Cast; Kim Jongin, Oh Sehun, Daniel Lachapelle
warn; boyxboy, shou-ai, alternative-universe, ooc, typo(s).
pair;
Kai x Sehun
.
Timezone
.
—airsh—
.
Happy Reading
Menjadi single parent untuk keponakan satu-satunya adalah hal tergila yang harus dilakukan bagi Kim Jongin, sang eksekutif muda diusianya yang baru menginjak dua puluh tiga tahun.
Daniel, bocah berumur empat tahun itu kini tengah menarik-narik Jongin yang terduduk lemas di salah satu bangku. Tak perduli lelaki yang sejak 3 tahun lalu sudah berganti status menjadi ayahnya itu masih sanggup menemaninya memainkan ratusan permainan yang tersedia di tempat bermain bernama timezone ini.
"Daddy, oh please! I wanna be the winner!" Jongin menghela nafas berat ketika mendengar rengekkan dari Daniel.
"Let's have home," Jongin menyeret anaknya untuk keluar dari area bermain anak-anak itu. Tetapi malah disambut dengan tangisan tak terima dari Daniel.
"No Daddy, No! I need to win the game, Daddy!"
Baru tiba dari Jerman pukul sembilan pagi tadi, dengan jam tidur yang sangat berantakan karena rapat ini, proyek itu, bertemu dengan kolega ini, dan ini itu lainnya membuat 2 minggu Jongin di Jerman sangat suram. Bahkan Jongin benar-benar belum tidur selama tiga hari terakhir.
Oh Tuhan, Jongin hanya menginginkan istirahat untuk saat ini. Tiga jam sudah Jongin habiskan untuk menemani Daniel bermain dan sudah tiga jam pula Jongin mendengar umpatan-umpatan kesal karena kekalahan yang diterima oleh anaknya itu.
"Kim Daniel, dengar. Daddy lelah. Daddy belum tidur sama sekali selama tiga hari terakhir, sayang. Bisakah kita pulang saja sekarang dan gantinya Daddy akan membelikanmu segudang mainan yang kamu inginkan?"
"No way! Aku tidak mau, Daddy." Jongin mendengus sebal. Selembut apapun ia berusaha mengalihkan perhatian dan mengambil hati anaknya itu, akan berakhir sia-sia. Jongin merutuki sifat keras kepala yang secara turun-temurun mendarah daging di keluarganya.
"Hei adik kecil, kamu kenapa?" Suara seseorang membuyarkan lamunan Jongin. Dan Jongin tersadar bahwa Daniel tidak dihadapannya lagi.
"Aku benci sama Daddy!" Jongin benar-benar sudah lelah dengan anak itu. Yatuhan, setelah memaksa Jongin untuk merelakan jam tidurnya dan menemaninya bermain ini-itu, sekarang anaknya itu akan bicara yang tidak-tidak dengan orang asing? Sungguh tidak adil.
Jongin menegakkan tubuhnya dan berjalan mendekati Daniel dan orang asing yang tengah mengajak Daniel berbicara.
"Kenapa kamu membenci, Daddymu?"
"Daddy tidak mau menemaniku bermain, Mommy!"
Deg.
Apa? Jongin tidak mungkin salah dengarkan? Daniel memanggil orang itu dengan sebutan Mommy? Seseorang tolong buat Daniel menjadi anak yang berbakti pada Jongin.
"Eh?" Orang asing itu terkesiap mendengar ucapan Daniel. Ya, siapa yang tidak akan terkejut ketika dipanggil dengan sebutan ibu oleh bocah yang baru semenit lalu kau kenal?
"Daniel, ayo pulang, sayang." Jongin kembali merendahkan dirinya untuk menyamakan tinggi Daniel.
"Tidak mau! Daddy saja kalau Daddy mau," Daniel beralih menarik tangan orang yang ia panggil Mommy itu.
"E-eum Tuan? Apa anda tidak keberatan jika saya membawa anak anda bermain sebentar?" Jongin memperhatikan orang itu. Sepertinya sebaya dengan dirinya, hanya saja tampilannya sangat casual dengan setelan sneakers, skinny jeans dan kaus putih. Berbeda dengan Jongin yang masih lengkap dengan kemeja marun yang di padu-padankan dengan dasi hitam.
"Mungkin saya akan membuat anak anda mau pulang bersama anda?" Jongin pasrah. Ia harus mengalah lagi untuk kesekian kalinya. Menyerahkan anaknya kepada orang yang ia sendiri tidak tahu siapa namanya.
"Baiklah,"
.
Jongin duduk dan memperhatikan Daniel yang tengah bermain dengan pemuda itu. Ia tertegun melihat pemuda itu mampu menguasai Daniel dan terlihat akrab dengan Daniel walau baru mengenalnya dalam hitungan menit.
Tiba-tiba perasaan Jongin menghangat dan bibirnya terangkat membuat lengkungan bernama senyum.
"Daddy, ayo kita pulang! Aku sudah memenangkan permainannya!" Lamunan Jongin buyar ketika Daniel sudah menarik-narik lengannya.
"Kau senang?" Jongin menatap Daniel denga senyumnya.
"Tentu saja! Berkat samchon ini pastinya," Daniel menarik lengan pemuda itu hingga pemuda tersebut bertumpu dengan kedua lututnya dan berhadapan dengan Jongin.
"Baiklah, aku harus berterimakasih kepadamu–" Jongin menggantung kalimatnya menatap pemuda dihapannya. Seolah mengerti maksud Jongin, pemuda itu tersenyum.
"Oh Sehun imnida."
"Ok, Sehun-ssi. Aku Kim Jongin. Senang berkenalan denganmu. Dan terimakasih karena telah membuat Daniel berhasil memenangkan permainan tadi,"
"Tidak masalah. Dan aku juga senang berkenalan denganmu. Daniel sangat menggemaskan, aku nyaman berlama-lama dengannya."
Oops. Sepertinya lampu hijau sudah dinyalakan.
"Kalau begitu, dimana rumahmu, Sehun-ssi? Aku akan mengantarmu pulang, anggap saja sebagai rasa terimakasihku."
"Apartementku di Gangnam-gu, Jongin-ssi. Dan sebelumnya terimakasih,"
Jongin membiarkan Daniel menggenggam tangan kirinya dan tangan kanan Sehun.
Jongin rasa, tidak ada salahnya memulai dengan Sehun. Siapa tahu masa depannya dan Daniel ada pada diri Sehun.
FIN
Hi, guys!
Long time no see, right? This is was eiridesh. I'm sorry for the retard continuing this fic. I'm feel so sorry:(( related to the difficulty acessing this site.
ffn di blokir, ya di PC? Aku gak bisa akses lewat manapun, di safari pun selalu server nya yang dibilang error. Ini pun setengah mati buat update (—oke, this too much tapi sumpah gaboong.)
Maaf banget kalo chapter ini kependekan atau enggak jelas dan lebih parah nya lagi ini gak ada suggest dari lagi apapun, aku cuma repost aja, mau ngetest bisa kekirim apa engga :')
Then, thank you banget buat reviews di chapter sebelumnya, oh my dear God, i'm about to crying as usual:')
Terserah chapter ini mau di review apa enggak, seikhlas nya aja ok :')
Dan satu lagi, buat yang nunggu A Versus O Chapter 3, mungkin bakal aku post besok ( Kalau bisa kekirim juga, ya hehe )
