My Psychopath

Chapter 3: Who Are You?

.

.

'Kalian tau apa saja yang aku sukai? Darah dan Taehyung'

.

.

Malam ini udara cukup dingin. Daun-daun mulai berguguran menandakan bahwa sebentar lagi musim dingin akan tiba. Bunyi ranting yang saling bergesekkan menemani suara langkah kakinya. Jungkook hanya mengenakan hoodie putih kesayangannya yang sedikit kebesaran ditubuhnya dan celana katun putih selutut. Benar-benar kontras dengan hari yang sudah gelap.

Bibirnya bersenandung kecil, tangannya memainkan pulpen kesayangannya. Hari ini sepertinya dia akan bermain lagi. Otaknya terus memikirkan siswi yang menggoda Taehyung tadi siang. Dia benar-benar tidak sabar.

.

.

Acara ditelevisinya diabaikan begitu saja. Kepalanya menoleh kearah jam dinding, sudah pukul duabelas malam. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba menghilangkan rasa kantuknya.

"Aisshh.. Hyung lama sekali datangnya"

Tangannya mengambil ponselnya yang berada dimeja didepannya. Jarinya bermain dilayarnya lalu menempelkan ke telinganya, menelpon seseorang.

"Hyung, Kau masih lama?" tanyanya begitu panggilannya terjawab

"Hyung masih berada di tkp, Taehyung-ah. Jangan menungguku"

Taehyung mendengus, siapa juga yang mau menunggu hyung-nya. Dia hanya ingin menyampaikan sesuatu yang diketahuinya.

"Kau masih menyelidiki korban baru itu?"

"Ne."

"Bolehkah aku datang kesana?"

Namjoon terdiam cukup lama membuat Taehyung menjauhkan sedikit ponselnya untuk melihat bahwa telponnya masih terhubung.

"Hyung! Kau masih disana?" Tanyanya karena tak kunjung dapat jawaban.

Namjoon menghembuskan nafasnya kasar, "Datanglah! Hyung akan kirimkan alamatnya"

Taehyung tersenyum lebar dan langsung menutup telponnya sepihak setelah mengatakan 'Cepat kirimkan alamatnya'. Matanya terus menatap layar ponselnya, menunggu. Senyuman terbentuk dibibirnya saat mendapatkan pesan dari Namjoon tentang alamat yang harus ditujunya.

"Assa! Aku akan bermain sekarang"

Bagi Taehyung mengikuti investigasi yang kakaknya lakukan adalah mainan baginya. Walaupun dia sering pusing sendiri saat membantu kakaknya memecahkan kasus, namun ada perasaan bahagia saat kasusnya berhasih dipecahkan. Otaknya memang sedikit berbeda dengan teman seumurannya. Taehyung adalah anak yang unik

.

.

Langkah kakinya berhenti saat melihat banyak mobil yang terparkir dan orang-orang yang berlalu lalang jauh didepannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringaian. Polisi dan Detektif lagi, huh? Ini akan menarik. Kakinya melangkah mendekat dan berhenti tepat dibelakang garis polisi.

"Apa yang kau lakukan disini, nak?"

Jungkook menoleh saat mendengar seseorang yang bicara padanya lalu tersenyum polos. Ternyata hanya seorang polisi.

"Aku hanya pulang lewat sini dan melihat ada polisi, jadi aku penasaran ada apa di gang buntu itu." ucapnya dengan mata yang berbinar penasaran

"Disana terjadi pembunuhan sadis kemarin. Sebaiknya kau pulang sekarang daripada kau menjadi korban selanjutnya" ujar polisi itu menakuti. Jungkook mengernyitkan keningnya berpura-pura takut yang membuat polisi itu terkekeh lalu mengacak rambutnya.

"Kau lucu juga. Sudahlah aku harus kembali bekerja dulu" lanjutnya lalu melangkah meninggalkan Jungkook setelah melemparkan senyuman menawannya.

"Cih! Dasar polisi" umpatnya pelan namun tetap tersenyum saat melihat beberapa polisi yang melewatinya.

Matanya menatap satu persatu polisi yang terlihat fokus dengan investigasi mereka, orang-orang yang sama seperti yang biasa dilihatnya.

"Jadi mereka yang menginvestigasi kasusku, huh? Menarik" gumamnya pelan

Bibirnya mengukir senyuman saat secara tidak sengaja salah satu dari mereka menatap matanya. Sepertinya dia seorang detektif, pikirnya. Detektif itu berjalan mendekatinya, dan jungkook menundukkan kepalanya sedikit saat jarak mereka cukup dekat, formalitas.

"Kau ada hubungannya dengan korban?" tanya detektif itu. Jungkook menggeleng kecil,

"Aku bahkan tidak tau siapa yang tewas" ucapnya pelan, Detektif itu mengangguk dan tersenyum

"Lalu kenapa kau disini?"

"Aku hanya pulang lewat sini dan melihat ada polisi, jadi aku penasaran ada apa di gang buntu itu." jawaban yang persis sama dengan sebelumnya yang jungkook lontarkan.

"Sebaiknya kau pulang sekarang.."

"Sebaiknya kau pulang sekarang. Ini sudah cukup larut untuk anak seumuranmu"

Jungkook tersenyum lebar saat mengetahui ucapan detektif ini sama seperti apa yang dipikirkannya. Kepalanya mengangguk kecil,

"Aku akan pulang sebentar lagi. Apa ahjussi yang bertanggungjawab dengan kasus ini?" Lelaki didepannya mengangguk,

"Aku tidak setua itu dan yah- Aku ketua Detektif untuk kasus ini. Kau sepertinya tertarik dengan hal berbau kepolisian"

Kepalanya mengangguk semangat dan matanya berbinar lucu yang membuat ketua detektif itu tidak tahan untuk tidak mengacak rambutnya. Ketua Detektif? Menarik.

"Kau sama seperti adikku, walaupun dia mengatakan beratus kali untuk tidak akan menjadi detektif tapi dia tertarik dengan hal seperti ini" jelasnya.

"Kau memiliki adik?" Detektif itu mengangguk sebentar. Kepalanya dimiringkan sedikit, melihat kebelakang jungkook lalu tersenyum

"Dia barusaja datang" jawabnya sambil menaikkan sedikit dagunya menunjuk sesuatu dibelakang Jungkook.

Pasti akan menyenangkan bermain dengan adik seorang detektif, pikirnya. Bibirnya tersenyum lalu kepalanya menoleh kebelakang. Saat matanya berhasil menangkap sesosok yang dimaksud ketua detektif itu, pupilnya melebar dan jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat setelah itu berdetak menggila. Kim Taehyung adik seorang detektif?

Taehyung tersenyum saat melihatnya lalu buru-buru mendekatinya. Tangannya bahkan langsung menarik jungkook masuk kedalam pelukannya setelah mereka berada dalam jarak yang cukup dekat. Jungkook terkejut bukan main, begitupun detektif didepannya dan beberapa polisi yang melihat mereka.

"Hyung, aku tidak akan memaafkanmu jika kau berusaha untuk merebutnya. Dia milikku"

Jungkook mendengar ketua detektif itu terawa kecil. Tubuhnya masih berada dalam kukungan Taehyung dan jungkook akui ia merasa nyaman.

"Jadi dia milikmu, Tae-ah? Aku tidak akan merebutnya. Sebaiknya kau antarkan dia pulang, daripada terjadi sesuatu padanya" ujar detektif itu

Taehyung melepaskan pelukannya membuat kehangatan yang jungkook rasakan menguar. Matanya menatap jungkook tersenyum lalu membalikkan tubuhnya hingga kembali menghadap ketua detektif itu.

"Kau sudah memperkenalkan dirimu pada hyungku?"

Suara taehyung berbisik didekat telinganya membuat tubuhnya meremang. Jungkook menggeleng pelan,

"Perkenalkan dirimu"

Jungkook mengangguk kecil lalu membungkukkan tubuhnya sebentar.

"Aku Jeon Jungkook. Teman sekelas taehyung" ucapnya mengenalkan diri.

Namjoon mengernyit, "Dia hanya temanmu, Tae-ya"

"Eum.. yeah.. Dia calon milikku" taehyung meralat kalimatnya yang membuat namjoon terkikik geli

"Aku Kim Namjoon. Kakak kandung Taehyung. Semoga kau betah berteman dengan adikku ya"

Jungkook tersenyum sambil mengangguk kecil. Taehyung merangkul bahunya dan merapatkan tubuh mereka,

"Aku tidak jadi ikut investigasimu, hyung. Aku akan mengantarkan Jungkook pulang saja"

Jungkook langsung menoleh menatap taehyung tidak percaya. Jadi taehyung mengikuti investigasi tentang kasusnya?. Taehyung menatapnya sambil tersenyum,

"Apa aku setampan itu?"

Matanya mengerjap berkali-kali, "Bu-bukan begitu"

Namjoon menggeleng pelan lalu menepuk bahu taehyung dua kali,

"Hyung harus bekerja lagi. Setelah itu pulanglah" ucapnya lalu berlalu meninggalkan mereka.

.

.

"Dimana rumahmu?"

Jungkook hanya terus menunduk tanpa menjawab pertanyaan taehyung. Hatinya bergejolak, hari ini dia tidak bisa bermain dan sekarang dia harus memikirkan cara agar taehyung tidak mengantarkannya pulang. Jika taehyung bertamu kerumahnya akan berbahaya, karena dia adik seorang detektif.

"Jungkook-ah" Jungkook mengangkat wajahnya lalu menatap taehyung yang berada disebelahnya.

"Kau melamun?" jungkook menggeleng pelan lalu tersenyum,

"Taehyung-ah, seperti-"

Taehyung mengangkat tangan kanannya kesamping wajahnya, "Tunggu sebentar"

Jungkook mengangguk kecil. Tangannya merogoh ponselnya dan memeriksanya. Ternyata ada pesan dari Jimin,

Taehyung-ah, aku ingin bicara sesuatu denganmu. Sepertinya dia tidak akan melepaskanku sekarang. Datanglah kerumahku. Aku akan menjelaskan semuanya. Aku tau kau mencari bukti tentang pembunuhan berantai disekolah kan? Aku tau pelakunya. Dia RR 1011.

Matanya melebar membaca pesan dari Jimin. Jadi jimin tau siapa pelakunya?.

"Ada apa tae?"

Jungkook yang sedari tadi memperhatikan pergerakan taehyung merasa penasaran. Dari apa yang dilihatnya, sepertinya itu pesan penting.

Taehyung memasukan ponselnya terburu lalu menatap jungkook serius,

"Aku harus pergi menemui Jimin. Kau ingin ikut?" tanyanya.

Jungkook tersenyum dalam hati. Hampir saja dia lupa dengan mainannya yang lain. Kepalanya mengangguk pelan, setidaknya dia bisa bermain dengan Jimin.

"Aku ikut. Lagipula aku memang ingin bicara sesuatu padanya"

Taehyung mengangguk lalu mengamit jarinya dan menyatukan jari mereka dalam genggaman hangat.

.

.

Langkah mereka berhenti saat berada didepan rumah susun yang menjulang tinggi. Taehyung membalikkan tubuhnya menghadap jungkook,

"Kau ingin bicara apa dengannya?"

Jungkook menatap mata taehyung beberapa saat lalu kembali menunduk.

"Aku hanya ingin membicarakan masalah disekolah tadi. Kenapa dia semarah itu padaku dan mendorongku" ucapnya pelan

Taehyung mengusap rambutnya pelan. Sejujurnya, hati taehyung merasa sedikit terluka saat melihat jungkook yang tidak bersalah harus meluruskan masalahnya lebih dahulu. Jungkook tidak pantas untuk tersakiti seperti ini, pikirnya.

"Kau ingin kita masuk bersama? atau kau butuh privasi?"

"Bisakah kau menunggu disini saja? Nanti saat aku sudah selesai bicara dengannya aku akan turun lagi dan setelahnya kau bisa bicara dengannya. Aku tidak akan mengganggu pembicaraan kalian"

Taehyung menatap jungkook dalam. Mencoba menimang-nimang tawaran jungkook. Dia memang akan membicarakan hal serius dengan Jimin dan Taehyung tidak ingin jungkook terlibat dalam masalah ini. Tapi jika jungkook menemui jimin sendirian, taehyung takut jimin akan melukai jungkook lagi.

"Aku akan baik-baik saja" lanjutnya seolah tau isi pikiran taehyung.

"Baiklah. Aku akan tunggu disini selama sepuluh menit. Jika kau tidak kembali setelahnya, aku akan menyusulmu. Aku takut jimin melukaimu lagi"

Taehyung mengusap pipi jungkook menggunakan ibu jarinya. Dia benar-benar takut jungkook terluka.

"Beri aku waktu limabelas menit."

Taehyung mengernyit lalu menggeleng pelan

"Aku tidak bisa naik tangga secepat itu" lanjutnya. Bibirnya bahkan mengerucut lucu.

Di rumah susun ini memang hanya tersedia tangga dan kamar jimin berada di lantai 7, jadi sepertinya memang cukup sulit untuk waktu sepuluh menit.

Taehyung terkekeh dan akhirnya mengalah, "Baiklah, limabelas menit."

Jungkook tersenyum lalu mulai berjalan menjauh. Tangannya yang sedaritadi digenggam taehyung mulai terlepas. Tubuhnya berbalik dan mulai menapaki tangga didepannya. Kini bibirnya mulai menunjukkan seringaian khasnya.

Taehyung akan menunggunya diujung tangga terbawah selama limabelas menit, jadi dia masih memiliki cukup waktu untuk bermain dengan jimin. Jungkook berbohong saat mengatakan dia tidak bisa menapaki tangga dengan cepat. Jungkook melirik pergelangan tangannya yang terpasang arloji, bahkan dia hanya membutuhkan waktu dua menit untuk sampai di lantai tujuh.

Kakinya melangkah ringan menuju kamar yang paling ujung. Bahkan bibirnya sudah bersenandung kecil sejak tadi. Senyuman lebar merekah diwajahnya saat sudah berhadapan dengan pintu yang menyembunyikan mainannya.

.

.

Jimin menggigit jarinya khawatir. Taehyung bahkan belum membalas pesannya. Dia takut jika jungkook akan lebih dulu mendatanginya daripada taehyung. Perasaannya bahkan semakin gelisah saat melihat tidak ada pesan masuk diponselnya.

Tok! Tok! Tok!

Tubuhnya langsung berdiri cepat. Ponselnya terlempar begitu saja begitu mendengar ketukan di pintu depannya. Kakinya melangkah terburu menuju pintu depan. Dia ingin cepat-cepat mengabarkan ini pada taehyung.

Dan pada saat bersamaan layar ponselnya menyala menunjukkan pesan dari taehyung

Aku akan menemuimu nanti. Setelah kau bicara dengan Jungkook. Aku mohon jangan lukai dia lagi, chim.

"Kau merindukanku?"

Pupilnya melebar, kakinya melangkah mundur ketakutan. Jungkook berdiri diambang pintu rumahnya dengan seringaian diwajah.

Kakinya melangkah masuk perlahan dan menutup pintu dibelakangnya. Kaki jimin terus melangkah mundur ketakutan, hingga kakinya tersandung dan membuatnya jatuh terduduk.

Airmatanya mengalir menatap jungkook berusaha meminta ampunan. Jungkook tersenyum polos dengan terus melangkah maju.

"Kita hanya memiliki waktu sekitar sebelas menit untuk bermain"

Jimin menggeleng, kakinya menendang-nendang lantai gelisah mencoba menjauhkan tubuhnya dari jangkauan jungkook. Sampai tembok dibelakang tubuhnya membentur punggungnya yang membuatnya tidak bisa berkutik lagi.

"Sudah selesai? Ayo bermain sekarang"

Setelah mengatakannya dengan senyuman. Jarinya meremat sejumpun rambut jimin dan menariknya kasar hingga membuat tubuh jimin terseret. Jimin menjerit kesakitan bahkan memohon ampun berkali-kali, namun jungkook hanya tertawa menanggapinya.

Kakinya menendang pintu didepannya kasar dan kembali menyeret jimin memasuki kamar mandinya. Bunyi air yang mengalir melalui shower memenuhi ruangan menyatu dengan suara isakan jimin dan tawa jungkook.

Kakinya berlutut untuk menyamakan tubuhnya dengan jimin. Tangannya masih meremat rambut temannya. Matanya menatap jimin nyalang,

"Beraninya kau mencoba menggoda Taehyung. Kau tau taehyung milikku dan tidak ada yang boleh menyentuhnya" ucapnya dengan nada datar.

Jimin memejamkan matanya saat merasakan hembusan nafas dingin jungkook didepan wajahnya. Bibirnya bergetar takut, bahkan dia tidak tau apa yang harus dilakukannya.

"Kau. pikir. wajahmu. cantik." ucapnya penuh penekanan

Tangannya semakin meremat rambut jimin lalu dengan keras membenturkan kepala temannya pada tembok kamar mandi berkali-kali. Bahkan saat jimin berteriak kesakitan, jungkook hanya tertawa keras.

"Aku akan membuat wajahmu semakin cantik" lalu tawanya kembali memenuhi ruangan.

"J-jung.. kook.. h.."

Seluruh wajahnya dipenuhi darah yang membuat jungkook menjerit senang. Tangannya mendorong kepala jimin dan melepaskan genggamannya hingga jimin jatuh berbaring dilantai. Kakinya melangkah menjauh meninggalkan jimin.

Pandangannya mulai mengabur, namun mencoba untuk bertahan. Tubuhnya perlahan bangkit saat menyadari jungkook pergi entah kemana. Matanya tidak sengaja melihat ponselnya yang tergeletak di lantai ruang tamu, membuatnya terbangun terburu namun kembali terjatuh karena energinya benar-benar habis.

Aku harus menghubungi taehyung.

Jimin bertumpu pada tangan dan lututnya, merangkak dengan terburu untuk mengambil ponselnya. Dia harus cepat sebelum jungkook kembali. Tangannya bergetar menekan sandi ponselnya. Sial, ponselnya tidak mau terbuka. Jimin mencoba menekan sandinya lagi dan berhasil.

"Kau ingin menghubungi seseorang?"

Tubuhnya mematung saat mendengar suara jungkook dibelakangnya. Kepalanya menoleh perlahan dan melihat jungkook berdiri dengan palu besar di tangan kanannya.

Ponselnya terjatuh dari tangannya. Kepalanya menggeleng dan tubuhnya yang terus mundur saat melihat langkah jungkook mendekat.

"Kau ingin aku mempercantik wajahmu atau tubuhmu? Atau semuanya?"

Jimin menggeleng keras dan jungkook terkekeh. Dia kembali melirik arlojinya, tinggal dua menit lagi, sial.

.

.

Taehyung memainkan ponselnya bosan. Kini ia membuka kembali pesan jimin dan membacanya.

"RR 1011?" gumamnya bingung.

Apa maksud jimin sebenarnya. RR? 1011? Apakah ini sebuah kode? atau memang nickname si pembunuh? Bahunya terangkat sebentar, sepertinya dia harus bertanya pada hyungnya nanti.

Matanya beralih pada jam digital disudut layar ponselnya.Tersisa dua menit lagi dan jungkook belum juga turun.

"Sebaiknya aku menyusulnya" gumamnya lalu mulai menapaki kakinya pada anak tangga didepannya.

.

.

"Ju-jungkook ku mohon. A-ampuni aku" Jungkook hanya tersenyum sambil mengayunkan palu ditangan kanannya.

Tangan kirinya terulur memegang tangan jimin lalu menariknya. Tangan jimin direntangkan dilantai, jungkook tersenyum.

"Jari-jarimu cantik"

KRAKK

"AARRGHHH"

Jungkook tertawa mendengar jeritan jimin. Tangannya yang memegang tangan jimin terlepas begitu saja lalu menutup mulutnya pura-pura terkejut.

"Ups. Aku tidak sengaja memukul jarimu"

Jimin menangis keras saat rasa sakit itu mengerogoti jarinya yang dipukul menggunakan palu. Jimin menangis, hatinya menangis. Jungkook yang merupakan temannya sejak kecil kini sudah berubah.

Tawanya terhenti begitu saja, matanya terpejam sebentar lalu menatap jimin dalam.

Tiba-tiba jungkook terduduk dilantai dan merentangkan tangan kirinya dilantai begitu saja. Tangan kanannya yang masih memegang palu terangkat diudara.

KRAKK KRAKK KRAKK

"TIDAKK JUNGKOOK TIDAKK"

Jimin menjerit keras saat melihat jungkook memukul lengannya sendiri berkali-kali hingga tulangnya terlihat membengkok dan patah. Sudut mata jungkook berair menahan sakitnya lalu menyeret tubuhnya dan membenturkan kepalanya dengan keras kesudut meja yang tajam hingga pelipisnya mengeluarkan banyak darah.

"Jungkook tidak- jangan menyakiti dirimu sendiri kook"

Jungkook tersenyum miris, tubuhnya jatuh berbaring dilantai. Pandangannya mengabur saat darah yang keluar dari pelipisnya semakin banyak. Matanya menatap jimin yang menangis dan pendengarannya menangkap suara langkah kaki yang mendekat, kesadarannya hampir habis.

"Jungkook-ah.. Kumohon bertahan."

Jimin memeluk tubuhnya sambil terus terisak. Bibirnya terus merapalkan agar jungkook tetap terjaga. Jungkook tersenyum lalu menatap jimin yang juga menatapnya,

"Jangan berpura-pura peduli padaku, Jim. Bisa saja aku membunuhmu nanti" Setelahnya jungkook tidak bisa melihat apapun, semuanya gelap.

"Jungkook.. Kau harus tetap tersadar. kook.. Jungkook" Jimin terisak dengan jungkook dalam pelukannya.

Tok! Tok! Tok!

"Jimin-ah. Jungkook-ah"

Jimin tersentak saat mendengar suara taehyung. Dia tidak bisa bergerak kemanapun jadi jimin berteriak keras, berharap taehyung mendengarnya.

BRAKK

Pintu apartemennya terbanting keras dan taehyung masuk dengan gelisah. Matanya melebar saat melihat Jungkook yang terbaring dipelukan jimin dengan darah yang mengalir bahkan mengotori pakaiannya.

"Astaga! apa yang terjadi pada kalian?!"

.

.

.

"Jungkook-ah kau tidak pulang naik mobil dengan hyungmu?" Jungkook kecil hanya menggeleng pelan. Matanya menatap kakaknya yang berjalan sambil mengamit tangan ayahnya dan menuju ke mobil mereka dan Jungkook tidak pernah dibiarkan untuk ikut.

Teman-teman disekolah dasarnya terus mengejeknya karena hanya jungkook yang pulang dengan jalan kaki sendirian.

"Jungkook akan pulang denganku" semua temannya menoleh dan bungkam saat melihat anak terkaya disekolah datang menghampiri jungkook dan mengajaknya pulang bersama.

"Aku tidak ingin pulang naik mobil, Jim" Temannya -Jimin- menggeleng pelan lalu menggandeng tangannya.

"Aku akan pulang berjalan kaki denganmu"

Sejak saat itu Jungkook dan Jimin berteman akrab. Setiap ada yang mengejek jungkook, Jimin akan datang seperti pahlawan dan menyelamatkannya.

.

.

.

Kau tau apa yang lebih berarti dari apapun? Uluran tangan seseorang disaat kau tersesat dalam kegelapan dan kehancuran.

.

.

.

.

Bersambung..

.

.

Author's Note:

Oh my, gimana chapter ini?

Sesungguhnya aku ragu untuk membunuh jimin makanya gak aku bikin mati:""

Aku mau berterimakasih sebanyak banyak banyaknya karena respon kalian sama ff ini.

Aku bakal bikin yang lebih baik di chapter selanjutnya ya.

Semoga masih ada yang mau nunggu:"

Aku harus banyak-banyak nonton film psikopat buat referensiku nanti wkwkwk

Itu aja, jangan lupa review yaa~

Thanks~

-Ai

-2017.06.17