Chapter 4 is Up!

Maaf ya gara-gara dah mau ujian jadi lebih sibuk dari biasanya, dan lebih banyak distraction -_- Jadi lama update

Makasih ya yg udah pada review :D

Enjoy, Okay?


Disclaim0r : Persona dengan segala konsepnya itu punya Atlus, cerita bobrok ini baru punya saya


Chapter 4

Myth's Pain

Ckckck…

Gua cuma bisa bergumam begitu.

Tadi gua nangis?

Gua bisa lupain itu gak?

Mendingan jangan.

"Mata lu masih bengkak?", Novia cuma bisa nyindir gua, padahal tadi dia juga ikutan nangis.

"Diam kau.", kata gua dengan kesal.

Jadi setelah gua dan Novia nangis, 10 menit kemudian kita memutuskan untuk melanjutkan masuk ke terowongan ini lebih dalam. Luka Novia-pun dengan ajaibnya menghilang, well, katanya sih kemampuan Personanya, gua percaya aja deh, lagipula dia juga bilang kok dia itu Support.

"Jadi, seinget lu terowongan ini menuju kemana?", gua tanya Novia. Novia berpikir sejenak lalu berkata.

"Kita harus cari tangga kebawah, semakin kebawah semakin keliatan kemana kita akan pergi.", Novia berbicara layaknya pemandu yang nyindir ketidak-tahuan gua tentang tempat yang gua kunjungi. Gua cuma bisa nengok ke dia dan ngangkat alis.

"Maksud lo?"

"Yang gua inget cuma itu… Kayaknya sih itu kata-kata kakak kelas gua."

"I see…", kami melanjutkan perjalanan yang gak jelas ini.

Kami berdua cuma bisa jalan-jalan gaje, ketemu shadow dan berhasil menyingkirkannya dengan mudah, tetapi stamina gua gak membiarkan semuanya menjadi mudah.

"Damn, gua kecapekan…"

"Kayaknya gua udah gak bisa mulihin lu lagi deh, sori…"

"Trus gimana? Kita bisa balik lagi gak?"

"Bisa, tapi kita harus cari portalnya."

Yaudah, dengan sekuat tenaga kami menghindar shadow-shadow yang hampir menghadang langkah kami. Kami pun menemukan portalnya, tetapi ada beberapa tas yang berisi obat-obatan dan senjata disekitar portal itu.

"Ini apaan?", gua tanya ke Novia, kali aja dia tau apa maksudnya ini.

"Ah…", jari jemarinya menutupi mulutnya.

"Kenapa?"

"Gua ngerasa sesuatu yang aneh. Kita harus lakukan sesuatu."

"Yang aneh?"

"Gua gak ngerti, tapi perasaan gua bilang kita harus menyelamatkan seseorang."

"Dimana?"

"Dibalik tembok ini…", ia menunjuk ke tembok belakang gua.

"Kita pake obat-obatan ini aja dulu kayaknya…"

"Masih bisa dipake?"

Gua baru sadar, jangan-jangan dah gak bisa dipake lagi… Gua cek obat-obatannya. Gua ciumin satu-satu bau dari setiap obat, cuma ada 2 botol dimana gua gak yakin itu obat atau bukan.

"Ini obat apa bukan sih?", gua menyodorkan 2 botol itu ke Novia, trus Novia ambil 1 botol, membukanya, lalu meminumnya.

"Ini buat mulihin kekuatan jiwa lu, jiwa buat ngendaliin Persona lu.", kata Novia dengan percaya dirinya, seakan-akan dia kena tipu sama tante-tante yang jual jamu langsing di TV.

"Yakin?", gua mengangkat alis gua.

"Seinget gua…", lagi-lagi dia gak yakin, but, well, I can't really blame her. Gua buka botol aneh ini dan meneguknya sampe abis.

"Puahh…! Asin amat!", good for me, keasinannya masih bisa gua kendalikan sampe gua abisin sebotol 'obat pemulih kekuatan jiwa'.

"Jadi, udah siap?", Novia nanya ke gua.

"Demi sebuah kenangan… Gua selalu siap…", gua senyum bentar, trus gua liat Novia terdiam sebentar, lalu senyum ke arah gua sambil matanya berkaca-kaca.

"Come on, jangan nangis disini, please…", kata-kata gua membuat Novia dengan spontan ngelap air matanya.

"Gua gak nangis kok…"

What a lie…

"Yah, terserah lu dah ya… Gua tendang aja apa gimana nih?", gua nunjuk tembok yang katanya dibaliknya ada seseorang yang harus diselamatkan.

"Bentar, nih buat lo…", Novia melempar sebilah pedang.

"Oke, thanks, jadi ini gimana caranya lewat tembok ini?"

"Tendang aja, pakek Persona."

"Ya ampun, itumah lu bilang aja pake Persona…"

Gua-pun menaruh tangan kanan gua di kepala dan memanggil Persona.

"Chaos!"

Lalu gua perintahkan dia buat nendang tembok itu.

BRAK! GUBRAK BRAK BRAAKKK!

Suara bising itu cukup menjelaskan bahwa temboknya runtuh, dan dibalik tembok itu ternyata ada sebuah pemukiman, keadaannya masih seperti di terowongan, tetapi disini banyak goa-goa yang bisa ditinggali, dan ada kayu bakar ditengah-tengah ruang pemukiman ini, seperti untuk api unggun.

"Jadi?", gua tanya ke Novia. Dia terlihat bingung. Lalu dengan sekejap, ia menjadi waspada.

"Kenapa?", gua tanya lagi ke Novia.

"Lihat sekeliling lo.", jawabnya singkat, saking singkatnya gua gak tau buat apa gua harus liat-liat goa-goa yang gak penting ini.

Akhirnya dengan pertimbangan yang benar, gua turutin kata-katanya. Gua menjadi waspada. Lalu tiba-tiba Novia berteriak.

"DIBELAKANG LO!"

Gua dengan spontan ngeluarin pena gua dan melemparnya ke arah belakang gua. Gak mungkin kan gua lempar pedang gua?

CRAK!

Sesosok makhluk hitam berambut putih yang memakai pelindung kepala, serta baju zirah dan jubah ungu berada di belakang gua sedang memegang, atau lebih tepatnya baru saja menghancurkan pena gua. Gua agak-agak aneh melihat pelindung kepalanya, kayaknya pelindung kepala itu ngeluarin aura aneh.

"Siapa tuh?", gua nanya ke Novia. Lalu makhluk aneh itu hilang ditelan kabut berwarna hitam pekat.

"Itu Persona!", Novia cuma teriak-teriak di pinggir, dan iapun melihat-lihat di sekitar lagi.

"Lu bisa lakuin sesuatu gak?", gua udah gak sabar, masa kita harus ngeliat-liat disekitar kita tanpa tau hal yang terjadi?

"Oh, sori, bentar!", iapun mengangkat tangan kanannya dan menempelkannya ke kepalanya.

"Aprhodite! Magic Neutralize!", seru Novia, lalu munculah Aphrodite, sang dewi kecantikan itupun melebarkan kedua tangannya dan munculah serbuk-serbuk berwarna ungu yang berjatuhan di sekitar pemukiman ini. Setelah Aphrodite selesai menaburkan serbuk-serbuk itu, Novia noleh ke gua, dan tiba-tiba menampakkan ekspresi kaget.

"WOOO!", suara berat itu muncul dari belakang gua, suara yang penuh nafsu pembunuh, seperti dewa kematian yang ingin menyayat jiwamu, dan gua gak ada waktu untuk berpikir kata-kata bagus lagi dan gua secara spontan merunduk, dan volia! Gua cuma kena injek sepatu besi persona itu.

"Anjrit!", gua spontan mengeluarkan kata-kata bijak itu gara-gara sepatu besi persona itu nendang kepala gua. Lalu gua mencoba berdiri dan dihadapan gua persona itu dah siap nyerang gua lagi setelah dia ngebokongin gua, sialan.

"CHAOS!", gua manggil persona gua buat nahan serangan persona yang tidak dikenal itu.

"Stop, Hades…", tiba-tiba ada suara orang yang kira-kira seumuran ama gua, dari belakang gua. Lalu tiba-tiba persona gak dikenal itu hilang, Chaos-pun gua tarik juga.

"Siapa lu?", gua berbalik ke arah dia, penampilan orang itu seperti bule nyasar ke sekolah gua, rambutnya coklat dan kulitnya putih bening, well, kalo gua liat sih sebelumnya dia gak dimandiin tepung, dan ia memakai seragam yang sama ama kayak punya gua, tapi udah menguning dinodai usia seragam itu, yah, putih, dengan celana biru tua khas anak SMP. Tapi tetep, gua masih pake jaket hitam kebanggaan gua, penting gak sih gua omongin disini?

"Sebelumnya, kenapa lu dateng sama Novia? Harusnya yang nanya ya gua!", dia membentak gua, matanya penuh penderitaan, sepertinya dia kejebak disini.

"Re-Rendy?", Novia dengan ekspresi terkejutnya, menyebut nama orang ini, sepertinya, lalu ia melangkah maju, "RENDY! Maafin gue! Gue gak bisa nyelametin lu!"

Gua melihat kedua orang itu, Novia mendekati orang yang diduga bernama Rendy itu dengan mata yang berkaca-kaca dan langkah yang semakin melambat, kata-kata yang baru saja diserukannya seperti tidak akan ada maknanya walaupun ia mengatakannya sambil berlutut dan menangis, mata orang yang diduga bernama Rendy itu menatap Novia, dengan tatapan kosong, giginya saling mengadu di mulutnya, seakan ia tidak dapat mengeluarkan air matanya walaupun kesedihannya sudah tidak terbendung lagi.

"Nov, ayo kita cari yang lain, kita tinggalkan orang itu.", gua jadi yakin orang itu namanya Rendy, mulai membuat gua naik darah, wajahnya memancarkan harapan kepada Novia, tapi matanya, gelap, kosong, gua tau, gua gak boleh ngebiarin Novia deket-deket dia.

"Woi! Lu temennya Novia 'kan? Apa masalah lu sampe ngusir gua?", gua cuma bisa ngebentak dia, gua harus liat respon dia, gak boleh tergesa-gesa maen serang.

"Persona-user yang lain selain anggota 'Hell Annihilator' gak bisa dipercaya!", serunya sambil memandang gua tajam.

"Rendy! Dia Ryo! Dia mau bantuin kita!", Novia mencoba menyadarkan orang sinting itu.

"Sekarang TIDAK!", mata Rendy melotot penuh dengan nafsu membunuh ke arah Novia, lalu noleh ke arah gua, dan mengangkat tangan kanannya, dan menempelkannya di dahinya.

"Come, Hades!"

Persona full-armornya itu muncul kembali. Lalu Hades menunjukkan telapak tangannya, seakan mengeluarkan suatu sihir yang sangat hebat.

"MUDO!", Rendy tersenyum lebar, matanya bersinar disinari oleh nafsu membunuh, serangan apa yang ia lancarkan sebenarnya?

"RYO! RENDY! HENTIKAN!", Novia berteriak sambil meraih Rendy.

Sementara itu badan gua berasa kaku, ada kekuatan yang bener-bener membuat gua gak bisa bergerak. Lalu munculah samar-samar energi berwarna hitam melilit tubuh gua yang udah gak bisa gua gerakin. Teriak-pun sulit.

"ARRRGGGGHHHHH!", rintihan pelan gua tiba-tiba terdengar lebih besar, semakin besar dan membesar.

WUSSSSHHHH!

Energi hitam itu berangsur-angsur menghilang, Novia yang melihat gua menghela nafas dan melepaskan tangannya dari baju Rendy, sedangkan senyuman Rendy semakin lebar, dan semakin buas.

"Hoki banget bisa lolos dari Mudo level tinggi gua…", kata Rendy sambil mengambil sesuatu dari belakang celananya.

Cklik!

Itu adalah Pistol.

Bentar.

ITU PISTOL! OMFGOMFG!

Sori, gua agak overeacting, tapi dia emang bener-bener mau ngebunuh gua.

"BUSET! Anak SMP kayak lu kenapa bawa-bawa pistol segala?", gua langsung nanya tentang hal yang gak beres ini.

"Bukan urusan lo! MATI LO SEKARANG!", Rendy mengarahkan pistolnya tepat ke arah kepala gua.

FUUUUUU….

Oh, siapa saja, apakah ada yang bisa gua lakuin dalam kurang dari 1 detik ini?

Gua mulai bergerak cepat ke arah kiri, dan…

DOR!

Gua selamat dari tembakan pertama itu.

"RENDYYY!", Novia teriak dan mencoba meraih Rendy kembali.

"HAHAHAHAHA! TIDAK AKAN ADA YANG BISA MENGHENTIKANKU!", Rendy mencoba mengarahkan mulut pistolnya ke arah gua lagi. Gua cuma bisa lari dari arah mulut pistolnya itu, sambil berpikir apa yang bisa gua lakuin buat menghentikan Rendy?

DOR! DOR! DOR!

How lucky! Gua bisa menghindar dari ketiga tembakan itu! Lalu gua menoleh ke depan gua.

SHHIIIII- Ada Persona Rendy, Hades dari depan gua, mencoba menghunuskan pedang ke arah gua. Dengan cepat gua menjatuhkan diri ke sisi kiri Hades, dan menghindar serangan Hades. Di saat gua mau bangun dan menlanjutkan lari gua, gua merasakan sesuatu yang cepat lewat di depan hidung gua.

CRAK!

Suara peluru menancap di tembok goa membuat gua lega untuk beberapa milidetik, dan gua dengan cepat ingin melihat apa yang akan Rendy lakukan. Rendy sudah menetapkan jalan peluru dalam pistolnya sambil senyum lebar, yaitu ke kepala gua, gua pun langsung mundur sebelum kepala gua mengeluarkan cairan merah kental itu.

Tetapi sepertinya gua kurang pintar untuk berpikir, gua sekarang bakal jadi sasaran tebasan pedang Hades yang ternyata tadi sudah mengira gua bakal mundur, dan sekarang dia mengangkat pedang ke arah gua.

Gua dengan segera mengangkat tangan kanan gua dan menempelkannya ke kepala gua.

"PERSONA!"

Chaos menghadang pedang sang Hades dengan baik dan benar. Gua perintahkan dia untuk sebisa mungkin menyingkirkannya, sebelum dia nyoba nembak ke arah gua, sangat berbahaya bila terjadi, gua harus mendapatkan pandangan karena saat ini Rendy ada dibalik Hades yang sedang dihadang. Tetapi sepertinya Hades memang kuat sekali, Chaos hanya bisa menahan serangannya, tidak dapat menjauhkannya.

"HAHAHAHA!", tawa dingin Rendy menggelegar di telinga gua, menandakan gua ada dalam bahaya, gua harus menyelesaikan urusan Hades, sebelum dia melakukan sesuatu yang dapat mencabut nyawa gua kapan saja.

"RENDY! JANGAAN!", teriakan Novia ikut menggetarkan gendang telinga gua, tetapi harapan muncul ketika setelah teriakannya, terdengar sesuatu jatuh.

Gua yakin yang jatuh adalah Pistolnya. Oh, great chance!

Gua pun berlari ke arah kanan dan berhasil melihat Rendy…. Yang akan melemparkan sebuah pisau lipat ke arah gua.

"Shit!", gua berhenti dengan segera sebelum pisau itu terkubur dalam raga ini.

WUUUSH! CTEK!

Pisau itu meluncur tepat di depan mata gua hari ini bener-bener gua terlalu hoki. Oh, suhu, mungkin aku skeptis kepadamu. Tetapi hari ini memang keberuntunganku! Harusnya gua jualan sendal di depan sekolah, siapa tau dapet penghasilan.

Anyway, setelah melihat situasi dimana Rendy benar-benar kehilangan pistolnya, kakinya ditahan oleh Novia, gua lansung tarik Chaos dan memanggilnya lagi dalam Arcana Temperance.

"GARU!", gua memberikan perintah untuk menyerang Hades dengan serangan angin itu.

Dengan seketika Hades-pun melayang karena serangan Garu itu.

"UGGHH!", Rendy sontak merintih kesakitan karena menerima rasa sakit dari Hades.

"SIALAN!", kutukan keluar dari mulut Rendy, karena itu, ku berikan serangan angin tanpa henti kepada Hades.

"ARRRGGHHH!"

Gua tetap menyiksanya sampai ia terdiam, benar-benar terdiam. Maksud gua, gak bisa melawan lagi, okay?

"Ukh…", Rendy akhirnya terbaring lemah, ia belum mati, belum, tetapi ia akhirnya menyerah, karena tidak bisa melakukan apapun selain itu.

"Udah kan?", gua ngos-ngosan, walaupun cuma modal pikiran doang, tapi lumayan menguras tenaga juga, apalagi gua ditembakin dari tadi, hokinya gua, gak ada satupun dari peluru itu yang bersarang di badan gua, lucky me… lucky me…

"Ayo Rendy, kita pulang…", mata Novia berkaca-kaca, ia mengulurkan tangan kepada Rendy.

"Kita rangkul aja, Nov.", gua menghampiri Novia dan Rendy. Lalu menarik Rendy untuk berdiri dan merangkulnya.

"Sori ya bro buat yang tadi…", entah ada angin apa gua bisa bilang begitu kepada orang yang baru aja pengen menindik gua dengan besi berdiameter sekitar 1 cm itu.

"Tch… Udahlah…!", tampaknya ia masih kesal, well, kesel kenapa yah? Gagal nindik gua apa akhirnya dia berteman ama gua, orang yang baru saja ia benci setengah hidup. Well, emang susah sih, berteman dengan orang yang lu gak suka, butuh waktu.

"Ayolah, masuk ke portal, gua udah capek…", keluh gua.

"Noh, portalnya, ayo lu yang bener jalannya…", kata Novia.

Dan akhirnya kamipun kembali ke Dunia Nyata.

BERSAMBUNG


EXTRA

Aurellius Ryo

Persona : Chaos

Level: 12

Skill:

The Fool (0)

(Sama, Liat aja di Chapter 1)

The Magician (I)

- Agi (Weak Fire Attack)

The Lovers (VI)

- Marin Karin (Cast charm to 1 Enemy, cause the target to act on caster's side)

Temperance (XIV)

- Bufu (Weak Ice Attack)

- Garu (Weak Wind Attack)

- Dia (Slight Healing – 1 target)


Novia Venasya

Persona: Aphrodite

Level: 10

Arcana: Lovers

Skill:

- Magic Neutralize (Cancel all Magical buffs and effect)

- Healing (Heal 1 or more targets, depends on the damage, can be controlled)

- Analize (Analize the properties of enemy)


Rendy Putro

Persona: Hades

Level: 15

Arcana: Moon

Skill:

- Helm of Darkness (Hades can become Invisible temporarily)

- Cleave (Weak Slash Attack)

- Mudo (Low chance to instant kill with dark element)


Oke, terimakasih bagi yang sudah sudi mampir buat baca fanfic bobrok saya ini.

See ya at [Chapter 5]