A/N: ENG ING ENG! Author jahat ini datang untuk mengapdet. A/N selesai.
warning: AU, OOC sungai *?*
disclaimer:
Masashi Kishimoto


CHAPTER FOUR
Boyfriend

Hening.

Hanya suara gerakan angin yang terdengar.

Aku masih bersembunyi di semak-semak.

Masih tak percaya atas apa yang kulihat.

Naruto... dan Sasuke...

'Miaw!!'

"Kyaaa!" Seekor kucing liar lewat di depanku. Membuatku jatuh terjerembab. Terduduk. UPS! Aku segera menutup mataku dengan kedua tanganku. Ow ow. Sepertinya Naruto dan Sasuke mulai menyadari keberadaanku. Ini gawat. Seandainya aku ninja, aku pasti akan menyamar dengan cepat dalam keadaan seperti ini. Sayangnya, aku bukan ninja.

"Naruto, kau dengar sesuatu?" tanya Sasuke pada Naruto. Sepertinya dia menyadari bahwa ada bahaya yang mengancam.

"Nggak denger apa-apa tuh. Palingan hanya kucing," jawab Naruto cuek.

"Sepertinya ada orang," ucap Sasuke curiga. Aduh! Sasuke curigaan banget. Aku bisa ketahuan. Kurasakan tubuhku mengeluarkan keringat. Bukan hal wajar jika tubuh kita mengeluarkan keringat padahal suhu sekarang sangat dingin. Maksudku, aku berkeringat karena tegang. Aku tak tahu apa yang akan aku perbuat jika mereka menemukanku bersembunyi di sini.

'Tap.' Langkah Sasuke semakin dekat.

Ya Tuhan, aku takut sekali.

'Srek.' Dia mulai berusaha untuk menyingkirkan semak-semak tempatku bersembunyi.

DEG

'Srek srek.'

DEG

"Sasuke. Sudahlah. Tidak ada apa-apa di balik semak itu. Ayolah kita segera ke kamar. Di sini dingin sekali dan hoamh... Aku sudah mengantuk," bujuk Naruto.

Sasuke melirik ke arah Naruto. Lalu, sekilas dia melirik ke arah semak tempatku bersembunyi. Dia melirik ke arah Naruto lagi. Lalu melirik ke arah semak. Ah, ayolah Sasuke. Pergilah ke kamar bersama Naruto dan tinggalkan aku sendiri!

"Sebentar. Aku tidak puas kalau tidak mengecek ini dulu," ujar Sasuke.

Aduh. Sasuke rasa ingin tahunya tinggi sekali. Aku rasakan jantungku berdetak semakin cepat.

DEG DEG

Sasuke mulai menyentuh semak-semak.

DEG

Aku berdoa semoga dia tidak menemukanku.

SREK

Sasuke menunjukkan ekspresi terkejut. Dia melihatku. Mata kami saling bertemu. Hitam bertemu putih.

"Naruto," panggil Sasuke. Tapi pandangan matanya tak terlepas dari mataku.

"Ada apa, Sasuke?" tanya Naruto sambil berjalan menuju ke arah semak tempatku bersembunyi.

"Cepat kemari," perintah Sasuke. Sepertinya Sasuke hendak memberitahukan keberadaanku pada Naruto. Dengan cepat kugelengkan kepalaku. Kubuat tatapan mataku sememelas mungkin. Aku takut.

"Sa-Sasuke. Tolong jangan panggil Naruto," pintaku, "Sebagai gantinya, aku takkan memberitahu guru bahwa kau dan Naruto berciuman dalam bis." Celaka. Sasuke terlihat terkejut.

"Stop di situ," ujar Sasuke kembali. Naruto berhenti. Menunjukkan ekspresi aneh pada Sasuke yang masih tetap tidak melihat matanya. Sepertinya Sasuke membatalkan niatnya untuk memberitahukan keberadaanku. Lalu dia tersenyum padaku. Senyum yang licik.

Aku menaikkan sebelah alisku. Berusaha bertanya padanya dalam bahasa isyarat.

"Aku akan mengajak Naruto ke kamar asalkan kau mau memenuhi syaratku," bisiknya.

"Sya-syarat apa?" tanyaku dengan berbisik.

"Bilang dulu kau setuju," ucapnya. Aku masih ragu.

"Hei, Sasuke! Ada apa sih?!" Naruto yang sudah tidak sabar segera melangkahkan kakinya cepat menuju ke arahku dan Sasuke. Gawat.

"A-aku se-setuju!" ucapku panik.

"Nice girl," ucapnya sambil mengusap kepalaku. Membuat kacau rambutku.

"Ada apa di sana, Sasuke?" Naruto sudah sampai di hadapan Sasuke.

"Tidak. Tidak ada apa-apa. Ayo kita segera tidur. Aku sudah mengantuk," ujar Sasuke sambil menggandeng lengan Naruto dan menggeretnya berjalan ke arah kamar mereka. Naruto yang terheran-heran masih melirik ke arah semak tempatku bersembunyi. Tak lama kemudian, dia pun menyerah dan pergi bersama Sasuke ke kamar mereka.

~*~

~*~

Semua pandangan menuju ke arah kami. Rata-rata raut wajah mereka menunjukkan tanda tanya. Sebagian menyunggingkan senyum kecil, seakan memberi selamat atas terwujudnya salah satu impianku.

Aku melemaskan jemari tanganku, sedangkan sebuah telapak tangan besar menggenggamnya erat. Wajahku sudah memerah. Suhu tubuhku memanas. Jantungku berdetak sepersekian kali lebih cepat setiap detiknya.

"Hinata!" Seseorang memanggilku. Sebelah tangannya menutup kedua mataku, yang satunya mendekap tubuhku dari belakang. Membuat jemariku yang lemas terlepas dari telapak tangan besar yang menggenggamnya sejak limabelas menit yang lalu.

"Te-Temari!" kataku. Hapal dengan suaranya.

"Hai, Hinata. Kok keluarnya nggak bareng aku, sih?" tanya Temari sambil memajukan bibirnya.

"Ma-maaf. Aku—"

"Aku yang mengajaknya keluar."

"Hinata... Dia..." kata Temari.

"Ya. Mulai sekarang, Hinata menjadi pacarku," ucap pemilik tangan besar yang sedaritadi berada disampingku dengan tenang. Memasukkan tangan yang digunakannya untuk menggenggam tanganku ke dalam saku celana panjangnya.

Raut wajah Temari berubah aneh. Dia menarik tanganku dan membawaku memunggungi 'pacarku' dalam jarak tiga meter.

"Hinata, sejak kapan kau berpacaran dengan Sasuke?!" tanya Temari dengan suara yang pelan, tapi mimik mukanya sangat tegas.

"A-aku tidak berpacaran dengannya," kataku malu-malu.

"Tapi dia bilang..."

"Aku tidak berpacaran dengan Sasuke, Temari," ujarku, "Kau tahu kan kalau aku sangat menyukai Naruto."

Sepertinya Temari masih belum mengerti. Yah. Siapa yang akan mengerti jika sekarang aku dan Sasuke berpacaran. Kami tidak pernah berbicara satu sama lain sebelumnya. Kami berbeda dunia.

"Hinata!" panggil Sasuke.

"A-ah iya," jawabku, "Temari, aku pergi menemui Sasuke dulu, ya."

Temari diam terpaku melihatku pergi. Yah. Begitu aku sampai kembali di sisi Sasuke, dia langsung menggenggam erat jemariku lagi.

~*~

~*~

[Flashback]

"Pagi, Hinata. Aku datang menagih janjimu."

"Sa-Sasuke..." Aku takut. Pagi-pagi sekali Sasuke mengetuk kamarku dan Temari. Dia tampak tampan pagi itu. Rambutnya masih setengah basah, menandakan kalau dia baru saja selesai mandi. "Ja-janji apa?"

"Jangan pura-pura lupa, Hinata," ucap Sasuke dengan senyum tersungging di bibirnya, "Kau sudah janji untuk menyetujui syaratnya."

Dengan segera kuteringat tentang kejadian semalam. "Ja-jadi... Apa syaratnya?" tanyaku. Aku tak sanggup lagi menatap mata onyxnya. Terlalu menyeramkan.

"Jadilah pacarku dan kencan denganku."

Apa? Dia memintaku untuk menjadi pacarnya? Kenapa? Bukankah dia berciuman dengan Naruto yang notabene laki-laki? Kenapa? Kami tidak pernah berbicara sebelumnya. Kenapa?

"Ke-kenapa? Aku tidak suka padamu."

"Tapi aku menyukaimu," ucap Sasuke dengan yakin. Aku yakin wajahku sudah merah sekarang.

"A-aku tidak bisa!" tolakku. Aku ingin pacar pertamaku benar-benar orang yang kusukai. Aku ingin pacar pertamaku meninggalkan kesan yang indah untuk kuingat seumur hidupku. Aku tidak mau main-main saat mendapatkan pacar pertamaku. Aku tidak mau berpacaran dengan orang yang tidak kusukai, apalagi dengan orang yang sama sekali tidak kukenal dengan baik, seperti Sasuke ini.

"Kau tidak mau? Padahal kau sudah berjanji, Hinata," ujarnya, "Apa kau mau kalau rahasiamu kusebarkan?"

"Ra-rahasia? A-aku tidak punya rahasia apa-apa," bantahku.

"Oh, maaf. Aku lupa. Rahasiamu itu rahasia umum. Tapi, ada seseorang yang tidak tahu rahasiamu itu..." ucapnya dengan nada mengancam.

Aku masih bingung. Tidak mengerti tentang apa yang dibicarakan Sasuke.

"Naruto... Hanya dia yang tidak tahu bahwa kau menyukainya," senyumnya.

Wajahku memanas. Aku tahu. Sasuke tidak cukup baik untuk menyimpan rahasia.

"Jadi, bagaimana?" tanyanya kemudian.

"A-aku tidak mau jadi pacarmu."

"Oh, baiklah. Aku akan kembali ke kamar dan memberitahu Naruto bahwa kau menyukainya." Sasuke berbalik arah menuju kamar tidur kelompoknya.

"Tapi kalau hanya berkencan saja, aku bersedia."

[End of Flashback]

~*~

~*~

"Hinata."

"Hei, Hinata."

"Hi-na-ta—"

"Kyaa!" pekikku geli saat merasakan hembusan angin semilir di telinga kiriku.

"Kau lagi ada di alam mana, sih?" tanya Sasuke kesal. Sepertinya sejak tadi dia memanggilku, tapi aku tidak mendengarnya. Yah, wajar saja, aku sedang banyak pikiran. Otakku dipenuhi oleh Naruto.

"Ma-maaf. Aku pusing," kilahku.

"Hm? Mau kupapah? Atau kugendong?" goda Sasuke.

Menyebalkan. Aku tak menjawabnya. Cuek. Mengalihkan pandanganku darinya dan...

"Hai, Hinata!" Na-Naruto... Dia berjalan ke arahku. "Tumben, nggak bareng Temari," ujarnya.

"I-iya. Temari—"

"Untuk apa Temari kalau ada aku yang bersamanya," ucap Sasuke seraya melingkarkan tangannya di pundakku. Aku merasa risih dan berusaha melepaskan diri dari cengkramannya. Sayangnya, tidak bisa. Dia terlalu kuat.

"He?" Raut wajah Naruto berubah. Menandakan beribu pertanyaan.

"Hinata sekarang jadi pacarku," ucap Sasuke. Raut wajah Naruto semakin tampak aneh.

"Benarkah itu, Hinata?" tanyanya padaku seakan dia tak percaya atas apa yang dikatakan oleh Sasuke.

Tentu saja tidak benar, Naruto. Aku hanya menyukaimu.

"A-aku—"

"Naruto!" panggil seorang gadis cantik berambut merah muda dan beriris emerald. Naruto menengok ke arahnya.

"Sakura..."

"Naruto, kau dipanggil Iruka-sensei, tuh," kata Sakura, "Hm?" Raut wajah Sakura yang semula ceria, berubah ketika melihatku yang dirangkul oleh Sasuke. Aku tambah merasa tidak enak. Apalagi sekarang Sakura sedang berpandangan dengan Sasuke.

"Kenapa lihat-lihat, Jidat lebar?" tanya Sasuke tanpa perasaan.

"Huh. Eh, Naruto! Ada kotoran di matamu," ujar Sakura. Lalu dia sedikit menjijinjit, menyibak rambut bagian depan Naruto dengan tangannya dan meniup lembut mata Naruto. Naruto hanya diam saja. Tatapannya kosong. "Ayo cepat, Naruto. Nanti Iruka-sensei marah," perintah Sakura. Lalu dia melingkarkan tangannya di pinggang Naruto dan mendorong Naruto menjauh dariku dan Sasuke.

"Heh. Cewek sialan," umpat Sasuke saat mereka berjalan meninggalkan kami.

Dalam jarak yang kurang dari lima meter itu, sepertinya Sakura mendengar umpatan Sasuke. Dia menoleh kebelakang, ke arahku dan Sasuke, lalu memberikan senyum sinisnya pada Sasuke. Sasuke pun tak mau kalah. Dia berikan senyuman paling menyebalkannya untuk Sakura. Hei! Apa yang sebenarnya terjadi di sini?!


-To Be Continued-

A/N: Ah. Ceritanya tambah ngalur-ngidul! Tapi entah kenapa saya enjoy ngetiknya X) mungkin karena udah kebayang kerangkanya, nggak kayak perjalanan Chap. 2 ke Chap.3 yang sama sekali blank *nyilet-nyilet pengapus*
Makasi udah baca semuanya!!! ILU *kissukissu*
Tiada kesan tanpa reviewmu *?*