanyeol mendekatkan wajahnya lagi padaku. Aku sontak menoleh ke samping lagi. Bunyi debaran jantungku makin menggila sendiri di telingaku.

Apa ini akan berlanjut?

"Pulanglah," Chanyeol berbisik di telingaku dengan suara tertahan seperti mencoba menahan diri. "Kau harus segera pulang sebelum aku benar-benar hilang kendali."

Ranjang berderit. Chanyeol tak lagi menindihku. Saat aku menoleh, lagi-lagi aku hanya bisa melihat punggung Chanyeol yang menghilang di balik pintu kamar mandi.

Hanya itu? Tanpa kata-kata yang lain?

"Pulang?" tanpa sadar aku membeo dengan suara serak, juga lirih.

.

.

.

.

...

Date: 3 September 2015. 18.03.

Pintu di ruangan itu dibanting terbuka dengan kasar. Chanyeol dan Kyungsoo, yang ditahan sementara di dalam ruangan itu, terlonjak kaget. Tampak si pelaku pembanting pintu, Baekhyun, berjalan masuk tanpa ragu. Langsung menghampiri Chanyeol yang sedang berdiri bersandar pada dinding.

"Kau," Baekhyun mendesis sambil menunjuk tajam Chanyeol. "Apa maksudmu dengan ini semua?" Ia mengeluarkan amplop coklat dari balik saku jaketnya.

Chanyeol melirik amplop coklat tersebut, alisnya bertaut heran. "Apa itu?"

"Jangan pura-pura tidak tahu!" Baekhyun menekan amplop tersebut di dada Chanyeol sambil melangkah lebih dekat, tak sadar jarak ujung sepatu mereka nyaris tak terlihat. Baekhyun menatap lurus mata Chanyeol, mencoba untuk mengintimidasinya. "Aku menemukan ini di kamarmu! Jelaskan padaku, apa maksudmu mengambil foto-foto ini?"

Chanyeol tak menjawab, matanya malah sibuk memandangi wajah Baekhyun yang sangat dekat dengannya.

"Jawab aku! Mengapa aku bahkan TIDAK MENGETAHUINYA!" nafas Baekhyun terengah, mengeluarkan amarahnya. Tapi saat ia menangkap sinar mata Chanyeol, cara ia menatapnya, sama sekali tidak berubah dengan saat Chanyeol dulu juga menatap dirinya, ketika sepuluh tahun yang lalu. Amarah Baekhyun menurun dengan sendirinya. "Sejak kapan?" suaranya memelan, tatapan Baekhyun berubah penuh kekecewaan.

"Kau tahu," Chanyeol akhirnya bersuara, meski dengan suara pelan. "Aku sangat merindukanmu..."

Baekhyun membeku. Tubuhnya, pikirannya ikut terasa kaku dalam sekejap. Ia bahkan tak bisa merespon dengan baik, ketika wajah Chanyeol merunduk, makin mendekat padanya, mengambil kemiringan yang sempurna dan nyaris mempertemukan bibir mereka.

"Baekhyun-hyung!" Jongin membuka pintu ruangan sambil berseru.

Baekhyun menarik diri, menjauh dari hadapan Chanyeol. Tangannya refleks menyembunyikan amplop coklat di balik punggungnya. "Wae?" ia bertanya, mencoba dengan nada biasa.

Jongin mengerjap, sekilas, tanpa sengaja tadi ia sempat melihat posisi Chanyeol dan Baekhyun sangat dekat saat ia pertama kali membuka pintu. Jongin jadi merasa kaku sendiri. "Err... apa aku tadi mengganggu sesuatu?"

"Kurasa begitu," suara Kyungsoo menyahut di sisi lain ruangan. Baekhyun dan Chanyeol sontak menoleh ke arah guru matematika tersebut, baru menyadari keberadaannya yang sejak tadi bersama mereka dalam ruangan tersebut. "A-apa?" kini Kyungsoo yang merasa kikuk sendiri setelah mendapatkan dua pasang mata yang menatapnya tajam —Chanyeol dan Baekhyun.

"Baekhyun-hyung!" Jongin sekali lagi memanggil, menarik perhatian, sekaligus menyelamatkan Kyungsoodari death glare. "Kyuhyun-hyung memanggil kita ke ruangannya. Kurasa ini mengenai Sehun yang berhasil kabur."

"Oh. Arrasho." Baekhyun berjalan menuju pintu, tangannya sempat menyembunyikan amplop di balik saku jaketnya ketika Jongin sudah berbalik membelakanginya.

Chanyeol hanya bisa diam di tempat, memandangi punggung Baekhyun yang meenghilang di balik pintu, meninggalkannya tanpa kata.

.

.

.

.

.

Date: 3 September 2015. 18.45.

Sehun menyibak kecil kain gorden jendela, mengintip suasana malam jalanan di luar rumah. Nafasnya agak terengah dengan keringat yang membasahi pelipisnya.

"Sebaiknya kau duduk."

Suara namja lain menyentakkan Sehun. Ia menoleh, melihat sang tuan rumah berdiri di sisinya sambil membawa sekotak kecil peralatan medis. Sehun memandangnya tak mengerti.

"Kakimu terluka," ia menunjuk sisi betis Sehun, tepat dinoda merah kecoklatan yang merembes disela kain celana jeans Sehun yang telah robek. "Harus segera ditangani."

"Tidak perlu."

"Aku tak ingin darahmu yang jatuh itu terus mengotori lantaiku. Kau pikir gampang membersihkannya," sinisnya. "Sekarang duduklah. Atau aku akan menyeretmu untuk duduk!"

Sehun tersentak menerima bentakan pertama meluncur dari mulut itu. Ia mengerjap sedikit, sebelum akhirnya mengangguk patuh.

...

Dalam remangnya ruangan tengah di rumah tersebut, yang hanya dengan sengaja menyalakan lampu kuning di atas meja samping sofa sebagai penerangan, dan mengandalkan sedikit cahaya lampu dari gedung yang berada di luar. Luhan duduk di atas lantai, berhadapan langsung dengan kaki Sehun yang duduk di sofa.

Perlahan, Luhan menggulung celana itu sampai di bawah lutut Sehun. Memperbaiki sebentar kacamata persegi yang ia pakai, Luhan mulai membasuh luka itu dengan kapas yang sudah dibasahi oleh air antiseptic.

"Kau beruntung karena pelurunya hanya menggores kulitmu. Jika saja kau tak mengelak sedikit saja, mungkin sudah ada sebuah peluru yang bersarang di betismu." komentar Luhan, tangannya mulai mengoleskan krim -entah apa- pada luka terbuka itu.

"Apa kau seorang dokter?"

"Bukan. Tapi aku terpaksa mempelajari cara mengobati luka orang karena adikku sering terluka. Jika dia terluka karena pekerjaannya, ia lebih memilih ke sini daripada rumah sakit. Alasannya karena rumahku lebih dekat dengan kantornya dari pada rumah sakit itu sendiri. Dan juga jika aku yang mengobatinya, itu gratis."

"Apa pekerjaan adikmu itu?"

Tangan Luhan yang sedang mempersiapkan kain perban, terhenti sebentar. Ia mendongak, beradu pandang dengan Sehun. "Dia seorang detektif kepolisian." Tak peduli dengan mimik wajah Sehun yang sempat menegang, Luhan melanjutkan kegiatan memperban betis Sehun. "Kau beruntung aku mengenali wajahmu, karena itu sampai sekarang aku tak melaporkanmu pada adikku sendiri."

"Terima kasih, emm..."

"Luhan," kata Luhan.

"Yah, Terima kasih Luhan-sshi. Aku Sehun."

"Tak perlu seformal itu. Bukankah kita sudah saling kenal? Hanya saja baru saling tahu nama setelah ini."

"Yah, kau benar. Sekali lagi terima kasih banyak Lu,"

Gerakan tangan Luhan terhenti. Diam-diam ia tersenyum kecil sambil memperbaiki perban di betis Sehun. "Boleh aku tanya satu hal padamu?" ia bertanya sambil berdiri, perbannya sudah terpasang rapi.

"Katakan saja."

"Apa kau seorang penjahat?"

Sehun terdiam sebentar. Ia menunduk, menolak kontak mata dengan Luhan di hadapannya. "Aku sendiri tidak tahu," ia menjawab dengan nada lirih. Perlahan, ia kembali melirik Luhan yang berdiri di hadapannya. "Tapi aku bisa memastikan padamu satu hal," Sehun menatap lurus pada Luhan.

"Apa itu?"

"Aku bukan seorang pembunuh."

.

.

.

...

Sekitar seminggu yang lalu...

Date: 27 Agustus 2015. 20.00.

Satu jari menekan tuts piano, menimbulkan satu nada. Jari jemari lain pun menyusul, memperdengarkan alunan melodi musik indah, memanjakan pengunjung cafe tersebut di malam hari. Suara lembut bagaikan malaikat mulai mengalun, bernyanyi, menyempurnakan harmonisasi musik yang dimainkan oleh sang pianis.

Byun Luhan, duduk di kursi bundar yang berada di tengah-tengah atas panggung kecil dalam cafe tersebut. Ia menyanyikan sebuah lagu china slow, 'Writing a letter', sebagai alunan lagu untuk menghibur para pengunjung cafe. Ada jeda sebentar ia berhenti bernyanyi, membiarkan alunan musik piano dari patner pianisnya mengalun. Sementara mata Luhan melirik ke arah pintu cafe, tepat di saat pintu itu dibuka dari luar.

Seperti yang diperkirakan Luhan dalam hati. Namja tinggi berkulit putih itu datang, Sehun, di waktu yang sama seperti hari-hari sebelumnya, sebagai pelanggan cafe yang sekedar singgah untuk menikmati segelas cappuchino sambil mendengarkan alunan lagu dan musik live yang dibawakan oleh penyanyi cafe.

Sehun duduk di meja bagian sudut cafe yang selalu ia tempati. Meski di sudut, tapi postur badan sang vokalis band cafe di atas panggung kecil itu terlihat jelas dari arah pandang yang Sehun duduki. Setelah pesanannya datang, Sehun mulai mengangkat cangkir cappuchinonya. Ia menyempatkan diri melirik ke arah panggung kecil cafe, tepat di saat Luhan juga sedang memerhatikannya.

Untuk sesaat, mereka beradu pandang. Sebelum akhirnya Luhan memejamkan mata duluan, melanjutkan nyanyiannya yang sempat tertunda. Mencoba menghayati nyanyiannya sambil memejamkan mata. Sementara Sehun juga ikut memejamkan mata, menikmati suara tersebut sambil menyesap cappuchino.

Tanpa sadar, keduanya tersenyum kecil secara bersamaan sambil memejamkan mata...

...

"Ada yang ingin bertemu denganmu?" kata salah satu waiters cafe pada Luhan setelah ia turun dari panggung.

"Nugu?"

Waiter itu menunjuk salah satu meja cafe yang ditempati Sehun, tapi di sana namja tinggi itu tidak lagi sendirian. Ada sesosok wanita yang juga duduk bersamanya. Luhan mengernyit heran.

"Hai, Aku Nana," wanita itu memperkenalkan diri setelah Luhan menghampiri dan menyapanya. "Aku baru saja mendengar kau bernyanyi. Dan suaramu ternyata memang sangat bagus." sekilas Nana tersenyum sambil melirik Sehun yang pura-pura menyesap cappuchino-nya.

"Terima kasih," Luhan tersenyum sambil sedikit membungkuk sopan.

"Aku ingin menawarkanmu bernyanyi di pesta ulang tahun temanku. Apa kau bisa?" Nana memasang wajah penuh harap.

Luhan mengerjap, bingung sekaligus heran mendapatkan tawaran itu tiba-tiba. Sekilas ia melirik Sehun yang terlihat sibuk meniupi cangkir yang tak lagi terlihat uap panasnya. Ketika tanpa sengaja Sehun juga balas meliriknya, dan beradu pandang dalam sedetik, keduanya segera mengalihkan pandangan ke sisi lain secara bersamaan.

"Jadi, apa kau bisa?" ulang Nana, mencoba kembali menarik perhatian.

"Kapan pestanya?"

"Minggu depan. Tapi karena pesta ulang tahunnya ini bertema party nite, jadi dimulai sekitar jam sebelas malam. Apa kau bisa? Katakan saja berapa bayaran sekali kau menyanyi."

"Emm... Tengah malam yah?" Luhan menggaruk bawah telinganya, ia tampak ragu.

"Kau bisa memikirkannya lagi," Nana mengeluarkan kartu namanya dari dompet dan menyerahkannya pada Luhan. "Hubungi aku kalau kau sudah memutuskannya. Paling lambat lusa aku sudah bisa memiliki jawabanmu. Paling tidak aku tidak akan terlambat mencari penyanyi lain jika kau menolak tawaranku." Nana tersenyum.

Luhan balas tersenyum. "Neh, aku mengerti."

Setelah itu Nana beranjak untuk pamit pergi. "Ayo Hun," pintanya lalu berjalan pergi duluan.

Sehun ikut berdiri, tampak kaku, ia membungkuk sopan ke arah Luhan sebelum beranjak pergi menyusul Nana.

Luhan mendengus sambil melihat kepergian mereka. "Ternyata sudah punya kekasih," ia bergumam sendiri. Matanya lalu memincing. "Tapi kenapa mereka tidak gandengan tangan?" herannya.

.

.

.

.

...

Date: 3 September 2015. 18.30.

"Ada dua kemungkinan mengapa Sehun memilih untuk berbohong dan melarikan diri," ungkap Jongin. "Pertama, dialah pelakunya. Dan yang kedua, dia tahu siapa pelakunya, tapi memilih untuk menyembunyikannya karena suatu alasan."

"Masuk akal jika dia dituduh pelakunya karena dia melarikan diri," sambung Baekhyun.

"Tapi dia bukan pelakunya," balas Jongin. Membuat dua pasang mata dalam ruangan itu —Kyuhyun dan Baekhyun beralih menatapnya.

"Jelaskan mengapa kau berspekulasi bahwa bukan dia pelakunya?" tanya Kyuhyun.

"Menurut catatan dari hasil otopsi jenazah korban, lebar besar bekas tali yang mencekik leher si korban terlihat seimbang. Itu artinya pelaku menggunakan kekuatan tarikan pada kedua tangannya dengan sama besar. Sedangkan Sehun sendiri mengalami cidera pada otot lengan kirinya sejak dua hari yang lalu, kami sudah mengkorfimasi itu oleh pemeriksaan dokter dan memang benar. Dia tak bisa menggunakan kekuatan lengan kirinya dengan baik," jelas Jongin.

"Bagaimana kalau cidera lengannya sudah sembuh?" sahut Baekhyun.

"Cidera otot seperti itu, paling cepat membutuhkan waktu setengah bulan untuk sembuh total," jawab Jongin.

"Kalau memang bukan dia pelakunya? Untuk apa dia kabur?" tanya Baekhyun.

"Berarti kita lanjut ke praduga yang kedua. Malam itu, saat Sehun memutar arah mobil ke rumah Nana setelah menerima misscall darinya setelah jam tiga dini hari. Mungkin saja ia sempat melihat kejadian pembunuhan tersebut, dan mengetahui siapa pelakunya."

"Sekarang itu terdengar lucu," komentar Baekhyun sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Jika memang Sehun saksi utama dalam kasus ini. Dan mengetahui siapa pelakunya. Mengapa dia tidak bicara jujur saja dan lebih memilih membohongi kita dari awal?"

"Kau yang terdengar lucu, hyung," balas Jongin. "Bukankah kita sebagai detektif penyelidikan dan berpengalaman dalam hal ini sudah bisa menebak apa alasannya?" sindirnya sambil memandang aneh pada sikap Baekhyun kali ini. "Mungkin saja si pelaku itu adalah orang terpenting bagi Sehun karena itu ia tidak ingin melaporkannya. Atau kalau bukan, Sehun diancam oleh si pelaku untuk tak mengadukannya."

"Menurut info profil, Sehun itu pemegang sabuk hitam teakwondo," Baekhyun mengingatkan. "Dia kuat. Meskipun tadi kau bilang dia sedang mengalami cidera otot pada lengan kirinya. Dia masih mampu kabur dari pengamanan kita, mengalahkan dua penjaga yang sedang mengantarnya ke kamar mandi tanpa menggunakan senjata apapun. Siapa yang berani dan bisa mengancam orang seperti itu?"

"Uang," jawab Jongin tegas. "Sekuat apapun tenaga Sehun, dia bukanlah siapa-siapa. Dia hanya berprofesi sebagai mahasiswa sekaligus supir pribadi Nana. Sehun bukanlah dari keluarga kaya yang memiliki uang banyak dan keamanan yang terjamin dengan berberapa bodyguard bayaran. Jika kau memiliki kekuasaan jauh diatasnya, bukan hal yang sulit untuk mengancam seorang seperti Sehun."

Baekhyun terdiam, tatapannya berubah lekat pada Jongin. "Apa kau ingin mengatakan bahwa pelakunya adalah orang yang sederajat dengan atasan Sehun?"

"Kemungkinan seperti itu. Chanyeol orangnya."

Mulut Kyuhyun terbuka, hendak menanggapi ucapan Jongin ketika Baekhyun mendahuluinya.

"Kau tidak ingat kalau orang itu sedang demam saat itu, bukankah kau sendiri juga sudah memeriksa keadaannya saat itu. Tak mungkin ia bisa membunuh seseorang dalam keadaan demam."

"Mungkin tidak bisa jika yang ingin dibunuh adalah orang yang sadar sepenuhnya. Tapi Nana saat itu sedang mabuk. Dan kebanyakan orang mabuk memiliki pertahanan yang lemah. Chanyeol memang demam, itu pun sudah mulai reda, dan juga dia tetaplah seorang pria, sementara Nana adalah wanita yang sedang mabuk. Kau pikir siapa yang lebih kuat diantara keduanya?"

"Aku masih belum bisa menerima penjelasanmu," Baekhyun menggeleng keras kepala. "Bagaimana pun orang itu—" ada jeda sejenak yang diambil Baekhyun untuk menarik napas. "—bertunangan dengan wanita itu. Kau pikir dia punya motif apa untuk membunuh tunangannya sendiri? Menurutku malah guru matematika itu yang punya motif kuat untuk membunuh wanita itu."

"Maksudmu Kyungsoo?" tanya Jongin memastikan.

Baekhyun menggangguk. "Ya. Dia sempat mengalami percecokan dengan Nana di hari sebelumnya. Dia juga pernah bilang membenci wanita itu karena pernah melukai kucing kesayangannya."

"Kau berlebihan," suara Jongin meninggi. "Mana mungkin seseorang membunuh hanya karena masalah kucing?"

"Kita tak pernah tahu bagaimana karakter orang jika tak mengenalnya dengan baik. Mungkin saja dia lebih menyayangi kucingnya melebihi siapa pun. Karena itu dia memiliki dendam sendiri terhadap wanita yang sudah melukau kucingnya. Selain itu, alibi Kyungsoo yang paling lemah dan memiliki kesempatan besar untuk membunuh Nana saat itu."

"Cukup hyung!" sela Jongin. "Sekarang tingkahmu benar-benar semakin aneh. Baru tadi pagi aku masih mengingat kau bergumam mengenai ingin menjebloskan Chanyeol ke penjara dengan tanganmu sendiri jika kau sudah mendapatkan buktinya. Tapi mengapa sekarang kau seolah-olah ingin membelanya?"

"Aku tidak sedang membela siapa pun," sangkal Baekhyun. "Justru kau yang sebenarnya aneh. Sejak kita memulai penyilidikan kau lebih fokus pada Sehun dan laki-laki tinggi itu. Sementara dengan Kyungsoo, kau lebih condong untuk terus membelanya. Sebenarnya aku sudah tahu dari cara kau memandang anak itu sejak awal, kau tertarik padanya!"

"A-aku tidak—" wajah Jongin memerah, tampak gelagapan sendiri.

Baekhyun mendengus. "Tau begini, dari awal seharusnya kau tidak ikut dalam menangani kasus ini."

"Jangan memasang wajah sok polos begitu," balas Jongin tak terima. "Kau sendiri, dari awal aku tahu kau memiliki sebuah hubungan dengan Chanyeol. Itu terlihat jelas dari emosimu yang tiba-tiba tak tentu jika berdekatan dengannya. Tapi sampai sekarang kau tak mau mengakui pada kami. Atau jangan-jangan kau sebenarnya sekongkol dengan Chanyeol."

"Yach. Jaga bicaramu!" Baekhyun sudah bersiap ingin menerjang Jongin, sementara Jongin sendiri juga sudah siap memasang kuda-kuda. Ketika tiba-tiba sebuah map besar terlempar keras di sela antara keduanya.

"Yach! Kalian berdua! Hargai aku disini!" Bentak Kyuhyun. Membungkam segala perdebatan maupun pergerakan kedua bawahannya tersebut. Cho Kyuhyun menghela nafas sambil berkacak pinggang di balik meja kerjanya. Ia menatap bergantian antara Baekhyun dan Jongin.

"Sebenarnya ada apa dengan kalian, huh!" seru Kyuhyun. "Kalian di sini itu sebagai patner. Kalian juga sudah lama saling mengenal dan kerjasama. Mengapa kalian tiba-tiba ingin berkelahi hanya karena beda pendapat? Ingat umur! Dewasalah! Pikirkan baik-baik dengan tenang." Kyuhyun kembali duduk di kursinya. "Padahal ini hanyalah kasus sepele, bukan tentang pembunuhan rencana atau berantai yang misterius seperti sebelumnya. Seharusnya kalian bisa menyelesaikan ini dengancepat. Belum lagi tentang seorang saksi tahanan yang bisa kabur."

"Maafkan kami, hyung," Baekhyun membungkuk penuh penyesalan, diikuti oleh Jongin.

"Sebaiknya kalian benar-benar menyelesaikan kasus ini dengan cepat, agar keluarga korban juga bisa merasa tenang," pinta Kyuhyun. Baekhyun dan Jongin mengangguk. "Ohya Baekhyun, kudengar kau kembali ke tkp untuk memeriksa ulang. Apa kau menemukan sesuatu?"

Jongin ikut menoleh ke arah Baekhyun. Ikut penasaran dengan apa yang ditemukan Baekhyun di sana, tapi jawaban Baekhyun cukup membuat Jongin terkejut.

"Aku tidak menemukan apapun, hyung."

...

"Kau berbohong!" Jongin langsung menuduh Baekhyun begitu mereka keluar dari ruangan Kyuhyun dan berjalan berdua di koridor gedung kepolisian itu.

"Apa maksudmu?"

"Aku tahu kau menemukan sesuatu di rumah Nana. Tadi saat aku menelponmu sebelum kita bertemu, kau bilang akan mengatakannya padaku setelah kita bertemu. Sekarang katakan padaku apa yang kau temukan di sana."

"Sudah kubilang, aku tidak menemukan apapun disana, Jongin."

"Aku tahu kau berbohong." Jongin menghentikan langkahnya, sekaligus menahan lengan Baekhyun untuk ikut berhenti melangkah sepertinya. "Katakan padaku sekarang, apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?"

Baekhyun melepaskan tangan Jongin dari lengannya. "Dengar Jongin," ia balas menatap tajam patnernya. "Apapun yang sudah kutemukan di rumah itu, ini tidak ada hubungannya dengan kasus pembunuhan ini." Baekhyun segera berbalik pergi, meninggalkan Jongin tanpa ingin berdebat lagi,

"Jangan memaksaku untuk mencari tahu itu semua sendiri!" seru Jongin.

Langkah Baekhyun terhenti. Ia terdiam sejenak, lalu kembali berjalan tanpa menoleh ke arah Jongin.

.

.

.

.

.

.

Bersambung~

.

.

.

.

.


Terima kasih yang sudah mereview~ kemarin sudah saya peluk dan cium satu-satu, sekarang apa ya? Saya jilat satu-satu deh~ #wink #plaaak

Hebat! Chanbaek shipper ternyata pintar-pintar~ atau memang fanfic ini yang terlalu gampang ditebak? Standing applaus dariku untuk salah satu review dengan tebakan yang benar semua! Sayangnya saya gak mau bilang pename-nya biar yang lain gak pada tau, bahkan orang itu sendiri gak tau kalau tebakannya benar~ hahahaha #plaak


.

.

.

_o0o_

Review?

~Sayaka Dini~

[30 Januari 2015]