The Fifth Season

.

.

.

.

Cast : DBSK, SUJU, BTS, EXO dll

Genre : Yaoi, Drama, Romance, Friendship, Angst, Hurt/Comfort

Rating : T

Alur maju mundur cantik~ secantik dan semulus paha Jaemma hahahahaha~

DLDR yaaa~

.

.

.

.

.

.

.

~ Chapter 3 ~

.

.

.

.

.

.

Dua minggu ini menjadi hal terberat untukku saat mendengar malaikatku menangis histeris meratapi kelumpuhannya itu, yang mampu aku lakukan saat ini adalah menemaninya. Membuatnya bersemangat untuk kembali berjuang.

Saat ini aku tengah berjalan menuju ruang rawat Jaejoong, pulang kuliah memang selalu aku manfaatkan untuk merawat Jaejoong. Keluarga Jaejoong memaksaku berhenti bekerja dan focus pada Jaejoong. Mereka membiayai kehidupanku walaupun aku sudah menolak. Keluarga Kim adalah keluarga yang tidak terbantahkan.

"Jadi... Kau memutuskanku karena aku lumpuh?"

Saat memegang knop pintu akumendengar suara Jaejoong, aku menghentikan gerakanku dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

"Ya"

"Ah... Baiklah"

"Dan... Aku dijodohkan dengan Chaerin, kami akan bertunangan minggu depan"

"Ck... Hebat... Sahabatku akan bertunangan dengan mantan kekasihku"

"Akui saja, masa emasmu sudah lewat Jaejoong ah, aku berteman denganmu untuk memupuk populeritas dan sekarang sepertinya kau sudah tidak ada harganya lagi"

Suara yeoja itu membuatku mual, ucapannya sangat tidak pantas dan aku tahu siapa Chaerin, sahabat Jaejoong yang menempel padanya kemana – mana, sekarang dia akan bertunangan dengan Seunghyun? Kekasih Jaejoong?

"Lebih baik kalian pergi dari sini"

Suara malaikatku terdengar datar namun aku bisa mendengar suara malaikatku bergetar, dia pasti sangat sedih. Aku ingin memeluknya saat ini.

"Baiklah kami pergi, lagipula tidak ada hal penting lagi yang ingin kami sampaikan padamu, selamat menikmati kelumpuhanmu. Ayo pergi sayang"

Aku menjauh dari pintu, bersembunyi sembari menunggu mereka keluar. Aku marah mereka menghina malaikatku yang rapuh, aku tidak terima bagaimana mereka merendahkan malaikatku itu. Aku tidak terima!

BRAKKK!

Aku terkesiap, aku berlari menuju ruang rawat Jaejoong dan menemukannya duduk di lantai dengan tangan mengambil apapun yang ada di dekatnya kemudian melemparkannya kesembarang arah. Bahkan jarum infusnya terlepas tapi diatidak peduli dan terus melemparkan barang – barang yang ada di sekitarnya.

"Jaejoong ah..."

"Pergi! PERGI! AKU TIDAK BUTUH DIKASIHANI!"

"Tidak, aku tidak pernah mengasihanimu, tidak"

"Pergi!"

BRAKK!

"Akkkh!"

DEGH

Gelas beling yang retak itu mengenai keningku dan membuat suasana di dalam ruang rawat menjadi sepi karena aku berteriak kesakitan setelahnya.

"Pergi! Hiks... Pergi!"

"Tidak..."

Aku berjalan mendekatinya, berjongkok dan memegang bahunya, memaksanya untuk menatapku. Wajahnya basa hkarena airmata namun dia menatapku kaget.

"Kau berdarah"

"A-ah?" Aku langsung menyentuh keningku, ya... Keningku berdarah "Tidak apa – apa, aku akan mengobatinya. Ayo kembali ke tempat tidurmu"

"Tidak! Aku ingin mati saja! LEBIH BAIK KALIAN MEMBIARKANKU MATI DARI PADA HIDUP PENUH HINAAN SEPERTI INI! BIARKAN AKU MATI!"

PLAKK!

Tuhan...

Apa yang sudahakulakukan? Aku yang menyayanginya kenapa malah menamparnya hingga dia kembali menangis.

"PUKUL AKU SAMPAI MATI! AKU TIDAK MAU HIDUP! TIDAK! TI-MMHH!"

Karena tidak bisa lagi melihatnya menangis dan berteriak aku menciumnya, aku menciumnya hanya untuk menenangkannya, sungguh! Dan Jaejoong tidak bergerak, dia mungkin terlalu kaget dengan tindakanku namun aku tidak peduli!

"Jangan pernah katakana lebih baik mati, tidak... Nyawamu sungguh sangat berharga" Lirihku setelah melepaskan ciumanku

"Berharga? Untuk siapa? Nyatanya tidak ada yang menyayangiku dengan tulus! Lalu untuk apa aku hidup?! "

"Kau... Nyawamu sangat berharga untuk dirimu, appamu, eommamu dan... Aku" Lirihku

"Ap-ap amaksudmu?"

"Aku akan membuatmu seperti semula, aku akan ada di sampingmu untuk membantumu bangkit dari masa kelammu ini. Tapi jangan pernah berkata jika kau lebih baik mati. Tidak..." Jawabku dengan suara lirih

"..."

"Ayo buktikan pada mereka bahwa kau bisa menjadi seperti dulu. Berdiri angkuh dan menatap mereka dengan sombong"

"Aku lumpuh"

"Tidak, kau hanya lumpuh sementara. Kau bisa"

"Kenapa... Kenapa kau begitu baik padaku?"

"Karena... Karena... Aku mencintaimu"

Jaejoong terlihat kaget mendengar pengakuanku tapi aku sudah tidak bisa berbohong lagi, semakin dia rapuh semakin kuat keinginanku untuk menjaganya. Melindunginya agar tidak ada yang menyakitinya lagi.

Dua hari kemudian kedua orangtua Jaejoong mendatangiku dan mengajakku berbicara di ruang dokter, mereka menatapku penuh tanda tanya.

"Kau..Menolak beasiswamu di Oxford?" Tanya Mr. Kim

"Ya"

"Kenapa?"

"Aku memutuskan untuk berada di samping Jaejoong, menemaninya dan membantunya bangkit dari masa sulitnya"

"A-apa?"

"Kau serius?" Tanya Mrs. Kim

"Ya ahjumma"

"Kenapa?"

Aku menengguk ludahku dengan susah payah, aku gugup setengah mati untuk menjawab pertanyaan macam ini.

"Kau mengasihani anakku?"

"Tidak!" Jawabku cepat

"Lalu?"

"Saat pertama kali aku masuk keuniversitas, aku melihat senyumnya. Sejak saat itu aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya, aku mencintai anak kalian. Tapi... Tapi kalian tenang xaja aku tidak berpikiran jauh, aku tahu aku tidak pantas untuknya yang seperti malaikat. Dia harusmendapatkan yang terbaik"

Kedua orangtua Jaejoong serta sang dokter yang ternyata masih satu keluarga dengan mereka itu menatapku dengan tatapan yang tidak aku ketahui. Mrs. Kim tersenyum padaku dan menagnggukkan kepalanya.

"Lalu kau mau mendampingi anakku sampai kapan?"

Aku menundukkan kepalanya, suatu saat malaikatku pasti pergi meninggalkanku dengan orang yang dicintainya, bukan?

"Sampai dia bangkit dari keterpurukannya, sampai dia bisa menghargai dan mencintai dirinya sendiri. Sampai dia bisa seperti dulu lagi"

"Jadi kau melepaskan beasiswamu untuk menjaga anak kami?" Tanya Mr. Kim

"Ya ahjusshi"

"Itu beasiswa yang sangat besar. Tidak semua orang bisa mendapatkannya"

"Tapi Jaejoong membutuhkan seseorang yang bisa menemaninya saat masa terpuruknya ini dan aku sudah berjanji padanya untuk ada di sampingnya selalu"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku berjalan menuju kamar rawat Jaejoong, aku memang menolak beasiswa yang diberikan universitas Oxford dan memilih untuk menjaga Jaejoong karena dia membutuhkan seseorang di sampingnya saat ini.

CEKLEK

Saat masuk ke dalam kamar rawat, aku melihat malaikatku tengah tertidur, wajahnya damai tidak seperti saat dia bangun dan meratapi nasibnya yang menyedihkan.

"Kau bisa melewati semua ini, aku akan ada di sampingmu sampai kau kembali berdiri tegak dan menatap tajam mereka yang mencemoohmu"

Hari demi hari terlewati dengan aku yang menemani Jaejoong terapi, Jaejoong hanya mau terapi jika ditemani denganku. Sehingga sepulang kuliah aku langsung menuju rumah sakit agar bisa menemani Jaejoong terapi.

Butuh satu bulan agar dia percaya diri dengan keadaannya karena saat ini dia duduk di kursi roda. Rasa syukur Mrs. Kim selalu ucapkan karena melihat perkembangan anak tunggalnya itu.

"Kau mau kembali kuliah?" Tanyaku saat kami tengah menikmati angin segar taman rumah sakit

"Aku pikir itu bukan ide yang baik"

"Wae?"

"Keadaanku..."

"Kenapa kau masih saja merendah?"

"Tapi" Jaejoong menggigit bibir bawahnya

"Aku akan di sampingmu"

"Hentikan Yunho... Aku tidak menginginkannya, mereka pasti akan mencelaku" UcapJaejoong

"Maaf jika aku terkesan memaksa, aku hanya ingin kau melanjutkan pendidikan"

"...."

"Jaejoong..."

"Aku ingin ke kamar"

"Hah... Baiklah"

Aku mendorong kursi roda Jaejoong menuju kamarnya, aku berharap dia bisa kembali ke kampus dan melanjutkan pendidikannya sampai lulus dengan nilai yang baik.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seminggu kemudian, aku dikagetkan oleh keluarga Kim saat mereka hendak membereskan pakaian Jaejoong di rumah sakit. Besok Jaejoong sudah diperbolehkan pulang setelah hampir dua bulan di rawat di rumah sakit. Tapi bukan itu intinya. Intinya adalah Jaejoong memutuskan untuk kembali ke kampus lusa.

Iya, lusa dia akan kembali kuliah. Aku senang bukan main dengan keputusan Jaejoong itu. Dengan begitu dia bisa melanjutkan pendidikannya dan menjadi orang yang sukses nantinya.

"Tapi... Kau akan menemaniku, kan? Kau akan selalu ada di sampingku?"

Pertanyaan itu terdengar sangat raput di telingaku, aku tersneyum dan mengangguk. Aku tidak ingin malaikatku ragu dengan perasaanku. Dengan keinginan kuatku untuk melindunginya dan selalu ada di sampingnya.

Aku juga meminta keluarga Kim untuk tidak memberitahukan Jaejoong mengenai diriku yang menolak beasiswa di Oxford. Entah kenapa aku ingin menyembunyikan fakta ini untukku sendiri, aku tikda ingin malaikatku tahu hal itu.

"Ak... Aku... takut"

Jaejoong menggenggam erat tanganku saat mobil yang kami tumpangi sampai di area parker kampus dan mengabaikan bagaimana detak jantungku yang menggila karena sentuhan Jaejoong pada tanganku.

"Aku ada di sini, kenapa kau masih takut? Kau tidak rindu suasana kampus atau temanmu?"

"Hah... Teman? Aku tidak memilikinya"

Suara yang terkesan datar itu membuatku ingat bahwa tidak satupun teman kampus Jaejoong datang untuk menjenguk Jaejoong di rumah sakit. Padahal sebelumnya mereka terkesan seperti penjilat yang haus akan perhatian Jaejoong. Malaikatku yang malang... Mereka hanya berteman dengan Jaejoong agar status mereka naik.

"Sudah jangan dipikirkan, aku akan menjadi temanmu mulai saat ini. Aku akan mengantarmu ke kelas dan menjemputmu setelah kelasmu berakhir"

"Kelasmu?"

"Aku tidak ada kelas hari ini, aku akan ada di kantin dan akan ada di depan kelasmu lima menit sebelum kelasmu berakhir"

Jaejoong menganggukkan kepalanya, aku tersenyum dan membuat genggaman tangan kami terlepas secara perlahan. Aku keluar terlebih dahulu untuk mengeluarkan kursi roda dari belakang mobil dan menaruh kursi roda itu di samping kursi penumpang.

Setelahnya aku membuka pintu mobil dan dari situ aku bisa merasakan ratusan mata memandang miobil jaejoong terlebih saat aku membantu Jaejoong turun dari mobil, kami menjadi pusat perhatian.

"Yu-yunho..."Lirih Jaejoong saat aku mulai mendorong kursi rodanya

"Tenanglah..."

Aku bisa melihat tangan Jaejoong terkepal erat dan terlihat gemetar di atas pahanya, dia menundukkan kepala saat semua orang menatapnya. Jaejoong yang dulu berjalan dengan sombong dan angkuh itu sekarang menundukkan kepalanya. Jika dulu orang – orang menatapnya dengan penuh kekaguman dan rasa hormat kini bisa aku rasakan mereka menatap Jaejoong iba bahkan ada yang tersenyum sinis.

Aku tidak akan meninggalkan malaikatku yang rapuh itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi kita akan tinggal di cini?"

"Ya Minnie, sedikit sempit tapi tidak apa – apa ya?"

"Ini becal appa! Min cuka"

"Syukurlah kalau kau suka, kajja... Kita lihat kamar kita"

"Min bobo cama appa?"

"Disini memang ada dua kamar tapi appa ingin kau tidur dengan appa selama disini"

"Oh, appa takut tidul cendilian ya? Iya udah, Min temenin appa deh"

Yunho tertawa mendengar celotehan anaknya itu, di apartemen yang ditinggal Yunho saat ini memang ada dua kamar tapi Yunho ingin Changmin tidur dengannya karena satu kamar itu akan di gunakan Yoochun yang akan menyusulnya ke Korea dua hari lagi setelah semua pekerjaannya selesai.

"Ayo mandi dan istirahat"

"Tapi Min lapal"

"kau tidak jaglag?"

"Min bica kok menyecuaikan dili! Min kan udah bobo lama di pecawat"

"Aigo"

"Min mau jalan – jalan appa~~ ya? Ya? Ya?"

Changmin mengedipkan matanya berkali – kali agar sang appa setuju dengan keinginannya dan Yunho? dia terkekeh karena kesayangannya itu sangat menggemaskan. Dalam perjalanan dari bandara ke apartemen Changmin terus mengoceh, dia sangat menyukai pemandangan di Korea dan ingin segera berjalan – jalan. Semoga saja dengan berjalan – jalan anaknya itu lupa tujuan utamanya datang ke Korea. Semoga saja...

Satu jam kemudian saat jam menunjukkan pukul empat sore waktu Korea, Changmin kini tengah meminum susunya di dot dengan tenang dalam gendongan sang appa yang tengah berjalan kea rah lift yang akan membawanya menuju mobil milik Yoochun.

Ah...

Apartemen yang ditinggali Yunho adalah milik Yoochun sebenarnya dan namja itu memang setahun sekali atau dua kali pulang ke Korea untuk mengurus bisnisnya jadi dia membeli mobil untuk keperluannya di Korea.

Yunho mendudukkan Changmin di kursi penumpang dan memakaikan safety belt –nya, anaknya itu masih tidak terganggu dan masih menyedot susunya dengan semangat. Yunho akan membawa Changmin ke Hongdae saja, menikmati sore di sana dan mungkin bisa makan malam di sana juga. Dia rindu dengan salah satu restoran Korea di sana, tempatnya bekerja dulu.

"Appa~~~ Susunyaaa~~~"

"Aigo... Pegang dulu ya... Appa sedang menyetir" Jawab Yunho setelah melirik botol susu anaknya yang sudah kosong

"Hum"

"Sebentar lagi kitta akan sampai"

"Ke tempat eomma?"

DEGH

Nyatanya Changmin sama sekali tidak melupakan tujuan awalnya kemari, Yunho menghembuskan nafasnya.

"Hari ini tidak bisa baby ah"

"Why?"

"Appa tidak tahu eommamu dimana?"

"Telepon saja"

"Appa tidak tahu nomor teleponnya"

"Ke kantolnya eomma"

"Minnie ah... Minnie lupa perjanjian kita? Hum?"

"Min..." Suara Changmin terdengar lirih, dia tidak lupa kok dengan perjanjiannya dan sang appa

"Baby..."

"Min inget kok appa, Min cuma boleh liat eomma dali jauh kalena eomma cudah bahagia tanpa kita beldua"

Yunho menghentikan mobilnya karena lampu merah, dia memanfaatkan waktunya itu untuk mengambil botol susu Changmin dan menaruhnya di belakang kemudian mengusap helaian lembut rambut Changmin.

"Minnie anak pintar, kan? Minnie senang eomma Minnie sudah bahagia?"

"Iya appa"

"Minnie tidak mau eomma sedih karena kehadiran kita, kan?"

"Iya appa"

Suara Changmin makin terdengar lirih dan tidak lama dia menangis, dia ingin bertemu eommanya, memeluknya dan bertanya kenapa sang eomma tidak pernah menemuinya, dia ingin merasakan bagaimana pelukan sang eomma, apa sehangat pelukan yang selalu diberikan appanya? Atau bagaimana?

"Baby... Jangan menangis sayang... Appa disini... Apa appa saja tidak cukup untukmu?"

"Hiks.."

"Min-"

TIINNNN TIINNNN

Lampu berubah menjadi hijau dan Yunho hanya bisa mengusap rambut Changmin sebelum kembali menjalankan mobilnya. Kalau boleh jujur, hatinya selalu sakit saat Changmin menangisi eommanya. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah janji Yunho pada eomma Changmin, janji untuk tidak pernah menampakkan dirinya lagi di depannya. Tidak sedikitpun. Walaupun dia sangat merindukannya, merindukan musim kelimanya.

Lima belas menit kemudian mereka sampai di tempat tujuan mereka, mau tidak mau Yunho menggendong sang anak yang matanya masih sembab. Mana tega dia meminta anaknya untuk berjalan kaki dengan wajah sayu begitu.

"Lihat Minnie... Itu kafe karakter yang sama seperti di New York bukan?"

"Ugh?"

Changmin yang tadi tengah memeluk erat leher sang appa mengalihkan pandangannya dan menatap sebuah gedung dengan karakter kesukaannya.

"Blown!"

"Iya, Brown... Mau minum di sana?"

"Hum" Changmin mengangguk dengan semangat

Setidaknya Yunho berhasil mengembalikan sedikit mood Changmin saat ini, anaknya itu memasak banyak minuman dan eskrim kesukaannya. Bagi Yunho tidak masalah karena dia selalu yakin anaknya bisa menghabiskan semua itu. Tidak lupa Changmin memesankan minuman kesukaan appanya tapi kali ini sampai dua kopi yang dipesan.

Tapi sekali lagi Yunho menerima saja apa yang Changmin pilihkan untuknya, Changmin itu kesayangannya dan dia akan selalu menerima apa yang Changmin pilihkan untuknya.

"Min Ceneng! Whoooaa~~ Ec klim disini lebih enak appa" Ucap Changmin dengan senang

"Masa?"

"Iya! Ini appa aaaaaa!"

Changmin menyuapkan sesendok es krim vanilla-nya pada Yunho, yang Yunho tahu bahwa anaknya itu memiliki kesukaan yang sama dengan eommanya, sama – sama menyukai es krim rasa vanilla.

"Enak, kan?"

"Iya, kalau Minnie yang menyuapi makin enak"

"Hehehehe... Abic ini kita makan?"

"Minnie mau makan apa? Di sini juga ada makanannya"

"Tidac! Min mau makan macakan Kolea! Kalo makanan dicini Min udah pelnah coba cemua di Nuyok (New York)!"

"Oke oke, appa ajak Minnie makan di restoran Korea, oke?"

"Yaayyy! Min cayang appa"

"Appa juga sayang Min, ayo habiskan dan kita akan berjalan – jalan disekitar sini"

"Tapi... Beli boneka Cooky ya appa?"

Apa lagi itu...

Yunho mana tahu perkembangan masa kini hal – hal seperti itu? Yang penting Changmin senang saja lah...

Tidak lama mereka keluar setelah Changmin menghabiskan sedikit uang Yunho untuk membeli barang – barang yang dia maksud. Mulai dari gantungan, bantal, standing doll, slipper sampai piyama. Ya sudah... Yunho menurut saja. Urusan belanja memang Changmin nomor satu sama seperti eommanya, ups...

Mereka berjalan – jalan di Hongdae dengan Changmin yang berjalan memeluk boneka merah muda barunya itu. Melihat busking, membeli camilan, dan membeli barang – barang lucu lainnya yang Changmin suka sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah restoran.

Yunho tersenyum sendu, restoran ini adalah tempatnya bekerja dulu. Dia bertanya – Tanya apakan teman – temannya masih ada di sini atau mereka sudah pindah?

"Appa?" Changmin menarik tangan appanya karena sang appa hanya diam di depan restoran

"Maaf baby, appa melamun. Ayo masuk"

CEKLEK

Triiinnggg~~

Bunyi lonceng itu masih sama...

"Selamat dat- Yunho?!"

Yunho tersenyum saat namanya diteriakkan dari meja kasir, dia melihat seorang namja yang merupakan pemilik restoran menatapnya dengan kaget.

"Kau Yunho kan!"

"Annyeonghasseo Hong Suk Chun hyung" Sapa Yunho kemudian tersenyum lebar

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Yunho dan Changmin duduk di sebuah ruang VIP restoran Korea itu bersama sang pemilik yang masih tidak percaya bisa bertemu dengan Yunho. Dia menatap gemas pada Changmin yang memakan kimchi sembari menunggu makanan utama mereka datang dengan lahap.

"Kau kembali kapan eoh?" Tanya Suk Chun

"Siang tadi dan anakku meminta untuk jalan – jalan jadi aku kabulkan saja"

"Jadi... Selama ini kau ada di New York?"

"Ya"

"Hey Changmin, kau tidak jag lag eoh?" Tanya Suk Chun setelah menganggukkan kepalanya pada Yunho

"Aniyo~ Min cenang bisa jalan – jalan di Kolea"

"Aigoo... Wajahmu sangat mirip dengan Yunho kecuali matanya" Ucap Suk Chun namun kemudian dia menutup mulut menggunakan tangannya "Maaf"

"Tidak apa – apa" Jawab Yunho

"Iya, Min tau mata Min milip eomma"

"Eoh?" Suk Chun menatap Yunho

"Ya, tapi dia tidak pernah melihat foto eommanya"

"Wae?"

"Aku membuangnya semua"

"Semua?"

"Ya"

Suk Chun menganggukkan kepalanya, dia tahu alasan Yunho menghilang karena Yunho bercerita padanya dulu. Dia melihat bagaimana rapuhnya Yunho, menangis di depannya.

"Bagaimana dia? Apa kau masih bertemu dengannya?" Tanya Yunho

"Eh? Tidak... Dia tidak pernah kemari semenjak kejadian itu"

"Kau tahu dimana dia?"

"Kenapa?"

"Changmin ingin melihatnya"

"MWO?!"

"Ceritanya panjang, aku akan cerita nanti"

"Oke, kau memang harus cerita. Hmm... Tapi kau tahu dia... Dari yang aku dengar sekarang bekerja di perusahaan keluarganya"

"Ne?"

"Tempatnya tidak jauh dari Hongdae"

"Juchi tau dimana eomma?"

"Eh? Changmin mau bertemu eomma?"

"Tidac, hanya melihat dali jauh"

"Wae?"

Changmin mengerucutkan bibirnya.

"Aigo... Kau lucu sekali sih?" Suk Chun mencubit gemas pipi Changmin

"Juchii~~ Cakiiitt~~"

"Kau senang merengek juga ternyata, manja"

"Huh" Changmin menggembungkan kedua pipinya

Tiga jam menghabiskan waktu di sana, Yunho memutuskan untu pulang karena sang anak sudah tertidur dengan nyenyak di atas sofa ruang VIP itu.

"Aku harap ini yang terbaik untuk kalian" Ucap Suk Chun

"Aku harap juga begitu, kalau begitu kami pulang ya"

"Datanglah sering – sering kemari Yunho. Aku menyukai anakmu"

"Jangan jadi pedofil hyung"

"Hahahahhaa... Kau ini ada – ada saja"

"Kalau begitu kami pamit dulu"

"Ya, hati – hati"

"Hum"

Atasan sekaligus sahabat Yunho itu mengantarkan Yunho sampai ke mobilnya, tetap berdiri di pinggir jalan walaupun mobil yang dibawa Yunho sudah menghilang dari pandangannya.

"Kau berhak bahagia walaupun tidak bersamanya Yunho yah..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Besoknya, Yunho membangunkan Changmin dengan sedikit sulit karena anak tersayangnya itu tengah manja. Sampai akhirnya Yunho menggendong Changmin ke kamar mandi dan memasukkan Changmin ke dalam bath up tanpa melepas piyama sang anak.

"APPAA!" Changmin langsung memekik dan membuka matanya, dia menatap tajam sang appa yang kini menertawainya.

"Habis kau tidak mau bangun juga, sudah hampir jam makan siang dan kau belum makan Minnie ah"

"Min ngantuk tau!"

"Tahu kok"

"Kau begitu bialin Min bobo!"

"Ya sudah, Minnie tidur dan appa akan pergi makan siang diluar. Appa akan mencari eomma Minnie sendirian saja"

"MWO?! Aniya aniiyaa~~~ Min ikuutt!"

"Kalau begitu, ayo bersihkan diri"

"Ne!"

Yunho menatap sendu Changmin yang kini melepas piyamanya yang basah dan meulai menyabuni tubuhnya, Yunho masih memikirkan apakah Changmin akan segembira ini jika melihat eommanya tertawa dengan orang lain? Apakah setelah ini anaknya akan memilih tinggal dengan sang eomma dan meninggalkannya sendirian?

"Appa? Kenapa bengong?"

"An-aniya... Sudah bersih anak appa?"

"Iya dong! Lihaaattt~~~ Belcih kaannn?" Changmin menunjukkan tubuhnya yang polo situ membuat Yunho terkekeh dan membantu Changmin membersihkan tubuhnya

Yunho mana sanggup ditinggal oleh Changmin? Dia bertahan hidup karena keberadaan Changmin. Changmin adalah alasannya bisa bertahan selama ini. Changmin... Akan ada di sampingnya terus, kan?

.

.

.

~ TBC ~

.

.

.

.

Anyeong!~~

Cho update lagi...

Lama ya? Ho oh..

Semoga kalian suka,

See u next chap?

Chuuu~~

.

.

.

.

.

Kamis, 11 Oktober 2018