Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo bertebaran, gaje, abal, OOC(mungkin) dll
Yosh minna, balik lagi bersama author abal bin gaje alias 'momo haku' jeng jeng(dateng sambil bawa marching band(?)) ah sudahlah,lupakan kegilaan saya yang tidak berarti ini. Dan ini dia chappy ke 4 yang saya suguhkan kepada readers semua..
Tak lupa saya ingin mengucapkan rasa terimakasih saya sama semua readers yang mau membaca plus me-review cerita saya.. review kalian adalah penyemangat saya jadi jangan sungkan-sungkan mereview lagi ya ;), dan sekali lagi terimakasih banyak :')
Oh iya saya juga mau berterimakasih sebanyak-banyaknya kepada mama saya yang mau mengkoreksi cerita saya ini, dan saya harap dalam cerita ini tak banyak typo yang bertebaran muehehe amiin :D
Yosh kalau gitu selamat membaca readers :D
.
.
Preveous
"Hey!" sapaku kepada laki-laki itu.
Dia berbalik, tersenyum lalu memelukku erat."Aku kembali Hime," ucapnya sambil memelukku dengan hangat.
Normal POV
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedang menatap mereka dengan tatapan penuh kemarahan karna terbakar cemburu.
"Baru ku sadari ternyata aku masih mencintaimu Hinata," gumamnya lirih. Dan ternyata laki-laki itu adalah Sasuke.
.
.
Hatinya serasa hancur sekarang ketika melihat Hinata tengah di peluk oleh seorang laki-laki yang tentu sangat asing dimatanya.
Tangannya terkepal erat, tatapannya masih menatap kedua insan yang masih saling berpelukan itu.
Sasuke merasa, secara tak langsung perbuatannya selama ini kepada Hinata terbalas sudah. Ia tak tahu harus berbuat apa, tidak mungkin dia datang menemui Hinata dan memarahinya dengan alasan tak mengerti perasaan Sasuke karna toh Sasuke duluan lah yang bersikap seperti itu kepada Hinata.
Akhirnya dengan berat hati, Sasuke berbalik dan meninggalkan kedua insan itu. Sasuke lebih memilih menikmati karmanya di banding harus mendatangi Hinata dan ujung-ujungnya mempermalukan dirinya sendiri.
Hingga kepergian Sasuke pun, Hinata dan laki-laki tadi tak sadar kalau mereka di perhatikan.
Laki-laki itu melepaskan pelukannya lalu memegang pundak Hinata sambil menatap Hinata dengan tatapan hangat. "Aku benar-benar merindukanmu Hime, sangat.." ucapnya pelan dan lembut.
Hinata ikut tersenyum lalu mengangguk. "Aku juga merindukanmu Neji-nii, kalau begitu bagaimana kalau kita masuk dulu?" ajak Hinata seraya membuka pintu tokonya. Neji mengangguk lalu kini mereka berjalan masuk.
—oOo—
Gemericik hujan, turun membasahi jalanan Konoha. Semilir angin yang berhembus ketika hujan di saat musim gugur terasa begitu dingin hingga serasa menusuk sampai ke tulang. Dan hal itu membuat Hinata yang tengah duduk di kursi tokonya jadi menggigil kedinginan, padahal dia sudah mengenakan swetter ungu hangatnya.
Hinata menggosok-gosokkan kedua tangannya dan meniupkan kepulan nafasnya untuk menyalurkan kehangatan.
Hujan ya? Entah kenapa ketika hujan aku jadi mengingat kejadian ketika aku bertemu dengan Sasuke. gumam Hinata dalam hati. Ya, Hinata jadi mengingat kejadian ketika ia bertemu dengan Sasuke. Dan hal itu membuat hatinya sakit lagi.
Oh ayolah Hinata, untuk apa kau memikirkannya terus? Toh mungkin saja dia sudah tidak memikirkanmu lagi, dan dia juga sudah jadi milik orang lain. Jadi kau sudah tidak ada harapan kan? Ucap Hinata dalam hati, ia berusaha untuk menguatkan dirinya. Berusaha untuk tidak menangisi Sasuke lagi.
Ketika ia tengah berkutat pada pemikirannya sendiri, tiba-tiba..
"Apa sekarang udara begitu dingin, sehingga kau sampai menteskan air mata begitu?" Pertanyaan Neji yang seperti sebuah pernyataan membuat Hinata baru tersadar akan sesuatu.
Ia baru tahu kalau ia menangis. Hinata menghapus air mata yang membasahi pipinya dengan tergesa-gesa.
"Eh? I-iya sa-sangat dingin," jawab Hinata tergagap, ia sangat panik karna Neji mengetahui kalau ia menangis.
Neji yang sedaritadi di belakang Hinata kini berjalan menghampiri Hinata, dan berhenti tepat di sebelahnya. Lalu ia membuka jaket jeans miliknya dan ia pakaikan pada Hinata.
"Eh? kau tidak dingin?" tanya Hinata sambil menatap jaket Neji yang sudah melekat di tubuhnya— ia tak mau melihat wajah Neji karna ia malu bila Neji melihat wajah menangisnya lebih lama lagi.
"Tidak, kau saja yang pakai. Kau jauh lebih membutuhkannya daripada aku," jawab Neji, lalu kini Neji sudah jongkok di depan Hinata.
"Kau kenapa?" tanya Neji cemas.
"A-aku ti-tidak apa-apa," Jawab Hinata, Neji tahu Hinata sedang berbohong dan Neji sangat tahu tadi Hinata mengeluarkan air mata bukan karna dingin tapi karna Hinata sedang sedih. Neji sudah sangat mengenali sepupu yang sangat ia sayangi ini lebih dari siapapun.
"Kemarikan tanganmu," ucap Neji sambil mengambil kedua tangan Hinata, lalu menggosok-gosokkan dan meniupkan kepulan nafasnya pada kedua tangan Hinata sama seperti yang di lakukan Hinta tadi.
"Kalau kau ingin menangis, menangislah. Aku tahu masalahmu sangat berat, tidak akan ada yang mendengarmu selain aku," ucap Neji di sela-sela kegiatannya menghangatkan kedua tangan Hinata, Hinata memandang Neji dengan pilu lalu tanpa di sadarinya air mata yang sudah mengering mulai menderas keluar bersama isakkan kecil yang terdengar memilukan di telinga Neji. Sejujurnya hati Neji sangat sakit melihat orang yang di sayanginya terlihat sangat terluka. Jika saja Neji tahu siapa orang yang sudah berani membuat sepupunya ini menangis, mungkin Neji sudah menghabisi pria itu. Tapi sayang Neji tak mengetahui siapa pria itu.
Tanpa mereka berdua sadari, lagi-lagi terdapat sepasang mata yang memandang mereka dengan tatapan sangat memilukan. Ternyata lagi-lagi itu adalah Sasuke, karna semenjak kejadian waktu itu Sasuke jadi sering mengawasi Hinata dari jauh.
'Apa kau bahagia bersamanya Hinata?' itulah pertanyaan yang ada di pikiran Sasuke. Tubuhnya serasa melemas ketika melihat kedua tangan Hinata di genggam penuh kehangatan oleh pria yang masih tidak ia ketahui siapa.
Tapi Sasuke, kau salah jika mengira Hinata sudah bahagia. Karna kau tidak mengetahui di balik semua kejadian yang kau lihat, Hinata sedang menangis. Menangis karna dirimu.
Dengan rasa putus asa yang luar biasa besar, Sasuke berbalik dan berjalan menjauhi kedua insan itu.
Sasuke berjalan menuju mobilnya dengan sembrono, sampai sering kali ia menyenggol beberapa orang dan membuat orang-orang itu kesal padanya.
Ia terlihat sangat hancur sekarang, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia merasa hidupnya seperti tak berarti lagi ketika melihat Hinata sudah bersama orang lain, ia merasa seperti tak punya pegangan dan tujuan Hidup.
Sasuke membuka mobil dengan kasar, lalu menghempaskan tubuhnya pada kursi pengemudi lalu menutup pintu mobilnya lagi-lagi dengan kasar.
"Aaaaaaargh!" teriaknya frustasi. Sasuke hiraukan tatapan orang-orang yang memandang mobilnya dengan bingung.
"Hinata.. Hinata.. Hinata.." ia panggil nama itu berulang-ulang, dalam hati ia merutuki kebodohannya yang sudah mencampakkan Hinata, yang sudah membuang Hinata, yang sudah membuat Hinata terluka sampai akhirnya Hinata berpaling ke laki-laki lain.
"Apa tidak ada satu kesempatan untukku?" tanya Sasuke pelan, ia memang berharap Hinata memberikannya satu kesempatan untuk memperbaikki semuanya. Tapi apa semua itu mungkin terjadi? Entahlah hanya Tuhan yang tahu jawabannya.
Kini Sasuke sudah menyandarkan tubuhnya pada jok mobil lalu menutup kedua matanya.
'Tuhan tolong kembalikan Hinata padaku, beri aku satu kesempatan untuk memperbaikki semuanya. Beri aku satu kesempatan untuk membahagiakannya, beri aku kesempatan untuk memilikinya seutuhnya. Hinata maafkan aku yang baru menyadari betapa pentingnya dirimu dalam hidupku, betapa besarnya rasa cintaku padamu.' Ucap Sasuke dalam hati. ia masih merutuki kebodohannya yang sudah meninggalkan Hinata yang begitu berharga untuknya.
—oOo—
Semenjak hari itu, hidup Sasuke menjadi berantakkan. Ia bahkan tak merasa memiliki nyawa— ia merasa sekarang dirinya seperti raga tanpa nyawa. Sasuke merasa dirinya menjadi tak berarti lagi, namun dari situ sedikit demi sedikit tanpa Sasuke sadari ia telah meruntuhkan kesombongannya dan Sedikit demi sedikit ia mulai meruntuhkan gengsi yang selalu ia pertahankan.
Kini Sasuke tengah berjalan di daerah Konoha street dengan langkah gontai, tatapannya kosong. Ia berjalan tanpa arah, tanpa tujuan.
Dan ketika itu ia melihat seorang gadis tengah membeli bunga, gadis yang dulu menjadi separuh nyawanya. Gadis yang sangat ia cintai. Dan gadis yang sangat ia rindukan, Hyuuga Hinata.
Entah ada keberanian apa yang membuat Sasuke menjadi berani untuk..
Menghampirinya dan meluk Hinata dengan erat.
Sasuke menghembuskan nafas lega, ia merasa seluruh perasaan rindunya kini tersalurkan hanya dengan sebuah pelukan hangat.
'Brukk!' Hinata mendorong Sasuke hingga Sasuke terjatuh.
Kini Sasuke dapat melihat Hinata menatapnya kaget sekaligus bingung.
"Kenapa kau memelukku?" tanya Hinata.
Sasuke tak menjawab pertanyaan Hinata, hanya terus memandangnya dengan tatapan 'aku merindukanmu Hinata.'
Hinata menghela nafas pelan, entah kenapa ia merasa tak tega melihat Sasuke seperti itu.
"Ayo, sebaiknya kita bicara di tokoku saja," ajak Hinata, lalu berjalan mendahului Sasuke.
Sasuke segera berdiri lalu berjalan mengikuti Hinata dari belakang.
.
Sasuke kini tengah tersenyum ketika memandangi iris mutiara milik Hinata yang menurutnya sangat indah, ia begitu lega akhirnya ia bisa bertatapan langsung dengan Hinata lagi.
"Jadi kau mau kemana tadi?" tanya Hinata sambil menyesap coklat panas miliknya.
"Tidak kemana-mana, hanya ingin berjalan-jalan saja," jawab Sasuke, sebenarnya Sasuke berdusta pada Hinata. Karna yang sebenarnya terjadi ia sendiri pun tidak tahu mau kemana ia pergi, ia hanya mengikuti langkah kaki yang menuntunnya.
Hinata hanya mengangguk sambil berkata 'oh' saja.
"Apa kau sudah bahagia sekarang Hinata?" pertanyaan Sasuke membuat Hinata sanga kaget sekaligus bingung. 'Kenapa Sasuke bisa bilang begitu?' Tanya Hinata dalam hati.
"Maksudku, kau sudah punya pacar kan? Aku ucapkan selamat ya, aku turut—"
"Tunggu dulu, kau bilang aku sudah punya pacar?" tanya Hinata, kini Hinata tengah mengernyitkan dahinya—bingung.
Sasuke mengangguk, "ku kira pengorbananku ini akan ada artinya tapi ternyata semuanya sia-sia ya," ucap Sasuke sambil tertawa hambar.
Hinata semakin tak mengerti arah pembicaraannya ini. 'Apa yang di maksud Sasuke dengan pengorbanan yang sia-sia? Dan kenapa Sasuke bilang kalau sekarang aku sudah punya pacar?' banyak pertanyaan yang keluar di pikiran Hinata.
"Kenapa kau tidak mengenalkan lelaki itu padaku Hinata?" tanya Sasuke seraya berusaha mengukir sebuah senyum manis namun terkesan memaksa bagi Hinata.
"Lelaki itu? Siapa?" tanya Hinata balik.
"Jangan menutupinya dariku Hinata, aku sudah tahu kau sudah mempunyai pacar. Kau tak perlu khawatir aku akan terluka, karna aku—"
"Oh ya aku lupa, kau takkan terluka karna kau sudah memiliki Karin yang kini sah menjadi tunanganmu kan? Tapi aku masih bingung apa maksudmu dengan 'lelaki itu'?"
"Lelaki yang selalu bersamamu Hinata, sudahlah kau akui saja dia. kasihan kan dia tidak kau akui hanya karna ingin menjaga perasaanku saja. Dan lagipula jangan sebut nama itu, aku sudah tak punya urusan dengannya," ucap Sasuke sedikit ketus. Emosinya sudah mulai menyulut karna tak kunjung mendapat jawaban pasti dari mulut Hinata.
Hinata sangat kaget mendengar pernyataan Sasuke yang menurutnya sangat mendadak dan sulit di percaya. Kini ia tengah menaikkan sebelah alisnya, "Sudah tak punya urusan? apa maksudmu?"
"Aku sudah memutuskannya, ku kira dengan memutuskannya aku bisa kembali padamu. Tapi sepertinya dugaanku salah ya?" tanya Sasuke yang sebenarnya di tujukan untuk dirinya sendiri, terdengar nada kecewa di sana.
"Kau menyalahkanku? Kau sendiri yang memilihnya dan kau sendiri pula yang memutuskannya kan?!"
"Ya! Aku memutuskannya karna dirimu. Karna dirimu yang sudah membuatku gila, karna dirimu yang sudah membuatku jatuh cinta dan karna dirimu yang membuatku sadar kalau kau lebih berarti darinya," jawab Sasuke dengan jujur.
"Apa maksudmu, apa kau—"
"Ya aku masih sangat mencintaimu Hinata, dan aku baru menyadari itu. Aku kira dengan memutuskannya kita bisa bersama lagi, tapi ternyata— ah sudahlah, tapi tak bisakah kau menerimaku kembali? Aku benar-benar—"
"Sudah! Cukup! Sebaiknya kau pulang sekarang, jangan memberiku harapan lagi!" potong Hinata dengan suara tinggi sambil menarik tangannya dari tangan Sasuke yang tadi sempat menggenggamnya, kini ia tengah berbalik memunggungi Sasuke.
"Hinata aku benar-benar—"
"Ku mohon pergilah Sasuke! Jangan memberiku harapan lagi!" hardik Hinata lagi dengan suara bergetar.
Mau tak mau, Sasuke beranjak untuk pergi. Namun sebelum itu, "aku akan kembali lagi Hinata, aku akan membuatmu percaya kalau aku serius ingin bersamamu lagi dan bukan sekedar memberi harapan padamu. Aku berjanji akan mendapatkanmu lagi meski aku harus berhadapan dengan laki-laki itu," setelah berkata seperti itu Sasuke berlalu.
Setelah kepergian Sasuke, Hinata menumpahkan air mata yang sedaritadi ia tahan. Ia menangis dengan isakkan yang sangat memilukan. Ia tak memperdulikan para karyawannya yang mengahampirinya dengan khawatir. Yang ia pikirkan saat ini adalah ia harus menumpahkan semua rasa sakit itu.
Kini Hinata menatap pintu dengan tatapan sendu. Pintu yang beberapa menit lalu di lalui oleh Sasuke.
Apa maumu lagi Sasuke? setelah kau menghancurkan semua serpihan hatiku, mengapa kau memintaku kembali ke pelukanmu?
—TBC—
Nah chapter 4 sudah selesai dengan keteparan author yang berusaha keras membuat cerita ini tetep ke dalam genre 'Hurt' tapi sebenernya kerasa gak readers 'hurt'nya? Dan kependekan gak cerita nya? Makin seru atau makin membosankan? Tolong di review ya readers, please tapi jangan 'Flame' yak author masih gak kuat menerima 'flame' yang begitu pueedaaaaas hehe#gomen (_ _) tapi itu bukan berarti author gak nerima kritikan kok, author sangat menerima kritikan asal yang membangun ya readers.
Kalau begitu mohon bantuannya untuk mereview dan sampai jumpa di chappy depan ..
Salam peluk cium manis dari 'Momo haku' ;)
