Part 4: Buku Jurnal Mikoto
.
.
Hinata tidak jadi ke kamarnya.
Ketika melihat pintu perpustakaan yang terbuka lebar, ia berminat untuk masuk ke dalam. Lampu tampak terang benderang didalam, termasuk lampu meja kerja yang menyala. Gordin sudah tertutup rapat, dan hanya suara hujan yang masih deras terdengar menghantam kaca. Sebuah kabel dibawanya, beserta sebuah gadget.
Seusai men-charger tablet bermerek Samsung itu, ia menuju rak-rak bagian novel yang berjejer. Ia tertarik dengan sebuah buku dongeng bersampul biru yang berjudul 'Matsuri no Hana'. Saat membukanya, ia terkejut ketika melihat isinya telah lepas dan terjatuh ke lantai. Segeralah dipungutnya dan mengetahui bahwa itu bukanlah isi buku dongeng.
Melainkan sebuah buku jurnal bersampul biru tua, dengan huruf timbul berwarna emas. "Jadi ini hanya cover saja'kah?" ia mengalihkan pandang menuju sampul 'dongeng' itu. Sepertinya buku jurnal ini menarik, siapa tahu menyimpan beberapa catatan-catatan disana. Dengan segera, ia mendekati meja dan menarik kursi beludru yang cukup berat.
Sampul biru itu dibukanya, dan terpampanglah sebuah halaman pertama yang bertulis bahasa Inggris sedikit memudar. Don't Open Without My Permission. Sebaris kalimat itu menarik perhatiannya, mendorong keinginannya untuk membuka lebih banyak lembar. Ia menyingkap halaman selanjutnya, dan terdapat sebuah lipatan kertas kecil berwarna kekuningan yang disisipkan.
Gadis Hyuuga itu berniat membukanya, dan menemukan sebuah coretan krayon khas anak-anak. Ada empat orang yang digambarnya, ada seorang wanita, seorang pria, bayi,dan anak kecil. Manik lavendernya bergulir ke paling pojok halaman dan menemukan sebuah kalimat yang ditulis kecil.
Uchiha Itachi, my first son drawing.
Hinata terhenyak. Uchiha Itachi? Berarti bocah kecil itu adalah anak pertama dari pemilik villa sebelumnya. Ia meneruskan membuka laman selanjutnya, dan membaca sebuah tulisan sembari ia terjemahkan dalam hati.
.
February, 6th
Namaku Mikoto Uchiha. Sebelum aku menulis lebih banyak lagi, aku akan memperkenalkan keluargaku. Aku memiliki seorang suami yang sangat kucintai, namanya adalah Fugaku Uchiha. Ia akan mencalonkan diri sebagai pejabat dan moga saja berhasil. Aku mempunyai seorang anak laki-laki, namanya Uchiha Itachi dan tak lama lagi ia akan memiliki seorang adik. Ya! Aku sedang mengandung 4 bulan sekarang!
.
Hinata mengangguk-ngangguk sembari membacanya. Ia membaca-baca isi buku itu, beberapa diantaranya adalah tentang kehidupan sang penulis buku ini. Ia benar- benar ingin mengetahui bagaimana sikap dan kejadian yang terjadi pada saat pendudukan Jepang dahulu di rumah ini.
.
July 24th
Kemarin, putera keduaku lahir dengan selamat. Ia sangat tampan seperti ayahnya, dan oh. Aku belum memutuskan siapa namanya. Itachi terlihat sangat senang ketika menggendongnya. Setelah itu, aku mendengar kabar bahwa suamiku berhasil menempati posisi itu. Sebagai hadiah atas peresmiannya, aku dengar ia akan membeli rumah di kawasan bukit. Kuharap, itu akan menjadi tempat yang nyaman bagi kami.
.
Ia seketika tersenyum ketika melihat sebuah potret bayi mungil dengan mata terpejam dan hidung mungilnya yang lucu. Foto berukura cm itu sengaja ditempel sebelah pojok bawah. Hinata menyimpulkan bahwa pejabat Jepang yang sebelumnya bernama Fugaku Uchiha, dengan istrinya yang bernama Uchiha Mikoto. Ia hampir tak percaya, menemukan sebuah catatan jurnal pemilik sebelumnya. Mungkin saja ada suatu catatan yang berkaitan dengan rumah ini.
.
Selagi asyik memilah isinya, tiba- tiba Sakura masuk ke dalam perpustakaaan. Hinata terlonjak kaget dan segera menutup buku itu. Sakura menghela nafas, "Ternyata kau disini, Hinata. Tadi, aku sempat mencarimu." Lalu matanya melihat sebuah buku bersampul biru dibawah telapak tangan sahabatnya.
"Baca apa, Hinata?"
"A-a..ano…buku novel," kilasnya gugup ketika merasa tatapan Sakura begitu mengintimidasi. Gadis Haruno itu mengangguk-ngangguk paham, dan mulai menjelajahi isi perpustakaan. Setelah gadis itu terlihat cukup sibuk dengan rak di pojokan sana, ia memutuskan untuk kembali membaca.
.
July, 28th
Sudah 5 hari sejak kelahiran Sasuke aku tidak menulis lagi. O ya, setelah kupikirkan bersama Fugaku, kami memberinya nama Uchiha Sasuke. Nama yang bagus yah?
O ya, hari ini kondisiku sudah membaik dan kami mulai tinggal di rumah yang ia katakan. Rumah ini sangatlah besar, dan yang paling membuatku tertarik adalah arsitektur bergaya Eropa. Semua yang ada disini adalah rancangan sepupuku, Uchiha Izuna.
Sasuke? Uchiha Sasuke? Gadis itu memerhatikan goresan pena yang bertulis nama 'Sasuke'. Apakah mungkin hanya persamaan saja'kah? Sedangkan Sasuke yang ia kenal bernama lengkap Uzumaki Sasuke. Bukan Uchiha.
Kami sangat menyukainya dan begitu juga dengan Itachi. Satu lagi, ternyata kakak sepupuku juga tinggal disini! Wah, aku yakin rumah ini pasti ramai dan berwarna. Aku memfoto bagian depan rumah ini dengan kamera suamiku. Dan foto disebelahnya adalah rumah kaca yang suamiku bangun dan menanaminya dengan bunga- bunga gladiola. Tentu saja, ia tahu aku suka dengan bunga itu.
.
Sebuah foto bagian depan villa—yang seperti sekarang, tak banyak berubah—tertempel didekat tanggal halaman jurnal. Hanya beberapa tumbuhan saja yang terlihat berbeda dengan dahulu. Rumah tampak terlihat begitu terawat dan masih baru, membuatnya berdecak kagum. Tak lupa dengan sebuah rumah kaca luas dengan berbagai bunga gladiola bermacam-macam warna.
"Ha? Sasuke?!" tiba- tiba saja Sakura berada diatas buku jurnal yang sedang ia baca. "Ini buku harian…jurnal? Dimana kau menemukan ini?" lanjutnya sembari melihat cover buku yang berwarna biru.
"Aku menemukannya di rak sana. Aneh, buku ini kutemukan berada dibalik sebuah cover dongeng." Hinata menunjuk rak disana, membuat Sakura memalingkan kepalanya. Lalu, Hinata melanjutkan," Berarti, pemilik sebelumnya sengaja menyembunyikan ini dong? Agar tidak diketahui orang lain mungkin?"
Sakura mengangguk-ngangguk, dan ia menuju rak itu. Setelah lama ingin mencari buku yang sama—mungkin ada, ia malah melihat sebuah kotak kayu kecil dibarisan paling dalam dan tertutup buku kamus tebal. Jemarinya meraih kotak itu dan mengeluarkannya. "Kurasa, pemilik sebelumnya ingin menyembunyikan kedua benda ini. Apa jangan-jangan pernah terjadi sesuatu?" ia meletakkan kotak itu di meja dan Hinata memandangnya.
"Ya! Aku juga pernah melihat ini. Isinya adalah foto-foto. Tapi, saat aku melihat mereka, aku merinding," ungkap Hinata ketika mengingat saat ia pertama kali menemukannya. Berdebu dan seolah menyimpan misteri.
"Nona Sakura? Nona Hinata? Sedang apa disini?" tiba- tiba Pak Danzo muncul dari balik pintu perpustakaan yang berat. Sinar dari lampu tinggi disisi pintu menerangi wajahnya. Dengan gugup, Sakura menyembunyikan kotak kayu yang ia temukan. Hinata menyembunyikan buku itu dipangkuannya.
"Tidak apa, Pak. Kami hanya berbincang sebentar. Suasananya mendukung sih." Sakura tertawa gugup, dan Hinata hanya tersenyum. Pak Danzo memahami mereka, dan kemudian melanjutkan ," Hujan sudah reda setengah jam lalu. Naruto dan yang lainnya sedang api unggunan diluar. Kalian tidak ikut?"
"Uhm..baiklah, Pak. Kami akan kebawah. Terimakasih atas informasinya." Lalu pintu kembali tertutup, membuat kedua manusia yang berada didalam menghela nafas lega. Sakura memandang kotak kayu itu, "Andai saja Pak Danzo mengetahui apa yang kita lakukan. Kalau tidak, kita bisa dimarahi."
Sakura akhirnya mengembalikan kotak itu, berniat untuk ikut api unggun dan tidak jadi membukanya. Saat berbalik, tiba- tiba saja Hinata menghampirinya dengan buku jurnal itu yang masih ditangannya. "Lihat!" serunya sembari menunjuk barisan kalimat dalam buku.
"A-apa?" Sakura berjengit, memandang lekat-lekat goresan pena itu. Seolah ditulis dengan perasaan mendalam dan ada sepercik kesedihan disana. Hinata menggeleng-gelengkan kepala, dan bergumam," Ini tidak mungkin. Tak mungkin!"
.
.
To Be Continue to next chapter!
