BoBoiBoy © Animonsta Studios

Dia Berbeda Denganku

.

.

.

Sekuel dari 'Bersamamu, Inginku', maaf untuk segala typo yang mungkin akan muncul

Enjoy!

.

.

.

Menit demi menit berlalu, namun posisinya dari bersandar pada kursi besar tidak pernah diubah. Napasnya masih teratur, meski kini suara dari respirsinya terseret membalap dengan 'suara lain' disana.

Pemuda dengan rambut pendek itu membuka kedua matanya. Ia mengerjap, lalu mengangkat wajahnya hingga menemukan sosok wanita yang tertidur lelap dari atas ranjang. Memposisikan tidur miring menghadap kanan. Kedua matanya yang terpejam alami memperlihatkan kesadarannya masih berada di dalam alam bawah sadarnya.

Tangannya ia angkat. Jam 04.15 pagi terpampang jelas dari jam tangannya.

Indra pembaunya sedikit mengendus bau yang cukup pahit. Tidak heran karena tidak jauh dari posisinya duduk, beberapa obat-obatan tablet tergeletak di samping gelas panjang dengan air putih yang hanya tersisa sepertiga. Juga disana, satu piring berisi bubur yang hanya tinggal sisa ikut menemani.

Pemuda itu bangkit dari kursinya. Jalannya begitu pelan untuk menghampiri wanita yang dibungkus selimut putih tebal. Tangannya ia telungkupkan, dan mengadakan kontak pada dahi perempuan itu langsung.

'Agak mendingan panasnya.'

Halilintar tersenyum samar. Puas, karena ia telah melakukan hal yang membuahkan hasil.

Yaya—perempuan di depannya sekarang ini—sebenarnya memaksa dia untuk pulang. Perempuan itu tidak tega jika Halilintar rela membuang waktu istirahatnya hanya demi menjaganya. Lagian, Yaya bahkan selalu berpura-pura kuat di depan suaminya sendiri dengan berpura-pura bisa berjalan walau dalam keadaan sakit. Bagaimana dengan Halilintar—yang bukan siapa-siapa dia selain teman serekan?

Namun sekali lagi, jika Halilintar sudah memegang kendali memang susah untuk dilengserkan.

Dari disuruh makan rutin (Halilintar tidak menggunakan prinsip makan 3 kali sehari, setiap beberapa jam sesaat dia akan menyuruh Yaya untuk bangkit dan menyuapinya secara paksa karena Yaya hanya sanggup makan tiga sendok bubur), minum obat sesuai saran dokter yang dipanggil Halilintar (dan Fang lagi-lagi harus menangisi dompetnya yang menipis), juga Halilintar selalu mengontrol suhu badan Yaya dengan termometer tidak seberapa bosannya.

Pemuda itu melangkah pelan dan membuka pintu. Berusaha untuk tidak menciptakan suara berisik yang berujung orang yang dirawatnya akan bangun. Pintu depan ia tutup. Pandangannya sementara hanya berfokus pada gagang pintu.

'Tidak terasa aku merawatnya sampai pagi ini.'

Sambil berucap dalam hati, Halilintar memutar kembali memorinya. Ia mencari-cari landasan kuat apa yang bisa membuatnya sebegitu terobsesi merawat orang yang bukan apa-apa baginya itu.

"Hoo ... ingin seperti Boboiboy? Aku bertaruh untuk mandi telur busuk jika kau sanggup melakukannya."

"Sial. Memang kelihatan mustahil kah bagimu?!"

Halilintar nyaris akan meninju daun pintu di depannya kuat, jika masih mengingat ejekan Fang sewaktu sore tadi. Dan bersyukur ia sempat mengerem karena mengingat lagi yang punya rumah kini masih butuh istirahat—dan suara berisik tentu membuata istirahatnya tidak nyaman bukan?

Ia berjalan ke arah teras. Suasana langit nampak gelap dengan bintang-bintang masih berkerlap-kerlip jelas dari atas. Jalur galaksi bima sakti bahkan masih dalam jangkauan pandangannya untuk melihat. Halilindar menghembus napasnya, menghangatkan diri dari suhu embun pagi yang mampu menusuk tubuhnya—meski memakai jaket sekalipun.

"Kamu tahu bagaimana untuk menjadi Boboiboy?"

Halilintar menarik kunci motor yang ia rogoh dari saku celananya. Ia mengenakan helmnya segera, dan menjalankan motornya pergi.

"Kamu hanya perlu membuat para wanita nyaman melihatmu."

"Kau bercanda kan, Fang?"

=oOo=

Jam setengah tujuh, dan keadaan ruang guru sudah cukup ramai didatangi para pemilik ruangan itu sendiri. Ada yang mengawali paginya dengan bersilaturahim bersalaman, lalu ada juga yang berkumpul bersama saling bercerita. Para guru laki-laki cenderung merokok untuk menemani waktu-waktu santai mereka, dan tidak ketinggalan ikut bergosip dengan para guru sejenisnya.

Ketika ada langkah laki-laki akan memasuki ruangan tersebut, keadaan sana yang cukup ricuh senyap sejenak. Semua penghuni menengok ke arah pintu.

"Good morning, everyone!"

Halilintar, untuk pagi ini, masuk ke dalam ruangan guru dengan salam juga senyuman hangat. Memakai seragam gurunya yang kini menguar aroma citrus. Rata-rata para guru perempuan melongo menyaksikannya. Tapi tidak sedikit yang gemas untuk melihat aksi 'rare' si Halilintar.

"Gitu dong! Masuk ke dalam ruangan terus tersenyum gitu! Muka ganteng kok dibawa suram mulu?!"

Semua staf guru syok dengan bu Mita yang tiba-tiba main sembur. Tidak bisa dibayangkan bagaimana murkanya Halilintar ketika dikatakan demikian, pikir mereka. Para guru adalah saksi nyata yang sering melihat perlakuan kasar Halilintar, padahal pegawai baru (andai dia bukan keponakan kepala sekolah saja, semua bisa meludah kepadanya). Tapi kenapa tiba-tiba dia bertindak 180 derajat berbeda?

"Terima kasih! Saya tersanjung sekali!"

Halilintar, bicara dengan nada suara ala pria yang kekanakan. Semua semakin ragu dengan otak kewarasan laki-laki beriris merah delima itu.

"Halilintar, benarkah? Kau—tampak berbeda. Kesambet apaan?"

"Apa?! A—aku ... aku hanya ingin hangat kepada kalian, hehehe."

Laki-laki yang bertanya sempat bergidik. Ia melihat sekilas wajah garang dari yang bersangkutan, tapi kenapa jawabannya manis kemudian? Ada tawanya lagi di akhir ucapannya.

{Pffttt!}

Secepat kilat Halilintar keluar dari ruang guru menuju toilet, tidak menunggu lagi apa yang akan dibalas oleh guru yang menyapanya tadi. Ia melengok kiri kanan, kemudian masuk ke dalam satu ruangan toilet tanpa siapapun di dalamnya. Ia menguncinya segera dari dalam.

Pemuda itu segera melepas earphone hitam yang menempel pada lubang telinganya. Ia mendesah sesaat. Tangannya merogoh ke dalam saku yang merupakan sumber earphone, dan mengangkat ponsel berukuran kecil disana. Ia dekatkan pada bibirnya. Ia menghirup napas sejenak. Dan ...

"SIAL KAU FANG! KAU AKAN KUTEROR KALAU INI HANYA AKAL BULUSMU UNTUK MEMPERMALUKAN AKU!"

Suaranya yang terdengar kasar itu membuat orang dari seberang sana budeg sementara. Halilintar, dengan wajah gelap khas—bahkan kelihatan lebih mengerikan dari biasanya—kembali terlihat.

{M—maaf, aku baru tau aslinya di ruang kerja rupanya kau sedikit berperangai jahat ya?}

Fang memiringkan kepalanya dan menaikkan sebelah bahunya, agar bisa menjepit ponsel itu untuk menempelkannya pada telinga. Kedua tangannya sedang sibuk untuk menyalin berkas yang menumpuk pada meja.

"Hhh ... seharusnya aku tidak ikut rancanganmu jika akhirnya aku diperhatikan satu ruangan seperti itu!"

{Loh jadi janjinya batal nih?}

"Tapi kalau harus membuat satu ruangan mangap, siapa yang sudi?!"

Halilintar memijit keningnya. Dia capek untuk bersahut-sahutan tidak jelas seperti sekarang ini sebenarnya, hanya dia benar-benar tidak bisa mengolah kata sedemikian apa yang bisa menggambarkan pikirannya sekarang. Jadi asal bicara, ia kira semua akan beres meski tenaga terkuras sedikit.

Tadi sore memang Halilintar mengadakan kesepakatan bersama Fang untuk bisa menjadi suami yang selama ini disukai Yaya—yaitu menjadi almarhum Boboiboy sendiri. Sore itu Fang memberi persyaratan yang pertama adalah latihan tersenyum dan berkata halus.

"Coba latihan dari depan cermin. Aku dulu juga gitu kok."

Apa yang dikatakan Fang dimana tujuan utamanya mulia agar Halilintar merasa percaya diri, justru menjadi berbanding terbalik. Dia jijik.

"Tidak ada harapan untuk bisa membuat Yaya gak menderita ..."

Fang bangkit dari kursi panjang. Ia mengecek jam dari jam tangannya, dan ia sudah melihat waktu kerjanya terkuras 11 menit dari harusnya ia selesai break time.

{Terus yang mencoba menghentikan aku dengan menahan sebelah tanganku, siapa? Tampang datar begitu, seharusnya aku tidak percaya untuk membantunya! Aku capek tahu buat kalimat-kalimat sahutan untukmu tadi!}

Kenapa posisi yang mengomel jadi berbalik begini?

{Asal kau tahu ya, Boboiboy selalu melakukan hal yang sama padaku, Ying, rekan kerja, sahabatnya, bahkan Yaya juga! Jangan harap bisa menjadi figur baik di mata Yaya kalau kau ragu dengan dirimu sendiri!}

Fang aslinya memang cukup keras, juga blak-blakkan sedikit. Dulu ada yang bilang kalau golongan darah A selalu bisa cocok dengan golongan darah AB karena notabene golongan darah AB itu selalu keras bukan hanya untuk dirinya sendiri. Halilintar yang berdarah A bisa berkomunikasi baik dengan Fang yang bergolongan darah AB itu wajar.

Tunggu, kenapa jadi membahas golongan darah yang Fang asumsikan ketika ia menasehati Halilintar kemarin?

"Entah lah Fang, aku jadi ... bertanya-tanya mengapa aku berniat melakukan hal ini ..."

Fang masih memberi waktu Halilintar berbicara. Ia tahu Halilintar menggantung kalimatnya tadi.

"Yaya itu siapa aku? Tapi setiap melihat dia yang tegar, aku jadi gusar melihat dia selalu mencoba berdiri sendiri ..."

{Tidak salah jika kau mau berbuat baik padanya.}

"Aku tahu. Tapi aku tidak pernah seperti ini, bahkan pada pamanku sendiri."

{Pernah dengar orang yang punya golongan darah A itu aslinya baik hati?}

"Berhentilah untuk membicarakan psikologi-fiksional itu!"

Suara tawa kecil terdengar di seberang sana.

{Tidak. Kau pasti tahu akan dirimu sendiri. Kau hanya berusaha untuk tidak dianggap polos—atau bisa kukatakan, bodoh—makanya kau berusaha terlihat seperti orang jahat. You act like bullsh*t person, but i know you a good guy.}

Halilintar memilih diam. Entah mengapa Halilintar memilih patuh saat ini.

{Aku membantumu karena aku pernah suka pada Yaya, dan aku pelan-pelan tahu sifatmu. Hei—memang siapa yang tidak bisa menyimpulkan kau baik setelah satu hari istirahat kemarin kau gunakan untuk merawat Yaya?}

"Jangan memujiku, sialan."

Fang terkekeh. {Aku akan memberi pelajaran kedua setelah menyelesaikan tugasku, oke?}

"Makanya jangan maksa untuk menghubungiku kalau masih bekerja."

{Mulutmu memang benar-benar tidak sopan walaupun tengah bercanda.}

Sambungan terputus setelah Fang mengucapkan 'selamat tinggal' tadi. Halilintar kembali menyimpan ponselnya, lalu melangkahkan kakinya keluar dari toilet.

"... golongan darah, ya?"

Kalau sifat Halilintar tercipta dari darahnya sendiri, apa berarti semua orang bergolongan sama dengannya itu memiliki karakteristik yang sama dengan dia? Baik hati, tapi selalu menutupinya dengan bersikap seenaknya karena takut dibilang polos.

Halilintar berdelik geli. Menurutnya, psikologis dari golongan darah, horoskop, atau teori gangguan mental sekalipun, hanyalah karangan para penemu agar tajuknya diminati masyarakat. Ia meyakini semua sifat hanya tercipta dari lingkungan dan tanggapan korban itu sendiri. Tidak, lebih tepatnya keteguhan hati seseorang itu sendiri.

Tapi Halilintar tidak bisa memungkiri tanggapan Fang akan dia. Mungkin separuhnya memang nyata baginya. Landasan ia bersikap jelek, egois, lagi kasar.

"Kalau Yaya, golongan darahnya apa?"

Jika ia tahu sedikit sifat Yaya, kemungkinan besar untuk melaksanakan tugas sukarela—lagi konyol—bisa sedikit mudah... semudah membalikkan telapak tangan.

=oOo=

Halilintar melangkahkan kakinya kembali pada ruang guru. Hatinya sedikit was-was, mengingat bagaimana kelakuan teman kerjanya membuatnya agak segan. Dihitung-hitung belum sebulan bekerja, masa' dia sudah terkenal jahatnya 'kan?

"Eh Yaya, kamu masuk lagi?"

Laki-laki itu terhenti di ambang pintu, saat mendengar nama orang yang sangat familiar dalam ingatannya dikuandangkan rekan kerjanya. Ia mengintip kecil. Sosok wanita dengan hijab nila yang ditata rapi berdiri berseberangan dengan wanita lain. Mereka saling berkomunikasi dengan sesekali tertawa.

Itu 'kan Yaya?

"Aku sudah baikan. Oh ya, mana Halilintar ya?"

Halilintar memilih mendengarkan daripada harus masuk ke dalam ruangan dan otaknya membayangi masukan dari Fang. Dia malu untuk bersikap ramah, apalagi di depan Yaya.

"Halilintar tadi langsung tancap kabur. Yaya tahu tidak, dia berubah 180 derajat tadi?"

"Jadi cewek?"

"Aih bukan lah! Halilintar jadi sedikit ramahan! Bayangkan, dia menyapa dengan logat inggrisnya seperti bule t'rus tersenyum! Coba dari dulu dia begitu, anak-anak seangkatan kelas 12 pasti bakal mengincar dia!"

"Dia memang muda seperantaraanku—tapi aku tidak yakin dia orang yang akan mau mencari pasangan semudah itu."

Halilintar tertegun.

"Halilintar itu kasar. Bahkan dia bertindak seenaknya padaku."

Kini ia mendengar jawaban langsung dari Yaya. Semua juga pasti mendambakan sosok positif ada pada dirinya. Yaya juga demikian, menyukainya yang hangat lagi suka tersenyum setiap saat—terdengar dari ucapan Yaya tadi sepertinya menggambarkan demikian.

'Mana ada yang juga suka pada orang buruk.'

Suara bel berbunyi dua kali. Tandanya pelajaran pertama usai. Halilintar masuk ke dalam ruangan tanpa tahu-tahu, meski Yaya dan temannya memerhatikan wajahnya lekat sedari tadi. Ia menghampiri mejanya dan segera menarik satu buku paket disana. Sunyi senyap dalam ruangan itu sampai Halilintar keluar. Kedua perempua itu saling pandang.

"Aku juga kayaknya harus masuk di kelas 11 ini—permisi, Yaya."

Yaya menganggukkan kepalanya saat perempuan tadi juga keluar dengan menenteng buku paketnya. Ia menyenderkan punggungnya pada sisi meja. Matanya hanya berfokus melihat sudut ruangan dengan tatapan kosong.

'Kalau Halilintar disukai semua orang, aku takkan bisa jadi orang yang satu-satunya dekat dengannya.'

"Eh?! Apa yang barusan aku pikirkan?!"

=oOo=

Jam pelajaran usai dengan pemandangan biasa para murid bubar dari kelas, setelah bel dibunyikan. Pada lapangan menuju gerbang sekolah terlihat penuh dengan anak-anak yang lalu lalang mencari jalan keluar sekolah. Sedikit area dihalangi dengan beberapa anak murid yang hanya berkumpul bersama teman-temannya. Tidak peduli dengan anak-anak lain yang ingin sekali melewati stand mereka yang kini hanya bisa berbelok.

Seperti di sisi lain, anak-anak perempuan berkumpul. Suara ribut seperti teriakan atau hanya perbincangan, kepada seseorang yang mereka berusaha untuk menjarah tangannya.

"Pak Halilintar nanti kita adain kursus aja ya!"

"Pak! Saya mau kok kursus privasi sama bapak!"

"Nanti kalau-kalau ada tugas banyakin aja pak!"

Yaya memandang kumpulan itu jengah dari kejauhan. Sempat matanya menangkap anak didiknya berusaha mengenggam tangan guru mereka itu. Ia ingin menegur, tapi Halilintar ia kenal sebagai sosok dengan tingkat harga diri tinggi. Biarkan saja, paling semua akan teratasi.

Walau sebenarnya dari cara anak murid yang tiba-tiba ricuh itu sedikit membuat Yaya gusar. Ia tidak yakin Halilintar bisa membentak.

"That's my students."

Apalagi wajah Halilintar yang kelihatannya ramah dengan anak-anak. Yaya semakin tidak yakin keadaan bisa dikendalikan sementara.

=To be Continued=

A/N: Saya lupa kalau chapter 3 itu merupakan buah dari PM saya bersama author Dark Calamity of Princess. Terima kasih untuk meluangkan waktunya ^^ dan saya juga berterima kasih pada Eka Febi A. yang juga memberi tahu golongan darah mereka (saya benar-benar tertarik sama teori golongan darah sih xD).

Saya segera mungkin apdet chapter terbaru, karena mulai besok sampai idul fitri bakalan sibuk dengan kerjaan sekolah sama membantu memasak. Dan kemungkinan besar saya akan lebih aktif di AO3 untuk genre fantasy, sedang romance saya tetap akan memakai ffn untuk berkarya. Gopal kemana ya? Lihat saja nanti.

Untuk para readers yang pernah add fb saya tapi saya unfriend, saya akan beri alasannya.

Satu, saya gak mau dijadiin penambah friendlist dengan target-target likes banyak. Saya gak hobi nge-like suatu post kecuali saya memang suka.

Kedua, saya gak mau teman-teman sekalian jadi takut sama saya karena saya sering main sindir lewat status. Saya memang sedikit mengalami problem keluarga, dan kebiasaan jelek saya ialah selalu menganggap masalah yang padahal gak perlu dibesar-besarin juga setiap melihat status teman-teman ketika BADMOOD. Makanya, saya mencoba cari aman saja. Sebenarnya kalian kalau mau intropeksi bisa aja langsung comment, saya bisa maklumi kekhilafan kalian.

Ketiga, saya sering nebar wip sketch dengan gambar adult untuk tokoh Boboiboy. Saya takut ada yang re-post karya saya dan mengaku itu miliknya. Dulu ada anak dari instagram mengambil gambar wip Air yang jadi foto DeviantID saya (artist dari Malaysia yang malah melapor sama saya) dan takutnya gambar-gambar saya direpost juga. Saya sebenarnya memperbolehkan teman-teman memakai art saya, hanya kalau dipublikasikan harap cantumkan credit (walau commish sekalipun). Kalian kira mouse artist itu enak, makanya karya saya disetarain kayak senpai-senpai yang udah sering berkarya bahkan lebih mendewa di google? ^^

Dan karena sebentar lagi idul fitri, saya ucapkan mohon maaf lahir dan batin!