The Miracle Of Love

Disclaimer : Naruto © Mashashi Kishimoto

Author : Namikaze Fansboy

Rated : T

Genre: Hurt-Comfort/ Romance/ Other

Pair : [Naruto X Sakura]

.

.

.


Summary : Semua sudah diujung tanduk dan tidak mungkin dapat dihindari dan hampir membuatnya kehilangan jalan kehidupa, namun keajaiban datang yang membuatnya terus bertahan dalam kerasnya dunia. NaruSaku / MenmaHina Hurt/ Romance.


~XXX~ Chapter 4 : Confession ~XXX~

Naruto beserta dua buah hatinya kini sudah menapakkan kakinya di Suna dengan selamat dan seperti rencana sebelumnya Naruto berencana untuk menemui sahabat lamanya.

"Shina Hanami kalian berkelilinglah dulu sementara Tousan mencari penginapan dan menemui teman Tousan, nanti jika sudah dapat nanti akan Tousan temui" Shina dan Hanami mengangguk patuh dan berkata.

"Baguslah karena aku juga tidak ingin terjebak dalam situasi membosankan" Sukses ucapan Shina membuat Naruto menepuk jidat.

Naruto hanya dapat membatin. 'Sepertinya dulu saat Sakura-chan hamil ia pasti kesal pada Shikamaru'

"Tousan tenang saja jika Shina-nii berbuat yang tidak -tidak maka aku akan memukulnya" Sahut Hanami.

Naruto mengangguk. "Yosh, kalau begitu Tousan pamit dulu"

Tampak seberkas cahaya kuning berada ditempat Naruto berdiri tadi menandakan Naruto sudah menggunakan Hiraishin.

"Hmmm... Jadilah adik yang baik" Kekeh Shina kemudian berlalu meninggalkan Hanami.

Mendengar ucapan Shina membuat Hanami mendengus kesal. "Tsk... Kau hanya tua beberpa menit dariku jadi jangan sok"

Tanpa mendengar ucapan Hanami Shina berlalu menjauh membuat Hanami berlari mengejarnya kemudian memberikan sebuah pukulan ringan pada kepala sang Kakak kembarnya ini.

"Ngomong -ngomong kita mau kemana?" Tanya Shina.

Hanami menggosok dagunya sembari berpikir. "Aku lapar bagaimana kalau kita mencari makan terlebih dahulu, aku rasa Tousan akan lama"

"Ide yang bagus lagipula aku juga lapar" Sahut Shina dengan rasa senang.

Sedangkan ditempat lain nampak Sakura, Ino, dan Hinata kini berdiri didepan Gaara yang merupakan pemimpin desa Suna karena saat ini mereka sedang memberikan laporan.

"Senang kalian bisa berada disini aku dengar kalian hanya bisa menginap semalam jadi kalian bisa membantu mulai besok sembari kami mencarikaan tanaman yanh diperlukan" Gaara berucap menyambut dengan senang hati.

Sakura tersenyum sesaat sebelum berkata. "Sama -sama kazekage-sama kalau begitu kami permisi dulu untuk mempersiapkan diri kami."

Gaara mengangguk kemudian ketiga wanita baya itu pergi meninggalkan ruangan secara beriringan.

"Huft... Kurasa mereka sudah pergi, aku tak menyangka akan bertemu mereka disini"

Gaara menoleh kesumber suara dan mendapati seseorang berjubah dan bertudung hitam sedang berdiri dipojok ruangan.

"Siapa kau? Dan apa maksudmu datang kemari?" Tanya Gaara dengan siap siaga siapa tahu orang didepannya ini musuh.

"Kau tak mengenaliku Gaara?"

Gaara nampak menautkan alisnya merasa familiar dengan suara itu. "Na -Naruto? Kau kah itu?"

Sosok itupun membuka tudungnya yang menampakkan sosok pria paruh baya bersurai pirang panjang dengan iris blue saphire.

"Ya ini aku Uzumaki Naruto shinobi penuh kejutan nomor satu di Konoha Dattebayou" Ucap Naruto sambil meremtangkan kedua tangannya.

Gaara menatap Naruto dari ujung rambut sampai ujung kaki secara mendetail dan ia yakin Pria yang berdiri didepannya berbeda dengan Nanadaime Hokage yang ia kenal.

Gaara tertawa penuh rasa tak percaya. "Kau bercanda kau pasti bukan Naruto"

Naruto menghela nafas karena sepertinya sahabatnya yang satu ini tidak mudah dapat mempercayai ini. "Baiklah, Kurasa ini akan membuktikan siapa aku sebenarnya"

Tep!

Naruto mengatupkan kedua tangannya dan seketika tubuhnya bercahaya emas yang menandakan kini ia berada dalam Kurama Mode yang membuat Gaara terkejut.

"Kalau kau Naruto lalu yang menjadi Hokage siapa" Wajah Kazekage yang biasanya nampak tenang kini berubah penuh kebingungan.

"Kau bisa menyebut dia kembaranku dan namanya ada Uzumaki Menma dia juga memiliki Kyuubi sepertiku" Jawab Naruto saambil duduk dikursi depan.

Diam -diam Gaara tersenyum dan ia percaya pria didepannya adalah Uzumaki Naruto karena walau bertambah usia sifatnya yang selengekkan tak pernah berubah.

Gaara memangku wajahnya. "Lalu kenapa kau sampai bertukar tempat dengan Menma dan selama ini kau berada dimana?"

"Aku terpaksa bertukar tempat dengan Menma karena aku tidak bisa menikahi Hinata sementara Sakura-chan sedang mengandung anakku dan aku selama ini tinggal di Myoubokuzan" Jawab Naruto.

Gaara nampak terkejut mendengar pemaparan Naruto. "Jadi itu alasan kenapa kau bertukar tempat? lalu bagaimana nasib anakmu dan Sakura?"

"Selama Sakura-chan hamil ia berada di Hanagakure untuk menyembunyikan kehamilannya tapi sayangnya Kurama menyadari kehamilan Sakura-chan, dan aku memutuskan untuk mengawasi Sakura-chan dari jauh hingga ketika ia melahirkana ia menitipkan kedua anak kembar kami ke sebuah panti asuhan dan aku mengambil mereka dan membesarkan mereka secara bersembunyi di Myobokuzan"

Naruto mengakhiri cerita panjangnya dengan menghembuskan nafas panjang.

"Tapi bukankah Sakura ada disini kau tidak ingin menemuinya" Tanya Gaara.

Naruto tersenyum getir. "Ada 2 hal yang sulit yang membuatku terbebani selama ini yaitu rasa rindu Hanami pada Sakura yang membuatnya selalu bertanya tentang Ibunya dan ingin menjadi sosok luar biasa seperti dirinya dan rasa benci Shina terhadap Sakura-chan yang mengingatkan betapa bodohnya aku tidak dapat menjadi ayah yang baik"

Naruto mengusap setetes air mata yang sempat lolos dari dua iris indahnya.

Tep!

Naruto mendongak memperhatikan pelaku yang menepuk bahunya.

"Aku yakin kau pasti bisa melewati ini Naruto" Gaara tersenyum simpul kearah Naruto.

Naruto membalasnya dengan anggukan kemudiab mengucapkab terimakasih. "Arigatou"

"Sama -sama dan aku yakin kedatatanganmu kemari bukan hanya untuk curhat bukan?" Tanya Gaara mengalihkan pembicaraan.

Naruto terkekeh pelan mendengarnya. "Kau benar dan aku datang kemari untuk memperingatkan karena kurang dari 5 hari dari sekarangn penyerangan menyeluruh akan segera terlaksanakan"

"Penyerangan? Siapa dan apa tujuannya?"

"Tujuh Otsusuki pengawal dewi kelinci Kaguya Otsusuki dan pastinya tujuan mereka adalah membangkitkan Kaguya kembali"

Gaara membola mendengar ucapan Naruto.

"Bagaimaba kau tahu tentang hal ini?"

"Tentu saja aku tahu karena aku sudah menyadarinya sejak 17 tahun yang lalu dan aku mengawasinya secara bertahap dan jika kau tidak percaya kau bisa meneliti bekas serangan yangal ada di negara Es" Jelas raut muka gelisah dan bimbang terpampang jelas dimata Naruto.

"Lalu desa mana yang pertama akan dituju?"

"Kalau dilihat dari jaraknya maka Kumogakure adalah yang pertama" Balas Naruto.

"Tapi tenang saja aku sudah menyuruh Bee-Jiisan untuk memberikan kabar ini ada Raikage untuk segera mengungsi ketempat yang aman" lanjut Naruto.

Gaara mengangguk pelan. "Baiklah aku mengerti Naruto, terimakasih karena sudah memberitahukan berita penting ini pada kami"

"Baiklah karena urusanku sudah selesai aku pamit dulu karena harus mencari penginapan dulu" Naruto memasang cengirannya sesaat dan kemudian menghilang meninggalkan seberkas angin.

Gaara menatap seberkas angin itu dengaan wajah tersenyum kecil.

"Kau memang orang yang sulit ditebak Uzumaki Naruto"

~XXX~ The Miracle of Love ~XXX~

Nampak mata hijau bulat milik Shina tertarik dengan sebuah kedai yang cukup besar yang berada di sisi kanan jalan.

"Sepertinya aku sudah menemukan tempat makan yang cocok untuk kita dan aku berharap bisa makan ramen disana"

Hanami menepuk jidatnya pasalnya kembarannya dengan sang ayah itu sama -sama maniak ramen.

Hanami menyeringai. "Kalau begitu kita pindah saja"

Mendengar ucapan Hanami Shina memandangnya dengan lekat dan ia sadar ini adalah cara Hanami agar dirinya tidak memakan ramen.

"Ayolah Hana-chan aku akan membelikan 5 tusuk Dango dan Anmitsu bagaimana?" Tawar Shina dan nampak wajah sang adik menampilkan kebimbangan.

"Baiklah" Shina tersenyum mendengar jawaban dari Hanami.

Sesaat kemudian Shina dan Hanami memasuki kedai dan memilih tempat duduk, tak lama berselang seorang pelayan wanita menghampiri meja mereka.

"Selamat datang, mau pesan apa?"

"Kami pesan dua Anmitsu, 1 Ramen ukuran besar dan 5 Tusuk Dango" Shina mengajukan pesanannya pada pelayan itu.

"Baiklah mohon tunggu sebentar" Shina mengalihkan pandangannya pada Hanami yang tengah menatap tajam kearahnya.

"Ada apa kau menatapku seperti itu Hana?"

Hanami mendengus. "Tsk.. Sudah berapa kali kubilang ramen itu tidak baik untuk kesehatan dan mengapa kau memesan ukuran besar?"

"Tenang saja Ramen tidak akan membuatku mati lagipula sampai kapan kau akan bertingkah sok menjadi Ibu padaku?" Kali ini giliran Shina yang mendengus.

"Baka, kalau bukan aku yang memberitahumu lalu siapa?"

Shina pura -pura tak mendengar dengan menutup telinganya. "Lalalala terserah, lagipula jika kau terlalu dekat dengan kembaranmu ini nantinya kau tidak akan memiliki pasangan"

"Kau-..." Hanami menunjuk Shina dengan keras, ia tak mengerti kenapa ia memiliki saudara kembar yang cerdas namun seenaknya seperti ini berkebalikan dengan dirinya.

"Hohoho kenapa kau tersinggung ehh Forehead?" Shinaa menyeringai penuh ejek kepada adiknya.

Kali ini Hanami tak boleh tinggal diam ia cukup sabar. "Rasakan ini Shanaroo"

Bugh!

Pukulan keras mendarar dikepala pirang Shina membuat sang empu mengaduh kesakitan. "Itta Shanabayou!"

"Ugh... Aku hanya bercanda kenapa kau memukulku?" Lanjut Shina sambil mengelus kepalanya.

"Bercandamu jelek" Rungut Hanami sambil mensedekapkan tangannya didepan dada.

Perkelahian keduanya akhirnya terhenti karena pelayan sudah datang membawa pesanan mereka.

Mata Emerald milik Shina berbinar menatap ramen ukuran besar yang enak dipandang apalagi dimakan. "Baiklah! Ittadakimasu"

Tanpa menunggu Hanami Shina langsung melahap ramen miliknya dengam lahap seolah tak ada hari esok lagi.

"Baka makan yang pelan nanti kau tersedak" Shina hanya membalas dengan cengiran sesaat kemudian melanjutkan acara makannya.

"Huh terserah lah... Aku mau kekamar mandi dulu"

Hanami mulai beranjak dari posisi duduknya dan berlalu kekamar mandi sebelum suara Shina menghentikan langkahnya.

"Jangan lama -lama atau aku akan meninggalkanmu"

"Tak akan lama hanya sepuluh menit"

"Ck, Jika sepuluh menit tak kembali aku akan meninggalkanmu" Tanpa menghiraukan Shina Hanami berlalu menuju kamar mandi.

Sedanglan dipintu masuk kedai nampak 3 wanita paruh baya berambut soft pink, pirang, dan Indigo memasuki kedai.

"Aku mau le toilet sebentar jadi kalian bisa duluan" Ucap Sakura pada kedua sahabatnya.

Ino nampak ingin menginstrupsi. "Apa kau mau aku temani?"

Sakura menggeleng. "Tak usah lebih baik kau bersama Hinata cari meja dan pesankan Dango dan Anmitsu untukku"

"Baiklah tapi jangan lama"

"Tak akan lama" Sakura bergerak menuju arah toilet.

Brugh!

Karena tak memperhatikan jalan Sakura menabrak seseorang berjubah dengan tudung yang tak lain adalah Hanami hingga membuat keduanya jatuh dilantai.

"Ahhh... Gomen aku tidak memperhatikan jalan" Sakura berusaha bangkit dan meminta maaf pada seseorang yang ditabraknya.

Hanami juga bangkit dari jatuhnya. "Tak apa Baasan lagipula aku juga buru -buru karena sudah ditunggu kakakku"

Iris Emerald Sakura dan Saphire kini akhirnya bertemu dan saling menatap satu sama lain dengan lekat.

"Ahhh... maaf tapi aku harus pergi dulu, aku tak mau membuat Niisan menunggu lama" Sadar akan lamunannya Hanami segera kembali ketempat meja mereka.

Sedangkan Sakura masih tetap ditempat sambil mengamati punggung Hanami yang berlalu semakin menjauh mendekati sosok berjubah sana dengan dirinya yang menyeretnya tergesa dari kedai.

Sakura memegang dadanya entah mengapa ia merasakan perasaan yang familiar untukmya yang sudah lama tak ia rasakan. "Perasaan ini?"

"Kami-sama apakah ini jalanmu?" Lanjutnya berucap pelan.

Sakura beranjak dengan segera ia mencari dua sosok berjubah yang menjadi atensi penuh pikiran dan hatinya.

"Sakura!"

Sebuah panggilan lembut membuat Sakura membalikkan tubuhnya kearah sumber suara.

"Kau mau kemana?" Tanya Hinata.

"Aku sedang mencari..." Kala Sakura menoleh kembali namun yang dicari sudah tak nampak.

"Ahhhh... maksudku apa kalian sudah memesankan pesananku?"

Akhirnya Sakura memutuskan bahwa mungkin ini hanya perasaannya saja, perasaan rindu seorang ibu pada buah hatinya yang sudah tak dijumpainya selama kurun waktu 16 tahun ini.

"Hey Forehead kau kenapa? kau nampak sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Ino dengan suara pelan.

Sakura menggeleng sebelum menjawab. "Aku tidak memikirkan apapun hanya perasaannmu saja"

Sakura memasang senyum manis namun Ino tahu dibalik semua itu pasti ada yang disembunyikan oleh Sakura.

"Kau tak pandai menyimpan rahasia Forehead" Sakura hanya membalasnya dengan senyuman yang membuat Ino mendengus.

"Hey ada apa? Kenapa kalian bisik -bisik?" Tanya Hinata membuat keduanya mengalihkan pandangan mereka.

"Tidak ada apa -apa Hinata hanya saja penggosip kita ini sedang mencari bahan untuk dijadikan gosip" Sakura bersama Hinata hanya dapat tertawa berbeda dengan Ino yang mendengus kesal dibuatnya.

Dalam hati Ino menyumpah serapahi sahabatnya ini. 'Awas saja kau Forehead tunggu tanggal mainnya'

~XXX~ The Miracle of Love ~XXX~

Naruto nampak menghembuskan nafas lega karena sepertinya ia menemukan penginapan yang cocok dan kemungkinan Sakura dan yang lainnya kemungkinan kecil akan menemukan dirinya karena ia tidak ingin membongkar jati dirinya sebelum sampai di Konoha.

"Waktunya aku menjemput mereka" Gumam Naruto kemudian membuat hand seal dengan satu tangan.

Sring!

Shina dan Hanami menghentikan langkah mereka sesaat setelah sosok berjubah muncul didepan mereka.

Naruto menggaruk kepalanya. "Apa Tousan membuat kalian menunggu lama?"

Shina menggeleng. "Tidak lagipula aku menunggu dengam semangkuk ramen jumbo jadi tak masalah.

"Jahatnya kalian tidak mengajak Tousan" Naruto pura -pura cemberut membuat Hanami terkekeh.

"Lagian salah Tousan sendiri membuat kami lama menunggu" Balas Hanami setelah tawanya mereda.

"Gomen ne... tapi Tousan sudah mendapatkan penginapan jadi kita bisa menuju kesana dan baru besok kita akan ke Konoha" Hanami menoleh keaeah ayahnya.

"Benarkah?" Hanami nampak berbinar mendengar ucapan ayahnya.

Naruto menautkan alisnya. "Tentang apa?"

"Pastinya tentang Konoha" Shina menyahut dengam nada datar.

"Tenang saja besok kita akan berangkat ke Konoha"

Hari sudah mulai malam dan keluarga kecil ini melangkahkan kaki mereka menuju tempat yang akan mereka gunakan untuk beristirahat.

"Apa yang kau lakukan disini Hanami, ini sudah malam dan kau tidak tidur?" Tanya Naruto yang melihat putrinya yang jam seperti ini belum tidur.

Hanami menoleh kearah sang ayah. "Tousan? Aku tak apa hanya sedang ada yang aku pikirkan"

"Memang apa yang kaupikirkan? Coba ceritakan pada ayah"

"Tadi aku bertemu dengan seorang bibi atau lebih tepatnya bertabrakan dan Tousan tahu dia sangat mirip denganku bahkan rambutnya sama sepertiku yang membedakan warna mata kami saja"

"Hmmmm... Lalu apa yang kaupikirkan?" Tanya Naruto yang sudah tahu kemana arah pembicaraan ini.

Hanami menghela nafas sesaat sebelum menjawab. "Aku sempat berpikir itu adalah Kassan"

'Kurasa Hanami tanpa sengaja bertemu dengan Sakura dan apa yang kau rasakan itu memang benar karena memang Sakura adalah Ibumu' Naruto hanya dapat membatin sembari tersenyum miris.

"Jadi itu yang membuatmu Risau? Hanami mengangguk menanggapi pertanyaan sang ayah.

"Ngomong -ngomong dimana Kakakmu?" Tanya Naruto sambil memperhatikan sekitar.

"Tadi Niisaan pamit untuk menghirup udara segar diluar Myobokuzan"

Mendengar jawaban dari Hanami, Naruto mengalihkan pandangannya pada langit malam dan entah mengapa ia meyakini kalau shina keluar bukan hanya untuk menghirup udara segar.

"Memang ada apa Tousan?" Tanya Hanami.

Naruto menggeleng. "Tidak ada apa -apa, lebih baik kau tidur ini sudah malam.

Hanami mengangguk kemudian masuk kedalam kamarnya.

'Tidak mungkin Shina keluar hanya untuk menghirup udara segar, dia adalah orang yang cerdas aku yakin ia mengetahui keberadaan Sakura-chan' Pikir Naruto cemas dengan apa yang akan dilakukan putranya itu.

~XXX~ The Miracle of Love ~XXX~

Menatap kedua sahabatnya yang sudah terlelap sedari tadi karena tugas hari besok yang menanti wanita bersurai soft pink berjalan keluar menuju balkon penginapan dengan wajah yang sulit ditebak.

'Aku merindukkan kalian' Batin Sakura sambil menatap bintang malam yang sedang bersinar terang.

"Haruno Sakura"

Mendengar namanya dipanggil otomatis membuat tubuh Sakura mengalihkan pandangannya keorang yang memanggilnya.

Sakura menatap dari atas sampai bawah sosok berjubah dengan tudung yang berdiri dipojok balkon. "Siapa kau kenapa kau bisa tahu namaku?" Tanya Sakura.

"Aku? Aku bukan siapa -siapa dan mungkin tidak ada hubungan apapun dengan dirimu" Jawabnya membuat Sakura menautkan alisnya.

"Lalu untuk apa kau memanggil namaku?"

Sosok itu berdecih. "Huh.. Mungkin ini kali terakhir aku akan memanggil namamu"

Mendengar suara seperti jijik itu membuat Sakura kembali bingung dan ia berasumsi sosok ini bukanlah sosok yang bersahabat dengan dirinya.

"Dari nada bicaramu sepertinya kau membenciku!" Ujar Sakura.

"Memang"

Mata Sakura nampak membola tapi itu hanya sesaat. "Kalau kau membenciku apa yang ingin kau lakukan padaku? Membunuhku?" Tanya Sakura.

"Tsk... Aku tidak ingin membuat Adikku bersedih jika aku membunuhmu biarlah aku menyimpan rasa benci ini sendiri" Sakura semakin dibuat bingung dengan arah pembicaraan ini yang menurutnya tidak menemukkan titik temu.

"Sepertinya kita belum pernah bertemu lalu kenapa kau membenciku?"

"Kita memang tidak pernah bertemu sebelumnya dan hanya bertemu sekali dalam hidupku dan ini adalah kedua kalinya untukku, namun baru kali ini aku dapat becakap dengan dirimu" Balasnya dengan nada sarkastik.

Sakura menggeram serasa ingin menyerang sosok didepannya ini tapi entah mengapa hati kecilnya memperingatkan untuk tidak memukulnya. "Lalu apa alasanmu?"

"Alasanku hanya satu..."

Sosok itu membuka tudungnya yang kemudian menampilkan sosok pemuda bersurai pirang dengan iris Green Emerald yang sedang menatapnya dengan tajam, sedangkan Sakura dibuat stuck ditempat sendiri dan dari air mukanya ia nampak sekali terkejut sekaligus rindu.

"Kau pasti mengingat jelas hari dimana kau membuang aku dan Adikku seolah kau tidak pernah mengharapkan kehadiran kami, dan kau tahu itu membuat luka disini" Ucapnya dengan memukul letak dimana hatinya bersarang.

"..." Sakura menunduk dan masih tak bisa berucap sementara sosok itu berjalan mendekati Sakura.

"Aku tidak ingin bertele -tele Namaku adalah Uzumaki Shinachiku dan aku datang kemari untuk memperingatkan jika kau berpikir semuanya bisa kembali normal seperti apa yang kau harapkan selama ini maka itu hanya mimpi belaka" Bisik Shina ditelinga Sakura dengan nada tajam yang sangat ketara sekali.

"Kaasan bisa jelas-..."

"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi dan jangan pernah kau sebut dirimu Kaasan, dan satu lagi aku membencimu dari lubuk hatiku yang paling dalam karena aku bukanlah Malaikat yang dengan mudah memaafkan kesalahan" Ucapan Shina membuat hati Sakura bagaimana tidak jika putranya berkata bahwa dirinya membenci Ibunya.

"Selamat tinggal!"

"Tunggu!" Sakura berniat mencegah kepergian Shina dengan memeluknya namun yang ia peluk hanya hembusan angin dimana tadi Shina berpijak.

Tes! Tes!

Puluhan cairan likuid bahkan ribuan menetes dari pelupuk mata milik Sakura sesaat putranya pergi meninggalkannya dan detik pula itu ia jatuh terduduk. "Hiks... Hiks... Kumohon kembalilah dengarkan penjelasan Kaasan Hiks... Kaasan sungguh menyesal"

Tangisan pilu Sakura membuat malam yang terasa indah dengan taburan bintang terasa kelam bagi dirinya rasanya ia tidak sanggup untuk menatap hidup apalagi nengistirahatkan tubuhnya.

Sring!

Muncul Shina disertai hembusan angin namun Shina tak menyadari ada netra lain yang memperhatikannya.

"Darimana kau Shina?" Shina membalikkan tubuhnya menghadap sang ayah.

Berdecih kemudian Shina bertanya. "Menjawab aku keluar mencari anginpun pasti Tousan tidak akan mempercayainya bukan?"

Naruto mengangguk.

"Huh... Aku menemui Haruno Sakura" Dapat Shina lihat jelas netra sang ayah membulat.

"Ada apa kau menemui Ibumu?" Tanya Naruto tajam.

Shina menatap tenang. "Tidak apa -apa hanya memberikan salam saja pada Kaasan"

"Apa hanya itu?"

"Yah dan juga pembicaraan ringan saja"

"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Naruto mengintimidasi.

Shina menaikkan bahunya. "Hanya pembicaraan ringan dan memberitahunya bahwa jika Kaasan berpikir semuanya bisa kembali normal seperti apa yang ia harapkan selama ini maka itu hanya mimpi belaka. Tidak lebih tidak kurang aku mau istirahat dulu" Naruto berjalan menuju kamarnya meninggalkan Ayahnya yang masih diam terpaku.

"Shina sampai dimana kau akan membenci Ibumu bahkan aku yakin kau tidak memberikan kesempatan pada Kaasanmu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi" Naruto memandang sayu pintu kamar yang dimasuki Shina.

'Apa aku harus menemui Sakura-chan? Ya aku harus walau hanya sekedar memastikan keadaannya saja' Batin Naruto yang kemudian menghilang dalam hembusan angin.

Sring!

Yang pertama kali ia lihat adalah yang tidak suka iaa lihat dimana bunga Sakura kesukaannya sedang jatuh terduduk dengan air mata yang sudah membanjir, rasanya ia ingin mendekati Sakura dan memeluknya erat.

'Sakura-chan' Batinnya sedih.

"Kenapa kau tidak hampiri saja dia daripada kau mengamatinya seperti itu terus Gaki!" Terdengar suara ghaib yang terngiang dikepala Naruto yang tak lain adalah suara Kurama Kyuubi no Yokou.

Naruto mendongak. "Tapi apakah ini sudah waktunya?" Kurama mendecih mendengar ucapan Naruto.

"Terserah kau mau apa Gaki! Tapi aku menyarankan untuk mengakhiri sekarang, mengakhiri sekarang ataupun dimedan tempur nantinya tidak akan mengubah apapun" Naruto terhenyak mendengar ucapan Kurama.

Naruto kini sudah bertekad. "Baiklah aku akan mengakhiri semua ini paling tidak ini dapat membantu Shina dan Hanami"

Sring!

Naruto menghilang kemudian berdiri disamping Sakura yang masih jatuh terduduk.

"Daripada kau menangis terus lebih baik kau ikut denganku"

Mendengar suara baritone membuat Sakura mendongak mengamati sosok berjubah persis dengan putranya tadi hanya berbeda tinggi badan saja.

"Siapa kau dan apa maumu?" Tanya Sakura yang kini nampak bersiaga.

Naruto menghela nafas tak lucu jika pertemuan selama 16 tahun malah ia mendapat pukulan maut dari Sakura. "Ikutlah denganku aku akan menceritakan tentang Uzumaki Shinachiku dan Uzumaki Hanami"

Sakura membola kala dua nama panjang itu diucapkan.

"Darimana kau tahu?" Tanya Sakura bingung.

"Berbicara disini membuatku takut Hinata ataupun Ino bangun dan mendengar ucapan kita" Ucap Naruto kemudian memegang bahu Sakura.

Sring!

Keduanya kini susah berada disebuah tebing tak jauh dari pemukiman Suna.

"Pertama aku ingin menyapa dulu, Bagaimana kabarmu selama ini... Sakura-chan?" Tanya Naruto sambil membuka tudungnya yang menampakkan indah surai pirang dan manik saphirenya.

"Na -Naruto kau kah itu?" Sakura berucap terbata dengan mata membola penuh rasa kejut.

"Ya ini aku Uzumaki Naruto" Naruto menampilkan senyum lima jari miliknya.

Sakura menggeleng. "Tidak mungkin Naruto berambut pendek bukan panjang sepertimu" Sangkal Sakura.

"Apa hanya karena rambut kau tidak mempercayaiku Sakura-chan?"

"Itu hanya bukan masalah rambut saja tap-..."

Cup!

Sakura diam membisu kala sebuah rasa lembut dan hangat menghampiri keningnya dan perlahan ia menutup matanya sekedar untuk merasakan getaran ini yang sudah lama tak ia rasakan.

"Sudah lama! Sudah lama sekali aku merindukanmu Sakura-chan..."

"Naruto!"

Sakura menenggelamkan kepalanya didada bidang Naruto untuk sekedar mengurangi kegelisahan hatinya namun kemudian ia menyadari sesuatu.

"Ahhh... Maaf Hokage-sama aku lancang" Sakura salah tingkah setelah ia sadar hampir saja ia mengkhianati Hinata sahabatnya.

Naruto terkekeh membuat Sakura menautkan alisnya. "Hokage hah? aku bukan Hokaga Sakura-chan"

"Tapi kau-..."

"Yang disana bukanlah aku" Potong Naruto cepat.

Sakura membulat. "Lalu siapa?"

"Uzumaki Menma orang yang mirip denganku yang kita temui saat kita terjebak didunia cermin milik Obito"

"Bagaimana bisa?" Tanya Sakura bertubi kemudian ia menceritakan semuanya dari pertemuannya dengan Menma dan merawat Shina dan Hanami di Myobokuzan.

"Jadi selama ini yang merawat Kedua anak kita selama ini adalah kau Naruto?" Naruto mengangguk kini mereka sudah duduk berdampingan disisi tebing.

"Tapi maaf sepertinya aku masih belum terlalu becus mengurus mereka karena aku yang tak bisa merawat mereka Shina menaruh rasa benci pada dirimu" Naruto menunduk merasa belum bangga menjadi ayah.

Sakura mengelus pipi Naruto. "Kau tidak perlu minta maaf karena akulah yang harusnya minta maaf karena tak memberitahumu tentang kehamilanku dengan egoisnya meninggalkan kalian"

"Yang berlalu biarlah berlalu lebih baik kita perbaiki apa yang salah dimasa lalu tapi aku mohon jangan beritahu tentang kami pada yang lainnya karena yang tahu soal Aku dan Menma hanya Killer Bee, Gaara, dan kau saja Sakura-chan" Sakura mengangguk.

"Aku tidak akan memberitahukan ini pasca pertarungan nanti"

"Jadi memang benar bahwa Kaguya akan dibangkitkan kembali?" Sakura bertanya gelisah.

"Benar tapi aku dan yang lainnya akan berusaha mencegah tujuan mereka dan aku berhara teka -teki ini juga dapat cepat terpecahkan" Sakura memeringkan kepalanya tak mengerti.

"Teka -teki apa?"

"Rasa sayang didalam kebencian dan pengakuan" Balas Naruto.

"Apa maksudnya?"

Naruto menggeleng. "Waktu yang akan menjawabnya"

"Naruto ada yang datang mereka berkelompok dengan jumlah chakra besar" Kurama memberitahu Naruto bahwa ada yang akan datang.

"Menyingkir Sakura-chan!" Naruto memerintahkan Sakura untuk pergi.

"Ada apa kenapa kau menyuruhku pergi?" Sakura berucap tak mengerti.

"Mereka datang"

Bummmp!

Sebuah dentuman keras terdengar tak jauh dari posisi Naruto dan Sakura berdiri, asap bekas dentuman itu sedikit demi sedikit yang kemudian memunculkan 7 sosok berjubah warnaa putih dan ketujuh orang itu memiliki mata berpola riak air.

"Uzumaki Naruto!"

Saaat namanya diucapkan Naruto susah siap sedia jikalau mereka menyerang.

"Siapa kalian mau apa kalian kesini?" Tanya Naruto tajam.

Tep!

Satu dari mereka maju beberapa langkah didepan kelompoknya.

"Kami tidak memiliki nama kami hanya pengikut setia Kaguya Otsusuki dan tujuan kami adalah membangkitkan kembali junjungan kami" Jawabnya.

"Lalu untuk apa kalian mendatangiku?" Naruto sebenarnya sudah tahu tapi ia hanya ingin memastikannya.

"Kau adalah pemegang kunci dimana Kaguya disegel, maka dari itu kami meminta dengan baik tanpa ada hal yang harus dirusak"

'Jika aku menolak permintaannya pasti Sunagakure akan hancur total bahkan mungkin desa yang lainnya tap aku juga tak mungkin memberitahu mereka lokasi Kaguya' Pikir Naruto kalut.

Naruto berdecih dan ia sudah mantab akan keputusannya. "Aku tak akan pernah memberitahu kalian dimana Kaguya disegel"

"Kalau begitu terpaksa kami akan menggunakan cara paksa agar kau memberitahu kami dan jangan salahkan kami jika nantinya desa ini akan mengalami kerusakan" Ucapnya.

Syut!

Ditangan kanannya muncul Godou Dama yang sudah siap untuk diledakkan.

"Tunggu!" Naruto berucap keras.

Ia menghilangkan Godou Damanya. "Apa kau berubah pikiran?"

"Tidak, tapi bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" Tawar Naruto.

"Kesepakatan apa? Dan apa untungnya untuk kami?"

"Baiklah! Besok lusa kalian datanglah Ke Konoha kita akan melakukan pertarungan jika kalah kalian urungkan niat kalian untuk membangkitkan Kaguya tapi jika kami yang kalah maka aku akan memberirahu dimana lokasi Kaguya dan kami tak akan mengganggu kalian"

"Baiklah! Kami setuju lusa kami akan datang ke Konoha dan akan membangkitkan Kaguya sekali lagi! Aku akan pegang omonganmu Uzumaki Naruto"

Wush!

Ketujuh sosok itu sudah melesak jauh menuju angkasa bersiap untuk pertarungan penentu.

"Apakah tak apa?"

"Entahlah, tapi setidaknya Suna selamat dari kehancuran yang akan mereka buat"

'Apapun itu dan bagaimanapun caranya aku akan menghentikan mereka... dan sekali lagi darah -darah akan tertumpah'

~XXX~ Tobe Continued ~XXX~


Yo Minna maaf ya yang kelamaan nunggu Updae fict daru Author... yah mau bagaimana lagi mendekati acara HUT RI benar -benar menyita waktu jadi baru bisa Update sekarang hehehe Gome Ne...

Bagaimana Chap ini Bad kah? tapi ini alurnya sudah mulai naik keinti cerita dan chap depan Battle sudah dimulaai hahahaha...

Dan satu lagi berhubung Kakak aku gak kirim lagi dokumen fic The Invoker jadi nanti Author akan gantikan dengaaj Fic lain Semi Crosscover... dan pls jangan tanya kenapa aku buat Fic terus... oke... jika ada yang ditanyakan harap PM aja... karena jarang bales kalau gak lewat PM.

DONT FORGET FOR

R

E

V

I

E

W