Jaemin tidak percaya ini semua!

Beberapa saat yang lalu ia masih bebas seperti burung di angkasa. Beberapa saat yang lalu ia masih bercanda bersama ayahnya dan Grand Duke Taeil. Sekarang ia sudah duduk di sini, di dalam kamar pengantinya – menanti kehadiran suaminya!

Jaemin benar-benar tidak mempercayai semua ini. Ia tidak mempercayai semuanya semenjak ia mendengar ide gila itu.

Beberapa saat yang lalu ia masih duduk bersama Mark dalam pesta pertunangan mereka dan sekarang mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri!

Semua ini terlalu cepat. Terlalu cepat sehingga Jaemin tidak benar-benar memahami apa yang tengah terjadi.

Semua ini terasa seperti mimpi buruk dan ketika Jaemin membuka matanya, ia telah menjadi istri dari Yang Mulia Paduka Raja Kerajaan Viering, Mark Arcalianne!

Jaemin bukan lagi burung bebas di angkasa.

Jaemin adalah Yang Mulia Paduka Ratu Kerajaan Viering!

Jaemin benar-benar tidak dapat mempercayai semua ini.

Ia tidak dapat lagi mempercayai kehidupannya sendiri semenjak ia tahu Earl menerima pinangan Raja Viering.

Ia tidak percaya sekarang ia telah menjadi alat pelahir pewaris tahta Viering!

Semua ini sulit dipercayai! Terlalu sulit untuk dipahami!

Namun, bagi semua orang hal mudah dipahami. Sebagian dari penduduk Viering percaya dengan cerita cinta tertutup mereka dan sebagian percaya ini hanyalah sebuah pernikahan untuk mencegah Somi menjadi Ratu Viering. Dan bagi dunia, pernikahan ini tidaklah lebih dari sebuah kenyataan berkurangnya seorang perjaka tampan.

Pesta berlangsung dengan meriah seperti yang diinginkan Mark. Walaupun ini hanyalah sebuah pernikahan politik, Mark tidak mau main-main. Jaemin benar-benar dibuat kaget olehnya termasuk Renjun.

Sehari setelah pesta pertunangan itu, Mark mengirim beberapa orang ke Mangstone.

Malam itu, setelah para tamu pulang, Jaemin dipulangkan kembali ke Mangstone atas permintaan Earl. Katanya, demi kemudahan persiapan pernikahan Jaemin. Dilihat dari jarak, memang Mangstone lebih dekat ke Istana daripada Schewicvic.

Mark, tentu saja, mengetahui hal itu. Tetapi tidak seorang pun di Mangstone tahu ketika rombongan itu tiba di Mangstone. Di antara mereka ada penata rambut yang khusus datang untuk mempersiapkan tatanan rambut Jaemin di hari pernikahannya. Juga ada perancang busana yang khusus didatangkan Mark untuk membuat gaun pernikahan Jaemin.

Renjun yang tidak merencanakan ini, tentu saja kaget. Raja telah menyerahkan masalah ini padanya namun ia tiba-tiba mengambil alih. Hal ini lebih dari cukup untuk menjelaskan keseriusan Mark atas pesta pernikahannya ini dan ia pun menjadi semakin serius mendidik Jaemin menjadi seorang lady.

Hari itu Jaemin memang telah menjadi seorang lady yang ia harapkan. Namun, hal itu tidaklah berlangsung lama. Sesaat setelah para tamu termasuk Paduka Raja pulang, Jaemin kembali ke sifat aslinya.

Jaemin masih belum mengganti gaunnya ketika Johnny masuk sambil tertawa.

"Dengar, dengar," ia mengumumkan, "Paduka berkata kau adalah seorang gadis yang penurut!" Dan ia pun kembali tertawa geli.

"Ia bahkan memuji Papa. Katanya ia tidak salah memilih orang."

"Dengar itu, Jaemin. Dengarlah itu," Renjun histeris.

"Countess pasti akan gembira mendengarnya," kata Nicci pula.

Sementara itu, Jaemin memasang wajah muramnya. Ia sama sekali tidak menikmati pujian itu tetapi setidaknya ia tahu bahwa ia telah berhasil memberi pandangan baik kepada para tamu hari ini dan terutama, mencapai targetnya! Sekarang mereka tentu tidak akan lagi berani meragukan Grand Duke Taeil dan menyalahkan hubungan erat antara Grand Duke dan ayahnya.

Jaemin juga tidak terlalu tertarik apakah mereka akan percaya dengan cerita karangan mereka. Sejujurnya, ia tidak keberatan setiap penduduk Viering tahu pernikahan ini hanyalah sebuah cara untuk menyelamatkan wajah Viering. Ia tidak terlalu peduli karena memang itulah kenyataannya. Bahkan ia percaya akan sulit merubah pandangan semua orang walaupun ia telah berusaha keras untuk itu.

"Aku tidak peduli," Jaemin berdiri.

"Apa yang kaukatakan?" Renjun bertanya.

"Tuan Puteri, apa yang Anda lakukan?" Nicci berseru ketika Jaemin menuju serambi.

"Menikmati waktu bebasku," Jaemin memalingkan kepala – menjawab pertanyaan pelayannya kemudian melompat.

"TUAN PUTERI!" Nicci langsung jatuh lemas.

"Jaemin, kembali!" Renjun langsung mengejar Jaemin. Namun Jaemin sudah melompat ke pohon di bawah serambi kamarnya. Dengan lincahnya seperti seorang tupai, gadis itu melompat dari satu dahan ke dahan yang lain – menjauhi serambi kamarnya.

Jisung mendudukkan Nicci di kursi kemudian menuju serambi.

"Jisung," Renjun menyambut kedatangan pemuda itu, "Cepat kejar Jaemin!"

"Aku tidak mau!" Jisung menolak. "Jaemin sudah besar. Ia tidak perlu kita menjaganya sepanjang waktu."

Renjun menatap geram adiknya kemudian melompat dari serambi.

Jisung membelalak kaget. Renjun yang bernyali kecil itu berani melompat dari serambi ke pohon yang beberapa meter berada di bawah!

Nicci yang baru saja pulih, jatuh lemas lagi.

Jisung pun tidak berpikir panjang. Ia langsung mengejar kedua wanita itu. Ia benar-benar dibuat panik oleh Renjun, bukan Jaemin. Jisung tahu benar betapa ahlinya Jaemin dalam hal satu ini tetapi Renjun… Walaupun gadis itu juga bisa memanjat pohon, karena paksaan mereka, Renjun tidak cukup mahir untuk menjadi tupai liar.

Begitulah malam seusai pesta pertunangan itu mereka habiskan dengan menjadi tupai di Schewicvic. Kemudian keesokan paginya Jaemin harus kembali ke Mangstone, menjalani pelatihannya yang membosankan dan melelahkan.

Hari demi hari berlalu begitu lambatnya bagi Jaemin dan ketika ia sudah tiba di hari yang paling dinanti-nantikan oleh Renjun, ia merasa waktu berlalu terlalu cepat. Ia sama sekali belum siap untuk memasuki Istana. Ia masih ingin bermain dengan bebas di luar sana. Jaemin tidak terlalu bodoh untuk mengetahui apa yang telah menantinya sesaat setelah ia menginjakkan kaki di Istana. Namun ia juga tidak terlalu penurut untuk membiarkan hal itu terjadi begitu saja. Sudah cukup ia membiarkan Mark berpikir ia adalah istri idamannya. Ia tidak mau melewatkan hari-hari mendatang dengan berpura-pura ia adalah seorang gadis yang anggun dan penurut. Mark harus tahu siapa gadis yang ia nikahi hari ini!

Jaemin sudah berniat membuka kedoknya dalam pesta pernikahan. Namun, sayangnya, Somi tidak hadir. Jaemin juga tidak terlalu terkejut. Ia sudah dapat menduga Jungwoo tidak berani muncul. Jaemin juga tidak terlalu terkejut bila penyebabnya adalah Somi. Seorang wanita murahan seperti dia tidak setiap hari mendapat kesempatan untuk berpesiar keluar negeri. Begitu ia mendapatkannya, ia tidak akan dengan mudah melepaskannya.

Jaemin sudah memutuskan!

"Apakah Anda membutuhkan sesuatu, Paduka Ratu?" sepasang prajurit yang menjaga pintu kamarnya langsung bertanya ketika ia membuka pintu.

"Apakah saya perlu memanggil pelayan untuk Anda?"

Jaemin melihat prajurit di kanan kirinya itu.

"Tidak," jawab Jaemin, "Aku tidak membutuhkan apa pun."

"Jangan khawatir, Paduka Ratu," sekarang prajurit di sisi kiri Jaemin berkata, "Kami akan menjaga keselamatan Anda hingga Paduka Raja tiba. Kami tidak akan membiarkan seorang pun menganggu Anda."

"Maka," kata Jaemin, "Aku bisa tenang sekarang." Jaemin tersenyum manis dan berkata, "Selamat malam." Kemudian ia menutup pintu.

"Sial!" Jaemin menjatuhkan diri di atas tempat tidur dan berpikir.

Apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia tidak ingin terus berdiam diri menanti seseorang yang belum pasti akan muncul. Ia juga tidak tertarik untuk tidur walau ia telah berganti gaun tidur. Ia juga tidak bisa keluar dari kamar ini. Sepasang prajurit di depan pintu pasti tidak akan membiarkannya lepas begitu saja. Mata Jaemin beralih ke pintu kaca menuju serambi.

Benar! Ia masih mempunyai jalan keluar yang lain. Baginya, pintu keluar tidak selalu berarti pintu!

Jaemin langsung beranjak bangkit.

Pintu terbuka.

Jaemin terkejut.

Mark masuk dengan tenangnya.

Jaemin baru melihat Mark membawa sebuah buku ketika ia menarik kursi ke sisi pembaringan.

Baru saja Jaemin berpikir Mark mengira ia adalah seorang anak kecil ketika pria itu duduk dan menekuni buku yang dibawanya.

"Kukira kau akan membacakan dongeng pengantar tidur untukku," Jaemin membuka pembicaraan.

Mark tidak meninggalkan matanya dari buku yang sedang dibacanya. Ia juga tidak menyahut.

"Apakah kau mendengarku?" Jaemin mendekatkan tubuhnya.

Mark sama sekali tidak terusik.

"Apakah kau tiba-tiba menjadi tuli?" tanya Jaemin lagi.

Lagi-lagi Mark tidak menanggapi.

"Apakah mungkin kau menjadi bisu dalam beberapa jam?"

Mark tenggelam dalam bacaannya.

Jaemin kesal. Ia benar-benar bosan.

Semenjak pesta pernikahan itu pelayan-pelayan membawanya ke kamar ini. Mereka membantunya menanggalkan gaun pengantinnya yang merepotkan itu. Mereka membantunya membersihkan diri. Mereka membantunya berganti baju tidur dan mereka pulalah yang menyuruhnya menanti Mark di kamar ini.

Sekarang Mark sudah tiba tetapi pria itu mendiamkannya. Malah pria itu seakan-akan sudah menjadi batu yang tuli dan bisu!

Jaemin tidak pernah tahu apa yang terjadi setelah seorang pria dan wanita menikah. Ia tidak penah bertanya dan tidak seorang pun pernah memberitahunya!

Renjun hanya pernah memberitahu bahwa pernikahan yang bahagia selalu terjadi pada sepasang insan yang saling mencintai. Cinta mereka yang tulus dan agung akan membawa benih-benih kehidupan ke dunia ini.

Jaemin berpikir bagaimana mungkin semua itu terjadi padanya? Pernikahannya bukan atas dasar cinta walau mereka selalu mengatakan itu pada setiap orang. Yang terpenting, Jaemin tidak menyukai Mark. Bahkan ia membencinya! Demikian pula Mark. Pria itu jelas-jelas tidak menyukainya.

Satu-satunya alasan Mark tetap menikahinya adalah masa depan Viering!

Waktu Mark tidak banyak dan tidak mudah mendapatkan seorang gadis sepertinya yang rela menikah hanya demi memberikan keturunan.

Jaemin melihat tidak ada yang dapat mengusik Mark.

Jaemin benar-benar bosan.

Entah berapa lama ia menanti seorang diri di dalam kamar ini. Jaemin tidak tahu pasti tetapi ia tahu ia sudah hampir menjamur karena kebosanannya.

Mata Jaemin menjelajahi kamar barunya yang luas itu.

Kamar ini tidak jauh berbeda dari kamarnya di Schewicvic kecuali kamar ini lebih luas dan jelas lebih mewah. Langit-langitnya yang tinggi berhiaskan lukisan dan ukiran-ukiran hasil karya tangan ahli. Semua perabotan di dalam ruangan ini jelas sekali merupakan hasil karya orang yang memang ahli dalam bidangnya. Benar-benar sebuah kamar yang diharapkan dari Istana Fyzool yang megah.

Dari pintu kayu megah itu, seperangkat meja dan sofa terlentang di tengah ruangan. Ranjang bertiangnya yang berpoleskan emas berdiri kokoh di antara pintu masuk dan pintu kaca.

Mata Jaemin terhenti di pintu kaca yang menuju serambi.

Tanpa berpikir lebih lama, Jaemin beranjak dari tempat tidur. Ia membuka pintu itu lebar-lebar dan melangkah ke serambi.

Jaemin memperhatikan kegelapan malam di sekitarnya.

Tak sesuatu pun nampak dengan jelas dalam kegelapan taman Istana yang luas. Hanya sinar di beberapa sudut bangunan utamalah yang memberikan penerangan dalam gelapnya malam.

Di kejauhan tampak sinar-sinar kecil rumah penduduk yang bersatu dengan gelapnya suasana sekitarnya.

Jaemin melihat ke bawah dan ia tidak melihat seorang pun nampak. Lalu ia melihat jendela-jendela yang berjajar rapi di kedua sisi serambinya juga di atas dan di bawah tempatnya berdiri.

Rasa ingin tahu Jaemin bangkit. Ia belum menyempatkan diri untuk melihat-lihat suasana Istana semenjak kedatangannya hari ini.

Hari sudah larut. Setiap penghuni Istana telah kembali ke peraduannya dan memasuki dunia mimpi mereka yang indah.

'Kami akan menjaga keselamatan Anda sampai Paduka Raja tiba.'

Seulas senyum puas menghiasi wajah Jaemin dan ia meninggalkan serambinya. Takkan ada yang bisa melarangnya berkeliling Istana saat ini.

Dengan gembira ia melangkah ke pintu kamarnya.

"Kau kira kau akan ke mana?"

Jaemin terperanjat.

Mark menatapnya dengan tajam.

"Kau bisa bicara?" Jaemin heran lalu ia tersenyum, "Kukira aku telah menikahi sebuah patung bisu."

Mark menggunakan kesempatan itu untuk menutup pintu. "Kau tidak akan ke mana-mana!" Mark menegaskan.

Jaemin memasang muka masamnya. "Kau tidak bisa melarangku," tangan Jaemin meraih pegangan pintu.

Tanpa banyak bicara, Mark mengangkat Jaemin.

"Turunkan!" Jaemin memprotes, "Turunkan aku!"

Tangan Jaemin menghantam dada pria itu tetapi Mark tetap berjalan ke tempat tidur.

"Kau tidak berbicara denganku dan aku juga tidak boleh keluar. Apa maumu?" Jaemin meluapkan kekesalannya ketika Mark membaringkannya di tempat tidur.

"Dengar," Mark memperingati dengan nada beratnya.

Mata Jaemin menangkap buku yang sesaat lalu dibaca Mark. "Hei!" Jaemin meraih buku itu, "Kau juga membacanya."

Mark terdiam.

Jaemin duduk bersila di tempat tidur. "Aku juga menyukai buku ini," Jaemin membuka buku itu, "Papa juga sangat menyukainya."

Mark diam memperhatikan Jaemin yang membalik-balik buku itu dengan riang.

"Aku sudah membacanya berkali-kali tetapi aku tidak pernah bosan. Aku juga suka merundingkannya bersama Papa."

Alis Mark terangkat.

"Kau mau membicarakannya denganku?" Jaemin bertanya penuh semangat.

Tanpa disadarinya, Mark tersenyum melihat tingkah Jaemin yang seperti anak kecil meminta permen itu.

Jaemin terperangah. "Kau juga bisa tersenyum," Jaemin keheranan.

"Apa aku tidak boleh tersenyum?" Mark bertanya kesal.

"Tidak," Jaemin tersenyum manis, "Kau jauh lebih tampan bila tersenyum."

Mark membuang mukanya.

Jaemin tertawa geli. "Pernikahan ini mungkin tidak akan sangat membosankan," katanya dan ia kembali menekuni buku itu.

Mark melihat Jaemin yang kembali sibuk dengan bukunya dan duduk di sisi Jaemin. 'Tampaknya tidak sulit mengatur gadis ini,' pikirnya puas sambil duduk di sisi Jaemin

.

-00000-

"Akhirnya kita kembali ke Viering," Somi memandang pelabuhan dari atas dek kapal. "Rasanya sudah lama kita meninggalkan tempat ini."

"Memang sudah lama," Jungwoo menggerutu. "Apa yang akan dikatakan Mark nanti?"

"Kau masih menyalahkan aku!?" protes Somi. "Ternyata Mark jauh lebih penting bagimu daripada aku." Ia membuang muka dan memanjang wajah cemberutnya.

"Bukan, bukan seperti itu," Jungwoo cepat-cepat menghibur istrinya, "Bagiku kau adalah segalanya. Aku rela kehilangan segalanya asal kau bisa berada di sisiku. Kau adalah matahariku," Jungwoo memegang dagu istrinya, "Tiada ciptaan yang lebih indah darimu."

Somi melingkarkan tangannya di leher Jungwoo dan bergelayut manja.

"Kau benar-benar mempesona," Jungwoo menunduk mencium istrinya, "Katakan bagaimana mungkin aku bisa menemukan wanita sesempurna dirimu. Ini adalah keajaiban yang luar biasa."

"Kau memang pandai menggoda," balas Somi manja.

Kapal pribadi keluarga Soyoz merapat di Tognozzi. Para awak kapal langsung sibuk dengan ritual pendaratan mereka.

"Kita sudah merapat," Jungwoo memberitahu istrinya.

"Aku sudah merindukan tempat tidurku di Arsten."

"Kau memang seorang babi," Jungwoo menjentik hidung Somi, "Babi yang cantik."

Somi tersenyum manja.

Beberapa awak kapal sibuk merapikan kembali layar kapal dan beberapa sibuk menjatuhkan jangkar ke dalam laut. Beberapa sibuk memperhatikan jarak antara dermaga dan lambung kapal. Beberapa sibuk mempersiapkan jalan antara kapal dan dermaga.

Jungwoo menuntun istrinya ke kereta keluarga Soyoz yang telah menanti mereka.

"Selamat datang kembali, Yang Mulia," sang kurir Binkley menyambut.

"Apakah Mark mencariku selama aku tidak ada?"

"Tidak, Yang Mulia," jawab pria itu, "Paduka tidak pernah mengirim utusan untuk mencari Anda."

Jungwoo terpekur. Ini bukan cara Mark. Biasanya Mark pasti akan langsung menyerbu Arsten setiap kali ia merasa sesuatu yang salah telah dilakukannya. Mark tidak akan melepaskannya begitu saja sampai ia berhasil menemukannya dan memarahinya sampai puas.

Namun, semenjak ia meninggalkan Viering hari itu, ia sama sekali tidak pernah melihat pasukan utusan Mark. Ia juga tidak pernah melihat sebuah pengejaran tengah dilakukan. Sebaliknya, ia melihat perkembangan keadaan di Viering yang akhirnya berbuah pada pernikahan Mark.

Walau ia berada di luar negeri, ia tidak pernah ketinggalan berita dalam Viering. Cerita tentang Mark adalah sebuah subyek yang tidak akan pernah dilepaskan oleh mata para kuli tinta itu. Ia cukup terkenal di dunia sebagai seorang Raja Muda yang tangkas dan tampan.

Effect peristiwa Red Invitation cukup besar di Viering. Bagi negara lain di luar Viering, ini adalah peristiwa yang mempengaruhi pemerintahan Viering dari seorang Raja yang bijaksana ke seorang Raja remaja yang patut diragukan. Sebuah perubahaan yang sedikit banyak akan mempengaruhi hubungan kedua negara.

Sebelum Mark naik tahta, ia telah bersinar di Viering. Almarhum Paduka Raja Jaehyun dan Ratu Taeyong begitu menyayangi dan memanjakan putra tunggalnya. Seisi Viering juga memanjakannya. Bukan hanya karena ia adalah satu-satunya putra raja yang mereka sanjung tetapi juga karena tingkah lakunya yang manis dan rupanya yang menawan. Mark adalah seorang anak yang manja sebelum Red Invitation. Ia sama sekali tidak pernah terlibat dalam urusan pemerintahan Viering sebelum ayahnya mangkat.

Orang yang patut dihargai atas perubahan seorang pemuda yang manja ke seorang pria yang mandiri adalah Taeil. Dunia mengakui pengaruhnya atas segala kebijaksanaan Mark saat ini.

Setelah ia secara resmi naik tahta, Mark semakin bersinar. Kali ini bukan hanya karena posisinya tetapi juga karena ketampanannya yang semakin menonjol.

Para gadis mulai tertarik oleh daya pikat Mark yang tidak perlu diragukan. Namun sayangnya, Mark tidak pernah tertarik untuk benar-benar mengikat hubungan dengan seorang pun dari mereka. Ini merupakan salah satu daya pikat Mark yang lain.

Mathias tahu keteguhan Mark tidak akan dengan mudah dijatuhkan sekalipun oleh gadis tercantik di semesta.

Mark pernah menegaskannya dihadapannya dan Taeil. Saat itu Mark sedang marah besar hanya karena ia kedapatan mabuk-mabukan di bar.

Apa salahnya ia menikmati masa mudanya? Ia memang orang yang berada dalam urutan pertama tahta Viering tetapi bukan artinya ia tidak bisa menikmati masa mudanya. Mark memang suka mengomentari kehidupannya sampai ke hal yang paling sepele. Hanya karena ia adalah penerusnya, Mark tidak bisa memaksanya bersikap seperti keinginannya! Lagipula saat ini ia bukanlah apa-apa selain bayang-bayang Mark. Apa yang bisa dilakukannya ketika semuanya berada dalam kuasa Mark? Ia hanyalah seorang Putra Mahkota yang akan meneruskan tahta Viering bila Mark memutuskan untuk turun tahta atau sesuatu terjadi padanya. Mark sama sekali tidak pernah mempercayainya. Ia lebih suka menyuruh Taeil mewakilinya bila ia mempunyai halangan daripada ia yang tidak lain adalah Putra Mahkota Viering!

Mungkin Somi benar. Mengapa ia harus takut pada Mark? Mark tidak bisa melakukan apa-apa terhadapnya selain memarahinya. Mark sendiri tahu Viering akan tamat bila ia tidak ada dan ia sendiri tidak pernah ingin melepaskan masa lajangnya. Itulah yang ia tegaskan ketika Taeil mengusulkan Mark untuk segera menyudahi petualangan cintanya.

"Aku tahu apa yang kulakukan! Kau tidak perlu mengomentari keputusanku. Ini adalah kebebasanku untuk memutuskan apakah aku akan menikah atau tidak!"

Pernyataan yang dilontarkan dengan kemarahan terselubung itu cukup untuk menutup mulut Taeil.

Karena itulah Jungwoo tidak begitu mempercayai berita yang beredar beberapa hari setelah pesta pertunangan Mark.

Mark tidak pernah bertemu Jaemin. Ia juga hampir tidak pernah mendengar nama gadis itu bila bukan karena hubungannya dengan Renjun.

Beberapa saat yang lalu ia pernah tertarik pada Renjun. Ia begitu mencintai wanita itu tetapi Jisung selalu menghalanginya. Renjun sendiri juga selalu bersikap angkuh dengan selalu menolaknya. Dan yang paling tidak disukainya dari mereka adalah keberadaan Jaemin! Renjun sering menggunakan Jaemin sebagai alasan untuk menghindarinya.

"Aku harus menemani Jaemin ke dokter hari ini," katanya suatu saat ketika ia mengajak Renjun keluar.

"Jaemin perlu membeli baju baru," katanya di lain waktu.

"Hari ini aku harus memperhatikan pelajaran Jaemin. Kemarin ia kabur dari kelasnya."

Jaemin, Jaemin dan selalu Jaemin. Memangnya Renjun adalah ibu gadis itu?

Renjun hanya memanfaatkan gadis itu untuk menghindarinya.

Memangnya siapa gadis kecil itu? Earl Hielfinberg sudah melindungi gadis itu lebih dari cukup hingga membutuhkan campur tangan Irina yang tak lain adalah putri sahabat dekatnya. Semua orang tahu Earl lebih banyak mengurung diri di Schewicvic semenjak kepergian istrinya. Semua tahu ia begitu takut putri tunggalnya, satu-satunya warisan istri tercintanya, akan pergi meninggalkannya selama-lamanya hingga ia mengurung gadis itu dan memperhatikan setiap langkahnya. Apa lagi yang dibutuhkan dari Renjun!?

Gadis yang tidak pernah keluar rumah itu tidak mungkin pernah bertemu Mark apalagi menjalani hubungan terselubung dengan Mark. Gadis tercantik di semesta tidak sanggup mematahkan keteguhan Mark apalagi seorang gadis ingusan sepertinya.

Jungwoo percaya pernikahan Mark hanyalah sebuah jalan yang diambilnya untuk menghalangi jalannya ke tahta. Tetapi ia tidak peduli akan hal itu. Ia telah mendapatkan hal yang paling berarti untuknya di dunia ini, Somi. Selain itu, sekarang ia bisa menikmati masa-masa mudanya, kehidupannya tanpa perlu cemas akan kemurkaan Mark.

Malam itu Jungwoo baru saja menghabiskan makan malamnya dan ia tengah menikmati anggur merah kesayangannya di Ruang Duduk ketika seorang pelayan masuk,

"Utusan Paduka Raja datang untuk menjemput Anda, Yang Mulia."

Akhirnya Mark memanggilnya.

Jungwoo tidak berharap Mark akan melepaskannya tetapi ia juga ingin bertemu Mark. Apa keperluan Mark menemuinya? Mereka sudah memilih jalan mereka sendiri-sendiri. Ia sudah menemukan pasangan hidupnya dan Mark juga tidak perlu mengurusnya lagi. Ia sudah mempunyai seseorang yang akan memberinya keturunan.

"Apakah saya harus mengatakan Anda sedang beristirahat pada utusan itu?" tanya pelayan itu melihat keragu-raguan di wajah Jungwoo.

Jungwoo termenung.

"Katakan padanya aku akan segera berangkat ke Fyzool."

Ya, ini adalah keputusan yang tepat. Cepat atau lambat mereka harus bertemu membahas masalah ini. Dan akan jauh lebih baik baginya bila ia segera bertemu Mark. Ia tidak ingin hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran akan kemurkaan Mark.

Mark tidak akan melakukan apa pun terhadapnya. Bagaimana pun juga mereka adalah saudara sepupu.

Sewaktu mereka masih kecil, Mark begitu menyanjungnya sebagai seorang kakak. Mereka sering bermain bersama dan menghabiskan waktu bersama. Semua orang sependapat mereka terlihat akrab seperti kakak adik kandung. Mark selalu membelanya ketika ia diganggu dan demikian pula ia selalu melindungi Jungwoo. Mereka adalah saudara yang tidak bisa dipisahkan. Mereka saling mengerti satu sama lain. Bahkan kedua orang tua mereka sering mengomentari kedekatan hubungan mereka.

Itulah yang Jungwoo pikir sesaat sebelum berhadapan muka dengan Mark.

"Bagaimana bulan madu kalian?" Mark bertanya dengan ramah.

Keramahan yang seperti merestui pernikahannya ini membuat kepercayaan diri Jungwoo bergetar. Mengapa ia perlu takut pada adik yang menyanjungnya?

"Menarik."

"Aku mendengar kalian sudah meninggalkan Viering ketika aku membaca kabar tentang pernikahan kalian."

Jungwoo menghindari tatapan mata Mark.

Inilah kenyataannya. Mereka sama-sama kehilangan orang tua mereka dalam Red Invitation. Mereka sama-sama dididik oleh Taeil untuk menjadi raja Viering di masa mendatang. Mereka berbagi suka dan duka sejak mereka masih kanak-kanak. Namun Mark berkembang lebih cepat dari Jungwoo. Ketika Jungwoo menyadarinya, ia sudah ketinggalan jauh. Ia tidak dapat melampaui pemuda itu.

"Mengapa kau tidak memberitahuku?" akhirnya Mark masuk ke dalam topik utama.

Jungwoo tidak berani menjawab.

Mark sendiri pasti tahu. Jungwoo tidak berani mengumumkan pernikahannya karena Mark pasti akan melakukan segala cara untuk menghentikan pernikahannya ini.

Jungwoo mencintai Somi. Ia tidak bisa hidup tanpa Somi. Ia adalah segalanya baginya namun si pria dingin ini pasti tidak akan mendengar penjelasannya. Namun setidaknya Mark harus tahu!

"Aku mencintai Somi."

"AKU TIDAK BERTANYA ITU!" Mark benar-benar murka.

"Kau tidak bisa mengatur dengan siapa aku harus menikah," Jungwoo membela diri.

"Aku memang tidak bisa tetapi aku BERHAK!"

Jungwoo meringkuk di kursinya. Ia tidak berani membantah maupun menatap Mark.

"Apa kau tahu apa yang sedang kau lakukan!? Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan!?"

"Aku…," Jungwoo tidak tahu harus mengungkapkannya atau tidak.

'Untuk apa kau takut padanya!?' suara Somi menggema, 'Toh dia tidak akan membunuhmu!'

Dengan suaranya yang lirih Jungwoo berkata, "M-mengapa kau menyalahkanku atas pernikahanmu? Aku sudah memilih jalanku dan kau juga telah memilih jalanmu."

Mark geram. "Bagus. Sekarang kau berani membantahku."

"A… aku t-tidak pernah memaksamu menikah. K-kkau sendiri yang memutuskannya," Jungwoo berbicara dengan terpatah-patah. "Apa kau ingin mengatakan kau menikah hanya karena aku?"

"KAU!?" Mark tidak bisa berkata. Ia tidak bisa membiarkan orang lain mengetahui motif asli di balik pernikahannya. Ini adalah salah satu perjanjiannya dengan Earl Hielfinberg. Namun ia juga bukan seorang pengarang cerita yang baik.

"Mark."

Keduanya langsung menoleh ke pintu.

"Sudahlah," Jaemin berdiri di depan Mark. Tangannya melekat di dada Mark seolah ingin menahan pria itu menghajar Jungwoo. "Jangan kau marahi Jungwoo lagi. Kalian sudah lama tidak bertemu. Apa kau tidak bisa menyambutnya dengan cara lain selain memarahinya?"

Mata Mark bersinar tidak senang dengan gangguan yang tidak terduga ini.

Jaemin menoleh pada Jungwoo yang masih kebingungan. "Senang berjumpa dengan Anda, Duke of Binkley," Jaemin memberikan senyumnya yang mempesona, "Saya adalah Jaemin."

Jungwoo terhenyak. Ia sama sekali tidak menduga Jaemin adalah gadis muda yang menarik. Memang tidak salah gadis pilihan Mark. Gadis manis itu bersinr mulai dari kepala sampai ujung kakinya. Benar-benar gadis yang sempurna!

"Saya sungguh terharu Anda bersedia datang selarut ini walau Anda baru tiba siang ini hanya untuk mengucapkan selamat atas pernikahan kami. Di mana Somi? Mengapa ia tidak datang bersama Anda? Apakah ia merasa rendah diri untuk masuk istana?"

Jungwoo membelalak.

Mark tersenyum sinis sambil melirik Jaemin.

"Saya sungguh menyayangkan ketidakhadiran Anda di pesta pernikahan kami. Saya sudah mempersiapkan banyak bahan pembicaraan untuk dapat mengenal istri Anda yang hebat itu. Namun, rupanya kalian masih ingin berbulan madu daripada menghadiri pesta pernikahan saya yang membosankan."

"B-bukan begitu, Yang Mulia Paduka Ratu," Jungwoo gugup.

"Tetapi tidak mengapa," Jaemin tersenyum manis, "Kalau kalian datang, kalian pasti lebih dapat menarik perhatian para tamu daripada kami. Benarkan, Mark?" Jaemin mendongak.

"Ya, sayang," Mark melingkarkan tangan di pundak Jaemin. Mark perlu mencari topik lain untuk menyingkirkan tawa geli yang memenuhi dadanya. "Katakan, mengapa kau ada di sini?"

"Aku menantimu di kamar tetapi kau tidak segera muncul. Kemudian aku mendengar Jungwoo datang. Aku ingin menyambutnya. Apakah tidak boleh?"

"Tentu saja boleh. Aku senang kau juga menyambut Jungwoo."

Jungwoo menelan ludah melihat aksi sepasang suami istri baru itu.

"Jungwoo, kau bisa pulang. Aku masih mempunyai urusan di sini," Mark berkata.
Tanpa membantah Jungwoo pun meninggalkan tempat itu.

Dan tawa Mark pun langsung lepas.

"Apa kau sudah puas!?" Jaemin tidak suka mendengar tawa yang dengan jelas tengah menyindirnya itu. Ia tidak peduli apa reaksi Mark ketika ia memutuskan untuk muncul. Begitu ia mendengar Jungwoo datang, hanya satu yang ada di dalam kepalanya: menemui pria yang menjadi akar nasib sialnya! Mark tidak melarangnya datang dan sekalipun pria itu melarangya, ia tetap akan muncul! Ia tidak peduli pada Mark. Ia tidak takut pada Mark seperti Jungwoo yang harus mengumpulkan segala keberaniannya hanya untuk mengucapkan sepatah kata lirih.

"Katakan mengapa kau di sini?" Mark bertanya dengan suaranya yang mengancam.

"Aku sudah menjawab pertanyaan itu," Jaemin menjawab seadanya sambil membalik badannya menuju pintu.

"Benarkah itu?" Mark menangkap tangan Eleanor dan menariknya mendekat. Matanya bersinar berbahaya. "Katakan apa kau begitu merindukanku?"

"Lepaskan aku!" Jaemin menyentakkan tangannya.

"Kau takut?" ejek Mark, "Apa sekarang kau baru mengenal takut?"

Jaemin membalas ejekan itu dengan tatapan matanya yang menantang. Apa yang perlu ditakutinya dari pria ini? Ia tidak lebih dari seorang playboy!

"Sepertinya kau memang memerlukan sebuah hukuman," Mark mempererat genggamannya, "Katakan, sayang, hukuman apa yang pantas untukmu," Mark melingkarkan tangan di pinggang Jaemin.

Jaemin terkejut. "Apa yang kau lakukan!?" Ia semakin panik ketika wajah Mark mendekat. Sebelum ia menyadarinya, tangannya telah melayang.

Mark membelalak. "Apakah begitu caramu menunjukkan kerinduanmu!?" desis Mark sambil menyentuh pipinya yang masih panas oleh tamparan Jaemin.

"Siapa yang menyuruhmu memperlakukan aku seperti itu!?" Jaemin kesal terus diperlakukan seperti seorang penjahat.

"Seperti apa!?" bentak Mark. "Kuberitahu kau. Aku paling tidak suka orang menginterupsiku!"

"Siapa yang ingin kau bermain sendirian dengan Jungwoo!?" Jaemin memberitahu dengan kesal.

Mark tidak menanggapi.

"Aku juga ingin tahu siapa pria yang menjadi dalang semua ini!"

"Hari ini cukup sekian. Kembali ke kamarmu sekarang juga!"

"Tidak kau perintah pun, aku akan pergi," gerutu Jaemin, "Siapa yang mau terus-terusan berada di dekatmu."

Mark memperhatikan gadis itu pergi. Mungkin gadis ini tidak sepenuhnya memenuhi kriterianya namun setidaknya ia mempunyai mulut yang tajam. Ia menyukai cara gadis ini menyindir Jungwoo.

-00000-

Jaemin mendesah panjang. Ia benar-benar bosan. Sepanjang hari tidak ada yang dapat dilakukannya selain duduk melamun. Walaupun ia sekarang adalah wanita nomor satu di Viering tidak berarti ia sesibuk sang pria nomor satu. Sebaliknya, ia adalah pengangguran nomor satu di Viering!

Sepanjang matanya melihat, setiap orang di Istana mempunyai sesuatu untuk dilakukan. Para pelayan sibuk dengan pekerjaan rutin mereka. Para prajurit sibuk dengan tugas mereka. Setiap orang yang keluar masuk Fyzool mempunyai urusan yang bisa mereka lakukan. Hanya dia yang tidak mempunyai pekerjaan!

Jaemin benar-benar kesal. Selama dua minggu lebih ia memasuki Istana, tidak sesuatu pun yang dapat dilakukannya. Mark tidak pernah sekali pun memberinya sesuatu untuk dikerjakan. Kalaupun pemuda itu harus mengunjungi suatu tempat, ia lebih suka mengunjunginya sendirian seperti hari ini.

Pagi ini Mark, tanpa mengatakan apa-apa, langsung pergi setelah makan pagi.

Mark memang tidak pernah mengatakan apa-apa padanya tentang pekerjaannya. Ia juga tidak pernah memberitahunya apa yang harus dikerjakannya.

Jaemin mendesah lagi. Sejak awal ia sudah tahu pekerjaannya adalah melahirkan keturunan Mark. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu! Apa yang ia harapkan dari pekerjaan mulianya ini?

"Hei, kau!"

Jaemin terkejut.

Seorang wanita berdiri tak jauh dari sisinya. Dari penampilannya yang glamour, Jaemin yakin wanita ini adalah satu dari sekian ribu gadis yang pernah didampakkan Mark. Benar-benar wanita selera Mark. Cantik, anggun, berpendidikan, dan angkuh.

Jaemin tidak berniat menanggapi wanita itu. Ia menjauhi serambi.

"Kau tidak tahu malu! Demi tahta kau mau menikahi Raja."

Langkah Jaemin terhenti oleh perasaan kesalnya. 'Siapa yang mau?' pikirnya, 'Ini semua kemauan Papa.'

"Aku tidak percaya dengan cerita karangan kalian! Mark tidak mungkin jatuh cinta pada gadis ingusan sepertimu."

Jaemin menghitung-hitung berapa kalikah ia mendengar kalimat senada semenjak kakinya menginjak halaman Fyzool. Puluhan bahkan mungkin ribuan. Rasanya tidak seorang wanitapun yang tidak melepaskannya. Sebanyak apa bekas kekasih Mark, sebanyak itu pula yang mengadu padanya.

Jaemin lelah oleh semua ini. Ia tidak meminta untuk dinikahkan dengan Mark. Bahkan ia meminta untuk dilepaskan dari cengkeraman Mark.

"Bagaimanapun akulah yang dia pilih. Bukan kau!" katanya dingin.

Wanita itu terpukul. Bibirnya bergetar tapi ia tidak mengucapkan apa-apa.

Jaemin pergi meninggalkan wanita itu dengan kesal.

Belum jauh ia melangkah, seorang wanita lain telah menantinya. Sepertinya ia melihat peristiwa barusan karena ia tengah tertawa.

"Kau memang bermulut tajam seperti yang kudengar."

Jaemin melihat wanita cantik berambut pirang itu dengan tidak tertarik. Wanita itu pasti adalah satu dari antara sekian mantan Mark, sang suami tercinta.

Sampai kapankah Mark akan berhenti memberinya pekerjaan tambahan yang melelahkan ini? Di awal sudah dijelaskan tugasnya hanyalah melahirkan keturunan Arcalianne. Namun, mengapa sekarang ia mendapat pekerjaan tambahan: menghadapi para mantan Mark!?

Jaemin ingin sekali membuat perhitungan dengan Mark. Namun sampai matipun ia tidak akan melakukannya. Ia tidak akan membiarkan pemuda itu bersenang-senang dengan apa yang sudah dibuatnya. Jaemin akan menunjukkan pada pemuda itu bahwa ia tidak mudah dikalahkan begitu saja. Mark harus tahu siapa yang dinikahinya ini!

Jaemin menatap wanita itu lekat-lekat. "Anda adalah Lady Arin, bukan?" tanyanya. "Apakah hari ini Anda datang lagi untuk mengeluh? Saya sudah siap mendengarkan keluhan Anda. Namun di awal saya harus menegaskan saya tidak tertarik mendengar masa lalu suami saya. Saya sudah memaafkannya ketika kami memutuskan untuk menikah. Mark pun telah berjanji untuk selalu setia pada saya."

Mengapa pula ia harus terus berpegang teguh pada cerita karangan Renjun? Walaupun begitu, Jaemin menikmati reaksi wanita itu.

Hampir tiap hari wanita ini menemuinya dan mengadu. Setiap ada kesempatan wanita ini pasti mengadu padanya. Jaemin sudah mendengar cerita tentangnya sebelum ia menikah. Ia adalah wanita terakhir dan terlama yang menjadi kekasih Mark. Andai kata tidak ada halangan yang menyebalkan itu, mungkin ia akan menjadi kekasih abadi Mark.

"Anda tidak mengharapkan sebuah affair baru di Viering, bukan?" tanya Jaemin.

Lagi-lagi Jaemin membuat wanita yang iri padanya jatuh.

Gadis itu berjalan menjauh dengan angkuh. Ia sudah benar-benar bosan. Ia tidak suka tugas tambahannya ini. Ia tidak suka dikurung. Bagaimana pun juga ia adalah Jaemin. Dan Jaemin adalah burung bebas! Ia bebas pergi ke mana pun ia mau!

Jaemin tahu! Ia tahu ke mana ia bisa pergi. Mark tidak pernah melarangnya pergi meninggalkan Fyzool.

Dengan riang Jaemin kembali ke kamarnya. Begitu ia memasuki kamarnya, langkah pertama yang diambilnya adalah membuka lemari bajunya.

Senyum riangnya langsung menghilang melihat gaun-gaunnya yang indah itu.

Renjun benar-benar tidak mau ia tampak seperti gadis biasa. 'Kau adalah seorang Ratu!' Renjun menegaskan ketika ia memaksa Jaemin mengambil semua gaun-gaun yang telah dipesankannya khusus untuk sang Ratu Kerajaan Viering.

Namun hal itu tidak dapat menghentikan Jaemin.

Jaemin langsung menuju ruang tempat para pelayan Istana berkumpul di saat mereka tidak mempunyai tugas.

"Nicci! Nicci!" panggil Jaemin.

Semua pelayan di ruangan itu kaget.

"Paduka Ratu!"

"Paduka Ratu!"

Satu per satu dari mereka membungkuk untuk menyambut kedatangannya yang tidak terduga itu.

Nicci muncul dari salah satu pojok ruangan dengan tergopoh-gopoh. "Saya datang. Saya datang, Paduka Ratu."

"Nicci," Jaemin meraih tangan wanita itu, "Aku butuh bantuanmu."

Semua pelayan melongo melihat Jaemin menarik pelayan pribadinya dengan riang. Kemudian mereka saling berbisik.

"P-Paduka Ratu, Anda tidak boleh melakukan ini?" Nicci memberitahu.

"Melakukan apa?" tanya Jaemin.

"Ini," Nicci menunjuk tangan Jaemin yang menggandeng tangannya.

"Apa salahnya?" Jaemin bertanya heran.

"Seorang Ratu tidak boleh sembarangan menggandeng tangan pelayan."

"Apa ada peraturan tentang itu?"

Nicci mati kutu. "Tidak ada tetapi…"

"Tidak ada peraturan bukan berarti tidak boleh. Aku tidak peduli dengan tata krama yang tidak masuk akal itu!" Jaemin terus menarik Nicci.

Nicci mendesah. Inilah Jaemin, sang junjungannya. Jaemin, sang gadis kaya yang tidak pernah memandang tinggi rendah setiap orang. Di mata Jaemin setiap orang adalah pribadi yang berbeda-beda. Tidak ada tingkat kedudukan! Itulah yang membuatnya dicintai setiap orang di Schewicvic.

Namun bagi setiap pelayan di Fyzool, Jaemin adalah makhluk aneh. Di manakah kau pernah melihat seorang Ratu menarik tangan pelayannya seperti menarik tangan seorang sahabat dekatnya? Di manakah kau pernah melihat seorang Ratu bersikap ramah kepada pelayan seperti berbicara dengan kawan dekatnya? Apakah ada seorang Ratu yang lebih suka mencari sendiri pelayannya daripada memanggilnya?

Mereka tidak mengenal Jaemin.

Saat ini mereka suka membicarakan kejanggalan-kejanggalan Jaemin dibandingkan para bangsawan pada umumnya. Namun Nicci yakin suatu saat nanti mereka semua akan mencintai Jaemin seperti setiap penghuni Schewicvic.

"Apakah yang bisa saya lakukan untuk Anda?" Nicci bertanya.

"Pinjamkan bajumu."

Nicci terperanjat. "Apa yang akan Anda lakukan? A-An…Anda tidak berniat melakukannya, bukan?"

"Kau hanya punya dua pilihan. Membiarkanku mati bosan atau menurutiku."

Nicci sudah pasti tidak akan memilih pilihan pertama.

Senyum Jaemin melebar. "Aku tahu kau adalah satu-satunya orang yang bisa memahamiku."

Sejujurnya Nicci sendiri sering tidak dapat memahami sikap junjungannya ini. Ia hanya selalu tidak dapat melawan gadis manis ini.

"Kalau Anda ingin pergi, saya bisa meminta seseorang menyiapkan kereta untuk Anda. Terlalu berbahaya bagi Anda untuk keluar sendirian."

"Tidak akan," Jaemin meyakinkan, "Aku sudah berminggu-minggu terkurung di sini. Kau tidak ingin aku semakin menjamur, bukan?"

Nicci menelan ludah. Tampaknya kali ini ia akan kalah lagi. Semenjak memasuki Fyzool, Jaemin tidak pernah keluar. Ia juga tidak pernah melakukan sesuatu yang membuatnya cemas. Setiap saat ia melihat gadis itu tengah melawan bosan. Selama ia berada di Schewicvic, selalu ada saja yang dilakukan Jaemin untuk mengisi waktunya. Gadis itu pasti sudah tidak dapat menahan lagi kebosanannya. Ia membutuhkan udara segar.

"Bila Anda memaksa, setidaknya ijinkan saya menemani Anda." Nicci mengusulkan.

"Jangan khawatir," Jaemin meyakinkan wanita itu, "Tidak akan ada yang mengenaliku."

Sebagai penghuni baru di Fyzool, rupa Jaemin masih asing. Nicci tidak heran bila dengan dandanan seorang pelayan, Jaemin berhasil mengelabui setiap orang. Namun Nicci masih tidak dapat membiarkan Jaemin pergi seorang diri. Bagaimana pertanggungjawabannya bila terjadi sesuatu pada sang Ratu Viering?

"Saya bisa mengelabuhi prajurit penjaga gerbang. Mereka akan percaya bila saya mengatakan kita ingin berbelanja di kota."

Jaemin tersenyum gembira. "Kau memang benar-benar seorang sahabat yang baik," Jaemin merangkul pundak Nicci.

Nicci mendesah. Tidak akan ada yang dapat merubah sikap Jaemin yang satu ini. Namun karenanyalah ia mudah dekat dengan rakyat biasa. Kalau Grand Duke melihatnya sebagai seorang gadis yang pantas untuk Mark. Nicci melihat Tuan Puterinya adalah gadis yang pantas menjadi Ratu Viering. Dengan sikap bersahabatnya ini ia akan menjadi Ratu besar yang merakyat. Nicci yakin semua orang akan mencintai dan menyanjung Tuan Puteri Schewicvic.

-00000-

"Jaemin PERGI!?"

"Saya telah berusaha menahannya," Grand Duke cepat-cepat memberitahu sebelum Mark meledak.

Beberapa saat lalu ketika ia tengah bersiap menanti kedatangan Raja, ia melihat Jaemin meninggalkan bangunan utama Fyzool bersama Nicci. Melihat Jaemin yang mengenakan pakaian pelayan, Taeil langsung merasa curiga. Ia pun mendekati mereka.

"Mengapa Anda berpakaian seperti ini?" tanyanya heran.

Jaemin terperanjat. Sebelum seorang pun menyadarinya, ia membungkuk,

"Ada keperluan apa Anda mencari saya, Yang Mulia Grand Duke?"

Nicci pun turut membungkuk.

Sang Grand Duke dibuat bingung olehnya.

Melalui matanya Jaemin memberitahu Taeil untuk diam.

Grand Duke tidak memahami permainan apa yang sedang dilakukan Jaemin namun ia tetap mengikuti permainan mereka. "Ke mana kalian akan pergi?" tanyanya.

"Kami akan ke Loudline membeli beberapa barang," jawab Jaemin.

"Kalian bisa menyuruh seseorang mengantar kalian."

"Tidak mengapa," Jaemin tidak mau Taeil memanggil pengawal untuk menemaninya. "Loudline tidak jauh. Kami bisa berjalan ke sana sambil menikmati udara segar."

Taeil tidak setuju Jaemin pergi tanpa pengawal. Sekarang Jaemin bukan hanya seorang Jaemin namun ia adalah Ratu Kerajaan Viering. Bagaimana pertanggungjawabannya bila terjadi sesuatu pada Jaemin?

"Saya sudah melakukan segala cara untuk menghentikan Paduka Ratu," Grand Duke menerangkan.

"Namun akhirnya kau kalah," ujar Mark.

Grand Duke terperanjat.

"Benar," ia mengakui. Ia pun sudah siap menerima akibatnya. "Akhirnya ia berhasil membuat saya untuk membantunya melewati pagar Istana."

Raja terbahak-bahak.

Grand Duke heran.

Setelah kejadian semalam apa ia masih mengharapkan Jaemin akan duduk diam di kamarnya?

"Sudah kuduga."

"Anda…," Grand Duke Taeil berusaha mencari kata-kata yang tepat, "Tidak tersinggung?"

"Aku sudah tahu ini akan terjadi. Kau tidak akan bisa mengikat Jaemin sekalipun dengan rantai. Ia pasti mencari cara untuk lepas."

Grand Duke terdiam. Sepertinya Raja sudah mulai mengetahui watak Jaemin yang sebenarnya. Namun, ia tidak pernah mengungkapkannya secara terus terang padanya. Hal ini membuat Grand Duke bertanya-tanya. Apakah sang Raja sudah mengetahui watak istrinya yang sesungguhnya?

"Katakan padanya aku menunggunya," kata sang Raja Muda sambil berlalu.

Sepanjang hari itu Mark terus menanti Jaemin namun gadis itu tidak muncul. Ia sudah siap menyambut gadis itu dengan ceramahnya. Mark ingin mengingatkan gadis itu posisinya saat ini. Ia perlu menegaskan pada gadis itu untuk tidak pergi seorang diri tanpa seorang pengawal pun. Niatnya itu berubah ketika ia mendengar Jaemin tidak muncul pada waktu makan malam. Dan ketika akhirnya ia mendengar Jaemin sudah kembali, niat itu telah menjelma menjadi emosi.

"Ke mana saja kau seharian ini!?" seru Mark.

Jaemin tidak ingin mendengarkan ceramah apa pun. Ia merasa sangat lelah. Seharian ini ia telah berkeliling Loudline bersama Nicci. Tidak ada yang dilakukannya selain mengunjungi tempat-tempat yang biasa ia kunjungi bersama Fauston. Setiap orang yang mengenalinya menanyakan ke mana saja ia selama beberapa minggu terakhir ini. Mereka juga bertemu dengan Lucas. Seperti biasa pria itu senang melihatnya dan tanpa komando menceritakan gosip-gosip terbaru yang diketahuinya.

Nicci tidak suka dengan cara pemuda itu memperlakukan Jaemin tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Saat ini jauh lebih berbahaya membuka kedok Jaemin daripada membiarkan pemuda itu memperlakukan Jaemin seperti seorang sahabat dekatnya.

Jaemin sungguh senang akhirnya ia bisa meninggalkan Istana. Ia sadar hari semakin larut tetapi ia tidak peduli. Ia senang dapat bertemu kembali dengan kawan-kawan lamanya. Ia menyukai keramaian Loudline di siang hari hingga menjelang malam yang tidak pernah dilihatnya.

Hanya rasa lelahlah yang membuat Jaemin pulang ke Fyzool.

Jaemin sudah membersihkan diri. Ia juga sudah berganti baju. Ia sudah bersiap-siap tidur ketika Mark tiba-tiba masuk dengan wajah murkanya.

"Ke Loudline," jawab Jaemin.

"Aku bertanya ke mana saja kau seharian ini!?"

Jaemin kesal. Apa pria ini tidak mengerti kalimatnya? Ia sedang tidak ingin bersilat lidah dengan siapa pun.

"Jawab aku!" bentak Mark.

Jaemin benar-benar dibuat kesal olehnya. "Aku sudah memberitahumu aku ke Loudline!" gerutunya.

"Apa kau sadar kedudukanmu saat ini!?" Mark mencengkeram pundak Jaemin. "Apa kau sadar apa yang sudah kaulakukan!? Kau bisa membahayakan banyak orang! Apa kau sadar itu!? JAWAB AKU!"

"AKU BUKAN ANAK KECIL!" Jaemin membalas sama nyaringnya. Sepertinya pria ini benar-benar sedang mencari masalah dengannya. Apa ia tidak dapat melihat ia lelah dan ingin beristirahat!?

Mark membelalak kaget.

"Lagipula mengapa setiap malam kau harus muncul di kamarku!?" balas Jaemin sengit, "Apa kau ingin memastikan aku mengandung keturunanmu!? Jangan khawatir, kalau waktunya sudah tiba, aku juga akan mengandung keturunanmu!"

Mark terdiam.

"Kau tidak perlu datang setiap malam!" Jaemin menegaskan, "Aku paling tidak suka seseorang menunggui aku tidur. Kau juga punya kamar sendiri. Untuk apa tiap malam kau muncul di kamarku!? Aku tidak butuh pengasuh!"

Tawa Mark langsung meledak.

Jaemin tidak suka mendengarnya. "Tidak ada yang lucu!"

Tawa Mark langsung menghilang. "Oh ya?" katanya mengejek. "Sebaliknya kau seperti seorang bayi."

"Aku bukan anak kecil!" Jaemin menegaskan dengan wajah cemberutnya.

"Malam ini cukup sampai di sini. Anak kecil harus tidur awal." Mark merangkum wajah Jaemin dan mencium keningnya, "Selamat malam."

Jaemin terperanjat. Mark tidak pernah menciumnya! Tidak dalam upacara pernikahan mereka. Tidak juga dalam hari-hari yang lalu!

Mark meninggalkan Jaemin yang masih terpaku dan tertawa.

Tiba-tiba Jaemin sadar Mark sedang mempermainkannya. Ia benar-benar dibuat kesal oleh pria itu.

"Aku bukan anak kecil!" tangannya melempar bantal ke arah Mark.

Pintu kamar tertutup kembali tepat sebelum bantal itu mengenai Mark.

Jaemin geram mendengar tawa nyaring di luar kamar itu. Ia membenci Mark! Sampai mati pun ia membenci pria itu!

-00000-

"APA!?"

Semua orang terperanjat kaget.

Jaemin membalas tatapan tajam Mark.

Ia benar-benar tidak menyukai pemuda ini. Semenjak kepergiannya ke Loudline secara diam-diam, Mark memerintahkan dua orang prajurit bergantian mengawalnya ke mana pun ia berada. Selangkah pun ia tidak boleh meninggalkan Fyzool tanpa ijinnya. Mark memang dengan mudahnya mengatakan Jaemin tidak boleh pergi keluar tanpa ijinnya tetapi mendapatkan ijin itu adalah mustahil. Selalu saja ada yang dikatakan Mark untuk melarangnya pergi. Selalu dan selalu ia berhasil mengikatnya namun hari ini Jaemin sudah berada di ambang batasnya.

Siang ini tanpa mempedulikan larangan prajurit, ia menerobos Ruang Kerja Mark. Ia tidak peduli apakah pemuda itu sedang membicarakan masalah penting dengan para menterinya atau tidak. Ia tidak peduli siapa yang ada bersama pemuda itu. Ia hanya mau pemuda itu membiarkannya pergi. Namun, seperti biasanya, pemuda itu melarangnya pergi.

"Kau memang memilikiku tetapi kau tidak pernah memiliki jiwaku! Jiwaku adalah milikku seorang," Jaemin membalas tak kalah lantangnya dan ia menegaskan, "Tak seorang pun bisa memilikinya."

"Kau…," geram Mark.

"Aku tidak butuh ijinmu untuk pergi ke mana pun aku mau!" Jaemin memotong dengan sengit, "Aku tidak membutuhkan ijinmu untuk menggerakkan tubuhku!"

Mark tidak dapat membalas.

"Aku adalah burung yang bebas!" Jaemin meninggalkan tempat itu dan menutup pintunya dengan keras.

"Kalau kau berani meninggalkan Istana lagi, kau tidak perlu kembali lagi!" seru Mark murka.

Pintu kembali terbuka dan Jaemin menampakkan kepalanya. "Siapa yang takut?" balasnya tak kalah sengit, "Aku masih bisa punya Schewicvic," katanya penuh kemenangan. Ia menjulurkan lidahnya – mengejek Mark dan menghilang di balik pintu.

Tak seorang pun berani berbicara sepeninggal Jaemin.

Semua saling melihat dengan waspada.

Tidak seorang pun yang berani melihat Mark yang masih murka.

Tidak seorang pun pernah berkata selantang itu pada Mark.

Tidak seorang pun pernah membantah Mark!

"Dia memang benar-benar liar," geram Mark.

-00000-

Jaemin geram. Memangnya siapakah Mark itu? Siapakah pemuda itu hingga ia berhak mengatur apa yang boleh dilakukannya dan apa yang harus tidak dilakukannya? Jaemin benci. Ia membenci pria itu hingga ke dasar tulang sumsumnya. Ia membencinya melebihi segala yang dibencinya di dunia ini. Memangnya siapa dia hingga ia berhak mengatur segala kegiatannya?

Ia hanyalah seorang pemuda yang membutuhkan wanita untuk melahirkan keturunannya dan menghentikan langkah Jungwoo ke tahta. Siapakah yang tidak mengetahui itu? Siapa yang tidak tahu tujuan di balik pernikahan mendadak Yang Mulia Paduka Raja Kerajaan Viering itu?

Ia pikir dia tidak tahu posisinya? Jaemin tahu dan ia mengerti dengan jelas bahwa ia adalah wanita terpilih itu, sang ratu pilihan. Tetapi tetap saja itu tidak berarti Mark berhak mengatur kehidupannya! Tugasnya hanya melahirkan keturunannya! Hanya itu!

Jaemin kesal. Ia benar-benar membenci pemuda itu. Tidak pernah ia merasa semarah ini dalam hidupnya hingga rasanya ia ingin meledak dan langsung membuat perhitungan dengan pemuda sinis itu. Begitu kesalnya ia hingga ia ingin mencincang pemuda itu dan membuangnya ke tempat yang amat jauh hingga ia tidak akan pernah lagi melihatnya selama sisa hidupnya.

Jaemin melangkahkan kakinya dengan kesal.

Pemuda kejam itu tampaknya lebih suka melihatnya mati menjamur di dalam Istananya yang megah ini daripada membiarkannya menikmati hari-harinya. Ia bahkan memberinya gelar baru, tahanan berbahaya! Pemuda itu menghadiahinya seorang pengawal juga mengancam Nicci untuk tidak membantunya kabur dari istana.

Ia tidak pernah mengijinkan Jaemin meninggalkan Istana walau hanya sekali. Sebaliknya, ia selalu mempunyai cara untuk menahan Jaemin.

Semenjak hari itu, setiap hari Jaemin mendapat tamu. Setiap hari selalu ada wanita yang mencarinya hanya untuk menghabiskan waktu dengan omong kosong mereka yang membosankan.

Hari pertama, hari kedua Jaemin tidak curiga. Hari-hari berikutnya Jaemin mulai menyadari kejanggalan kunjungan mereka. Hingga pada akhirnya ia mendengar sendiri kabar itu. Mark dengan sengaja merancang kunjungan tiap wanita bangsawan itu!

Ia benar-benar marah pada pemuda itu dan ketika ia mengadu, dengan ringannya Mark berkata, "Seharusnya kau berterima kasih aku sudah memikirkan cara untuk membuatmu tidak bosan."

Tidak satu sisi pun dari Mark yang disukai Jaemin!

Jaemin heran mengapa banyak wanita yang tergila-gila padanya. Betapa bodohnya para wanita yang rela mengantri cinta Mark yang tidak ada artinya itu. Jaemin tidak dapat memahami jalan pikiran mereka.

Mark juga beberapa kali memanggil Renjun. Tentu saja Jaemin senang dapat berjumpa kembali dengan Jaemin. Namun ia tidak menyukai ceramah panjang Renjun tentang segala tingkah lakunya yang didengarnya baik dari Nicci maupun dari orang lain. Di antara para tamu-tamu Jaemin, Renjunlah yang paling sering dipanggil Jaemin. Namun tidak sekali pun ia pernah bertemu Jisung. Semenjak ia memasuki Istana, ia hanya bertemu dengan Jisung sekali atau dua kali. Itu pun hanya singkat. Hanya ketika Jisung kebetulan ada perlu di Fyzool.

Jaemin pernah menanyakan Jisung kepada Renjun. Ia juga meminta Renjun menyampaikan pada Jisung bahwa ia merindukannya dan ingin berjumpa dengannya. Namun Renjun tidak senang mendengarnya. Ia malah memberi ceramah panjang pada Jaemin untuk menjaga nama baiknya.

Setelah gosip singkat yang beredar seputar pertunangannya, Jaemin dapat memahami mengapa ia harus menjaga jarak dengan Jisung. Baik Renjun maupun Jisung tentu tidak suka bila Jaemin menjadi sasaran gosip lagi.

Satu-satunya yang menarik Jaemin adalah mengapa Mark tidak pernah memanggil Somi. Dari sekian banyak wanita yang menemuinya, Jaemin hanya ingin menemui Somi. Semenjak malam ia menginterupsi Mark dan Jungwoo, ia tidak pernah mendengar lagi kabar tentang mereka apalagi melihat mereka. Ia sudah bertemu Jungwoo, pria yang pernah berjuang untuk cinta Renjun. Sekarang ia ingin sekali bertemu Somi.

Suatu saat Jaemin pernah menyindir Mark, "Sudah hampir tidak ada wanita bangsawan Viering yang bisa kauajukan padaku. Mengapa kau tidak memanggil Duchess of Binkley?"

Mata Mark langsung membelalak lebar. "Kau panggil apa wanita itu!?"

"Apa aku salah?" tanya Jaemin polos, "Memangnya apa sebutan istri seorang Grand Duke bila bukan Duchess? Apakah Grand Duchess?"

Mark geram. Ia sadar Jaemin sengaja. "Aku tidak akan membiarkan wanita jahanam itu menginjakkan kaki di Viering."

Jaemin juga tahu Mark tidak akan. Mark lebih suka menutup pintu gerbang Viering rapat-rapat daripada membiarkan Somi masuk. Namun ia tidak akan membiarkan Mark lepas semudah itu.

"Sayang sekali," Jaemin mengeluh, "Aku ingin sekali bertemu dengannya. Kau tahu, aku tidak akan bosan bertemu dengannya. Ia jauh lebih menarik daripada mantan-mantanmu yang membosankan itu."

Mata Mark langsung bersinar berbahaya.

"Oh, maaf," Jaemin pura-pura merasa bersalah, "Seharusnya aku mengatakan tamu-tamuku yang pada umumnya adalah mantanmu." Dan sebelum Mark menanggapi, ia menambahkan, "Bagaimana kalau kau memanggil Lady Arin? Kurasa ia yang paling mempunyai komentar tentangku. Bukannya ia masih sering menemuimu? Ia pasti menjadi tamuku yang paling punya komentar menarik."

Arin adalah satu-satunya yang paling ingin dijauhkan Mark dari Jaemin. Wanita itu adalah wanita yang paling keras menentang pernikahannya. Hingga detik ini Arin tidak dapat menerima putusnya hubungan mereka karena pernikahannya dengan Jaemin. Setiap hari Arin melaporkan diri ke Fyzool. Setiap saat ia berusaha menemui Mark.

"Rupanya sekarang kau sudah menjadi sumber gosip," sindir Mark.

"Apa boleh buat," Jaemin sedikit pun tidak merasa bersalah, "Tamu-tamu pilihanmu yang memberitahuku."

Mark terdiam. Tiba-tiba saja ia menyadarinya. Ia tidak pernah mendengar sebuah gosip pun terlepas dari mulut Jaemin. Ia tidak pernah mendengar sebuah gosip pun lepas dari Fyzool. Sekali pun tidak pernah ada gosip yang menyinggung Jaemin ataupun Istana. Mark mengawasi Jaemin dengan cermat.

Sejauh daya ingatnya, tidak sekali pun Jaemin membicarakan gosip. Umumnya, para wanita yang pernah berhubungan dengannya, pernah membagi gosip yang mereka ketahui dengannya. Mereka juga suka membicarakan gosip itu dengannya. Mark tersenyum sinis. Tampaknya gadis ini mempunyai kelebihan.

"Kau bisa membuka koran gosip baru."

"Kau benar," sahut Jaemin gembira, "Aku memang sedang mempertimbangkannya. Bagaimana menurutmu? Bukankah ini bagus? Aku akan mempunyai kesibukan baru dan kau tidak perlu repot-repot mengatur daftar tamu-tamuku. Menurutmu apa nama koranku yang bagus? Kumpulan gosip-gosip terbaru di Viering, gosip seputar Viering atau gosip terkini?"

Mark geram. Gadis ini tolol atau sengaja?

Jaemin tersenyum puas. Ia tahu Mark sedang menyindirnya tetapi ia tidak akan membiarkan pemuda itu menang dengan mudah. Sampai kapan pun ia tidak akan membiarkan hal itu! Ia tidak akan mengijinkan pemuda itu bersuka cita atas kesengsaraannya. Jaemin akan menunjukkan pada pemuda itu bahwa ia tidak mudah dikalahkan!

Mata Jaemin menangkap sebuah pintu besar. Ia berhenti menatap pintu yang tampak berdebu itu.

Jaemin tertegun.

Pintu ini berbeda dari pintu-pintu lain di Fyzool. Ia tampak begitu kotor dan terlantar seolah memang dibiarkan begitu saja. Ia tampak begitu tak terawat.

Jaemin ingin tahu apakah yang tersembunyi di baliknya sehingga ia ditelantarkan begitu saja.

Jaemin meraih pegangannya yang berdebu dan tertegun melihat setiap perabotannya yang tertutup kain putih dan tirai-tirai jendela tebal yang menghalangi sinar matahari. Jaemin baru tahu ada ruangan yang terlantar seperti ini di Fyzool.

Tanpa pikir panjang, Jaemin langsung melangkah membuka tirai-tirai tebal yang menutupi jendela-jendela besar. Ia membiarkan sinar mentari menyinari ruangan gelap itu. Ia membuka jendela lebar-lebar untuk membiarkan udara musim gugur yang segar menggantikan udara pengap ruangan yang tertutup entah untuk berapa puluh tahun itu.

Jaemin heran. Ia yakin Fyzool tidak kekurangan biaya untuk merawat ruangan ini. Fyzool yang megah dan berkilauan ini tentu tidak akan membiarkan sebuah ruangannya tak terawat seperti ini.

Pasti ada alasan yang membuat ruangan ini diterlantarkan begitu saja.

Jaemin melihat sebuah benda besar yang tertutup kain putih di sisi jendela. Jaemin mengenali bentuknya yang tidak asing itu. Ia mengenali bentuknya yang unik dengan kursi kecil di depannya itu.

Nafas Jaemin tersekat ketika ia menarik kain putih yang menutupi benda itu.

Ia sudah begitu lama tidak menyentuh piano. Ia sudah begitu lama tidak melihat benda itu di Schewicvic. Ia sudah lama tidak mendengar dentingannya yang merdu.

Ibunya selalu memainkan lagu-lagu yang merdu untuknya setiap hari. Jaemin juga sangat menyukai permainan Countess yang indah. Tidak seorang pun dapat menandingi permainan Countess yang merdu itu. Dan tidak seorang pun dapat menggantikannya.

Semenjak kepergiannya yang tiba-tiba itu. Senandung-senandung riang menghilang dari Schewicvic. Suara piano yang merdu itu hilang bersama kepergiannya. Tidak ada lagi lagu-lagu merdu yang menghiasi Schewicvic. Jaemin juga tidak pernah lagi bermain piano. Ia tidak mau membangkitkan kenangan yang hanya akan membuat ayahnya sedih.

Tangan Jaemin mengelus piano putih itu dengan penuh keharuan. Keinginannya untuk bermain piano bangkit begitu saja. Ia telah lama tidak bermain piano. Bertahun-tahun lamanya ia tidak melihat piano maupun mendengar nada-nada merdunya.

Jaemin menarik penutup kursi di depan piano dan duduk.

Tangannya yang telah lama meninggalkan piano bermain dengan lancarnya seolah ia terus memainkannya selama sepuluh tahun ini.

Jaemin memainkan lagu-lagu yang diingatnya dan ia membiarkan dirinya bernostalgia bersama kenangan akan ibu tercintanya.

-00000-

"Pertemuan kita kali ini cukup sampai di sini," Mark mengakhiri rapatnya dengan para menterinya jauh lebih cepat dari biasanya.

Setiap orang langsung merapikan berkas-berkas mereka dan bersiap meninggalkan ruangan.

Tidak pernah Mark merasa selelah ini. Ia tidak lelah oleh rapat panjang yang baru saja diselesaikannya. Ia lelah memikirkan kemungkinan Jaemin keluar tanpa mendengar larangannya. Pikiran Jaemin akan membangkang membuat ia tidak bisa mengerahkan seluruh konsentrasinya ke rapat bulanannya.

Mark merasa ia harus segera meninggalkan tempat ini dan mencari Jaemin. Ia akan membuat perhitungan dengan gadis itu bila ia berani melanggar perintahnya. Jaemin harus tahu siapa yang berkuasa di tempat ini. Gadis itu harus sadar sekarang ia adalah seorang Ratu Kerajaan Viering yang tidak boleh berbuat sembarangan. Ia bukan lagi Jaemin yang dulu. Ia kini adalah Jaemin, sang Ratu Kerajaan Viering, sang ratu terpilih!

Mark merapikan berkas-berkasnya dan meninggalkan ruangan itu sebelum orang lain.

Begitu ia membuka pintu, Mark tertegun.

Nada-nada yang selama sepuluh tahun terakhir ini tidak pernah terdengar sekarang mengalun lembut dari kejauhan.

Mark tidak perlu berpikir dua kali untuk mengetahui dari mana suara itu berasal dan ia menjadi marah karenanya.

Siapa yang berani memasuki Ruang Musik tanpa ijinnya!? Siapa yang berani melanggar perintahnya? Bukankah ia telah memerintahkan setiap orang di dalam Fyzool untuk menjauhi tempat itu dan tidak menyentuhnya!?

Mark dibuat marah oleh nada-nada yang mengalun lembut itu. Langkah kakinya yang lebar melangkah cepat ke Ruang Musik.

Lagi-lagi Mark tertegun.

Sinar mentari menerobos kegelapan yang selama ini menyelimuti Ruang Musik. Udara pergantian musim panas ke musim gugur yang hangat menghangatkan suasana di dalam ruang besar itu. Kain-kain putih yang menutupi perabotan memantulkan sinar matahari. Ruangan itu tampak seperti baru bangkit dari kegelapan.

Jaemin duduk manis memainkan musik yang lembut dengan piano putih yang membisu selama sepuluh tahun itu. Rambut kuning keemasannya bersinar di bawah sinar mentari. Kulitnya yang putih, bersinar di bawah kehangatan mentari sore. Gadis itu tampak menjadi bagian dari piano itu. Ia tampak seperti seorang bidadari yang terukir bersama piano putih itu dalam lukisan ajaib yang menandungkan lagu-lagu lembut.

Kemarahan yang sesaat lalu masih memenuhi dada Mark hilang seketika. Sebuah senyuman terukir di wajah tampannya dan ia mendekat.

"Wah… wah…," Mark tersenyum mengejek, "Tak kukira gadis liar ini bisa bermain piano seindah ini."

Seketika tangan Jaemin berhenti menandungkan lagu. Tanpa menoleh pada Mark maupun membalas ejekan itu, ia beranjak meninggalkan piano putih besar itu.

"Jangan pergi," Mark menahan tangan Jaemin.

Jaemin membalikkan badan siap menyerang.

"Mainkan untukku," Mark berkata lembut.

Jaemin terperangah. Andai saja Mark berkata dengan nada mengejeknya, akan sangat mudah baginya untuk menolak. Tetapi dengan kelembutannya yang tidak pernah dilihatnya ini…

"Mainkan untukku, Jaemin."

Jaemin tertegun. Mark tidak pernah memanggilnya dengan namanya. Mark lebih suka menyebutnya 'istriku', 'sayang' atau 'manis' yang diucapkannya dengan nada mengejek. Ia tidak pernah menyebut namanya. Tidak satu kali pun! Apalagi dengan nama lembut seperti ini.

Jaemin duduk dan kembali melanjutkan lagu yang belum diselesaikannya itu.

Mark berdiri di sisi piano dan memandang Jaemin tanpa suara.

Jaemin yang telah larut dalam permainannya tidak menghiraukan Mark.

Ketika suara piano yang telah lama membisu itu kembali berdentang merdu, para penghuni Istana terdiam sejenak.

"Siapa?"

"Siapa yang memainkan piano itu?"

"Siapa yang berani memasuki ruangan yang telah ditutup Paduka itu?"

Mereka bertanya-tanya tanpa bisa menjawabnya. Ruang Musik yang hampir tiap hari didatangi almarhum Paduka Ratu Taeyong itu telah ditutup oleh Raja Mark semenjak kematian kedua orang tuanya. Segala kenangan yang berhubungan dengan kedua orang tuanya ditutupnya rapat-rapat. Ia tidak mau terus hidup dalam kesedihan. Ia memiliki masa depan yang panjang. Ia tidak mau terus tenggelam dalam kenangan akan kedua orang tuanya.

"Siapa pun itu," kata yang lain, "Permainannya indah."

"Rasanya seperti Paduka Ratu Taeyong masih hidup," kata pelayan lain yang telah tua.

Ketika mereka berspekulasi dengan dugaan-dugaan mereka, beberapa orang memilih untuk langsung memeriksanya. Mereka yang berkeberanian besar mengintip dari celah pintu Ruang Musik dengan perlahan dan terperangah.

Raja dan Ratu yang beberapa saat lalu masih mereka gosipkan sedang bertengkar hebat berada di sana dalam suasana yang romantis. Sang Ratu Muda Viering duduk melantunkan lagu-lagu merdu dengan tangan-tangannya yang lincah. Sang Raja Muda Viering berdiri di hadapannya dan memperhatikan istrinya dengan sorot mata lembutnya yang tidak pernah terlihat sebelumnya.

"Sebaiknya kita tidak menganggu mereka," kata seseorang.

Mereka menutup rapat pintu Ruang Musik dan beranjak meninggalkan tempat itu tanpa suara seperti kedatangannya. Tidak sepatah kata pun yang mereka ucapkan tetapi di dalam pikirannya, mereka terus memikirkan pemandangan yang baru mereka saksikan itu.