LET IT OUT

.

.

.

By: jungrie12

Yaoi;BoysLove;Sho-ai

AU;SchoolLife

Kim Jongin - Oh Sehun – Others

JonginHun! Seme!Jongin Uke!Sehun

Rated: T

Warning: EYD bermasalah, Typos, Amatir, Abal, Gak jelas.

Don't Like? Don't Read!

.

.

.

Kim Jongin mengaku jika dirinya benar-benar lurus. Bagaimana jika Jongin dihadapkan dengan Oh Sehun, roommate barunya yang ternyata seorang biseksual yang dikenal sebagai orang yang bisa membuat orang yang tidak normal menjadi normal dan.. orang yang normal menjadi tidak normal.

.

.

.

Chapter 4

Enjoy!

Di hari Sabtu yang cerah ini, memang adalah salah satu hari yang sangat ditunggu-tunggu para siswa siswi asrama. Karena setiap hari Sabtu, mereka diperbolehkan pulang ke rumah mereka masing-masing. Itu artinya mereka juga terbebas dari segala tugas-tugas yang menyiksa mereka. Memang benar-benar hari yang ditunggu-tunggu. Termasuk ketua asrama kita, Kim Jongin –Kai.

Hari ini ia berencana untuk pulang ke rumah untuk menemui ayah serta ibunya, ia sudah benar-benar merindukan kedua orangtuanya itu. Sudah dua minggu ia tidak berkunjung, karena minggu sebelumnya ada rapat dari kepala sekolah. Dan kali ini, ia tidak boleh gagal lagi. Ya, itulah ekspektasinya.

Sayangnya, hari ini ia harus mengurus sesuatu–atau lebih tepatnya seseorang–yang membuatnya sangat tidak nyaman. Seorang bayi besar yang tiba-tiba saja menjadi sangat manja dan ingin diperhatikan. Kai sendiri sedikit ngeri saat memikirkan kelakuan teman sekamarnya yang tiba-tiba menjadi lebih sering ber-aegyo dan memohon. Efek demamnya. Ya, Sehun masih demam.

"Jongin~ bisakah kau ambilkan aku air? Tenggorokanku terasa sangat kering," Ugh, lihatlah dia, sekarang dia sudah mulai memohon lagi. Dan Kai dengan terpaksa berjalan menuju dispenser dan mengambilkan segelas air putih untuk diberikan pada Sehun.

Ia mendekati Sehun dan duduk di pinggir tempat tidur. Sepertinya ia harus mengatakannya pada Sehun. Ia benar-benar ingin pulang ke rumah, meskipun ia harus meninggalkan bocah albino ini sendirian dikamarnya ia tidak peduli. Yang terpenting ia ingin menikmati masakan ibunya dirumah.

"Sehun." Kai mulai membuka suaranya.

"Hn."

Sedikit jeda, karena masih ada keraguan untuk mengucapkannya, namun akhirnya Kai berhasil mengucapkannya, "Sehun, hari ini aku akan pulang ke rumah orangtuaku. Jadi kau bisa tinggal disini karena kau masih demam. Atau, kau bisa pulang ke rumahmu nanti saat kau sudah sembuh." Well, itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Kai ucapkan di depan Sehun.

Sehun hanya diam, tak merespon. Ia hanya menatap ke bawah dengan tatapan dinginnya seperti biasa. Kai benar-benar bingung dengan perubahan sikap Sehun yang suka berubah-ubah tiap waktu. Seperti sekarang, kenapa ekspresi wajahnya yang awalnya imut bisa dengan cepat menjadi datar? Ck.

"Pergi saja. Memang siapa yang akan melarang."

Sikapnya sudah kembali, batin Kai.

"Baiklah. Sepertinya kau sudah sembuh, pulanglah sesekali ke rumah orangtuamu. Kau tidak merindukan mereka?" Ini hanyalah sekedar basa-basi Kai saja, jika dijawab ya bagus, tak dijawab pun tak masalah.

Sehun sendiri masih memegangi gelas yang berisikan air pemberian Kai tadi sambil memandangi Kai yang saat ini mulai memasukkan beberapa perlengkapan ke dalam ranselnya. Pulang ya? Memang, ia sangat merindukan ibunya, tapi disaat seperti ini sepertinya tidak bisa. Ia harus ingat, orangtuanya sedang berlibur di luar kota.

Sebenarnya tidak bisa dibilang berlibur juga sih, ayahnya ada urusan pekerjaan dan memang harus dihadiri. Dan jadilah, ayahnya mengajak sang ibu sekalian berlibur. Benar-benar menyebalkan bagi Sehun, karena ia tidak bisa ikut dengan mereka. Dan setelah ini juga, Kai yang biasanya selalu adu mulut dengannya akan pulang juga.

Meskipun hanya dua hari, tapi tetap saja kan Sehun hanya sendiri nantinya di asrama ini. Memang siapa lagi temannya? Taemin? Ia yakin anak itu juga pulang kerumahnya.

Sehun mengalihkan pandangannya saat Kai memergokinya yang tidak berhenti memperhatikan pria tan itu. Biarlah ia menatap ke arah manapun asal tidak pada Kai itu lagi.

"Bagaimana kalau kau ikut denganku?" Sontak Sehun kembali mengalihkan atensinya pada Kai yang kini malah terlihat salah tingkah dan ragu pada hal yang diucapkannya barusan. Ikut dengan Kai? Kenapa lelaki hitam ini malah mengajaknya?

Kai sendiri tidak mengerti kenapa ia mengajak Sehun. Pertanyaan itu lolos begitu saja dari tenggorokannya. Sebenarnya tadi, sambil membereskan beberapa barang yang akan ia bawa, ia memikirkan bagaimana kalau seandainya Sehun ikut saja. Sepertinya, dia juga tidak akan pulang dan Kai merasa sedikit kasihan karena Sehun yang baru saja demam. Siapa yang tahu kalau demamnya akan naik lagi kan?

Bukan, ini bukan perhatian. Kai hanya kasihan pada Sehun. Tentu saja.

Ia masih menunggu Sehun membuka mulutnya, mengucapkan sesuatu tentang menerima atau menolak tawaran yang ia berikan. Tapi, setelah beberapa menit berlalu ternyata lelaki berkulit pucat itu tidak juga membuka suara. Kai mendengus kesal, sekaligus lelah. Karena Sehun hanya menatapnya saja dan tidak menjawab.

"Baik. Kurasa kau memang harus ikut. Aku tidak ingin kerepotan jika tiba-tiba kau demam lagi sedangkan disini tidak ada siapapun dan aku juga sedang malas membersihkan kamarku."

Sehun membuang muka, "Siapa juga yang mau merepotkanmu. Hanya tinggalkan aku kalau tidak ingin repot."

Kai membuang nafas pelan. Dasar keras kepala.

.

.

.

.

.

Mau bagaimanapun. Meski ia sudah menolak berulang kali, tetap saja ia diseret keluar dari kamar dengan tidak elitnya. Dan disinilah ia berakhir sekarang, bersama seseorang yang sukses membuatnya ingin meninju siapapun karna sudah seenaknya memaksakan kehendak. Didalam sebuah metrobus, yang tentunya akan membawa mereka ke rumah sang pelaku tindak kekerasan padanya, Kim Jongin as known as Kai.

Ia hanya memandang jendela sedari tadi, melihat pemandangan diluar sana. Langitnya sangat cerah dan terang. Entah kenapa ia malah jadi memikirkan tentang keluarga Kai yang pastinya akan terkejut melihat anaknya membawa seorang teman bersamanya. Eung, teman ya? Memang sejak kapan mereka resmi berteman?

.

.

.

.

.

Kai mengalihkan pandangannya pada Sehun yang masih saja memandangi keluar jendela. Ia ikut memandang keluar. Ini masih pagi, dan ia benar-benar bosan. Ia yang dingin disatukan dengan Sehun yang diam bukanlah ide yang bagus. Tapi ia sendiri masih belum mendapatkan alasan kenapa ia mengajak bocah albino ini untuk pulang ke rumahnya.

Ia kembali mengalihkan pandangannya ke ponsel ditangannya. Baru beberapa menit, ia mendapat sebuah ide.

Tapi apa Sehun mau ya?Batin Kai.

Bus berhenti di sebuah pemberhentian bus. Sebenarnya ini baru terminal kedua. Masih ada satu terminal lagi untuk menuju kerumah Kai. Tapi ingat dengan ide yang muncul di otak Kai?

Dia langsung saja menarik Sehun keluar dari bus itu. Sehun yang memang tidak mengerti hanya bisa pasrah saja, ia masih mengira bahwa rumah Kai sudah dekat. Tapi, ternyata salah.

Kai malah memberhentikan sebuah taksi, dan masuk ke dalamnya.

"Kenapakau memberhentikan taksi?" Tanya Sehun, terlihat sekali bahwaia kebingungan, namun bukan Sehun namanya kalau wajahnya tidak datar seperti biasa.

"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Ini masih pagi dan sangat sayang kalau kita langsung ke tempatku"Kai menjawab pertanyaan Sehun tidak dengan menatapnya, ia malah kembali ke dunianya berdua dengan ponsel pintarnya yang sekarang menampilkan sebuah game.

Sehun melengos dan membiarkan Kai. Ia hanya diam. Lebih tepatnya mereka hanya diam. Tak ada yang berniat memulai pembicaraan. Keduanya sama-sama tidak suka suara. Mereka lebih suka dengan ketenangan.

Lama dengan keheningan, sepertinya Sehun sudah sedikit jengah, tempat yang mereka tuju benar-benar jauh, kapan mereka akan sampai. Ia sudah lelah, "Sebenarnya kau mau mengajakku kemana, bodoh?"

Kai mengalihkan atensinya pada Sehun, ia juga sudah bosan ternyata dengan permainan yang ia mainkan, bagaimana tidak kalau sedari tadi ia hanya kalah terus-terusan saat bermain. Tck.

"Kau akan tahu sebentar lagi. Kita hampir sampai."

Dan Sehun hanya memutar bola matanya malas saat mendengar jawaban Kai. Lebih baik mereka langsung ke tempat Kai dan ia bisa istirahat ketimbang harus menuruti Kai ke tempat yang entah dimana. Ah, atau seharusnya ia memang tidak usah ikut dengan Kai jika begini. Ia lebih baik tidur di asrama dua hari penuh.

.

.

.

.

.

Akhirnya taksi pun berhenti, dan Sehun terkejut bukan main. Ia merasa dongkol dengan Kai. Apa-apaan pemuda hitam ini, mengajaknya ke sebuah–

"Taman Kota? Shit, Kai." Umpatnya. Sedangkan yang tidak merasa jika baru saja telah diumpat oleh Sehun malah berjalan dengan santai ke sebuah kursi panjang berwarna biru dan mendudukkan dirinya disana. Sehun masih diam. Ia tidak habis pikir dengan Kai, apa yang dilakukannya sekarang?

Dengan terpaksa Sehun mengikuti Kai dan duduk tepat disebelahnya, "Kukira kau akan mengajakku ke taman bermain. Ternyata? Hanya sebuah taman kota? Cih."

Kai masih tidak mengeluarkan ekspresi yang bermakna, "Taman bermain itu hanya tempat untuk anak-anak. Aku lebih suka taman kota."

"Kata siapa? Orang dewasa juga bisa bermain kesana, Kkamjong." Kai mendengus mendengar Sehun memanggilnya dengan nama itu lagi. Baru Sehun yang memanggilnya seperti itu, meskipun kulitnya berbeda dengan orang Korea yang lain, tetapi menurutnya dirinya itu eksotis dan seksi. Err.

"Sudahlah. Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan." Kai berdiri dari duduknya dan mulai berjalan dengan memasukkan tangannya kedalam saku celananya. Membuat siapapun yang melihatnya akan menoleh beberapa kali karena penampilan Kai yang terlihat lebih santai tapi tetap terlihat tampan.

Sehun masih diam di posisinya, mencerna apa yang diucapkan Kai padanya. Perjalanan? Jadi ini bukan destinasi mereka? Ugh, sial. Ingin rasanya Sehun berteriak di depan wajah Kai bahwa ia sungguh SUNGGUH sudah lelah. Apa pemuda hitam itu tidak memiliki batas lelah ya?

"Hei, bocah kurang pigmen, sampai kapan kau akan duduk disana? Perjalanan kita masih jauh!" Kai berteriak dari tempatnya, memanggil Sehun. Apa itu pantas disebut 'memanggil'? Tsk, Sehun ingin mencekik orang yang memanggilnya bocah kurang pigmen itu.

Mereka pun mulai berjalan, mungkin orang yang sekedar melewati mereka akan berpikir kalau mereka berjalan sendiri sendiri dan tidak saling mengenal. Lihat saja Sehun yang berjalan jauh di belakang Kai dan hanya mengikuti lelaki itu yang entah sebenarnya akan membawa mereka kemana.

Tiba-tiba saja Kai berhenti, membuat Sehun ikut berhenti dan membuat jarak agar tidak terlalu dekat. Tapi, melihat Kai yang tidak melanjutkan langkahnya, terpaksa membuatnya mendekat kearah Kai dan menepuk pundak lelaki itu, "Kenapa berhenti, aku sudah lelah bodoh!"

Kai mendengus, Sehun benar-benar terlalu berisik dan banyak mengeluh menurutnya, "Justru itu aku sedang mencari sesuatu." Ucapnya kesal, "Dimana ya, biasanya di daerah ini." Sehun dapat mendengar Kai bergumam pelan setelahnya.

"Kau itu sedang apa sih, Kkamjong?!"

Kai tidak mengindahkan ucapan Sehun. Ia hanya menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu, dan sepertinya apa yang dicarinya sudah ia dapatkan karena setelahnya Kai berlari, dan itu membuat Sehun ikut menggerakkan kakinya. Ternyata Kai berhenti di depan sebuah penyewaan sepeda.

Kai menyuruh Sehun untuk mengambil sepeda yang berwarna pink. Dan Kai mengambil yang berwarna biru tua. Sehun terus saja menggerutu kesal karena dipaksa memakai sepeda berwarna merah muda itu.

Sial. Sial. Sial. Kim Jongin sialan.

.

.

.

.

.

Sehun menikmati angin yang semilir menerpa wajahnya. Ia begitu menyukai suasana tempat ini, ia hanya merasakan sejuk dan sejuk. Haah, rasanya seperti bebas di langit saja.

Sambil terus mengayuh sepedanya dan menggerakkan kepalanya lucu, Sehun menyenandungkan sebuah lagu anak-anak yang pernah diajarkan ibunya dulu. Setelah rasa lelah yang ia tadi rasakan, sekarang tubuhnya benar-benar ringan. Ia jadi ingin membawa orangtuanya ke tempat ini. Khekhe.

Dan tanpa Sehun sadari pula, sedari tadi Kai sesekali melirik kearahnya lalu tersenyum kecil melihat tingkah Sehun yang sudah seperti anak berumur lima tahun yang baru pertama kali diajak ke sebuah taman. Dan ia tidak percaya Sehun bisa out of character seperti ini. Menggemaskan.

Eh? Apa yang baru saja dipikirkannya? M-menggemaskan? Oh, jangan lagi Kim Jongin. Berhentilah berpikiran yang aneh-aneh tentang Sehun. Dia memang manis, tapi dia itu seorang pria menyebalkan yang sudah mengambil tempat tidurmu dan membuatmu putus dengan Krystal. Damn.

Kai terus saja melamun sambil mengerutkan dahinya. Otaknya yang berperang dengan hatinya yang mengatakan hal yang lain dengan yang diperintahkan otaknya. Dan sial bagi Kai, karena hal itu, sepeda yang ia naiki tersandung batu yang lumayan besar dan membuatnya jatuh ke jalanan berlapis aspal–yang untungnya tidak panas.

"Ukh, sial."

"Kau tak apa?" Sehun tiba-tiba sudah ada didepannya dengan masih duduk di sepedanya. Kai meringis, tangannya sedikit lecet karena bergesekan dengan aspal. Dan lihat sepeda yang ia naiki sepertinya sudah tidak bisa dinaiki lagi. Kabel rem disepeda itu putus. Kai menghela nafas, setidaknya ia tidak harus dirawat dirumah sakit. Berlebihan kah?

"Jongin, kau baik-baik saja?" Sehun turun dari sepedanya dan memeriksa sepeda milik Kai, "Kau merusak sepeda itu. Dan bagaimana bisa kau jatuh karena tersandung batu?"

Kai mengerang, pemuda didepannya benar-benar menyebalkan, itu tadi juga termasuk salahnya kan? Yang membuat Kai seperti ini juga bukannya Sehun yang terus saja melintas dipikirannya? Hah, biarlah Kai berpikir seperti itu, "Bisakah kau diam? Aku akan membayarnya nanti."

Sehun benar diam setelahnya. Sudah dibilang, ia tidak ingin mencari masalah dengan Kai dan beradu mulut. Tsk, padahal dia sendiri yang memulai dengan memarahi Kai terlebih dahulu.

"Lalu bagaimana kau akan melanjutkan perjalananmu, Jongin?" Sepertinya Sehun sudah mulai memanggilnya dengan nama Jongin. Biasanya Kai akan marah karena ada orang yang memanggilnya dengan nama itu kalau bukan orang-orang terdekatnya saja. Tapi kali ini, ia membiarkan saja Sehun memanggilnya dengan nama asli, mungkin karena ia sudah terlalu malas saja.

"Tentu saja dengan sepedamu. Aku yang membayarnya, ingat?"

Sehun hampir saja menjatuhkan rahangnya dan membuat dirinya menjadi Out Of Character saat itu juga. Untungnya ia ingat agar tidak melakukan hal semacam itu didepan orang ini. Jadi ia hanya menatap tajam Kai yang sekarang sudah berdiri dengan angkuhnya.

Apa-apaan! Memangnya ia tidak bisa membayar huh? Ia akan mengganti uang Kai nantinya. Dasar namja hitam sialan! Umpatnya dalam hati.

Dengan cepat, Sehun menghiraukan Kai dan mulai mengayuh sepedanya dengan cepat tanpa menoleh kebelakang. Kai yang melihatnya langsung membolakan mata, menatap tak percaya Sehun yang mulai menjauh. Meninggalkannya...

Benar-benar ditinggalkan? Tapi, memangnya bocah albino itu tahu arah jalannya? Heh? Tidak mungkin kan? Bahkan ini pertama kalinya dia kesini...

Kai meracau sambil mengumpati Sehun yang dengan seenaknya meninggalkannya disini. Jadi, Kai hanya berjalan dengan santai sambil memandangi sekelilingnya yang tak berubah sama sekali. Tempat ini masih sama seperti terakhir kali ia kemari bersama dengan ayahnya. Masih bersih, ditumbuhi banyak pohon dan sejuk.

Ia jadi meindukan ayahnya kalau begini. Sambil terus tersenyum mengingat kenangannya bersama sang ayah dan tanpa menyadari Sehun yang sudah berbalik kearahnya dan saat Sehu nberhenti didepannya barulah Kai sadar.

Dahinya mengerut melihat Sehun. Sejak kapan dia datang dan darimana datangnya? Kenapa ia tidak melihatnya? Ucapnya dalam hati.

"Baiklah, Kim Jongin. Kau kuijinkan untuk menggunakan sepedaku..."

Dahi Kai semakin mengerut mendengar ucapan Sehun. Kenapa rasanya Kai seperti tidak pantas untuk naik sepeda yang ia sewa sendiri? Harusnya ia yang berkata seperti itu kan?

"Tapi..." Sehun turun dari sepedanya dan berjalan mendekat ke arah Kai, "Kau yang di depan.. aku lelah mengayuh sedari tadi.." Kai mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Sehun yang sebenarnya adalah permintaan tolong, tapi terkesan menjadi seperti perintah untuknya dan harus dipatuhi.

Namun karena waktu yang sudah berganti menjadi siang dan sebentar lagi akan sore, Kai tidak ingin berlama-lama dan ingin cepat sampai di tujuan mereka. Akhirnya Kai pun menaiki sepeda pink Sehun, dan Sehun duduk dibelakang. Kai agaknya sedikit beruntung karena sepeda ini memiliki tempat duduk untuk membonceng, sedangkan miliknya yang rusak itu tidak ada.

Sehun sungguh lelah, itu pula alasannya menyuruh Kai untuk mengendarai sepedanya. Kakinya sudah cukup berat untuk mengayuh lagi. Meskipun begitu, perasaannya sedikit membaik. Masih sejuk, ditambah lagi Kai yang memboncengnya. Kalau boleh jujur, Sehun sangat suka bau dari badan Kai. Dalam jarak sedekat ini, Sehun bisa mencium bau parfum dari seorang Kim Jongin.

.

.

.

.

.

Sehun menggeliat pelan. Ugh? Sepertinya tadi ia tertidur ya? Huh? Bagaimana bisa dirinya tidur di boncengan sepeda? Untunglah ia tidak jatuh.

"Sudah bangun? Nyenyak sekali tidurmu."

Itu suara Kai. Ah, apa sudah sampai? Sehun berusaha menajamkan pandangannya ke arah depan. Dan dalam sekejap, ia hampir membuka mulutnya lebar. Pemandangan di depannya sungguh indah. Ia tidak berbohong jujur saja.

"Woahh." Dan tanpa Sehun sadari pula, mulutnya bergumam pelan. Sungguh ini mengagumkan. Kenapa ia tidak tahu ada tempat seperti ini di daerahnya?

Kai yang mendengar gumaman takjub Sehun hanya tersenyum geli. Apa Sehun tidak pernah melihat ini sebelumnya? Yah, tapi tempat ini memang indah. Tempat kenanganya.

"Indah bukan?"

Sehun hanya mengangguk senang. Suasana disini masih sama sejuknya dengan yang tadi, hanya saja kali ini di depannya terdapat sesuatu yang membuat suasananya menjadi lebih tenang dan sejuk. Bagaimana tidak, lihat saja hamparan air berwarna biru yang luas itu. Ia baru tahu daerahnya dekat dengan laut.

"Itu bukan laut, kalau kamu mau tahu.." Ugh. Jadi itu bukan laut? Kenapa Sehun malah seperti sudah keluar jalur dari sifatnya? Kenapa ia malah seperti orang konyol?

Sehun berdehem. Lalu mengubh mimik wajahnya menjadi datar seperti biasa. Tapi tetap saja, rasa kagumnya tidak dapat dihilangkan. Mana mungkin ia tidak kagum.

"Itu adalah danau buatan. Tapi, indah bukan?"

Diam. Sehun hanya diam. Menunggu Kai melanjutkan kalimatnya. Ia menatapKai yang kini menerawang ke depan. Sepertinya tempat ini sangat bermakna untuk Kai.

"Dulu aku sering kesini dengan ayahku. Memancing bersama sambil menikmati hari." Kai mengalihkan tatapannya pada Sehun sebentar, "Kau tahu? Kalau kau menunggu hingga sore, kau bisa melihat bagaimana matahari terbenam dari sini.."

"Sayangnya, tidak banyak orang yang tahu dan mau kesini. Karena jaraknya yang jauh dari taman sebenarnya. Padahal sebenarnya mereka tidak akan menyesal juga." Kai mengalihkan pandangannya lagi. Ia tidak mengerti kenapa ia menceritakan hal ini pada Sehun. Mungkin karena baru Sehun yang ia ajak kemari. Bahkan saat berkencan dengan Krystal, ia tidak membawanya kesini.

Mungkin karena terbawa suasana. Biarlah sekali ini ia membiarkan orang lain untuk mengetahui mengenai dirinya.

"Kalau boleh jujur,aku baru kali ini pergi kemari dengan orang lain selain ayahku."

Sehun masih menatap Kai. Entah kenapa perasaannya berdesir mendengar ucapan Kai. Itu artinya dirinya adalah orang pertama yang diajak kesini, kan?

"Hm, baiklah. Aku rasa kita harus kembali.. Ini sudah hampir sore."

Sehun dikejutkan dengan perkataan Kai selanjutnya. Apa-apaan, mereka kan baru saja sampai dan sekarang mereka harus kembali?

Sehun tidak mengeluarkan kalimat protes meskipun ia ingin. Ia mengikuti Kai yang kini berjalan ke arah sepedanya terparkir. Kai menaiki sepeda itu dan menunggu Sehun datang. Sehun juga ikut kembali duduk di tempat sebelumnya.

Angin sore yang berhembus membuat Sehun terhanyut dan tanpa sadar memejamkan matanya sambil tersenyum. Sungguh, ia tidak bisa menghilangkan senyum itu dari wajahnya. Sepertinya ia harus berterimakasih pada Kai karena sudah mengajaknya ke tempat yang sejuk seperti ini dan bisa menjernihkan hatinya.

.

.

.

.

.

Sehun menunggu Kai yang masih berada di seberang untuk mengembalikan sepeda yang mereka sewa. Terlihat jika Kai sedang berbicara dengan penyewa sepeda itu. Setelahnya Kai memberi sejumlah uang dan segera menunduk dalam. Sehun pikir, Kai mungkin sedang bertanggung jawab atas sepeda yang rusak tadi.

Kai berjalan menghampiri Sehun yang masih berdiri menunggunya. Langit terlihat mendung. Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi, jadi mereka harus cepat berjalan untuk ke rumah Kai. Rumahnya tidak jauh, jadi ia rasa mereka bisa berjalan kaki saja.

"Sepertinya hujan akan turun, ayo cepat albino." Sehun mengerutkan dahi, namun ia tetap menuruti Kai dan mengikutinya dibelakang. Ia menoleh ke atas. Memang iya, langit tidak secerah saat mereka sampai disini tadi.

Dan benar saja. Rintik-rintik hujan mulai turun, dan setelahnya berubah menjadi semakin deras. Untuk itu, Kai dan Sehunberlari sekencang yang mereka bisa. Badan mereka basah. Kai mengajak Sehun untuk berteduh di sebuah halte. Menunggu hujan yang bukannya semakin mereda malah menjadi bertambah deras.

Sehun memeluk tubuhnya sendiri. Ia merutuk dalam hati, kenapa hujan harus turun sederas ini. Hari sudah sore. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan jam enam sore, setelahnya berdecak pelan. Badannya menggigil, ini sungguh dingindan ia benci harus mengakui ini. Ia memiliki pantangan terhadap udara dingin.

Kai yang berdiri disebelah Sehun sepertinya merasa janggal. Awalnya ia bersikap acuh, tapi lama kelamaan rasanya memang ada yang janggal. Ia menatap Sehun yang masih memeluk tubuhnya sendiri, badannya gemetaran. Tapi bukan itu yang membuat janggal. Dan ah, ia tahu. Wajah Sehun. Ya, wajahnya memerah dan berbintik. Kenapa bocah ini menjadi seperti ini?

"Kau lihat apa?" Kai sedikit berjengit saat Sehun memalingkan wajahbua kearahnya. Suaranya bergetar. Mungkin kedinginan. Ia hanya menggeleng pelan menanggapi, tapi ia tidak juga mengalihkan tatapannya. Ia masih menatap wajah Sehun.

Dan serius, wajah itu memang berbintik. Tidak. Tidak hanya wajahnya, tapi juga lehernya, tangannya, dan ia tidak tahu apakah kakinya juga berbintik.

Sehun tidak mengindahkan Kai. Ia masih merasa dingin, jadi ia mengusap usap lengannya. Sesekali ia meniup tangannya dengan uap dari mulutnya. Tapi tetap saja, tidak berguna. Kadang ia menyumpahi dirinya sendiri yang harus memiliki alergi yang menggelikan seperti ini.

Ah, ngomong-ngomong soal alergi. Ia sampai lupa kalau badannya akan berbintik merah jika terkena udara yang sangat dingin. Ia melihat tangannya sendiri, dan benar saja, tangannya sudah banyak dinodai oleh bintik bintik merah––yang menurutnya sangat menjijikkan.

Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang hangat di pundaknya. Ia menoleh ke arah Kai yang kini menyampirkan sebuah jaket ke badannya. Itu jaket yang Kai pakai tadi. Lagi-lagi Sehun merutuki dirinya, kenapa ia tidak membawa jaket sebelumnya.

"Kau pakai saja. Badanmu berbintik. Kau alergi dingin? Tch,"Sehun agak kesal, Kai seperti mengoloknya. Dan ia merasa dipermalukan oleh Kai. Tapi ia memang kedinginan dan tidak bisa menolak. Jadi mau tidak mau ia menerima jaket Kai.

"Sepertinya sudah agak reda, sebelum kembali deras. Ayo berlari lagi."

Setelah Kai mengucapkan itu. Sehun merasa kalau telapak tangannya menghangat. Kai menggenggam tangannya. Dan entah kenapa, seluruh badan Sehun menjadi hangat. Bukan hanya tangannya. Tapi semuanya. Kai langsung menariknya dan berlari menembus hujan yang sudah tidak sederas tadi.

Bukan hanya Sehun. Tapi Kai juga merasakan badannya menghangat saat menggenggam tangan Sehun. Jadi, ia semakin mempererat genggamannya itu dan terus berlari.

Entah sadar atau tidak keduanya tersenyum tipis sambil saling mengeratkan pegangan mereka.

To Be Continued.


Huhu, hai para pembaca~~ masih adakah yang mau baca fanfic abal abal saya ini? Maaf sampe 3 bulan ga update update dan baru sekarang updatenya :'D maafkan saya~~ Dan buat chapter ini, ceritanya malah semakin aneh dan gak jelas. Saya sempet kena virus WB hiks.

Dan jujur saya jadi susah mikirin karakternya Sehun makin kesininya. Mungkin karma kelamaan ngeberentiin otak :D

Maaf kali ini gak bias bales review satu-satu lagi. Saya update di warnet, modem habis dan yeah seperti inilah :D

Saya harap masih ada yang mau baca, follow, sama review ^^