Yihaaaa~ Ryoko Konoe balik lagi dengan ceritanya yang semaaaakin gaje XD fufufu~ Di cerita kali ini ngapain ya? ._.).. aku nggak taaau~ #jdeer. Sebenarnya aku lagi males ngomong! Jadinya langsung aja deh ke cerita =w=)… - tumben~
.
.
Disclaimer : Eita Mizuno und Kyo Shirodaira
Warning : OC, OOC pake banget! OOT, Hizumi's POV campur Normal POV, miss-typo, gaje etc
.
Meine Rache
.
.
Aku berlari dari lorong ke lorong yang lain untuk menyelamatkan diri dari amukan gadis di belakangku. Sedikit capek, maka dari itu aku mengumpat di balik guci yang lumayan besar. Guci itu bisa menutupi seluruh tubuh. Kini aku hanya bisa diam dan mengatur nafas. Bila ada kesempatan aku akan berlari lagi.
"HIZUMI!" teriak Iris yang berlari mengejarku, "CIH! KE MANA KAMU, HAH?" teriaknya lagi.
"gawaaat gawaaat~ Irisan bawang marah besaaar!" bisikku sambil merinding ketakutan, "padahal aku hanya nggak sengaja membuka pintu kamarnya saat dia ganti baju!" lanjutku, "lagi pula… lagi pula salahnya sendiri nggak mengunci pintu kamarnya…"
"Apanya yang nggak sengaja, HAH?" kata Iris yang tahu-tahu sudah berdiri di depanku, "Kau juga salah! Jangan sembarangan masuk ke kamar seorang gadis!" lanjutnya.
"GYAAAA! Irisaaan bawaang ampuun!" kataku yang segera sujud sembah di depan gadis itu.
"Aku benci Hizumi! Benciii!" serunya sambil menginjak-injak punggungku.
Aku pun berguling ke sisi lain, dan bersiap berdiri "Irisan bawang jangan maraah! Aku hanya gak sengaja melihatmu hanya memakai pakaian dala-" sebelum melanjutkan perkataanku, aku merasakan sakit yang amat sangat di wajahku.
PLAK! Jelas saja, Iris menamparku dengan seluruh tenaganya.
"Hizumi ecchi!" seru gadis itu setelah menamparku, wajahnya merah padam menahan malu dan kemarahannya.
"Huweee! Sakiit!" keluhku sambil memegangi pipiku yang memar, "Aku nggak ecchi! Aku nggak mes-"
"AAAH! Aku nggak peduli! Hizumi ecchi! Meeeesuuuum! Mes- ukh." Setelah Iris berteriak meluapkan kemarahannya, ia pun gontai dan jatuh. Aku berusaha menahannya dengan kedua tanganku.
"Moo! Tuh kan sakit lagi! Seharusnya kamu nggak berlari dan berteriak seperti tadi!" kataku menasehati.
Iris masih mengatur nafasnya dan terus memegangi dadanya, "kamu kira aku seperti ini gara-gara siapa, HAH?" sahutnya.
"Ya udah~ lupakan kejadian tadi~" kataku mencari kesempatan, "Nee.. aku bantu kamu ke kamar.." lanjutku.
"iie…" kata Iris menolak, "Aku… baik-baik saja."
Aku menatap Iris yang mulai bisa berdiri. Rasanya kasihan kalau melihatnya sedang merasakan sakit di dadanya itu. Tapi aku juga suka kalau sedang menggoda atau menjahilinya. Walaupun dia dingin padaku, ada sisi di mana ia lembut dan hangat. Aku pun masih memegangi tubuhnya agar ia tidak jatuh lagi.
"nee.. Irisan bawang.. maafkan aku, kan aku juga nggak tau kalau kamu lagi ganti baju!" kataku seraya membantunya berjalan.
Iris terdiam, ia sama sekali tak menjawab apapun. Mungkin ia masih merasakan sakitnya, maka dari itu ia tidak menjawab perkataanku. Tapi.. perkiraanku salah, gadis itu menatapku dengan tatapan lain dari biasanya. Wajahnya yang memerah itu membuatnya semakin manis. Entah kenapa wajahnya yang seperti itu membuatku berdebar. Buru-buru aku mengalihkan pandanganku dan mencari topic pembicaraan yang lain.
"I-Iris, k-kamu nggak marah lagi kalau aku panggil 'Irisan bawang'?" tanyaku spontan, dan sepertinya topik pembicaraanku semakin aneh.
Iris hanya menggeleng dan menatap ke lantai, ekspresinya masih tetap sama seperti tadi. Ekspresi yang menunjukkan bahwa ia seorang gadis yang lemah. Iya, sedingin apapun Iris namun ia tetap seorang gadis yang lemah dan butuh tempat berlindung. Apakah aku.. bisa jadi tempat berlindung yang tepat untuknya?
"Aku.. aku tidak keberatan, asalkan Hizumi yang mengucapkannya.." jawabnya setelah terdiam selama beberapa detik.
Aku menghela nafas lega. Sebenarnya bukan hal itu yang ingin aku tanyakan padanya. Namun, aku tidak siap untuk menanyakannya sekarang. Tapi, cepat atau lambat, aku akan kembali ke Jepang sama seperti Kiyotaka katakan.
"Nona Iris!" panggil seorang maid dari belakang kami, "Ada seorang pemuda yang mencarimu, ternyata kau ada di sini." Lanjutnya.
"Pemuda?" tanya kami bersamaan.
Aku dan Iris pun berjalan menuju ruang tamu yang lumayan jauh dari tempat kami berada. Keadaan Iris pun sudah mulai membaik berkat obat yang diberikan oleh pelayannya itu. Saat sampai di ruang tamu, kami melihat seorang pemuda bermanik coklat yang sedang mengelus-elus kucing kecil dipelukkannya. Mataku terbelalak dan memastikan bahwa aku tak bermimpi. Pemuda yang ada di depanku adalah Kanon Hilbert.
"Yo!" sapanya pada kami berdua, "Ternyata selama ini God dan The Next Devil tinggal di mansion yang besar ini ya?" katanya setelah menyapa kami.
"Kau! Sedang apa kau di sini?" bentak Iris secara tiba-tiba, ia segera mengambil tiang yang biasa digunakan untuk menyimpan lilin yang berada di sampingnya.
"Lho? Aku ke sini untuk berdamai…" sahut Kanon sambil tersenyum, "Lagi pula nggak asik kalau membunuh hunter sekarang ini, apalagi ada the next devil di sampingmu~" lanjutnya.
"Berdamai?" tanya kami serempak.
"Iya… Makanya, ayo kita ngobrol-ngobrol dulu.." jawab Kanon yang kembali tersenyum.
Aku dan Iris `hanya saling berpandangan. Kami pun duduk di depan Kanon, sementara Kanon masih terus bermain bersama kucing yang ia bawa. Dalam keheningan itu aku terus memutar otak. Tak mungkin seorang Blade Children sepertinya mengajak berdamai dengan Iris yang merupakan Hunter.
"Begini, Nona Weisheit.." kata Kanon mengawali pembicaraan, "Kudengar kau diperintahkan oleh Kiyotaka-sama untuk membunuh para Hunter yang membahayakan bagi Blade Children bukan?" lanjutnya.
Iris menatap pemuda itu dengan tajam, tetapi, Kanon masih tetap santai seperti biasanya. Aku rasa Iris harus banyak belajar dari pemuda itu. Dari pada bersetegang lebih baik senyam-senyum nggak jelas seperti Kanon. Syaraf-syaraf wajah pun lebih rileks dan pikiran menjadi tenang.
"Ya." Jawab Iris singkat.
Kanon kembali tersenyum, kini ia membiarkan kucing yang dari tadi ia peluk meninggalkannya, "Bagaimana kalau kita bekerjasama?" usul Kanon dengan senyuman yang penuh percaya diri.
"Hah?" Iris meresponnya dengan tatapan tak percaya, "Untuk apa aku bekerja sama dengan Blade Children yang telah membunuh keluargaku?" sahut Iris seraya melipat tangannya.
"Itu jawaban yang mudah, Aku akan membantumu memburu Blade Children yang kau benci, lalu kamu akan membantuku untuk melenyapkan para Hunter. Setelah semuanya selesai, aku ingin kau membunuhku.."
Aku dan Iris yang mendengarnya tersentak. Untuk apa ia membunuh rekannya sendiri? Lalu pada akhirnya Iris ia minta untuk membunuh dirinya sendiri. Sungguh aku tak mengerti apa yang dipikirkan oleh Kanon itu. Benar-benar rumit!
"Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau meminta aku yang membunuhmu?" tanya Iris pada Kanon yang kini berwajah serius.
"…Aku ingin mengakhiri penderitaan Blade Children, maka dari itu aku yang akan membunuh mereka dengan tanganku sendiri sebagai salah satu dari Blade Children." Jawab Kanon menjelaskan maksudnya, "lalu, soal yang itu, bukankah kau ingin membunuhku, Nona Weisheit?" lanjutnya.
"Itu benar, tapi aku tidak mau melakukannya jika kau yang meminta.." sahut Iris, "Kalau kau mati sesuai dengan rencanamu sendiri itu tidak memuaskan hatiku."
"Ahahaha… Nona Weisheit kau terlalu termakan dendammu itu ya? Padahal tawaranku cukup bagus lho~ Bukankah kau dan The next devil itu ingin mematahkan rencana Kiyotaka-sama?" kata Kanon panjang lebar.
"Heei! Jangan panggil aku the next devil terus! Aku punya namaaa! Hizumi Mizushiro! Hi-zu-mi!" protesku sambil berdiri.
"ya.. ya… Hizumi." Sahutnya.
"…Aku menolak.." sahut Iris dingin, "Bagaimana pun aku tidak mau bersekongkol dengan orang yang membunuh keluargaku!" lanjutnya tegas.
"Begitu? Padahal… Kita bertiga itu sama-sama tidak percaya pada Kiyotaka-sama. Tujuan kita sama, menghancurkannya." Kata Kanon mencoba meyakinkan Iris.
"Kenapa kau mau menghancurkan Kiyotaka? Bukankah seluruh Blade Children itu percaya pada Kiyotaka?" tanya diriku pada pemuda yang masih beradu argument dengan Iris.
"Karena Kiyotaka-sama mengumbar kebohongan belaka. Harapan apanya? Bisa merubah nasib apanya?" jawab Kanon yang meninggikan ucapannya. Kini ia terlihat putus asa.
Iris tertawa kecil, ia pun berdiri dari sofa yang dari tadi kami duduki. Kemudian, ia berjalan ke belakang Kanon dan menodongkan pistol tepat di kepala pemuda itu. Aku sendiri terkejut, sejak kapan ia memegang pistol? Apakah itu sulap? Apakah Iris itu pesulap?
"Baiklah, Tuan Hilbert. Kalau kau mau aku jadi rekanmu.. lawan aku! Dan kalahkan aku!" Iris menantang Kanon dengan tatapan yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Kanon menghela nafas, ia pun berdiri, "Kau akan menyesal kalau melawanku sekarang, Nona Weisheit" katanya, "Kemampuanmu itu tidak sebanding dengan aku yang sudah terlatih!"
"Oh ya? Kenapa nggak dicoba?" sahut Iris dengan senyuman sinisnya.
"Hasilnya sudah diketahui, Nona Weisheit.." jawab Kanon yang masih tenang, "Kau akan kalah."
"JANGAN MEREMEHKAN AKU!" teriak Iris tiba-tiba, ia menembakkan peluru pertamanya namun Kanon menghindar dan tahu-tahu sudah ada di belakang gadis itu.
Kanon menangkap tangan Iris dan menjatuhkan pistolnya. Lalu Iris tak tinggal diam, ia segera memberontak dan berlari mengambil sebuah pedang yang dipajang di atas meja. Aku hanya kebingungan mencari cara untuk menghentikan mereka berdua. Kanon menembakkan peluru dari pistol yang tadi Iris pakai untuk menyerangnya. Namun dengan gesit Iris melindungi dirinya dengan tangkisan dari pedang yang ia gunakan.
"HEI kalian berdua ayo berhenti!" seruku, namun sia-sia, mereka tak mendengarkan aku. Aku pun mencoba berlindung di balik sofa.
PRANG! Jendela dan lampu gantung pecah akibat tembakan peluru. Suasana seperti ini membuatku merinding. Apakah para Hunter dan Blade Children akan terus seperti ini? Apakah saat tiba waktu aku mati aku akan mempertahankan hidupku seperti ini?
Aku yang masih berkutat dalam pikiranku terkejut karena Iris tiba-tiba terjatuh. Ia kembali memegangi dadanya, namun Kanon menganggap itu adalah suatu kesempatan bagus untuk melumpuhkan Iris. Ia menodongkan pistol itu ke arah Iris. Kini keadaan Iris terdesak.
"Sudah aku bilang aku akan menang, Nona Weisheit!" katanya, "Nah.. Sekarang aku harap kau bisa tidur dulu."
"Khh…" Iris menatapnya tajam dan ia mencoba bergerak, namun tenaganya sudah habis. Ia tak bisa melawan lagi.
DOR! Terdengar suara peluru ditembakkan. Iris dan Kanon sangat terkejut ketika melihatku menembakkan peluru dari pistol yang sebenarnya telah aku pegang dari tadi. Pistol yang Kanon genggam pun terjatuh akibat peluru dari pistolku.
"Hi-Hizumi!"
"Kau…"
"…Nee~ Kanon-kun… Kenapa kau sangat menyukai kucing?" tanyaku yang malah mengalihkan pembicaraan. Pistol masih aku genggam di tangan kananku.
Kanon terbelalak ketika kucing kesayangannya telah ada di tangan kiriku. Ia tahu maksudku bertanya seperti itu. Kemudian ia malah membantu Iris untuk berdiri. Aku pun menghela nafas dengan lega. Sebenarnya, untuk apa aku mengancamnya dengan cara memalukan seperti ini?
"Aku mengerti, Hizumi-kun!" katanya, "Jangan kau apa-apakan si Manis itu! Aku pun tidak akan mencelakai Nona Weisheit." Lanjutnya.
"Bagus kalau kau mengerti, Kanon-kun!" aku pun melepaskan 'si Manis' dan berjalan ke arah mereka berdua yang ada di depanku. Aku menyapu pandanganku ke seluruh ruangan yang kini porak-poranda akibat kelakuan liar mereka. "mooo~ padahal aku juga ingin ikutan main dengan kalian!" keluhku.
"Hizumi… kamu…" Iris menatapku dengan takut, ia pun tahu kalau kini auraku berbeda. Bagaimana pun aku memang seorang yang akan menjadi Devil.
Aku tersenyum pada gadis yang sedikit takut padaku kini. Aku segera menariknya ke dalam pelukanku. Ini aneh, aku melakukannya dengan begitu saja, "Yaah~ Saat ini kalau Irisan bawang selamat itu sudah cukup bagiku~" kataku sedikit usil, "Nee.. Kanon-kun~ Kami akan bekerja sama denganmu, tetapi sayang, yang akan membunuhmu diakhir nanti adalah aku!"
Kanon pun tersenyum, "Oke kalau itu maumu." Sahutnya, "Kalau begitu urusanku sudah selesai. Nona Weisheit, terima kasih telah menemaniku latihan." Lanjutnya.
"Siapa yang mengajakmu berlatih?" seru Iris, "Hizumi lepaskan aku!" perintahnya padaku.
"Tidak mau~ Habis nanti Iris pasti berbuat yang macam-macaam~" kataku sambil tersenyum pada gadis yang ada di dalam dekapanku kini.
"Yaah.. kalau begitu aku pamit dulu, Ayo Manis!" kata Kanon yang memanggil kembali kucing kesayangannya itu, "Kita bertemu lagi nanti Hizumi-kun~"
Aku masih terus memandangi pemuda pecinta kucing itu. Ia terus pergi dan akhirnya menghilang di ambang pintu. Aku bernafas lega karena ia tidak jadi membuat Iris masuk rumah sakit lagi. Bahaya. Kini aku membuang pistol yang sedari tadi aku genggam di tanganku. Degupan jantung Iris yang cepat kini sudah kembali normal dan nampaknya ia tak sadarkan diri akibat kelelahan.
"Nah.. aku harus membawa Tuan putriku ini ke kamarnya~" kataku yang segera menggendong Iris dan beranjak dari tempat itu. Beberapa maid yang datang segera membereskan ruangan yang seperti kapal pecah itu.
.
.
Iris memandangiku dengan tatapan yang menyedihkan. Aku pun begitu, mungkin aku tidak akan melihatnya untuk beberapa tahun ke depan. Kiyotaka memberiku perintah agar aku kembali ke Jepang. Kini kami ada di bandara, Iris mengantarkan kepulanganku. Sebenarnya aku masih ingin bermain bersamanya dan menemaninya. Lagi pula sendirian di dalam mansion sebesar itu pun pasti bosan.
"Hizumi…" panggilnya lirih.
"Ahaha Kamu seperti bukan Irisan bawang seperti biasanya~" kataku mencoba menggodanya, "Tenang saja Irisan bawaangku~ Aku pasti akan kembali pada dirimuu~" lanjutku.
"Apa-apaan itu?" katanya dengan wajah sedikit memerah, "Kau kira aku barang apa? Siapa yang mengharapkan kau balik lagi ke sini?"
"Mooo! Jahat!" kataku yang pura-pura marah padanya. Namun sepertinya itu tidak mempan bagi Iris yang dingin pada siapa saja. Walaupun begitu, aku bisa mengetahui sifat aslinya dalam 2 bulan ini.
"Aku hanya pergi tuk sementaraaa~ bukan tuk meninggalkanmu selamaanya~ aku pasti kan kembali pada dirimu, tapi kau jangan naaakal~ aku pasti kembaaaali~" aku pun bernyanyi dengan nada buruk untuk mencuri perhatian Iris.
"Apaan itu? Kurasa kau lebih cocok bermain Harmonika dari pada bernyanyi!" protes Iris dengan sedikit tawa.
"kalau begitu, aku akan bermain harmonika untukmu~ Nee~ Irisan bawang mau aku mainkan lagu apa?" tanya aku sambil merogoh kantong jaketku.
"….Jangan pergi.." bisik Iris.
"Hee? Kau bilang apa?" tanya aku heran, "Kalau begitu aku yang tentukan aja ya? Gimana kalau Kakuteru?"
Iris tidak menjawab, maka dari itu aku segera memainkan lagu tersebut. Tapi saat permainanku akan sampai pada puncaknya, Iris tiba-tiba memelukku. Aku yang terkejut malah menjatuhkan Harmonika kesayanganku. Iris memelukku dengan erat. Aku menghela nafasku dan tersenyum. Entah kenapa aku senang dipeluk olehnya seperti ini. Tiba-tiba sebuah kecupan yang manis aku rasakan dari gadis berambut merah muda itu. Iris mengecup pipiku dengan lembut.
"I-Iris?" tanyaku yang heran, pipiku pun berubah jadi merah.
"Kenapa? Itu ciuman sampai jumpa yang biasa orang sini berikan pada sahabatnya…" jawab Iris dengan santai.
"Ta-Tapi di Jepang nggak gitu!" sahut aku yang kini gugup, "Mooo! Ini pertama kalinya seorang gadis menciumku!" lanjutku.
"Jangan kege-eran kau Hizumi!" sahut Iris dengan pedas, "Tuh pesawatnya udah mau jalan~ hush huus!"
"mooo! Aku diusir!" keluhku, aku pun segera beranjak sambil melambaikan ke arahnya.
"Hizumi! Sampai jumpa!" seru Iris padaku.
"Yaaa! Sampai jumpaaa!" kataku yang menoleh pada gadis itu.
Yaa.. Aku percaya aku dan Iris akan bertemu lagi nanti. Lagi pula perjalanan melawan Kiyotaka baru saja dimulai! Tak akan ada yang bisa seenaknya mempermainkan nasib seseorang! Kiyotaka, aku tak akan mati seperti yang kau rencanakan itu!
.
.
Uwoooo~ chapter 4 seleeesai~ asiiik~ ahaha maaf saja kalau di awal cerita kali ini agak mmmm… gitu deh ._.) bukan aku yang buat lho! Itu pikirannya Kousuke yang lolicon itu! Nyahaha XD #buagh neee~ udah aaaah sampai jumpa di chapter 5~ bubyeeeee~ XD XD
Hizumi : a-aku… aku… aku lihat Iris hanya memakai..
Iris : GYAAA! Jangan dibahaas! Jangaaaan! *blush*
Hizumi : …. *malah mikir yang iya-iya*
Ayumu : dasar setan mesum! *ngegetok Hizumi*
Ahaha oke Hizumi jadi OOC paraaah ==") gomen neee! Bagi yang suka sama Hizumi.. maaf.. maaaaaf.. maaaf! *sujud sembah*
Kanon : lagi-lagi… gue OOC banget *death glare*
Hizumi : tenang Kanon, kau tidak sendirian! Aku juga OOC parah ==")a
Ja Ne Readeeers~ Reviewnya dimohon reviewnyaa~ *puppy eyes*
.
