Chapter 3
Wonwoo memasuki apartemen nya. Ia lelah, lari 500 meter tengah malam begini, orang gila mana yang akan melakukannya. Wonwoo meletakkan sepatu kets nya di rak sepatu. Lalu melempar jaketnya sembarang. Tubuhnya terasa lengket. Ia memutuskan untuk mandi lalu berniat untuk tidur setelahnya.
Wonwoo keluar dari kamar mandi dengan wajah yang fresh. Rambutnya yang basah ia keringkan dengan handuk. Lalu menyampirkan handuk itu dilehernya. Wonwoo masuk kekamarnya, matanya langsung tertuju pada setumpuk tugas yang diburu deadline.
Dibukanya laptop hitam itu lalu mengetikkan beberapa kata, setelah itu ia membuka sebuah buku yang tebalnya 400 halaman. Membaca lembar demi lembar yang telah ia tandai dengan penanda kertas. Dan kemudian mengetikkannya di halaman Microsoft word dilaptopnya. Wonwoo memandang puluhan sticky notes yang tertempel dihadapannya. Lalu ia mengerang frustasi, mengacak asal rambut basahnya.
Ia beranjak menuju dapur lalu membuka kulkas dan mengambil dua kaleng cola. Wonwoo meletakkan kaleng-kaleng itu di meja belajarnya. Sebenarnya, tugas ini dapat dilakukan dengan mudah jika ia bersedia melakukan penelitian. Hanya saja Wonwoo bilang 'jika aku bisa mengarang dengan baik dan masuk akal. Dosen ku juga tidak tahu kalau ini hanya sebuah fiksi karya Jeon Wonwoo'. Ia bisa saja datang ke salah satu panti asuhan di Seoul untuk mengamati kehidupan mereka, kalau saja panti asuhan itu sederhana, bukan seperti tempat penitipan anak orang kaya.
"hah.." Wonwoo menghela nafasnya kasar.
Dosennya bilang, tugas ini harus diselesaikan dalam 3 bab. Dengan masing masing bab minimal sepuluh halaman dengan font 11. Itu minimal, jika kau buat dengan 30 halaman maka nilai mu juga akan minimal. Dengan kata lain, buatlah sebanyak-banyaknya. Sedangkan Wonwoo, ia baru saja menyelesaikan cerita fiksi nya di halaman ke 12.
Sudah pukul dua pagi, dan persetan dengan insomnianya yang kambuh. Ia tak bisa tidur sekarang. Ia sudah menghabiskan 2 kaleng cola dan melanjutkan 4 halaman tugasnya. Wonwoo berbaring, ia lelah tentu saja.
Wonwoo memejamkan kedua matanya, ia membayangkan bagaimana ia melalui harinya hari ini –kemarin lebih tepatnya,karena sekarang sudah hampir pukul 3 pagi-
Kemarin ia bertemu Jun, temannya yang berasal dari cina, pria baik hati yang mau-mau saja memberi kan beberapa ide untuk 'cerita fiksi' yang Wonwoo buat. Meski sudah berulang kali juga ia mengingatkan Wonwoo untuk melakukan penelitian social demi kelangsungan hidup tugasnya. Dan tentu saja Wonwoo mengacuhkannya.
Lalu disiang hari , saat mencari referensi di perpustakaan, ia berkenalan dengan pemuda sipit yang sering ia lihat sedang bermesraan dengan seseorang di pojok perpustakaan kampus. Pemuda yang tadi ia ajak makan bersama Lee Jihoon, Kwon Soonyoung.
Sorenya, ia bekerja di Red Tree seperti biasa. Lalu ia bertemu dengan Seungcheol mantan kekasihnya dan seorang teman Seungcheol yang ia tak tau siapa.
Malam hari , ia membantu Daehyun-hyung membersihkan café, hingga ia terpaksa pulang terlambat. Dan menjelang dini hari, dengan bodohnya ia berlari ke taman kota untuk menemui mantan kekasihnya. Kegiatan yang ia lakukan memang tidak banyak, tapi heol , terasa melelahkan.
"Jeon Wonwoo. Sudah jam berapa ini , dan kau ma- astaga Jeon Wonwoo, kau apakan kamar mu hah!?" Jihoon berteriak. Wonwoo menggeliat tak nyaman. Tidur singkatnya terganggu. Ia baru saja tidur beberapa jam, dan teman 'kecil' nya ini begitu berisik.
Jihoon menatap horror lantai kamar temannya ini. Kertas yang berhamburan , beberapa notes yang berceceran, dua kaleng cola tergeletak dilantai. Buku-buku yang berserakan diatas meja belajar. Selimut yang entah bagaimana bentuknya. Handuk yang bahkan masih sedikit basah di meja nakas. Astaga apa-apaan kamar Wonwoo ini.
"ini baru jam 7 Ji-ah. Dan aku tidak ada kegiatan hari ini. Bisakah kau biarkan aku tidur 5 menit saja?" ucap Wonwoo memelas.
"kau lupa, terakhir kau bilang '5 menit lagi Ji-ah' kau bahkan tak bangun-bangun 4 jam lamanya dan-" Jihoon sedikit menggeram "-aku tidak akan membiarkan mu seperti itu lagi"
"Jihoon-ah" Wonwoo memelas, sungguh ia terlihat sangat menggemaskan.
Jihoon menghela nafas. "cepat mandi! Kita akan ke Red Tree"
"tapi hari ini aku tidak bekerja Ji-ah"ucap Wonwoo dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"bukan untuk bekerja Won. Kita akan bertemu Soonyoung dan temannya"ucap Jihoon.
"si junior yang bermesraan dengan Soonyoung-mu itu?"Tanya Wonwoo.
"cepat mandi , dan bersiap-siap Jeon!"
Wonwoo sudah siap, ia mengenakan kaos berwarna putih dengan outer kemeja kotak-kotak berwarna merah . Dan dipadupadan kan dengan jeans hitam. Tidak lupa dengan sepatu kets-nya. Ia keluar dari kamar nya dan mendapati Jihoon yang memandangnya jengah.
"kau lama Jeon"
Wonwoo hanya terkekeh, dan segera menyeret Jihoon keluar apartemen dan tidak lupa juga untuk mengunci pintu apartemennya.
Tak perlu menunggu lama , bus yang akan mengantar mereka ke Red Tree Café tiba bersamaan dengan sampainya mereka di halte.
"Jihoon-ah , kenapa kau harus membawaku juga?" Tanya Wonwoo.
Jihoon tak menjawab.
"dan kenapa berasama dengan junior tinggi itu? Tidak kah kau cemburu?"Wonwoo kembali mengutarakan isi hatinya , meski di telinga Jihoon terdengar mengejek.
"apa hak ku untuk cemburu Jeon?"Jihoon membalasnya dengan nada datar.
Wonwoo lagi-lagi bersuara "kenapa harus di Red Tree? aku jadi ingin bekerja , kau tau"
"bisa kah kau diam, kita sudah sampai" Jihoon langsung turun diikuti oleh Wonwoo setelahnya. Mereka berjalan memasuki café, suara lonceng itu kembali berbunyi. Jihoon melenggak ke tempat dimana ada Soonyoung dan temannya, sementara Wonwoo masih menyapa teman kerjanya.
"kau datang Wonwoo-ya? Bukan kah kau libur?" Tanya Daehyun
"tentu saja aku libur, hyung. Aku ada janji dengan teman untuk bertemu disini"ujar Wonwoo.
"kau yakin bukan Choi Seungcheol mu itu kan?" gurau Daehyun.
Dengan nada sedikit kesal Wonwoo berucap "aku sudah menyelesaikan masalah itu semalam hyung"
"kau benar-benar menemuinya?" Tanya Daehyun.
"ya , aku menemuinya tengah malam, dan aku berlari dari apartement ku , asal kau tau" Wonwoo meninggalkan Daehyun di bar nya dan menghampiri Jihoon di meja nomor 12. Di sudut café.
"hi, Soonyoung" sapa Wonwoo saat melihat pemuda sipit itu , lalu matanya beralih ke pria tan disebelahnya.
"uhm-hai"sapa Wonwoo yang tak tau nama pria tan itu. Wonwoo duduk disebelah Jihoon dan berhadapan dengan pria berkulit tan yang sedari terus memperhatikannya.
"kau-" ucap pria tan itu berpikir.
"kau mantan kekasih Seungcheol-hyung kan?" tanyanya memasktikan.
Wonwoo dapat melihat mata Soonyoung yang membola, Wonwoo simpulkan bahwa Soonyoung juga mengenal mantannya.
"ya begitulah. Aku Jeon Wonwoo. Teman Soonyoung , Jihoon dan juga mantan Seungcheol."dengan bangganya Wonwoo mendeklarasi kan diri sebagai mantan Seungcheol. Yah mungkin ia benar-benar sudah move on.
"aku Kim Mingyu, teman Soonyoung-hyung dan juga Seungcheol-hyung"ucapnya.
"bagaimana kau tau kalau aku mantan kekasih Seungcheol?" Tanya Wonwoo.
"kau lupa? Aku teman Seungcheol-hyung yang waktu itu bersamanya. Kau yang mengambil pesanan kami" jelas Mingyu.
"oh ternyata itu kau, aku tak menyangka jika kau adalah pria yang selalu mencumbu Soonyoung disudut perpustakaan" Wonwoo terkekeh. Jihoon langsung menatap Wonwoo tajam. Seolah berkata kau-tidak-sopan-jeon.
Dan Wonwoo meminta maaf setelahnya.
"kau melihat kami?" Tanya Mingyu. Mereka bahkan belum memesan apapun. Wonwoo memanggil Dino untuk mengambil pesanan mereka. Baru setelahnya ia menjawab pertanyaan Mingyu.
"setidaknya aku melihat kalian 3 kali dalam seminggu".
Mingyu menatap Soonyoung, ia tertawa kecil "kita benar-benar ketahuan"
"AKKH" Mingyu memekik pelan, kakinya baru saja di injak dengan kuat oleh Soonyoung.
"hyu~ung!" Mingyu merengek.
"hmpftt…" Wonwoo menahan tawanya. Jihoon terdiam , begitu juga Soonyoung, ia masih ingat apa yang dikatakan Jihoon semalam sudah lama aku tak melihat Wonwoo tertawa. Dan yeah, tingkah Mingyu mengembalikan tawa Wonwoo.
"jangan tertawa atau aku akan menyukaimu" itu Mingyu, ia berbicara dengan nada yang dibuat-buat agar terdengar dingin.
"aku selalu tertawa"ucap Soonyoung. Mingyu yang tadinya dingin , kini merubah kembali nada bicaranya- "itulah kenapa aku menyukaimu hyung~" – menjadi lebih cheesy.
Mingyu membaringkan tubuhnya di kasur berukuran king size itu, matanya menerawang menatap langit-langit kamarnya. Ia bukan tipe pria yang percaya dengan 'cinta pandangan pertama'. Tapi , tiba-tiba saja ia merindukan pria yang baru tadi pagi dikenalnya. Jeon Wonwoo. Mereka tak berbicara terlalu banyak. Bahkan Wonwoo lebih cenderung mendengarkan teman-temannya termasuk Mingyu berbicara.
Ia memikirkan Wonwoo, tapi disisi lain, ia juga merindukan Soonyoung-nya. Ia ingin sekali menelpon Soonyoung dan bilang 'hyung , aku merindukan mu. Datanglah' , kalau saja ia tak ingat jika Soonyoung menyukai seseorang.
Pasti Jihoon-hyung gumamnya.
.
.
Drrrt…drrt ponsel Mingyu bergetar. Dengan malas-malasan ia menggeser tombol hijau diponselnya. Ia hanya melihat sekilas siapa yang menelponnya, lalu menempelkan benda persegi panjang itu ditelinga nya.
"tunggu kurasa ada yang salah" belum sempat ia mendengar seseorang di seberang sana berbicara ia menjauhkan ponselnya.
"jihoon? Seingatku aku tak punya nomor jihoon-hyung" ucapnya bermonolog. Mingyu kembali menempelkan ponsel itu ditelinganya.
"halo? Apa ini mingyu?"Terdengar suara berat menyapa indera pendengarannya. Suara ini terdengar familiar.
"kurasa, ponsel kita tertukar. Ini aku Wonwoo"
Mingyu menjauhkan kembali ponselnya untuk memastikan, dan benar saja ponsel mereka benar-benar tertukar. Mungkin tertukar saat mereka duduk berhadapan di café tadi, dan kebetulan kedua ponsel itu bersebelahan.
"jadi, apa kau ingin ponsel mu sekarang? Aku akan keapartemen mu kalau begitu"ucap Mingyu.
"kudengar dari Jihoon, apartemen mu di gangnam, kebetulan aku dan Jihoon ada disekitar gangnam. Apa aku bisa ke apartemen mu? Aku benar-benar membutuhkan ponsel itu"
"kalau begitu kau bisa datang ke…." Mingyu menjelaskan alamat rumahnya. Setelah Wonwoo berhasil memahami rute itu , ia menutup telponnya dan mengembalikan ponsel Jihoon yang tadi dipinjamnya.
Apa ia baru saja mengatakan jika ia merindukan Wonwoo? Lalu , apa kah tadi Wonwoo bilang ia ingin berkunjung kerumahnya? Hey , kenapa kau terlihat begitu senang Kim Mingyu-ssi.
Mingyu bergegas keluar kamarnya, tadinya ia ingin mebersihkan ruang tamu. Tapi , ia lupa rumah nya selalu bersih. Ia melangkah kan kaki nya menuju dapur, untuk melihat masih ada tidaknya persediaan cemilan untuk ia suguhkan nanti.
"bagus! Semuanya lengkap" ucapnya bermonolog.
Tak lama setelah itu, bel rumah nya berbunyi. Mingyu dengan setengah berlari menuju pintu depan , ia melihat intercom untuk memastikan apa itu tamu yang ia tunggu. Dan benar saja , ia melihat Wonwoo disana. Mingyu pun membukakan pintu-
"hai hyung!" – memberikan senyum terbaiknya dan mempersilahkan Wonwoo untuk masuk.
"uhm- hai Mingyu, ini ponsel mu. boleh ku minta ponsel ku?" Tanya Wonwoo to the point, sambil memberikan ponsel Mingyu yang dibawanya.
"kau akan langsung pulang?"Tanya Mingyu , Wonwoo hanya mengangguk sebagai balasan.
Ada gurat kecewa pada wajah tampan Mingyu, tapi sayang , Wonwoo tak menyadarinya.
"ayo masuk hyung, aku tak terbiasa membiarkan tamu ku langsung pulang bahkan ketika ia belum masuk" – tentu saja, karena selama ini tamu Mingyu (read: Soonyoung) selalu menginap ketika ia berkunjung.
"tidak Mingyu , aku-"
"hyung~" bahkan Wonwoo belum menyelesaikan kalimatnya. Mingyu malah merengek memintanya untuk tinggal beberapa menit. Biasanya Mingyu tak seperti ini, ia tak pernah merengek dihadapan siapapun kecuali Soonyoung. Biasanya ia bersikap sangat lelaki, tapi entah kenapa mulutnya malah merespon seperti itu.
Wonwoo yang tak tega pun akhirnya menuruti permintaan Mingyu untuk singgah sebentar, toh dia dan Jihoon akan pulang masing-masing nantinya, jadi tak ada yang perlu menunggu dan ditunggu.
Ketika Wonwoo masuk, wajah Mingyu sumringah tanpa sebab, ia bahagia tapi ia tak tau apa alasan di balik kebahagiaan itu.
"err- apartemen mu lebih besar dari punya kami" ucap Wonwoo , ia terperangah melihat apartemen Mingyu , luas dan desain interior yang minimalis tapi berkelas.
"duduk lah hyung" pinta Mingyu. Lihatlah , bocah yang beberapa menit lalu merengek seperti anak TK kini berubah menjadi sosok yang uhm-lebih dewasa.
Wonwoo hanya menuruti Mingyu. Ia hanya memandangi televisi dihadapannya. Ia bingung , bagaimana bisa lelaki seperti Mingyu membiarkan orang yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu merengek memintanya untuk bertamu.
"apa kau minum alkohol?" Tanya Mingyu dari arah dapur.
Wonwoo menoleh kebelakang melihat Mingyu yang sepertinya sedang menyiapkan sesuatu. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya , menghampiri pria yang setahun lebih muda darinya itu.
"aku lebih suka cola" ucap Wonwoo yang kini sudah berada disebelah Mingyu.
"sepertinya diluar sedang hujan. Kau mau sesuatu? Tapi aku hanya punya ini" Mingyu tadi melihat kearah jendelanya, hujan yang turun cukup deras. Jadi ia menawarkan Wonwoo untuk memakan sesuatu yang baru ia beli di minimarket tadi sore.
Wonwoo menatap jendela itu sendu. Seakan menyadari perubahan raut wajah Wonwoo, Mingyu pun berkata "tunggulah sampai hujan nya reda,hyung. Aku tak akan melakukan hal buruk, sumpah"
Pria emo itu tersenyum , ia melihat beberapa makanan yang ada didapur, semuanya makanan bungkusan. Ia bisa melihat ada beberapa ramen , dan cemilan lainnya , juga ada samgak kimbab (nasi yang digulung berbentuk segitiga.)
"Seungcheol-hyung pernah mencampurkan beberapa makanan dari minimarket. Dan itu enak" Wonwoo berujar. Mingyu sedikit mengernyit sebelum akhirnya ia paham.
"bagaimana kalau kita mencampurnya? Kurasa semuanya cocok-cocok saja jika digabungkan"
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8.30. Wonwoo dan Mingyu baru saja menyudahi acara makan mereka. Hanya menu simple dari minimarket. Ramen dicampur dengan samgak kimbab dan ditambah dengan keripik kentang. Juga dua kaleng cola.
"hyung ponsel mu berbunyi" ucap Mingyu . Wonwoo menoleh, Jihoon menelponnya. Pasti ia khawatir.
"Halo Ji-"
"yak! Jeon Wonwoo! Mau selama apa kau disana hah?"
Wonwoo sedikit menjauhkan ponselnya.
"Sampai hujannya reda Jihoon-ah" Wonwoo langsung menutup ponselnya. ia tau , jika Jihoon tak akan berhenti menceramahinya.
"kenapa ?"tanya Mingyu
"bukan apa-apa"jawab Wonwoo singkat.
"..."
"..."
hening. mereka tak berbicara , hanya menikamti telivisi dan suara hujan. Bahkan hingga waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dari samping , Mingyu dapat melihat bahwa Wonwoo mengantuk. Ia berusaha terjaga, kh matanya yang berusaha membuka terlihat lucu di mata Mingyu.
"apa ponsel mu sangat penting?" tanya Mingyu berusaha mencairkan suasana hening ini.
Wonwoo terkesiap, ia yakin ia sempat tidur tadi, beberapa detik.
"tentu saja penting, memangnya kau tak butuh Hp" jawab Wonwoo.
Mingyu terus mengajak Wonwoo berbicara. Ia menanyakan segala hal meskipun Wonwoo hanya menjawab seadanya.
"hyung, apa kau ingin pulang, hujan nya sudah reda" ucap Mingyu setelah hampir 1 jam ia berbicara.
"..." tak ada balasan. Mingyu pun melirik pria disebelahnya, dan ternyata Wonwoo sudah tidur dengan nyenyaknya. Ia bahkan lupa betapa murkanya Jihoon tadi.
Mingyu tersenyum. ia mengusap surai Wonwoo pelan.
"menginaplah , hyung"
TBC
haiii... aku balik lagi bawa chapter 3. meanie-nya udah muncul *yeay
terimakasih banyak untuk yang udah support aku dan cerita ku. *bow*
maaf kalau di chapter ini tidak memuaskan dan juga membingungkan.
last, RnR juseyoo~
