Disclaimer: I own nothing but the plot
Coming Home To You
By
nessh
Chapter 4
Pada jam seperti ini, jalanan Manhattan selalu padat dengan kendaraan. Suara klakson yang bersahutan tidak terlalu terdengar di kantor Hermione yang menghadap langsung ke jalanan, mungkin karena kantor Hermione terletak di lantai 22 dan jendelanya tertutup rapat. Matahari mulai terbenam diluar sana, lembayung berwarna orange, biru, putih, merah, dan kelabu berpadu di langit sana. Perpaduan yang indah yang tidak bisa Hermione hiraukan. Di jam ini, Hermione selalu berdiri di dekat jendela, memperhatikan langit yang perlahan menggelap hingga kerlip dari bangunan dan jalanan lain menyala. Di meja, putranya Lucas sedang asyik berputar-putar di atas kursi Hermione. Di seberangnya, Narcissa mewanti-wanti Lucas untuk tidak berputar terlalu keras atau dia akan pusing dan mual.
"Lucas, dengar apa yang Nana bilang! Jangan—oh Tuhan, Lucas!" Narcissa hampir memekik saat Lucas malah memutar kursinya semakin keras. Suara tawa Lucas memenuhi ruangan.
"Tapi Nana, ini menyenangkan!" Lucas memekik girang.
"Demi Tuhan!" Narcissa mengangkat kedua tangannya, menyerah berusaha menghentikan cucunya berhenti berputar-putar di atas kursinya dan memberinya serangan jantung.
Hermione menoleh ke arah Lucas dan tertawa melihat wajah antusias Lucas dan ekspresi was-was Narcissa. Hermione menghampiri kursinya dan menangkap Lucas sebelum dia sempat kabur kemudian mengangkatnya. Lucas merentangkan kedua tangannya sementara Hermione memutarnya di udara. Hermione berhenti setelah empat putaran dan jatuh terduduk dikursinya, Lucas berada di pangkuannya.
"Momma lagi! Lagi!" seru Lucas sambil mengangkat kedua tangannya.
"Tidak bisa," Hermione terengah-engah, namun dia tetap tersenyum lebar pada Lucas. "Kau terlalu besar sekarang. Aku tidak bisa mengangkatmu seperti itu lagi."
"Aww." Lucas cemberut.
"Lucas, dear, kau sudah menunjukkan gambar yang kau buat di sekolah pada ibumu?" tanya Narcissa, berharap itu bisa mengalihkan perhatian Lucas dari permainan kecil Hermione tadi.
Wajah Lucas berubah cerah, dia menatap neneknya dan menggeleng. "Belum, tapi aku meninggalkan tasku di mobil Nana."
"Bagaimana kalau kau mengambilnya di bawah jadi aku bisa melihatnya? Parvati bisa mengantarmu kesana." Usul Hermione.
Lucas mengangguk semangat. Jadi Hermione memanggil asistennya, Parvati Patil, dan memintanya untuk mengantar Lucas ke mobil untuk mengambil gambar yang ingin ia tunjukkan pada Hermione. Setelah pintu tertutup, ekspresi Narcissa dan Hermione berubah serius. Ada sesuatu yang ingin keduanya bicarakan tanpa kehadiran Lucas.
"Jadi putraku sudah menandatangani suratnya?" tanya Narcissa. Suaranya masih menyimpan aksen british walau sudah puluhan tahun tinggal di amerika.
"Itu yang Daphne bilang. Tapi aku belum melihatnya." Hermione berjalan menuju kulkas. "Mau minum sesuatu?"
"Hanya air. Terima kasih."
Hermione mengangguk dan mengambil sebotol air mineral beserta sekaleng coke. Dia tidak biasanya minum coke dan tidak membiasakan Lucas meminumnya, tapi saat ini Hermione merasa sangat ingin merasakan sensasi aneh yang hanya coke sediakan di tenggorokannya. Hermione menyerahkan botol air mineral pada Narcissa.
"Dia tidak mempermasalahkan tentang hak asuh Lucas?" tanya Narcissa lagi sambil membuka botol minumannya.
Hermione duduk di kursi tepat di samping Narcissa, di seberang kursi utama. "Aku tidak tahu. Dia belum menghubungiku dan Daphne bilang dia belum memeriksa berkasnya. Dia hanya mengatakan padaku, berkas itu sudah kembali ke tangannya."
Hermione diam sejenak sebelum bertanya pada Narcissa, "Menurutmu dia akan memberikan hak asuh Lucas padaku secara penuh?"
Narcissa menghela nafas. "Jika dia memiliki akal sehat, ya dia akan menandatanganinya. Tapi kau tahu Draco. Terkadang dia tidak berpikir, tidak mencernanya terlebih dulu, kemudian bertindak seenak jidatnya. Dia menjadi lebih buruk sejak Lucius meninggal."
"Dia tidak selalu seperti itu." Hermione berkata pelan. Matanya terpaku pada kaleng coke di tangannya.
"Aku tahu Hermione," Narcissa mengulurkan tangannya dan menyentuh lutut Hermione. "Dia anak yang manis dulu. Seperti Lucas, persis seperti Lucas. Selalu bersemangat dan tersenyum. Aku tidak tahu apa yang membuatnya berubah. Mungkin karena Lucius terlalu keras padanya? Aku tidak pernah tahu. Dia tidak pernah mau bicara padaku."
"Tidak padaku juga." Sahut Hermione.
Narcissa menatap wanita yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri di hadapannya. Hermione terlihat berbeda, bahkan terlihat lebih tua dari seharusnya. Narcissa menyalahkan putranya. Pria waras mana yang melepaskan wanita seperti Hermione begitu saja? Narcissa merasa Draco sudah kehilangan akal sehatnya dan dia juga merasa dia tidak bisa berbuat apapun untuk mengembalikan putranya seperti dulu.
Narcissa tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. "Jadi, bagaimana Inggris? Kau bertemu seseorang disana? Teman lamamu mungkin?"
"Oh yeah," Hermione tersenyum, sedikit lega Narcissa mengalihkan pembicaraan. "Aku bertemu Harry. Dia punya kafe kecil di kota. Sebenarnya yang membuat brownies yang aku bawa minggu lalu itu Harry. Dia dan Teddy tinggal tidak jauh dari situ."
"Teddy? Maksudmu Edward Lupin? Putra Remus dan Nymphadora?"
Hermione tertawa mendengar Narcissa menyebut nama depan Tonks. "Kau tahu kalau Tonks masih hidup dia akan mengejarmu dengan senapan di tangannya, dia benci nama itu."
Narcissa mengangkat bahu dan meminum air mineralnya sebelum menyahut. "Aku tidak tahu ada apa dengan dia, keponakanku itu, aku rasa nama itu tidak seburuk yang dia pikirkan. Tapi aku juga tidak tahu apa yang melintas dipikiran kakakku saat Dora lahir. Kenapa dia bisa memikirkan Nymph saat melihat anaknya, hanya Tuhan yang tahu."
Hermione tertawa lagi. Dia teringat saat pertama kali Draco membawanya bertemu Narcissa. Hermione terkejut mendengar bahwa Narcissa adalah seorang Black sebelum menikahi Lucius Malfoy. Narcissa merupakan adik bungsu Andromeda Tonks (dulu Black) dan sepupu dari Sirius Black, wali Harry. Jadi secara teknis, Teddy adalah cucu Narcissa juga.
"Bagaimana Harry? Aku sudah lama tidak mendengar kabar anak malang itu. Kehilangan orangtua di usia 10 tahun, kehilangan walinya di usia 17, harus mengemban beban membesarkan anak di usia 23, dan kehilangan istrinya di usia 26." Narcissa menghela nafas, matanya sendu. "Anak itu sudah melalui terlalu banyak hal."
"Harry terlihat baik-baik saja. Mereka berdua terlihat baik-baik saja. Teddy sangat mirip dengan Tonks, bahkan teledornya pun sama. Tapi Harry bilang dia pintar seperti Remus." Hermione tertawa kecil mengingat kejadian dimana Teddy terpeleset di rumahnya, tepat di depan Harry dan Hermione yang sedang menonton televisi. Hermione ingat Harry mengangkat kedua alisnya dan bertanya, "Bagaimana kau bisa terpeleset seperti itu padahal kau tidak menginjak apapun?"
Hermione tidak langsung sadar sampai beberapa saat kemudian bahwa Narcissa memperhatikannya seraya tersenyum lembut. Wajahnya langsung memanas begitu dia sadar.
"Kau bahagia disana, benar?" tanya Narcissa pelan. Senyum masih terpatri di wajahnya.
"Aku—itu—disana rasanya berbeda. Rasanya aku lebih bebas dan—aku tidak tahu, rasanya berbeda dan aku menyukai itu. Rasanya seperti aku kembali ke awal, saat aku bukan apa-apa." Aku Hermione pelan.
"Itu wajar, Hermione, kau tidak perlu malu mengakui itu."
Narcissa mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Hermione yang masih memegang kaleng coke, dengan lembut. Hermione hanya diam dan memberikan senyum kecil padanya.
"Apa kau sudah memutuskan untuk tetap disini atau kembali ke Inggris?" tanya Narcissa lagi.
"Aku masih memikirkan itu. Aku rindu ketenangan di Inggris, tapi aku masih menginginkanmu dan Draco di kehidupanku. Itu penting, terutama untuk Lucas."
"Aku rasa sebaiknya kau pindah kesana." Narcissa melepas tangan Hermione dan menyandarkan punggungnya di kursi, kedua tangannya kini di atas lengan kursi. "Sepertinya kau bahagia disana, itu bagus untukmu dan Lucas masih muda, dia akan bisa beradaptasi dengan baik."
Hermione melongo, dia sempat mengira Narcissa tidak akan menginginkan Hermione dan Lucas sejauh itu. Apalagi mengingat Narcissa bersikeras Hermione mengambil apartemen Draco daripada pindah ke pinggiran kota. Dan dia mengijinkan—bahkan mengusulkan!—Hermione untuk pindah ke Inggris? Semudah itu?
"Jangan melihatmu seperti itu," tukas Narcissa, menyadarkan Hermione dari transnya. "Kau tidak perlu khawatir tentangku, aku akan mengunjungimu sesekali, tapi sekarang setelah kau keluar dari perusahaan—aku masih tidak bisa meyakinkanmu untuk mengambil perusahaan ini, Hermione?"
Hermione menggeleng. "Kita sudah membicarakan itu Narcissa. Media akan menuduhku menikah untuk uang kalau aku melakukannya. Lagipula, aku punya bisnis dan seorang anak yang perlu aku urus."
Narcissa menghela nafas. Dia akan lebih lega kalau Hermione mengambil alih perusahaan. Bahkan Lucius juga setuju dengan pendapatnya itu. "Baiklah. Kembali ke kata-kataku tadi, setelah kau keluar dari perusahaan aku akan semakin sibuk dengan perusahaan dan tidak akan bisa menghabiskan banyak waktu bersama Lucas seperti sebelumnya. Dan Draco," Narcissa menghela nafas lagi mengingat putranya. "Draco tidak pernah ada di hidup Lucas. Aku rasa kau ada disini atau di Inggris tidak akan memberikan pengaruh banyak. Aku masih akan mengunjungi kalian dari waktu ke waktu tentunya. Dan aku menuntut berita setiap harinya dari kalian berdua."
Hermione baru hendak berkata sesuatu saat pintu tiba-tiba terbuka dan Lucas berlari masuk. Ia melompat ke pangkuan Hermione dan langsung mengecoh tentang gambar yang dia buat di Pre-School.
Hermione berusaha menyeimbangkan Lucas yang tertidur di pelukannya, kedua tangannya melingkar di leher dan kepala di bahu Hermione, sambil berusaha membuka kunci pintu apartemennya. Lucas tertidur di mobil setelah mereka mengantar Narcissa kembali ke rumahnya, sepertinya dia lelah setelah sekolah dan bermain seharian di kantor Hermione dan Narcissa. Hermione menghela nafas lega saat pintu terbuka, dia menyeimbangkan Lucas di pangkuannya sebelum masuk ke dalam apartemen yang ditempatinya selama 8 tahun sejak dia bertunangan dengan Draco.
Hermione membaringkan Lucas di ranjang berbentuk mobil-mobilan yang diberikan Draco untuk hari ulangtahun Lucas tahun lalu. Draco sendiri tidak datang ke pesta ulangtahun Lucas. Itu tidak aneh dan Lucas sendiri tidak menanyakan ayahnya. Hermione menarik selimut Lucas sampai ke bahunya, mencium keningnya, dan mematikan lampu sebelum keluar dari kamar Lucas.
Segelas wine dan musik Vivaldi yang mengalun lembut di ruang tengah apartemen menemani Hermione memeriksa kembali sketsa pakaian dan sepatu yang akan masuk ke koleksi musim panasnya sambil duduk sofa. Dia tersenyum, tidak mengira akan terjun ke dunia fashion. Hermione menyukai fashion tapi biasanya, dia menyimpan itu untuknya sendiri. Hanya sedikit orang yang tahu tentang kesenangan Hermione akan fashion, seperti kedua orangtuanya, Harry, Ron, Ginny, dan Draco.
Kemudian dia bertemu Daphne Greengrass di Yale. Daphne berasal dari keluarga seperti Draco. Kedua orangtuanya pengacara terkenal di Amerika dan mereka memiliki Law Firm mereka sendiri, tempat dimana Daphne bekerja sekarang. Daphne, yang kebetulan teman sekamarnya selama kuliah, tidak sengaja melihat sketsa buatan Hermione dan memohonnya untuk membuatkan sketsa gaun untuk pesta tahun baru. Hermione melakukannya setelah Daphne memohon selama seminggu penuh. Orang-orang melihatnya dan memuji gaun yang Hermione rancang untuk Daphne. Daphne tidak segan mengatakan pada mereka bahwa Hermione yang membuat gaun itu. Semakin banyak orang datang ke Hermione untuk dibuatkan gaun dan Daphne menyarankan untuk membuat brand dan menjadikan karyanya komersil. Hermione mendapatkan bantuan dari Narcissa yang mendengar dan melihat karya Hermione dari sebuah sketsa yang dicuri Draco dari map milik Hermione saat Draco mengunjungi Hermione. Sekarang, sembilan tahun kemudian, koleksinya mulai dikenal dunia.
Pikiran Hermione terganggu saat mendengar suara dari laptopnya. Hermione meraih laptopnya untuk melihat siapa yang baru saja mengirimkannya sesuatu. Ternyata e-mail dari Harry. Hermione tersenyum saat membacanya.
Hei Hermione,
Aku menyerah. Ted benar-benar berniat terbang ke New York tahun ini, dia menyisihkan uang, membantu tetangga menata taman, dia bahkan bekerja mengirimkan koran setiap pagi sekarang. Aku tidak mungkin mengatakan tidak.
Aku akan memesan tiket untuk agustus kalau kau tidak keberatan. Kalau kau keberatan, aku bisa memesan tiket untuk hari atau bulan lain. Ron bilang dia akan berada di New York dari Juli.
Seingatku, ulangtahun Lucas jatuh di bulan agustus benar? Aku akan bawakan sesuatu untuknya dan untukmu juga. Aku menanti kabar darimu.
Love,
Harry.
"Jadi Draco hanya menandatangani satu surat dan tidak mengembalikan berkas hak asuh Lucas?"
Daphne menyodorkan sekaleng bir dari kulkas mini di ruangannya pada Hermione. Menjadi putri pemilik Law Firm memberikan Daphne banyak keuntungan, seperti kulkas mini tadi, ruangan kedap suara, dan satu set home theater. Hermione sering bercanda bahwa ruangan ini lebih mirip bioskop mini daripada kantor.
"Yap. Blaise tidak memberitahuku kenapa Draco melakukan itu. Mungkin dia ingin bicara langsung denganmu." Daphne meneguk birnya. "Hmm, dia masih di Vegas kata Blaise."
"Mungkin dia berusaha membuat Narcissa bangkrut." Hermione mendengus dan mengenggak habis birnya.
Daphne menyelipkan rambut hitamnya ke balik telinganya, mata biru esnya menatap Hermione dengan tatapan tajamnya yang khas. "Kau benar-benar benci Draco sekarang?"
Hermione menghela nafas dan menyandarkan punggungnya ke sofa. "Aku rasa tidak. Dia ayah Lucas. Aku tidak bisa membencinya. Tapi aku tidak bisa hidup bersamanya lagi. Aku lelah, Daph. Benar-benar lelah dengan tingkahnya yang kekanakan."
Perhatian keduanya teralih saat mereka mendengar suara pintu ruangan Daphne terbuka. Dua orang pria masuk ke dalam ruangan. Satu pria berkulit gelap dengan rambut pendek dan memakai setelan jas, pria yang lain berkulit putih pucat dengan rambut pirang platinum yang panjangnya melewati telinga dan memakai coat hitam yang terlihat sangat mewah.
"Blaise, Draco. Tidak sopan masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu. Aku sedang bersama klien." Kata Daphne tenang. Daphne memang terkenal dengan ketenangannya dan tatapan matanya yang tajam. Sejak kuliah, Daphne mendapat julukan The Ice Princess. Sangat cantik tapi sulit untuk dijangkau.
Mata kelabu Draco fokus pada Hermione. Mengenal Draco, Hermione tahu Draco kesal padanya. Atau bahkan marah padanya.
"Apa maksudmu kau meminta hak asuh penuh atas Lucas? Dia putraku!" kata Draco sambil membanting map yang Hermione dan Daphne pikir berisi berkas hak asuh Lucas.
Blaise cepat-cepat menutup pintu. Orang-orang di luar sana tidak perlu mendengarkan apa yang terjadi di dalam. Blaise bersyukur Daphne membuat ruangannya menjadi bioskop mini, setidaknya ruangan kedap suara ini akan memberikan mereka privasi yang dibutuhkan.
"Draco, tenang. Kita bisa bicarakan tenta—"
"Diam Zabini!" tukas Draco kasar, matanya mendelik pada Blaise sejenak lalu kembali pada Hermione. "Apa maksudnya ini Hermione? Kau mau mengambil putraku dariku?"
Hermione menghela nafas, dia meletakkan kaleng birnya di atas meja, di samping berkas yang dilempar Draco kesana.
"Aku tidak berusaha menjauhkan Lucas darimu, aku tidak akan melakukannya. Seperti katamu tadi, dia putramu. Tapi aku memintamu untuk memberikan hak asuh Lucas padaku secara penuh jadi kau bisa pergi dengan bebas. Aku tidak akan membatasi kunjunganmu pada Lucas, kau bisa mengunjungi kami setiap hari kalau kau mau. Tapi Lucas tinggal bersamaku, jadi kau tidak perlu memikirkan tentang sekolahnya atau apapun dan fokus menjadi ayahnya."
"Tidak! Aku mau dia tinggal bersamaku!"
"Apa?" Hermione terlihat shock. Begitu pula dengan Daphne dan Blaise.
"Kau dengar aku. Aku ayahnya. Dia akan tinggal denganku."
Darah Hermione mendidih. "Kau tidak pernah ada disana untuk Lucas dan sekarang kau menuntutku untuk memberikan hak asuh Lucas padamu? Apa kau gila? Kau tidak tahu apapun tentang Lucas!"
"Aku tahu! Dia putraku!"
"Oh ya?" Hermione bangkit dari sofa, berjalan memutari meja, hingga kini berada di hadapan Draco. "Apa mainan favorit Lucas? Warna favoritnya? Hal yang dia lakukan setiap hari? Dimana kau saat dia sakit untuk pertama kalinya? Saat dia berjalan untuk pertama kalinya? Saat dia berulang tahun? Kau selalu pergi! Pesta dan pesta dan PESTA! Kau tidak pernah disana Draco! Tidak untukku, tidak untuk Lucas. Kau tidak bisa datang dan mengambilnya begitu saja dariku! Aku tidak akan membiarkanmu mengambilnya dariku!"
Nafas Hermione terengah-engah saat dia selesai berteriak pada soon-to-be mantan suaminya.
Rahang Draco mengeras, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Tanpa berkata apapun dia beranjak keluar dari ruangan Daphne dan membanting pintunya saat menutupnya.
Hermione jatuh terduduk di atas meja. Kedua tangan menutupi wajahnya dengan siku menempel di kakinya. Airmata segar menuruni wajahnya.
thank you for reading!
xoxo
nessh
