Ckakakakak.. Sesuai permintaan. Tidak ada yaoi. (bo'ong banget!). Halah.. Kalau yang begini saya anggep bukan yaoi. Hihihih.. . Soalnya saya juga gak rela Akaba dengan Koutarou. Kyahahahaha

Tidak ada straight juga (bilang aja emang gak demen straight. DEMEN! Cuma bosen. XD).

Eyeshield 21 © By bukan saya. (tetep males nyari siapa yang bikin. XD)

Gender : T! (Tumben. XD)

Halah bacot banyak banget! Enjoy! Maboc belajar semester.. Hooaaa T_T


Di bawah pohon sakura di musim semi, Koutarou berdiri di situ sambil menggenggam sisirnya erat. Tubuhnya bergetar ragu – ragu menatap sosok di depannya. Sosok berambut merah dengan kacamata berlensa biru gelap bertengger di hidungnya menatap Koutarou tajam.

"Fuuu… Ada apa kau memanggilku kemari?"

Koutarou tampak nerpes sampe herpes. Akaba mengalihkan pandangannya kearah pohon sakura yang sedang berguguran. Tanpa Ia sadari kalau keringat menetes dari dahi Koutarou lebih deras dari gugurnya sakura itu.

Merasa pertanyaannya belum dijawab, Akaba bertanya sekali lagi. Koutarou tiba – tiba membenturkan keningnya sendiri ke batang pohon sakura itu. Akaba sukses bengong – bengong. Kening Koutarou sudah selebar daun pintu, jangan sampai harus selebar pagar rumah lagi!

"Kenapa kau?"

Akaba berdiri tepat di belakang Koutarou. Koutarou berbalik sambil menelan ludah, bimbang. Namun kemudian Ia mengambil gitar yang dipegang Akaba dan membuangnya. Akaba kembali sukses cengok. Apa – apaan nih?

"Akaba! Kamu memang paling gak smart di dunia ini! Tapi.. Tapi… Aku lebih gak smart lagi karena… Aku menyukai orang macam kau itu!"

Akaba diam dengan wajah memerah. Koutarou diam. Suasana sepi dan tegang. Akaba menatap Koutarou lekat dengan wajah terkejut. Ia berpikir sejenak, kemudian tersenyum tipis.

"Fuu.. Hmm… mungkin.. dalam hal ini, ritme kita.. sama"

Kaget, Koutarou reflek mundur beberapa langkah. Senang bercampur tidak percaya merasuki hatinya. Akhirnya penantiannya selama ini terbalas juga. Tampak bunga – bunga bertebangan di sekelilingnya, seolah memberi selamat padanya.

Namun tiba – tiba langit menjadi gelap. Gempa besar mengguncang tubuhnya. Pijakan kakinya terbelah dan Koutarou jatuh ke dalam jurang gelap dan tak sadarkan diri.


"TIDAAKKKKK"

Koutarou terbengong – bengong sambil duduk. Sinar matahari menerpa wajahnya, sudah pagi. Tubuhnya penuh dengan keringat mengucur membasahi piyamanya. Nafasnya tersengal – sengal. Ia belum dapat menjabarkan apa yang terjadi. Yang Ia ingat…

"HOOOEEEKKKK!!!!"

Koutarou sukses muntah – muntah di kamar mandi. Mual mengingat 'mimpi sangat sangat tidak smart' yang pernah Ia mimpikan. Dia? Menembak Akaba?

"GEMBEL! FUCK! KUSO! MIMPI APA GUE!"

Koutarou berjalan ke sekolahnya sambil memaki – maki. Menyesali mimpinya. Ia memasuki gerbang Sekolah yang mulai ramai dipadati para siswa yang bersiap untuk berangkat camping. Hhh.. Setidaknya dengan acara ini, bisa sedikit melupakan mimpi ancur itu. Batin Koutarou, gondok.

JREENG

Koutarou kembali melonjak. Ia menoleh ke belakang. Di dapatinya Akaba berdiri di belakangnya sambil membawa gitar dan tas yang di sampirkan di bahunya. Uukh.. Pembawa Malapetaka datang. Batin Koutarou lagi.

"Fuu.. Pagi cerah. Siapa yang akan membawakan melodi yang harmoni kali ini?"

"Jidatmu cerah! Baka!"

Akaba diam. Bingung tiba – tiba disemprot oleh Koutarou. Namun kemudian Ia pergi meninggalkan Koutarou yang sedang cemberut sendirian. Koutarou tambah gondok karena dicuekin.

"Ayo semua masuk ke dalam bis. Kita akan segera berangkat"

Pengumuman dari gurunya. Semua siswa dengan semangat berlari masuk ke dalam bis. Semoga camping kali ini tidak terjadi masalah lagi. Koutarou dengan malas masuk ke dalam bis. Dilihatnya semua bangku sudah penuh diisi.

"Bagaimana aku harus duduk?"

Koutarou berjalan sampai kursi belakang. Dan Ia mendapati satu kursi kosong. Namun yang membuat Ia ragu untuk duduk adalah…

JREENG

Lagi – lagi gitar itu. Orang paling menyebalkan yang memainkan gitar di dalam bis yang sempit hingga memakan tempat. Mata merah itu menatapnya, lalu tersenyum tipis yang membuat Koutarou geram minta ditabok pakai tas.

"Minggir, Akaba. Singkirkan gitar itu. Aku mau duduk"

Dengan stay cool, Akaba tetap tak bergeming dari duduknya, membuat Koutarou pecah kesabarannya. Mr. Baka Gitar Otaku ini nyari ribut! Udah malem – malem datang ke dalam mimpi 'buruk'nya, sekarang malah nyolot!

KREEK!

Saking kesalnya, Koutarou sukses mematahkan sisirnya jadi dua. Apa sih sebenarnya mau orang itu? Ngajak ribut? Koutarou mengambil ancang – ancang untuk mengajak bertengkar. Namun tiba – tiba pengumuman bahwa mereka akan segera berangkat terdengar, hingga mau tidak mau Akaba menggeser gitarnya untuk Koutarou duduk.

Sambil melempar sisirnya yang patah, Koutarou duduk dengan cemberut. Gondok, kesal, capek menghadapi Mr. Gitar Otaku paling gak smart di dunia ini. Tapi pada akhirnya Ia menyesali… bahwa Ia telah mematahkan sisirnya yang berharga. Bagaimana gue bisa berpenampilan yang fashionable tanpa sisir? Bisa mati gaya gue!

Koutarou melirik Akaba yang masih sibuk menggenjreng gitarnya. Gak di sekolah, gak di lapangan,atau dimana saja, selalu bawa gitar. Sekali – sekali bawa cewek gitu. Atau jangan – jangan… Akaba punya kelainan?

Tubuh Koutarou mendadak merinding disko. Ngeri membayangkan hal itu dan takut bahwa mimpinya jadi nyata. Namun karena Ia kurang tidur, akhirnya Ia menyerah dan tertidur dengan lelap, di samping Akaba. Dan bermimpi hal yang sama, bahkan lebih!


"Hwaaahh! Camping di gunung seperti ini memang sangat smart. Bisa melatih fisik sekaligus refresing"

Koutarou keluar dari bis dan merenggangkan tubuhnya yang kaku akibat terlalu lama duduk. Akaba ikut keluar dari bis sambil tersenyum sinis. Kesal karena Koutarou mendadak berteriak keras dan melengking tepat di telinganya.

"Koutarou"

Koutarou menoleh. Bulu kuduknya berdiri, merinding juga mendengar Akaba memanggil namanya seperti itu. Serperti seorang yaoi yang hendak mengajak ukenya kencan. Ngeri!

"Lain kali jangan tidur di bahuku dan berteriak seperti itu. Suaramu sangat tidak merdu"

Koutarou mangap. Apa benar Ia tertidur di.. bahu Akaba? Iyaks! Lebih baik Ia tidur sambil kejedot – jedot jendela daripada harus tidur di situ. Cuek, Koutarou mulai mendaki gunung mengikuti teman – temannya yang sudah lumayan jauh. Akaba ngekor dari belakang.

Mendaki gunung seperti itu sudah menjadi hal yang biasa untuk pemain amefuto seperti mereka. Koutarou berjalan sambil celingukan. Mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menyisir rambutnya yang acak – acakan akibat tertidur laknat itu. Tapi tetap saja Ia tidak menemukan apa yang dicari. Mau pakai daun? Takut daunnya penuh kutu. Pakai dahan pohon? Kegedean. Keliatan sangat gak smart kalau Ia nyisir dengan dahan pohon. Pakai akar? Malas nyabutnya dari pohon.

Akaba berjalan dengan santai sambil terus menggenjreng gitar kesayangannya. Merasakan hawa sejuk dari pegunungan yang membuat ritme nafasnya menjadi ringan. Di sampingnya, Koutarou masih misuh – misuh tidak jelas. Apa benar orang yang paling smart ini tidur di bahu si Gitar Otaku itu? Hwek..

"Irrashaimasu"

Seorang wanita ber-yukata pink bunga – bunga dengan anggunnya menyambut mereka di depan penginapan. Semua berdecak kagum memandangi wanita itu. Begitu pula Koutarou. Ia melotot dan mangap sampai – sampai lalatpun enggan mendekat karena takut akan dilahap.

"Kenalkan, saya Ayame" Ujar wanita itu.

"Gile banget Akaba…."

"Gue gak gila"

Akaba dengan cuek melengos masuk ke dalam penginapan, meninggalkan teman – temannya yang masih terbius dengan pesona wanita itu. Bussshh!

"Woy woy.. Lu tuh yeee.. Kagak ada tertariknya sedikitpun sih? Kemana – mana bininya Cuma gitar, anaknya senar. Ckckck" gumam Koutarou sambil menggeleng.

Pembagian kamar diumumkan. Dan disengaja atau tidak, mereka berdua kebagian satu kamar. Koutarou tambah misuh – misuh. Awalnya Ia mau protes dan berniat meminta pindah kamar lantaran takut di'apa – apain' oleh Akaba. Namun Ia mengurungkan niatnya, lebih takut di cekik anaknya alias senar gitarnya oleh sang guru.

"Akaba, lantaran ranjangnya Cuma satu, nanti malam kau tidur di bawah, gue di atas"

"Jangkengpon"

"Oke, siapa takut!"

Hasilnya? Koutarou manyun berat saat meletakkan barang bawaannya dan selonjoran di lantai. Akaba senyum tipis sambil merebahkan tubuhnya melepas lelah. Koutarou yang gigit jari saking irinya, hanya bisa tiduran di lantai yang dingin, sendirian. Kasihan deh.

Tiba – tiba pintu kamar diketuk. Akaba dan Koutarou sama – sama malas membuka pintunya. Akhirnya mereka jangkengpon lagi dan kembali Koutarou manyun berat sambil membuka pintu. Tapi sejurus kemudian, Ia mesem – mesem gaje sambil tebar pesona, membuat Akaba jijay.

"Maaf, sebentar lagi acara mandi di onsen. Silahkan bersiap – siap"

Wanita ber-yukata pink itu lagi. Ia tersenyum menyampaikan pesan dari seksi acara. Koutarou yang sok akrab, mendekati wanita itu sambil menyisir rambutnya.

"Hey, namamu siapa? Umurnya berapa? Tinggal dimana? Udah punya pacar?"

"Sekalian saja kamu tanya, bulu matamu ada berapa"

Akaba menimpali. Wanita itu yang semula bengong, mulai cekikikan membuat Koutarou mati gaya.

Rasain lu, salah sendiri godain orang.


"Hoy Akaba, apa lu liat – liat gue?"

"Ge'er"

"Sana, sana. Dilarang melihat tubuh indah gue"

"Amit – amit dicium demit"

Akaba dan Koutarou sedang bersitegang di ruang ganti pakaian. Musim panas tanpa berendam di onsen, rasanya ada yang kurang. Maka, kesempatan emas untuk berendam di onsen terbuka di kaki gunung. Namun, saat semua sudah asyik berendam dan bermain air di onsen, mereka berdua masih saja adu mulut.

"Akaba, apaan tuh kolor? Gambar gitar gitu. Buset!"

"Ini sempak, dodol. Tukang jait gak laku"

"Huh!"

Koutarou membuka celana panjangnya. Akaba ber'fu' ria sambil geleng – geleng. Merasa tersindir, Koutarou mencak – mencak.

"Napa lu? Naksir sama kolor gue? Ato sama body gue?"

"Gak. Coklat gitu. Gak minat. Badan lu kecekingan kayak dimakan cacing"

Cuek, Akaba membuka pakaian terakhirnya. Koutarou membuang muka ke arah lain. Wajahnya merah dan jantungnya deg – degan. Ia inisiatif mengganti pakaiannya di sisi yang lain. 'Akaba baka! Pede banget sih buka – bukaan disini'

"Fuu.. Koutarou, gue duluan"

Akaba segera masuk ke onsen, sedang Koutarou masih bengong – bengong dan meletakkan kolornya tanpa melihat tempatnya. Ia segera ngacir ke onsen dan lompat ke dalamnya. BYUURR! Air menyembur wajah Akaba yang sedang menikmati dan menghayati mandinya. Dan terjadilah ciprat – cipratan air yang heboh dari mereka berdua. Dasar anjing dan kucing.

Pukul 21.00, semua anak sudah keluar dari pemandian. Tinggal Koutarou dan Akaba yang masih bersitegang dan adu mulut dengan sengitnya.

"Lu sirik sama punya gue ye! Perasaan daritadi gue dijailin mulu"

"Mr. Ge'er. Ngapain gue iri"

"Ok! Kalau gitu, siapa yang kuat menyelam di air, dia yang menang!"

"Ok"

Hitungan ketiga, mereka berdua menyelam dalam air onsen yang panas itu. 10 detik, 20 detik. Akaba naik ke permukaan. Karena Ia melihat sekelilingnya gelap. Mati lampu. 'Kenapa bisa mati lampu dadakan gini? Gelap banget'

Diliriknya tempat Koutarou menyelam. Lebih dari 1 menit, Ia tak muncul - muncul. Agak cemas, Akaba memanggil – manggil, namun tak ada jawaban.

"Koutarou!"

Dicari – carinya Koutarou dengan raut wajah cemas. Masih menelusuri tiap sudut, Akaba tiba – tiba terantuk sesuatu dan jatuh tercebur ke dalam air. Ia merasa memeluk sesuatu. Dan tiba – tiba, Ia merasa sesuatu menyentuh bibirnya. 'Apa itu? Ular? Kok.. hangat?'

Karena gelap, akhirnya Akaba memutuskan membawa benda aneh itu ke tepi. Ia masih celingukan mencari Koutarou di tepi – tepi. Tiba – tiba lampu menyala.

"Hmm.. Boleh juga nih anak satu"

Akaba kaget. Orang yang tak diundang dan aneh tiba – tiba sudah duduk di tepi onsen. Dan Akaba melihat 'pemandangan tidak sedap' berupa….

"Koutarou, mau sampai kapan lu tidur di sini? Bangun"

Akaba menendang – nendang tubuh Koutarou yang tergeletak tak berdaya di lantai. Dilemparnya handuk Koutarou kearah 'miliknya'. Akaba kemudian menatap orang aneh itu dan bergegas keluar dengan pose siap – siap mau muntah.


"AKABAAA!!! GUE KAGEEETT!"

Koutarou sudah sadar dan kini sudah berada satu kamar dengan Akaba yang asyik bermain gitar. Ia meletakkan gitar kesayangannya di kasur, dan menatap Koutarou bingung.

"Wanita itu… Singkatan namanya…. Jadi AYAME = Ada YAng MEnonjol!!!!"

"Ada yang menonjol? Ayame?"

"Pokoknya, dilihat dari belakang kayak malam minggu, tapi kalau dari depan kayak malam jum'at"

Dan Koutarou patah hati. Ternyata wanita yang Ia temukan tadi adalah jejadian demit dari om – om botak. Koutarou shock berat.

"Udah, lupain aja. Lu lagi, pakai acara pingsan di onsen segala"

"Abis gue gak mau kalah dari elu. Eh tiba – tiba aja gue pusing. Pingsan dah"

Akaba mengacuhkan ocehan gak penting Koutarou. Ia masih bingung dengan sesuatu yang menyentuh bibirnya. Ia kemudian melamun.

"Terus setelah gue lihat cowok demit itu… Eh Akaba! Lu denger gak sih!"

Belum Akaba membuka mulutnya, pintu kamar diketuk seseorang. Koutarou yang berdiri di samping pintu, tanpa ba bi bu bencong, segera membuka pintu. Ternyata teman – teman sekelasnya.

"Jangan lupa. Jam 12 malem nanti, ada uji nyali"

Koutarou agak gugup. Ia mengangguk dan segera menutup pintu rapat – rapat. Akaba yang melihat tingkah laku Koutarou, senyum ngeremehin.

"Takut?"

"Iya… Eh! Kagak!!!!!"

"Awas nanti 'barang'mu di ambil tuyul"

Dan Akaba tertidur di kasur empuknya, meninggalkan Koutarou yang keringet dingin membayangkan uji nyali nanti.


Omake

"Lu sirik sama punya gue ye! Perasaan daritadi gue dijailin mulu"

"Mr. Ge'er"

"Punya gue lebih gede"

"Punya gue lebih lebih gede!!"

Apaan sih yang gede???

Koutarou bersitegang dengan Akaba sambil menepuk – nepuk dada dan otot bisepnya. Ia sedang membanggakan bentuk tubuhnya yang KATANYA aduhai itu. Sedang Akaba yang dikatai cacing pake wig, tak terima dan membandingkan tubuhnya dengan Koutarou.

"Cacing pake wig? Daripada elu sekutu penjual sisir!"

"Sekutu?"

"Satu kutu! Kutu yang terlalu pede akan wajah dan bentuk tubuhnya. Padahal dilindes cacing aja benyek"

"#$%^&*("

Sungguh sangat tidak dewasa sekali, sodara – sodara.

_ _ _

TO BE CONTINUE!

Wakakakakk… siap – siap di tampol orang ni gara – gara janji update gak taunya lama tenan. XDDDDD

Gomen gomen. Dikarenakan saia sibuk nyari Poling (Pocong Keliling) dan Pocong Lari, saia gak sempet nulis lagi. XDDDD..

Tolong dimaklumi dan jangan sambit saya pake batu, pake duit aja. Hohoho

Repiu pliiisss…