Disclaimer: "APA KAU BILANG?" "Um, Naruto punya saia…?" "Chidori! MATI KAU!" "GYAAAAA \O,O'/"

Warning: Nothin' for now, I guess… Except, OOC-mini-Sasuke of course!

A/N

HEY! Miss me? I come back to life! Setelah berlika-liku dan tersesat dalam jalan kehidupan, akhirnya jadi juga chpt ini! Nami lupa bilang bakal ada 'Chara-bashing' dlm cerita ini. Buat yg ga suka jg ga ap2… pembaca mo bilang ap, Nami lakukan itu hanya demi kepentingan cerita ini~

'thinking'

"dialogue"

Lagu pengiring: Niji, by: Aqua Timez


Meguru kisetsu no hitotsu no you ni Like one of the changing seasons

Kanashii toki wa kanashii mama ni Sad times remain sad

Shiawase ni naru koto wa isoga nai de Don't hurry happiness along

Daijoubu dayo koko ni iru kara It's alright, I'm right here

Daijoubu dayo doko nimo ika nai It's alright, I'm not going anywhere

Mada hashiri dasu toki wa kimi to issho When I start running again, I'll be with you


Waktu yang selalu bergulir membuat orang bingung dengan kemungkinan-kemungkinan yang telah dan akan terjadi. Tanpa terasa enam bulan telah berlalu dari hari ke-dua puluh tiga di bulan Juli. Dan musim semi kembali hadir membawa kehangatan dan membuat semua yang tidur selama musim dingin kembali menyambut dunia.

Namun, tampaknya musim semi tak lagi berharga untuk Rubah mungil kita. Sekarang dia sedang duduk di salah satu halaman rumahnya. Ibunya sedang pergi karena suatu urusan dan ayahnya? Tentunya sedang bekerja di kantor Hokage.

Sepi. Itulah kesan yang ia terima saat ini. Ingin sekali dia pergi ke rumah tempatnya biasa bermain; Mansion Uchiha. Tapi, ibunya melarang karena tak akan ada yang mengantarnya ke sana. Hey, para penculik tentu akan senang jika melihat anak Hokage berkeliaran sendiri di desa yang luas ini, 'kan?

Semua makhluk tak akan ada yang mampu menolak pesona seorang hybrid seperti Naruto. Tak terkecuali The Lady Luck Fortuna. Tak ayal terdengar ketukan pintu. Telinga tajam sang Rubah langsung mendapatkan sinyal di mana asal suara. Seiring dengan langkah kecilnya menuju pintu geser, indra penciumannya bisa mencerna rangsangan akan bau yang ia kenal.

Begitu pintu bergeser terlihat di hadapan sang bocah Rubah hybrid lain dengan penampilan kontras yang dominan gelap.

"Ohayou Naru-chan."

"Ohayou, Cacuke!"

"Kaa-san bilang aku boleh mengajakmu bermain hari ini-"

Belum sempat Serigala muda itu melanjutkan kalimatnya si bocah pirang langsung menjawab dengan antusias, "Yay! Ayo Cacuke kita main!"

Keduanya beranjak dari tempat mereka berdiri. Sasuke yang tak ingin mendapatkan gangguan dari Kaa-san maupun Baka Aniki-nya memutuskan untuk mengajak Naruto berjalan-jalan. Pohon bunga Sakura hari ini mekar dengan sempurna. Membuat pemandangan yang indah menjadi lebih indah.

Perjalanan kedua hybrid mungil itu terhenti saat yang termuda berkata dia sudah capek. Sang Uchiha bungsu tentu dengan senang hati menurutinya untuk istirahat. Mereka kini duduk di bawah pohon bunga Sakura yang rindang, menghindari sengatan Matahari yang sepertinya terlalu semangat untuk memberikan sinarnya.

Kenapa Oh kenapa, Fortuna selalu berpaling dari Sasuke. Uchiha muda itu langsung berkeringat dingin saat melihat dua orang 'Iblis' mendekat ke arah mereka. Seraya angin semilir menerpa wajah pucat miliknya, sang Takdir melemparkan kesialan padanya…

"Sasuke-kuuuuunn~~!", itulah yang terdengar di taman Konoha beberapa detik kemudian.

Yep! Dua suara cempreng yang saling beradu kini bersatu tertuju pada Serigala malang itu. Tampang Sasuke memang masih impassive seperti biasa. Tapi, sebenarnya dia ingin meraih tangan malaikat pirang-nya dan mengambil langkah seribu secepatnya. Betapa author kasihan padanya saat yang bersangkutan hanya member puppy eyes dan merengek 'macih capek!'

Kedua 'Iblis' yang di maksud adalah dua submissive dari klan Haruno dan Yamanaka. Keduanya bukanlah klan yang cukup berarti bila di bandingkan dengan Uchiha maupun Namikaze. So? Buat apa Sasuke harus membuang-buang waktu untuk meladeni keduanya?

Haruno merupakan hybrid Merpati sedangkan Yamanaka adalah Kelinci. Tak seperti kebanyakan hybrid, umumnya mereka yang berasal dari marga 'burung' seperti Haruno dan Mitarashi (Mitarashi-Anko; Elang) memiliki kemampuan khusus. Mereka tidak bisa memunculkan sebagian diri 'hewan' mereka seperti hewan lain; memunculkan telinga atau ekor hewan. Mereka memiliki kemampuan untuk menyembunyikan sayap mereka dan hanya akan muncul saat mereka benar-benar menguasai pengendalian chakra sepenuhnya.

Meski sudah tahu Sasuke tidak menyukai mereka, Sakura dan Ino kini bertingkah semanis mungkin di depan sang Serigala hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Oh, apa aku menyebutkan bahwa Sakura dan Ino seumuran dengan si Uchiha?

"Ne~ Sasuke-kun, apa kau mau menjadi suamiku?", ujar si Kelinci yang diikuti tawa centil darinya.

Si Merpati berambut merah jambu kini menarik Ino menjauh dari sang Uchiha, "tidak mungkin Sasuke-kun menjadikanmu pasangannya, Babi-Ino!"

"Heh, Jidat-lebar! Sasuke-kun juga ga mungkin milih kamu!"

Sementara keduanya ber-argumentasi Sasuke malah terus memperhatikan 'karya Tuhan' yang ada di sampingnya. Ekor Rubah berambut pirang itu tak berhenti bergerak. Mata biru yang cerah bagai langit itu begitu teduh di hadapan mata kelam sang Serigala.

Sang Uchiha yang memang tertarik pada si bocah pirang melingkarkan kedua tangannya ke tubuh yang lebih kecil itu. Namikaze mini hanya bisa mendekat kepada kehangatan tubuh Sasuke. Keduanya duduk di bawah pohon itu dengan posisi; Naruto di pangkuannya dengan punggung menghadap dada milik Sasuke. Dan dagu Sasuke di atas kepala yang di tumbuhi helaian rambut pirang yang halus.

Terang saja kedua gadis kecil tadi berhenti bertengkar saat melihat posisi 'sugestif' yang sekarang Sasuke dan bocah tak di kenal lakukan. Dan yang pertama bertanya adalah Sakura.

"Sa-sasuke-kun, apa yang kau lakukan?"

Sang Uchiha muda yang memang sudah jengah dengan sifat kedua fans beratnya itu langsung menatap mereka dengan Tatapan Kematian miliknya yang dingin dan berkata dengan intonasi yang tak kalah dingin, "aku tak akan menjadikan kalian pasanganku."

Kelinci berambut pirang itu melebarkan mata birunya yang pucat, "apa? Memangnya kenapa?"

"Karena aku sudah punya calon istri. Dan dia ada dalam pelukanku saat ini", ujar Sasuke tenang. [eh, jgn lpa readers, 'Sasuke masi kecil' tentu dy ga bakal bilang gtu pas udah gede nanti]

"EHH?"

Naruto yang hanya berumur tiga tahun dan tidak tahu apa-apa kini mengarahkan pandangannya ke Uchiha muda, "benalkah Cacuke?"

Tentunya Serigala muda itu tidak bodoh readers. Dia tahu perubahan sifat Tou-san-nya yang belakangan dia tahu dan dia simpulkan; Tou-san tidak lebih pintar daripada Baka Aniki-nya. Yah, intinya Sasuke berkesimpulan bahwa ayahnya juga bodoh. Lagipula mana ada ayah yang langsung menjodohkan putranya dengan orang lain tanpa sepengetahuan si anak?

Jawabannya: Uchiha Fugaku. Sasuke yang tahu tentang 'status terkini' dirinya dengan Rubah manis-nya hanya melompat girang dalam hati. Karena dia tahu dia tak perlu lagi susah payah merebut sang submissive manis itu dari para dominant lain. Biarpun begitu Sasuke tidak bodoh, dia tetap akan berhati-hati dan akan menjaga orang yang akan menjadi miliknya itu.

Terbangun dari ingatan mundur-nya Sasuke menatap balik kedua pasang mata yang selalu membuatnya tersenyum. Dan tanpa di sadarinya senyuman tipis mengembang di wajahnya seraya dia menjawab pertanyaan Rubah mungil itu, "tentu saja, Naru-chan."

Kedua submissive yang sudah lama mengincar Uchiha bungsu itu kini menjadi kesal dengan keberadaan di pirang. Padahal sudah lama mereka mencoba merebut perhatian Sasuke. Mencoba membuat yang bersangkutan tertarik pada mereka. Tapi, kini mereka sadar, tak satupun dari mereka yang bisa melakukannya. Bahkan membuatnya tersenyum seperti sekarang-pun mereka tak bisa.

Meskipun dalam lubuk hati keduanya mengakui hal itu, namun mereka tetap keras kepala dan tak mau mengalah. Dalam hati, mereka bersumpah akan mencoba merebut hati sang pujaan hati. Meski harus melakukan berbagai hal kepada si pirang menyebalkan yang ada dalam pelukan Sasuke-kun mereka.

Kemarahan keduanya tergambar jelas di wajah masing-masing. Sayup-sayup suara panggilan seseorang terdengar oleh ke-empat anak kecil itu. Di tepi jalan yang melalui taman itu berdiri Aniki-nya.

Sasuke mengerang di balik tenggorokannya dan ragu-ragu melepaskan dekapannya dari sang Rubah. Dalam hatinya dia mengutuki sang kakak karena datang di saat yang amat-sangat-tidak tepat. Padahal dia sudah sengaja ke taman itu untuk menghindarinya. Tapi, oh tidak! Tidak hanya bertemu dengan dua 'Iblis' tapi juga di ganggu oleh Baka Aniki-nya. Yang bersangkutan hanya menyeringai saat adiknya berjalan dengan wajah tertekuk dan masam.

Sementara sang Uchiha berbicara dengan Aniki-nya, si Namikaze kini berada di bawah dua pandangan tajam milik si Haruno dan Yamanaka. Dan si Merpati-lah yang pertama kali memecah keheningan, "heh, anak kecil, kau jauh-jauh ya dari Sasuke-kun."

"Ya, Sasuke tak akan memilihmu! Kau dengar aku?", tambah Ino.

Naruto yang tidak tahu menahu tentang 'ancaman' hanya bingung, "tapi, Cacuke tidak bilang begitu. Cacuke juga membeli Nalu ini." [Naruto yg masi 3 thun ga bisa ngeja 'r', kalian smw pasti sdar kan?]

Si rambut pirang dan sekaligus termuda hanya menatap kalung ber-liontin batu safir di lehernya. Sakura dan Ino bertambah panas mendengarnya. Dan tentunya mereka sudah tidak tahan untuk menyingkirkan sang Rubah. Tangan mungil si merah jambu menyambar kalung itu. Membuatnya terlepas dengan paksa.

"Heh, kau pikir dengan ini saja Sasuke akan menaruh perhatian kepadamu?"

Ino juga tak mau kalah, "lagipula kalung ini ga cocok untuk kamu!"

Mata biru langit Naruto mulai berkaca-kaca. Memang sungguh tak adil dua lawan satu. Apalagi yang satu itu tiga tahun lebih muda. Meski hal ini sering terjadi saat anak kecil berebut mainan, tapi tetap saja hal ini tidak boleh di lakukan. Naruto kecil mulai sesenggukan dan akhirnya menangis karena hadiah ulang tahun yang di berikan orang tersayangnya di rebut.

Telinga berbulu gelap milik Sasuke mencari sumber suara yang sangat tidak ingin dia dengar. Insting-nya membawanya menoleh dan melihat apa yang terjadi. Segera dia meninggalkan Itachi dan melangkah ke arah tiga hybrid muda lainnya di taman itu. Mata merah terkutuk milik Uchiha yang belum sempurna kini berputar melingkar dengan tiga bentuk koma. Tentu Sasuke terbakar amarah saat ini.

"Apa yang kau lakukan bodoh? Cepat kembalikan!"

Si Merpati bisa merasakan bulu roma-nya berdiri karena aura dominant Sasuke, "ta-tapi-"

Sasuke tidak butuh diperintah dua kali untuk mengambil apa yang bukan milik si rambut pink. Dia merebutnya dan menuntun pergi bocah pirang lain yang kini sesenggukan. Keduanya menjauh dari tempat insiden. Sasuke benar-benar sebal dengan semuanya. Baka Aniki-nya, dua Iblis itu terutama. Tangisan Naruto sekarang sudah mereda. Mata biru yang besar kini memerah, sisa-sisa air mata masih menuruni pipi-nya yang chubby.

Sang Uchiha mengantarkan Naruto pulang. Mungkin memang lebih baik mereka tetap di rumah. Sasuke mendudukkan Naruto di ruang tengah. Yah, berhubung dia sering ke rumah sang Hokage dia tahu benar di mana letak-letak ruangan di Mansion itu. Mulai dari kamar mandi, dapur, atau kamar Naruto.

Sasuke memang tidak pandai dalam hal 'perasaan' atau hati seseorang. Apalagi menenangkan orang lain yang baru saja mengalami hal-hal seperti Naruto tadi. Jadi, daripada diam dia duduk di samping si Rubah dan mengeluskan tangan pucat ke dalam helai-helai rambut pirang Naruto. Membuat yang bersangkutan mengeluarkan suara halus dari tenggorokannya.

Kedua hybrid menemukan posisi yang nyaman dengan bersandar di salah satu tembok rumah sementara mereka melihat langit. Sasuke merasakan tekanan di bahunya bertambah. Dia menoleh dan mendapati orang tersayangnya tidur dengan tenang. Tanpa sadar, ia mengembangkan senyum tulus dan berkata, "aku akan menjagamu. Aku tak akan pergi kemana-mana."

CX [TIME SKIP VIEW YEARS LATER] X3

Beberapa tahun berlalu seperti air di sungai yang mengalir dan tak bisa di putar kembali. Kini semuanya telah berubah. Rubah mungil yang manis, anak dari Hokage—err mantan Hokage, kini tumbuh menjadi anak laki-laki yang siap memulai hari pertamanya di akademi ninja.

Kenapa author menyebut 'mantan' Hokage? Karena Hokage ketiga kini menjabat Konoha. Tentu kalian semua berpikir, 'lho, Minato kemana?' Jawabannya sebagai berikut~

Berdasarkan pemantauan terhadap hybrid langka, termasuk klan Uzumaki, Namikaze, Sabaku, dan beberapa lainnya, Konoha di minta bantuan untuk menyelamatkan yang tersisa. Merasa panggilan itu adalah sesuatu yang penting, mengingat yang memintanya masih keluarganya, Minato tidak bisa hanya mengirim ANBU terlatihnya ataupun Jounin untuk melaksanakannya. Karena itu, Minato memutuskan untuk memberikan tampuk kepemimpinan kepada Hokage ketiga.

Dan Kushina? Tentu dia ikut suaminya. Tentu jangan lupakan anak semata wayang mereka yang masih kecil saat itu. Kucing berambut merah itu tak sampai hati untuk mengajak Naruto ke medan sulit yang tak sedikit orang mengincar nyawa mereka ataupun meninggalkannya sendiri di rumah besar mereka.

Kushina juga masih sadar bahwa tak mungkin menitipkannya pada Tsunade atau Jiraiya. Alasannya, Tsunade terlalu sibuk dengan judi, sake, dan hutang-hutangnya. Sedangkan Jiraiya? Ahh, Sage mesum itu bukan contoh baik untuk tumbuh kembang anak. Lagipula Kushina tak ingin anaknya menjadi seperti Sage berambut putih itu.

Karenanya pilihan terakhir adalah keluarga Uchiha. Masih ingatkah kalian akan status Uchiha bungsu dan semata-wayang Kushina? Yap, seorang yang bertunangan setidaknya harus tinggal serumah. Tapi, tampaknya hal itu malah membuat hal yang seharusnya berjalan baik malah menjadi sesuatu yang tak bisa di perkirakan.

Seiring dengan bertambahnya waktu, Serigala bungsu itu tumbuh makin mendekati ayahnya. Wajah stoic terkenal Uchiha kini bisa di kuasai oleh Sasuke. Tak terkecuali pem-bentengan diri akan emosi. Meski dia bisa membatasi emosi yang keluar dari raut wajah bukan berarti dia tidak punya perasaan. Dia masih punya hati. Dan lebih buruk lagi, hatinya selalu tidak tenang.

Hal itu membuatnya semakin hari bersikap semakin 'menjauh'. Sasuke berusaha membatasi emosi maupun perasaannya. Dia tahu, dia benar-benar menyukai si Rubah yang tiga tahun lebih muda itu. Tapi, dia tidak bisa begitu saja meng-klaim hybrid yang bersangkutan, 'kan?

Tentu Serigala yang akan mengambil ujian Jounin ini ingat benar memori masa kecilnya yang menurutnya sungguh kekanak-kanakan bersama Naruto. Dia bahkan masih ingat seperti hari kemarin dia mengatakan akan menjadikan si Rubah pirang itu 'istri'nya.

Selagi Sasuke berusaha membentengi diri, Naruto meng-interpretasikan sikap Sasuke ke dalam hal yang negatif. Si bocah berumur 13 tahun itu mengira Sasuke tidak lagi ingin bermain dengannya ataupun berteman dengannya. Entah sejak kapan dia merasa si Serigala yang ia sayangi itu mulai menjauh dan tidak bisa ia gapai.

Setiap dia ingin berbagi kesenangan, hanya dengan tertawa bersama, Sasuke akan pergi tanpa mengatakan sepatah kata-pun. Berkali-kali ia bertanya padanya, yang Naruto dapat hanya mono-silabus berupa 'hn' dari mulut sang Uchiha. Betapa dia sebal setiap mendengar kata itu, tunggu itu bukan kata, hanya dua huruf tak berguna yang selalu berhasil membuatnya kesal.

Sejak saat yang ia sendiri juga sudah lupa, Naruto tak lagi mencoba menarik perhatian dengan senyuman atau perbuatan-perbuatan yang dia lakukan. Dia mulai melancarkan kata-kata ejekan hanya untuk membuat Sasuke bereaksi. Membuat laki-laki yang lebih tua darinya itu marah padanya dan tidak menunjukkan wajah tanpa ekspresi.

Tak jarang Sasuke mendapatkan teguran dari Kaa-san-nya, Mikoto. Atau komentar dari Itachi, atau hembusan nafas panjang dari Fugaku. Yah, sepertinya hanya si Rubah bebal itu yang tak tahu apa di balik tirai 'stoic' Sasuke. Tapi, hey! Hanya Uchiha lain yang bisa mengerti seorang Uchiha.

Seorang Namikaze tak akan mudah putus asa jika mereka ingin menggapai suatu tujuan. Karena itu, Naruto bertekad dia akan berlatih dengan keras dan akan mengalahkan si laki-laki berambut hitam bermarga Uchiha itu. Yap! Dia akan membuat Sasuke kembali seperti dulu.

Di umur-nya yang sudah 13, dia akan masuk akademi musim semi nanti. Tentu dia berterima kasih pada Sensei-nya yang sudah membantunya selama ini, Umino Iruka.

Naruto sedang meng-istirahatkan tubuhnya di bawah pohon Sakura yang siap berbunga di salah satu halaman Uchiha Household. Rumah Uchiha hari ini sedang sepi. Itachi sedang pergi dengan misi ANBU-nya, Fugaku sedang berurusan dengan kerabat Uchiha lainnya di luar Konoha, yah tentunya mengajak Mikoto. Dan Sasuke? Mungkin dia sedang berlatih untuk ujiannya, atau menghindari para fans gila yang masih setia padanya.

Oh ya, saat bulan Juli nanti Sasuke akan genap berumur 16 dan akan menjadi Jounin termuda. Cukup kita katakan; mengikuti jejak Uchiha pada umumnya. Dan, guess what, tahun depan si Serigala yang mempunyai rambut model 'unik' itu akan mengalami 'musim pencarian' pertamanya. Mari kita lihat apa yang akan terjadi dalam setahun ini, readers. Kejutan akan meramaikan 'musim mancari pasangan' tahun depan.

Tubuh yang bagai madu milik Rubah Namikaze mengambil nafas perlahan. Merebahkan tubuhnya yang menggunakan atasan tanpa lengan berwarna hitam dan celana favorit berwarna oranye. Angin hangat pertanda musim semi mendekat membuai-nya mendekati Negeri mimpi.

Dadanya naik turun seakan seirama dengan angin semilir yang menginfasi paru-parunya. Mata biru secerah langit tertutup rapat. Membiarkan istirahatnya tenang dan mendinginkan balutan otot yang biasa dia latih. Biarpun dia berlatih, tubuhnya tak membiarkannya tumbuh lebih dari yang ia punya sekarang. Lagipula Namikaze Naruto adalah seorang submissive.

Ingatkan aku atau siapapun untuk tidak memanggilnya 'girly' atau kau akan menerima hadiah manis dari tangannya. Biarpun dia tergolong bi-shounen bukan berarti dia suka di panggil 'girly' atau cantik atau apalah itu.

Karena Naruto termasuk pekerja keras, maka dia juga tidak kalah dengan teman-temannya yang lain. Misalnya dari si Anjing yang notabene adalah dominant yang tak lain adalah temannya, Kiba. Dia tidak mau kalah dalam berbagai hal dengan si Inuzuka itu. Sebagai contoh, yang paling lama bertahan di bawah air terjun di akhir musim dingin kemarin. Atau lomba makan ramen bersama Kiba, Chouji, dan Lee.

Contoh lain, dia juga bertahan saat melakukan oh-so-called-training à la Gai. Yah, tentu bisa di tebak siapa teman berlatihnya. Lee selalu mengatakan 'kobarkan semangat masa muda' saat Naruto hampir mengalahkannya. Entah itu lari, push up, atau menaiki jurang terjal di sebelah timur Gunung Konoha.

Kembali ke permasalahan awal. Naruto yang merebahkan tubuhnya hanya bisa membayangkan berbagai hal menyenangkan yang terjadi akhir-akhir ini. Senyum tulus mengembang di wajah manisnya.

"Tadaima."

Yap, hingga suara Baritone yang dalam itu menginterupsi siang damai-nya. Mata seindah laut itu terbuka kemudian menyipit saat tahu siapa sang pemilik suara. Dia hanya angkat bahu dan pura-pura tidak tahu. Hingga si pemecah keheningan melewati ruangan tempat Namikaze terbaring. Pintu geser itu terbuka sedikit. Membuat orang yang tadinya melewati ruangan itu kembali mundur dan membuka pintu itu lebih lebar.

"Harusnya kau menjawabku, dobe."

Naruto yang memang berniat tidak ingin meladeni Uchiha muda hanya memejamkan mata. Berharap Sasuke mengiranya terlelap. Namun, sayangnya yang bersangkutan sudah hafal benar tingkah Naruto. Jadi, tidak mengherankan dia menghembuskan nafas saat mengetahui Naruto tak bereaksi apa-apa.

"Setidaknya jangan tiduran di situ. Aku bisa repot nanti", ujar Sasuke.

Balum selangkah Sasuke beranjak sebuah gerakan tertangkap oleh telinga terlatih miliknya. Dia menghindari sepasang kunai yang melayang dan tertancap di tembok rumah. Tubuh Serigala muda dengan mudah mundur ke belakang. Membuat gerakan halusnya tak bisa di tangkap oleh Naruto.

Bocah tiga belas tahun macam dia tak akan mungkin bisa melihat gerakan cepat sang Serigala. Sungguh tak mungkin. Kemungkinannya menang-pun kecil. Tapi dia juga tak akan menyerah. Sayangnya, belum sempat satu gerakan di luncurkan, sang Uchiha sudah mengunci kedua tangannya.

Sasuke yang lebih tinggi dan kuat hanya menghela nafas, "kau harusnya tahu, kau tak akan menang."

"Peft, bodoh! Kau bodoh! Aku tak akan menyerah!"

Tak mau memperpanjang urusan yang kekanakan, Sasuke membuat beberapa gerakan tangan. Tentunya menaruh jurus pada Rubah malang yang selalu saja teledor membiarkan dirinya tak siaga. Naruto merasakan dirinya membatu. Tangan maupun kakinya tak bisa di gerakkan.

"TEME! Lepaskan jurusmu!"

"Kalau kau berjanji tidak akan menggangguku, akan aku lepaskan."

"Yeah yeah, baiklah."

Sasuke meninggalkan Naruto di ruang kosong itu setelah melepaskan jurusnya. Punggung yang lebar dan tampak kokoh itu menghilang di balik pintu. Si Rubah terduduk dengan memeluk kakinya yang terlipat. Menempatkan dagunya di lutut. Dia memandang langit yang tadinya biru, kini memudarkan kecerahannya. Awan kelabu merayap menutupi bumi. Kedua mata safir miliknya hanya menerawang. Dalam batin ia bertanya, 'kapankah dia bisa memiliki kembali sesuatu yang kini telah hilang'

Dia mengedip pelan dan menjawab pertanyaannya sendiri. Mungkin dari awal, Sasuke memang tidak menyukainya. Entah sebagai teman atau adik, atau- Tidak, itu tidak mungkin. Berharap memang boleh, tapi terkadang berharap itu menyakitkan. Naruto tidak suka menunggu. Pekerjaan seperti itu tidak cocok untuk anak yang tak bisa diam sepertinya.

Menghela nafas dia beranjak dan pergi menutup pintu geser.


Semua yg udh ripiu: MAKASI BUANYAK! WE LOVE YA! =^w^=

Nami akan berusaha untuk membalas ripiu2 kalian yg udh mau repot2 log-in~

Readers sekalian yg Nami cintai~ Nami akan apdet lagi bbrp saat nanti, coz Nami nunggu ampe target banyaknya ripiu yg masuk. Karena Nami hidup dri ripiu kalian. Jadi, semakin bnyk ripiu, semakin Nami senang, semakin cpet Nami apdet~ ^^

Nami harap chapt ini ga mengecewakan. Karena Nami lagi bad-mood wktu ngetik. REVIEW, PWEEAASEE~