Love Trial

Kise Ryouta x Kagami Taiga x Shintaro Midorima

Disclaimer : Kuroko no Basuke (黒子のバスケ), Tadatoshi Fujimaki

Genre : Friendship, Romance, BL, Yaoi, Dan tentukan sendiri genre lainnya :D

Warning! OOC, Typo everywhere, Alur berantakan, EYD kacau..

Mengandung unsur YAOI, jadi buat yang ngga suka YAOI Kick out aja deh!


"Ta-taiga-kun…"

Dengan wajah memerah Kise mendekatkan wajahnya ke wajah Kagami. Kise mulai membuka mulutnya dan menutup kedua matanya. Ia ingin sekali mencium Kagami.

"Ryouta-kun, kau mau apa?" Kagami menyentuh kedua pipi Kise.

"A-ano… etto…" Kise tampak kebingungan.

Kise melirik kekanan dan kekiri, ia tidak bisa mengatakan pada Kagami kalau ia tadi mau mencium Kagami. Melihat wajah bingung Kise, Kagami menatap heran orang yang berada tepat diatasnya itu.

"Ah, Ryouta-kun!"

"Eh, Nani?"

"Besok kita tanding yuk! Kita kan udah lama nggak main one on one. Mau ya, Ryouta-kun?"

Kagami tampak sangat senang dan antusias. Mendengar ucapan Kagami, Kise menjadi kesal. Padahal hampir saja ia bisa mencium bibir Kagami, tapi dengan polosnya Kagami mengajaknya bermain one on one.

"Baiklah…"

Kise menyingkir dari atas Kagami. Ia membantu Kagami bangun. Kise berjalan bersama Kagami menuju asrama Kagami. Kagami tampak begitu senang, tapi Kise… Ia merasa sangat kecewa.

"Cih…Harusnya tadi kucium saja dia.." batin Kise.


Kagami mengikat tali sepatunya. Sore itu Kagami dan Kise tengah berada digedung olahraga di sekolah mereka. Kagami tampak begitu bersemangat, ia sangat yakin dengan bermain one on one dengan Kise maka ia akan mengetahui perasaan Kise padanya.

"A-aku terlalu senang sampai tidak bias tidur semalam…" Pikir Kagami.

Benar saja, kini kedua matanya tampak lebih seram dari biasanya. Belum lagi ada banyak orang berkerumun disekitar gedung olahraga tersebut.

"Eh? Kagami-kun mau main basket?" Kuroko mengintip dari dekat pintu.

"Aku rasa ia ingin melampiaskan rasa kesalnya pada Ketua…" Yumi menggelengkan kepalanya.

Disaat yang bersamaan, Midorima tengah berjalan melewati gedung olah raga bersama Takao. Ia melihat banyak sekali siswa-siswi didepan gedung olah raga tersebut. Mereka tampak berebut melihat suatu pertandingan disana. Tiba-tiba Midorima berhenti berjalan.

"Tuan muda, 5 menit lagi rapatnya akan dimulai.."

"Tunggu sebentar…"

Takao tampak bingung, sedangkan Midorima menatap tajam kearah gedung olah raga. Ia tampak sangat serius.

"Ada dia!" Midorima mulai berjalan mendekati gedung olah raga tersebut.

"…." Takao hanya mengikuti Midorima sambal bertanya-tanya dalam hati.

Didalam gedung olah raga, Kagami dan Kise tengah bersiap ditengah lapangan. Mereka hanya menggunakan separuh lapangan untuk melakukan one on one.

Kagami memulai permainan dengan mendribble bola dengan tenang didepan Kise. Kagami tersenyum senang karena ia bias bermain one on one lagi dengan Kise.

"Sudah lama ya, Kita tidak seperti ini Ryouta-kun…"

Kagami mendribble bola melewati Kise.

"Seperti dulu, jadi Kangen…" Kagami tersenyum manis.

Kise merasa kesal. Karena Kagami sama sekali tidak menyadari perasaannya ataupun perhatian Kise padanya selama ini. Bahkan dengan polosnya Kagami mengajak Kise bermain bola.

"Tapi Taiga-kun, Aku sudah bukan aku yang dulu."

Kise merebut bola basket yang didribble Kagami, tanpa sengaja Kise membuat Kagami terjatuh. Kagami melihat Kise tampak begitu kuat dan keren. Kise melakukan sebuah dunk dengan sangat keras. Melihat Kagami terjatuh, Kise langsung memghampiri Kagami dan mengulurkan tangannya pada Kagami.

"Ah, maaf. Kau baik-baik saja, Taiga-kun?"

"Wow. Aku tidak apa… Tadi itu keren sekali Ryouta-kun…" Kagami seraya meraih tangan Kise.

"Benarkah kau tidak apa?"

"Iya aku tidak…"

NYUUUT…

Tiba-tiba Kagami merasa nyeri pergelangan kaki kanannya.

"Ga-gawat…" pikir Kagami.

Kagami tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya. Melihat ekspresi wajah Kagami saja, Kise sudah tau kalau Kagami tidak baik-baik saja. Kise mempererat genggamannya, ia hendak menolong Kagami. Tentu saja ia juga merasa bersalh Karen aialah yang membuat Kagami seperti itu.

"Ta…."

Tiba-tiba seseorang menyentuh pundak Kise. Kise menoleh kearah orang itu. Kise terkejut mendapati sang Ketua OSIS, Midorima, tengah berdiri dibelakangnya. Kagami pun menatap Midorima. Ia merasa sedikit takut pada Midorima.

"Mi-midorima… Ke-kenapa ka.."

Midorima langsung mendekati Kagami. Dan dengan cepat ia menggendong Kagami. Ia menggendongnnya seperti seorang pengantin. Midorima menggendong Kagami melewati pintu gedung olah raga dan pergi meninggalkan semua orang yang ada disana.

"Minggir!" semua orang langsung memberi Midorima jalan.

"Mi-midorima! Apa yang kau lakukan?!"

"Kau itu berisik."

"Ki-kita mau kemana?"

"Ke Klinik."

"Ke-kenapa?!"

"Nggak tau." Midorima hanya memandang lurus tanpa menatap Kagami sedikitpun.

"Ng-nggak tau... apa maksudnya itu…" Pikir Kagami.

Didalam gedung olah raga Kise tampak sangat sedih dan kecewa pada dirinya sendiri. Ia hanya ingin membuktikan pada Kagami kalau dia telah berubah. Tapi Kise juga merasa sangat marah karena Midorima membawa pergi Kagami seenaknya.

"Midorima Shintarou. Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Kise menatap sosok Midorima dan Kagami yang semakin jauh darinya.


Matahari sudah bersinar terik tepat diatas gedung SMA Kaijou. Kagami melirik jam dinding diruang praktek PKK.

"Sudah jam 11…" batin Kagami.

Ia menghela nafas panjang. Ia merasa sangat lelah. Apalagi kejadian kemarin sore membuatnya sangat malu. Midorima Shintarou telah menggendongnya bagaikan seorang tuan putri, tentu saja dia sangat kesal.

"Kuso! Awas saja kalau ketemu.." Kagami memotong bawang dengan sangat cepat.

"Ka-kagami-kun…" Kuroko menyentuh pundak Kagami.

"Eh? Ada apa Kuroko?"

"Tidak apa. Kau tampaknya sangat kesal."

"Ah, Mungkin karena Ketua menggendongnya kemarin…" Yumi tiba-tiba memeluk pundak Kuroko.

"Oh begitu ya, Yoshitaka-san.." Kuroko menatap Yumi.

"Tetsu-kun.. berapa kali aku harus memintamu memanggilku Yumi?"

"Ah, itu tidak mungkin.." Kuroko menunduk malu.

"Huh. Mungkin aku harus menirumu, Kagami-kun.." Yumi melepaskan Kuroko.

"Meniruku? Apanya?" Kagami tampak sangat kesal.

"itu loh. Terluka agar menarik perhatian orang yang disuka.. Seperti kamu dan Ketua kemarin.." Yumi bersiul pelan.

"Yu-yumi!" Kagami sedikit berteriak.

"Tapi kan kamu ditolong sama Ketua…"

"Bukan ditolong.. hmm, emang sih dia menggendongku sampai Klinik… tapi hanya itu saja kok.."

Wajah Kagami tampak memerah, melihat Kagami seperti itu Yumi jadi ingin tertawa.

"Hahaha, bercanda kok Kagami-kun. Aku tau kamu itu sukanya ke Kise kan.."

"I-iya sih.."

Kini Kagami menunduk, ia merasa sedikit baikan saat memikirkan sesuatu tentang Kise. Rasa kesalnya menjadi sedikit berkurang.

"Permisi, kami dari kelas C. Kami membawakan wortel."

Dua orang gadis membawa dua buah kardus berisikan wortel yang baru mereka panen. Yumi dan Kuroko mendekati kedua orang tersebut dan mengucapkan terima kasih pada mereka.

Kedua mata Kagami langsung tertuju pada wortel-wortel tersebut. Ia teringat pada masakan chef yang dipecat oleh Midorima. Dalam hati Kagami, ia merasa ia harus membuat sesuatu menggunakan wortel-wortel itu untuk diberikannya pada Midorima.

"Ah, jangan-jangan Aku…." Kagami langsung mendekati Kuroko dan Yumi.

Ia memilih beberapa buah wortel. Ia memilih wortel tersebut sambal tersenyum senang. Entah apa yang dipikirkannya, tapi yang jelas senyuman Kagami membuat Kuroko dan Yumi penasaran.


Midorima berjalan melewati lorong kelas D. ia berjalan bersama Takao. Tidak lupa ia membawa sebuah pedang kayu yang menjadi lucky itemnya hari ini.

"Percuma saja aku memikirkannya. Aku tetap tidak mengerti." Midorima tampak sangat bingung.

"Aku tidak mengerti.. apa aku jadi bodoh ya? Tapi itu tidak mungkin.."

Takao tampak sangat heran dengan Tuan Mudanya yang berbicara sendiri. Ia juga tidak mengerti kenapa mengapa Tuan Mudanya belakangan ini bersikap aneh setiap kali ada Kagami Taiga.

"Anoo, Midorima-san. Bolehkan aku bertanya?"

"Huh? Apa?" Midorima tidak memperhatikan Takao.

"Kenapa kita melewati kelas D jika kita mau ke kelas B? kenapa kita harus berputar dulu?"

"Aku tidak tau. Tubuhku bergerak sendiri…"

Midorima mengatakannya dengan sedikit ragu.

"Kemarin juga begitu. Urgh! Bikin jengkel aja!"

Baru kali ini Takao melihat tuannya mengatakan sesuatu dengan keraguan. Biasanya Midorima selalu percaya diri setiap kali berbicara.

"OI! MIDORIMAAAAA!"

Seseorang berteriak dari kejauhan. Midorima mendapati Kagami tengah berlari sambal membawa sesuatu ditangannya.

Deg!

Midorima menekan dadanya. Ia merasa sangat aneh, dan Takao juga merasa aneh karena tuannya mendengar suara 'Deg' tepat dari jantung Midorima.

"A-ada apa?" Midorima tergagap, ia masih menekan dadanya.

"Ada apa kau bilang? Kau ini jangan berkeliaran seperti ini kenapa?! Susah tau cari kamu itu!"

Kagami tampak sangat kesal. Lalu dengan wajah memerah ia menyodorkan sebuah tas kecil pada Midorima.

"Apa ini?" Midorima menatap heran tas kecil itu.

"De-dengar ya, Kamu itu menjengkelkan! Aku juga tau kalau aku akan jadi pesuruhmu jika gagal mendapat pacar dalam waktu satu minggu. Tapi kamu sudah menolongku tadi jadi aku harus berterima kasih padamu."

Midorima masih tidak mengerti. Namun wajah Kagami tampak semakin memerah.

"Ja-jadi…" Kagami menunduk.

"Jadi?"

"Ja-jadi te-terima kasih.. Ja-jangan lupa makan!" Kagami langsung berlari dan pergi meninggalkan Midorima dan Takao.

Midorima membuka tas kecil itu. Ia mendapati sebuah kotak bekal didalamnya. Saat ia membuka kotak bekal itu, ia mendapati beberapa macam makanan didalamnya. Dan juga satu hal yang dibencinya, makanan itu mengandung wortel.

"Wortel! Mana bisa dimakan." Midorima menutup kembali kotak bekal itu.

"Midorima-san, ada kertas ditasnya." Takao menyodorkan selembar kertas itu pada Midorima.

"Untuk Midorima. Wortelnya dimakan ya! Kagami." Midorima membaca pelan kertas itu.

Midorima menyerahkan kertas itu kembali pada Takao. Ia langsung memakan beberapa potong wortel yang ada dimakanan itu.

"Huek! Nggak enak."

Midorima merasa wajahnya sedikit memanas dan semakin memanas.

"Tu-tuan Muda…" Takao tampak sedikit khawatir.

"Aku demam. Aku ingin pulang sekarang!" Midorima menatap tajam Takao.

Takao terkejut mendapati wajah tuannya yang sangat merah. Bahkan lebih merah daripada tomat matang. Midorima mulai berjalan kembali menuju kelasnya. Dari kejauhan Takao berkata sangat lirih.

"Tu-tuan itu bukan demam…"


"Ah! Akhirnya lega juga!" Kagami tampak begitu senang.

Kagami sedang duduk bersama dengan Kuroko dan Yumi. Mereka menikmati makan siang mereka bersama dikelas.

"Kau kenapa, Kagami-kun?"

"Tetsu-kun, kau tidak tau? Kagami-kun baru saja berterima kasih pada Ketua loooo…"

"Benar Kuroko. Aku kesal karena belum berterima kasih padanya, tapi sekarang sudah terasa lega. Hahaha…"

Saat mereka tengah asik berbincang-bincang, seorang gadis dikelas mereka mendekati Kagami. Ia menyentuh pundak Kagami dan memberi tau Kagami bahwa ada seseornag yang mencari dan menunggunya didepan kelas. Kagami menoleh kea rah pintu kelas, ia mendapati Kise tengah berdiri disana menggunakn seragam olah raga.

"R-ryouta-kun!" Kagami berjalan mendekati Kise.

"Ta-taiga-kun.."

"Ada apa?"

"Hmm, Taiga-kun kau baik-baik saja?" tersirat kekhawatiran diwajah Kise.

Kagami pun hanya tersenyum padanya.

"Iya, aku baik-baik saja kok.."

"Ma-maafkan aku. Aku hanya ingin menunjukkan padamu kalau aku sudah berkembang, tapi aku malah melukaimu seperti kemarin…" Kise menunduk dalam, ia merasa sangat bersalah pada Kagami.

"Tidak apa kok. Aku juga salah karena tidak hati-hati kemarin." Kagami mengusap kepala Kise.

"Be-benarkah?"

"Iya. Lagian, sekarang kau hebat sekali Ryouta-kun.. Aku sempet kaget loh kemarin.."

Kagami dan Kise mulai berbincang-bincang dengan asiknya di dekat pintu kelas Kagami. Mereka bercanda dan tertawa ria bersama. Mereka bahkan berjanji akan bertemu lagi ditaman seperti biasanya besok siang.


Saat pelajaran matematika Kagami sedikit melamun. Ia memutar-mutar pensilnya, ia tampak bingung karena sudah 3 hari berlalu tapi ia masih belum mendapatkan seorang pacar.

"Sepertinya aku harus segera menyatakan cinta pada Kise." Pikir Kagami.

"Lalu janjiku pada Midorima…"

"Apa janjimu padaku?"

"itu loh. Agar kamu mengakui aku dan kelasku…"

Kagami membeku. Ia menyadari ada yang aneh saat itu. Saat Kagami menoleh ke sebelah kanannya, ia mendapati Midorima tengah duduk disana.

Grtak!

"Ke-kenapa ada kamu?! Kenapa kamu ada dikelas D?" Kagami bangkit dari bangkunya.

"Aku disini karena aku nggak ngerti."

Kagami menatap bingung Midorima. Ia tidak tau apa hal yang tidak dimengerti oleh Midorima, karena banyak orang bilang kalau Midorima itu seorang jenius. Jadi tidak mungkin ada hal yang tidak dimengerti olehnya.

"Kenapa aku menolongmu? Kenapa aku sangat penasaran padamu? Apa yang kupikirkan tentangmu? Aku aka nada disini sampai aku mengerti."

"Eh?"

Kagami merasa sangat aneh, bahkan ini lebih buruk dari yang dibayangkannya. Karena tidak mungkin Midorima sebegitu penasaran padanya.

Kagami kembali duduk, dan senseipun tetap melanjutkan pelajaran. Kagami berusaha berkonsentrasi pada pelajaran, tapi tatapan tajam Midorima membuatnya tidak bisa berkonsentrasi.

"Hoi Midorima, lihat depan sana.." Kagami berbisik pada Midorima.

"Merusak pemandangan!"

Mendengar ucapan Midorima, Kagami menjadi kesal.

"Kalau merusak pemandangan lihat depan sana!" Kagami mulai membentak Midorima.

"Padahal kamu cowok. Nggak cantik ataupun tampan, tapi menarik perhatian. Bikin jengkel aja!"

"Kalau nggak suka bilang aja nggak suka! Mau cari masalah ya?!" batin Kagami.

"Misalnya guru itu.." Midorima menunjuk sensei yang tengah mengajar dikelas 2-D.

"Eh?"

"Walau dia tau ada yang ngobrol saat pelajaran tapi dia nggak berani memarahiku. Nggak Cuma dia, bahkan semua orang tidak ada yang berani padaku. Harusnya begitu, tapi kenapa kamu nggak? Kau bahkan sangat berani padaku, dan menentangku. Bahkan kau membuatku makan wortel."

"Wajar kan! Karena aku nggak takut sama kamu!" Kagami hanya melirik Midorima.

JLEEEB!

Midorima merasa jantungnya seperti tertusuk panah. Ia tidak tau apa yang ia rasakan tapi kata-kata Kagami sangat menusuk baginya.


Bel istirahat telah berbunyi. Midorima masih saja berada dikelas Kagami. Ia masih penasaran dengan semua hal tentang Kagami. Ia duduk dibangku sebelah kanan bangku Kagami sambal membaca sebuah novel. Tiba-tiba Yumi mendekatinya dengan wajah ceria.

"Ketua! Kau sangat menyukai Kagami-kun ya?" Yumi berbicara dengan nada menggoda.

"Sangat Suka?"

"Iya dong. Perasaan jadi galau, hati terasa perih lalu terasa ada yang jleeeb. Bukan kah itu tandanya sangat suka?"

"Apa iya?"

Midorima memikirkan kata-kata Yumi. Ia bahkan tidak tau apa itu sangat suka yang dimaksudkan oleh Yumi. Yumi hanya tertawa senang melihat ekpresi wajah Midorima yang tampak kebingungan.

"Hahaha.. Iya, iya. Tapi sayangnya Kagami-kun sukanya sama Kise-kun. Saying sekali ya Ketua."

"Kise? Kise Ryouta?"

"Iya Ketua benar sekali. Haduh Ketua memang orang yang jenius deh."

"Kise Ryouta.." guman Midorima.

"Yups. Padahal tadi Kagami-kun bilangnya mau ke toilet, sebenernya dia lagi makan siang sama Kise-kun ditaman sekolah.."

Midorima menjadi kesal mendengar ucapan Yumi. Ia segera bangkit dan keluar dari ruang kelas 2-D. Dada dan kepalanya terasa sangat panas. Yang jelas ia merasa sangat tidak suka pada Kise Ryouta.


To be Continue