[A Secret Splendor ― Sandra Brown]

DON'T LIKE! DON'T READ!

pichaa794 present

remake novel HunHan ver

A Secret Splendor

Chapter 4

.

.

Namun bukannya mengalihkan pikirannya dari Sehun, Luhan malah menghabiskan malam itu dengan mempertanyakan pada dirinya di mana dan dengan siapa laki-laki itu makan malam.

Apakah ia ada di rumah bersama Minguk? Dengan seorang teman? Seorang wanita lain? Tapi Luhan tidak begitu yakin mengenai yang terakhir. Di saat mereka berdua, seluruh perhatiannya biasanya hanya tertumpah pada dirinya.

"Apakah aku terlalu cepat, terlalu memonopoli waktu liburanmu, mencuri waktu yang sebetulnya adalah milik seseorang?"

Tanya Sehun saat Luhan menolak ajakannya untuk makan malam bersamanya. Nadanya memang ringan, malah hampir seperti bercanda, namun Luhan tahu dari cara ia mengangkat alisnya

"Tidak, Sehun. Sama sekali tidak. Aku sudah mengungkapkan padamu pada hari pertama kita bertemu, bahwa tidak ada seorang pun. Cuma kurasa kita butuh waktu paling tidak semalam untuk tidak kita habiskan bersama-sama. Aku juga tidak ingin memonopoli waktumu. Dan aku memang sungguh-sungguh harus menyelesaikan pekerjaanku."

Dengan perasaan curiga dan agak enggan Sehun menerima penolakannya.

Luhan merasa cemas akan apa yang sedang berlangsung pada dirinya setiap kali mereka menghabiskan waktu bersama. Ia sedang bermain dengan api dan ia tahu itu.

Namun saat-saat tidak bersamanya jadi terasa amat membosankan dan monoton. Sehun tidak pernah mencium dirinya kecuali sekali, saat ia memberikan rangkaian lei itu. Di luar tata krama yang ada, Sehun tidak pernah menyentuh dirinya.

Namun keberadaannya membuat Luhan merasa begitu ringan, muda, dan cantik. Dan emosi-emosinya merupakan emosi orang yang sedang jatuh cinta. Padahal itu tidak boleh terjadi. Ia ke Maui untuk melihat putranya. Itu tujuan utamanya, sedangkan Sehun hanya sarana untuk mencapai tujuannya.

Tapi...

Esok paginya setelah malam yang mereka lewat kan sendiri-sendiri, Luhan berjalan santai ke lapangan tenis, sambil berusaha menekankan pada dirinya bahwa ia ke sana bukan untuk menemui Sehun . Belum tentu ia main saat itu.

Sehun sedang minum dari botol Gatorade-nya waktu ia melihat Luhan. Ia melemparkan botolnya ke arah Chanyeol, kemudian berlari kecil menghampiri Luhan.

"Hai. Aku baru saja mau meneleponmu. Makan sama-sama nanti malam, ya?"

"Oke."

Undangan spontan yang langsung mendapat sambutan antusias itu membuat mereka sama-sama terkejut dan senang. Mereka sama-sama tertawa, dengan salah tingkah, sambil menikmati pertemuan itu.

"Kujemput kau pukul tujuh tiga puluh."

"Oke."

"Kau mau nonton aku main?"

"Sebentar, setelah itu aku harus kembali ke kamar untuk bekerja."

"Dan aku sudah berjanji pada Minguk untuk bermain dengannya di pantai."

Setiap kali Sehun menyebut nama Minguk, jantung Luhan berdegup dengan lebih cepat.

"Kuharap aku tidak terlalu banyak menyita waktumu untuknya."

"Aku tidak pernah meninggalkannya malam-malam sebelum ia naik ke atas tempat tidurnya. Ia tidak akan merasa kehilangan aku. Ia selalu memastikan bahwa aku yang nomor dua bangun di rumah setiap pagi."

Luhan tertawa. "Yuji juga selalu begitu. Ia akan naik ke atas tempat tidurku dan membuka mataku sambil bertanya apakah aku sudah bangun."

"Kukira hanya Minguk yang suka melakukan itu!" Mereka tertawa lagi. Kemudian Sehun berkata, "Aku harus kembali ke lapangan, tapi kita akan bertemu nanti malam."

"Main yang bagus, ya."

"Akan aku coba."

"Pasti."

Sehun mengedipkan mata ke arah Luhan sebelum bergabung kembali dengan Chanyeol yang sabar, yang ternyata tidak dengan begitu saja menyia-nyiakan waktunya, tapi sedang asyik bercanda dengan para penonton mereka yang setia.

Luhan bertanya-tanya apakah mereka yang melihat kehadirannya di situ bersama Sehun tidak akan menganggap dirinya sebagai salah satu di antara cewek-cewek histeris itu. Ide itu membuatnya gelisah.

Apakah ia memang cuma salah satu di antara mereka?

l..l

l..l

l..l

Ia belum betul-betul siap ketika Sehun mengetuk pintunya. Meskipun secara tidak sadar sepanjang sore pikirannya terus ada padanya. Namun ia jadi mendapat inspirasi, yang secara cepat ia tuangkan ke dalam salah satu artikelnya. Dalam waktunya yang tinggal sedikit ia buru-buru mandi dan mencuci rambutnya sebelum Sehun muncul.

Masih sambil menarik ritsleting gaunnya ia bergegas ke pintu.

"Maaf,"

Ujarnya dengan terengah-engah saat ia mempersilakannya masuk. Sehun sedang bersandar dengan santai pada kusen pintu, seakan ia tidak habis menunggu selama hampir satu menit di situ.

Ia melihat pipi Luhan kemerahan, kakinya yang baru memakai stocking dan tampangnya yang secara keseluruhannya masih kacau. Lalu katanya sambil tersenyum.

"Tidak percuma aku menunggu."

"Masuklah. Aku tinggal memakai sepatu dan perhiasanku. Kau sudah pesan tempat? Kuharap kita tidak terlambat..."

"Luhan," ujar Sehun, sambil menutup pintu di belakangnya dan mencengkeram pundak Luhan. "Tidak apa. Kita masih punya banyak waktu."

Luhan menarik napas dalam-dalam. "Oke. Aku tidak perlu buru-buru."

"Bagus,"

Ujar Sehun tertawa sambil melepaskan pegangannya. Ia melayangkan pandangannya ke seputar ruangan itu, lalu memfokuskan perhatiannya ke arah Luhan yang sedang mengenakan sepatu tali bertumit tingginya.

Dengan menempelkan satu tangan di tembok untuk menjaga keseimbangannya, Luhan mengangkat sebuah kakinya yang ramping untuk memasang talinya. Gerakannya luwes, amat feminin, dan secara tidak disadarinya memancing perhatian.

Sehun menatap kaki Luhan yang panjang, mulus, dan terbungkus bahan sutra. Otot-otot betisnya tampak kuat dan indah saat ia menapakkan tumitnya, yang sepertinya akan pas dalam genggaman tangannya.

Sehun tersenyum saat sekilas terlihat ujung renda pakaian dalam Luhan. Dan pada saat Luhan membungkuk, mau tak mau Sehun memperhatikan bagaimana potongan leher gaunnya yang berbentuk V menyingkapkan belahan buah dadanya. Ia memaksa dirinya untuk mengalihkan pandangannya ke tempat yang lebih aman.

Rambutnya selalu tampak lembut dan minta disentuh, bahkan dalam keadaan terikat ke belakang sekalipun. Malam itu Luhan membiarkannya tergerai lepas, membuat Sehun ingin merasakan kehalusannya di antara jari-jarinya.

"Oke,"

Ujar Luhan, sambil menegakkan tubuhnya. Kemudian ia menuju ke sebuah bufet panjang di seberang sebuah tempat tidur berukuran besar.

Sehun berusaha untuk tidak membiarkan pikirannya melantur ke mana-mana melihat tempat tidur itu.

"Perhiasan."

Luhan mengaduk-aduk isi sebuah wadah pernak-pernik yang terbuat dari bahan satin.

Gaunnya yang tidak berlengan terbuat dari bahan yang lembut dan halus memberikan aksen pada bentuk pinggulnya yang penuh namun tidak terlalu besar. Apa pun yang ia kenakan akan tampak hebat, formal ataupun santai. Ia bisa mengenakan setelan Jeans dan T-shirt namun tetap tampil menarik. Tanpa apa-apa pun penampilannya pasti seksi.

Sial!

Umpat Sehun dalam hati. Ia telah melanggar janjinya pada dirinya sendiri dengan membiarkan pikirannya melantur.

Jari-jari Luhan sedang sibuk memasang giwang emas di telinganya, yang Sehun bayangkan ia sentuh dengan ujung lidahnya. Jantung Sehun berdebar cepat saat Luhan menaikkan lengannya untuk memasang seuntai kalung emas tipis di lehernya.

"Mari kubantu"

Ujar Sehun canggung. Ia beranjak ke belakang Luhan. Sesaat, sebelum jari-jari Sehun menerima kalung itu, mereka saling menatap melalui cermin. Lengan Luhan yang masih terangkat ke atas membuatnya tampak begitu polos dan tidak berdaya.

Luhan menurunkan Iengannya perlahan-lahan begitu kalung itu sudah berpindah tangan dan Sehun mulai sibuk dengan kaitnya yang rumit. Setelah terpasang, Luhan segera beranjak menjauh.

"Tunggu, ritsletingmu nyangkut," ujar Sehun .

"Oh." Nyaris Luhan tak mampu mengeluarkan kata itu.

Tanpa terburu-buru, Sehun menurunkan ristletingnya. Punggungnya terasa dingin. Luhan berdiri diam-diam, sambil membiarkan ritsleting itu terus turun sampai ke batas pinggangnya. Permukaannya yang mulus membuat Sehun tahu bahwa Luhan tidak mengenakan bra saat itu.

Sekali lagi pandangan mereka bertemu di cermin. Mata Sehun yang bak lidah api, gelap, dan siap untuk melahap. Sedangkan mata Luhan sendiri sendu, mengungkapkan kerinduan.

Tubuh Sehun yang tegang seakan menantikan isyarat darinya. Luhan tidak merasa begitu yakin bahwa mereka masih akan pergi. Keputusan berada di tangannya.

Tapi bercinta dengan Sehun adalah suatu hal yang tidak boleh ia lakukan. Keterlibatan secara seksual dalam situasi yang sudah telanjur kacau ini akan membuat segalanya bertambah kacau. Selain itu jauh di lubuk hatinya, Luhan merasa takut bahwa ia akan kecewa nantinya. Atau lebih gawat lagi, Sehun yang akan kecewa. Rupanya ia masih dihantui kata-kata Jonghyun yang mengatakan bahwa kemampuannya dalam memberikan kepuasan seksual kepada pasangannya amat terbatas.

Rasanya lebih aman kalau hubungan mereka tetap netral. Seperti dua orang teman. Apakah tidak mungkin bagi seorang laki-laki dan wanita sekadar menjalin suatu persahabatan? Bukankah itu yang sebenarnya ia inginkan dari Sehun?

Dengan bijaksana, sesuai dengan tata krama, tapi juga hati yang lemah, Luhan menundukkan kepalanya kemudian menggeleng lemah. Sehun menangkap isyaratnya dan menaikkan ritsleting gaun itu ke atas.

"Ada benang yang tersangkut. Tapi sekarang sudah beres."

"Terima kasih," ujar Luhan sambil melangkah menjauh.

Ia bukan seorang yang gampangan.

"Luhan?"

Luhan meraih tas tangannya sebelum ia menoleh ke arahnya. "Ya?"

"Sudah lama aku tidak berada di dalam suatu lingkungan yang serba feminin seperti ini, melihat seorang wanita yang berarti bagiku berdandan. Aku baru menyadari betapa aku kehilangan ini semua."

Luhan mengalihkan pandangannya ke luar jendela, ke arah pohon-pohon palem yang tampak bak siluet berlatarkan langit yang bernuansa keunguan.

"Kesendirian memang kadang-kadang kurang menguntungkan."

Sehun mendekat. "Dalam arti?" bisiknya dalam nada rendah.

Ini harus segera dihentikan. Dan itu semua tergantung padanya. Ia mengangkat matanya, sambil berupaya untuk tersenyum nakal.

"Tidak ada yang membantu kalau ada ritsleting yang tersangkut."

Kekecewaan Sehun menanggapi jawaban itu terlihat dari cara pundaknya turun, namun demikian senyumnya masih simpatik.

"Itulah kalau kalian mau sok mandiri."

Suasana santai dan menyenangkan mengiringi perjalanan mereka di atas mobil Seville yang dikemudikan Sehun , menelusuri jalan-jalan sempit Pulau Maui. Pantai Kaanapali merupakan salah satu di antara sedikit tempat yang sudah berkembang di kepulauan itu. Di sana-sini tampak beberapa buah hotel, restoran, dan klub yang elegan.

l..l

l..l

l..l

Sehun menepikan kendaraannya di muka serambi Hotel Hyatt.

"Sudah pernah kemari?" tanyanya begitu ia bergabung dengan Luhan, yang dibantu keluar dari mobil oleh seorang pelayan hotel.

"Belum, tapi aku sudah berniat ke sini sebelum aku pulang."

"Kalau begitu sebaiknya kau siap mental. Kau tidak akan menemui keunikan suasana hotel ini di hotel manapun di muka bumi ini."

Dan kenyataannya memang begitu. Kebanyakan lobi hotel memiliki langit-langit. Yang ini tidak. Langit-langit ruangan lobi ini, yang tingginya sekian banyak tingkat, adalah langit yang terbuka.

Tata ruangnya bertemakan suasana hutan tropis lengkap dengan pohon dan tanamannya yang rimbun. Di saat hujan turun, efeknya betul-betul hidup. Bagian-bagiannya yang dinaungi didekorasi secara elegan dengan guci-guci Cina berukuran besar. Karpet-karpet mewah dan benda-benda antik dari Timur memberikan sentuhan yang megah tanpa merusak suasana santai dan hangat.

Mereka melintasi lobi yang luas itu. Luhan tidak sempat melihat-lihat toko dan galeri-galerinya yang eksklusif karena ia keburu digiring ke sebuah tangga yang melingkar turun ke Swan Court.

"Aku merasa seperti orang kampung yang baru masuk kota. Apakah aku kelihatan begitu?"

"Aku suka pada orang kampung," sahut Sehun , sambil mempererat rangkulannya. "Dan mengenai tampangmu, sebagaimana juga seluruh penampilanmu malam ini, betul-betul sempurna."

Luhan merasa senang bahwa kepala pelayan pada kesempatan itu memilihkan dan mengantarkan mereka ke sebuah meja yang diterangi cahaya lilin di dekat sebuah kolam, tempat beberapa ekor angsa berenang dengan anggunnya.

Sebagaimana hampir semua restoran di pulau itu, yang ini pun berada di alam terbuka. Mereka menghadap ke sebuah danau yang lengkap dengan air terjun dan batu-batu lava.

Para pengunjung mengenakan busana malam resmi, dan Luhan merasa bersyukur bahwa ia telah memilih gaunnya yang paling formal. Sehun sepertinya membaca apa yang terpintas dalam kepalanya.

"Jangan terlalu terkesan," bisiknya dari balik buku menunya. "Pada pagi hari ruangan ini penuh dengan orang yang mondar-mandir mengenakan pakaian renang dan sandal jepit."

Luhan membiarkan suasana hangat di sekelilingnya menyelimuti dirinya dan nyaris tidak memperhatikan saat Sehun memberikan isyarat pada pelayan.

"Kau mau minum anggur?"

"Ya, terima kasih," sahut Luhan sambil membalas tatapan menantangnya.

Sehun memesan sebotol anggur putih yang mahal. Luhan mencoba untuk tidak memperlihatkan reaksinya. Selama mereka bersama, Sehun tidak pernah meminum sesuatu yang mengandung alkohol.

"Aku biasa minum segelas-dua gelas anggur waktu makan malam," ujar Sehun .

"Aku tidak tanya."

"Memang, tapi mungkin kau mempertanyakan apakah aku akan tahan."

"Aku sudah minta padamu sebelumnya untuk tidak mencoba mengendalikan jalan pikiranku. Kau sudah dewasa. Hanya kau yang tahu apakah kau akan tahan atau tidak."

"Kau tidak khawatir bahwa aku akan keterusan lalu menjadi mabuk dan kacau?" Ia bercanda.

Luhan menerima tantangannya. Sambil memajukan tubuhnya, ia berbisik.

"Mungkin aku malah senang kalau kau menjadi sedikit kacau." Insting seekor serangga adalah terbang ke dekat api.

Sehun menyipitkan matanya. "Aku tidak perlu minum anggur lebih dahulu untuk menjadi kacau."

Luhan segera menarik dirinya sebelum sayapnya kena api. "Tapi aku percaya bahwa kau tidak akan melakukan itu."

Sehun membiarkan Luhan menarik diri. Nada suaranya mengungkapkan bahwa ia tidak keberatan untuk mengganti topik pembicaraan mereka.

"Kau punya alasan untuk khawatir. Aku memang Iebih banyak mabuk dan kacau tahun lalu. Tidak pernah terpintas dalam diriku bahwa aku bisa keluar dari situasi itu." Ia menggertakkan giginya sambil mengepalkan tinjunya.

"...Demi Tuhan, apa pun akan kulakukan agar bisa menghapus apa yang telah kulakukan."

Luhan dapat mengerti perasaan frustrasi dan penyesalannya. Keputusan sudah diambil, kemudian disesali. Kebanyakan memang sudah tidak bisa diperbaiki lagi.

"Kita semua pernah melakukan kesalahan, Sehun, dan kemudian berharap dapat memperbaikinya. Ternyata tidak bisa. Kita harus menanggung akibat dari keputusan kita."

Nadanya menjadi lebih seperti suatu introspeksi, saat ia menambahkan,

"...Kadang- kadang untuk seumur hidup kita."

Sehun tertawa pelan. "Pesimis sekali kedengarannya, seakan tidak ada harapan. Apa kita tidak akan memperoleh suatu kesempatan untuk mencoba kembali?"

"Ya. Untungnya demikian. Menurutku kita yang harus mengupayakan terjadinya kesempatan itu. Entah dengan cara mencoba memperbaiki kesalahan kita atau belajar menerimanya."

"Itu hanya berlaku bagi seorang pecundang. Menyerah dengan begitu saja."

"Ya. Tapi kau seorang pemenang."

"Aku tidak bisa hidup dalam kemelut yang telah kutimbulkan sendiri. Aku merasa harus melakukan sesuatu untuk memperbaikinya."

"Aku juga," gumam Luhan pada dirinya sendiri.

"Maaf?"

Apakah ia harus mengungkapkannya sekarang? Saat ini juga? Sehun yang memulai topik mengenai kegagalan serta upaya untuk memperbaikinya. Ia sedang menerapkannya di dalam hidupnya sendiri. Tentunya Sehun akan mengerti kalau dirinya pun ingin melakukan hal itu juga.

Tapi bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau Sehun tiba-tiba meninggalkan dirinya dan tidak mau bertemu lagi dengannya. Ia tidak akan bisa melihat Minguk. Tidak, sebaiknya ia menunggu sampai ia bertemu dengan anaknya, setidak-tidaknya sekali. Setelah itu ia akan mengungkapkan kepada Sehun siapa dirinya. Setelah itu, tidak sekarang.

Luhan meluruskan punggungnya sambil tersenyum. "Kenapa kita membicarakan topik yang seserius ini? Nah, anggurnya sudah datang. Ayo, kita tinggalkan kesalahan-kesalahan di masa lalu kita malam ini."

Daging sapinya ternyata lezat sekali, demikian juga hidangan-hidangan lain yang melengkapinya. Mereka hanya memesan satu botol anggur saja, dan masih setengah botol ketika mereka akhirnya menutup acara makan malam yang telah berlangsung selama dua jam itu.

Dalam keadaan kenyang dan puas, namun hati yang terasa ringan, Luhan menapaki tangga ke atas. Ia mabuk bukan gara-gara minum anggur, melainkan oleh suasana romantis dan pesona laki-laki yang berjalan di sebelahnya.

Di bar lobi hotel itu terdengar denting piano baby grand yang mengalunkan lagu-lagu cinta. Desiran angin laut berembus masuk ke dalam ruangan itu, menggerakkan daun pohon-pohon dan menebarkan harumnya aroma pikaki dan plumeria.

Mereka berhenti sebentar di bawah lampu yang bersinar lembut.

"Kau menikmati makan malammu?" tanya Sehun , sambil menggenggam kedua tangan Luhan.

"Hmm..."

Luhan sedang memperhatikan rambut Sehun dan membayangkan seperti apa rasanya kalau ia menyusupkan tangannya ke dalamnya, kalau jarinya memilinnya saat ia tak dapat menguasai dirinya lagi. Luhan memperhatikan bentuk mulutnya. Apa yang kemudian ia bayangkan tiba-tiba membuat seluruh wajahnya merah padam.

"Apa?"

"Apa?" Luhan balik bertanya.

"Kau bilang apa?" tanya Sehun.

Matanya sedang mempelajari garis-garis wajah Luhan, bagian demi bagian tanpa terburu-buru.

"Tidak," sahut Luhan berbisik. "Aku tidak bilang apa-apa."

"Oh, kukira kau mengatakan sesuatu."

Sehun sedang mempelajari bentuk mulut Luhan sekarang. Dan kalau sebelumnya wajah Luhan sudah merah padam oleh fantasinya sendiri, entah akan bagaimana reaksinya kalau ia tahu apa yang sedang dikhayalkan Sehun tentang mulutnya. Untuk menjaga kesadarannya, Sehun segera menyisihkan bayangan itu dari kepalanya.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?"

"Sekarang? Aku tidak tahu. Kau mau apa?"

Ya Tuhan, jangan kau tanyakan itu!

"Dansa?"

"Asyik juga kedengarannya,"

Sahut Luhan, sambil batuk-batuk ringan dan berusaha merapikan letak gaunnya. Kesibukan. Itulah yang mereka butuhkan. Begitu mereka tidak melakukan apa-apa, mereka menjadi terobsesi pada satu sama lain.

"Ada sebuah klub di bawah. Aku belum pernah ke sana, tapi kita bisa mencoba."

"Oke."

Sehun menggiring Luhan menuruni sebuah tangga lain, yang pegangannya terbuat dari kuningan peninggalan abad masa peralihan. Mereka menyibak pintu yang terbuat dari bahan kulit yang berjumbai-jumbai. Dan disambut penerima tamu yang tersenyum lebar, gelegar musik disko, riuh-rendah suara orang bercakap-cakap dan tertawa, serta selubung asap nikotin.

Sehun menatap Luhan dengan pandangan bertanya. Luhan membalasnya dengan ekspresi yang sama di matanya. Serentak mereka memutar tubuh dan kembali menaiki tangga. Mereka sama-sama tertawa begitu mereka sampai di lobi hotel.

"Rupanya kita mulai tua," ujar Sehun . "Aku lebih menikmati permainan solo sebuah piano."

"Aku juga."

"Dan aku tidak ingin berteriak supaya suaraku terdengar."

Ia memajukan tubuhnya untuk mendekatkan mulutnya ke telinga Luhan dan berbisik,

"Siapa tahu aku ingin mengatakan sesuatu yang aku tak mau didengar orang lain."

Ketika ia menarik dirinya, apa yang terpancar di dalam matanya menambahkan kesan intim ucapannya. Tubuh Luhan menggelenyar menikmati momentum itu.

"Kau mau minum sesuatu?"

Luhan menggeleng. "Bagaimana kalau kau menunjukkan padaku di mana kolam renangnya?"

Sambil bergandengan tangan, mereka menuju ke teras yang membawa mereka ke sebuah Taman Firdaus. Jalan-jalan setapaknya diterangi deretan obor yang lidah apinya digoyang-goyang angin. Kolam-kolam renangnya merupakan suatu mahakarya arsitektur yang dibangun dengan ketinggian yang berbeda, mengelilingi sebuah gua dan batu lava.

Dengan antusias Luhan merespons semua yang ditunjuk Sehun, meskipun sebetulnya ia tidak begitu peduli pada apa yang dikatakannya atau yang ia lihat sendiri. Begitu menyenangkan mendengar suara laki- laki itu di dekat telinganya, untuk menikmati aroma hangat napasnya, untuk merasakan kehadirannya yang maskulin dan melindungi. Jantung Luhan berdebar-debar mengikuti irama deburan ombak di pantai yang hanya beberapa meter jaraknya dari situ.

Di dalam keremangan, beberapa pasangan sedang berkasih-kasihan, saling memeluk sambil berbisik-bisik. Semua mengerti bahwa privasi merupakan tujuan utama mereka. Dan ketika Sehun menghentikan langkahnya dan kemudian menariknya ke balik sebuah batu besar yang diselubungi tanaman rambat yang rimbun, Luhan tidak mengeluarkan protes.

"Boleh aku mengajakmu?" tanya Sehun dalam nada yang sok formal.

Luhan tertawa, dan mencoba bertampang serius saat ia menjawab, "Ya, tentu."

Mereka saling merapat, dan untuk pertama kali sejak mereka berkenalan, ia menikmati sensasi yang ditimbulkan posisi fisik mereka.

Dalam irama waltz tradisional, lengan Sehun melingkar di pinggang Luhan dan telapak tangan mereka menyatu setinggi bahu. Tangan Luhan yang lain di pundak Sehun.

Mereka tidak bergerak banyak untuk tidak merusak suasana intim itu, karena mereka sama-sama tahu bahwa undangan untuk berdansa ini hanya merupakan suatu alasan saja bagi mereka untuk saling berada di dalam pelukan masing-masing. Mereka berayun mengikuti alunan piano yang berasal dari bar dilobi.

Waktu terus berjalan, dan musik sudah berganti ke irama lain, namun mereka masih asyik bergoyang, sementara mata mereka masih terus saling menatap.

Luhan memindahkan tangannya dari pundak Sehun ke bagian belakang lehernya. Jari-jarinya menyelusup di antara rambut cokelat gelap yang jatuh di atas kerah bajunya.

Sementara Sehun, masih sambil menatap mata Luhan, mendekatkan tangan di dalam genggamannya ke dekat mulutnya untuk ia usapkan pada bibirnya.

Perlahan-lahan ia menaikkan lengan Luhan dalam genggamannya untuk ia tempatkan ke bagian belakang lehernya. Kemudian tangannya turun ke punggung Luhan. Ia merapatkan tubuhnya.

"Kau tahu betapa susahnya bagiku untuk menahan diri untuk tidak menjamahmu?"

"Aku tahu," sahut Luhan dengan suara parau.

"Aku begitu ingin memelukmu, Luhan."

"Dan aku begitu ingin dipeluk."

"Kau cuma perlu meminta," bisik Sehun sebelum ia membenamkan wajahnya ke dalam rambut Luhan.

"...Arommu begitu enak, begitu harum. Kulit wajahmu begitu cantik. Sungguh, persis seperti yang aku bayangkan. Aku ingin sekali memandangimu, menyentuhmu, menikmatimu."

Luhan mendesah saat ia menyusupkan wajahnya ke dalam lekuk leher Sehun. Ia mempererat rangkulannya sambil lebih merapatkan tubuhnya lagi. Sehun mengeluarkan suara erangan tertahan. Tangannya turun perlahan terus ke bawah.

Tubuh Sehun begitu hangat. Luhan dapat merasakan kehangatannya merambat ke tubuhnya sendiri.

"Maaf, Lu. Aku tidak punya maksud bersikap lancang padamu, tapi aku begitu menikmati keberadaanmu."

"Sehun..."

"Kau ingin aku menyudahi ini?"

"Sehun."

Luhan menegakkan kepalanya untuk langsung menatap mata Sehun.

"Tidak." Tubuhnya merinding "Tidak." Kemudian dalam nada sedikit histeris dan nekat, ia memohon, "Cium aku."

Sehun mendekatkan bibirnya ke mulut Luhan dengan penuh emosi. Ciumannya merupakan perluapan kerinduan yang selama ini begitu ditahan-tahannya. Luhan belum pernah merasa begitu menikmati keberadaannya. Bak seekor kupu-kupu yang bebas terlepas dari cengkeraman ketidakberdayaan dan kesuraman nasibnya, untuk pertama kali di dalam hidupnya ia melihat terang.

Sehun mengangkat kepalanya, kemudian menatap dengan mata cokelatnya yang berbinar. Irama napasnya cepat sekali. Seperti irama napasnya sendiri.

Dengan seluruh dayanya Sehun berusaha untuk menguasai dirinya, kemudian dengan penuh perasaan ia mengusap dagu Luhan. Ia menelusuri bibir bawahnya yang agak memar dengan ekspresi menyesal. Luhan tersenyum untuk mengungkapkan bahwa ia mengerti.

Ketika bibir mereka bertemu lagi kemudian, sentuhannya jauh lebih lembut.

"Sehun."

"Aku sedikit kasar tadi. Bukan maksudku untuk begitu."

"Aku tahu."

"Kau membuatku gila."

"Aku menyerah."

Luhan telah merasakan kebutuhan ini selama seluruh masa dewasanya. Ia membutuhkannya untuk merasa dirinya dicintai, dicintai sebagaimana apa adanya, dihargai untuk kefemininannya.

Baru setelah ia bertemu dengan Sehun ia merasa dirinya menarik. Sejak awal, tatapannya dan bahasa tubuhnya mengungkapkan bahwa laki-laki itu menganggap dirinya amat seksi dan memesona. Sejak awal ia selalu blak-blakan mengenai hal itu.

Tapi tidak demikian halnya dengan Luhan.

Apa yang ia rasakan saat ini memang tulus dan apa adanya, tapi apakah Sehun akan mempercayai itu kelak? Apakah ia akan mempercayai itu begitu ia tahu bahwa Luhan adalah ibu kandung putranya.

Begitu banyak yang harus dipertanggung jawabkannya kelak. Apakah ia masih ingin menambahkan itu lagi dengan tudingan bahwa ia telah menjebaknya secara seksual? Ide itu membuat perut Luhan terasa mulas. Ia harus segera bertindak sebelum segalanya terlambat.

"Sehun," gumamnya.

"Hmmm?"

"Sehun,"

Ulangnya dalam nada yang lebih serius, sambil memindahkan tangannya ke pundak laki-laki itu.

"J-jangan..."

Sehun sedang menurunkan tali bahu gaunnya. Luhan mulai panik. Kalau ia masih mau menghentikannya, ia harus melakukan itu sekarang. Satu-satunya cara yang terpikir olehnya adalah dengan membuat Sehun marah.

"Cukup!"

Ia menepis tangan Sehun kemudian merenggut dirinya dari pelukannya. Wajah Sehun kelihatan bingung. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Oke," ujarnya dalam nada tertahan,

"...Kau tidak usah memperlakukanku seperti seorang anak nakal. Aku berhak untuk menganggap bahwa kau menikmati ciumanku."

Luhan berusaha untuk menghindari tatapannya.

"Ciumanmu ya. Tapi aku bukan salah satu di antara gadis-gadis yang suka ..."

"Jadi begitu kau menilai yang barusan kita lakukan?"

Ia menyusuri rambutnya dengan tangannya, kemudian dengan frustrasi menarik-narik simpul dasinya.

"Ya?"

Membuatnya marah memang merupakan tujuan Luhan, tapi tidak sampai begini. Dengan terbata-bata ia mencoba menjelaskan.

"A-aku ..."

"Oke. Tapi apa sebetulnya yang membuat kau begitu berbeda dari yang lain? Kau selalu mau diajak, dan kau tidak terikat siapa-siapa. Bagaimana lagi anggapanku menurutmu? Apa kau berbeda karena kau tidak pernah bermaksud untuk membiarkan dirimu sampai terbawa sejauh ini? Tanpa seks, cuma sekadar dukungan moral untuk orang yang banyak dipublikasi kan kehilangan arah ini." Ia betul-betul marah.

"...Begitu kah? Apakah bagimu aku cuma salah satu kasus amal kebaikan?"

Luhan mendapatkan bahwa ia mulai mengalami kesulitan untuk menahan emosinya sendiri.

"Seperti yang sudah kutegaskan padamu sejak awal, kau yang mendekatiku, bukan sebaliknya. Dan mengenai apa yang kau anggap sebagai kasus amal kebaikan itu, aku tidak peduli apakah kau mau langsung ke neraka atau mau minum-minum sampai mati atau sempoyongan dan jatuh tersungkur di setiap lapangan tenis. Terus terang aku tidak yakin kau memang layak untuk ditolong."

Sehun tidak menjawab. Ia memiringkan kepalanya, seakan mulai melihat Luhan dari suatu sisi yang berbeda.

"Mungkin kau tidak berbeda dari yang lain. Salah satu wanita yang ingin tidur dengan seorang selebriti cuma sekadar untuk memuaskan egonya. Apakah tidur denganku akan meningkatkan rasa percaya dirimu yang kandas gara-gara perkawinanmu yang gagal?"

Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan. "...Lalu kenapa? Takut?"

Amarah membuat wajah Luhan menjadi merah padam.

"Brengsek. Aku bukan seorang janda cerai yang sudah kacau. Sudah bagus aku bisa terlepas dari cengkeraman laki-laki itu. Aku akan berpikir berkali-kali sebelum menginginkan hubungan seperti itu lagi. Dan kalaupun rasa percaya diriku sampai kandas, yang pada kenyataannya tidak, aku akan membutuhkan lebih daripada sekadar meniduri seorang pemain tenis yang tidak becus untuk memulihkannya. Anda tidak usah berpikir macam-macam, tuan Oh Sehun. Aku sudah hidup tanpa seks selama tiga puluh satu tahun. Kurasa aku masih kuat bertahan tiga puluh satu tahun lagi."

Luhan memutar tubuhnya, kemudian pergi menuju jalan setapak yang gelap. Sehun segera mengejarnya sambil menggerutu,

"Kau salah jalan."

Luhan mencoba merenggut lengannya dari cekalan Sehun , namun Sehun bersikeras untuk tidak melepaskannya. Daripada bertarik-tarikan, Luhan akhirnya mengalah dengan membiarkan dirinya digiring melintasi lobi. Mereka menanti dalam keheningan sampai mobil Sehun diantar oleh petugas hotel. Tak sepatah kata pun keluar dalam perjalanan mereka kembali ke tempat Luhan meginap.

"Aku bisa masuk sendiri, terima kasih,"

Ujar Luhan saat ia membuka pintu mobil begitu Sehun menginjak remnya. Tanpa menoleh lagi, Luhan bergegas menuju ke lift dan ke kamarnya. Sehun tidak menyusul.

Baru setelah amarahnya terlampias dengan sebuah bantingan pintu, entakan laci-laci, dan umpatan- umpatan, ia menyadari akibat apa yang telah ia lakukan.

Minguk!

Ia telah menghancurkan semua kesempatan yang ada untuk bertemu dengannya. Air matanya mengalir turun ke pipinya, dan ia bersikeras bahwa itu terjadi bukan karena ia telah kehilangan Sehun, tapi putranya sendiri.

l..l

l..l

l..l

Mata Luhan masih sembap dan terasa pedih saat ia mencoba membukanya pada keesokan paginya. la menggulirkan tubuhnya untuk membenamkan wajahnya di bantalnya. Ketika ketukan di pintunya terdengar lagi untuk kedua kalinya, ia mengeluarkan suara erangan.

"Jangan ganggu aku!"

Ketukan ketiga, yang lebih nekat, menggema ke seluruh ruangan. Luhan mengumpati si pelayan hotel yang ambisius itu. Ia menyadari bahwa satu-satunya pilihan yang dimilikinya adalah menuju ke pintu itu dan menyatakan kepada si pelayan untuk kembali lagi nanti.

Ia bergulir turun dari tempat tidurnya, kemudian meraba-raba tembok, karena matanya masih terasa lengket gara-gara air matanya. Namun matanya angsung terbuka lebar begitu ia melihat melalui lubang intip di pintunya bahwa Sehun-lah yang sedang berdiri di luar. Ia melihat laki-laki itu mengetuk pintunya sekali lagi. Kali ini ia berseru,

"Luhan, buka pintu."

"Tidak!"

"Jadi kau sudah bangun."

"Aku tidak mau melihatmu lagi, Sehun!"

"Oke, tapi aku mau. Untuk minta maaf. Nah, buka pintu ini sekarang atau semua yang ada di lantai ini akan mendengar sesuatu yang akan membuat mereka terbangun lebih cepat."

Luhan menggigit bibir bawahnya sambil menimbang-nimbang. Ia merasa belum siap menghadapi laki-laki ini. Pada malam sebelumnya, ucapannya sungguh-sungguh menyakitkan, dan ia masih belum bisa memaafkannya.

Tapi andaikan ia sudah siap, ia tahu tampangnya saat itu betul-betul tidak keruan. Matanya tentunya masih merah dan bengkak dan rambutnya berantakan. Kalaupun ia akan menghadapinya, ia ingin tampil sebaik-baiknya.

Di satu sisi, ia memang sengaja membuat Sehun marah. Tak seorang pun, seringan apapun hatinya dalam keadaan normal, dapat tetap berlapang dada setelah merasa begitu dilecehkan. Luhan telah melewatkan separo malam itu dengan menyesali dirinya. Karena dengan membiarkan dirinya terlibat dengan Sehun seperti itu, ia telah mempertaruhkan peluangnya untuk melihat Minguk.

Bukankah harga dirinya tidak seberapa nilainya sebagai penebus kesalahannya?

Ia menggeser gerendel pintu, lalu membuka pintunya sedikit. "Aku belum berpakaian."

"Kau sudah berpakaian,"

Ujar Sehun, sambil sekilas melirik ke baju tidur Luhan yang terbuat dari bahan lembut bergaris biru dan putih.

"Kalau kau memang ingin berbicara denganku, aku akan menemuimu di lobi. Beri aku..."

"Aku tidak punya waktu." Ia tersenyum yakin. "Ayolah, Lu. Biarkan aku masuk."

Dengan waswas Luhan membuka pintu dan membiarkannya masuk. Pintu menutup perlahan-lahan di belakangnya. Kakinya yang telanjang membuat Luhan merasa rikuh.

Baju tidurnya memang tidak tembus pandang, namun tiba-tiba ia berharap bahwa keliman bawahnya melewati batas tengah pahanya. Dengan perasaan serba salah, ia menyilangkan lengannya di muka dadanya dan mencoba tampak tidak peduli.

"Ternyata kau benar. Aku memang brengsek."

Ia begitu saja melewati Luhan dan menuju ke jendela untuk membuka gorden tanpa menanyakan pendapatnya lebih dahulu, sehingga ruangan itu tiba-tiba menjadi terang-benderang.

"Ulahku memang seperti seorang remaja, meraba-raba dalam gelap."

Ia menghela napasnya, sambil menggaruk-garuk belakang lehernya.

"...Tidak heran kau menganggapku mengira dirimu salah satu dari mereka. Memang seperti itulah kelakuanku. Dan ketika kau bilang jangan, aku sungguh-sungguh tidak tahu mengapa aku mengatakan apa yang sudah kuucapkan. Maksudku sama sekali tidak begitu. Yang kukatakan itu omong kosong, dan aku menyadarinya."

Ia menoleh melalui pundaknya dan melihat bahwa Luhan masih tetap berdiri dalam posisi yang sama.

"Satu-satunya alasan yang dapat kuberikan," sambungnya, "adalah bahwa tak lama setelah Yoona meninggal, aku terus dikerubungi oleh gadis-gadis yang merasa yakin bahwa mereka dapat mengobati kesedihanku. Kesanku, mereka menganggap diri mereka semacam petugas sosial dalam bidang seks untuk menyelamatkanku dari ambang kehancuranku. Dan bagi mereka aku tidak lebih daripada sekadar sebuah centang di dalam catatan rekor mereka."

Luhan menurunkan lengannya, kemudian berdiri dengan posisi yang lebih santai. Ia sendiri pernah memancing reaksi yang sama dari kaum lelaki setelah ia bercerai. Teman-teman Jonghyun, yang juga sudah bercerai, mulai menelepon dan menawarkan padanya "bantuan" mereka.

"Tidak usah, terima kasih," sahutnya berulang kali sampai akhirnya mereka menyerah.

"Setidaknya," ujar Sehun,

"...Itu alasanku untuk menemuimu sepagi ini. Begitu aku meninggalkan tempat ini kemarin malam, aku menyadari bahwa tingkahku benar-benar brengsek. Mestinya kau tendang aku di selangkanganku atau entah di mana."

"Tadinya memang akan kulakukan."

Sehun tertawa. "Yah, efeknya mungkin tidak langsung, tapi setidaknya perhatianku akan teralih."

Luhan ikut tertawa.

"Nah, setelah kita berdamai," ujar Sehun cepat- cepat, sambil mencakupkan kedua belah tangannya, "bagaimana kalau kau ikut bersamaku ke Oahu selama beberapa hari."

"A-apa..."

"Sebentar,"

Ujar Sehun , sambil mengangkat kedua belah tangannya untuk menampik protes Luhan.

"Aku tidak punya maksud apa-apa. Aku hanya harus kesana selama beberapa hari. Aku sudah memesan beberapa kamar. Mungkin kau bisa memperoleh inspirasi untuk salah satu artikelmu di sana."

Alasannya memang tidak cukup kuat, tapi ia sungguh-sungguh ingin meyakinkannya.

"Tapi aku kan tidak bisa pindah begitu saja dari sini. A-aku..."

"Sebaiknya juga jangan. Bawa saja apa yang memang kau butuhkan. Kita katakan pada si manajer bahwa kau akan pergi hanya untuk beberapa hari dan bahwa kau masih ingin menyewa kamar itu."

Sehun mendekat kemudian meraih tangan Luhan.

"Aku senang melihatmu dalam baju tidurmu itu," ujarnya dalam nada parau, "dengan rambutmu yang masih acak-acakan dan pipimu yang merona kemerahan. Bibirmu betul-betul manis sekali. Dan aku sungguh-sungguh tidak dapat mempercayai diriku untuk mengakhiri kejadian tadi malam dengan cara yang begitu bodoh."

"Kau memang bebal, tahu? Berani-beraninya muncul di sini setelah memakiku tadi malam, lalu merayu penampilanku di saat kutahu bahwa tampangku sedang berantakan."

Nadanya yang penuh emosi membuat Sehun tersenyum, dan Luhan jadi semakin marah.

"Begitu egoisnya kah kau?''

"Aku orang yang ambisius, Lu, dan aku selalu ingin menang."

Sinar di matanya mengungkapkan pada Luhan bahwa ia target berikutnya. Sementara Luhan masih terkesima oleh penampilannya yang memukau dan ketulusan ucapannya. Sehun mendesaknya lagi,

"...lkutlah bersamaku ke Honolulu. Kita dapat saling mengenal dengan lebih baik."

Tidak ada yang lebih diinginkan Luhan saat itu, namun ia tahu bahayanya. Ia menarik napasnya dalam dalam, kemudian menggeleng.

"Sehun, kurasa..."

"Ayolah. Selain itu, ini akan merupakan kesempatan bagimu untuk berkenalan dengan Minguk."

l..l

l..l

l..l

To be continue

l..l

l..l

l..l

10 Desember 2017

Makasih atas semua doa dan dukungannyaa. Review kalian bikin aku jd semangat!!

Oiya, Buat yg kemaren nanya minguk anak luhan? yes, doi anaknya luhan ama sehun, tapi disini sehun gak tau...

Dan jadi luhan deketin sehun karena minguk? Hmm, ya awalnya, tapi makin kesini luhan jadi serba salah kalau deket ama sehun hha...

Udah gak sabar pen liat interaksi luhan pas ketemu minguk nanti? Tenang, nanti mereka pasti ketemu kok, dan disitu aku merasa baper, dan sepertinya chap depan mereka bakal ketemu...

Udah yaa segitu dulu.

Oiya, aku lagi ngeremake cerita nii yg di novel berchapter2, aku jadiin oneshoot. Intermezzo disaat ASS on going.. ckk..

See u next chap, byebyee~