HBD 4
Maaf saya sempat lama nggak update! Dikarenakan laptop saya selama 2 minggu mengalami kerusakan, dan baru kemarin bisa diperbaiki,
Dan juga, karena ane lagi kaga ada ide baru…
Seperti yang diminta temenku "Gaby", aku coba masukin konflik yang balum keliatan nongol sama sekali di capter 1-3. Kalau soal ini, aku emang bener-bener lupa + nggak kepikiran,
Kalau ada ide saran masukan kritik atau yang lain, sialahkan beri tahu saya. Baik lewat review, atau kalo yang malu, bisa langsung lewat PM, dengan senang hati pasti akan saya terima.
Oke, enjoy the story
Vocaloid Fanfiction
Happy Birthday, Marry me Maybe?
Capter 4 : "Len"
Pair in this capter : Kagamine Len x Rin (not incest)
Genre : Romance/Family
Rated : M (For Mature content and situation)
Warning : Alur kaga jelas,kecepetan, typo bertebaran (ane emang kaga pernah teliti ama yang satu ini), OOC (maybe) dll
Capter 4 "Len"
Siapa Len? Oh si jenius yang juara parallel setiap tahunnya itu ,ya?
Dia keren, ya? Sayangnya tak ada satupun yang berani mendekatinya
Kenapa? Oh, kau tahu sendiri, kan?
Sejak ia pernah punya masalah dengan pacarnya 'Hatsune Miku' saat kelas 1 SMP
Len Kagamine telah berubah…
26 December
09.10
Rinto tersenyum simpu mengamati kedua adiknya tengah terlelap kini. Kala ia langkahkan kakinya menjauh dari ruangan Rin, ia rasakan getaran kecil namun cukup mengejutkan yang berasal dari saku celananya. Handphone nya mengirim isyarat ada panggilan masuk.
Segera ia mengambil langkah jauh menuju ruang kamarnya. Instingnya berujar, ada hal yang begitu penting hingga seseorang menghubunginya.
"Hallo?" Kata itu yang pertama ia ucap setelah menekan tombol hijau berbentuk gagang telepon
Mimik wajahnya nampak serius begitu mengetahui nama yang terpapang di telepon selularnya.
"Ada apa Lenka?" Tanyanya sambil duduk terpaku di sudut ranjang. Beberapa menit ia lalui dengan mendengar 'kabar' yang dikirim Lenka lewat pesawat kabel.
Dalam sekejap ekspresinya berubah. Kedua pupilnya membulat dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Astaga, Kau serius?!"
"…."
"Oke, aku mengerti situasinya. Sebisa mungkin kendalikan keadaan. Gawat juga kalau kejadian 5 tahun lalu terulang"
Panggila terputus. Rinto pucat pasi. Pikirannya berkedut-kedut. Ia nampak mulai mati akal.
"Len…"
Hanya itu yang mampu diutarakan Rinto.
Rin's POV
Kurasakan guncangan pelan dari tempatku berbaring. Walau kepalaku masih terasa pening, reflek kubuka lebar kedua mataku saat kusambut pembandangan Len yang tengah berdiri tegap di depanku dengan pakaian lengkap.
"Len?"
"Rin, maaf, aku ada keperluan sebentar di kampus"
"Kau akan pergi?"
"Tentu saja.."
Rasanya aneh. Tak biasanya aku bertanya-tanya seolah mengulur waktu Len untuk tak pergi. Apa aku saja yang terlalu cemas?
Len yang merasakan aura khawatirku, perlahan menunduk dan meraih pakaian dalam ku yang tercecer di lantai.
"Maaf untuk yang tadi.."
Kenapa kau justru minta maaf sekarang?
Len menunduk dan menarik pelan kemeja tanpa kacing-ku. Kau tahu sendiri,kan kenapa kemeja ku kini tak berkancing?
"Kancing nya lepas…" Ujar Len
"You don't say?"
"Rin… aku…" Sebelum Len menyelesaikan ucapannya, kuacungkan jari telunjukku tepat di depan bibirnya.
"Tak apa, sekarang kau harus pergi,kan?"
"Kau yakin?"
Aku tak punya alasan untuk tak mempercayaimu Len…
"Asal kau kembali…"
"Aku pasti pulang, Rin…"
Kecupan lembut mendarat di pipiku. Wajarku bersemu merah, sedangkan Len segera melangkah pergi. Punggungnya kian terlihat jauh.
"Cowok itu jalannya cepat,ya?"
Aku tersenyum kecil. Setelah yakin Len benar-benar pergi, perlahan kubuka lemari bajunya, dan mengambil salah 1 kemeja Len
"Sebagai ganti kemejaku yang tadi kau rusak Lenny~"
Normal POV
Rinto yang sedari tadi mengurung dalam kamar akhirnya menginjakkan kaki keluar. Kedua iris safirnya menangkap sosok adiknya Rin tengah ngemil buah jeruk.
"Oh, hai nii-san!" Sapanya
"Rin, Len kemana?"
"Ke kampus, dia ada acara…."
Rinto yang terkejut bukan main membatu di tempat. Tatapannya kosong dan nampak rautnya amat cemas.
"Nii-san, ada apa?"
Bukannya menjawab pertanyaan Rin, Rinto justru langsung meraih kunci mobilnya dan bergegas pergi dari rumah.
"Nii-san? Hei, Rinto Nii-san, ada apa?!" Cegat Rin sambil menarik lengan kemeja Rinto sebelum ia sempat melewati pintu rumah.
"Tak ada waktu untuk menjelaskannya, Rin! Aku harus bergegas, Len bisa-bisa terkena masalah!"
"Memangnya Len kenapa? Apa dia melakukan hal yang salah?"
Rinto bedecak melihat adik tersayangnya yang keras kepala. Rin nampak tak ingin melepas cengramannya pada Rinto sampai ia mendengar penjelasan dari kakaknya.
"Iya..iya, kau boleh ikut!"
Rin tersenyum bungah. Segera ia masuk ke dalam mobil kakaknya, dan duduk di kursi penumpang depan.
Len's POV
Lagi-lagi aku tak dapat mengendalikan diriku sendiri. Aku bahkan hampir melukai Rin. Sial! Aku tak mau kejadian dulu terulang kembali! Aku tak ingin lagi menyakiti orang yang kusayangi
Kurasakan handphoneku bergetar. Kulirik layar kacanya, terpapang gambar ilustrasi surat pertanda ada pesan masuk
From : Utatane Piko
To : Kagamine Len
Subject : Meeting
Kau di mana sekarang? Sebentar lagi acaranya dimulai!
Ck! Kau pikir naik bus 1 km ke kampus bisa cepat? Mana busnya sempet macet lagi!
From : Kagamine Len
To : Utatane Piko
Subject : re:Meeting
Aku sedang di jalan!
Still Len's POV
"Maaf saya terlambat!" Ujarku seraya menggeser pintu ruang pertemuan. Nampaknya semua sudah berkumpul.
"Masuklah Kagamine-san… sialahkan duduk di bangku kosong di sebelah Utatane-san.." Gakupo sensei memberi komando padaku untuk segera duduk. Segera kulewati kursi-kursi di ruang pertemuan yang telah diduduki, lantas duduk di sebelah Piko. Teman satu fakultasku.
"Kau telat baka.." Bisik Piko
"Ya maaf, tadi busnya macet, dan sebelumnya aku ada acara.." Mendengar alasanku, entah apa yang ia pikirkan, Piko lantas mengendus-endus daerah sekitarku.
"He-hei! Ngapain kamu?! Jangan kaya anjing pengendus!"
"Apa yang barusan kau lakukan baka? Baumu 'ketara' sekali tahu!"
Kusadari beberapa orang yang duduk di sekitarku menedelik aneh ke arahku. Serasa menyetujui ucapan Piko.
Tentu saja 'bau' ku menyengat. Tadi pagi aku, kan…
"Piko, kau punya parfume?"
"Ya, tapi sebagai gantinya, ceritakan semua yang tadi kau lakukan~ Sepertinya menarik~"
"Ck, terserah kau saja…"
Normal POV
In Rinto's Car
"Disaat seperti ini kenapa malah macet?!" Umpat Rinto sambil tepok jidat pakai setir.
"Nii-chan, memangnya kenapa, sih? Apa memang ada hal penting?"
"Tentu saja! Jika tidak kenapa aku sepanik ini? Argh! Len!"
"Nii-san, mumpung sekarang macet, aku mau dengar ceritamu, kenapa sampai seperti ini kau kaget saat mendengar Len ke kampus hari ini?"
"…"
"Jangan bilang nanti ceritanya seperti di Final Destination…"
"Tentu saja tidak! Memangnya ini film!"
"Kalau begitu kenapa?"
"…"
"Rinto nii-san?"
"Oke.. akan kujelaskan dari awal…"
Len yang sudah tenang karena meminjam parfum Piko, dengan serius menyimak diskusi rapat. Ia perhatikan orang-orang yang hadir dalam rapat. Kira-kira ada 30 orang yang hadir. Nampaknya mereka bukan berasa dari Crypton University. Apa orang luar?
"Setelah Kagamine-san dari kampus kami hadir, siapa lagi yang belum hadir dari Tokyo University?' Tanya Gakupo.
"Anu, sensei, dari universitas kami masih ada 1 orang yang belum hadir…" Jawab seorang gadis beramput perak yang diikat 1, dengan malu-malu melirik daftar hadir di depan matanya dengan kedua irisnya yang berwarna merah bata.
"Siapakah itu Yowahane Haku-san?"
"Eh itu…"
GREEK
"Maaf saya terlambat!" Muncul sesosok gadis berambut teal sebahu yang berdiri di tempat sambil menunduk minta maaf"
"Dan, siapakah kau?" Tanya Meito yang kebetulan duduk di bangku depan.
"Hatsune, Hatsune Miku dari Tokyo University"
Deg!
Len tiba-tiba tersentak kaget. Pikirannya kalang kabut. Jantungnya berdebat kencang, keringat dingin mulai menguyur deras tubuhnya. Timbul perasaan menyesakkan yang meletup-letup dalam ulu hatinya.
"Hatsune… Miku?" Batin Len.
"Kalau begitu, Hatsune-san bisa duduk di sebelah Yowahane-san, di depan Kagamine-san.."
Miku juga nampak tak kalah kagetnya mendengar nama 'Kagamine'
"Kagamine… Len?"
Rapat pertemuan kedua universitas memang berlangung lancar tanpa adanya aral rintang. Namun baik Len maupun Miku nampak sibuk sendiri dengan pikirannya. Mereka sepertinya tak peduli lagi dengan yang tengah di bahas dalam rapat. Pikiran mereka dipenuhi dengan kenangan lampau.
"Miku, rambutnya di potong, ya?" Ujar Len
Flashback
"Ah.. Len~ Ah!" Desar sesosok gadis berseragam lengkap, berkucir dua, yang tengah 'menikmati' aksi erotis yang diberikan kekasihnya.
"Memohonlah untukku Miku, jika kau memang menginkannya…" Ujar seorang anak laki-laki berambut honey-blond, kucir twin-tail, yang tak henti-hentinya meraba sekujur tubuh gadis yang sebaya dengannya, dengan posisi ia berbaring di atas meja kelas, sedangkan Miku berada di atasnya.
Pemandangan yang tersaji di hadapan Len, sungguh menggoda setiap kaum adam apabila melihatnya. Miku yang berparas cantik, dengan kancing kemeja sekolahnya terbuka lebar, menampakkan bra corak garis-garis putih-hijau kesukaannya.
"Len~ Ah!" Erangannya semakin keras kala ia rasa kedua tangan Len menelusuri bagain dalam tubuhnya.
"Bagaimana rasanya?' Tanya Len sambil menggoda kedua bukit kembar Miku yang masih berbalut bra.
"Ah, engh, ah~! Aku ingin lebih…"
Len tersenyum puas mendengar ucapan Miku. Ia balik posisi sehingga Miku-lah yang kini berada di bawahnya.
"Sebelum itu…." Len melepas ikat pinggangnya, dan membiarkan 'teman kecil' nya terbebas.
"Bagaimana kalau kau duluan Miku-chan? Hm?"
Mengerti akan mengsud Len, Miku merangkak mendekat dan mulai memijat pelan kejantanan Len yang ber status resmi menjadi pacarnya sejak kelas 1 SMP.
"AH.. kau selalu ahli dalam hal ini…" Ungkap Len sambil sedikit menekan kepala Miku untuk terus memuaskannya.
Tak lama, Len mengeluarkan penisnya dari mulut Miku.
"Biasanya kau langsung keluar, ada apa hari ini?" Tanya Miku.
"Aku tak ingin keluar duluan…"
"Apa mangsud… Ah! Hei!"
Tanpa menunggu reaksi Miku, Len menarik paksa bra milik Miku hingga terlepas, sambil menyelipkan tangan ke dalam celana dalamnya.
"Len, jangan melihatku seperti itu!"
"Kalau kau tak mau kulihat…"
"AH~ Len~"
Pikiran Miku serasa melayang saat ia rasa Len mulai memuaskan birahinya dengan bermain-main di kedua belahan dadanya, sambil dengan cepat memasukkan 1 jarinya ke dalam kemaluannya.
"HYAA! AH! LEN~!"
"SST! Jangan keras-keras Miku-chan, nanti ada yang denga, lo!" Bisik Len dengan suara erotis tepat di telinga Miku.
"Si-Siapa peduli? Memangnya masih ada siswa yang tinggal di skeolah jam segini?"
"Kalau begitu, kita lihat, apa kau bisa mendesah lebih keras…"
Tanpa memberi jeda, Len langsung memasukkan kejantananya ke dalam vagina Miku. Ia tak perlu takut melakukannya. Toh ini bukan saat pertama mereka.
"KYAA! AH! LEN!"
"Ah, shit, you're so tight!" Umpat Len yang langsung bergerak maju mundur dengan cepat.
"Len~ Ah!"
Len terus bergerak cepat hingga keduanya mencapai batas dan keluar bersama-sama.
Inilah rutinitas rahasia yang biasa dilakukan Len dengan kekasihnya Miku. Mereka diam-diam seringkali melakukan sex sekalipun belum terikat hubungan suami-istri. Hingga beberapa bulan kemudian..
"Len… sepertinya aku hamil…"
4 kalimat yang didengar Len cukup untuk mematikan seluruh syaraf otaknya. Yang benar saja, mereka masih kelas 2 SMP, dan sudah kedapatan momongan?
"Kau bercanda, kan?"
"Len! Aku belum datang bulan padahal aku seharusnya sudah awal bulan, dan baru-baru ini aku merasa mual. Memangnya kenapa kalau aku membawa anak Len?!"
"Apanya yang tak apa-apa?! Kita masih kelas 2 SMP, yang benar saja…"
"Apa kau mau aku mengguggurkannya?!"
"Miku, jangan langsung berpendapat, apa kau sudah membuktikannya di dokter atau bidan atau dengan alat pengetes kehamilan?"
"Belum, tapi aku cukup yakin!"
"Jangan langsung percaya hanya karena kau belum datang bulan atau mual! Aku tak mau tahu, sampai aku dapat bukti pasti, aku takkan mau tanggung jawab!"
Jika ternyata aku tak sungguhan hamil, Len takkan bersamaku
Apa yang harus kulakukan?
Sudah sifat alami wanita jika tak mampu memendam masalah sendiri. Dalam waktu dekat, sudah beredar luas kabar mengenai Miku yang mengandung, dan Len-lah yang bersalah. Kebetulan saja saat itu Rin sedang sakit dalam jangka waktu cukup lama, hingga ia absen dan tak tahu sama sekali mengenai gossip itu.
"Hei, sudah dengar soal si Miku?"
"Dia hamil duluan,kan? Lalu bagaiman dengan Len?"
"Kudengar dari Miku, dia tak mau tanggung jawab.."
"Apaan, tuh! Padahal yang kena getahnya itu Miku, bukan dia, egois banget!"
Namun kepastian Miku yang hamil tak pernah diketahui faktanya. Karena tanpa pamit atau memberi alasan, Miku pindah sekolah, dan tak jelas kabarnya sejak saat itu. Berita miring yang kurang menyenangkan itupun perhalan dilupakan, dan tak ada seorangpun berani membicarakannya.
Back to Rinto and Rin
"Jadi, Len pernah pacaran dengan Miku-chan, dan beredar kabar kalau Miku-chan hamil?" Tanya Rin yang masih nampak shoc setelah Rinto menceritakan kronologinya dari awal. Rin yang tubuhnya bergetar, berusaha untuk menguatkan diri dengan mencengkran lengan kemeja Len yang ia pakai.
"Kau kenal dengan Hatsune Miku?"
"Ya, kami berteman baik sampai dia pindah dan tak jelas kabarnya. Memang benar kalau aku sempat absen selama 3 bulan karena sakit saat kelas 1 SMP. Wajar saja aku tak tahu. Nii-san sendiri, kenapa bisa tahu?"
"Aku diceritakan Lenka-san.."
"Asami-san ya? Oh iya, dia kakak kelasku waktu SMP. Aish, rupanya akrab juga kalian~" Goda Rin
"Bukan begitu! Sekarang masalah Len lebih penting!"
"Oh ya, memangnya kenapa kalau Len ke kampus hari ini?"
"Kudengar dari Gakupo sensei, kalau hari ini Len dan Piko ikut dalam meeting Crypton university dengan Tokyo University"
"Eh… jangan bilang…"
"Ya. Sepertinya Miku juga ikut dalam meeting… Selain itu, ada hal lain yang bisa jadi scenario terburuk"
"Scenario terburuk?" Wajah Rin terpaku. Terbesit dalam pikirannya, kejadian buruk macam apa yang bisa terjadi.
"Aku khawatir Len mencoba untuk bunuh diri lagi..."
To be Continued
Oke! Sampai sini saja capter 4-nya!
Yup, emang di capter ini konfil muncul. Gimana pendapat kalian? Aneh? Geje? Terlalu dramatis kaya sinetron? Ada yang punya masukan?
Please tulis di review atau kalau malu bisa langsung lewat Pm, dengan senang hati pasti saya terima kok segala jenis masukan baik kritik, saran, sekalipun yang flame…
Maaf saya ngetiknya malam-malam jadi mungkin banyak typo… sampai ketemu lagi!
